• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL “HIDUPLAH ANAKKU

3.2 Masalah Sosiologis dan Pola Asuh Michiyo Sebagai Tokoh Utama

3.2.2 Pola Asuh Michiyo Inoue Bagi Anak Berkelainan

3.2.2.4 Prinsip Aktivitas Mandiri (Self Activity)

Anak berkelainan (dalam hal ini anak tunanetra) pada umumnya akan sangat bergantung pada orang yang lebih awas. Jika hal ini terus berlanjut akan mengakibatkan ketergantungan untuk meminta bantuan pada orang-orang di sekitarnya. Prinsip aktivitas mandiri dalam mendidik anak tunanetra

dimaksudkan untuk membiasakan anak tunanetra melakukan sendiri aktivitas yang harus dikerjakan tanpa bergantung pada bantuan orang lain.

Dengan melakukan aktivitas/kegiatannya sendiri tanpa bantuan orang lain akan membuat anak tunanetra merasakan pengalaman yang baru dan mengingat pengalaman tersebut sebagai pelajaran yang nantinya akan diterapkan dalam kehidupannya. Pembelajaran yang harus dilakukan oleh pendidik (dalam hal ini orangtua) harus memungkinkan atau mendorong anak tunanetra belajar secara aktif dan mandiri. Prinsip ini menekankan strategi pembelajaran harus memungkinkan anak untuk bekerja dan mengalami, bukan sekedar mendengar.

Pemanfaatan indra lain yang masih berfungsi dengan baik dalam mendidik anaknya melakukan aktivitas sehari-hari tidak akan berjalan lancar jika tidak ada kemauan dan kemandirian dari sang anak. Sehingga Michiyo selalu mengingatkan anaknya supaya tidak bergantung pada orang lain meskipun dirinya buta dan harus mampu melakukan semua aktivitasnya sendiri. Semua ini diajarkan oleh Michiyo sejak anaknya masih bayi. Seperti yang terlihat dalam kutipan berikut:

Cuplikan 1

Yang kumaksudkan sesuatu disini misalnya dia mencoba masuk ke dalam keranjang. Kemudian menggerak-gerakkannya, atau dia menaruh baskom di kepalanya. Itu tidak luar biasa, tetapi dia melakukannya seperti seorang anak yang asyik dengan mainan. Kreativitasnya mengasah inderanya. Tak lama kemudian, dia mulai mencoba berdiri dengan

berpegangan pada alat bantu jalan, dan yang membuatku terkejut, dia sudah bisa memanjat kursi alat bantu jalannya (Inoue, 2006:33-34).

Analisis

Kutipan diatas menunjukkan bahwa sejak anaknya masih kecil, Michiyo selalu membiarkannya untuk bebas bergerak dan bermain.

Michiyo selalu berada bersamanya pada saat-saat seperti itu dan tidak ingin menyerahkannya pada orang lain karena alasan pekerjaan. Kalau bukan orangtuanya, pasti tidak akan tega membiarkan anaknya melakukan apa saja. Sikap tega yang dimiliki oleh Michiyo lah yang telah menjadikan anaknya memiliki sifat mandiri sejak masih bayi seperti mencoba berdiri dengan berpegangan pada alat bantu jalan dan memanjat kursi alat bantu jalannya.

Cuplikan 2

Kalau pada saat itu aku sebagai orangtuanya langsung mendatanginya dan mengatakan, “Kamu terjatuh ya, sakit nggak?” Maka si anak akan berpikir kalau jatuh itu adalah sesuatu yang bisa membuatnya dikasihani, ditolong dan orangtua akan selalu merasa khawatir kepadanya. Aku rasa itu tidak membuat anak dewasa. Setelah Miyuki berhasil datang, aku tidak akan menyinggung terjatuhnya tadi dan akan mengajaknya bermain yang lain (Inoue, 2006:61-62).

Setiap kali kuajak ke taman, berulang kali dia terjatuh dan aku harus bisa menahan diri. Sampai pada suatu hari Miyuki terjatuh lagi, tetapi langsung berdiri tanpa menangis sama sekali bahkan dia langsung

membersihkan kotoran yang menempel di lututunya. “Ini dia! Ini yang kuinginkan, dia beljaar menegreti kondisinya dan mandiri,” teriakku dalam hati (Inoue, 2006:62).

