Abdullah Qasim al-Wasyli menjelaskan dalam bukunya Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi tentang perhatian orang-orang Yaman pada kajian hadis, khususnya pada Shahih Al-Bukhari. Dia menjelaskan bahwa sebelum abad ke empat hijriah, penduduk dan khususnya ulama’ Yaman belum mengenal kutub
sittah, khususnya Shahih Al-Bukhari. Yang mereka pakai sebagai rujukan
dalam hadis adalah kumpulan tadwin karya ahli hadis dari Yaman sendiri. Seperti kitab jami’ karya Ma’mar, musnad karya Abdur Razaq, musnad karya al-Dzimari, sunan karya Abi Qurah, musnad karya al-Adni dll.32
Pada awal abad ke empat hijriah, kutub sittah baru mulai dikenalkan pada ulama’ Yaman. Menurut al-Wasyli, kitab hadis dari kutub sittah yang pertama dikenalkan adalah Muwat}t}a’ karya Imam Malik, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majjah dan kitab al-Gharib karya al-Harawi. Shahih Al-Bukhari diperkenalkan dan ditransmisikan ke Yaman pertama kali oleh al-hafidz Abu Zaid, Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Qasyani al-Maruzi, (w. 371 H). Dia merupakan generasi kedua dari perawi Shahih
31 Menurut Van Den Berg, orang arab yang menetap di Indonesia kebanyakan dari Hadramaut. Hanya satu atau dua dari mereka yang datang dari selain Hadramaut. Lihat lebih lanjut L.W.C. van den Berg, Le Hadhramout Et. Les Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien, terj. Rahayu Hidayat, (Jakarta: INIS, 1989), 1, 35.
32 Abdullah Qasim al-Wasyli, Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi, (Yaman: Jami’ah S{ina’a, tt) 85.
Bukhari, melalui al-Firabri yang merupakan perawi pertama atau murid langsung Imam Bukhari.33
Al-Maruzi pertama kali tiba di Yaman di daerah yang bernama Dzimar. Di tempat ini ia mulai menyampaikan hadis Shahih Al-Bukhari. Di antara murid pertamanya di tempat ini adalah Abdullah bin Ali dari keluarga Zarqan (w. 353 H) dan dari Abdullah bin Ali, sekelompok orang belajar kepadanya, salah satunya adalah al-Qasim bin Muhammad al-Qarsyi. Al-Wasyli menjelaskan perawi awal Shahih Al-Bukhari dari Yaman sendiri adalah Abdullah bin Ali dari keluarga Zarqan, kemudian Abu al-Fath Yahya bin Isa (w. 420 H). Dari keduanya muncul murid/perawi Muhammad bin Salim bin Abdullah bin Yazid (w. 456 H). muncul juga anak dari Yahya, yakni Khair bin Yahya bi Isa (w. 480 H), kemudian cucunya Yahya, yakni As’ad bin Khair bin Yahya bin Isa (w. 518 H). Melalui perawi-perawi inilah Shahih Al-Bukhari dikenal oleh penduduk/ulama’ Yaman dan tersebar di sana.
