• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HUBUNGAN ANTARA STANDAR FAIR AND EQUITABLE

B. Instrumen Hukum yang Mengatur Standar Minimum Internasional 70

2. Praktik Negara

Sebagai reaksi terhadap perdebatan yang berkaitan dengan hubungan FET dengan hukum internasional, beberapa negara menerapkan pendekatan yang mencoba untuk membatasi ruang lingkup prinsip FET menjadi tingkat perlindungan yang diberikan oleh hukum kebiasaan internasional. Pendekatan tersebut dapat dilihat dalam hal pencantuman prinsip FET pada Model BITs maupun pada BITs yang disepakati dengan negara lain. Model BITs merupakan suatu contoh produk hukum yang dibuat oleh kementerian dalam suatu negara dan merupakan dasar atau acuan bagi suatu negara untuk melakukan negosiasi dengan negara lain dalam pembuatan BITs. Ketika rancangan BITs telah disetujui dan difinalisasi, maka hasilnya akan mewakili isi dan niat kedua negara dalam bidang investasi yang telah dicantumkan sebelumnya dalam Model BITs.

Secara umum dalam BITs oleh negara-negara di dunia ini, terdapat dua bentuk klausa FET dengan rujukan terhadap hukum internasional. Tipe pertama adalah dengan rujukan langsung terhadap hukum internasional, dan tipe kedua adalah dengan memberikan rujukan yang lebih sempit yaitu hukum kebiasaan internasional. Berikut ini akan dijabarkan mengenai kedua tipe tersebut dengan contohnya masing-masing.

Tabel No. 1

Contoh Klausa FET yang Merujuk Kepada Hukum Internasional

Tabel No.1. menunjukkan bahwa klausa FET dalam Croatia-Oman BIT Tahun 2004 memberikan perlindungan kepada investor didasarkan pada hukum internasional. Formulasi ini menghindari adanya kemungkinan penafsiran FET dengan pendekatan semantik dan untuk memastikan bahwa perumus BIT memang meniatkan penggunaan prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk, namun tidak terbatas pada, hukum kebiasaan internasional. Mahkamah yang dihadapkan dengan perumusan demikian harus merujuk kepada sumber-sumber hukum internasional dalam mengkaji apakah terjadi pelanggaran prinsip FET. Selain itu, prinsip hukum yang berasal dari sistem hukum suatu negara juga dapat bermanfaat dalam menganalisis ruang lingkup kewajiban FET.

Sementara itu, formulasi yang digunakan dalam Bahrain-United States BIT 1999 tidak secara tegas mengikat ke hukum internasional. Namun, hukum

Croatia - Oman BIT 2004 Bahrain - United States BIT 1999 Article 3

2. Investments or returns of investors of either Contracting Party in the territory of the other Contracting Party shall be accorded fair and equitable treatment in accordance with international law and provisions of this agreement.

Article 2(3)(a)

Each Party shall at all times accord to covered investments fair and equitable treatment and full protection and security, and shall in no case accord treatment less favourable than that required by international law.

internasional hanya digunakan sebagai dasar perlindungan bagi investor.215 Perlindungannya tidak boleh berada di bawah dasar yang telah ditetapkan tersebut. Dengan kata lain, formulasi bentuk ini memberikan kebebasan bagi mahkamah arbitrase untuk menginterpretasikan klausa FET asalkan masih dalam lingkup hukum internasional.

Interpretasi terhadap klausa FET tipe ini dapat ditemukan dalam Azurix v. 215

Argentina, ICSID Case No. ARB/01/12, Award, 4 Juli 2006, para. 361; Duke v. Ecuador, op. cit., para. 337; dan Lemire v. Ukraine, ICSID Case No. ARB/98/1, Decision on Jurisdiction and Liability, 21 Januari 2010, para. 253.

Tabel No. 2

Contoh Klausa FET yang Merujuk Kepada Standar Minimum Internasional

United States Model BIT 2012 Canada Model BIT 2004

Article 5: Minimum Standard of Treatment 1. Each Party shall accord to covered

investments treatment in accordance with customary international law, including fair and equitable treatment and full protection and security.

