• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi rouhah yang ada di Pon. Pes. Mambaus Sholihin ini dimulai pada tahun 2012 M. Hingga sampai pada tahun 2018, rouhah ini telah berjalan selama tujuh tahun. Pelaksanaan rouhah ini awalnya memang kehendak kiai Masbuhin Faqih sendiri. Beliau ingin mengikuti rouhah yang diadakan oleh keluarga Assegaf yang menetap di Gresik. Tradisi rouhah ini diyakini sebagai tradisi ulama’ salaf yang masih dilestarikan oleh keluarga Assegaf. 19

Sehingga rouhah yang dilaksanakan di pesantren ini merupakan kegiatan yang berasal dari tradisi rouhah yang dilaksanakan oleh keluarga Assegaf.20

Hal ini termasuk bagian dari pandangan dunia pesantren yang berusaha berpegang pada, dan melestarikan tradisi tradisi ulama’ klasik baik berupa pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam kitab-kitab klasik atau tradisi budayanya. Salah satu selogan yang mencerminkan pandangan dunia pesantren adalah al-muh}a>faz}ah ala al-qadi>m al-s}a>lih}, yang artinya melestarikan tradisi-tradisi yang baik. Adapun praktek pelaksanaan rouhah Shahih Al-Bukhari di Pon. Pes. Mambaus Sholihin telah di paparkan pada poin sebelumnya.

18 Pengamatan penulis pada 15 April 2018.

19 Menurut van den Berg orang yang berbangsa Arab mulai menetap di Gresik pada awal abad 18 M. lihat L.W.C. van den Berg, Le Hadhramout Et. Les Colonies Arabes Dans L’Archipel

Indien, terjemah rahayu Hidayat, (Jakarta: INIS, 1989), 75.

20 Wawancara dengan kiai Masbuhin Faqih, pimpinan pesantren Mambaus Sholihin pada 22 April 208.

Kata rouhah sendiri menurut penuturan habib Husen Assegaf, pimpinan

rouhah di keluarga Assegaf, bermakna waktu sore. Ketika makna itu

dikaitkan dengan kegiatan rouhah, maka karena pada waktu ini, kondisi diri seseorang terasa lebih segar dan lega. Kondisi lelah, penat setelah aktivitas hampir sehari telah sirna. Sehingga jiwa raga seseorang telah siap untuk melaksanakan kegiatan pembacaan Shahih Al-Bukhari atau Ihya’ Ulumuddin.21 Ketika dilacak dalam kamus bahasa arab, ditemukan bahwa secara etimologis kata rouhah merupakan bahasa arab yang tersusun dari huruf ra’, wawu dan ha’ (حور) yang memiliki beberapa arti. Bisa berarti datang atau berangkat di waktu sore, atau angin masuk pada sesuatu. Sedangkan kata ra>h}ah, turunan dari kata حور sendiri memiliki arti kondisi diri yang sehat, segar, lega, ringan. Ia merupakan lawan kata dari lelah, penat, berat atau jenuh atau keadaan diri yang negatif. Ia bisa juga bermakna waktu sore.22

Dalam sejarahnya, yang pertama kali melaksanakan kegiatan rouhah di keluarga Assegaf ini adalah habib Abu Bakar Assegaf.23 Riwayat pendidikan

21 Wawancara dengan Habib Husen Assegaf. Pada 19 April 2018.

22 Lihat Ibnu Manzur, Lisan al-Arab, Kairo: Da>r al-Ma’a>rif, tt), 1767. lihat juga A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 545.

23 Beliau lahir di Besuki, Jawa Timur pada tahun 1285 H./1863 M. Ayahnya, Muhammad Assegaf meninggal saat Habib Abu Bakar masih kecil. Ketika mendengar bahwa ayah Habib Abu Bakar meninggal, neneknya yang tinggal di Hadramaut meminta habib Abu Bakar untuk pergi ke Yaman sekaligus mencari ilmu. Saat itu dia berusia 8 tahun. Dia belajar kepada beberapa guru di sana. Di antara guru-gurunya adalah habib Abdillah bin Umar, pamannya sendiri, habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban dll. Pada tahun 1302 H. dalam usia kira-kira 17 tahun, dia pulang ke kampung kelahirannya di Besuki dan tiga tahun kemudian pindah ke Gresik. Setelah pulang ke Indonesia, Dia masih berguru kepada beberapa orang. Di antaranya adalah Habib Abdullah bin Muhsin al-Athas, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas dll. Dia meninggal pada 1376 H./1954 M. pada usia 91 tahun. Dia dikenal sebagai seorang wali qutb pada masanya. Wali qutb merupakan merupakan bagian dari salah satu tingkatan dari tiga tingkatan dalam dunia tasawwuf. Dalam dunia tasawwuf dikenal adanya tiga tingkatan salik (orang yang menjalani tasawwuf), yaitu