Setelah Shahih Al-Bukhari sampai di Yaman dan meluas di antara fuqaha>’ dan muh}addis\, maka perhatian orang Yaman pada Shahih Al-Bukhari menjadi besar. Perhatian itu berupa menghafalnya, memperdengarkannya (isma’), mengadakan majlis Shahih Al-Bukhari, dan membuat halaqah untuk mempelajarinya. Beberapa majlis-majlis Shahih Al-Bukhari telah dibuat oleh orang Yaman. Di kota “Ib” misalnya, seorang ahli hadis hafid Abu al-Hasan Ali bin Abu Bakar bin Hamir al-Hamdani al-Irsyani (w. 557 H) mengadakan majlis sima’ Shahih Al-Bukhari pada bulan Jumadil Akhir tahun
548 H. Dari majlis-nya ini banyak sekali perawi yang meriwayatkan hadis Shahih Al-Bukhari darinya.34
Di kota Aden, al-hafid Abu al-Hasan Ali bin Abu Bakar mengadakan majlis sima’ Shahih Al-Bukhari pada bulan Rabiul Awal tahun 555 H. Banyak juga yang menghadiri majlis ini, di antara muridnya adalah al-Qadli Ahmad al-Quraidhiy. Di kota Arsyan, Imam al-Arsyani juga mengadakan pembacaan Shahih Al-Bukhari. Mengutip al-Jandi, al-Wasli mengatakan bahwa “aku (al-Jandi) selalu hadir pada majlis ini dan aku temui banyak sekali orang yang hadir, menurutku ini karena barakah dari hadis nabi yang dibacakannya.” Termasuk orang yang mengadakan majlis sima’ dan pembacaan Shahih Al-Bukhari, dan terus diulang lebih dari sekali selama setahun adalah seorang ahli hadis dan menjadi pimpinan ahli hadis di Yaman pada masanya yaitu Sulaiman bin Ibrahim bin Muhammad bin Umar al-Alawi (w. 825 H.) dia mengadakan majlis ini dua kali bahkan lebih dalam setahun. Diceriatakan juga bahwa ketika sampai di kota Zabid, al-hafidh Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Syaukani (w. 1281 H) menemani imam Ahmad bin Manshur juga mengadakan pertemuan dan majlis di masjid al-Asya’ir dan di madrasah syaikh Muhammad bin Abu Bakar Da’as. Majlis ini dilaksanakan setelah shalat Ashar dengan membacakan Shahih Al-Bukhari dan sanadnya juga, di majlis ini terdapat juga dialog tanya jawab yang dihadiri oleh lebih
dari 400 orang.35 Hal ini menunjukkan bahwa kitab Shahih Al-Bukhari mulai semarak dikaji satu abad setelah ia sampai di Yaman.
Teori Wasyli mengatakan bahwa rintisan tradisi pembacaan Shahih Al-Bukhari di beragam tempat, seperti masjid-masjid, rumah-rumah, dan madrasah-madrasah, serta pelaksanaannya yang ditentukan pada bulan tertentu (Rajab, Sya’ban dan Ramadhan) setiap tahunnya, itu dimulai pada awal-awal masa dinasti Bani Rasul. Kerajaan Bani Rasul ini, menurut Al-Wasyli awal berdiri pada tahun 625 H.36 Dia menyebutkan banyak sekali rintisan halaqah (pembacaan) Shahih Al-Bukhari pada bulan tertentu, yakni bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Al-Wasyli menyebut rintisan kegiatan pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari tidak dengan nama rouhah, akan tetapi dengan sebutan majlis atau halaqah pembacaan Shahih Al-Bukhari.37
Masjid-masjid yang diadakan kegiatan pembacaan Shahih Al-Bukhari begitu banyak, di antaranya adalah masjid al-Asya’ir. Di masjid ini masih berlangsung pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari di bulan Rajab setiap tahun sampai saat ini (pada masa penulis, Al-Wasly). Tradisi pembacaan ini di mulai sejak tahun 833 H. Diceritakan pada tahun itu, para fuqoha>’ dan para ulama’ berkumpul dalam acara majlis sima’ Shahih Al-Bukhari. Diceritakan