2. For greater certainty, paragraph 1

prescribes the customary international law minimum standard of treatment of aliens as the minimum standard of treatment to be afforded to covered investments. The concepts of “fair and equitable treatment” and “full protection and security” do not require treatment in addition to or beyond that which is required by that standard, and do not create additional substantive rights. The obligation in paragraph 1 to provide: (a) “fair and equitable treatment” includes

the obligation not to deny justice in criminal, civil, or administrative

adjudicatory proceedings in accordance with the principle of due process

embodied in the principal legal systems in the world; and

(b) “full protection and security” requires each Party to provide the level of police protection required under customary international law.

Article 5 : Minimum Standard of Treatment 1. Each Party shall accord to covered

investments treatment in accordance with the customary international law minimum standard of treatment of aliens, including fair and equitable treatment and full protection and security.

2. The concepts of ‘fair and equitable treatment’ and ‘full protection and security’ in paragraph 1 do not require treatment in addition to or beyond that which is required by the customary international law minimum standard of treatment of aliens.

3. A determination that there has been a breach of another provision of this Agreement, or of a separate international agreement, does not establish that there has been a breach of this Article.

...

Pasal 5 dalam US Model BIT 2012216 menyatakan bahwa perlindungan yang diberikan kepada investor asing adalah perlindungan sebagaimana diatur oleh hukum kebiasaan internasional, yaitu mencakup FET dan full protection and security. Hukum kebiasaan internasional yang dimaksud adalah standar minimum perlakuan terhadap orang asing berlaku sebagai standar minimum perlakuan terhadap investasi asing. Dengan kata lain, perlindungan terhadap investor dan investasi asing adalah sama dengan perlindungan sesuai standar minimum perlakuan terhadap orang asing yang berlaku berdasarkan hukum internasional, tidak lebih dari standar tersebut, dan tidak menciptakan suatu hak substantif yang baru. Selain itu, terdapat ketentuan bahwa pengaturan mengenai standar minimum perlakuan dalam US Model BIT 2012 ini harus ditafsirkan sesuai dengan Annex A yang berisi sebagai berikut:

Annex A

Customary International Law

The Parties confirm their shared understanding that “customary international law” generally and as specifically referenced in Article 5 [Minimum Standard of Treatment] and Annex B [Expropriation] results from a general and consistent practice of States that they follow from a sense of legal obligation. With regard to Article 5 [Minimum Standard of Treatment], the customary international law minimum standard of treatment of aliens refers to all customary international law principles that protect the economic rights and interests of aliens.

United States Model BIT (2012), https://ustr.gov/sites/default/files/BIT 216

Dalam Annex A tersebut dijelaskan bahwa para pihak menyepakati pengertian hukum kebiasaan internasional sebagai praktik negara secara umum yang dilaksanakan secara konsisten dengan kesadaran akan kewajiban hukum. Standar minimum yang dimaksud mengacu kepada seluruh prinsip yang terkandung dalam hukum kebiasaan internasional untuk melindungi hak dan kepentingan ekonomi orang asing. Adanya penjelasan dalam Annex A ini kembali menegaskan pandangan negara yang menjadi pihak dalam perjanjian ini bahwa standar yang berlaku adalah standar hukum kebiasaan internasional, dan bukan standar lain pada umumnya.

Canada Model BIT 2004217 juga memiliki bahasa yang serupa dengan US Model BIT 2012. Penggunaan kalimat dalam klausa FET ini menunjukkan adanya rujukan yang sangat jelas oleh negara pihak untuk membatasi prinsip FET menjadi standar minimum perlakuan dalam hukum kebiasaan internasional, dan tidak untuk memberikan perlindungan yang melebihi daripada apa yang telah disepakati oleh hukum kebiasaan internasional. Meskipun demikian, pengamat berpendapat bahwa bahasa dalam Canada Model BIT 2004 ini juga tidak memberikan klarifikasi terhadap arti dan isi dari standar minimum yang dimaksud. Hal ini menyebabkan sampai saat ini, konsep FET yang dianut oleh Kanada tetap bersifat subjektif.218

Canada Model BIT (2004), http://www.italaw.com/documents/Canadian2004- 217

FIPA-model-en.pdf ; BIT yang dibuat oleh Kanada dengan negara lain biasa disebut dengan Foreign Investment Promotion and Protection (FIPA).

