Prestasi Belajar
3) Prestasi Belajar Siklus II
Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus II selesai, kemudian diadakan evaluasi dengan menggunakan tes tertulis. Hasil evaluasi ada pada lampiran, secara sederhana hasil evaluasi dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 10. Ketuntasan Belajar IPA Siklus II
No. Kriteria Keberhasilan Siklus II
Jumlah Persen (%)
1. Tuntas 30 88,24%
2. Belum Tuntas 4 11,76%
76
Tabel di atas menunjukkan bahwa pada pelaksanaan tindakan siklus II ada 30 siswa atau sebesar 88,24% siswa dapat mencapai kriteria keberhasilan dan 4 siswa atau sebesar 11,76% siswa belum mencapai kriteria keberhasilan dengan nilai rata-rata kelas sebesar 79,71. Data tersebut menunjukkan bahwa pada pelaksanaan tindakan siklus II prestasi belajar IPA siswa kelas V sudah mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Diagram berikut menunjukkan perbandingan prestasi belajar IPA pada tahap pratindakan, pelaksanaan tindakan siklus I, dan pelaksanaan tindakan siklus II:
Gambar 7. Diagram Ketuntasan Belajar IPA Tahap Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II
Diagram di atas menunjukkan bahwa persentase ketuntasan siswa mengalami peningkatan dari tahap pratindakan ke siklus I dan meningkat lagi pada siklus II. Persentase ketuntasan siswa pada
14,71% 67,65% 88,24% 85,29% 32,35% 11,76% 0 5 10 15 20 25 30 35
Pra Tindakan Siklus I Siklus II
Ju m lah S iswa Tahap
Prestasi Belajar
Tuntas Belum Tuntas77
tahap pratindakan sebesar 14,71% meningkat menjadi 67,65% pada siklus I. Sementara pada siklus II meningkat lagi sebesar 88,24%. Nilai rata-rata siswa juga meningkat yaitu pada tahap pratindakan sebesar 53,09 meningkat menjadi 69,85 pada siklus I, dan 79,71 pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada pelaksanaan tindakan siklus II, prestasi belajar IPA siswa kelas V sudah mencapai kriteria keberhasilan.
c. Hasil Observasi Tindakan Siklus II
Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi yang dilakukan yaitu pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa dimana peneliti bertindak sebagai observer dibantu oleh satu observer, sehingga ada dua observer yaitu observer 1 dan observer 2. Kegiatan observasi dilengkapi dengan lembar observasi yang berfungsi untuk mencatat dan mengumpulkan data ketika pelaksanaan tindakan berlangsung. Berikut ini hasil observasi yang dilakukan pada siklus II:
1) Pengamatan terhadap aktifitas guru
Pada siklus II observer melakukan pengamatan terhadap aktifitas guru. Materi yang disampaikan guru pada siklus II yaitu tentang tumbuhan hijau dan manfaatnya bagi manusia dan hewan. Secara umum, tindakan yang dilakukan oleh guru sudah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang ada dalam RPP. Guru juga sudah
78
menerapkan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) pada materi tersebut dengan baik.
Hasil observasi aktifitas guru pada siklus II menunjukkan bahwa guru sudah menerapkan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan baik. Pada saat presentasi kelas guru terlihat menguasai materi pelajaran yang sedang dipelajari. Bahasa yang digunakan juga sudah baik dan mudah dipahami oleh siswa. Guru juga sudah membagi siswa dengan memperhatikan tingkat kemampuan akademiknya. Guru memiliki keterampilan yang cukup dalam membimbing diskusi pada kegiatan belajar kelompok dan mampu mengembangkan sikap peduli dan tanggung jawab siswa. Penghargaan kelompok yang diberikan oleh guru juga sudah sesuai dengan kriteria kelompok. Guru juga sudah menyampaikan tujuan pembelajaran ketika kegiatan awal. Pengarahan dan informasi yang diberikan oleh guru tentang aturan turnamen sudah jelas, sehingga siswa dapat memahami aturan turnamen. Pada kegiatan akhir guru sudah membimbing siswa untuk membuat rangkuman dan kesimpulan hasil belajar.
2) Pengamatan terhadap aktifitas siswa
Hasil observasi terhadap aktifitas siswa pada pertemuan pertama dan kedua menunjukkan bahwa siswa terlihat aktif dalam menanggapi pertanyaan dari guru, siswa juga sudah mulai berani berpendapat. Siswa terlihat bersemangat dalam mengikuti pelajaran.
79
Kegiatan presentasi kelas dapat berlangsung dengan baik. Siswa terlihat mampu berkonsentrasi memperhatikan penjelasan dari guru.