35 Ibid., 96.
36 Di dalam kitab al-‘Uqu>d al-Lu’lu’iyah fi> Ta>ri>kh al-Dawlah al-Rasu>liyah disebutkan bahwa pada hari pertama bulan Rajab, para ahli hukum (fuqaha>’) berkumpul di kota Zabid, mereka mendatangi al-Qa>d}i Majduddin Muhammad bin Ya’qub al-Syairazi. Mereka meminta kepada qa>d}i tersebut untuk membacakan kitab Shahih Al-Bukhari dan qa>d}i ini memenuhi permintaan mereka. Pembacaan ini dilaksankan di rumah qa>d}i tersebut. Pembacaan ini terus berlanjut sampai khatam. Akan tetapi penulisnya tidak menjelaskan secara rinci kapan waktu pelaksanaan pembacaan kitab ini dan lain-lain. Riwayat ini menunjukkan bahwa pada masa dinasti bani Rasul terdapat pembacaan Shahih Al-Bukhari pada bulan Rajab. Lihat Ali bin Hasan al-Khazraji, ‘Uqu>d al-Lu’lu’iyah fi> Ta>ri>kh al-Dawlah al-Rasu>liyah, Juz 2, (ttp: Mat}ba’ah al-Hila>l, 1911), 303.
juga bahwa syaikh yang memimpin pembacaan Shahih Al-Bukhari di masjid ini pada abad 14 hijriah adalah Abdul Qadir bin Husain al-Thahir bin Ahmad Al-Anbariy (w. 1333 H). Kedua adalah masjid al-Jami’ al-Kabir. Masjid ini terletak di kota Zaidiyah. Di masjid ini dilaksanakan juga pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari yang dirintis oleh Sayyid Abd Rahman bin Abdullah al-Ahdal. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun sampai dia meninggal. Kemudian dilanjutkan oleh anaknya Abu al-Qasim bin Abd al-Rahman, kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Muhammad bin Ahmad.38
Ketiga adalah masjid Jami’ Ghassan. Masjid ini terletak di kota Zabid.
Ulama’ atau pengikut madzhab Hanafi membaca kitab Shahih Al-Bukhari pada bulan Rajab setiap tahun. Pembacaan Shahih Al-Bukhari ini di pimpin oleh Muhammad bin Ala’ al-Din al-Mazjaji yang bermadzhab Hanafi (w. 1213 H). Kegiatan ini telah dilaksanakan kurang lebih selama 21 tahun. Riwayat ini berdasar dari Ali bin Zain al-Mazjaji. Keempat adalah masjid Abd al-Rahman bin al-Husein al-Ahdal. Di masjid dibaca juga kitab Shahih Al-Bukhari oleh Abd al-Rahman (w. 971 H) selama bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan setiap tahunnya. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan oleh cucunya, Thahir bin Husain bin Abd al-Rahman al-Ahdal (w. 998 H).
Selain masjid, ada juga rumah suatu keluarga yang menjadi tempat pembacaan Shahih Al-Bukhari pada tiga bulan setiap tahunnya. Di antaranya adalah rumah keluarga Ja’man. Rumah lain yang juga yang diadakan
38 Abdullah Qasim al-Wasyli, Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi, (Yaman: Jami’ah S{ina’a, tt), 99.
pembacaan Shahih Al-Bukhari adalah milik keluarga Al-Syarji yang tinggal di kota Zabid. Namun al-Washli tidak menjelaskan lebih jauh siapa yang memimpin pembacaan ini. Ia hanya menyebut keluarga yang mengadakan pembacaan Shahih Al-Bukhari. Berbanding terbalik ketika ia menyebut masjid sebagai tempat pembacaan Shahih Al-Bukhari. Terlepas dari itu, tampak bahwa al-Wasyli telah menyebutkan riwayat-riwayat yang menjelaskan begitu banyak ulama’ yang mengadakan halaqah atau majlis pembacaan Shahih Al-Bukhari, secara umum atau yang secara khusus dilaksanakan pada bulan tertentu (Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan) di setiap tahunnya di beberapa daerah Yaman. Semaraknya halaqah atau majlis pembacaan Shahih Al-Bukhari ini -mengikuti teori al-Wasyli- mulai mucul pada kira-kira dua abad setelah kitab Shahih Al-Bukhari baru dikenalkan di Yaman. Yakni pada masa awal-awal dinasti Bani Rasul yang begitu mencintai dan semangat mempelajari ilmu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Al-Wasyli juga