• Tidak ada hasil yang ditemukan

AP) dengan Predikat Baik dan Sangat Baik

2019 2020

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

berdampak positif terhadap hasil evaluasi POS AP yang dilaksanakan oleh Biro Organisasi dan Tata Laksana.

• Pada tahun 2019 hasil evaluasi penerapan POS AP lebih tinggi dari pada hasil evaluasi POS AP pada tahun 2020 dikarenakan adanya perbedaan metode pelaksanaan evaluasi penerapan POS AP. Pada tahun 2019 unit kerja yang dievaluasi menggunakan metode sampling tidak melibatkan seluruh unit kerja. Jumlah unit kerja yang dijadikan sampling pada tahun 2019 sebanyak 84 unit kerja dari 202 unit kerja, sedangkan di tahun 2020 jumlah unit kerja yang dievaluasi seluruh unit kerja di lingkungan Kemendikbud.

Unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang telah menerapkan POS AP dengan baik maka dalam melaksanakan pekerjaannya para pegawai telah memiliki standarisasi cara yang dilakukan dan dapat meningkatkan akuntabilitas dalam melaksanakan penyelesaian pekerjaan sehingga diharapkan dapat menjaga dan meningkatkan kualitas hasil/output dan kebermanfaatan/outcome. Selain hal tersebut, unit kerja yang telah menerapkan POS AP dengan baik menunjukkan bahwa unit kerja tersebut dalam melaksanakan kinerja organisasinya telah efektif dan efisien serta dikelola dengan baik.

Ketercapaian Indikator Kinerja kegiatan di dukung oleh:

1. pendampingan fasilitasi penyusunan POS AP;

2. penyusunan POS AP generik bidang ketatausahaan;

3. penyusunan instrumen evaluasi penerapan POS AP;

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

4. uji keterbacaan evaluasi POS AP; dan

5. evaluasi penetapan POS AP di lingkungan Kemendikbud.

Adapun kendala/ permasalahan yang dihadapi dalam upaya pencapaian target indikator kinerja adalah:

1. kurangnya jumlah SDM di Biro Ortala yang menangani analisis POS AP;

2. kompetensi SDM yang menangani POS AP di setiap unit kerja belum merata;

3. adanya unit kerja baru di lingkungan Kemendikbud yang belum memiliki dokumen POS AP; dan

4. masih adanya unit kerja yang belum memahami kebijakan penerapan POS AP.

Langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan/hambatan yang di hadapi agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. mengajukan permohonan tambahan SDM/Pegawai untuk menangani POS AP;

2. optimalisasi pegawai/SDM yang ada untuk membantu melakukan analisis POS AP;

3. melakukan pendampingan penyusunan dan evaluasi penerapan POS AP; dan

4. memberikan pelatihan dan pemahaman mengenai kebijakan penerapan POS AP kepada seluruh unit kerja.

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

Berkoordinasi dengan Sekretariat Unit Utama untuk membantu dalam optimalisasi penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Persentase unit kerja yang menerapkan analisis jabatan di lingkungan Kemendikbud

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pedoman Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja, analisis jabatan adalah proses pengumpulan, pencatatan, pengolahan, dan penyusunan data jabatan menjadi informasi jabatan.

Evaluasi penerapan analisis jabatan dilakukan untuk mendapatkan informasi yang memadai terkait pelaksanaan analisis jabatan di lingkungan Kemendikbud. Sasaran evaluasi adalah unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang berbentuk biro, pusat, sekretariat unit utama, direktorat, inspektorat, UPT, PTN, dan Set LSF.

Metode yang digunakan adalah survei melalui dua instrumen, yaitu instrumen tertutup untuk melihat persepsi pegawai terhadap penerapan analisis jabatan di unit kerja masing-masing dan instrumen untuk memeriksa penerapan unsur-unsur analisis jabatan di lingkungan unit kerja berdasarkan Permenpan RB Nomor 1 Tahun 2020.

Kategorisasi data penerapan analisis jabatan di unit kerja dikatakan sudah menerapkan analisis jabatan apabila nilai yang diperoleh dalam kategori minimal Baik.