Habib Abu Bakar terlacak di dua tempat, di Hadramaut Yaman dan di Jawa setelah pulang dari Hadramaut. Di tempat pertama, dia belajar sampai umur 17 tahun. Kemudian pulang kembali ke Jawa. Selama beliau masih hidup, salah satu kegitan hariannya adalah membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Shahih Al-Bukhari. Pada usia 35 tahun beliau memulai kegiatan tersebut di rumahnya. Konon ceritanya, beliau telah meng-khatam-kan kitab Ihya’ Ulumuddin sebanyak 40 kali selama hidupnya. Setiap kali khatam, beliau memberi jamuan kepada para tamu yang datang untuk mengikuti

khataman. Kemudian, setelah Habib Abu Bakar meninggal dunia, kegiatan

ini dilanjutkan oleh keturunanya.24 Saat ini kegiatan rouhah dilanjutkan oleh cucunya yaitu habib Abdul Qadir Assegaf, Habib Husen Asssegaf dan Habib Ahmad Assegaf. Jadi, yang menjadi pelopor rouhah ini adalah Habib Abu Bakar Assegaf.25

Secara khusus rouhah kitab Ihya’ Ulumuddin dikhatamkan setiap kali perayaan haul habib Abu Bakar Assegaf. Ia masuk dalam rangkaian acara haul yang dilaksanakan selama dua hari, yakni setiap tanggal 16 dan 17 tingkatan syariat, tingkatan thariqah, dan tingkatan hakekat. Hakekat merupakan tingkatan tertinggi dalam dunia tasawwuf dan dalam tingkatan ini, seorang salik bisa disebut wali. Wali sendiri dalam tingkatan hakekat ini beragam, ada wali qutb, wali abdal, dll. Wali qutb merupakan jabatan tertinggi yang membawahi wali yang lain. Habib Abu bakar dikenal dan diyakini, pada masa hidupnya telah mencapai posisi ini. Oleh sebab itu, pada setiap perayaan haulnya, banyak sekali orang yang menghadirinya. Diambil dari dokumentasi Manaqib (riwayat hidup) habib Abu bakar Assegaf yang disampaikan pada acara haulnya pada Agustus 2018. Lihat juga biografinya dalam Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia, Cet. XI, (Malang: Pustaka Basma, 2013), 104-109. Menurut van den Berg, pada tahun 1885 di keresidenan Besuki, tempat lahirnya Habib Abu Bakar Assegaf, terdapat 950 orang Arab yang menetap, baik yang lahir di Arab atau lahirnya di Nusantara. Lihat L.W.C. van den Berg, Le Hadhramout Et. Les

Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien, terj. Rahayu Hidayat, (Jakarta: INIS, 1989), 69.

24 Dokumentasi Manaqib (riwayat hidup) habib Abu Bakar Assegaf yang disampaikan pada acara haulnya pada Agustus 2018.

25 Wawancara dengan Habib Abdul Qadir Assegaf, cucu habib Abu Bakar Assegaf, pelopor rouhah Ihya’ Ulumuddin dan Shahih Al-Bukhari di keluarga Assegaf Gresik pada 27 November 2018.

Dzulhijjah. Hari pertama dilaksanakan khataman rouhah kitab Ihya’ Ulumuddin yang dilaksanakan pada pukul 16.30 wib. sampai kira-kira pukul 18.30 wib. Perayaan hari kedua dilaksanakan setelah shalat Shubuh dengan membaca maulid simt} al-durar hingga kira-kira pukul 08.00 wib. kedua kegiatan ini dilaksanakan di rumah habib Abu Bakar yang sekarang ditempati oleh cucunya, Habib Abdul Qadir Assegaf. Kemudian puncak acara dilaksanakan pada pukul 09.00 wib yang dilaksanakan di makam Habib Abu Bakar Assegaf yang bertempat di area Masjid Jami’ Gresik. Acara terakhir ini diisi dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil, kemudian pembacam

Manaqib Habib Abu Bakar Assegaf dan taus}iyah.

