• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemegang Saham yang terhormat,

Tahun 2014 terus menerus ditandai dengan dinamika-dinamika di luar harapan semua pelaku bisnis dalam industri batubara. Sektor batubara ini harus bergulat dengan melambatnya permintaan dan menurunnya harga secara bertahap sejak tahun 2012 serta efek kumulatif selama bertahun-tahun yang berdampak serius pada kesehatan sektor ini pada tahun 2014. Setelah fase pertumbuhan selama satu dekade, secara tegas kini sektor industri ini memasuki periode harga yang lebih rendah, didorong oleh lingkungan makro global yang lemah dikombinasikan dengan pasar batubara global yang masih dipengaruhi oleh situasi kelebihan pasokan dan lemahnya konsumsi batubara, penurunan permintaan dari Cina dengan dikeluarkannya berbagai pembatasan impor yang menghambat ekspor. Suplai dari Australia tidak mengalami koreksi karena mereka dipengaruhi oleh sistem ekonomi ambil atau bayar serta penurunan harga Newcastle & HBA.

Tren pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga mengalami perlambatan sejak 5 tahun terakhir. Estimasi menyusutnya pertumbuhan tersebut dapat berbalik arah apabila iklim ekspor dan investasi yang terjadi di tahun 2015 bergerak di atas harapan. Pendapatan Pemerintah juga dipengaruhi oleh menurunnya kinerja sektor batubara.

Di antara dampak-dampak yang dialami sektor ini adalah bahwa beberapa pelaku marjinal sektor ini berhenti beroperasi. Sementara para pelaku utama menambah volume batubara untuk menggantikan penurunan ini dan membantu pencapaian skala ekonomi.

Meskipun demikian, pemain utama batubara Indonesia terus mengembangkan produksi sekitar 7%-8% selama tahun 2014. Kami menegaskan kembali komitmen kami untuk memberikan pertumbuhan imbal hasil yang berkelanjutan kepada para pemegang saham. Dengan sangat gembira saya laporkan bahwa kami berhasil atas komitmen kami selama tahun 2014.

Dear Our Valued Shareholders,

The year 2014 was continually marked by the dynamics beyond the expectations of all business players in the coal industry. This coal sector had to grapple with a slowing demand and soft prices since 2012 and the cumulative effect over the years had a serious effect on the health of the sector in 2014. Following a decade-long growth phase, it has now firmly entered a period of lower prices, driven by a subdued global macro environment combined with global coal market that is still affected with the oversupply situation of coal and the weak consumption of coal, the decrease in demand from China with its various import restriction pronouncements that hampered the exports. Australian supply did not experience a correction because they are influenced by the take or pay economic and also Newcastle & HBA price reduction.

The economic growth trends in Indonesia also have experienced a deceleration since the last 5 years. The shrinking growth estimates might reverse its course if the export and investment climates to occur in 2015 moving above the expectation. The Government’s revenues were also impacted by the drop in performance of the coal sector.

Some of the effects are that this sector has experienced some marginal players stopping in operations. The major players grew volumes to make up for the drop in realizations and help achieve economies of scale.

However, Indonesian major coal players continuing to grow productions by 7%-8% during the year 2014.

We reaffirmed our commitment to deliver sustainable growth in returns to shareholders. I am very pleased to report we delivered on our commitments during 2014.

/ Board of Directors’ Report

Laporan Direksi

Laporan Direksi / Board of Directors’ Report

MEMANDANG KE DEPAN DENGAN KEYAKINAN

Tanggapan kami terhadap hal ini adalah untuk terus fokus pada produktivitas, pengurangan biaya dan disiplin modal – memaksimalkan imbal hasil dari bisnis-bisnis yang ada serta memastikan bahwa hanya proyek-proyek yang tumbuh terbaik yang akan menarik modal.

Perseroan telah melanjutkan inisiatif rasionalisasi biaya yang dicanangkan tahun lalu, yakni fokus pada optimisasi biaya operasi, rasionalisasi overhead dan pengawasan ketat pada modal kerja. Meski pasar menantang, cakupan piutang dan hari persediaan dipertahankan masing-masing pada 43 hari dan 14 hari.

