• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Satuan Pendidikan : SMK Negeri 12 Surabaya

Dalam dokumen LAPORAN TUGAS AKHIR PPP.docx (Halaman 22-61)

Kelas/Semester : XI/Satu

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Materi Pembelajaran : Teks Cerpen

Alokasi Waktu : 2x45 Menit(6 kali tatap muka) Kompetensi Dasar

3.1 Memahami struktur dan kaidah teks cerita pendek, baik melalui lisan maupun tulisan 4.1 Menginterpretasi makna teks cerita pendek, baik secara lisan maupun tulisan

3.2 Membandingkan teks cerita pendek, baik melalui lisan maupun tulisan

4.2 Memproduksi teks cerita pendek, yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan maupun tulisan

3.3 Menganalisis teks cerita pendek, baik melalui lisan maupun tulisan

4.3 Menyunting teks cerita pendek, sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan

3.4Mengidentifikasi teks cerpen baik secara lisan maupun tertulis 4.4 Mengabstraksi teks cerita pendek, baik secara lisan maupun tulisan

Indikator

3.1.1 SIswa dapat memahami struktur teks cerita pendek melalui lisan 3.1.2 Siswa dapat memahami struktur teks cerita pendek melalui tulisan 3.1.3 Siswa dapat memahami kaidah teks cerita pendek melalui lisan 3.1.4 Siswa dapat memahami kaidah teks cerita pendek melalui tulisan 4.1.1 Siswa dapat menginterpretasi makna teks cerita pendek melalui lisan 4.1.2 Siswa dapat menginterpretasi makna teks cerita pendek melalui tulisan 3.2.1 Siswa dapat membandingkan teks cerita pendek melalui lisan

3.2.2 Siswa dapat membandingkan teks cerita pendek melalui tulisan

4.2.1 Siswa dapat memproduksi teks cerita pendek yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat secara lisan

4.2.2 Siswa dapat memproduksi teks cerita pendek yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat secara tulisan

3.3.1 Siswa dapat menganalisis teks cerita pendek secara lisan 3.3.2 Siswa dapat menganalisis teks cerita pendek secara tulisan 4.3.1 Siswa dapat menyunting teks cerita pendek secara lisan 4.3.2 Siswa dapat menyunting teks cerita pendek secara tulisan 3.4.1 Siswa dapat mengidentifikasi teks cerita pendek secara lisan 3.4.2 Siswa dapat mengidentifikasi teks cerita pendek secara tulisan 4.4.1 Siswa dapat mengabtraksi teks cerita pendek secara lisan 4.4.2 Siswa dapat mengabtraksi teks cerita pendek secara tulisan

Teks Prosedur yang meliputi;

Pada KD 3.1 dan 4.1 materi pembelajaran adalah Pengenalan struktur isi teks cerita pendek. Pengenalan ciri bahasa teks cerita pendek. Pemahaman isi teks cerpen. Interpretasi isi (unsur intrinsik dan ekstrinsik) dalam teks cerita pendek.

Pada KD 3.2 dan 4.2 materi pembelajaran adalah Langkah-langkah penulisan teks cerita pendek (menggali  pengalaman, menemukan topik, mengembangkan topik

sesuai dengan struktur isi dan ciri bahasa), dll.

Pada KD 3.3 dan 4.3 materi pembelajaran adalah Analisis isi teks cerita pendek Analisis bahasa teks cerita pendek Penyuntingan isi sesuai dengan struktur isi teks cerita  pendek

Penyuntingan bahasa sesuai dengan: struktur kalimat, ejaan, dan tanda baca

Pada KD 3.4 dan 4.4 materi pembelajaran adalah Karakteristik teks cerpen Langkah-langkah membuat abstraksi teks cerita pendek

MATERI PEMBELAJARAN CERITA PENDEK YANG DIGUNAKAN DALAM PERTEMUAN PERTAMA DAN PERTEMUAN KEDUA

“Kenangan Di Sudut Kelas Kita”

Kenalin aku citra. Dan ini adalah kisahku dengan ketiga sahabatku di masa putih abu-abu. Dia adalah 2 sahabatku rey dan citra. Mereka adalah penyemangat duniaku. Katanya masa SMA ini adalah masa yang menyenangkan begitu juga yang kami rasakan bertiga. Bahagia selalu membuka dan menutup sagala aktifitas kami di sekolah, tapi kisah itu harus berubah 180 derajat disaat sang waktu mulai melangkah dan lelah melihat kami bertiga. Dan inilah kisah kami.

