UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2017
2. Practice ‘habitual or customary action’
(Carr and Kemmis, 1994: 190-191) 3. Prinsip-Prinsip PTK
a. Tidak mengganggu komitmen mengajar. b. Tidak menuntut waktu khusus.
c. Metode reliabel.
d. Masalah berasal dari guru.
e. Memperhatikan prosedur etika profesi. f. Perspektif misi dan visi sekolah.
4. Perbedaan PTK dengan Penelitian Formal
Tabel 1. Perbedaan PTK dengan Penelitian Formal
DIMENSI PTK PENELITIAN FORMAL
Motivasi Tindakan Kebenaran
Sumber Masalah
Diagnosis status Induksi--deduksi Tujuan Mengembangkan praksis
pembelajaran
Verifikasi dan generalisasi Keterlibatan
Peneliti
Oleh pelaku dari dalam Oleh orang luar Sampel Kasus khusus Sampel representatif Metodologi Longgar, tetapi berusaha
objektif
Baku, objektif yang melekat Tafsiran Temuan Memahami praksis melalui refleksi Memerikan, mengabstraksikan,membangun teori Hasil Akhir Pembelajaran yang baik
bagi siswa (proses dan produk).
Menguji pengetahuan, prosedur, dan material
2.2.3 Penjelasan Operasional 1. Proses Kajian PTK
Proses kajian PTK berdaur atau bersiklus, seperti ini:
TINDAKAN OBSERVASI REFLEKSI 2. Tahapan Strategis PTK
Tabel 2. Tahapan Strategis PTK
TAHAPAN TUJUAN SASARAN
Identifikasi masalah PTK
Untuk memahami,
menemukan, mengidentifikasi, dan menentukan alternatif tindakan untuk pemecahan masalah dalam pembelajaran di kelas (penetapan fokus masalah penelitian dan perencanaan tindakan perbaikan)
1. Menyusun latar belakang, fokus dan rumusan masalah, tujuan, dan manfaat PTK dan
2.Menyusun instrumen penelitian PTK (RPP, Lembar Observasi, Pedoman Wawancara dan Butir-Butir Tanyaan, dan Soal-Soal).
Pelaksanaan PTK
Untuk memahami dan
melaksanakan langkah-langkah pelaksanaan PTK (pelaksanaan
tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, analisis dan refleksi, dan perencanaan tindak lanjut)
3. Merancang siklus tindakan kelas,
4. Menyusun refleksi tindakan kelas,
5. Menyusun analisis dan sintesis tindakan kelas, dan
6. Membuat catatan lapangan.
Penyusunan laporan PTK
Untuk memahami susunan dan menjadikan laporan PTK
7. Menyusun deskripsi data PTK 8. Menyajikan hasil analisis data
PTK, dan
9. Merumuskan inferensi dan rekomendasi PTK.
Dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa PTK adalah suatu tidakan menemukan pemecahan masalah yang dilakukan dengan mandiri oleh guru untuk mendapatkan solusi yang bersifat rasional
serta untuk memperdalam pemahaman terhadap tindakannya dan memperbaiki pelaksanaan pembelajarannya.
2.3 Permainan
Lotre Cerkak
Karena disini permainan lotre cerpen merupakan suatu media, maka peneliti menjelaskan terlebih dahulu tentang media pembelajaran. Beberapa pengertian menurut para ahli sebagai
berikut, kata ”media ” berasal dari bahasa latin “medius” yang secara harfiah berarti “tengah”,
“Perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa arab media adalah perantara atau pengantar pesan dari
pengirim kepada penerima pesan. (Arsyad, 2003:3).Media pembelajaran adalah suatu yang dapat membawa informasi atau ilmu pengetahuan dari si pengirim informasi dalam hal ini adalah guru kepenerima informasi yaitu siswa. Suherman
(2001:200) membagi media pembelajaran dalam dua bagian kelompok, pertama yaitu media sebagai pembawa informasi atau ilmu pengetahuan misalnya papan tulis, OHP, kaset, vidio. Dan yang kedua adalah media yang sekaligus berfungsi menanamkan konsep dalam mengajarkan materi kepada siswa, media ini biasa disebut dengan alat peraga.
