• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Praktik-praktik Nikah Wisata

Di atas telah di jelaskan bahwa nikah wisata merupakan bagian zawâj mua‟qqat atau pernikahan sementara, pernikahan tersebut hanya untuk memuaskan nafsu syahwat semata tanpa ada tujuan untuk membangun mahligai rumah tangga seperti yang disebutkan dalam undang-undang nomor 1 tahun 1974 pasal 1 yaitu untuk memabangun rumah tangga yang kekal dan bahagia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menyatakan bahwa nikah wisata merupakan bagian dari nikah

mut‟ah, oleh karena itu praktik-praktik yang terjadi tidak jauh berbeda dengan pernikahan mut‟ah pada umumnya. Dalam

praktiknya pernikahan tersebut juga ada proses serah terimanya (ijab dan qabul) akan tetapi ijab dan qabul yang dilakukan pada pernikahan tersebut berbeda dengan nikah yang dianjurkan dalam agama, jika dalam nikah yang dianjurkan oleh agama proses ijab dan qabulnya antara wali dari mempelai perempuan dengan mempelai laki-laki, namun dalam ijab dan qabul dalam nikah wisata hanya dilakukan oleh calon mempelai perempuan dengan mempelai laki-laki sehingga lafadz ijab dan qabulnya adalah sebagai berikut:

“engkau kunikahkan dengan diriku atas dasar sunnatullah

mengucapkan ijab (menyerahkan diri), maka si pria pun mengucapkan qabul (penerimaan) sebagai berikut : “kuterima pernikahan ini”76

Sedangkan mas kawin (mahar) dalam pernikahan wisata merupakan imbalan atau upah yang diberikan oleh laki-laki yang menikahi kepada perempuan yang dinikahi karena telah memberikan pelayanan selama dalam wisata tersebut. Mahar dalam nikah wisata berbeda dengan mahar pada umumnya. Jika dalam nikah wisata mahar merupakan upah atas jasa pelayanan yang diberikan oleh si perempuan, sedangkan mahar pada umumnya adalah pemberian dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan sebagai sarana untuk menghalalkannya. Di kalangan Syi‟ah, pemberian mas kawin

boleh hanya satu dirham, segenggam makanan, atau seteguk air, sehingga dapat kita bayangkan betapa mudahnya melakukan perzinahan dengan atas nama agama di kalangan Syi‟ah.77

Nikah wisata dalam praktiknya juga mengenal istilah batas waktu (massa). Batas waktu yang ada dalam nikah wisata adalah sesuai dengan perjanjian di awal atau di akadnya. Dalam nikah pada umumnya batasan waktu dapat menjadi rusaknya sebuah pernikahan, namun dalam nikah wisata batasan waktu menjadi hal yang wajib ada.

Dari Abban bin Taghlib pada riwayat mengenai lafadz

akad mut‟ah, bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah as : “saya sungguh malu menyebutkan syarat hari. Ia menjawab: “ini lebih berbahaya bagimu.” Aku berkata: bagaimana bisa? Ia berkata:

“karena jika kamu tidak mensyaratkannya, jadilah ia perkawinan

yang permanen. Maka engkau diwajibkan memberi nafkah pada masa iddahnya, ia menjadi pewarismu dan engkau tidak bisa menceraikannya kecuali dengan talak yang sejalan dengan

sunnah.”78

Batasan waktu dalam nikah wisata bisa 1 bulan, 2 pekan, 1 pekan bahkan 3 hari tergantung bagaimana kesepakatan

76

Luthfi Surkalam, Kawin Kontrak Dalam Hukum Nasional Kita, (Tangerang: CV. Pamulang, 2005), h.16.

77Ibid, h. 19.

awalnya. Hal ini sangat berbeda jauh dengan pernikahan pada umumnya yang tak ada batasan sama sekali. Tujuan dari adanya pernikahan wisata sebagaimana tersirat dalam devinisi nikah wisata, yakni hanya bertujuan untuk melampiaskan nafsu biologis, tidak ada keinginan untuk membentuk suatu rumah tangga yang kekal, sakinah, mawaddah dan rahmah yang selalu di ridhoi Allah sebagaimana yang diperintahkan oleh agama. Sehingga dengan hanya menyandarkan pada pemenuhan nafsu syahwat dalam tujuan pernikahan wisata, maka pernikahan wisata ini tidak ada bedanya dengan prostitusi, hanya saja dalam perkawinan ini ada akad sebagai formalitas untuk melegalkan hubungan badan yang merupakan perbuatan zina.