menyebutkan dasar mengapa tiga bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan terpilih sebagai waktu untuk pengadaan halaqah atau majlis pembacaan Shahih Al-Bukhari. Namun dalam menjelaskan dasar terpilihnya tiga bulan ini, al-Wasyli tampak menggunakan argumen yang sifatnya masih hipotesis. Menurutnya, bulan Rajab dipilih karena ia bulan Allah dan bulan haram. Sedangkan bulan Sya’ban dipilih karena ia bulan nabi Muhammad. Karena di bulan ini, nabi Muhammad memperbanyak melakukan puasa, di samping ia berada di antara dua bulan yang dinilai berkah, yakni Rajab dan
Ramadhan. Adapun bulan Ramadhan dipilih karena ia adalah bulan yang diwajibkan untuk puasa, di dalamnya ada malam lailatul qadar dan karena hari-hari di bulan ini memiliki keistimewaan serta pahala amal perbuatannya dilipat-gandakan. Atas dasar subyektif ini lah, bagi al-Wasyli, halaqah dan majlis pembacaan Shahih Al-Bukhari dilaksanakan di tiga bulan tersebut. Namun, al-Wasyli menambahi, ketika semangat belajar dan mendalami ilmu dari orang-orang dan ulama’ Yaman semakin turun, maka pembacaan Shahih Al-Bukhari diringkas hanya pada bulan Rajab saja.39
Ada banyak tujuan diadakannya halaqah atau majlis pembacaan Shahih Al-Bukhari. Al-Wasyli secara spesifik, membagi tujuan halaqah dan majlis ini menjadi dua. Pembagian ini ia dasarkan pada tempat dilaksanakannya pembacaan Shahih Bukhari ini. Pertama, halaqah dan majlis Shahih Al-Bukhari yang diadakan di masjid memiliki beberapa tujuan. Di antaranya adalah pertama untuk menyebar luaskan hadis-hadis kepada para pelajar dan masyarakat umum. Kedua untuk mengenalkan hukum-hukum yang terkandung dalam hadis kepada pelajar dan masyarakat. Ketiga untuk
mudzakarah, dialog tanya jawab terkait masalah hadis, fiqih, bahasa, sanad
antara guru para guru dan para pelajar yang hadir dalam halaqah atau majlis. Keempat adalah berharab barakah setahun berikutnya, berdoa dan berharap pahala.40
39 Abdullah Qasim al-Wasyli, Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi, (Yaman: Jami’ah S{ina’a, tt), 124.
40 Abdullah Qasim al-Wasyli, Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi, (Yaman: Jami’ah S{ina’a, tt), 117 dan 120.
Kedua, halaqah dan majlis Shahih Al-Bukhari yang diadakan di
rumah-rumah suatu keluarga memiliki beberapa tujuan di antaranya adalah untuk memperoleh barakah dari pembacaan hadis-hadis nabi Muhammad dan kembalinya kebaikan serta barakah kepada rumah atau tempat yang diadakan pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari, juga keapda mereka yang ikut hadir dalam halaqah ini. kedua adalah berharap dihilangkannya bala’ yang turun kepada umat manusia. Ketiga adalah mengikuti dan melestarikan apa yang telah berjalan pada orang terdahulu (salaf). Hal ini karena ada keyakinan di antara mereka berupa “memutus tradisi itu bisa mendatangkan permusuhan dan konflik”. Dengan demikian, ketika ada orang dari mereka yang terbiasa mengadakan halaqah Shahih Al-Bukhari, kemudian dia memutus tradisi demikian, maka diyakini, akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padanya.41
Pembagian tujuan halaqah atau majlis Shahih Al-Bukhari menjadi dua berdasar tempat, yakni masjid dan rumah-rumah orang ini menunjukkan adanya perbedaan orientasi masing-masing. Tujuan pertama bisa dipahami, muncul dari para ulama’ dan para pelajar yang ingin mengakaji dan mempelajari hadis yang ada di Shahih Al-Bukhari. Adapun tujuan kedua bisa dipahami, muncul dari keluarga yang bisa disebut orang awam yang tidak menekankan untuk mempelajari atau mengkaji hadis dalam kitab Shahih Al-Bukhari.
