• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pendidikan Pondok Modern Gontor dalam Perspektif Multikultural Multikultural

PRAKTIK PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI PONDOK PESANTREN

A. Pendidikan Multikultural di Pondok Modern Gontor

3. Sistem Pendidikan Pondok Modern Gontor dalam Perspektif Multikultural Multikultural

Sistem pendidikan di Pondok Modern Gontor berbeda dengan madrasah dan pesantren pada umumnya. Tidak ada lembaga madrasah (MTs maupun MA) namun juga tidak ada ujian paket atau pun persamaan. Pendidikan formalnya bernama KMI (Kulliyatul Mu‟allimin al-Islamiyyah) dengan masa belajar enam tahun untuk program reguler dan empat tahun untuk program intensif. Siswa kelas reguler dan intensif akan bertemu dan bercampur kelak kemudian di kelas V-VI.

Adapun kegiatan ekstrakurikuler di Pondok Modern Gontor dikoordinir oleh organisasi siswa intra sekolah yang bernama OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern) dan KGP (Koordinator Gerakan Pramuka) yang khusus menangani kegiatan pramuka. Di Pondok Modern Gontor juga terdapat lembaga bimbingan kesiswaan yang bernama Pengasuhan Santri. Sedangkan OPPM dan KGP secara struktural berada di bawah lembaga Pengasuhan Santri.

a. Pembelajaran di Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah

Kegiatan belajar mengajar KMI dimulai jam 07.00-12.15. Siswa kelas reguler dan kelas intensif, besar-kecil, tua-muda, Jawa-non Jawa, WNI-WNA semua diperlakukan sama di dalam proses pembelajaran tanpa diskriminasi. Siswa yang duduk di kelas satu reguler bisa berumur 12 tahun (minimal berijazah SD) hingga tak terbatas. Artinya seseorang yang berusia 25 tahun pun boleh dan mau belajar di KMI kelas satu reguler. Adapun kelas intensif diperuntukkan bagi siswa

133

minimal berijazah SMP atau MTs dan maksimal tak terbatas dengan jenjang belajar kelas I intensif, kelas III intensif, kelas V dan kelas VI.

Di kelas reguler program 6 tahun misalnya, akan didapati seorang peserta didik berumur 12 tahun hingga 25 tahun berbaur jadi satu. Beberapa siswa yang sudah sarjana pun ikut belajar di kelas satu baik reguler maupun intensif. Begitu juga dengan status keluarga peserta didik dan suku masing-masing. Anak seorang gubernur duduk berdampingan dengan anak petani, anak suku Jawa Solo/ Yogyakarta duduk berdampingan dengan anak suku Batak atau Madura. Di dalam kelas, para peserta didik wajib meninggalkan status sosial, umur dan asal suku mereka masing-masing.142

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan M. Ainul Yaqin, bahwa pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan kultural yang ada pada diri siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, sosial, ras, kemampuan dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah. Tujuannnya untuk melatih dan membangun karakter siswa agar bersikap demokratis, humanis dan pluralis dalam lingkungan mereka.143

Nilai-nilai multikulturalisme yang ditemukan dalam kegiatan belajar dan mengajar di KMI antara lain mencakup kehidupan bersama (living together),

142

Hasil wawancara dengan Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. direktur KMI periode tahun 2004-2014.

143

134

kesederajatan (equality atau egalitarianism) dan menghilangkan perbedaan status sosial. Anti diskriminasi etnik, menghargai perbedaan kemampuan, menghargai perbedaan umur dan perbedaan etnis. Menghargai pluralitas, heterogenitas dan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis dan suku.

b. Kegiatan OPPM dan KGP

Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) adalah wadah pembinaan dan penampung kreativitas santri dalam latihan berorganisasi. OPPM berfungsi sebagai sarana pendidikan agar santri siap memimpin dan mau dipimpin serta mencetak kader pemimpin umat yang kompeten dalam mengatur organisasi. Organisasi ini menggerakkan aktivitas santri di luar kelas, baik ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler; di asrama maupun di luar asrama.

Layaknya organisasi pemerintah, organisasi OPPM memiliki 21 departemen / bagian yang mengurusi semua bidang kehidupan di pondok dengan 383 pengurus yang mencakup seluruh daerah asal santri.144 Setiap konsulat/asal daerah santri

mempunyai wakil untuk menjadi pengurus OPPM. Selain itu, OPPM juga membawahi beberapa organisasi, antara lain: organisasi asrama (19 asrama), organisasi konsulat/daerah (36 konsulat), serta sejumlah kursus kesenian, keolahragaan, kebahasaan, ketrampilan dan lain-lain.