Sesuai dengan rencana Perseroan untuk memanfaatkan dana-dana IPO yang telah disampaikan dalam Prospektus, Perseroan telah berhasil menyelesaikan konstruksi proyek-proyek infrastruktur pada tahun 2014. Belanja modal yang dikeluarkan dipertahankan tetap sesuai dengan rencana dan posisi kas pada akhir Desember 2014 yang sebenarnya sedikit lebih tinggi dibandingkan pada akhir Desember 2013.

Pembangunan pelabuhan, konstruksi jalan, dan konstruksi lini konveyor yang baru telah berpengaruh pada produksi Perseroan, serta peningkatan mutu jalan-jalan berlanjut pada efisiensi. Belanja modal (capex) yang digunakan pada tahun 2014 berjumlah Rp. 45 milyar dan program capex tersebut seluruhnya dibiayai dari akrual internal/kas.

Setelah penyelesaian pembangunan Pelabuhan Nilau, Perseroan melakukan pengiriman perdana 10.000 MT batubara dari pelabuhan Nilau pada tahun 2014. Selain itu, Perseroan juga melakukan pengapalan dengan kapal kargo terbesar yang membuat biaya logistik lebih bersaing pada bulan April 2014, dimana Perseroan melakukan pengiriman perdana dengan ukuran terbesar yaitu dengan kapasitas 150.000 MT – 160.000 MT. Hal ini menambah fleksibilitas para konsumen dalam memilih jenis kapal yang digunakan, serta memberikan nilai ekonomis operasi. Hal-hal ini berkontribusi terhadap efisiensi dan nilai tambah pada batubara Perseroan.

Kami juga senang untuk melaporkan bahwa melalui komitmen kami dalam pertumbuhan yang berkelanjutan, Perseroan berhasil meningkatkan kualitas pengelolaan operasional dan pengendalian biaya, yang memungkinkan keuntungan dari efisiensi biaya tambang dan pencapaian produksi dan target penjualan tahun 2014.

Kami juga ingin melaporkan bahwa PT ICRA Indonesia memberikan peringkat (Idr) A- kepada Perseroan pada tanggal 10 April 2014. PT ICRA Indonesia adalah lembaga peringkat yang berafiliasi dengan Moody’s Investor Services. Selain itu, Perseroan juga termasuk dalam daftar 100 perusahaan terbesar di Indonesia berdasarkan pendapatan Perseroan sepanjang tahun 2013 menurut majalah Fortune Indonesia volume 93 pada tanggal 20 Juli 2014 serta masuk dalam top 20 eksportir pertambangan pada majalah majalah Indonesia SWA edisi ke-23, 30 Oktober 2014.

Menghadapi meningkatnya persediaan dikarenakan kelebihan pasokan batubara global dan juga koreksi harga batubara, Perseroan akan terus fokus pada program Perseroan dalam optimisasi biaya operasi, rasionalisasi biaya overhead dan mempertahankan pengendalian ketat terhadap modal kerja. Kami ingin mengkonfirmasi Dewan Komisaris, para Pemegang Saham Perseroan dan semua Pemangku Kepentingan bahwa Perseroan telah menetapkan untuk meningkatkan volume secara signifikan tanpa investasi lebih lanjut yang besar. Atas

LOOKING FORWARD WITH CONFIDENCE

Our response to this has been to continue to focus on productivity, cost reductions and capital discipline – squeezing maximum returns out of our existing businesses while ensuring only the best growth projects attract capital.

The Company has continued its cost rationalization initiative that was launched in the previous year focused on operating costs optimization, overheads rationalization and tight control on working capital. Despite a challenging market the account receivable and inventory days cover were kept at 43 days and 14 days respectively.

In accordance with the Company’s planned use of IPO funds that have been presented in the Prospectus, the Company has successfully completed the construction of infrastructure projects in 2014. The capex spent were kept within plans and our cash position as at end of December 2014 at was actually marginally higher than as at December 2013.

Port development, road constructions, and construction of the new line conveyor have affected the Company’s production, the upgrade of roads continued to the efficiency. The Capex used in 2014 was amounted of Rp. 45 billion and the capex programme was funded entirely out of internal accruals/cash.

Upon the completion of Nilau Port development, the Company made its first Nilau port shipping of 10,000 MT coal in 2014. Besides, the Company also has shipped through Cape-size vessel that made logistics costs more competitive in April 2014, in which the Company undertook the first Cape-size shipping with a capacity of 150,000 MT - 160,000 MT. This adds to the flexibility of the consumers in choosing the type of vessel used, as well as providing economic value of the operations. These contributed the efficiency and added value on the Company’s coal.

