PRAKTIK PENDIDIKAN LIBERAL DI PONDOK PESANTREN
B. Pendidikan Liberal di Pesantren Salaf API Tegalrejo Magelang
2. Praktik Pendidikan Liberal di Pesantren Salaf API Tegalrejo
Adapun pesantren salaf API Tegalrejo Magelang tidak memunculkan karakter maupun tujuan pendidikan liberal, karena seluruh kegiatan, kurikulum, visi dan misi pesantren berorientasi ke agama Islam. Hal ini sesuai dengan tujuan pendirian pesantren tersebut yaitu pertama, untuk menyiapkan generasi muslim yang bertaqwa, memiliki ketrampilan, kemandirian dan akhlaqul karimah agar dapat menghayati tugas dan peranannya menurut agama Islam Ala Thoriqoti Ahlussunah Wal Jamaah, serta menegakkan agama Allah dan mengajarkan kepada orang lain atau paling tidak dapat mengamalkan ajaran Islam. Kedua, mencetak kader-kader ulama yang mempunyai kedalaman agama serta gigih dan ulet berjuang menegakkan agama Allah tanpa mengharapkan imbalan jasa yang bersifat duniawi. Muassis atau pendiri pesantren mengharapkan agar para santrinya kelak menjadi guru ngaji atau kyai di kampung masing-masing, bahkan dalam surat wasiatnya tertulis agar tidak menjadi pegawai negeri/PNS.
99
Program pendidikan yang diselenggarakan di pesantren salaf API Tegalrejo sejak dahulu menggunakan sistem klasikal. Kurikulum yang dipakai dari kelas 1 sampai kelas terakhir secara berjenjang mempelajari khusus ilmu agama yaitu itu fikih, aqidah, akhlaq, tasawuf dan ilmu alat (nahwu dan sharaf) yang semuanya dengan kitab berbahasa Arab. Kelas 1 s/d 8 di pesantren salaf API Tegalrejo, oleh masyarakat lebih dikenal dengan nama kitab yang dipelajari. Seperti tingkat I dikenal Jurumiyah Jawan, Tingkat II dengan nama Jurumiyah, tingkat III dengan nama Fathul Qorib, tingkat IV dengan Alfiyah, tingkat V dengan Fathul Wahab, tingkat VI dengan al-Mahalli, tingkat VII dengan Shohih Bukhori dan tingkat VIII dengan Ihya „Ulumuddin.124
Namun seiring dengan globalisasi, di mana seseorang tidak bisa menghindar dari tuntutan zaman, maka para pengasuh berinisiatif mendirikan sekolah kejuruan dan lembaga pelatihan kewirausahaan di luar kampus pesantren salaf API Tegaltejo untuk menampung dan mendidik para santri dan alumni pesantren agar mandiri secara ekonomi. Kedua lembaga yang dimaksud adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Syubbanul Wathon Tegalrejo Magelang dan Pesantren Entrepreneur (PARTNER) yang bertempat di Meteseh Tempuran Magelang.
124
Nur Faijah, Pengaruh Qiyam al-lail Terhadap Kecerdasan Spiritual Santri Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Magelang, Skripsi Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga, 2009, 77-79.
100
a. Sekolah Menengah Kejuruan Syubbanul Wathon Tegalrejo
Kebutuhan masyarakat saat ini adalah hadirnya lembaga formal unggulan yang mencetak teknokrat yang handal dan dapat membekali anak didik dengan nilai-nilai keislaman. Generasi muda saat ini membutuhkan beragam ilmu untuk dapat membawa kemajuan bangsa dan agama yaitu ilmu umum, ilmu agama dan juga ketrampilan. Karena hal tersebut Pesantren Salaf API Tegalrejo melihat pentingnya kehadiran sebuah lembaga formal yang unggul dalam pengetahuan umum dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kelimuan pesantren. SMK Syubbanul Wathon hadir sebagai sebuah lembaga pendidikan alternatif yang diharapkan dapat mencetak kader bangsa yang intelektual, mempunyai skill yang mapan dan menjunjung tinggi akhlaqul karimah. Semua diramu dengan pemikiran matang yang sesuai kebutuhan dan kemampuan siswa.