Metode penghitungan yang digunakan untuk melihat kategorisasi penerapan analisis jabatan di lingkungan unit kerja adalah dengan melihat jumlah unit kerja yang telah menerapkan analisis jabatan dibagi dengan jumlah seluruh unit kerja di lingkungan Kemendikbud dikalikan 100 %.

Kategorisasi Batas Bawah Batas Atas

Sangat Baik 162,6 200

Baik 125,1 162,5

IKK 3

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Kurang Baik 87,6 125

Tidak Baik 50 87,5

Jumlah unit kerja di lingkungan Kemendikbud adalah 344 unit kerja.

Berdasarkan pertimbangan kewenangan dan kondisi unit kerja, yang menjadi sasaran evaluasi penerapan analisis jabatan adalah sebanyak 326 unit kerja. Dari 326 unit kerja tersebut, unit kerja yang mendapatkan nilai A (Sangat Baik) adalah sebanyak 72 dan unit kerja yang mendapatkan nilai B sebanyak 55. Dengan melihat hasil pengisian instrumen 1, disimpulkan unit kerja yang telah melaksanakan analisis jabatan adalah sebesar 38,95% dari jumlah keseluruhan total unit kerja di lingkungan Kemendikbud sebagaimana tercantum dalam tabel sebagai berikut.

Tahun Jumlah unit kerja yang di

* Evaluasi pelaksanaan analisis jabatan baru dilaksanakan mulai tahun 2020 Unit kerja yang telah mendapatkan kategori baik dan sangat baik dalam evaluasi pelaksanaan analisis jabatan dapat diartikan bahwa proses analisis jabatan dalam unit kerja tersebut telah berjalan dengan baik. Pimpinan telah menyosialisasikan kebijakan terkait analisis jabatan dengan baik.

Unit kerja yang pelaksanaan analisis jabatannya masih belum masuk ke dalam kategori Baik dan Sangat Baik dapat diartikan bahwa masih terdapat hambatan-hambatan dalam pelaksanaan analisis jabatan di unit kerja tersebut.

Realisasi prosentase unit kerja yang menerapkan analisis jabatan pada tahun 2020 lebih rendah dari target kinerja yang direncanakan dalam Renstra maupun dalam perjanjian kinerja, hal ini dikarenakan sebagai berikut:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

1. Pelaksanaan evaluasi penerapan analisis jabatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2020. Pelaksanaan yang mendekati akhir tahun ini dimaksudkan agar evaluasi yang dilaksanakan ini mendapatkan hasil yang seakurat mungkin dan unit kerja yang dievaluasi telah dapat menerapkan kebijakan perubahan organisasi yang terjadi pada awal tahun. Namun hal ini ternyata menyebabkan kurang maksimalnya pelaksanaan evaluasi karena persiapan untuk melaksanakan evaluasi menjadi lebih singkat dan instrumen evaluasi belum dapat tersosialisasi secara komprehensif kepada responden.

2. Tidak seluruh unit kerja mengisi secara benar instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan sehingga data yang masuk tidak dapat seluruhnya dipergunakan dalam analisis. Hal ini dikarenakan evaluasi ini baru pertama kali dilakukan sehingga pemahaman responden terhadap instrumen tersebut masih dirasakan belum mencukupi.

3. Belum adanya pedoman baku evaluasi analisis jabatan yang ditetapkan oleh KemenPANRB selaku intansi pembina. Hal ini tentunya memberikan kesulitan tersendiri bagi tim untuk merumuskan instrumen dan juga untuk menganalisis data yang ada. Untuk merumuskan instrumen dan menganalisis data tim analisis jabatan untuk saat ini masih berpedoman pada standar umum analisis jabatan.

Program/kegiatan terkait yang dilaksanakan dalam upaya pencapaian target indikator kinerja yang ditetapkan antara lain:

1. penyusunan konsep instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

2. uji keterbacaan instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

3. sosialisasi pelaksanaan survei;

4. pengisian instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan; dan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

5. pengolahan data evaluasi pelaksanaan analisis jabatan.