Di saat terakhir MOS kelelahan yang kami rasakan akhirnya terbayar dengan adanya pengumuman kelas masa depan kami nanti di sekolah ini. Tempat di mana aku dan prajurit pembutu mimpi ini akan berperang menghancurkan batu yang menutup kebahagian di masa depan nanti. Kami akan berusaha meraih cita-cita kami bersama di kelas baru ini. Dan tak sabar memakai title baru.

Aku dan kawan-kawan maju ke papan pengumuman itu. Hatiku tak perlu degdegan kar ena dimanapun ku ditempatkan aku sudah siap. Aku bersyukur di saat aku melihat nama ku di X2. Waw.. bangga ku rasa. Meski masih ada x1 tapi aku bersyukur. Kuperiksa nama teman masa depanku dan aku bahagia aku mengenal 1 orang di sana dia adalah temanku semasa MOS dulu REY.

Hari pertama sekolah dimulai. Agak risih juga memakai baju ini, putih abu-abu. Wajah yang tak kukenal kini berkumpul di kelas itu dengan bahagia, sepertinya mereka merasakan apa yang kurasakan hari ini. Meraka begitu hangat dan ramah lihat saja di sana gadis kecil yang baru datang itu. Dia menyunggingkan

senyumnya yang manis sambil menyapa “hai.. selamat pagi.” Dia begitu ramah kelihatannya dia baik.

adis itu melangkah ke salah satu tempat duduk di depan sana. Dia sepertinya langsung mendapatkan teman duduk, dan setelah itu dia meneruskan langkahnya ketempat dudukku. Apa dia mengenal ku? Atau..? “hay rey..” sapa dia pada teman dudukku ini. Ow ternyata dia kenal dengan rey.

“citra.. kamu di sini juga” kata rey dengan ramah. Kelihatannya mereka adalah teman dekat.

“ia dong brow.. hum asik yah kita bisa satu kelas. Jadi kalo pulang bisa pulang bareng dong..”

“iya lah. Asik wah sebuah kebetulan yang luar biasa..”

Citra memandangku. “hay.. senang bertemu denganmu. Boleh kenalan?”

“juga.. namaku arga.”

Tak kuduga dari sinilah mulai terukir persahabatan antara kami bertiga, setiap pagi senyuman manis mereka menbuatku semangat. Canda tawanya membuatku bahagia, ketika hati tengah g undah mereka selalu siap menjadi tempat curhat ku, meski kadang perbedaan selalu terbentang jauh namun tak pernah kami bertengkar selalu ada jalan keluar untuk masalah yang mendatangi kami.

“penguman disampikan kepada siswa kelas X yang berminat menjadi anggota musik smansa agar segera mendaftarkan diri di panitia.”

Wah. Hal ini begitu membuatku girang, setelah sekian lama menunggu kesempatan untuk bergabung

dengan musik smansa yang selalu menjadi buah bibir di masyarakat kini akan aku wujudkan. Aku berjanji di suatu saat nanti aku akan menjadi anggota musik smansa, meski tantangannya berat. Kali ini kami bertiga mengikuti audisi itu, karena tampa ku sadari ternyata kami bertiga memiliki hobby yang sama dalam musik.

“waw.. harus semangat nih secara kita bertigakan ikut..” kataku menyemangati

“yoi tapi masih banyak sih saingan.” Kata citra

“ia nih aku kok gak PD yah..” kata rey merenda. Ya meski sebenarnya jika aku melihatnya dia memiliki bakat.

“aduh aku gak mau daftar deh kayaknya, aku takut.” Kata Rey pesimis. Setelah melihat banyak anak-anak yang berminat, khususnya yang menjadi anggota exkul paduan suara.

“aduh Rey, gak ada salahnya kali mencoba. Coba aja dulu siapa tau bisa, kalo gak bisa lolos kan anggap aja ini sebagai pengalaman iya kan.” Kata Citra yang selalu menberi dukungan.

“iya benar tuh Rey..” kataku menimpali.