Pada tahun 2007 melalui kerja keras para pengasuh Pesantren Salaf API Tegalrejo dan Pengurus Yayasan Syubbanul Wathon Tegalrejo dengan dukungan penuh masyarakat, lahirlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Syubbanul Wathon Tegalrejo yang resmi mulai membuka pendaftaran pada Juli 2007. Tujuan didirikan sekolah ini adalah agar santri mampu menguasai teknologi informasi sebagai bagian dari perkembangan global. Karena keilmuan pesantren dan pengetahuan umum mutlak diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Pemetaan dan pemisahan antara keilmuan pesantren dan pengetahuan umum
101
dalam kehidupan saat ini hanya akan menjadikan kebuntuan pengembangan keilmuan Islam.
“One Stop Education” adalah slogan SMK Syubbanul Watan di mana para
santri akan mendapatkan pengetahuan umum, skill sebagai modal berkarya, dan keilmuan pesantren yang menjadi dasar dalam memahami nilai-nilai Islam.
Dengan visi “Unggul dalam mutu dan memiliki keteguhan iman serta akhlaqul
karimah” serta misi “Mampu menguasai teknologi informasi sebagai bagian dari perkembangan global” dan “Mempertahankan nilai-nilai luhur pesantren dalam rangka meneguhkan iman dan akhlakul karimah serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara” SMK Syubbanul Wathan membuka program unggulan; Teknik Komputer Jaringan, Multimedia dan Tata Busana.125
SMK Syubbanul Wathon (SW) pesantren Tegalrejo menjadi sekolah rujukan seluruh Indonesia karena perkembangan siswa dan prestasi di bidang akademiknya. Keunggulan sekolah kejuruan ini terletak pada model dan tradisi pesantren yang menghidupinya. Dari sekitar 12.000 SMK seluruh Indonesia, SMK Syubbanul Wathon termasuk di antara 180 SMK yang berstatus rujukan sebagaimana ditegaskan oleh Direktur Pembinaan SMK SW M Mustaghfirin pada
125
102
peluncuran bel sekolah otomatis di SMK Syubbanul Wathon126 hasil kreatifitas
para siswa SMK Syubbanul Wathon Tegalrejo Magelang.
SMK dengan model pesantren sudah banyak berdiri, tapi SMK Syubbanul Wathon memiliki karakter unik. Para pengasuh dan pengelolanya mampu mengadopsi antara kurikulum pesantren dan kurikulum SMK. Dalam mendidik anak, tidak ada pemisahan antara moral spiritual dan pendidikan keahlian. Berbagai keahlian yang dipelajari dari sekolah yang dilandasi dengan keilmuan Islam dalam pesantren akan menjadi campuran kurikulum yang pas dan cocok untuk saat ini.
Saat ini siswa di SMK Syubbanul Wathon sudah mencapai 1000 orang dan sudah stabil selama bertahun-tahun. SMK Syubbanul Wathon terus meningkatkan mutu pendidikannya dan mencetak generasi berakhlaqul karimah dan memilki keahlian untuk masa depan mereka seiring dengan tingkat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat terhadap SMK pesantren tersebut. Pengasuh SMK berbasis pesantren Syubbanul Wathon Tegalrejo K.H. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengatakan, perjuangan mendirikan SMK Syubbanul Wathon adalah warisan dari almarhum K.H. Abdurrahman Chudlori. Bahkan Gus Yusuf berharap SMK Syubbanul Wathon ke depan tidak menolak calon siswa lagi.
1) Uji Kompetensi Keahlian (UKK)
126
http://www.smksw.sch.id/berita-terbaru/launching-bel-otomatis-sekolah-bos-smk-syubbanul-wathon.html, diakses 20 Agustus 2015
103
Uji Kompetensi Keahlian pada SMK merupakan bagian Ujian Nasional yang menjadi indikator ketercapaian standar kompetensi lulusan, sedangkan bagi stakeholder akan dijadikan sebagai informasi atas kompetensi yang dimiliki para calon tenaga kerja. Selain itu, uji kompetensi merupakan evaluasi hasil belajar siswa dan guru dalam melaksanakan pembelajaran di sebuah sekolah. Uji Kompetensi Keahlian dilaksanakan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional. Ujian Nasional bagi peserta didik SMK diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud RI) Nomor 59 Tahun 2011 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional.