Peterson, Luke Eric, Evaluating Canada’s 2004 Model Foreign Investment 218

Protection Agreement in Light of Civil Society Concerns, The Canadian Council for International Cooperation, (2006), hlm. 8.

Tabel No. 3

Perbandingan Klausa FET dalam UK Model BIT, China Model BIT dan India Model BIT

United Kingdom Model BIT 2008

China Model BIT 1997 India Model BIT 2015

Article 2

Promotion and Protection of Investment

(2) Investments of nationals or companies of each

Contracting Party shall at all times be accorded fair and equitable treatment and shall enjoy full protection and security in the territory of the other Contracting Party. Neither Contracting Party shall in any way impair by unreasonable or

discriminatory measures the management, maintenance, use, enjoyment or disposal of investments in its territory of nationals or companies of the other Contracting Party. Each Contracting Party shall observe any obligation it may have entered into with regard to investments of nationals or companies of the other Contracting Party.

Article 3

Treatment of Investment 1. Investments of investors of each Contracting Party shall all the time be accorded fair and equitable treatment in the territory of the other Contracting Party.

Article 3 Standard of Treatment 3.1. Each Party shall not subject Investments of Invetstors of the other Party to measures which

constitute:

(i) Denial of justice under customary international law;

(ii) Un-remedied and egregious violations of due process; or

(iii) Manifestly abusive treatment involving continuous, unjustified and outrageous coercion or harassment.

Sebelum dikeluarkannya UK Model BIT219 tahun 2008, hampir seluruh BITs yang ditandatangani oleh Inggris meliputi perlindungan berdasarkan standar minimum internasional. Perlu diketahui bahwa ketentuan ini hanya berlaku untuk investasi yang dilakukan setelah penandatanganan BIT dan tidak menimbulkan pre-establishment rights.220 Dalam UK Model BIT tidak dicantumkan istilah hukum kebiasaan internasional secara tegas maka apabila dilihat dari putusan mahkamah arbitrase mengenai sengketa yang melibatkan Inggris, penafsiran terhadap klausa FET dilakukan berdasarkan ketentuan Konvensi Wina, yaitu penafsiran berdasarkan ‘ordinary meaning’ dari klausa tersebut. Meskipun demikian, tidak terbatas pada pandangan bahwa standar FET akan berkembang seiring berjalannya waktu.

Sama seperti UK Model BIT, klausa FET pada China Model BIT221 juga tidak jelas mengatur apakah standar FET yang berlaku adalah termasuk standar minimum internasional ataukah standar yang berdiri secara otonom. Namun, hal yang menarik terdapat pada India Model BIT222 yang dirampungkan baru-baru ini. India Model BIT tidak mencantumkan istilah FET sebagaimana yang dianut dalam BIT negara-negara lain pada umumnya. Melainkan langsung merumuskan

United Kingdom Model BIT (2008), http://investmentpolicyhub.unctad.org/ 219

Download/TreatyFile/2847

Pre-establishment merupakan fase sebelum dibentuknya atau ditetapkannya 220

suatu investasi, artinya klausa FET tidak memberikan hak-hak tertentu kepada investor saat investasi mulai terealisasikan secara efektif dan saat proses dibentuknya investasi.

China Model BIT (1997), http://mfile.narotama.ac.id/files/Law/The 221

% 2 0 I n t e r n a t i o n a l % 2 0 L a w % 2 0 o f % 2 0 I n v e s t m e n t % 2 0 C l a i m s / A p p e n d i x %205%20%20China%20Model%20BIT%20(1997).pdf

India Model BIT (2015), http://www.jurisafrica.org/html/pdf_indian-bilateral- 222

bentuk-bentuk perlindungan yang diberikan, yaitu perlindungan terhadap denial of justice, due process of law, dan abusive treatment.

C. Hubungan Prinsip FET dengan Standar Minimum Berdasarkan Hukum

Dokumen terkait