Akhirnya nama kami bertiga ditulis di kertas pendaftaran itu, Rey suara bass, aku di tenor dan citra sebagai alto. Partitur segera dibagikan dan yang menbuat ku kaget besok langsung audisi menbaca not. Saat inilah solidaritas kami teruji. Meski beda suara namun kami terus berlatih bersama saling mendukung.

“do.. re.. mi…” suara melodi yang kami keluarkan, ternyata membaca not itu menyenangkan juga Meski ada beberapa yang susah, dan kadang aku salah dalam membaca tanda not tapi kita bertiga tak menyerah. Kita berusaha sebisa mungkin.

“gais.. lelah juga yah latihan. Terapi dulu yuks.” Kataku yang mulailelah berlatih seharian. Yang langsung ditimpali rasa penasaran citra.

“ha! Apa kunteng? Terapi? Yang bener? Terapi apaan? Dimana?” aduh buset dah.. kelewatan bangat nih orang nanya biasanya juga satu-satu.

“iya. Terapi ikan. Dekat leb komputer.” Aku menjelaskan sedetail mungkin. Lucu juga sih biasanya kan yang makan ikan tuh manusia. Ini ikan yang makan manusia. Hehehe.. lain coy

“wah asik nih. Langsung cebur dah gue.” Kata citra cewek yang suka aneh itu. Dia langsung membuka sepatunya dan menaruh kakinya di kolam ikan itu. “aw.! aw! geli.. geli..” kata citra seketika sambil melompat-lompat. Aku dan rey tertawa geli meihat tingkah citra yang lucu.

“makanya.. kalo bertindak tuh jangan asal. Sotoy sih lo.” Kata Rey merayu. Wajah citra seketika berubah cemberut lucu juga.

“udah ah dari pada bertengkar ke kelas lagi yuk. Latihan lagi kan kita mau audisi ntar.” Kata u.

Yeah.. sampai di kelas lain lagi yang dibuat. Rey malah utak-atik kamera. “woi. Foto bareng yuk.” Akhirnya kita malah sibuk lagi bertiga mengekspresikan gaya-gaya yang super alay. “creg.. creg..” fotonya unik juga. Orangnya kayak do re mi lagi.

Sekarang jam 3.

OMJ waktu sepertinya begitu cepat. Kita melangkah ke ruang musik untuk audisi. Di sana telah banyak anak-anak. Waw banyak juga yang berminat. Di sana kami bertiga saling mendukung sambil hatiku tercengang. “semangat..”

Akhirnya setelah melakukan audisi dengan waktu yang panjang. Audisi selesai juga. Tinggal nunggu pengumuman. Dan besok kita dengar pengumannya. Takut juga.

“wi.. pasti gua gak lolos nih” kata rey dan citra. Aduh kenapa ni berdua jadi pesimis. Aku jadi terbawa lagi. Tapi besok baru diterima jawaban yang pasti.

Kami bertiga melangkah ke papan di ruang musik, banyak sekali anak-anak di sana. Kami mencari nama masing-masing. ‘Arga’ yes namaku ada. ‘rey putra’ yeah rey juga masuk. Dari tadi citra cemberut dan sedih. “kenapa lo?” “liat aja sendiri” katanya cuek. Di sana tidak ada nama citra. Sedih sekali rasanya. Seketika air mata citra jatuh, dengan kecewa citra berlari pulang. Aku sedih melihat sahabatku ini.

“citra tunguin kita dong” kami berlari mengejar citra dan akhirnya dapat juga. “woi jangan sedih gitu dong. Ini kan baru tahap pertama lagian kamu juga yang bilag kalo gak lolos anggap aja ini pengalaman.” “kalian gak tau apa yang aku rasakan karena kalian lolos”

Mulai saat itu citra gak peduli lagi sama kita, dia pendiam dan tidak seceria dulu, banyak perubahan padanya, dia kini tidak sesemangat dulu dalam belajar musik, bahkan selalu menutup telinga ketika mendengar kata musik, jujur kita sedih bangat.

“rey. Aku kasian deh sama citra.”

“aku juga. Dekati yuks.”

Kita mendekati citra. “citra lo kok gini sih.”

“begini apa?”