Pernikahan wisata merupakan pernikahan yang dilarang karena mempunyai dampak negatif yang sangat banyak sekali, dampak-dampak negatif dari pernikahan jenis ini adalah sebagai berikut:

1. Merendahkan Martabat Wanita

Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam memandang wanita sebagai pemegang peranan penting dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan bernegara karena wanita dapat menentukan baik atau tidaknya generasi penerus bangsa. Wanita adalah madrasah atau sekolah pertama bagi generasi penerus bangsa, karena mereka (wanita) adalah yang mengandung dan membesarkan anak-anak generasi bangsa dengan sentuhan kasih sayang yang dapat menjadikan anak-anak yang diasuhnya berkembang menjadi pribadi yang kuat, cerdas, berakhlak dan siap menjadi penerus bangsa yang unggul.

Dalam Islam, wanita memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan baik tidaknya generasi suatu bangsa. Karena sesungguhnya wanitalah yang cukup dominan dalam menentukan arah generasi yang

“dicetaknya” sejak dalam masa pranatal hingga generasi

tersebut siap untuk berdiri secara mandiri. Mengingat beban yang cukup berat tersebut, maka Islam menempatkan posisi

seorang wanita (ibu) tiga tingkat diatas seorang ayah untuk ditaati oleh anak-anaknya.79

Penghormatan Islam terhadap wanita pun terlihat dalam aturan hukum tentang perkawinan. Dimana Islam melarang antar lawan jenis untuk saling bepandangan dan melakukan hal-hal yang hanya diperkenankan bagi mereka yang telah melewati pintu perkawinan. Hal ini semata-mata untuk menjaga kehormatan masing-masing pihak. Dan ketika seorang pria telah sungguh-sungguh mencintai seorang wanita, demikian juga sebaliknya, maka si pia dianjurkan untuk segera mengawininya. Bila ia telah mengawini wanita tersebut, maka ia harus bisa menjaganya baik materiil mauoun immateriil, sebagai wujud penghormatannya kepada wanita tersebut.80

Penghormatan Islam terhadap wanita yaitu, wanita mempunyai hak dalam menentukan besaran mahar yang akan diterima dari seorang laki-laki, selain itu wanita juga tidak boleh disentuh oleh yang bukan mahramnya bahkan dilarang untuk memandangi wanita yang bukan mahramnya. Setelah menikah wanita juga mendapatkan penghormatan dari agama Islam yaitu memerintahkan

kepada suaminya untuk menggauli istrinya secara ma‟ruf,

tidak berlaku kasar, dan harus dapat berlaku adil terhadap wanita apabila mempunyai istri lebih dari seorang.

Tidak demikian halnya dengan pandangan Syi‟ah

tentang nikah wisata. Bagi mereka wanita yang dinikahi dengan jenis pernikahan seperti ini dianggap bukan seorang istri, melainkan dianggap hanya sebagai wanita sewaan. Sehingga dengan menempatkan wanita pada kedudukan yang serendah ini, maka dapat diabayangkan betapa rendahnya ilmu agama yang mereka miliki karena banyak dalil-dali agama yang dilanggar.

2. Penelantaran Anak

Anak merupakan amanah yang diberikan Allah kepada para orang tua, dengan maksud agar orang tua tersebut

79Ibid, h. 43.

merawat, mendidik dan menjadikan anak tersebut sebagai pribadi yang dapat membawa keberkahan dalam rumah tangga. Dengan lahirnya seorang anak dalam keluarga mampu menjadi perekat hubungan suami-istri dan membawa kebahagiaan bagi keluarga. Lahirnya anak di keluarga adalah tanggung jawab orang tua yang harus dibesarkan dengan penuh cinta kasih sayang, dengan cara mencukupi kebutuhan sehari-hari sang anak sampai ia tumbuh dewasa dan mandiri.