Media sebagai alat bantu, sifatnya sangat sederhana, artinya diperlukan atau dipakai bila
penyampaian pembelajaran secara lisan dipandang kurang efektif. Dalam penggunaan media, peran guru sangat penting karena gurulah yang mempunyai tugas men yampikan pembelajaran sebagai suatu bentuk komunikasi dengan siswa adalah guru (Moedjiarto, 1997:63).
Menurut Moedjiarto, (1997:64) media pembelajaran merupakan sarana komunikasi yang digunakan guru untuk menyampaikan pesan atau pembelajaran kepada sis wa. Media juga merupakn sumber belajar atau learning resource, karena darinya lah memperoleh materi pembelajaran selain dari buku ajar.
A. Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai berikut:
1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena: (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang
bergerak terlalu cep at; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlal u halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realisti s. 6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak
Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat diantaranya yaitu:
1. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar.
2. Media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari sela in memberikan rangsangan belajar baru.
3. Mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar.
Ciri-ciri media pembelajaran diantaranya:
1. Penggunaan yang dikhususkan atau dialokasikan pada kepentingan tertentu.
2. Alat untuk menjelaskan apa yang ada di buku pelajaran baik berupa kata-kata simbol atau bahkan angka-angka.
3. Media pembelajaran bukan hasil kesenian
4. Pemanfaatan media pembelajaran tidak sebatas pada suatu keilmuwan tertentu tapi digunakan pada seluruh keilmuwan
Pada penjelasan mengenai media pembelajaran, peneliti dapat menyimpulkan bahwa media permainan Lotre Cerkak termasuk pada kreteria media pembelajaran yang mampu memberi konsep pemahaman, dalam hal ini adalah pembentukan cerkak dan proses pemaknaannya. Termasuk alat penjelas yang berupa simbol karena berwujud lotre yang berisi kata-kata pembentuk cerpen. Mampu memberikan motivasi meningkatkan minat belajar karena menggugah rasa ingin tahu siswa akan cerpen yang belum mereka pahami benar. Selain itu tata pelaksanaan permaian juga mampu mewujudkan keaktivan siswa untuk terus memahami.
integral dari proses pembentukan kepribadian anak. Sehingga dalam penelitian ini dibahas suatu media mengajar yang berbentuk permainan, karena permainan mampu memberikan wahanan untuk membentuk kepribadian anak yang sekaligus juga mampu meningkatkan pemahaman dari hal yang dimainkan tersebut.
Karena permainan ini berbentuk lotre, dijelaskan juga mengenai lotre. Dari segi rasa ada definisi negatif maupun positifnya. Ada pengertian lotre atau lotere ialah bentuk perjudian yang melibatkan penarikan banyak hadiah (http://id.wikipedia.org/wiki/Lotre). Pengertian ini lebih bersifat negatif karena lotre digunakan untuk judi. Sedangkan pengertian yang bersifat positif yaitu undian; menang, (1) mendapat uang (barang) dari undian; (2) mendapat untung besar; (http://www.artikata.com/arti-338938-lotre.html). Pengertian inilah yang digunakan dalam penelitian ini. Diharapkan media berbentuk lotre ini mampu memberi kesan menyenangkan bagi siwa dalam mempelajari cerpen.
Contoh judul cerpen: Semut dan Kecoa
Abu Nawas Mau Terbang
2.4 Minat Belajar Siswa
Berikut penjelasan mengenai minat oleh para ahli. Menurut Slameto (2003:57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Minat adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek (Sumadi Suryabrata, 1988 :109). Minat adalah sesuatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan tertarik pada sesuatu yang relatif tetap untuk lebih memperhatikan dan mengingat secara terus-menerus yang diikuti rasa senang untuk memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Minat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap suatu gairah keinginan. sedangkan menurut Crow dan Crow, minat sangat erat hubungannya dengan dorongan, motif, dan reaksi emosi (Sri Rukmini, 1998: 118).
