• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Telepon (021) Laman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Telepon (021) Laman"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN 2020

(2)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

KATA PENGANTAR

Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP) Biro Organisasi dan Tata Laksana dilakukan dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan layanan organisasi dan tata laksana yang berdayaguna dan berhasil guna berdasarkan pada prinsip-prinsip Good Governance sebagai usaha untuk mewujudkan demokratisasi, partisipasi, transparansi dan akuntabilitas yang menjadi tugas seluruh instansi pemerintah. Hal ini merupakan suatu prasyarat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengevaluasian kegiatan yang ada di Biro Organisasi dan Tata Laksana. Untuk itu diperlukan suatu alat ukur yang diharapkan dapat menjawab tantangan pembangunan dimasa depan yang semakin dinamis dan mampu menjawab tuntutan dan kebutuhan suatu organisasi dalam menjalankan program dan kegiatannya.

Biro Organisasi dan Tata Laksana telah menyelesaikan LAKIP Tahun 2020 yang merupakan bentuk pertanggungjawaban atas capaian kinerja dan anggaran dari pelaksanaan tugas dan fungsi selama tahun 2020. LAKIP ini berisikan capaian pelaksanakan program, kegiatan dan anggaran yang digunakan selama tahun 2020 berdasarkan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pengukuran dilakukan dari segi pencapaian kinerja kegiatan yang tercantum dalan Rencana Strategis (Renstra) 2020-2024 dan anggaran yang dimanfaatkan untuk merealisasikan apa yang telah ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja tahun 2020. Dengan tersusunnya laporan kinerja ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi dan acuan untuk perbaikan dalam rangka peningkatan kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana dimasa yang akan datang serta memberikan manfaat untuk mempermudah pelaksanaan SAKIP di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari semua pihak. Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung penyusunan LAKIP Biro Organisasi dan Tata Laksana. Semoga LAKIP Biro Organisasi dan Tata Laksana ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, 31 Januari 2021

Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana

Dr. Ir. Mustangimah, M.Si.

NIP 196405241992032001

(3)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

DAFTAR ISI

KATA PENGHANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 01

A. Gambaran Umum ... 01

B. Tugas dan Fungsi Biro Organisasi dan Tata Laksana serta Struktur Organisasi ... 02

C. Dasar Hukum ... 04

D. Isu Strategis ... 05

BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 07

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 9

A. Capaian Kinerja ... 10

B. Analisis Capaian Kinerja ... 11

BAB IV PENUTUP ... 58

(4)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

LAPORAN AKUNTABILTAS

KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)

Biro Organisasi dan Tata Laksana Sekretariat Jenderal

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(5)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

BAB I PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum

Dalam rangka mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya pemerintahan yang baik dan terpercaya diperlukan penyelenggaraan SAKIP sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah yang mengintegrasikan sistem perencanaan, program, anggaran serta pelaksanaan program dan kegiatan dimana pertanggungjawaban kinerja instansi pemerintah tidak hanya difokuskan pada keluaran (output) kegiatan yang dilaksanakan, namun mencakup faktor dampak/manfaat (outcome) kegiatan sebagai sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan suatu program.

Hal tersebut dituangkan dalam Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) yang berupa laporan yang disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban dari pelaksanaan tugas dan fungsi yang telah dipercayakan kepada setiap instansi pemerintah atas penggunaan seluruh sumber daya yang meliputi sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta anggaran (DIPA). Tujuan dari pelaporan kinerja ini adalah untuk memberikan informasi kinerja yang terukur dan sebagai upaya perbaikan yang berkesinambungan dalam rangka meningkatkan kinerja dari instansi pemerintah.

Biro Organisasi dan Tata Laksana sebagai unit kerja di bawah Sekretariat Jenderal mempunyai kewajiban untuk mendukung pencapaian program- program Kementerian dalam membangun dan mewujudkan tata kelola keuangan yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel.

Dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi serta pencapaian target kinerja dan anggaran yang telah ditetapkan, Biro Organisasi dan Tata laksana dibantu oleh sumber daya manusia yang terampil dan tepat dibidangnya. Jumlah pegawai Biro Organisasi dan Tata Laksana berjumlah 43 orang yang terdiri dari 1 (satu) orang Kepala Biro setingkat

(6)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

eselon II, 1 (satu) orang Kepala Subbagian TU (setingkat eselon 4), 5 orang Jabatan Fungsional yang dibagi dalam 4 orang koordinator yaitu Koordinator kelompok Kerja Pelembagaan Organisasi, Koordinator Kelompok Kerja RBI, Koordinator Kelompok Kerja Ketatalaksanaan dan pelayanan Publik, Koordinator Kelompok Kerja Analisis Jabatan dan pengembangan Jabatan Fungsional, dan 36 (tiga puluh enam) orang staf.

Rincian sebaran pegawai di lingkungan Biro Organisasi dan Tata Laksana berdasarkan jenjang Pendidikan sebagai berikut:

B. Tugas dan Fungsi Biro Organisasi dan Tata Laksana serta Struktur Organisasi

Berdasarkan Permendikbud Nomor 45 tahun 2019 sebagaimana telah diubah dengan Permendikbud Nomor 9 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Biro Organisasi dan Tata Laksana mempunyai tugas sebagai berikut:

0 10 20

30 PNS / ASN & PPNPN

S3 1 Orang S2

6 Orang S1

23 Orang D3

1 Orang SMA

12 orang

Melaksanakan pembinaan, penataan, fasilitasi, pemantauan dan evaluasi organisasi Kementerian serta pembinaan, penataan, fasilitasi, pemantauan dan evaluasi ketatalaksanaan, pelayanan publik, dan analisis jabatan serta pengembangan jabatan fungsional Kementerian dan urusan ketatausahaan Biro.

(7)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Fungsi Biro Organisasi dan Tata Laksana:

1. pembinaan organisasi, ketatalaksanaan, dan analisis jabatan di lingkungan Kementerian;

2. pelaksanaan urusan penataan unit organisasi di lingkungan Kementerian;

3. fasilitasi pengembangan organisasi penyelenggara pendidikan dan kebudayaan di pusat dan daerah;

4. penataan ketatalaksanaan, pelayanan publik, dan analisis jabatan di lingkungan Kementerian;

5. pelaksanaan pengembangan jabatan fungsional Kementerian;

6. fasilitasi pelaksanaan reformasi birokrasi Kementerian;

7. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang organisasi, ketatalaksanaan, pelayanan publik, dan analisis jabatan di lingkungan Kementerian; dan

8. pelaksanaan urusan ketatausahaan Biro.

STRUKTUR ORGANISASI BIRO ORGANISASI DAN TATA LAKSANA

(8)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

C. Dasar Hukum

1. Undang undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

2. Undang Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

(9)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

3. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;

4. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

5. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah;

6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 9 Tahun 2016 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;

8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2019 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;

9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.