“gak kok. Perasaan kalian aja”

“gak cit. cit kita ngerti kok gimana perasaan lo..”

“memangnya perasaan gue gimana?”

“lo pasti sedihkan lo gak lolos, tapi lo gak boleh nyerah. Lo juga jangan jauhin kita dong kita kan kangan sama lo, kasian l yang selalu murung gitu, apa lo gak kangan sama kita?”

Sesaat citra terdiam. Sambil meneteskan air mata. Aku dan rey menghapus air matanya.

“lo gak boleh nangis, karena air mata lo adalah luka untuk kita, dan sebagai sahabat kita gak mau liat lo gini terus, kita sayang sama lo.”

“iya maafin gue yah, gue janji gak akan murung lagi”

“yeah.. gitu dong.”

Aku dan rey segera memeluk citra, bahagia rasnya melihat citra bahagia lagi

“Takdirlah Sutradaranya”

Andai kau menyatukan sepasang kasih, tiada luka menyayat lara, tiada puitis mengandung dusta tiada air mata terbuang percuma, tiada hidup berakhir sia. Tidakkah kau dengar rengkuhan doa memanggil cinta?

Takdir, kutulis kisahku menyentuh ibamu, berharap kau satukanku dengan kasihku.

Disepertiga malam, masa seakan berhenti. Seakan semua terkesima mendengar munajatku yang memohon akan cinta.

Kasihku berawal dari perjumpaanku dengan Rahman, kala ia menjadi guru ngajiku.

Rahman istimewa. Ia tuli dari konsonan kata tak bermakna, ia bisu dari ucapan kotor dari bibirnya, ia lumpuh dari jalan mungkar. Ia hafidz. Ia nyaris sempurna. Namun, penglihatan diambilNya, agar ia tak terlena oleh kegelimangan dunia fana.

Aku mencintainya.

Suatu hari, Rahman meminagku. Aku bahagia, hingga aku lelah sendiri agar semesta tau tentang bahagiaku.

Namun kenyataan menumbuhkan ego, kala orangtuaku menolak Rahman, bahkan mencacinya.

“Dasar orang buta! Mau kau kasih makan apa anakku. Hidupmu saja di panti asuhan. Mau kau ajak ngemis nantinya he…”

Cinta. Aku kalap. Orang tuaku murka hingga menumbuhkan penyakit ginjal dalam diriku.

“Jika kita berjodoh, Insyaallah kita akan bertemu sebagai pasangan yang hahal La.”

Ingin hati memeluknya. Menangis, bercerita akan hidupku yang rapuh digerogoti asa yang terlanjur bahagia.

“Aku mencintaimu Mas.”

“Aku pun masih mencintaimu La. Tapi, simpanlah cinta itu untuk pasangan kita kelak.”

“Mas…” aku menunduk. Pandanganku kabur. Gelap.

Nyeri menusuk igaku. Tarikan nafas seakan mencekikku. Setelah operasi ginjal tiga hari lalu, aku siuman.

Sebuah mukena dan tape recorder ada di sebelah tempat tidurku.

“Laila terkasih…

Telah kuterima ketulusanmu dengan cintaku. Jaga ginjalku Lalila. Perkenalan denganmu adalah bahagiaku, aku pergi dengan tenang, kutunggu kau di surga, bersama kebahagiaan cinta kita. Insyaallah.”

Aku terseok mengejar waktu membawa Rahman pergi. Menghampiri hujan uang serasa menjahit kulitku.

Kejam!! Takdir… Kemana kau bawa Rahman? Aku ingin kebersamaan, bukan ginjal…

Sebuah truk melaju kencang. Aku mematung di tengah jalan. Biar kuakhiri semua disini. Aku siap. Rodanya melaju semakin dekat. Aku memejamkan mata dan… trus itu menembus tubuhku.

Tubuhku terlihat samar. Terasa ringan terangkat ke udara. “Kau tak perlu melakukan itu Ukhti.” suara Rahman lembut, lalu menggandeng tanganku menuju titik terang.

Siti menangis tersedu di atas makam putrinya, Laila. Operasi yang dijalani anaknya gagal. Penyesalannya adalah anaknya meninggal dalam keadaan kecewa akan cinta yang ditentangnya. Ia hanya bisa meratap penuh penyesalan.