Walaupun keinginanku untuk menolong sangat besar, tapi sebagai orangtua harus bisa menahan diri. Dengan begitu, anak akan berusaha sendiri apa yang terbaik baginya.

Walaupun aku tak tega melihatnya begitu, tapi kucoba membiarkannya berusaha dengan mengeser-geserkan kakinya, mencari posisi yang pas dengan mengangkat tubuhnya sekuat tenaga (Inoue, 2006:63).

Analisis

Kutipan diatas menunjukkan bahwa sejak anaknya masih kecil, Michiyo selalu membiarkannya untuk bebas bergerak dan bermain. Michiyo tidak akan mendekati dan menolong meskipun anaknya terjatuh atau terluka.

Michiyo mengatakan pada anaknya bahwa dia hanya akan mengawasi anaknya dari jauh dan anaknya harus berusaha sendiri mengatasi ketakutan dan kesakitannya bila terjatuh saat bermain. Meskipun Michiyo mengatakan bahwa dia hanya mengawasi dari jauh, namun hal tersebut sudah membuat anaknya tenang saat bermain. Hal ini membuat anaknya menjadi semakin mandiri dalam menghadapi sesuatu. Dengan mengikuti prinsip mandiri ini, Michiyo berusaha untuk menahan dirinya agar tidak segera menolong anaknya ketika berada dalam kesulitan.

Cuplikan 3

Pada saat berumur lima tahun, dia mulai bermain dengan sepeda yang ada roda penyangganya sepulang sekolah. Suatu hari dia pernah terjatuh dan mengeluarkan darah dari kepala. Tetapi Miyuki seperti biasa, tidak menangis. “Makanya hati-hati kalau main,” kataku sambil menepuk kepalanya. “Ayo, ke rumah sakit dulu. Dua, tiga jahitan, beres, kamu sehat lagi.” Kami pun berjalan beriringan ke rumah sakit sambil menggiring sepeda. Pada saat itu terdengar bisik-bisik ibu yang duduk di bangku taman, “Pasti dia bukan anak kandungnya tuh, ibu jahat sekali, kayak ibu tirinya, ya”. Aku geli mendengarnya. Mungkin memang begitulah kalau orang luar melihat caraku membesarkan anak.

Pada saat Miyuki terjatuh di tangga pun, aku berusaha tidak panik.

Untung dia tidak menangis dengan kencang. Berarti dia masih bisa merasakan sakit. Biasanya tanpa setahu Miyuki, kutengok sebentar, kalau tidak ada yang parah maka aku diam saja. Kupikir kalau aku bersikap

“lembek”, dan selalu pasrah, maka dia pasti akan tumbuh menjadi anak yang selalu minder dan tidak mandiri. Dia harus belajar mencoba semua yang orang normal lakukan (Inoue, 2006:63).

Analisis

Kutipan diatas menunjukkan bahwa Michiyo memiliki sifat yang berbeda dengan orangtua lainnya. Kalau orangtua lain melihat kejadian anaknya terjatuh dari tangga, pasti ribut karena panik dan si anak akan terbagi konsentrasinya, maka yang terjadi si anak malah menangis kencang

karena merasa diperhatikan. Hal inilah yang tidak dilakukan oleh Michiyo, mengajarkan apabila anaknya merasakan sakitnya maka selanjutnya akan belajar untuk berhati-hati. Akan lebih penting apabila dia bisa berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi lagi. Dibandingkan dengan anak normal, resiko terluka maupun kecelakaan pada anak buta lebih besar, dan karena itu harus dibiasakan untuk berhati-hati. Michiyo tidak boleh cengeng bila melihat anaknya kesulitan menghadapi suatu masalah. Ini memang perang bathin seorang ibu, tapi dia tidak boleh kalah dengan dirinya sendiri. Michiyo harus tetap menjalankan arah didikan yang telah ditetapkannya yaitu menjadikan anaknya mandiri.