D. Isu strategis

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Biro Organisasi dan Tata Laksana menghadapi isu-isu strategis, diantaranya sebagai berikut:

1. Instrumen Evaluasi Organisasi yang digunakan untuk mengukur efektifitas organisasi belum sepenuhnya dapat menggambarkan kondisi suatu unit kerja;

2. Reformasi Birokrasi Internal bagi sebagian unit kerja masih lebih mengarah kepada dokumen administratif, belum sampai pada tahap implementasi di unit kerjanya.

(10)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

3. Peta Proses Bisnis seingkali mengikuti perubahan organisasi, karena seharusnya sebelum organisasi terbentuk Peta Proses Bisnis ada terlebih dulu dan menjadi pertimbangan pembentukan organisasi;

4. Instrumen evaluasi yang dapat mengukur efesiensi dan efektifitas penerapan Proses Operasional Standar belum memadai;

5. Perubahan organisasi yang sering terjadi mengakibatkan jabatan yang telah ada harus dianalisis kembali; dan

6. Data beban kerja dari unit kerja kurang akurat sehingga kebutuhan pegawai yang dihasilkan kurang valid.

(11)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

Rencana Strategis Biro Organisasi dan Tata Laksana merupakan langkah strategi implementasi dalam rangka pencapaian target yang telah ditetapkan dan mengacu pada Rencana strategis Sekretariat Jenderal berdasarkan visi dan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama kurun waktu lima tahun.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana telah diubah dengan Permendikbud Nomor 9 Tahun 2020 tentang Perubahan Permendikbud Nomor 45 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kemendikbud Biro Organisasi dan Tata Laksana telah berdiri pada tanggal 2 Januari 2020.

Namun keberadaan DIPA dan diakui satker mandiri baru pada tanggal 2 Mei 2020 yaitu sejak Biro Organisasi dan Tata Laksana menerima DIPA NOMOR : SP DIPA- 023.01.1.690396/2020.

Biro Organisasi dan Tata Laksana menyusun laporan kinerja tahun 2020 sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas dan fungsi, sesuai perjanjian kinerja yang telah ditandatangani bersama antara Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana dengan Sekretaris Jenderal. Perjanjian Kinerja berisikan rencana target capaian kinerja dan anggaran yang akan dicapai selama satu tahun anggaran. Laporan kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana Tahun 2020 menyajikan akuntabilitas capaian kinerja dan anggaran yang terperinci dalam suatu kegiatan yang dilakukan pada masing-masing bagian dalam suatu kinerja yang berorientasi tidak hanya berupa keluaran (ouput) namun juga berupa hasil (outcome) yang telah dicapai sehingga tingkat

(12)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

akuntabilitas pada masing-masing bagian dapat diukur dari ketercapaian kinerjanya.

Perjanjian Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Target

Kinerja

Anggaran

Terwujudnya indeks capaian reformasi birokrasi yang optimal

Jumlah Satker di lingkungan Kemendikbud dengan indeks capaian reformasi birokrasi minimum 75 (WBK) dan 85 (WBBM)

22 2.550.074.000

Jumlah unit eselon I yang

dibina dalam

pengimplementasian reformasi birokrasi

9

Jumlah unit eselon I yang

dievaluasi dalam

pengimplementasian reformasi birokrasi

9

Meningkatnya indeks efektifitas organisasi di lingkungan Kemendikbud

Persentase unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang hasil evaluasi organisasinya efektif

60 3.153.345.000

Persentase unit kerja yang menerapkan Prosedur operasional standar (POS AP) di lingkungan Kemendikbud

50 1.343.211.000

Persentase unit kerja yang menerapkan analisis jabatan di lingkungan Kemendikbud

50 2.045.142.000

Meningkatnya Tata kelola Biro Ortala

Predikat SAKIP Biro Ortala minimal BB

BB 991.970.000

Nilai Kinerja Anggaran atas pelaksanaan RKA-K/L Biro Ortala minimal 91

91

Pada tahun 2020 dilakukan efisiensi anggaran sebesar Rp 5.000.000.000 yang digunakan untuk subsidi Rumah Sakit Covid, penambahan kuota internet, dan BSU (Bantuan Subsidi Upah). Efisiensi diambil dari dana perjalanan dinas yang selama pandemi Covid ini tidak dapat dilaksanakan. Untuk pelaksanaan efisiensi ini dikoordinasikan dengan Biro Perencanaan melalui revisi DIPA Biro Organisasi dan Tata

(13)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Bab III

AKUNTABILITAS KINERJA

Dalam rangka penyusunan laporan kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana tahun 2020, metode yang dilakukan adalah dengan melakukan pengumpulan data kinerja dengan melibatkan seluruh kelompok substansi di lingkungan Biro Organisasi dan Tata Laksana. Data kinerja yang dikumpulkan berupa rincian capaian kinerja, output, dan outcome kegiatan serta realisasi anggaran dan informasi lain terkait dengan capaian kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana tahun 2020.

Pengumpulan data kinerja dimaksudkan untuk memperoleh data kinerja yang akurat, lengkap, tepat waktu, dan konsisten sehingga berguna untuk pengambilan keputusan dalam rangka perbaikan kinerja tanpa meninggalkan prinsip keseimbangan manfaat dan biaya serta efisiensi dan efektifitas. Selain itu, pengukuran kinerja dilakukan dengan cara membandingkan realisasi dengan target kinerja dan anggaran yang telah diperjanjikan dalam dokumen Perjanjian Kinerja dengan tujuan untuk melihat perkembangan dan ketepatan pelaksanaan kegiatan dalam rangka pengukuran kinerja. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja diatas, dilakukan evaluasi terhadap capaian setiap indikator kinerja untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung keberhasilan serta kendala atau permasalahan dalam pencapaian kinerja. Faktor pendukung keberhasilan dan kendala atau permasalahan yang menghambat pencapaian target kinerja harus dicermati dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program dan kegiatan dimasa akan datang. Dalam evaluasi kinerja juga dilakukan perbandingan antara realisasi kinerja dengan target yang telah ditetapkan dan realisasi kinerja pada tahun berjalan dengan realisasi tahun lalu serta perbandingan lain yang diperlukan.

(14)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

A. CAPAIAN KINERJA

setiap sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam dokumen perjanjian kinerja perlu diukur tingkat ketercapaiannya, hal itu penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau kegagalan unit kerja dalam mempertanggungjawabkan tugas yang diamanatkan. Berikut tingkat ketercapaian sasaran strategis Biro Organisasi dan Tata Laksana sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian kinerja.

Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Target Kinerja

Realisasi % Capaian Terwujudnya indeks

capaian reformasi birokrasi yang optimal

Jumlah Satker di lingkungan Kemendikbud dengan indeks capaian reformasi birokrasi minimum 75 (WBK) dan 85 (WBBM)

22 17 77,30

Jumlah unit eselon I yang

dibina dalam

pengimplementasian reformasi birokrasi

9 9 100,00

Jumlah unit eselon I yang dievaluasi dalam pengimplementasian reformasi birokrasi

9 9 100,00

Meningkatnya indeks efektifitas organisasi di lingkungan

Kemendikbud

Persentase unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang hasil evaluasi organisasinya efektif

60 95,80 159,60

Persentase unit kerja yang menerapkan Prosedur operasional standar (POS AP) di lingkungan Kemendikbud

50 59,14 118,90

Persentase unit kerja yang menerapkan analisis jabatan di lingkungan Kemendikbud

50 38,95 77,90

Meningkatnya Tata kelola Biro Ortala

Predikat SAKIP Biro Ortala minimal BB

BB BB 100,00

Nilai Kinerja Anggaran atas pelaksanaan RKA-K/L Biro Ortala minimal 91

91 88,30 97,03

(15)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

B. Analisis Capaian Kinerja Sasaran Kegiatan 1

➢ Terwujudnya indeks capaian reformasi birokrasi yang optimal.

Jumlah satker di lingkungan Kemendikbud dengan indeks capaian RBI minimum 75 (WBK) dan 85 (WBBM)

Satker adalah unit kerja di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terdiri dari: Biro, Pusat, Sekretariat Unit Utama, Direktorat, UPT, LLDikti, PTN, dan Sekretariat LSF. Satker di sini tidak termasuk Itjen karena Itjen adalah Tim Penilai Internal yang dibentuk oleh pimpinan instansi yang bertugas melakukan penilaian dalam rangka memperoleh predikat ZI WBK/ WBBM.

Berdasarkan PermenPANRB Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pedoman Pembangunan ZI WBK/WBBM di instansi pemerintah, kriteria satker untuk dapat ditetapkan sebagai satker ZI WBK/WBBM sebagai berikut:

• mencapai WBK adalah predikat yang diberikan kepada unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang mencapai indeks reformasi birokrasi paling sedikit 75.

• mencapai WBBM adalah predikat yang diberikan kepada unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang mencapai indeks reformasi birokrasi paling sedikit 85.

Baseline diambil dari jumlah satker di lingkungan Kemendikbud yang berpredikat WBK/WBBM pada tahun 2019 sebanyak 15 satker.

Penilaian dilakukan oleh Menteri PAN RB dan hasil akan diumumkan pada Desember tiap tahun.

IKK 1

(16)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Berdasarkan PermenPAN RB No 10 tahun 2019:

Indeks Capaian Reformasi Birokrasi= 60% Komponen Pengungkit meliputi 8% Manajemen Perubahan + 7% Penataan Tata Laksana+ 10% Penataan Sistem Manajemen SDM + 10% Penguatan Akuntabilitas Kinerja + 10% Penguatan Pengawasan + 15%

Penguatan Kualitas Pelayanan Publik] + 40% Komponen Hasil [meliputi 20% Terwujudnya Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN+ 20% Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada Masyarakat]

No Penilaian Skor WBK

(min 60%)

WBBM (min 75 %)

A Pengungkit 60 36 48

1 Manajemen Perubahan 5 3 3,75

2 Penataan Tata Laksana 5 3 3,75

3 Penataan SDM 15 9 11,25

4 Penguatan Akuntabilitas 10 6 7,5

5 Penguatan Pengawasan 15 9 11,25

6 Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

10 6 7,5

B Hasil 40 24 30

1 Pemerintahan Bersih dan Bebas KKN 20 18,5 18,88

2 Kualitas Pelayanan Publik 20 15 17

TOTAL 100 75 85

Indikator jumlah satker di lingkungan Kemendikbud dengan indeks capaian RBI minimum 75 (WBK) dan 85 (WBBM) dilihat dari jumlah satker yang berhasil ditetapkan sebagai satker berpredikat ZI- WBK/WBBM tahun 2020 melalui keputusan MenPANRB Nomor 934 Tahun 2020.

(17)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

• Unit kerja yang memeperoleh predikat ZI-WBK/ZI-WBBM sampai dengan tahun 2019 adalah :

1. LPMP Jawa Tengah;

2. P4TK BOE Malang;

3. BPAUD DIKMAS Jawa Timur;

4. LPMP Jawa Timur;

5. P4TK BMTI Bandung;

6. PP Paud DIKMAS JAWA BARAT;

7. PP Paud Jawa Tengah;

8. LPMP Bali;

9. LPMP DKI Jakarta;

10. LPMP Kalimatan Barat;

11. LPMP Lampung;

12. LPMP Riau;

13. PPPPTK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling;

14. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran;

15. Pusat Penilaian Pendidikan;

• Unit kerja yang memeperoleh predikat ZI-WBK/ZI-WBBM di tahun 2020 adalah :

1. Museum Basoeki Abdullah;

2. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta;

3. Politeknik Negeri Bandung;

4. PPPPTK Bidang Bangunan dan Listrik;

5. PPPPTK Bidang Bisnis dan Pariwisata;

6. PPPPTK Bidang Ilmu Pengetahuan Alam;

7. PPPPTK Bidang Matematika;

8. PPPPTK Bidang Pertanian;

9. PPPPTK Bidang Senidan Budaya;

10. Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra;

11. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai;

(18)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

12. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika Malang;

13. Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali;

14. LPMP Daerah Istimewa Yogyakarta;

15. LPMP Jawa Barat;

16. LPMPJawaTengah;

17. LPMP Nusa Tenggara Barat

Realisasi unit kerja yang mendapatkan predikat ZI-WBK dan ZI- WBBM pada tahun 2020 belum mencapai target renstra atau target kinerja. Di dalam target kinerja tahun 2020 jumlah unit kerja yang mendapatkan predikat ZI-WBK/ZI-WBBM adalah sebesar 22 unit kerja, namun realisasi yang dapat tercapai berjumlah 17 unit kerja Ketidaktercapaian target kinerja ini dikarenakan pembinaan reformasi birokrasi dilaksanakan pada bulan April 2020 sedangkan pendanaan untuk kegiatan ini dimulai pada akhir bulan mei. Jadwal penilaian bagi unit kerja yang memperoleh ZI-WBK/ZI-WBBM telah ditetapkan oleh Menpan RB pada bulan Desember 2020. Dengan rentang waktu yang cukup sempit maka ada kesulitan untuk mempersiapkan satker yang diusulkan untuk memperoleh ZI- WBK/ZI-WBBM

14 15 16 17

Tahun 2019 Tahun 2020

Satker yang memperoleh ZI-WBK dan ZI-WBBM

Tahun 2019 Tahun 2020

(19)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Dalam mewujudkan indikator kinerja di atas, terdapat beberapa program dan kegiatan yang telah diupayakan antara lain:

1. pendampingan pembangunan ZI WBK/WBBM;

2. fasilitasi pengisian LKE PMPZI;

3. koordinasi penilaian dan pengusulan unit kerja calon ZI WBK/WBBM

Gambar Penghargaan pemimpin perubahan

Hambatan/kendala/permasalahan/faktor penghambat yang dihadapi dalam upaya pencapaian target antara lain:

1. tenggat waktu yang minim dalam persiapan hingga pengusulan unit kerja calon ZI WBK/WBBM;

2. terbatasnya sumber daya manusia dibanding dengan besarnya jumlah unit kerja dalam pendampingan persiapan penilaian PMPZI;

3. perlu pemahaman bersama tentang penilaian instrument reformasi birokrasi yang baru sehingga penilaian dapat berjalan dengan baik; dan

(20)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

4. adanya pandemi sehingga menghambat kelancaran pendampingan serta penilaian unit kerja calon ZI WBK/WBBM.

Langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan/hambatan yang di hadapi agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. penyusunan timeline program/kegiatan persiapan hingga pengusulan ZI WBK/ WBBM;

2. penyusunan timeline program/kegiatan persiapan hingga pengusulan ZI WBK/WBBM;

3. pendampingan persiapan dan penilaian pembangunan ZI WBK/WBBM oleh Kementerian PAN dan RB; dan

4. memaksimalkan waktu dan tenaga yang ada melalui pendampingan langsung yang terbatas dan video conference dalam pendampingan ZI WBK/WBBM.

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. komitmen pimpinan dan pegawai serta seluruh unit kerja calon ZI WBK/WBBM untuk memberikan yang terbaik dalam persiapan hingga pengusulan unit kerja calon ZI WBK/WBBM;

2. memaksimalkan pendayagunaan teknologi dan sumber daya dalam pendampingan ZI WBK/WBBM;

3. koordinasi yang intens antar unit kerja dan Kementerian PAN dan RB dalam persiapan dan pengusulan ZI WBK/WBBM.

(21)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Jumlah unit eselon I yang dibina dalam pengimplementasian reformasi birokrasi”

Dengan adanya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 26 Tahun 2020 tentang Pedoman Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi, terdapat beberapa standar dan prosedur penilaian reformasi birokrasi pada instansi pemerintah, khususnya pada instrumen penilaian pelaksanaan reformasi birokrasi. Perbedaan instrument tampak pada tabel berikut.

Dasar Hukum Komponen Bobot Sub-Komponen

Peraturan Menteri Pendayagunaan

Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah

Pengungkit 60% a. Manajemen Perubahan (2%);

b. Deregulasi Kebijakan (2%);

c. Penataan Organisasi (3%);

d. Penataan Tata Laksana (2,5%);

e. Penataan Manajemen SDM (3%);

f. Penguatan

Akuntabilitas (2,5%);

g. Penguatan

Pengawasan (2,5%);

h. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (2,5%).

Hasil 40% 1. Nilai akuntabilitas kinerja;

2. Survei internal integritas organisasi;

3. Survei eksternal pelayanan public;

4. Survei eksternal persepsi korupsi;

5. Opini BPK.

IKK 2

(22)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Dasar Hukum Komponen Bobot Sub-Komponen Peraturan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 26 Tahun 2020 tentang Pedoman Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi

Pengungkit 60%

1. Aspek Pemenuhan

20% a. Manajemen Perubahan (2%);

b. Deregulasi Kebijakan (2%);

c. Penataan Organisasi (3%);

d. Penataan Tata Laksana (2,5%);

e. Penataan Manajemen SDM (3%);

f. Penguatan

Akuntabilitas (2,5%);

g. Penguatan

Pengawasan (2,5%);

h. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (2,5%).

2. Aspek Hasil Antara

10% a. Kualitas Pengelolaan Arsip (1%);

b. Kualitas Pengelolaan Pengadaan Barang (1%);

c. Kualitas Pengelolaan Keuangan (1%);

d. Kulitas Pengelolaan Aset (1%);

e. Merit System (1%);

f. ASN Profesional (1%);

g. Kualitas Perencanaan (1%);

h. Maturitas SPIP (1%);

i. Kapabilitas APIP (1%);

j. Tingkat Kepatuhan Standar Pelayanan (1%)

3. Aspek Reform

30% a. Manajemen Perubahan (3%);

b. Deregulasi Kebijakan (3%);

c. Penataan Organisasi (4,5%);

d. Penataan Tata Laksana (3,75%);

e. Penataan Manajemen

(23)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Dasar Hukum Komponen Bobot Sub-Komponen f. Penguatan

Akuntabilitas (3,75%);

g. Penguatan

Pengawasan (3,75%);

h. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (3,75%)

Hasil 40%

a. Akuntabilitas Kinerja dan Keuangan

10% a. Opini BPK (3%);

b. Nilai Akuntabilitas Kinerja (7%)

b. Kualitas Pelayanan Publik

10% Indeks Persepsi Kualitas Pelayanan (10%)

c. Pemerintah yang Bersih dan Bebas KKN

10% Indeks Persepsi Anti Korupsi (10%)

d. Kinerja Organisasi

10% a. Capaian Kinerja (5%) b. Kinerja Lainnya (2%) c. Survei Internal

Organisasi (3%)

Pembinaan dilakukan utamanya dalam memahami pelaksanaan dan penilaian reformasi birokrasi dengan pedoman pelaksanaan reformasi birokrasi yang baru. Jumlah unit kerja yang dibina diukur dari terselesaikannya pembinaan reformasi birokrasi pada suatu unit utama di lingkungan Kemendikbud.

Program/kegiatan terkait yang dilaksanakan dalam upaya pencapaian target indikator kinerja yang ditetapkan antara lain:

1. sosialisasi reformasi birokrasi Kementerian;

2. pendampingan pengisian LKE PMPRB;

3. fasilitasi Layanan Prima; dan 4. forum agen perubahan.

(24)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Gambar forum agen perubahan Gambar pelaksanaan fasilitasi pelayanan prima

Hambatan/kendala/permasalahan/faktor penghambat yang dihadapi dalam upaya pencapaian target antara lain:

1. tenggat waktu yang minim dalam persiapan hingga penilaian RB;

2. kurangnya pemahaman unit kerja terhadap instrument penilaian reformasi birokrasi yang baru;

3. terbatasnya sumber daya manusia dalam melakukan pendampingan pelaksanaan RB mengingat pelaksanaan RB dan pengusulan unit kerja calon ZI WBK/WBBM yang berdekatan;

4. adanya pandemi sehingga terbatasnya ruang gerak dalam pelaksanaan pembinaan.

Langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan/hambatan yang dihadapi agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. penyusunan timeline pelaksanaan program dan kegiatan pembinaan unit kerja;

2. fasilitasi pembinaan oleh Kementerian PAN dan RB terkait pedoman evaluasi RB yang baru;

3. memaksimalkan sumber daya manusia dan teknologi yang ada.

(25)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. komitmen seluruh unit kerja di lingkungan Kemendikbud dalam mengikuti pembinaan dan mengimplementasikannya dalam unit kerja masing-masing; dan

2. koordinasi yang intens antar unit kerja dan Kementerian PAN dan RB dalam pelaksanaan pembinaan sampai penilaian RB.