Di SMK Syubbanul Wathon, Uji Kompetensi Keahlian Multimedia dilaksanakan mulai tanggal 10-15 februari 2015. Asesor atau tim pengujinya adalah dua orang penguji dari SMK N 1 Magelang, hal ini dikarenakan program studi Multimedia masih menginduk di sekolah tersebut. Dalam pelaksanaannya, ujian kompetensi kali ini diikuti oleh sebanyak anak yang ada dalam satu kelas. Melalui ujian kompetensi ini, siswa diharapkan mampu untuk membuat sebuah iklan layanan masyarakat yang layak untuk dipublikasikan. Dengan adanya uji kompetensi yang diadakan setiap tahun, diharapkan mampu memberikan keyakinan kepada setiap siswa untuk bisa terjun di dunia kerja setelah lulus. 2) Bel Otomatis Sekolahku (BOSku)
104
Perkembangan dunia pada era globalisasi menuntut manusia untuk terus bisa berpikir maju. Persaingan dunia industri yang semakin meluas membuat manusia harus berpikir panjang untuk tetap bisa bertahan di pasar dunia. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah perkembangan dunia pendidikan. Dewasa ini, dunia pendidikan dituntut untuk bisa menghasilkan output yang baik demi pembangunan negara yang maksimal. Sedangkan faktor penting dalam dunia pendidikan salah satunya adalah faktor kedisiplinan. Kedisiplinan sangat penting dalam membentuk karakter anak bangsa, maka sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan bagi masyarakat harus menerapkan budaya kedisiplinan bagi guru, karyawan, serta para siswanya.
Berangkat dari hal inilah SMK Syubbanul Wathon bekerja sama dengan Teknologi Negeri Indonesia memproduksi Bel Otomatis Sekolahku (Bosku) dan Bel Otomatis Madrasah (Bismad).127 Atas dukungan dari Kepala Disdikpora
Kabupaten Magelang, Drs. Eko Triyono, SMK Syubbanul Wathon terus berusaha untuk memberikan yang terbaik, salah satunya dengan adanya bel otomatis sekolah. Alat tersebut bekerja secara otomatis dengan system komputerisasi yang dapat membantu memberikan peringatan pergantian jam pelajaran. Bosku dilengkapi dengan 396 jadwal pelajaran dengan 8 tipe jadwal yang dapat dihapus dan disetting ulang. Dengan memori yang bersifat volatile, di mana jadwal
127
http://www.smksw.sch.id/berita-terbaru/launching-bel-otomatis-sekolah-bos-smk-syubbanul-wathon.html, diakses 20 Agustus 2015
105
pelajaran yang sudah disetting tidak akan hilang meski alat ini dimatikan. Selain itu, perangkat bosku menggunakan menu berbahasa Indonesia, sehingga tidak memerlukan instalasi khusus dan mudah digunakan.
Pada tanggal 14 Februari 2015, bertepatan dengan pembinaan tenaga pendidik untuk sekolah berbasis pesantren, diadakanlah launching Bel Otomatis Sekolah produksi SMK Syubbanul Wathon yang diresmikan langsung oleh Direktur Utama SMK Kementrian Pendidikan Indonesia K.H. Mustaghfirin Amin, M.BA.
3) Pembinaan Tenaga Pendidik SMK Syubbanul Wathon
Merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi Yayasan Syubbanul Wathon, dalam usianya yang relatif muda SMK Syubbanul Wathon Tegalrejo Magelang mendapat kunjungan dari Dirut SMK Kementerian Pendidikan Indonesia, K.H. Mustaghfirin Amin, M.BA yang bertujuan untuk melakukan pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Berbasis Pesantren (SBP). Kunci kemajuan SMK menurut Mustaghfirin terletak pada siswanya. Jika dari tahun ke tahun semakin banyak siswa yang mendaftar, maka hal ini menunjukkan bahwa SMK Syubbanul Wathon telah memberikan gaung yang positif kepada masyarakat.
Selain didukung dari sisi siswanya, maka ada satu hal penting yang harus diperhatikan, yakni kualitas guru pembimbing yang harus ditingkatkan. Jika pada umumnya, sekolah dikatakan bermutu apabila telah melengkapi tiga syarat utama, yaitu proses pembelajaran, kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran, serta kecukupan guru, maka untuk sekolah berbasis pesantren tidak akan bisa berjalan
106
hanya dengan tiga syarat tersebut. Ada satu hal penting yang justru harus diperhatikan, yaitu akulturasi pesantren, di mana tidak bisa dibedakan lagi mana pelajaran umum dan mana pelajaran pesantren.