Sedangkan pengertian tentang belajar banyak dikemukakan oleh ahli psikologi seperti Leflon. Leflon (1991) menyatakan bahwa learning as a relatively permanent change in the organism that occurs as a result of experience, this change is often seen in overt or observed behavior, but not always. Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa belajar adalah terjadinya perubahan perilaku dalam diri organisme yang bersifat relatif permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Pengertian tersebut didukung oleh Gage (1984), yang menyatakan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. (Sri Rukmini, 1998: 156).
Selanjutnya dijelaskan mengenai definisi belajar, belajar adalah suatu aktifitas dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal.
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah rasa suka atau ketertarikan peserta didik terhadap pelajaran sehingga mendorong peserta didik untuk menguasai pengetahuan
dan pengalaman, hal tersebut dapat ditunjukkan melalui partisipasi dan keaktifan dalam mencari pengetahuan dan pengalaman tersebut.
Minat mengandung unsur-unsur kognisi (mengenal), emosi (perasaan), dan konasi
(kehendak). Atas dasar tersebut minat dianggap sebagai respon yang sadar dari dir i individu. Yang dimaksud kognisi adalah minat tersebut didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai obyek yang dituju, kemudian menimbulkan emosi (perasaan) tert entu, dan akan menuju pada konasi
(kehendak) untuk mencapainya, seperti adanya keinginan dan kemauan dari diri individu tersebut. Minat memiliki manfaat sebagai pendorong yang kuat dalam mencapai prestasi . Dengan memiliki minat belajar peserta didik lebih memperkuat ingatan tentang pelajaran yang diberikan
diberikan oleh pendidik. Sehingga, tidak sulit bagi peserta didik dalam mengerjakan soal atau pertanyaan dari pendidik. Hal tersebut menghasilkan nilai yang bagus dan meningkatkan prestasi peserta didik nantinya.
Selain itu, minat belajar menciptakan dan menimbulkan konsentrasi dalam belajar. Peserta didik akan memiliki konsentrasi yang baik apabila dalam dirinya terdapat minat untuk mempelajari hal yang ingin mereka ketahui. Konsentrasi yang terbentuk inilah, yang mempermudah peserta didik memahami materi yang dipelajari.
Seperti yang dijelaskan di atas, minat merupakan pendorong bagi peserta didik dalam belajar. Dengan minat tersebut, belajar bukan lagi sebagai beban bagi peserta didik. Belajar menjadi hal yang menggembirakan bahkan peserta didik dapat belajar dengan perasaan senang karena
mengetahui hal-hal yang baru. Dengan kata lain, memperkecil kebosanan peserta didik terhadap pelajaran. Hal ini, menunjukkan bahwa minat sangat erat hubungannya dengan belajar.
Untuk memperjelas uraian di atas berikut peneliti sajikan diagram hubungan antara variabel bebas (permainan lotre cerkak ) dan variabel terikat (minat belajar siswa).
permainanlotre
cer en minat belajar
variabel bebas variabel terikat
pengaruh
si nifikan / non si nifikan
BAB III
METODE DAN PERENCANAAN PENELITIAN
Seperti yang sudah dijelaskan di tujuan penelitian sebelumnya,maka pada bab ini peneliti menjelaskan metode penelitian yang digunakan untuk menjelaskan tujuan penelitian ini. Metode penelitian ini sebelumnya juga menjelaskan terlebih dahulu perencanaan penelitian, deskripsi tiap
siklus, dan teknik penganalisisan data. Diperencanaan penelitian dijelaskan tentang subjek penelitian serta tempat dan waktu penelitian. Kemudian, di deskripsi setiap siklus dijelaskan
rencana, pelaksanaan, cara mengumpulkan data, dan refleksi pelaksanaan penelitian setiap siklus. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengolah data kuantitatif menjadi data kualitatif. Penjelasan lebih jelasnya seperti ini.
3.1 Perencanaan Penelitian
Diperencanaan penelitian ini dijelaskan mengenai subjek penelitian dan deskripsi setiap siklus, penjelasannya seperti ini.