Jumlah Unit Eselon I yang dievaluasi dalam pengimplementasian Reformasi birokrasi

Penilaian pelaksanaan reformasi birokrasi dilaksanakan secara mandiri oleh masing-masing unit kerja dengan didampingi oleh Sekretariat Jenderal dan Inspektorat Jenderal. Penilaian RB pada tahun ini menggunakan instrument evaluasi yang baru dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 26 Tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Reformasi Birokrasi.

Setelah pelaksanaan reformasi birokrasi dilakukan secara mandiri oleh unit kerja, hasil tersebut akan dinilai dan disampaikan kepada Kementerian PAN dan RB untuk dilakukan penilaian oleh Tim Penilai Nasional. Jumlah unit eselon I yang dievaluasi dalam pengimplementasian reformasi birokrasi diukur dari unit eselon I yang telah menyelesaikan penilaian mandiri pelaksanaan reformasi birokrasi dan telah diverifikasis oleh Inspektorat Jenderal bersama- sama dengan Biro Organisasi dan Tata Laksana.

IKK 3

(26)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Program/kegiatan terkait yang dilaksanakan dalam upaya pencapaian target indikator kinerja yang ditetapkan antara lain:

1. Fasilitasi dan verifikasi penilaian RB;

2. Penyampaian hasil penilaian RB Kemendikbud kepada Kementerian PAN dan RB;

3. fasilitasi penilaian PMPRB oleh Kementerian PAN dan RB; dan 4. Fasilitasi exit meeting hasil evaluasi RB Kemendikbud.

Gambar Fasilitasi Pengisian LKE PMPRB

Gambar Exit Meeting Evaluasi RB Kemendikbud 2020

(27)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Hambatan/kendala/permasalahan/faktor penghambat yang dihadapi dalam upaya pencapaian target antara lain:

1. perlunya pemahaman yang menyeluruh terkait instrument penilaian RB;

2. terbatasnya sumber daya dalam memfasilitasi penilaian RB oleh Kementerian PAN dan RB; dan

3. adanya pandemi yang membatasi ruang gerak penilaian RB secara mandiri ataupun oleh Tim Penilai Nasional.

Langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan/hambatan yang dihadapi agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. koordinasi dan sosialisasi penilaian RB oleh Kementerian PAN dan RB;

2. memanfaatkan sumber daya teknologi yang ada untuk melaksanakan penilaian RB dengan maksimal;

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. koordinasi yang intens dengan unit utama terkait catatan penilaian dan kelengkapan data dukung LKE PMPRB; dan

2. komitmen unit utama dalam melaksanakan penilaian RB serta menyediakan data dukung yang cukup dalam penilaian sesuai dengan instrument RB terbaru.

(28)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Sasaran Kegiatan 2: Meningkatnya indeks efektifitas organisasi di Lingkungan Kemendikbud

Persentase unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang hasil evaluasi organisasinya efektif

Evaluasi organisasi di lingkungan Kemendikbud mengacu kepada Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pedoman Evaluasi Kelembagaan Instansi Pemerintah yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor Tahun 2002 tentang perubahan Permendikbud 37 Tahun 2019 tentang Pedoman Evaluasi Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang pedoman evaluasi organisasi di lingkungan Kemendikbud, perubahan ini karena bergabungnya fungsi pendidikan tinggi menjadi bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Permendikbud tersebut mengatur bahwa evaluasi organisasi mencakup 2 (dua) dimensi yaitu dimensi struktur organisasi dan dimensi proses organisasi. Dimensi struktur organisasi terdiri dari 3 (tiga) subdimensi yaitu subdimensi kompleksitas, subdimensi formalisasi, dan subdimensi sentralisasi. Sedangkan dimensi proses organisasi terdiri dari 5 (lima) subdimensi yaitu subdimensi keselarasan, subdimensi tata kelola dan kepatuhan, subdimensi perbaikan dan peningkatan proses, subdimensi manajemen resiko dan subdimensi teknologi informasi. Evaluasi organisasi dilakukan dalam rangka memperbaiki, menyesuaikan, dan menyempurnakan organisasi sesuai dengan kebutuhan lingkungan strategis yang sangat dinamis sebagai upaya mewujudkan organisasi yang tepat fungsi, tepat proses, dan tepat ukuran.

Pelaksanaan evaluasi organisasi dilakukan menggunakan aplikasi IKK 1

(29)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

laman http://sievo.kemdikbud.go.id. Pengukuran capaian kinerja ini dilakukan dengan cara menghimpun hasil evaluasi organisasi unit kerja yang melakukan evaluasi organisasi selama tahun 2020 kemudian dibandingkan dengan target tahunan yang telah ditetapkan dalam perjanjian kinerja. Dari hasil pengukuran kinerja yang dilakukan sampai akhir tahun 2020 diperoleh capaian kinerja untuk indikator ini yaitu persentase unit kerja yang hasil evaluasi organisasinya efektif yaitu sebesar 95,8% yang terdiri dari unit kerja berada pada komposit P4 (organisasinya efektif) sebanyak 71,4% dan komposit P5 (sangat efektif) yaitu sebanyak 24,4% dari total 332 unit kerja yang dilakukan evaluasi. Akan tetapi masih terdapat 0,6% Unit kerja berada di Komposit P1 (belum efektif), 0,3% unit kerja berada di komposit P2 (belum efektif), 3% satker berada di komposit P3 (cukup efektif). Target dalam Renstra untuk indikator kegiatan ini adalah 60%, sehingga realisasi dalam indikator kegiatan ini mencapai 159,6%. Statistik peringkat komposit terhadap hasil evaluasi organisasi dapat diuraikan dalam grafik sebagai berikut:

Realisasi capaian kinerja kegiatan tahun 2020 melebihi dari target renstra dan perjanjian kinerja yaitu sebesar 95,8%. Hal ini disebabkan karena

(30)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

rentang kendali organisasi efektif (P4) cukup lebar yaitu antara 61 sampai dengan 80. Unit kerja yang berada pada komposit P4 cukup besar dengan perolehan nilai batas bawah yaitu 61 sampai 74 dari P4 tersebut. Hasil yang di harapkan dari unit kerja berkisar antara 75 sampai 80. Dengan demikian dapat dikatakan organisasi tersebut dari segi struktur dan proses sudah efektif.

Hasil evaluasi organisasi Tahun 2019 sebagai berikut:

Suatu Unit kerja bila berada dalam komposit P4 mencerminkan bahwa dari satker tersebut sisi struktur dan proses, organisasi dinilai tergolong efektif, Struktur dan proses organisasi yang ada dinilai mampu mengakomodir kebutuhan internal organisasi dan mampu beradaptasi terhadap dinamika perubahan lingkungan eksternal organisasi. Namun struktur dan proses organisasi masih memiliki beberapa kelemahan minor yang dapat segera diatasi segera apabila diadakan perbaikan melalui tindakan rutin yang bersifat marjinal.