Gambar III.

Makam Habib Abu Bakar Assegaf pada saat acara haulnya (Sumber:

Pelaksanaan rouhah di keluarga Assegaf saat ini adalah setiap hari, mulai pukul enam sampai setengah delapan pagi. Kecuali hari Jumat, maka

rouhah ini diliburkan. Kitab Ihya’ Ulumuddin dibaca setiap hari sepanjang

bulan. Adapun kitab Shahih Al-Bukhari hanya di baca pada bulan Rajab saja dan waktunya sama seperti rouhah Ihya’ Ulumuddin. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kitab ini menjadi siklus yang berkaitan dari tradisi keluarga Assegaf.26

Ketika masuk bulan Rajab, rouhah kitab Ihya’ Ulumuddin diberhentikan dan diganti dengan rouhah hadis Shahih Al-Bukhari. Namun

rouhah Shahih Al-Bukhari yang dilaksanakan oleh keluarga Assegaf ini tidak

menggunakan kitab Shahih Al-Bukhari secara langsung, akan tetapi menggunakan kitab ringkasan dari Shahih Al-Bukhari, yaitu kitab Tajrid

al-Sharih.27

Dalam prakteknya, cara membaca kitab Tajrid al-Sharih sama seperti

rouhah yang ada di pesantren Mambaus Sholihin. Yakni diawali dengan tawassul, membaca surat al-fatihah. Kemudian kitabnya dibaca secara

bergantian oleh peserta rouhah ini. Ketika salah satu peserta membaca, maka yang lain juga menyimak bacaannya. Apabila dalam bacaan atas teks itu terjadi kesalahan baik dari segi harakat dan hurufnya, maka peserta lain juga membetulkan bacaannya. Di ujung bacaan, setiap peserta menambahi kalimat “rad}iya Allah ‘ankum” sebagai tanda bahwa bacaannya telah berakhir. Dalam

26 Keluarga Assegaf di Gresik ini bertempat di jalan KH. Zubair, desa Pulopancikan, kecamatan Gresik, kabupaten Gresik.

membaca teks kitab, pembaca/pemimpin rouhah ini juga tidak memberi penjelasan atau keterangan atas teks sama sekali kepada peserta.28

Tempat pelaksanaan rouhah yang dilaksanakan oleh keluarga Assegaf ini hanya menempati satu tempat saja, yaitu di rumah habib Abu Bakar. Peserta rouhah yang diadakan di rumah habib Abu Bakar Assegaf ini adalah keluarga Assegaf sendiri dan beberapa orang lain. Peserta rouhah ini begitu banyak ketika hari terakhir rouhah, yakni ketika khataman kitab Tajrid

al-Sharih. Para peserta, dari berbagai tempat, memenuhi sebagian dari

panjangnya jalan KH. Zubair yang merupakan alamat rumah Habib Abu Bakar Assegaf. Mereka juga diberi jamuan pada khataman ini, seperti yang dilakukan oleh pelopor rouhah ini, habib Abu Bakar Assegaf di masa hiddupnya.29

Yang berbeda dari rouhah yang dilaksanakan di rumah habib Abu Bakar dan di pesantren Mambaus Sholihin, pertama adalah tempat pelaksanaannya. Kalau rouhah yang dilaksanakan oleh keluarga Assegaf hanya menempati satu tempat, yakni di rumah habib Abu Bakar Assegaf yang sekarang ditempati oleh cucunya, Habib Abdul Qadir Assegaf. Sedangkan

rouhah yang dilaksanakan oleh pimpinan pesantren Mambaus Sholihin tidak

menempati satu tempat, akan tetapi tempatnya berpindah-pindah, dari satu rumah ke rumah yang lain. Sesuai urutan tempat yang masuk dalam daftar tuan rumah dari rouhah.