Suami-istri yang dikaruniai seorang anak akan berbagi tugas dalam mendidik dan membesarkan sang anak. Suami mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari anak dan istrinya, oleh karena itu suami harus bekerja supaya mendapatkan rezeki. Sedangkan istri lazimnya mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam mengurus anak seperti menyusui dan mengurus rumah tangga.

Dalam nikah wisata anak yang lahir adalah tanpa mempunyai seorang ayah, hal ini mejadi beban tersendiri bagi seorang ibu, yang harusnya bertugas untuk merawat dan mendidik anak akan mempunyai tugas lain yaitu menjadi orang tua tunggal (single parent) yang harus bertanggung jawab selain pada kasih sayang juga harus bertanggung jawab pada pemenuhan materi yaitu kebutuhan makan, pakain, tempat tinggal serta kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

3. Rentan Terhadap HIV/AIDS

Islam adalah agama yang sempurna. Dalam Islam kita sebagai umat manusia diajarkan untuk tidak berlaku berlebih-lebihan (isrof) dalam segala hal. Isrof merupakan perbuatan yang tercela dan merupakan awal sumber dari berbagai macam penyakit, baik penyakit lahiriah maupun penyakit batiniah. Contoh, Allah SWT. memerintahkan manusia untuk makan dan minum, tetapi dalam makan dan minum tersebut kita dilarang untuk berlebih-lebihan. Karena jika perut terlalu kenyang disebabkan makan dan minum terlalu banyak, dilihat dari aspek kesehatan akan memunculkan berbagai jenis penyakit fisik. Jika dilihat dari

sudut pandang agama, terlalu kenyang akan mengakibatkan kemalasan untuk melaksanakan perintah-perintah agama untuk beribadah dan tidak peka terhadapat kondisi sosial masyarakat sekitarnya.

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit yang berpotensi fatal yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus). HIV menyebabkan kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh. Selain merugikan sistem kekebalan tubuh, HIV dan AIDS merusak sistem lain dalam tubuh termasuk pernapasan, saraf, pencernaan dan sistem kulit. Sementara ada obat ada untuk HIV atau AIDS, kerusakan yang disebabkan oleh penyakit ini dapat diobati.

Berikut adalah ulasan bagaimana HIV/AIDS memengaruhi sistem tubuh:

1) Sistem kekebalan tubuh

HIV dapat merusak sel-sel darah putih yang membantu sistem kekebalan tubuh melawan penyakit (sel CD4). Menurut mayoclinic.com, HIV dapat menjadi AIDS dalam waktu 10 tahun bila dibiarkan tidak diobati. Selama waktu tersebut, HIV merusak sistem kekebalan tubuh ke titik di mana infeksi oportunistik mulai berkembang. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Gejala umum dari infeksi oportunistik mungkin berkaitan dengan berbagai sistem tubuh, diantaranya keringat malam, demam, menggigil, sesak napas, bintik-bintik putih di mulut, kelelahan, ruam kulit dan penurunan berat badan.

2) Sistem pernapasan

Seiring dengan perkembangan HIV menjadi AIDS, infeksi seperti pneumonia atau radang paru-paru, TB dan sarkoma Kaposi dapat menyebabkan kondisi pernapasan parah. Menurut aids.org, pneumocystis

pneumonia (PCP) adalah infeksi oportunistik yang paling umum pada orang dengan HIV. Tanpa pengobatan, 85 persen dari mereka dengan HIV akan mengembangkan infeksi. Gejala kondisi pernapasan yang seringkali muncul akibat infeksi HIV atau AIDS terkait termasuk kesulitan bernapas, batuk kering dan demam.

3) Sistem saraf

Sistem kekebalan tubuh yang lemah memungkinkan bakteri, virus, dan jamur menginfeksi sistem saraf pada pasien dengan HIV dan AIDS. Kondisi terkait AIDS umum yang memengaruhi sistem saraf termasuk demensia AIDS kompleks, limfoma dan toksoplasmosis. Gejala umum dari kondisi ini meliputi sakit kepala, keterlambatan berpikir, memori jangka pendek yang buruk serta perubahan perilaku dan koordinasi.81

Dokumen terkait