(31)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Unit kerja yang berada dalam komposit P5 mencerminkan bahwa satker tersebut dari sisi struktur dan proses, organisasi dinilai tergolong sangat efektif. Struktur dan proses organisasi dinilai mempunyai kemampuan sangat tinggi untuk mengakomodir kebutuhan internal organisasi dan sangat mampu beradaptasi terhadap dinamika perubahan lingkungan eksternal organisasi.

Hasil evaluasi organisasi tahun 2019 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020 karena jumlah unit kerja yang dilakukan evaluasi di tahun 2020 jumlahnya lebih banyak yaitu 332 unit kerja sedangkan tahun 2019 evaluasi organisasi dilaksanakan pada 192 unit kerja.

Ketercapaian Indikator Kinerja kegiatan didukung oleh:

1. Melakukan penyempurnaan aplikasi Evaluasi Organisasi Kemdikbud (SIEVO);

2. Melakukan kegiatan Sosialisasi Evaluasi Organisasi sesuai dengan Permendikbud Nomor 45 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor Tahun 2002 tentang perubahan Permendikbud 37 Tahun 2019 tentang Pedoman Evaluasi Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;

94 95 96 97 98 99

Tahun 2019 Tahun 2020

Nilai Evaluasi Organisasi Biro Ortala

Tahun 2019 Tahun 2020

(32)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

3. Melakukan koordinasi dengan Unit Utama, PTN, LL Dikti, UPT dan Sekretariat LSF;

4. Melakukan pengisian Instrumen Evaluasi Organisasi melalui Aplikasi Sievo; dan

5. Pengumpulan dan pengolahan data hasil evaluasi organisasi.

Adapun kendala/permasalahan yang dihadapi dalam upaya pencapaian target indikator kinerja adalah:

1. Sebagian unit kerja belum memberikan jawaban yang mampu mencerminkan kondisi struktur dan proses pada unit kerjanya secara detail sesuai dengan apa yang telah dijawab pada pernyataan tertutup instrumen evaluasi organisasi, bahkan ada jawaban dari pertanyaan terbuka yang tidak sinkron dengan jawaban pernyataan tertutup sehingga jawaban yang diberikan menjadi tidak konsisten.

2. Bukti dukung yang dilampirkan pada sebagian unit kerja pada instrumen evaluasi organisasi masih kurang lengkap, bahkan terdapat unit kerja yang melampirkan data dukung tidak sesuai dengan pertanyaan yang terdapat pada instrumen evaluasi organisasi.

3. Batas waktu pengisian instrumen evaluasi organisasi dinilai terlalu cepat oleh unit kerja.

(33)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Langkah antisipasi yang diambil untuk mengatasi kendala/

permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian target indikator kinerja yaitu:

1. Memberikan penjelasan lebih detail terhadap setiap butir pertanyaan yang terdapat dalam instrumen evaluasi organisasi kepada setiap unit kerja;

2. Melakukan penyempurnaan/ pengembangan terhadap aplikasi SIEVO; dan

3. Melakukan koordinasi terhadap unit kerja terkait batas waktu pengumpulan evaluasi organisasi sehingga unit kerja dapat mengisi instrumen evaluasi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

(34)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Gambar . Sosialisasi pedoman evaluasi organisasi Tahun 2020

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. Melakukan koordinasi dengan setiap unit kerja untuk membentuk tim evaluasi pada unit kerjanya; dan

2. Melakukan pembinaan terhadap unit kerja yang hasil evaluasi organisasi tahun sebelumnya masih belum efektif sehingga diharapkan ada perbaikan terhadap unit kerjanya.

Persentase unit kerja yang menerapkan Prosedur Operasional Standar (POS AP) di lingkungan Kemendikbud

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman Pedoman Penyusunan Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan, standar operasional prosedur adalah serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan mengenai berbagai proses penyelenggaraan aktivitas organisasi, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana dan oleh siapa dilakukan.

Evaluasi penerapan Prosedur Operasional Standar Administrasi Pemerintahan (POS AP) dilakukan untuk mendapatkan informasi yang memadai efektifitas dan efisiensi penerapan POS AP di

IKK 2

(35)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

di lingkungan Kemendikbud pada tahun 2020 berjumlah 328 unit kerja terdiri dari unit kerja yang berbentuk biro, pusat, sekretariat unit utama, direktorat, inspektorat, Unit Pelaksana Teknis, Perguruan Tinggi Negeri, dan Sekretariat LSF.

Metode yang digunakan adalah survei melalui dua instrumen, yaitu instrumen tertutup untuk melihat efektifitas dan efisiensi penerapan POS AP di unit kerja dan menilai persepsi pegawai terhadap penerapan POS AP dan instrumen untuk menilai kelengkapan dokumen POS AP yang disusun oleh unit kerja berdasarkan peraturan terkait pedoman penyusunan POS AP, tugas dan fungsi unit kerja, substansi dokumen POS AP, dan peta proses bisnis.

Kategorisasi data penerapan POSAP di unit kerja dikatakan sudah menerapkan POS AP apabila nilai yang diperoleh dalam kategori minimal Baik.

Metode penghitungan yang digunakan untuk melihat kategorisasi penerapan POS AP di lingkungan unit kerja adalah dengan melihat jumlah unit kerja yang telah menerapkan POS AP (pada kategori Baik dan Sangat Baik) dibagi dengan jumlah seluruh unit kerja di lingkungan Kemendikbud dikalikan 100 %

Evaluasi Penerapan POS AP di lingkungan Kemendikbud tahun 2019 dan 2020

Instrumen II Instrumen I

Bobot masing-masing

Instrumen 0.6 0.4

Kategorisasi predikat Batas bawah Batas Atas

Tidak Baik 0 20

Kurang Baik 21 40

Cukup 41 64

(36)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Baik 65 80

Sangat Baik 81 100

Tahun Jumlah unit kerja yang di evaluasi

Jumlah Unit kerja Predikat Baik

Predikat Baik (%)

Jumlah Unit Kerja yang Sangat Baik

Predikat Sangat Baik (%)

2019 84 44 52,38 39 46,43

2020 328 105 32,01 89 27,13

Realisasi nilai kinerja tahun 2020 melebihi target kinerja kegiatan yang terdapat di renstra atau di perjanjian kinerja disebabkan :

• Pada tahun 2020 mekanisme kegiatan yang dilakukan menggunakan system hybrid/blanded yaitu sistem yang menggunakan perpaduan antara mekanisme daring dan mekanisme tatap muka. Penggunaan metode ini menyebabkan daya jangkau pembinaan evaluasi POS AP menjadi lebih menyeluruh dan lebih sering dengan jumlah anggaran yang sama. Dengan demikian pemahaman dan kesadaran unit kerja

0 10 20 30 40 50 60

Baik

Sangat Baik

Presentase Unit Kerja di lingkungan Kemendikbud yang Menerapkan Prosedur Operasional Standar (POS

AP) dengan Predikat Baik dan Sangat Baik

2019 2020

(37)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

berdampak positif terhadap hasil evaluasi POS AP yang dilaksanakan oleh Biro Organisasi dan Tata Laksana.