Adapun cara-cara untuk bisa menjalankan akulturasi pesantren, yang pertama adalah blanded atau pencampuran dalam hal penjadwalan agama dan umum. Maka SMK diharapkan agar mampu menciptakan metode pembelajaran yang siswanya tidak bisa lagi membedakan antara pelajaran pesantren dan pelajaran umum. Hal ini dikarenakan kedua pelajaran tersebut telah menyatu. Sebagai contoh, jika pada sekolah umum merakit komputer hanya akan menghasilkan sebuah PC yang siap pakai, maka pada metode pembelajaran SMK berbasis pesantren, siswa tidak hanya berpikir seperti itu saja. Siswa akan merasa bahwa dalam prosesnya, merakit komputer akan berbuah pahala, karena jika telah menjadi sebuah PC yang utuh akan bisa bermanfaat untuk orang lain.
Yang kedua, penghayatan guru pembimbing sebagai santri. Tidak dipungkiri bahwa para pembimbing yang ada di SMK Syubbanul Wathon pasti memiliki background yang berbeda-beda. Ada yang lulusan pondok pesantren murni, ada pula yang baru mengenal pondok pesantren setelah berada di SMK Syubbanul Wathon. Idealnya, guru-guru yang ada di SMK Syubbanul Wathon mampu menghayati dirinya sebagai santri juga. Karena pada akhirnya, gerakan hidupnya akan bernafaskan santri. Sehingga akan bisa menjadi uswatun khasanah bagi para peserta didik.
107
Yang ketiga, regenerasi. Berbekal dari poin kedua di atas, untuk bisa menjalankan proses pembelajaran yang baik, maka dari sisi pembimbingnya dapat mengambil dari alumni-alumni SMK sendiri. Hal ini dilakukan dengan alasan jika mengambil tenaga pendidik dari luar dengan kultur yang berbeda, kenapa tidak mengambil dari alumni sendiri yang sudah mengetahui jalannya kehidupan yang ada di pesantren. Pada tahun ini, SMK Syubbanul Wathon telah melaksanakan program tersebut. Sebanyak 32 alumni disekolahkan lagi untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, agar kelak mampu untuk menjadi tenaga pendidik yang sekaligus menjadi uswatun khasanah sesuai yang dijabarkan oleh Dirut SMK tersebut.
Yang keempat, teaching factory. Adanya pabrik yang dimiliki sebuah SMK diharapkan mampu untuk mengembangkan keterampilan sebagai kecakapan hidup, professional dan produktif. Ada sebuah harapan besar dari SMK berbasis pesantren yaitu diharapkan agar pesantren mampu untuk menjabarkan ajaran Rasulullah SAW, yaitu rahmatan lil „alamin.
Dari sini tampak bahwa SMK Syubbanul Wathan adalah program sekolah unggulan dengan gagasan “link and match” dalam aspek pendidikan yaitu pendidikan harus memiliki kaitan dan relevansi dengan dunia industri dan teknologi informasi seperti saat ini. Para siswa SMK Syubbanul Wathan wajib tinggal di asrama dengan sistem Islamic boarding school (pesantren) sehingga mereka berusaha mengembangan potensi untuk memiliki kekuatan spiritual
108
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan ketrampilan yang bersifat bebas, berpandangan dan berwawasan luas dan terbuka. Di lembaga formal ini tampak beberapa karakter pendidikan liberal yang muncul, antara lain; berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan sosial, ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan, membentuk sekolah unggulan serta gagasan “link and match” dalam aspek pendidikan yaitu pendidikan harus memiliki kaitan dan relevansi dengan dunia industri. Juga reformasi pendidikan dengan membangun kelas dan fasilitas baru, memoderenkan sarana dan prasarana sekolah dan menyehatkan rasio murid-guru. Meningkatkan metodologi pengajaran dan pelatihan serta mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan ketrampilan yang bersifat bebas, berwawasan luas dan terbuka.
b. Pesantren Entrepreneur (PARTNER)
K.H. M Yusuf Chudlori adalah salah satu pengasuh pondok pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang. Ia mewarisi karakter dua orang kakaknya; negarawan seperti almarhum K.H. Abdurrohman dan budayawan seperti almarhum K.H. Ahmad Muhammad. Jiwa entrepreneurship dari muassis pesantren K.H. Chudlori juga mengalir ke dalam jiwa K.H.Yusuf Chudlori. Menurut Gus Yusuf, wirausaha (entrepreneur) adalah sesuatu yang tersembunyi dan jarang dieksplorasi oleh ulama-ulama bersarung di pelosok-pelosok.