Hambatan/kendala/permasalahan/faktor penghambat yang dihadapi dalam upaya pencapaian target antara lain:

1. belum adanya pedoman evaluasi pelaksanaan analisis jabatan dari KemenPANRB;

2. kurangnya sosialisasi instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan; dan

3. tidak semua unit mengisi instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan.

Langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan/hambatan yang dihadapi agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

1. proaktif ketika unit kerja meminta penjelasan lebih lanjut terkait survei;

2. menyampaikan hasil evaluasi pelaksanaan analisis jabatan kepada setiap unit utama; dan

3. mengingatkan unit kerja untuk mengisi survei sesuai dengan waktu.

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. melakukan fasilitasi analisis jabatan ke seluruh unit kerja;

2. melakukan sosialisasi terkait pelaksanaan survei evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

3. melakukan pendampingan dalam survei evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

4. mengembangkan dan menyempurnakan instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan; dan

5. mengembangkan metode pengisian instrumen berbasis aplikasi sianjab.

Sasaran Kegiatan 3: Meningkatnya Tata kelola Biro Ortala

Predikat SAKIP Biro Ortala Minimal BB

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, SAKIP merupakan rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat dan prosedur yang dirancang untuk tujuan penetapan dan pengukuran, pengumpulan data, pengklarifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi pemerintah, dalam rangka pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja instansi pemerintah.

IKK 1

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Sebagai pedoman dalam implementasi SAKIP, berdasarkan Peraturan Menteri PAN RB No. 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi Atas Implementasi sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, hasil penilaian SAKIP dikategorikan sebagai berikut:

Nilai Predikat Interpretasi

>90-100 AA Sangat Memuaskan

>80-90 A Memuaskan

>70-80 BB Sangat Baik

>60-70 B Baik

>50-60 CC Cukup (memadai)

>30-50 C Kurang

0-30 D Sangat Kurang

Metode penghitungan Nilai SAKIP di dasarkan pada 5 komponen penilaian, yaitu:

No Komponen Bobot penilaian

1. Perencanaan kinerja 30 %

2. Pengukuran kinerja 25 %

3, Pelaporan kinerja 15 %

4. Evalauasi Kinerja 10 %

5. Capaian Kinerja 20 %

Total nilai 100 %

Hasil evaluasi akuntabilitas kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana Tahun 2020, berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja, sebagai berikut:

Tingkat penerapan akuntabilitas : BB

Nilai SAKIP : 74,08

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Sangat Baik, Akuntabel, berkinerja baik, memiliki sistem manajemen kinerja yang andal

Dengan rincian nilai sebagai berikut:

NO INDIKATOR BOBOT (%)

1. Perencanaan Kinerja (30%) 20,77

2. Pengukuran Kinerja (25%) 17,97

3. Pelaporan Kinerja (15%) 10,90

4. Evaluasi Kinerja (10%) 5,69

5. Pencapaian Sasaran/kinerja organisasi (20%) 18,75

Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tersebut di atas, direkomendasikan:

1. Perencanaan Kinerja

a) Sangat Baik, Akuntabel, berkinerja baik, memiliki sistem manajemen kinerja yang andal. Renstra agar dilengkapi dengan Tujuan yang akan dicapai selama periode Renstra dan rumusannya berorientasi hasil, dan dengan Indikator Tujuan dan Target Keberhasilan. Rumusan Tujuan dapat mengacu kepada Sasaran Program yang ada di atasnya, rumusan Indikator Tujuan dan Target dapat mengacu pada Indikator Kinerja (IKSS/IKP) dan target Indikator Kinerja (target IKSS/IKP pada akhir periode Renstra) pada unit kerja di atasnya; dan

b) Indikator Kinerja Kegiatan yang ditetapkan dalam Renstra agar dilengkapi dengan target keberhasilan selama periode Renstra;

c) Renstra agar direviu secara berkala (minimal setahun sekali) untuk memastikan:

(1) keselarasan rumusan tujuan/sasaran/indikator dengan tugas dan fungsi Unit Kerja;

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

(2) untuk mengetahui tingkat capaian/realisasi dari target yang telah ditetapkan sampai dengan tahun berjalan dan target akhir Renstra. Hasil reviu dapat berupa laporan hasil evaluasi atas capaian target Renstra, kendala, permasalahan dan rencana tindak lanjut tahun berikutnya.