We are also pleased to report that through our commitment in sustainable growth, the Company was able to perform satisfactorily to improve the quality of operational management and cost control, which allowed the gain of mining cost efficiency and the achievement of 2014 production and sales target. We also wish to report that PT ICRA Indonesia ranked [Idr] A- to the Company on 10 April, 2014. PT ICRA Indonesia is the rating firm affiliated Moody’s Investor Services. Besides the Company also included in the list of 100 biggest companies in Indonesia based on the Company’s revenue during the year 2013 according to Fortune magazine volume 93 on July 20, 2014 and also included in the top 20 exporters of mining in Indonesia SWA magazine edition 23rd on October 30, 2014.

Facing increasing inventory due to global coal oversupply and coal price correction, the Company will continue to focus on its programs on operating cost optimization, overheads rationalization and maintaining a tight control on working capital. We wish to confirm to the Board of Commissioners, Shareholders of the Company and all Stakeholders that the Company has set itself up to scale up volumes significantly without any further substantial investments. On behalf of the Board of Directors and

Laporan Direksi / Board of Directors’ Report

kasih sedalam-dalamnya kepada para Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan atas kepercayaannya terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan dan kemajuan bisnis Perseroan di tahun 2014. Kami percaya bahwa Perseroan akan dapat meneruskan pertumbuhan yang berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

PROSPEK BISNIS DI TAHUN 2015

Permintaan batubara domestik diharapkan meningkat hampir dua kali lipat dari konsumsi batubara termal domestik selama 8 tahun ke depan dalam upaya memenuhi meningkatnya permintaan listrik nasional. Permintaan batubara domestik melalui PLN juga diisukan meningkat dua kali lipat dari kebutuhan saat ini dengan adanya rencana untuk menambah jumlah pembangkit listrik. Dari pembangkit listrik yang ada dan/atau yang akan mulai beroperasi di tahun 2015, Indonesia memerlukan suplai bahan bakar batubara sebanyak 90 juta ton pada tahun 2015. Bahkan, batubara yang cadangannya dimiliki negeri ini dalam jumlah besar, dianggap sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik yang lebih baik dibandingkan disel yang mahal. Saat ini, banyak pembangkit listrik di Indonesia yang masih memakai tenaga disel. Batubara domestik ditargetkan menjadi 66% dari total sumber bahan bakar dari pembangkit listrik pada tahun 2022 dibandingkan sebesar 52% saat ini. Sebagai konsekuensinya, konsumsi batubara domestik di Indonesia diharapkan untuk naik menjadi 151 juta metrik ton pada tahun 2022 dari jumlah 82,9 juta metrik ton pada tahun 2014.

Permintaan Indonesia akan listrik meningkat sekitar 8,4% per tahun. Oleh sebab itu, Perseroan akan terus mengikuti tren dari dalam dan luar negeri.

Atas nama Direksi, kami harus melaporkan bahwa tahun 2015 diharapkan akan tetap stabil dalam hal pasar maupun harga. Perseroan akan terus meningkatkan operasinya, sementara melanjutkan penekanan biaya.

Perseroan juga menargetkan penggunaan capex untuk tahun 2015 sekitar Rp. 95 milyar untuk pembangunan dan peningkatan infrastruktur. Dana-dana tersebut digunakan untuk pengembangan infrastruktur Perseroan yang mendukung kegiatan produksi Perseroan, akuisisi lahan, perbaikan jalan-jalan, dan perluasan jalan. Perseroan juga menargetkan volume produksi sekitar 8,8 juta ton dan volume penjualan sekitar 13,0 juta ton pada tahun 2015 dengan mencoba memasuki pasar baru terutama di kawasan Asia Tenggara.