109
Sebuah pemahaman yang keliru, jika wirausaha –yang sekarang diistilahkan dengan entrepreneur– jauh dari dunia pesantren. Pesantren dianggap sebagai tempat yang steril dari dunia. Anggapan ini bukan hanya muncul di benak awam, namun juga justru muncul dari dalam pesantren sendiri. Padahal sejarah telah membuktikan bahwa berdirinya jam‟iyah pesantren (NU) berawal dari kesadaran para saudagar muslim di wilayah Jombang Jawa Timur. Para saudagar muslim waktu itu melihat bahwa keterpurukan umat akibat para ilmuwan agama menjauhkan diri dari urusan dunia, padahal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya belum tercukupi. Sedangkan masyarakat awam, menjadi tidak tertarik belajar ilmu agama karena belajar agama identik dengan hidup zuhud yang disalahartikan sebagai hidup miskin.
Kondisi ini sangat menguntungkan bagi pemerintah Belanda waktu itu. Para saudagar resah, karena pada akhirnya jika dibiarkan, orang-orang yang tidak mengerti ilmu agama itulah yang akan menguasai perdagangan. Maka pada saat itulah para saudagar membentuk wadah yang bernama Nahdlatut Tujjar, kebangkitan para saudagar. Nahdlatut Tujjar bergerak simultan dengan kekuatan ekonominya mendorong organisasi Taswirul Afkar yang membidangi ilmu dan budaya, serta Nahdlatul Wathon di bidang pendidikan. Organisasi-organisasi inilah yang kemudian menjadi besar bersama Nahdlatul Ulama.
Secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa berdirinya Nahdlatul Ulama / kebangkitan para ulama diawali oleh kebangkitan para saudagar. Yang menjadi
110
pokok persoalan, ketika kebangkitan para ulama sudah menjadi organisasi terbesar di dunia, ke mana para saudagar? Berawal dari pemikiran untuk memberdayakan kaum sarungan (santri) untuk mandiri secara financial, Gus Yusuf merintis beberapa unit usaha. Antara lain, BMT, Stasiun Radio Fast FM, Toko ritel, rumah makan bahkan sebelumnya sempat memiliki sebuah agen advertising. Dia melakukan itu hanya ingin memberi contoh kepada santri-santri Tegalrejo bahwa, santri bisa mempunyai cita-cita menjadi apa saja.128
Semangat ini sebenarnya telah dirintis oleh pendiri Pesantren API Tegalrejo, K.H. Chudlori bin Ichsan. Selain mendidik santri-santri kepercayaannya untuk mengelola tanah dan kebunnya, dia juga pernah memiliki peternakan sapi perah di pesantren. Dari sapi-sapi tersebut, santri dapat mengkonsumsi susu hangat setiap paginya. Pada masa itu (tahun 60-an) santri minum susu setiap pagi adalah hal yang luar biasa.
Beberapa pokok pemikiran K.H. Chudlori sepertinya memang sengaja dituliskan di dinding-dinding pesantren, semacam prasasti. Di antaranya adalah terdapat pada dinding gedung pondok putri di mana tertera tulisan dalam huruf
arab dan latin, prasasti ini bertuliskan: “Assholahul ma‟iisyah min Sholahudin, wa sholahuddin min sholahul ma‟iisyah”. Yang artinya oleh K.H. Chudlori disertakan di bawahnya dengan bahasa Indonesia, “Kebaikan ekonomi ada dalam kebaikan agama dan kebaikan agama ada dalam kebaikan ekonomi”. Bahkan di barisan
128
111
paling bawah tulisan itu tertera GEDUNG PERSATUAN PENYALUR EKONOMI. Tulisan yang telah berusia setengah abad itu begitu menggambarkan kekuatan visi ekonomi K.H. Chudlori yang sepertinya tidak lazim di zamannya, namun dirasakan kefaktualannya di masa kini.
Pada bulan Agustus 2010, pengasuh Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo K.H. Yusuf Chudlori mendirikan PARTNER, Pesantren Entrepreneur yang didukung rektor Universitas Tidar Magelang Prof. DR. Cahyo Yusuf dan para praktisi pengusaha seperti Mbah Mo Murlidi, pak Sukam Purwadi, Kirmawan Wijaya, Wiwik Rusfendi, Among Kurnia Ebo, Wiwied Usman dan Catur Denny Firmanto.129 Pesantren Entrepreneur adalah sebagai pemberdaya
santri untuk kebangkitan ekonomi umat. Berangkat dari ajaran agama
sholahul-ma‟isyah min sholahi al-din wa sholahu al-din min sholah al-ma‟isyah, (Kebaikan
ekonomi ada dalam kebaikan agama dan Kebaikan agama ada dalam kebaikan ekonomi) pesantren salaf API berkomitmen untuk menciptakan pengusaha baru yang berasal dari kalangan santri melalui Pesantren Enterpreneur. Pesantren Entrepreneur menjadi media untuk memperkenalkan entrepreneur kepada pesantren dan memperkenalkan pesantren kepada pelaku entrepreneur.