41 Abdullah Qasim al-Wasyli, Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi, (Yaman: Jami’ah S{ina’a, tt), 120.
Dari penjelasan al-Wasyli, bisa dipahami bahwa halaqah dan majlis pembacaan Shahih Al-Bukhari yang secara khusus dilaksanakan di bulan-bulan tertentu menunjukkan bahwa ia memiliki sejarah tersendiri di negara Yaman. Tradisi ini juga terbagi menjadi dua jenis yang berbeda dilihat dari segi tempat dan tujuan pelaksanaanya, meskipun keduanya sama-sama menggunakan satu kitab Shahih Al-Bukhari. Bisa dipahami bahwa tradisi pembacaan Shahih Al-Bukhari yang satu melihat kitab ini sebagai sumber pengetahuan, khususnya dalam pengetahuan agama Islam, dan bahwa tardisi pembacaan Shahih Al-Bukhari yang lain melihat kitab ini sebagai sebuah tradisi turun temurun yang diyakini harus tetap dilestarikan dengan adanya konsekwensi yang harus diterima ketika tradisi ini tidak dilaksanakan lagi.
Secara spesifik, halaqah Shahih Al-Bukhari dilaksanakan juga pada bulan Rajab dan bertempat di Masjid. Waktu pelaksanaanya mulai setelah shalat Shubuh sampai matahari terbit. Terkadang juga sampai waktu Dhuha. Halaqah ini dipimpin oleh seorang syaikh yang memiliki sanad sampai kepada pengarang Shahih Al-Bukhari. Halaqah ini diikuti oleh syaikh sebagai pimpinan halaqah, ulama’ lain, para pelajar dan masyarakat awam. Saat pembukaan, halaqah dimulai dengan membaca beberapa surat Al-Qur’an, yakni surat Yasin, surat al-Mulk dan surat al-Ikhlas. Kemudian membaca bacaan dzikir seperti tahlil, tasbih, istghfar dan shalawat dengan jumah tertentu. Kemudian membaca doa yang kemudian delanjutkan membaca sanad kitab. Setelah itu baru dimulai dengan mmebaca hadis Shahih Al-Bukhari.
Setiap peserta membaca tahmid, shalawat dan kalimat wa bi isna>dikum al-s}ah}i>h al-muttas}il ila al-syaikh al-muallif rah}ima kum allah saat akan memulai membaca hadis. Peserta juga diperbolehkan bertanya kepada syaikh atas hadis yang menurutnya dianggap musykil. Sehingga terdapat dialog dan tanya jawab antar peserta halaqah.42
Saat penutupan, peserta halaqah juga membaca bacaan yang dibaca saat pembukaan. Yakni surat-surat Yasin, al-Mulk dan al-Ikhlas dan bacaan dzikir
tahlil, tasbih, istighfar dan shalawat. Kemudian membaca sanad kitab,
dilanjutkan dengan membaca doa khataman. Kemudian dilanjutkan membaca
qasidah syi’riyah karya Sholahuddin Khalil bin Aibak al-Shafdiy. Kemudian
dilanjutkan dengan penyampaian beberapa kalimat/sambutan. Di samping itu banyak juga masyarakat yang dengan suka rela memberi jamuan baik berupa makanan atau minuman untuk dibagikan kepada para peserta halaqah.43
42 Abdullah Qasim al-Wasyli, Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi, (Yaman: Jami’ah S{ina’a, tt) 127.
43 Abdullah Qasim al-Wasyli, Ilm al-Hadi>s\ fi al-Yaman wa Ina>yah al-Yamaniyyi>n bi S{ah}i>h} al-Bukhari wa Tara>jim Rija>l Isna>dihi, (Yaman: Jami’ah S{ina’a, tt) 125.
74