d) Renstra dan Perjanjian Kinerja agar dipublikasikan pada laman resmi unit kerja untuk mendukung keterbukaan informasi publik. Perjanjian Kinerja agar dimanfaatkan oleh Pimpinan untuk pengarahan dan pengorganisasian kegiatan yang antara lain dapat diwujudkan melalui sosialisasi;

e) Perjanjian Kinerja oleh Pimpinan kepada seluruh pegawai dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan, serta dijadikan acuan dalam penyusunan PK Individu dan didokumentasikan dengan baik.

2. Pengukuran Kinerja

a) Unit kerja agar menyusun Prosedur Operasional Standar (POS AP) terkait mekanisme Pengumpulan Data Kinerja sebagai acuan dalam melakukan Pengukuran Kinerja;

b) Pengukuran atas Rencana Aksi Perjanjian Kinerja agar dilakukan secara berkala (triwulan) dengan memanfaatkan aplikasi e-kinerja;

c) Penyusunan Indikator kinerja individu (Perjanjian Kinerja Individu) agar mengacu pada Indikator kinerja satuan kerja/unit kerjanya (cascading/turunan dari Perjanjian Kinerja Kepala Satuan Kerja); dan

d) Hasil pengukuran kinerja agar dimanfaatkan sebagai dasar pemberian reward & punishment yang diberikan kepada pejabat atau pegawai dilingkungan unit kerja/satker, yang dapat berupa sertifikat, piagam, foto dokumentasi, atau SK

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

3. Pelaporan Kinerja

a) Renstra dan Perjanjian Kinerja agar dipublikasikan pada laman resmi unit kerja untuk mendukung keterbukaan informasi publik;

b) Laporan Kinerja agar menyajikan informasi terkait pencapaian sasaran (outcome) untuk setiap sasaran yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja; dan

c) Informasi yang disajikan dalam Laporan Kinerja agar dimanfaatkan oleh Pimpinan Satker/Unit Kerja untuk perbaikan perencanaan, pelaksanaan program/kegiatan serta peningkatan kinerja, yang antara lain dapat diwujudkan dalam Rapat Evaluasi Akhir atau Awal Tahun dan didokumentasikan.

4. Evaluasi Kinerja

a) Evaluasi akuntabilitas kinerja internal, evaluasi kinerja (target PK) dan Evaluasi rencana aksi (kegiatan) agar dilakukan secara berkala (minimum triwulan) dengan memanfaatkan aplikasi e-kinerja. Hasil evaluasi berupa laporan evaluasi/notula rapat yang memuat rekomendasi Pimpinan dan disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan/penanggungjawab kegiatan;

b) Rekomendasi hasil evaluasi SAKIP tahun sebelumnya agar ditindaklanjuti untuk perbaikan penerapan SAKIP di masa yang akan datang.

5. Pencapaian Sasaran/Kinerja Organisasi

Unit kerja agar secara terus menerus melakukan strategi dan inovasi dalam pelaksanaan program dan kegiatan agar pencapaian target kinerja dapat melebihi target yang ditetapkan pada Perjanjian Kinerja

Sebelum pecah menjadi Biro Organisasi dan Tata Laksana, Biro yang ada yaitu Biro Hukum dan Organisasi, Capaian nilai SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah) Biro Hukum

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

dan Organisasi yaitu BB dengan nilai 74,33. Interpretasi: Sangat Baik, Akuntabel, berkinerja baik, memilik manejemn kinerja yang andal.

NO Indikator Bobot (%)

1. Perencanaan Kinerja (30%) 21,90

2. Pengukuran Kinerja (25%) 18,02

3. Pelaporan Kinerja (15%) 10,35

4. Evaluasi Kinerja (10%) 5,31

5. Pencapaian sasaran/kinerja organisasi 18,75

74,33

74,08

73,95 74 74,05 74,1 74,15 74,2 74,25 74,3 74,35

2019 (Biro Hukor) 2020 (Biro Ortala)

Dokumen terkait