• Pada tahun 2019 hasil evaluasi penerapan POS AP lebih tinggi dari pada hasil evaluasi POS AP pada tahun 2020 dikarenakan adanya perbedaan metode pelaksanaan evaluasi penerapan POS AP. Pada tahun 2019 unit kerja yang dievaluasi menggunakan metode sampling tidak melibatkan seluruh unit kerja. Jumlah unit kerja yang dijadikan sampling pada tahun 2019 sebanyak 84 unit kerja dari 202 unit kerja, sedangkan di tahun 2020 jumlah unit kerja yang dievaluasi seluruh unit kerja di lingkungan Kemendikbud.

Unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang telah menerapkan POS AP dengan baik maka dalam melaksanakan pekerjaannya para pegawai telah memiliki standarisasi cara yang dilakukan dan dapat meningkatkan akuntabilitas dalam melaksanakan penyelesaian pekerjaan sehingga diharapkan dapat menjaga dan meningkatkan kualitas hasil/output dan kebermanfaatan/outcome. Selain hal tersebut, unit kerja yang telah menerapkan POS AP dengan baik menunjukkan bahwa unit kerja tersebut dalam melaksanakan kinerja organisasinya telah efektif dan efisien serta dikelola dengan baik.

Ketercapaian Indikator Kinerja kegiatan di dukung oleh:

1. pendampingan fasilitasi penyusunan POS AP;

2. penyusunan POS AP generik bidang ketatausahaan;

3. penyusunan instrumen evaluasi penerapan POS AP;

(38)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

4. uji keterbacaan evaluasi POS AP; dan

5. evaluasi penetapan POS AP di lingkungan Kemendikbud.

Adapun kendala/ permasalahan yang dihadapi dalam upaya pencapaian target indikator kinerja adalah:

1. kurangnya jumlah SDM di Biro Ortala yang menangani analisis POS AP;

2. kompetensi SDM yang menangani POS AP di setiap unit kerja belum merata;

3. adanya unit kerja baru di lingkungan Kemendikbud yang belum memiliki dokumen POS AP; dan

4. masih adanya unit kerja yang belum memahami kebijakan penerapan POS AP.

Langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan/hambatan yang di hadapi agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. mengajukan permohonan tambahan SDM/Pegawai untuk menangani POS AP;

2. optimalisasi pegawai/SDM yang ada untuk membantu melakukan analisis POS AP;

3. melakukan pendampingan penyusunan dan evaluasi penerapan POS AP; dan

4. memberikan pelatihan dan pemahaman mengenai kebijakan penerapan POS AP kepada seluruh unit kerja.

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

Berkoordinasi dengan Sekretariat Unit Utama untuk membantu dalam optimalisasi penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi

(39)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Persentase unit kerja yang menerapkan analisis jabatan di lingkungan Kemendikbud

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pedoman Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja, analisis jabatan adalah proses pengumpulan, pencatatan, pengolahan, dan penyusunan data jabatan menjadi informasi jabatan.

Evaluasi penerapan analisis jabatan dilakukan untuk mendapatkan informasi yang memadai terkait pelaksanaan analisis jabatan di lingkungan Kemendikbud. Sasaran evaluasi adalah unit kerja di lingkungan Kemendikbud yang berbentuk biro, pusat, sekretariat unit utama, direktorat, inspektorat, UPT, PTN, dan Set LSF.

Metode yang digunakan adalah survei melalui dua instrumen, yaitu instrumen tertutup untuk melihat persepsi pegawai terhadap penerapan analisis jabatan di unit kerja masing-masing dan instrumen untuk memeriksa penerapan unsur-unsur analisis jabatan di lingkungan unit kerja berdasarkan Permenpan RB Nomor 1 Tahun 2020.

Kategorisasi data penerapan analisis jabatan di unit kerja dikatakan sudah menerapkan analisis jabatan apabila nilai yang diperoleh dalam kategori minimal Baik.

Metode penghitungan yang digunakan untuk melihat kategorisasi penerapan analisis jabatan di lingkungan unit kerja adalah dengan melihat jumlah unit kerja yang telah menerapkan analisis jabatan dibagi dengan jumlah seluruh unit kerja di lingkungan Kemendikbud dikalikan 100 %.

Kategorisasi Batas Bawah Batas Atas

Sangat Baik 162,6 200

Baik 125,1 162,5

IKK 3

(40)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Kurang Baik 87,6 125

Tidak Baik 50 87,5

Jumlah unit kerja di lingkungan Kemendikbud adalah 344 unit kerja.

Berdasarkan pertimbangan kewenangan dan kondisi unit kerja, yang menjadi sasaran evaluasi penerapan analisis jabatan adalah sebanyak 326 unit kerja. Dari 326 unit kerja tersebut, unit kerja yang mendapatkan nilai A (Sangat Baik) adalah sebanyak 72 dan unit kerja yang mendapatkan nilai B sebanyak 55. Dengan melihat hasil pengisian instrumen 1, disimpulkan unit kerja yang telah melaksanakan analisis jabatan adalah sebesar 38,95% dari jumlah keseluruhan total unit kerja di lingkungan Kemendikbud sebagaimana tercantum dalam tabel sebagai berikut.

Tahun Jumlah unit kerja yang di

evaluasi

Predikat Baik (%)

Predikat Sangat Baik

(%)

Total

2020 326 16,87% 22,08% 38,95%

* Evaluasi pelaksanaan analisis jabatan baru dilaksanakan mulai tahun 2020 Unit kerja yang telah mendapatkan kategori baik dan sangat baik dalam evaluasi pelaksanaan analisis jabatan dapat diartikan bahwa proses analisis jabatan dalam unit kerja tersebut telah berjalan dengan baik. Pimpinan telah menyosialisasikan kebijakan terkait analisis jabatan dengan baik.

Unit kerja yang pelaksanaan analisis jabatannya masih belum masuk ke dalam kategori Baik dan Sangat Baik dapat diartikan bahwa masih terdapat hambatan-hambatan dalam pelaksanaan analisis jabatan di unit kerja tersebut.

Realisasi prosentase unit kerja yang menerapkan analisis jabatan pada tahun 2020 lebih rendah dari target kinerja yang direncanakan dalam Renstra maupun dalam perjanjian kinerja, hal ini dikarenakan sebagai berikut:

(41)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

1. Pelaksanaan evaluasi penerapan analisis jabatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2020. Pelaksanaan yang mendekati akhir tahun ini dimaksudkan agar evaluasi yang dilaksanakan ini mendapatkan hasil yang seakurat mungkin dan unit kerja yang dievaluasi telah dapat menerapkan kebijakan perubahan organisasi yang terjadi pada awal tahun. Namun hal ini ternyata menyebabkan kurang maksimalnya pelaksanaan evaluasi karena persiapan untuk melaksanakan evaluasi menjadi lebih singkat dan instrumen evaluasi belum dapat tersosialisasi secara komprehensif kepada responden.