3.1.1 Subjek Penelitian 1. Lokasi
Lokasi penelitian yaitu di SMK Negeri 12 Surabaya Jalan Raya Siwalankerto No 5A Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya Propinsi Jawa Timur. Sekolah ini merupakan lokasi PPP bagi mahasiswa PPP Semester VI Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Studi Bahasa Indonesia. Di sekolah ini juga merupakan
praktek mengajar itulah, peneliti menemukan permasalahan belajar kelas VIII-H pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi cerpen
.
2. Waktu dan Tanggal
Waktu dan tanggal pelaksanaan penelitian sesuai dengan jadwal mata pelajaran Bahasa Daerah kelas XI Logam 1, lebih rincinya sebagai berikut:
Siklus I: Jam ke 5-6 (10:00-11:30 WIB), Selasa 1 Agustus 2017 Siklus II: Jam ke 5-6 (10:00-11:30 WIB), Selasa 8 Agustus 2018 3. Mata pelajaran
Standar Kompetensi:
Membaca: 8. Mengidentifikasi, menganalisis unsur intrinsik cerpen melalui kegiatan membaca dan berlatih.
Kompetensi Dasar:
Mengidentifikasi, memahami dan menganalisis struktur teks, unsur kebahasaan, dan pesan moral cerita fiksi (cerpen) secara lisan dan tulis.
4. Kelas
Kelas yang digunakan penelitian yaitu kelas XI Logam 1 Semester I tahun ajaran 2017/2018. Tabel 3. Rencana Jadwal Penelitian
No. Hari/Tanggal Jam ke-(Waktu) Siklus Pengamat/Pendamping 1 Selasa, 1 Agustus 2017 Ke 5-6 (10.00-11:30)
I Dra. Tri Wahyuni
2 Selasa, 8 Agustus 2017 Ke 5-6 (10:00-11:30)
3.1.2 Deskripsi Setiap Siklus
Deskripsi setiap siklus dijelaskan mulai siklus I ke siklus II meliputi, rencana, pelaksanaan, pengamatan, pengumpulan data, dan refleksi. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.
3.1.2.1 Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Siklus I 1. Rencana
Rencana perbaikan pembelajaran yang digunakan didalamnya terdapat mata pelajaran, kelas/semester, alokasi waktu, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, dan tujuan perbaikan, langkah-langkah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti , dan kegiatan akhir, sarana dan sumber, dan evaluasi. Rencana perbaikan pembelajaran untuk siklus satu dan siklus dua mata pelajaran Bahasa Daerah khususnya dalam memahami materi cerpen.
2. Pelaksanaan
Langkah-langkah pelaksanaan yang dilakukan pada siklus pertama dan kedua adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan Awal
Kegiatan awal mempunyai jatah waktu 10 menit dengan rincian kegiatan sebagai berikut : (1) Guru membuka pelajaran dan mengabsen siswa, (2) Guru mengkondisikan siswa untuk menerima materi, dan (3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran meliputi aspek kognitif, psikomotor, dan afektif (perilaku berkarakter dan keterampilan sosial).
b. Kegiatan Inti
Kegiatan inti mempunyai jatah waktu 60 menit dengan rincian kegiatan sebagai berikut: 1. Guru memancing pengetahuan siswa tentang cerpen
2. Guru memberikan materi tentang cerpen. 2. Guru memberikan contoh-contoh cerpen.
3. Guru meminta siswa untuk membuat cerpen. (± 30 menit).
4. Siswa menukarkan pekerjaan siswa satu dengan siswa lainnya. Dengan pengawasan guru. 5. Guru menjelaskan sistem penghitungan nilai.