28 Pengamatan Penulis pada 12 April 2018.

Kedua adalah kitab yang dibaca. Rouhah yang dilaksanakan di

keluarga Assegaf menggunakan kitab ringkasan dari Shahih Al-Bukhari, yaitu kitab Tajrid al-Sharih, sedangkan di pesantren Mambaus Sholihin menggunakan kitab Shahih Al-Bukhari secara langsung. Ketiga adalah waktu pelaksanaanya. Di rumah habib Abu Bakar Assegaf, rouhah dilaksanakan pada pagi hari, sedangkan di pesantren Mambaus Sholihin, secara umum, ia dilaksanakan pada sore hari. Kecuali di beberapa tempat, yakni di lembaga-lembaga formal, maka rouhah dilaksanakan sejak pagi.

Tabel III

Perbedaan pelaksanaan rouhah di keluarga Assegaf dan di pesantren Mambaus Sholihin

Rouhah di Tempat Waktu Kitab

Keluarga Assegaf

Di rumah Habib Abu Bakar

Assegaf

Pagi hari pukul 06.00 s/d 07.30 Tajrid al-Sharih Pesantren Mambaus Sholihin Di berbagai tempat (rumah kaia, putra-putranya, rumah

para guru dan lembaga pesantren dan sebagian warga

desa Suci)

sore hari pukul 16.30 s/d 20.00, kecuali di lembaga pesantren, mulai setelah shubuh s/d 20.00 Shahih al-Bukahri

Sejauh informasi yang didapatkan oleh penulis, pemilihan kitab Shahih Al-Bukhari untuk dibaca dalam kegiatan rouhah ini didasarkan pemahaman bahwa kitab ini merupakan kitab hadis yang paling shahih (otentik). Pemahaman ini lah yang mengantarkan pada terpilihnya kitab Shahih Al-Bukhari untuk dibaca dalam kegiatan rouhah ini. Adapun pemilihan bulan Rajab untuk pelaksanaan rouhah Shahih Al-Bukhari ini didasarkan pada narasi sejarah bahwa, konon dahulu kala Imam Bukhari, pengarang kitab Shahih Al-Bukhari ini pergi ke negara Yaman dan tiba di tempat itu pada bulan Rajab. Oleh karena itu untuk menyambut kedatangannya, maka karya Imam Bukhari ini dibaca oleh penduduk Yaman waktu itu, dan dilanjutkan hingga saat ini.30

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi rouhah ini berasal dari negara Yaman. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya terkait riwayat pendidikan pelopor kegiatan rouhah di Gresik, habib Abu Bakar Assegaf, bahwa beliau pernah menuntut ilmu ke negara Yaman, tempat leluhur bani Assegaf. Memang para keluarga yang memiliki garis keturunan dengan nabi Muhammad yang ada di Indonesia, seperi keluarga Assegaf, keluarga Al-Habsyi, keluarga Al-Haddad dan yang lain, berasal dari Hadramaut negara

30 Wawancara dengan Habib Abdul Qadir Assegaf, cucu habib Abu bakar Assegaf, pelopor rouhah Ihya’ Ulumuddin dan Shahih Bukhari di keluarga Assegaf Gresik pada 27 November 2018. Van Den Berg menjelaskan bahwa para pelajar di Hadramaut setelah selesai studi di Madrasah dan mempunyai minat untuk melanjutkan studi kepada cendekiawan yang bereputasi di kota besar. Pelajaran yang diajarkan merupakan pendidikan tinggi di Hadramaut. Di pendidikan ini mereka belajar kitab-kitab besar. Dalam bidang hukum Islam kitab yang dipakai adalah

Minhajut Talibin, dalam tata bahasa digunakan kitab Syarah Alfiyah, dalam bidang tafsir

Al-Qur’an digunakan kitab tafsir Al-Baghawi dan tafsir Jalalain, dalam bidang hadis digunakan kitab Shahih Al-Bukhari, dalam bidang tasawuf digunakan kitab Ihya’ Ulumuddin. Lihat lebih lanjut L.W.C. van den Berg, Le Hadhramout Et. Les Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien, terj. Rahayu Hidayat, (Jakarta: INIS, 1989), 58.

Yaman31 dan pendidikan para keturunan keluarga-keluarga ini diarahkan ke negara Yaman.

Dokumen terkait