2. Tidak seluruh unit kerja mengisi secara benar instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan sehingga data yang masuk tidak dapat seluruhnya dipergunakan dalam analisis. Hal ini dikarenakan evaluasi ini baru pertama kali dilakukan sehingga pemahaman responden terhadap instrumen tersebut masih dirasakan belum mencukupi.

3. Belum adanya pedoman baku evaluasi analisis jabatan yang ditetapkan oleh KemenPANRB selaku intansi pembina. Hal ini tentunya memberikan kesulitan tersendiri bagi tim untuk merumuskan instrumen dan juga untuk menganalisis data yang ada. Untuk merumuskan instrumen dan menganalisis data tim analisis jabatan untuk saat ini masih berpedoman pada standar umum analisis jabatan.

Program/kegiatan terkait yang dilaksanakan dalam upaya pencapaian target indikator kinerja yang ditetapkan antara lain:

1. penyusunan konsep instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

2. uji keterbacaan instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

3. sosialisasi pelaksanaan survei;

4. pengisian instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan; dan

(42)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

5. pengolahan data evaluasi pelaksanaan analisis jabatan.

Hambatan/kendala/permasalahan/faktor penghambat yang dihadapi dalam upaya pencapaian target antara lain:

1. belum adanya pedoman evaluasi pelaksanaan analisis jabatan dari KemenPANRB;

2. kurangnya sosialisasi instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan; dan

3. tidak semua unit mengisi instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan.

Langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan/hambatan yang dihadapi agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

(43)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

1. proaktif ketika unit kerja meminta penjelasan lebih lanjut terkait survei;

2. menyampaikan hasil evaluasi pelaksanaan analisis jabatan kepada setiap unit utama; dan

3. mengingatkan unit kerja untuk mengisi survei sesuai dengan waktu.

Strategi yang dilakukan agar target indikator kinerja dapat tercapai antara lain:

1. melakukan fasilitasi analisis jabatan ke seluruh unit kerja;

2. melakukan sosialisasi terkait pelaksanaan survei evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

3. melakukan pendampingan dalam survei evaluasi pelaksanaan analisis jabatan;

4. mengembangkan dan menyempurnakan instrumen evaluasi pelaksanaan analisis jabatan; dan

5. mengembangkan metode pengisian instrumen berbasis aplikasi sianjab.

Sasaran Kegiatan 3: Meningkatnya Tata kelola Biro Ortala

Predikat SAKIP Biro Ortala Minimal BB

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, SAKIP merupakan rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat dan prosedur yang dirancang untuk tujuan penetapan dan pengukuran, pengumpulan data, pengklarifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi pemerintah, dalam rangka pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja instansi pemerintah.

IKK 1

(44)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Sebagai pedoman dalam implementasi SAKIP, berdasarkan Peraturan Menteri PAN RB No. 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi Atas Implementasi sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, hasil penilaian SAKIP dikategorikan sebagai berikut:

Nilai Predikat Interpretasi

>90-100 AA Sangat Memuaskan

>80-90 A Memuaskan

>70-80 BB Sangat Baik

>60-70 B Baik

>50-60 CC Cukup (memadai)

>30-50 C Kurang

0-30 D Sangat Kurang

Metode penghitungan Nilai SAKIP di dasarkan pada 5 komponen penilaian, yaitu:

No Komponen Bobot penilaian

1. Perencanaan kinerja 30 %

2. Pengukuran kinerja 25 %

3, Pelaporan kinerja 15 %

4. Evalauasi Kinerja 10 %

5. Capaian Kinerja 20 %

Total nilai 100 %

Hasil evaluasi akuntabilitas kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana Tahun 2020, berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja, sebagai berikut:

Tingkat penerapan akuntabilitas : BB

Nilai SAKIP : 74,08

(45)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Laporan Akuntabilitas Kinerja Biro Organisasi dan Tata Laksana - 2020

Sangat Baik, Akuntabel, berkinerja baik, memiliki sistem manajemen kinerja yang andal

Dengan rincian nilai sebagai berikut:

NO INDIKATOR BOBOT (%)

1. Perencanaan Kinerja (30%) 20,77

2. Pengukuran Kinerja (25%) 17,97

3. Pelaporan Kinerja (15%) 10,90

4. Evaluasi Kinerja (10%) 5,69

5. Pencapaian Sasaran/kinerja organisasi (20%) 18,75

Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tersebut di atas, direkomendasikan:

1. Perencanaan Kinerja

a) Sangat Baik, Akuntabel, berkinerja baik, memiliki sistem manajemen kinerja yang andal. Renstra agar dilengkapi dengan Tujuan yang akan dicapai selama periode Renstra dan rumusannya berorientasi hasil, dan dengan Indikator Tujuan dan Target Keberhasilan. Rumusan Tujuan dapat mengacu kepada Sasaran Program yang ada di atasnya, rumusan Indikator Tujuan dan Target dapat mengacu pada Indikator Kinerja (IKSS/IKP) dan target Indikator Kinerja (target IKSS/IKP pada akhir periode Renstra) pada unit kerja di atasnya; dan

b) Indikator Kinerja Kegiatan yang ditetapkan dalam Renstra agar dilengkapi dengan target keberhasilan selama periode Renstra;

c) Renstra agar direviu secara berkala (minimal setahun sekali) untuk memastikan:

(1) keselarasan rumusan tujuan/sasaran/indikator dengan tugas dan fungsi Unit Kerja;

Referensi

Dokumen terkait

(2) Menguji pengaruh investasi dan Pendapatan Asli Daerah baik secara simultan maupun parsial terhadap kemampuan daerah membiayai belanja pegawai pada pemerintah

Menimbang, bahwa proses penerbitan Surat Keputusan objek sengketa diawali dengan adanya Laporan Polisi No.Pol :LP-A/38/X/2013/Propam tanggal 29 Oktober 2013 yang

External Merge Sort Internal Sort

Profesi sebagai auditor eksternal mempunyai tanggungjawab melaksanakan pemeriksaan dan mengevaluasi bukti tentang kejadian dan kegiatan ekonomi perusahaan untuk memberikan

  Websiste:  www.policy.hu/suharto 

PEMBANGUNAN SISTEM AIR LIMBAH TERPUSAT SKALA KOTA 22001199 1 PENGEMBANGAN KEBIJAKAN DAN KINERJA PENGELOLAAN AIR LIMBAH 22001199. - Master Plan dan FS Kota Palembang Paket

{ Stasiun APRS yang umum { Bisa melihat dan dilihat. { Perlu TNC / Soundcard dan komputer „

Namun dalam uji hipotesis secara simultan dalam jangka pendek model I menujukkan hasil yang sama dengan estimasi dalam jangka panjang, yaitu variabel independen berupa