“Maafkan ibu nak. Semoga kau bahagia di surga bersama Rahman…” doanya.

“Bang. Setiap naik kereta, aku pasti ingat kejadian dua tahun lalu.” Istriku berucap setelah kami sempurna duduk di kursi gerbong kereta, hendak berlibur di kampung halaman.

“Kejadian apa, Neng?” tanyaku penasaran. Sebentar lagi kereta api akan berangkat.

Istriku tersenyum, “Saat itu aku dari stasiun Bandung mau ke Pare, Kediri.”

“Pasti mau beli sate.” Aku memotong.

Istri menimpukku pakai roti, “Dengerin dulu. Jangan sok tau. Aku mau les bahasa Inggris sama kedua teman kuliah di sana.”

“Terus?”

“Nah, waktu itu kami bertiga beli tiket ekonomi. Di tiket itu tertulis kalau kami bertiga duduk di gerbong 1. Akhirnya kita naik dan cari gerbong tersebut. Di dalam kereta kita terus berjalan maju, hingga menemukan ruangan bertulis ‘Gerbong 1’. Ya Allah, Bang. Ternyata ruangan itu bagus banget. Tempat duduknya kayak tempat duduk bioskop. Gak nyangka ada ruangan kelas ekonomi sebagus itu. Kami sesuaikan nomor di tiket, menaruh barang, sambil duduk selonjoran.”

“Mau minum dulu?” Aku menyodorkan air minum pada istri.

Istriku marah, “Jangan potong dulu ceritanya.”

“Eh, ya sudah. Lalu?”

Ia tersenyum, “Sepanjang menunggu kereta berangkat, kami bertiga ketawa-ketawa. Bayangkan, dengan harga ekonomi, kita dapat fasilitas kereta kelas bisnis. Ah, mungkin ini kebijakan presiden untuk

memanjakan para pengguna kereta. Kalau presiden yang sekarang mau nyalon lagi, aku pasti memilihnya. Beneran. Soalnya baik banget sama orang-orang gak berduit banyak kayak aku. Kami pun selfie bareng, terus upload foto itu ke fb dengan status ‘Rasa Bintang 5, Harga Kaki 5. Wkwkwkwk.’ Pasti iri deh yang lihat foto kita.”

Aku kagum, “Wah, enak banget ya? Bayar harga ekonomi, dapat fasilitas kelas bisnis.”

“Cerita belum selesai,” ucap istriku. “Sebab, satu menit sebelum kereta berangkat, ada tiga penumpang yang datang ke tempat duduk kami. Bilang bahwa tempat duduk yang kami duduki adalah tempat duduk mereka.”

“Terus?” kali ini terpaksa aku memotong. Penasaran dengan kelanjutan cerita.

“Tentu kami bertiga ngeyel. Bilang kalau ini tempat duduk kami. Terus salah satu dari mereka

mengeluarkan tiketnya dan menyuruh kami menunjukkan tiket masing-masing. Dan al amak, ternyata gerbong yang kami naiki adalah gerbong kelas bisnis. Kelas ekonomi ada di barisan gerbong paling

Aku menepuk dahi. Benar-benar kejadian konyol.

Pesan moral: Jangan pernah foto selfie di kereta sebelum memastikan bahwa tempat yang kau duduki adalah benar-benar tempatmu. Apalagi pakai acara pamer segala. Dan ingat! Bayar tiket kereta dengan harga kelas ekonomi, dapat fasilitas kelas bisnis itu hanya terjadi pada film Doraemon.

"Cinta dan Takdir"

Jam dinding terus berputar, gerimis semakin menjadi hujan. Sudah hampir tiga jam dan sekarang hampir mendekati waktu maghrib, Sika yang sejak pulang sekolah terus mengurung diri di dalam kamanya.

Kembali sika melirik buku catatan kecilnya seraya buku catatan itu berkata "baca aku sika!". Namun

sebaliknya sika melempar buku itu ke lantai karena kesal ia berkata "aduhhhh susah banget sihhhh masuk ke otak" keluhnya karena belajarnya tidak bisa maksimal. Karena sika merasa pusing dan lelah akhirnya ia menyelonjorkan kaki di kasurnya dan mengambil posisi berbaring. Sembari berbaring entah kenapa ia teringat dengan mantan kekasihnya "hmm andai sajaaaa... AHHH jadi tambah males, kenapa sihhh!" seru sika karena teringat mantan kekasihnya.