Di antara peraturan yang dibuat OPPM adalah tidak diperbolehkannya

tajammu‟” (berkumpul) sesama suku melebihi dua orang. Jika terdapat tajammu‟

144

Tim Penyusun, Buku Panduan Musyawarah Kerja OPPM Darussalam Gontor, Ponorogo: Sekretariat OPPM, 2014, 198-211.

135

yang terdiri dari tiga siswa dari satu suku, maka siswa tersebut dianggap telah melanggar disiplin pondok. Dengan peraturan ini diharapkan para santri saling berbaur, saling kenal dan saling menghargai suku lain.145 Dari OPPM (Organisasi

Pelajar Pondok Modern) ini, muncul nilai multikulturalisme yang mencakup kehidupan bersama (living together), kesederajatan (equality atau egalitarianism), anti diskriminasi etnik, menghargai perbedaan kemampuan, menghargai perbedaan umur, hidup dalam perbedaaan dan saling menghargai.

Adapun Koordinator Gerakan Pramuka (KGP) adalah wujud riil sarana pendidikan karakter santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat ini kegiatan kepramukaan di Pondok Modern Gontor ditangani oleh Koordinator Gugus Depan 15089 Pondok Modern Gontor di bawah bimbingan dan pengawasan Majelis Pembimbing Koordinator Harian (Mabikori) dengan agenda kegiatan rutin mingguan, bulanan dan tahunan.

Kegiatan rutin KGP adalah mengadakan latihan pramuka setiap hari Kamis sore. Di antara agenda latihan adalah para anggota pramuka diperkenalkan dan diajarkan berbagai lagu atau nyanyian daerah dari suku Sabang (Aceh) hingga Papua. Tidak hanya lagu daerah, berbagai jenis tari dan permainan daerah nusantara juga diperkenalkan dan diperagakan pada setiap latihan pramuka. 146

Dimensi multikultural yang dapat ditemukan di KGP (Koordinator Gerakan Pramuka) dari kegiatan kepramukaan yang dilaksanakan pada setiap hari Kamis

145

Tim Redaksi, Diktat Khutbatul Iftitah..., 48-49.

146

136

sore ini antara lain membiasakan living together, menghargai perbedaan etnis dan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis dan suku.

c. Pengasuhan Santri

Pengasuhan santri adalah lembaga yang mengatur pola disiplin serta tatanan kehidupan santri dan pondok secara menyeluruh. Lembaga ini ditangani langsung oleh pengasuh pondok dan di dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh staf pengasuhan santri. Tugas lembaga ini sangat luas yaitu mencakup kehidupan santri di luar jam sekolah seperti memberikan bimbingan, pengajaran dan pengembangan kepada para santri berupa kegiatan ekstra kurikuler yang meliputi keorganisasian, kepramukaan, bahasa, disiplin, olahraga, ketrampilan, kesenian, akhlak dan ibadah.

Di dalam membimbing masalah ibadah mahdhoh, Pengasuhan Santri memberikan kelenturan dan toleransi kepada para santri. Sebagaimana diketahui pada umumnya bahwa praktik ibadah di Indonesia diwarnai oleh dua aliran atau madzhab besar yaitu NU dan Muhammadiyah. Akan tetapi di Pondok Modern Gontor akan ditemukan praktik keduanya, misalnya; pertama, sholat shubuh. Pelaksanaan sholat shubuh berjamaah di masjid hanya diikuti oleh santri kelas V dan VI KMI, sementara santri yang lain melaksanakan sholat shubuh berjamaah di kamar masing-masing. Ketika melaksanakan sholat shubuh berjamaah, kadang membaca doa qunut dan kadangkala tanpa bacaan doa qunut, tergantung imamnya. Kalau imam sholat dari keluarga Muhammadiyah, maka bisa dipastikan

137

pelaksanannya tanpa doa qunut, sebaliknya kalau imamnya dari latar belakang NU, maka sholat shubuhnya dipastikan dengan qunut. Namun demikian, di Pondok Modern Gontor pernah terjadi pelaksanaan qunut nazilah dalam lima kali sholat fardlu selama sebulan penuh ketika memperjuangkan undang-undang pendidikan di Jakarta.