6. Secara bergiliran siswa maju membacakan hasil cerpen nya. 7. Setelah selesai lembar pekerjaan dikumpulkan kepada guru.
c. Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir mempunyai jatah waktu 10 menit dengan rincian kegiatan sebagai berikut: 1. Guru bersama siswa melakukan refleksi
2. Guru mengakhiri pelajaran. 3. Pengamatan
Pada saat pengamatan peneliti menggunakan instrumen observasi seperti berikut: Tabel 4. Pengamatan Aktivitas Siswa
Keterangan: Berikan nilai angka pada kolom yang sesuai! 1= kurang 2= cukup 3= baik 4= sangat baik 4. Refleksi a. Dalam hal respon siswa pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori cukup
b. Dalam hal menjawab pelajaran pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori cukup c. Dalam menganalisis pandangan pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori baik d. Dalam hal menjelaskan materi pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori cukup
e. Dalam hal menyebarkan kesempatan berpartisipasi pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori cukup
f. Dalam hal menutup pembelajaran termasuk dalam kategori baik
Sedangkan hasil observasi pada siklus dua dapat diperhatikan pad tabel berikut:
No. Kegiatan Pembelajaran Skor Hasil
Pengamatan 1 Siswa aktif dalam bertanya
2 Siswa bersedia bekerja sama dengan siswa lain 3 Siswa semangat berkompetisi
4 Siswa semangat mengerjakan tugas
5 Siswa sungguh-sungguh dalam mengerjakan soal
6 Siswa antusias dalam memperhatikan penjelasan materi cerpen dari guru
7 Siswa sportif dalam mengerjakan
8 Siswa antusias saat refleksi dengan guru 9 Siswa memahami penggunaan cerpen
10 Siswa menghargai pendapat dan kemampuan teman lain JUMLAH SKOR
TABEL I: HASIL OBSERVASI (SIKLUS II) PENGGUNAAN MEDIA DAN ALAT PERAGA
No Aspek yang diobservasi
Hasil penilaian B C K 1 Respon siswa
√
2 Menjawab pertanyaan√
3 Menganalisis pandangan√
4 Menjelaskan materi√
5 Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
√
6 Menutup Pelajaran
√
Dari tabel di atas maka terjadi peningkatan dari siklus satu kesiklus dua seperti terhadap pada penjabaran berikut:
1. Dalam hal respon siswa pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori baik
2. Dalam hal menjawab pertanyaan pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori baik 3. Dalam menganalisis pandangan pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori baik 4. Dalam hal menjelaskan materi pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori baik
5. Dalam hal menyebarkan kesempatan berpartisipasi pada saat pembelajaran termasuk dalam kategori baik
6. Dalam hal menutup pembelajaran termasuk dalam kategori baik
Terlaksananya siklus I dan siklus II di dalam kelas dengan dibantu oleh teman dan guru pamong sebagai pendamping sekaligus pengamat ketika kegiatan penelitian berjalan.
3.2. Mengumpulkan Data
Bagian mengumpulkan data dilaksanakan bersama peneliti dan guru pamong bahasa Indonesia. Guru pamong sebagai pengamat dan pendamping.
Data penelitian yang dikumpulkan yaitu: Data aktifitas sis wa saat mengerjakan tugas. Kabisaan siswa mengerjakan tugas, yang terdapat dalam komponen dibawah ini:Bisa mengerjakan yang mengandung gagasan pokok ngenani materi Mengamati dengan teliti Mengerti proses pengerjaan
Menjawab pertanyaan dengan baik Bisa menyampaikan lagi kengan singkat tugas mengamati isi cerkak sekaligus unsur intrinsiknya. Data yang dikumpulkan menggunakan lembar penilaian tugas. Data dikumpulkan dengan lembar evaluasi.
BAB IV PENUTUP
Berikut peneliti menjelaskan kesimpulan dari hasil penelitian ini beserta saran bagi semua pihak yang bersangkutan dengan penelitian ini.
4.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa hipotesis pertama diterima yaitu, ada pengaruh antara penggunaan media dengan peningkatan minat belajar memahami materi cerpen
pada siswa kelas XI Logam 1 SMK Negeri 12 Surabaya Semester I Tahun Ajaran 2017/2018. Dibuktikan dengan adanya peningkatan minat belajar dari 50% ke 80%. Hal ini mampu dibuktikan dari hasil penghitungan data dari Tabel Pengamatan Aktivitas Siswa pada Siklus I dan Siklus II. 1. Penyebab siswa tidak berminat mempelajari wayang adalah:
a. Ketidak mampuan siswa menyimak penjelasan guru dalam memahami cerita cerpen yang anjang
b. Siswa kesulitan menyimak kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia.