Perseroan percaya bahwa tahun 2015 adalah waktu yang tepat bagi Perseroan untuk memperluas pasar. Banyak pasar-pasar baru seperti Pakistan, Filipina, Myanmar dan Vietnam yang menjadi sasaran efek pemasaran Perseroan. Perseroan melihat bahwa negara-negara tersebut sebagai negara berkembang dengan sebuah potensi pasar yang akan terus berkembang di tahun 2015, dengan sejumlah proyek pembangkit listrik yang akan memerlukan batubara sebagai sumber energi murah. Perseroan juga melihat peluang-peluang besar di India. The

Energy Information Administration (“IEA”) memproyeksikan

bahwa India akan menjadi importir batubara terbesar di dunia pada tahun 2020. Sementara Consultancy Wood Mackenzie memproyeksikan bahwa India akan menjadi penggerak terbesar pertumbuhan permintaan batubara di tahun 2015 karena industrinya meluas, menggantikan menyusutnya hasrat Cina akan batubara. India telah mengimpor 13,61 juta ton batubara termal di bulan Februari 2015. Sementara, Perseroan telah memasok permintaan batubara dari berbagai perusahaan utilitas (listrik, air dll) selama tahun 2014.

and Stakeholders for the trust in our sustainable growth and progress of Company’s businesses in 2014. We believe the Company will be able to continue its sustainable growth in the upcoming years.

BUSINESS PROSPECT IN 2015

The domestic coal demand is expected to nearly double domestic consumption of thermal coal over the next 8 years in an attempt to meet the nation’s growing electricity demand. The domestic coal demand through PLN also rumored to be doubling of the current needs with the plan of adding the number of power plants. From the existing power plants and/or which will be in operations in 2015, Indonesia needs coal fuel supply of 90 million tonnes in 2015.

Moreover, coal, of which the country has huge reserves at its disposal, is regarded a better fuel source in electricity generation compared to expensive diesel. At present, many power stations in Indonesia are still diesel-powered. Domestic coal is targeted to form the fuel source for 66% of total electricity generation by 2022 from 52 % currently. As a consequence domestic coal consumption in Indonesia is expected to rise to 151 million metric tons in 2022 from 82.9 million metric tons in 2014.

Indonesian demand for electricity grows by approximately 8.4% per year. Thus, the Company will continue to follow the trends from within and outside the country.

On behalf of the Board of Directors, we must report that 2015 is expected to remain flat on both market and price fronts. The Company will continue its scalling up of operations, while continuing the pressure down cost.

The Company also targeted the usage of capex for 2015 for around Rp. 95 billion for infrastructure creation and upgrades. The funds are used for the Company’s infrastructure development supporting the Company’s production activities, land acquisition, roads repair, and road expansions. The Company also targeting a production volume of around 8.8 million tonnes and sales volume of around 13.0 million tonnes in 2015 by trying the new market especially in Southeast Asia region.

The Company believes that the year of 2015 is the right time for the Company to expand the market. Many new markets such as Pakistan, the Philippines, Myanmar and Vietnam which became the target of the Company’ marketing effects. The Company sees those countries as developing countries with a market potential that will continue to grow in 2015, with a number of power plant projects that will require coal as a source of cheap energy. The Company also sees big opportunities in India. The Energy Information Administration (“IEA”) projects that India will be the world’s largest coal importer by 2020. Consultancy Wood Mackenzie projects that India would be the largest driver of coal demand growth in 2015 as its industry expands, helping offset China’s waning appetite. India has imported 13.61 million tonnes of thermal coal in February 2015. And so, the Company has supplied coal demand from various large utility companies during 2014.

PERTUMBUHAN BERKELANJUTAN DALAM PRAKTIK TERBAIK TATA KELOLA PERUSAHAAN

Direksi mengkonfirmasikan bahwa Perseroan mampu berkomitmen untuk meningkatkan praktik-praktik terbaik dalam Tata Kelola Perusahaan yang baik (“GCG”) untuk memenuhi ekspektasi para Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan. Sampai saat ini Perseroan terus berupaya untuk mematuhi semua peraturan GCG yang dikeluarkan oleh OJK dan IDX. Hal ini ditandai dengan keberhasilan Perseroan mendapatkan penghargaan sebagai satu dari 50 Perusahaan dengan GCG terbaik menurut versi IICD yang diumumkan pada tanggal 9 Desember 2014 di Pullman Hotel, Jakarta. Melalui peristiwa ini, Perseroan berhasil naik ke peringkat 31-40, yang berarti lebih baik dari tahun sebelumnya.