Kedua, bacaan pujian sebelum sholat dan wirid setelah sholat fardlu : sebagaimana lazimnya amalan ibadah di kalangan NU, di Pondok Gontor juga dilaksanakan pujian sebelum sholat, yaitu dengan bacaan syair Abu Nawas (ilahi lastu lilfirdausi ahlan....). Begitu juga dengan bacaan wirid setelah sholat. Mereka selalu membaca wirid dan doa secara jahr dan bersama-sama.

Ketiga, pelaksanaan sholat Jum‟at di pondok Gontor dilakukan dengan cara

adzan dua kali sebagaimana di masjid-masjid NU. Sedangkan khutbah Jum‟at

dilaksanakan dengan memakai bahasa Arab atau bahasa Inggris.

Keempat, pelaksanaan sholat tarawih di Pondok Modern Gontor dilakukan sebanyak sebelas rakaat sebagaimana pelaksanaan sholat tarawih di kalangan Muhammadiyah. Akan tetapi pelaksanaan tersebut juga dipandu dengan seorang bilal yang membaca sholawat dengan lagu merdu dan suara yang nyaring setelah salam setiap dua rakaat.

Agenda pengasuhan santri yang bersifat tahunan adalah mengkoordinir acara pekan perkenalan pada setiap awal tahun ajaran baru yang padat kegiatan. Sebagai contoh ; karnaval budaya nusantara (plus luar negeri) dengan pakaian adat dari

138

suku Aceh hingga Papua selalu dilaksanakan pada acara apel tahunan bersamaan dengan acara pekan perkenalan. Karnaval budaya nusantara tersebut biasanya juga diiringi dengan musik khas daerah masing-masing.147 Acara terkait dengan agenda

pekan perkenalan yang juga dimotori pengasuhan santri diantaranya; pertama Demonstrasi Bahasa yaitu pidato bahasa daerah dan luar negeri yang ditampilkan secara bergiliran. Kedua Aneka Ria Nusantara yakni orientasi dan demonstrasi kesenian daerah seluruh nusantara yang juga ditampilkan secara bergiliran.148

Nilai multikulturalisme yang terdapat di dalam praktik ibadah sehari-hari di pondok yaitu sikap saling pengertian (mutual understanding), saling menghargai (mutual respect) dan hidup dalam perbedaan. Sedangkan nilai-nilai multikulturalisme yang muncul dalam agenda pekan perkenalan di Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu mencakup kesederajatan (equality atau egalitarianism), menghargai perbedaan kemampuan, menghargai perbedaan umur dan hidup dalam perbedaaan. Saling menghargai (mutual respect), sikap apresiatif dan interdependensi, keberagaman inklusif, menghargai keragaman bahasa dan keterampilan sosial (social action).

4. Peran K.H. Dr. Abdullah Syukri, M.A. dalam Pendidikan Multikultural K.H. Dr. Abdullah Syukri, M.A. lahir di Gontor pada tanggal 19 September 1942. Dia adalah putra pertama dari K.H. Imam Zarkasyi salah seorang Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Menamatkan Sekolah Dasar di desa

147

Hasil wawancara dengan ustadz Althof Sufeida.

148

139

Gontor pada tahun 1954. Setelah menamatkan Kulliyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1960 melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga mendapatkan gelar Sarjana Muda tahun 1965. Adapun gelar Lc. didapat dari Al Azhar University Kairo Mesir pada tahun 1976. Kemudian melanjutkan studi di lembaga yang sama hingga meraih gelar MA ada tahun 1978. Dan mendapat gelar Doctor Honoris Causa pada 2005 dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi tidak hanya berjuang dengan mengasuh santri di pondok, melainkan juga melalui tulisan. Banyak sekali karya tulis yang sudah ditelorkannya. Di antaranya adalah;

1. Pokok-Pokok Pikiran untuk Perubahan Pendidikan Nasional

2. Refleksi dan Rekonstruksi Pendidikan Islam: Model Pendidikan Pesantren Ala Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo

3. Menggali Sumber Keuangan Madrasah : Strategi dan Teknik 4. Pengelolaan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo

5. Pengelolaan Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo

6. Pola Pendidikan Pesantren Sebuah Alternatif 7. Strategi dan Pola Manajemen Pendidikan Pesantren

8. Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia

140

9. Etika Bisnis dalam Islam dan Relevansinya Bagi Aktivitas Bisnis di Dunia Pendidikan Pesantren: Studi Kasus Pondok Modern Darussalam Gontor

10. Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Modern Gontor 11. Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam

di Indonesia: Pengalaman Pondok Modern Darussalam Gontor 12. Pendidikan Pesantren di Era Modern

13. Peran Agama dan Budaya Islam dalam Mendorong Perkembangan Iptek Dan masih banyak buku maupun artikel yang ditulisnya. Selain menulis buku, banyak pengalaman berorganisasi K.H. Abbbdullah Syukri yang patut dicontoh oleh para santrinya, antara lain;

1. Pengurus HMI Cabang Ciputat – Jakarta (1964) 2. Pengurus HPPI (Pelajar Islam) Cairo (1971) 3. Pengurus PPI Den Hag – Belanda (1975)

4. Pimpinan Pondok Modern Gontor (1985 – sekarang) 5. Ketua Majlis Ulama Indonesia Kab. Ponorogo.

6. Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Jawa Timur (1999 – sekarang) 7. Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam Ponorogo (1999 – sekarang)

8. Ketua MP3A Depag (Majlis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (1999 – sekarang)

141

Selain mengasuh santri, menulis buku dan aktif berorganisasi, dia juga sering mengadakan perjalanan keluar negeri dalam rangka belajar, mengisi seminar, kunjungan kerja, maupun menghadiri undangan dari negara-negara di Afrika, Eropa maupun Amerika. Diantaranya; tour ke Belgia–Jerman–Perancis, International Visit Program ke Amerika Serikat, London, Seminar Bahasa Arab di Brunei Darussalam, Comparative Study ke Pakistan, Study Tour ke Thailand bersama 20 guru Gontor, Aligarh University India, Kunjungan ke Malaysia, Universitas Antar Bangsa (IIU), negara-negara OKI dan masih banyak lagi yang lainnya.

Nilai-nilai multikulturalisme yang ditemukan dalam K.H. Dr.Abdullah Syukri, M.A. selaku pengasuh pesantren Pondok Modern Gontor antara lain; kehidupan bersama (living together), kesederajatan (equality atau egalitarianism), sikap tebuka dalam berpikir, keterampilan sosial (social action), mengembangkan seluruh potensi manusia, meliputi potensi intelektual, sosial, moral, religius, ekonomi, potensi kesopanan dan budaya, menghargai pluralitas dan heterogenitas, menghargai dan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku dan agama. B. Pendidikan Multikultural di Pesantren Salaf API Tegalrejo

Umumnya, pesantren adalah sebuah lembaga yang memagari dirinya dari unsur-unsur abangan karena pesantren selalu identik dengan keislaman. Para santri dengan gaya hidup, perilaku, sistem, nilai dan pandangan hidup yang berbeda dengan masyarakat awam agama, memandang dirinya terpisah dari kaum

142

abangan. Namun, pesantren API Tegalrejo seolah-olah mendobrak kecenderungan umum tersebut dan membalikkan anggapan tentang pesantren yang menolak kesenian tradisional. Pesantren API Tegalrejo justru memeriahkan acara khataman /akhirussanah dengan ritual yang dalam pandangan umum tidak mencirikan, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Sejak didirikannya Pawiyatan Bubaya Adat tahun 1974, khataman di Tegalrejo selalu menghadirkan kesenian tradisional. Praktik pendidikan multikultural di Pesantren Salaf API Tegalrejo dapat diidentifikasi dalam dua hal, yaitu: kegiatan ekstrakurikuler dan peran K.H. Yusuf Chudlori sebagai pengasuh pesantren.

1. Kegiatan Akhir Tahun Pesantren API Tegalrejo

Adapun rangkaian kegiatan akhir tahun ajaran di pesantren API Tegalrejo meliputi;

a. Khataman Haflah Akhirussanah

Khataman bagi orang Islam, khususnya kalangan pesantren memang merupakan momen yang sangat bermakna, semacam ritus peralihan yang sangat penting. Khataman merupakan ujung dari sebuah proses panjang dalam menamatkan pembacaan Al-Quran (baik bi an-nadzar alias menyimak ataupun bi al-ghaib alias menghafal). Mengingat arti penting khataman tersebut, pada umumnya kaum muslim ingin membuatnya berkesan dengan mengadakan perayaan.

143

Bagi kalangan pesantren sendiri, khataman adalah sebuah even yang amat penting. Semangat, energi, ketekunan, dan kerja keras yang telah dijalani baik oleh sang Kiai maupun santri selama satu tahun memuncak pada satu momen rutin tahunan yang dinamakan khataman. Dengan khataman itu mereka menyajikan kepada publik hasil capaian yang telah mereka peroleh selama satu tahun. Selain sebagai wahana sosialisasi, khataman juga merupakan wujud pertanggungjawaban dari pesantren kepada publik, khususnya para wali santri.