2. Usaha yang dilakukan untuk menghindari kesalahan tersebut adalah memberi tindakan
pembelajaran dengan menggunakan media secara inovatif yang dilakukan dalam siklus dengan tujuan meningkatkan minat belajar siswa pada konsep pemahaman materi cerpen. Penekanan pembelajarn diberikan pada:
a. Melibatkan siswa secara aktif untuk memahami konsep dan kegunaan media Power Point untuk pembelajaran cerpen
b. Pembelajaran yang memanfaatkan media secara inovatif ternyata dapat membuat sis wa antusias dan termotivasi untuk menyimak materi cerpen sehingga siswa terlibat baik secara intelektual
4.2 Saran 4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh guru dalam Berdasarkan kesimpulan tersebut beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran adalah:
meningkatkan kualitas pembelajaran adalah: 1.
1. Diharapkan siswa mampu terus meningkatkan minat belajar dalam memahami setiap materi mataDiharapkan siswa mampu terus meningkatkan minat belajar dalam memahami setiap materi mata pelajaran Bahasa Indonesia.
pelajaran Bahasa Indonesia. 2.
2. Guru terus berusaha menemukan media, teknik maupun model pembelajaran yang inovatif, gunaGuru terus berusaha menemukan media, teknik maupun model pembelajaran yang inovatif, guna menjadikan mata pelajaran Bahasa Indonesia bukan mata pelajaran yang membosankan, tetapi menjadikan mata pelajaran Bahasa Indonesia bukan mata pelajaran yang membosankan, tetapi justru sangant menyenangkan. Dari situ hasil belajar siswa pun akan bertahap m
justru sangant menyenangkan. Dari situ hasil belajar siswa pun akan bertahap meningkateningkat
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Adipitoyo. 2005:Makalah Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Universitas
Adipitoyo. 2005:Makalah Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Universitas Negeri SurabayaNegeri Surabaya Arikunto. 2006. Metodelogi Pembelajaran. Jakarta: Erlangga
Arikunto. 2006. Metodelogi Pembelajaran. Jakarta: Erlangga Arsyad, A.1997.
Arsyad, A.1997. Media Pengajaran. Media Pengajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo PersadaJakarta: PT Raja Grafindo Persada Depdiknas. 2003.
Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 Ma Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 Mata Pelajaran Matematika SD/MI.ta Pelajaran Matematika SD/MI. Jakarta: Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional
Jakarta: Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional Moedjiarto. 1997.
Moedjiarto. 1997. Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka. Jakarta: Universitas Terbuka. Padmosoekotjo, S.1953.
Padmosoekotjo, S.1953. Ngengrengen Kasusastran Djawa Ngengrengen Kasusastran Djawa.Jogjakarta: Soejadi.Jogjakarta: Soejadi Slameto. 2003.
Slameto. 2003. Strategi Belajar Mengajar.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka. Jakarta : Universitas Terbuka. Sri Rukmini, A.1998.
Sri Rukmini, A.1998. Profesionalisme Keguruan. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisisus.Yogyakarta: Kanisisus. Sugiyono. 20
Sugiyono. 2006. Strategi Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Yudhistira06. Strategi Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Yudhistira Suherman. 2001.
Suherman. 2001. Media pendidikan. Media pendidikan. Jakarta: CV Rajawali.Jakarta: CV Rajawali. Sulaeman, D .1988.
Sumadi, Suryabrata A.1988.
Sumadi, Suryabrata A.1988. Media Instruksional Edukatif Media Instruksional Edukatif . Jakarta: Rineka Cipta.. Jakarta: Rineka Cipta. Tim FKIP. (2007).
Tim FKIP. (2007). Pemantapan Kemampua Pemantapan Kemampuan Profesional.n Profesional. Jakarta: Universitas Terbuka. Jakarta: Universitas Terbuka.