Partner diperuntukkan bagi santri akhir atau yang sudah lulus dan terbuka untuk santri dari pondok mana pun. Sistem pendidikan di Partner adalah dengan pelatihan wirausaha dan magang di tempat-tempat usaha. Berbagai macam
129
112
pelatihan seperti KPK (Komisi Pelatihan Kuliner) dan FPI (Front Pelatihan Internet) diberikan kepada para peserta Pesantren Entrepreur yang bertempat di Meteseh Tempuran Magelang. Materi training KPK di antaranya adalah Teknik Memasak, Manajemen Harga dan Manajemen Resto. Sedangkan FPI memberikan pelatihan internet marketing untuk mensweeping omset penjualan melalui internet. Dalam pelatihan tersebut akan diajarkan trik-trik bagaimana menjual barang secara cepat dan laris di internet melalui berbagai media seperti facebook, Twitter, Website, dan media internet gratisan yang lain.130
Lembaga PARTNER ini merupakan representasi salah satu karakter pendidikan liberal sebagaimana ditegaskan Mansour Faqih yaitu munculnya berbagai model pendidikan dan pelatihan dalam berbagai bentuk dan pendekatannya, di antaranya dengan model pelatihan wirausaha seperti AMT (Achievement Motivation Training) dan sejenisnya termasuk PARTNER. Juga dengan munculnya berbagai bentuk pelatihan manajemen dan kewiraswastaan untuk menumbuhkan kelas pengusaha baru. Senada dengan Mansour, Henry Giroux dan Aronowitz berpendapat bahwa pendekatan andragogi seperti, training manajemen, kewiraswastaan, AMT, dan berbagai pelatihan community development adalah salah satu bentuk praktik pendidikan liberal. Hal ini diperkuat dengan pandangan Steven M. Cahn131 bahwa salah satu bentuk pendidikan liberal
130
http://partnerindonesia.com/?p=102, diakses Selasa, 23 Juni 2015.
131
Cahn berpendapat bahwa sebelum mendapat pendidikan kejuruan, seseorang harus mempelajari berbagai ilmu pengetahuan sebagaimana tercakup dalam kurikulum liberal arts.
113
adalah pendidikan kejuruan yang berorientasi sosial dan perspektif intelektual agar berhasil dalam suatu bidang pekerjaan sebagaimana yang dipraktekkan di pesantren enterpreneur.
1) KPK ( Komisi Pelatihan Kuliner)
Sejak krisis moneter tahun 1998, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) justru tumbuh dan muncul begitu pesat. Bisnis UKM saat ini mewakili lebih dari 90 persen bisnis di Indonesia dan memberikan kontribusi sebesar 57 % pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sumbangan bisnis kuliner dalam pertumbuhan UKM sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dari tumbuhnya bisnis-bisnis kuliner yang sangat pesat.
Kuliner adalah bisnis yang berbasis pada kebutuhan dasar manusia. Sehingga walaupun diterpa krisis, bisnis ini memiliki daya tahan yang tinggi. Namun demikian, para pelaku bisnis kuliner harus menerapkan strategi yang tepat untuk bertahan. Karena jika tidak, walaupun kuliner adalah bisnis yang relatif dibutuhkan namun tidak sedikit yang gulung tikar. Di sisi lain, kuliner juga berbanding lurus dengan kemampuan memasak dan mengolah masakan tersebut. Karena kualitas produk selalu disandingkan dengan rasa dan harga. Banyak orang yang sangat pandai memasak namun tidak tahu bagaimana memulai untuk bisnis kuliner. Kalaupun kemudian terjun di dunia bisnis kuliner, tidak semua bisa bertahan. Hal ini disebabkan kuliner membutuhkan teknik dan strategi dalam mengelolanya.
114
Rasa yang enak belum tentu disukai oleh pelanggan jika harganya mahal. Sedangkan makanan murah, tidak selalu mendatangkan pelanggan jika rasa dan