Khataman adalah simbol bagi para santri yang sudah selesai dalam belajar. Biasanya acara ini dilaksanakan setiap setahun sekali dengan acara pengajian agama yang meriah. Akan tetapi berbeda dengan acara khataman di pesantren API Tegalrejo. Di sana acara khataman biasanya dilaksanakan sepuluh hari dan dimeriahkan dengan pasar malam dan pertunjukan berbagai kesenian adat budaya serta diakhiri dengan pengajian akbar.

Pada umumnya, pesantren adalah sebuah lembaga yang memagari dirinya dari unsur-unsur dengan meminjam istilah kontroversial Geertz, abangan. Para santri dengan gaya hidup, perilaku, sistem, nilai dan pandangan hidup yang berbeda dengan masyarakat awam agama, memandang dirinya terpisah dari kaum abangan.149 Tidak heran jika kesenian tradisional yang umumnya lebih banyak

dijalani orang-orang abangan itu jarang bersentuhan dengan masyarakat pesantren.

149

Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa,Depok: Komunitas Bambu, 2014, 255-260.

144

Akan tetapi pesantren API Tegalrejo justru memeriahkan acara khataman dengan ritual yang dalam pandangan umum tidak mencirikan, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Terlebih API Tegalrejo adalah pesantren salaf, sebuah tipe pesantren yang sangat kokoh memegang tradisi dengan peraturan yang sangat ketat tanpa mencampurkannya dengan model pendidikan modern. Pada kenyataannya acara khataman di Pesantren API Tegalrejo justru memasukkan berbagai budaya Indonesia sebagai event dari khataman tersebut.150

Pandangan stigmatik pesantren terhadap kesenian tradisional banyak ditemukan pada doktrin kitab-kitab kuning yang biasa menjadi rujukan kalangan pesantren. Doktrin tentang haramnya alatul malahi (alat-alat musik) di kitab Sulam al-Taufiq misalnya, begitu kuat menguasai pemahaman orang-orang kalangan pesantren, sehingga mereka terutama kalangan salaf, tidak bisa menerima masuknya musik ke pesantren. Alat-alat tersebut diharamkan karena melalaikan manusia dari Sang Pencipta. Selain itu, perilaku kemaksiatan yang menghiasi acara-acara kesenian (semisal joget, mabuk, membuka aurat, ndadi atau lepasnya kesadaran orang karena dirasuki roh halus) juga turut memberikan andil dalam proses stigmatisasi kalangan pesantren terhadap kesenian.

Banyak di antara para pelaku seni tradisional tersebut juga merupakan orang-orang yang relatif jauh dari ritual agama Islam, dan karenanya dipandang jauh dari Islam. Selain itu, orang-orang ini juga dianggap sering melakukan praktik-praktik

150

145

yang membawa manusia ke arah syirik atau menyekutukan Tuhan, sebuah dosa besar yang tidak diampuni. Praktik-praktik tersebut misalnya kepercayaan terhadap para danyang (roh halus yang biasanya menempati benda tertentu seperi batu dan pohon) dan kesediaan untuk memberikan sesaji bagi mereka pada momen-momen tertentu, misalnya ketika hendak panen atau tandur (mulai masa tanam), termasuk ketika hendak memainkan kesenian tradisional. Sebagaimana umumnya orang bergaul, kalangan pesantren cenderung untuk menjauhi orang lain yang tidak senada dan sepaham. Kalangan santri yang merasa dekat dengan agama merasa tidak sepantasnya bergaul dengan kaum kesenian tradisional yang jauh dari agama.