Pada kegiatan belajar kelompok siswa dapat menerima pembagian kelompok berkat pengertian yang diberikan oleh guru. Siswa juga terlihat lebih siap dengan kelompoknya (heterogen) karena sudah mengetahui pembagian kelompok sebelum hari pelaksanaan pembeljaran IPA berlangsung. Siswa sudah dapat bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. Pada kegiatan eksperimen siswa terlihat senang dan tertarik untuk mencoba melakukan pengamatan pada beberapa tumbuhan dan melengkapi tabel tempat penyimpanan cadangan makanan pada tumbuhan tersebut. Siswa juga cukup antusias dalam mengikuti permainan. Pada saat evaluasi siswa mampu bersikap jujur dalam mengerjakan soal evaluasi dan tidak ada yang berusaha untuk melihat catatan atau mencontek jawaban teman.
d. Refleksi Tindakan Siklus II
Pelaksanaan refleksi dilakukan setelah pelaksanaan tindakan siklus II selesai. Refleksi tindakan ini bertujuan untuk menganalisis masalah yang ada pada pelaksanaan tindakan siklus II. Peneliti bersama dengan guru melakukan diskusi untuk mengevaluasi langkah-langkah pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Secara keseluruhan, tindakan yang dilakukan oleh guru sudah sesuai dengan
langkah-80
langkah pembelajaran yang ada dalam RPP. Guru juga sudah menerapkan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) pada materi tersebut dengan baik. Nampak kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik karena masalah yang muncul pada siklus I dapat diperbaiki pada siklus II ini. Berikut tabel perbandingan aktifitas pada siklus I dan II:
Tabel 11. Perbandingan Aktifitas Siklus I dan Siklus II
Siklus I Siklus II
1. Mengikuti penyajian informasi dari guru tentang materi peredaran darah.
1. Mengikuti penyajian informasi dari guru tentang materi tumbuhan hijau.
2. Siswa belajar secara berkelompok untuk mendalami materi pelajaran, melakukan pengamatan sesuai LKS, dan latihan permainan akademik berupa teka-teki silang.
2. Siswa belajar secara berkelompok untuk mendalami materi pelajaran, melakukan pengamatan sesuai LKS, dan latihan permainan akademik berupa permainan tebak kata yang dipandu langsung oleh guru.
3. Siswa mewakili kelompok asal untuk mengikuti turnamen dengan menjawab pertanyaan bernomor.
3. Siswa mewakili kelompok asal untuk mengikuti turnamen dengan menjawab pertanyaan bernomor.
4. Kelompok yang mendapat skor tertinggi mendapat penghargaan berupa ucapan selamat dan sebuah bingkisan.
4. Kelompok yang mendapat skor tertinggi mendapat penghargaan berupa ucapan selamat dan medali.
Hasil perbaikan pada siklus II:
1) Siswa dapat memperhatikan penjelasan dari guru, baik penjelasan tentang materi maupun penjelasan tentang peraturan turnamen.
81
2) Siswa lebih siap dengan kelompoknya karena pembagian kelompok dilakukan sebelum hari pelaksanaan pembelajaran IPA berlangsung.
3) Pengertian yang diberikan kepada siswa tentang kerja sama yang baik membuat siswa mau menerima pembagian kelompok. 4) Siswa aktif bekerja sama dalam kelompoknya. Terlihat antar
anggota dalam satu kelompok dapat membagi tugas ketika mengamati tumbuhan, ada yang mengamati, ada yang mencari informasi dari buku, dan ada yang mencatat hasil pengamatannya. 5) Ketuntasan belajar IPA meningkat dari 67,65% pada siklus I
menjadi 88,24% pada siklus II.
Upaya perbaikan pada siklus II selesai dengan hasil prestasi belajar siswa menjadi meningkat dan memenuhi kriteria keberhasilan. Dengan demikian target dalam penelitian ini telah tercapai sehingga penelitian berhenti pada siklus II.
82 B. Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan di kelas V MI YAPPI Planjan Cilacap dengan menggunakan dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Hasil penelitian yang diuraikan adalah data pratindakan atau sebelum pelaksanaan tindakan, pelaksanaan tindakan setiap siklus, dan perkembangan prestasi belajar siswa dari pratindakan sampai dengan siklus II.
Pembelajaran IPA kurang bervariasi dengan hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Sistem LKS yang dikerjakan secara mandiri membuat siswa kurang berinteraksi dengan temannya. Siswa tidak memiliki kesempatan untuk saling bertukar pikiran, menyampaikan pendapat, dan mengutarakan ide. Hal tersebut membuat siswa menjadi minim pengetahuan karena hanya mendapat penjelasan materi dari guru tanpa bekerja sama dan terlibat langsung dalam menemukan suatu fakta atau konsep. Selain itu, guru kurang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa kurang aktif dan kurang termotivasi untuk belajar. Adanya motivasi belajar yang rendah, siswa menjadi kurang memperhatikan pelajaran. Kondisi yang demikian itu berdampak pada rendahnya prestasi belajar siswa dikarenakan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang diajarkan. Harriman dalam (Walgito, 2004: 99) mengemukakan bahwa apabila siswa memperhatikan suatu objek, maka apa yang diperhatikan akan betul-betul dipahami dan akan betul-betul jelas bagi individu yang bersangkutan. Sebaliknya apabila siswa tidak memperhatikan materi pelajaran dengan baik, maka siswa akan kurang paham
83
dan kurang jelas dengan materi yang disampaikan guru. Kurangnya pemahaman inilah yang membuat prestasi belajar siswa menjadi rendah. Sehingga, untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut perlu diadakan upaya perbaikan proses pembelajaran agar prestasi belajar siswa dapat meningkat.
Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif TGT prestasi belajar IPA siswa dapat meningkat. Pembelajaran kooperatif TGT yang berlangsung berisi kegiatan yang menuntut siswa untuk belajar dan bekerja bersama-sama menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Pembelajaran yang menyenangkan membuat siswa termotivasi untuk belajar. Penjelasan materi yang disampaikan oleh guru dan kegiatan belajar kelompok membantu siswa untuk lebih mudah memahami informasi dan materi pelajaran IPA. Antusias siswa juga meningkat dengan adanya penghargaan kelompok. Adanya kegiatan pembelajaran yang bervariasi mendorong siswa untuk belajar secara aktif. Hal itu sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Keller dalam (Sugihartono, 2007: 79-80) agar siswa berminat dan memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan, guru dapat menyampaikan materi pelajaran secara bervariasi dan mendorong keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
Dari hasil penelitian diperoleh data yang menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa dari tahap pratindakan ke siklus I dan siklus II mengalami peningkatan setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Shlomo Sharan (Prawoto,
84
2009: 225) bahwa pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan tingkat kognisi dan penalaran, serta memberikan ingatan jangka panjang terkait dengan apa yang telah dipelajari. Pendapat lain juga disampaikan oleh Slavin dalam (Shlomo Sharan, 2012: 7-9) bahwa pembelajaran kooperatif menunjukkan pencapaian belajar yang lebih tinggi dibanding dengan pembelajaran tradisional, meningkatkan kerja sama antar siswa, saling menghargai, menyukai kelas, meningkatkan motivasi belajar, dan mendorong siswa untuk saling membantu menguasai materi pelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan prestasi belajar meningkat pada siklus I, namun belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan yaitu ≥ 75% siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil evaluasi pada akhir siklus I menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa meningkat melalui penerapan model pembelajaran kooperatif TGT. Persentase ketuntasan belajar pratindakan 14,71% (5 siswa) meningkat menjadi 67,65% (23 siswa) pada siklus I. Nilai rata-rata siswa juga meningkat dari 53,09 pada pratindakan menjadi 69,85 pada siklus I.
Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa, pada siklus I siswa mulai terlihat aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dengan aktif menanggapi pertanyaan dan pernyataan dari guru serta memperhatikan penjelasan materi. Namun, masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru baik penjelasan materi, pembagian kelompok, dan aturan turnamen. Beberapa siswa juga belum bisa dikondisikan dalam kelompoknya karena tidak mau menerima pembagian kelompok yang tidak sesuai dengan
85
keinginannya. Hasil observasi terhadap guru menunjukkan bahwa secara keseluruhan guru telah melaksanakan langkah pembelajaran kooperatif dengan baik.
Peneliti dan guru kemudian melakukan refleksi dan upaya perbaikan proses pembelajaran agar masalah yang muncul pada siklus I dapat diperbaiki pada pelaksanaan siklus II. Setelah masalah yang terjadi pada siklus I diatasi, proses pembelajaran menjadi lebih baik dan persentase ketuntasan belajar meningkat.
Persentase ketuntasan belajar meningkat dari siklus I sebesar 67,65% (23 siswa) menjadi 88,24% (30 siswa) pada siklus II. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 69,85 menjadi 79,71 pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar sudah mencapai kriteria keberhasilan.
Hasil observasi pada siklus II menunjukkan bahwa aktifitas siswa mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut ditandai dengan siswa yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Upaya perbaikan tindakan juga berjalan dengan baik, misalnya sebagian besar siswa dapat menerima pembagian kelompok setelah guru memberikan pengertian tentang kerja sama yang baik. Tindakan guru yang tegas membuat siswa dapat menjaga ketertiban dan membuat siswa mau memperhatikan penjelasan materi. Guru juga menggunakan permainan akademik yang melibatkan seluruh kelas, sehingga siswa menjadi antusias mengikutinya. Adanya kegiatan eksperimen membuat siswa tertarik untuk melakukan pengamatan.
86
Proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II secara keseluruhan juga sudah sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Nur Asma (2006: 14-16) yaitu (1) belajar secara aktif, aktifitas belajar lebih dominan dilakukan siswa, melakukan berbagai kegiatan dan mampu menyampaikan pendapat; (2) belajar kerjasama, dalam kelompok siswa secara aktif melakukan diskusi dan saling membantu menyelesaikan masalah; (3) pembelajaran partisipatorik, belajar dengan melakuan sesuatu secara bersama-sama; (4) reactive learning, guru sudah menggunakan strategi yang tepat agar seluruh siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi; (5) pembelajaran yang menyenangkan, konsep belajar sambil bermain membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. C. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, tentunya ada keterbatasan penelitian. Pada penelitian ini, keterbatasan penelitian yang terjadi adalah keterbatasan waktu membuat pelajaran terkesan singkat dikarenakan waktu yang dimiliki hanya 2 kali pertemuan dalam seminggu dan masing-masing pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Selain itu masih ada 4 siswa yang belum lulus atau belum mencapai kriteria keberhasilan (Nilai KKM ≥ 65).
87 BAB V