Sama seperti perempuan pada umumnya yang pernah merasakan jatuh c inta dan patah hati. Sika merasakan hal yang serupa ketika masih berpacaran dengan andri. Dalam hatinya sika menyesal karena telah menyianyiakan andri "Ah bodoh banget sih aku, kenapa aku dulu harus menyianyiakan andri"

Penyesalan itu terus berlajut ketika ia melihat foto andri yang disimpannya dalam laci "ih kenapa aku dulu harus membuat kesalahan". "kenapa aku kurang bersyukur udah punya pacar kayak andri". Meskipun andri bukan laki-laki yang dewasa dan lebih terkesan kekanak-kanakan namun oada kenyataanya sika tidak dapat lepas dari andri. Pada saat andri memberikan sepucuk surat kecil kepada sika tentang perasaanya yang ingin putus sika tidak tahu lagi harus mengiyakan atau menolak pada saat itu. "kenapa aku tidak bisa berpikir lebih dewasa sih?" ujar sika. Semenjak putus dengan andri sika sering melamun seorang diri, berkhayal andaikan waktu dapat diputar dan ia dapat berpikir lebih dewasa pada saat andri memberikan surat putus itu.

Meskipun sika hidup dalam keluarga yang lebih terkesan "broken home" karena memiliki seorang ayah yang ringan tangan tidak membuat sika menjadi perempuan yang pendiam dan sedih. Sejatinya sika adalah perempuan yang tegar.

Telolet Telolet! Bunyi bel istirahat di sekolahnya berdering kencang, namun sika tetap tidak beranjak dari bangkunya. Dengan tatapan kosong dan t anpa gerakan selayaknya orang tertidur, sika bengong dan melamun hingga salah seorang temannya membangunkan sika dari lamunannya.

“Sikkk!” sambil memegang tangannya yang menyangga kepala. “elu kok melamun aja sih, Kenapa?”

“Aduhhh rin, ngagetin dehh, lagi pusing nih.”

“Ohh Pantesan kok keliatan lesu, biasanya juga sholat dhuha sekarang udah jarang. hihihi.”

“Ihhh itu ada andri tuh sikk", ujar rini sambil menyenggol sika. "Paan sih! Kalo kamu suka dia ya jangan nyenggol aku!" "Yeeee, yang suka aku apa kamuuu?" balas rini dengan penuh sindiran. Sejenak g uyonan kedua sahabat itu membuat sika tersenyum kecil hingga ia iangat peristiwa pemukulan ayahnya yang dilakukan pada ibunya tadi malam. Memang ayah sika adalah orang yang ringan tangan, meskipun ibu sika

hanya sekedar mengingatkan jangan merokok dan minum miras namun yang didapat malah tamparan dan pukulan.

"Aku udah putus rin dari andri" ujar rini" sambil menahan ketawa yang sebenarnya terasa begitu pahit di hati. Bukan tanpa alasan hati sika terasa pahit karena menahan beban pikiran dan beban kehidupan yang ditanggungnya melihat ibu sika selalu dipukul.

Hari demi hari terus berlalu, Namun perasaan sika pada andri ternyata tidak dapat berubah. Sika tidak dapat membohongi perasaanya bahwa sika masih memendam rasa pada andri. Pada satu siang pada pelajaran matematika, seperti biasanya sika terlelap dalam lamunannya, membayangkan andai saja andri masih menjadi pacar sika "hmm andri andaikan kamu masih jadi pacarku, aku kangen semasa kita pacaran" ujar sika. Hingga salah satu temannya yang bernama trimo menepuk pundak sika dan berkata "sikkk kok ngalamun aja sihhh???" tanpa sengaja sika berteriak karena kaget akan tepukan trimo "ahhhhhhh" teriak sika. Guru matematika sika yang terkesan galak (karena memang kebanyakan guru matematika galak

hehehe) sontak menoleh ke arah sika yang seperti orang kebingungan. "Sika kenapa kamu? ayoo maju sini"

Dalam dokumen LAPORAN TUGAS AKHIR PPP.docx (Halaman 22-61)

Dokumen terkait