Menurut almarhum K.H. Ahmad Muhammad, atau biasa disapa dengan Gus Muh, Islam ditempatkan berdampingan dengan tradisi masyarakat setempat. Hal ini membedakan dengan pemahaman tokoh Islam mainstream yang melihat tradisi Jawa sebagai sesuatu yang rendah di bawah Islam, dan pada akhirnya harus dipisahkan dari praktik ke-Islaman. Strategi di atas (memasukkan kesenian

tradisional) memiliki “nilai lebih” di masyarakat yaitu berupa kepemimpinan

merakyat sekaligus merawat dan menguatkan aset dari kebudayaan lokal di Jawa Tengah. Akhirnya banyak pelaku kesenian tradisional yang menjadikan Gus Muh sebagai pemimpin karena dirinya mampu menjembatani kemajemukan masyarakat lintas golongan bahkan lintas agama melalui kegiatan seni dan agama.151

151

146

Mereka yang selama ini jauh dari acara keagamaan bisa mendekat tanpa canggung keluar masuk pesantren dan mengikuti acara keagamaan. Sedangkan para santri tidak kehilangan akar budaya aslinya karena setiap hari diasah dengan pendidikan keagamaan. Pentas kesenian dan pengajian berlangsung di satu lokasi yang bergandengan memang tampak janggal. Terlebih bagi mereka yang selalu menganggap kesenian dan pengajian adalah dunia yang tidak terjembatani.

Namun di Tegalrejo, pengajian dan pentas kesenian di satu lokasi yang berdekatan sudah berlangsung puluhan tahun. Al Islaamu laa ya‟tii liyuhaddima maa kaana alaihi al insaan min tsaqofiyyatin wa adabiyatin, (agama Islam tidak datang untuk menghapus kebudayaan dan peradaban) akan tetapi sebaggai penyeimbang antara syariat Allah dan adat masyarakat. Ibarat gelas berisi air najis, maka jangan dibuang gelasnya, namun cukup airnya yang dibuang lalu gelasnya dicuci. Maka adat masyarakat yang sesuai dengan spirit agama dipertahankan dan yang tidak sesuai, maka diluruskan bukan untuk dijauhi.152

Itulah yang selalu terjadi pada setiap acara akhirussanah (khataman) di Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang Jawa Tengah. Selain pengajian umum sebagaimana biasa diadakan pesantren lain, Ponpes API Tegalrejo juga menyelenggarakan pagelaran kesenian yang diberi tajuk Pawiyatan Budaya Adat (PBA) untuk memeriahkan acara khataman. Menurut alm. K.H. Ahmad Muhammad (tokoh kunci di balik berdiri dan bertahannya PBA), banyak

152

147

sekali pihak yang menentang PBA pada awalnya, bahkan ada yang menuduhnya telah keluar dari jalan Islam.Tantangan semacam itu tidak hanya datang dari kalangan yang selama ini dianggap sebagai Islam modernis, tetapi juga dari kalangan Islam tradisionalis sendiri.

Variasi nilai multikulturalisme banyak ditemukan dalam even akhirussanah di Pesantren Salaf API Tegalrejo yang mencakup; kehidupan bersama (living together), kesederajatan (equality atau egalitarianism), menghilangkan ketidakadilan dan perbedaan status sosial, menghargai perbedaan kemampuan, menghargai perbedaan umur, hidup dalam perbedaaan, sikap saling percaya (mutual trust), sikap saling pengertian (mutual understanding), saling menghargai (mutual respect), sikap apresiatif, menghargai keberagaman inklusif dan keterampilan sosial (social action). Menghargai pluralitas dan heterogenitas, serta menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku dan agama.

b. Pawiyatan Budaya Adat (PBA) Pesantren API Tegalrejo

Pawiyatan Budaya Adat (PBA) adalah rangkaian kagiatan budaya dalam rangka untuk memeriahkan acara khataman akhirussanah di Pesantren API Tegalrejo Magelang. PBA berdiri sejak tahun 1974 dan selalu ikut andil dalam memeriahkan acara khataman akhirussanah di pesantren API Tegalrejo Magelang. Pesantren API Tegalrejo identik dengan PBA dan PBA menjadi ikon khataman akhirussanah di pesantren API Tegalrejo.

148

Pada umumnya pesantren zaman dulu selalu didirikan oleh keturunan kiai. Tetapi Pesantren API Tegalrejo didirikan oleh seorang priyayi Jawa yang membuat pesantren ini menjadi salah satu di antara pesantren terbesar di Jawa Tengah. Latar belakang Kiai Chudlori (muassis API Tegalrejo) adalah berasal dari keluarga priyayi Jawa. Kiai Chudlori nyempal dari keluarga, karena hanya dia yang nyantri sementara saudara lainnya bersekolah untuk kemudian menjadi pegawai negeri. Dengan latar belakang keluarga seperti itu dia bisa memahami kultur Jawa, dan dia sadar bahwa beliau hidup di tanah Jawa.153 Selain latar

belakang individual seperti itu, pesantren ini didirikan di tengah-tengah