OJK telah mengeluarkan beberapa aturan baru tentang GCG di bulan Desember 2014, dan saat ini, Perseroan berupaya untuk terus melakukan perbaikan pada kebijakan-kebijakan Perseroan yang berhubungan dengan pelaksanaan GCG. Prinsip-prinsip GCG memastikan bahwa kegiatan bisnis selalu berjalan pada koridor yang benar yang diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, etik bisnis dan praktik-praktik terbaik. Peningkatan mutu kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik GCG yang sejalan dengan nilai-nilai yang diadopsi oleh Perseroan dalam proses bisnis, pengendalian dan standar operasional prosedur, diharapkan menjaga keseimbangan antara para Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan lainnya. Apalagi, Perseroan percaya bahwa GCG dapat menciptakan pengembangan bisnis yang sehat dan berkualitas. Perseroan juga telah meningkatkan efektivitas sistem pengendalian internal melalui penempatan Sistem Pelaporan Pelanggaran (“WBS”) yang efektif.

Secara keseluruhan, sehubungan dengan Tata Kelola Perusahaan, kami berkomitmen penuh untuk meningkatkan kualitas pelaksanaannya dengan membekali Perseroan dengan semua prosedur tata kelola yang diperlukan yang akan memastikan bahwa standar tertinggi prinsip-prinsip tata kelola diberlakukan, yaitu: transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan keadilan.

Perseroan tidak henti-hentinya berupaya untuk meningkatkan kesadaran akan program-program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (“CSR”) serta Kesehatan, Keselamatan dan Lingkungan (“HSE”), yang mencatat peningkatan-peningkatan melalui para anak perusahaannya.

Pada tanggal 26 Mei 2014 bertempat di Hotel Bidakara, Jakarta, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di periode sebelumnya, Muhaimin Iskandar telah memberikan penghargaan anugerah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (“K3”) bagi Anak Perusahaan Perseroan, KIM. Selain itu, KIM juga menerima anugerah sebagai sebuah perusahaan dengan kecelakaan nihil (zero accident) dan taat dengan peraturan K3 di Kabupaten Bungo.

Perseroan juga telah menerima apresiasi dalam pencapaian 15 juta jam kerja tanpa kecelakaan (Insiden Kehilangan Waktu) dari Bupati Kabupaten Bungo. Penghargaan untuk kecelakaan nihil dan taat pada peraturan K3 ini diberikan pada KIM sampai dengan 31 Desember 2014.

Perseroan wajib menyampaikan Laporan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan setiap triwulan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (“ESDM”) dan Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja lingkungan terhadap perusahaan-perusahaan paling sedikit dua kali setahun. Perseroan melaksanakan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan persetujuan AMDAL.

SUSTAINABLE GROWTH IN GOOD CORPORATE GOVERNANCE BEST PRACTISES

The Board of Directors confirms that the Company was able to committed to improve the best practises in Good Corporate Governance (GCG) to meet the expectation of Shareholders and Stakeholders.

Up to today the Company continues to strive to comply with all GCG regulations issued by OJK and IDX. This was marked by the success of Company obtain an award as one of the 50 Companies with the best GCG according to IICD version announced on December 9, 2014 in Pullman Hotel, Jakarta. Through this event, Company has succeeded to rise to 31-40 rank, which is better than the previous year.

The OJK has released some new rules regarding GCG in December 2014, and presently, the Company strives to continue to make improvements in Company’ policies which are related to the implementation of GCG. The GCG principles ensure that business activities are always running in the right corridor that is governed by the prevailing laws and regulations, business ethics and best practices. The enhancement of the quality of policies and GCG practices in line with the values adopted by the Company in the business process, control and standard operation procedure, is expected to keep the balance of interests between the Shareholders and other Stakeholders. Moreover, the Company believes that GCG may well create healthy and quality business development. The Company has also upgraded the effectiveness of internal control system through putting an effective whistleblowing system (“WBS”) in place.

Overall, in regard with Corporate Governance, we are fully committed to improve the quality of its implementation by equipping the Company with all required governance procedures that would ensure that the highest standards of governance principles of transparency, accountability, responsibility, independency, and fairness are enacted.

The Company ceaselessly strives to improve awareness of Corporate Social Responsibility (CSR) and Health, Safety and Environment (HSE) programs, which has noted improvements in through its subsidiaries.

On May 26, 2014, located in Bidakara Hotel, Jakarta, the former Minister of Manpower and Transmigration, Muhaimin Iskandar

Dokumen terkait