Cuplikan 4

“Kamu harus percaya kalau kamu bisa naik sepeda. Ayo, coba!” Saat melihatnya begitu, hatiku tak tega, tapi aku harus menguatkan diri untuk tidak membantunya. Sepertinya, tubuhnya terbentur cukup keras. Untuk beberapa saat, dia tidak bisa bangkit berdiri. Sepeda pun tampak bengkok.

Kemudian Miyuki mati-matian merangkak dan meraba-raba mencari di mana letak setang sepeda.

“Kenapa begitu? Kalau dibantu kamu tidak akan pernah bisa. Naik sepeda itu harus sendiri.”

Kali ini Miyuki menggenjot pedal kuat-kuat. Akan tetapi, dia kembali terguling. Darah pun mengalir dari lututnya. Dia terjatuh di tempat yang agak terpisah dari sepedanya. Kemudian mati-matian Miyuki merentangkan tangan mencoba mencari sepeda. Rupanya Miyuki tidak

ingin dibantu. Dia bertekad untuk bisa sendiri. Perlahan-lahan dia berdiri untuk mencari setang sepeda. Kulit sikunya terkelupas. Darah pun mengalir dari sana.

“Kan kamu sendiri yang ingin mencoba naik sepeda. Bagaimana, bisa tidak?” Meski nada bicaraku terdengar dingin dan sikapku yang sepertinya masa bodoh, tapi air mataku mengalir. Tak tega rasanya melihatnya menderita (Inoue, 2006:115-116).

Analisis

Kutipan diatas menunjukkan bahwa Michiyo melakukan berbagai hal untuk mengabulkan keinginanan anaknya. Ketika anaknya meminta ingin mencoba naik sepeda, Michiyo pun berusaha untuk menemaninya saat belajar. Akan tetapi ada sebuah prinsip yang ditemukan disini. Ketika pada umumnya orangtua akan mendampingi anaknya yang normal belajar menaiki sepeda dengan cara menuntunnya, Michiyo tidak melakukan hal itu. Meskipun anaknya seorang tunanetra, hal itu tidak membuatnya menjadi alasan untuk membantu anaknya. Meskipun sangat sulit bagi seorang tunanetra dalam belajar menaiki sepeda, tetapi berkat perjuangan dirinya dalam menahan diri untuk tidak membantu anaknya, menaiki sepeda pun berhasil dilakukan anaknya dan menjadikan anaknya lebih kuat lagi dan terbiasa dengan malam-malam saat Michiyo tidak ada di rumah karena bekerja dan bisa makan serta menjaga rumah sendirian.

Cuplikan 5

Begitu memasuki SMP, dimulailah latihan khusus untuk berjalan, dan Miyuki harus bisa pulang pergi seorang diri. Waktu SMP, dua kali seminggu Miyuki belajar hidup di asrama dengan menginap disana. Kalau Miyuki sudah bisa pergi kemana-mana sendiri, tentu pengetahuannya semakin luas (Inoue, 2006:126).

Kini, Miyuki bisa pulang dan pergi ke sekolah sendiri, bahkan dengan naik kereta. Setelah itu aku pergi bekerja. Karena Miyuki bisa pulang sendiri, jadi aku bisa bekerja lebih lama sehingga meskipun keuangan rumah tangga dalam kesulitan, aku tetap tenang (Inoue, 2006:156-157).

Analisis

Kutipan diatas menunjukkan bahwa kemandirian anaknya semakin terlihat saat harus melakukan semua aktivitasnya sendiri. Selain melakukan aktivitas pribadinya sendiri, anaknya juga diajarkan untuk terbiasa pergi ke sekolah seorang diri saat SMP. Meskipun ini sangat sulit dilakukan oleh seorang tunanetra, namun Michiyo yakin bahwa anaknya mampu melakukan itu. Hal ini akan semakin melatih kemandirian anaknya dan tidak akan membuatnya selalu bergantung pada orang lain. Sehingga meskipun anaknya buta dan nantinya tidak didampingi Michiyo lagi, anaknya tidak akan kesulitan dalam menjalani kehidupan dan tidak akan mudah menyerah.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Setelah melihat dari uraian bab I sampai bab III, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Novel “Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu” merupakan novel karya Michiyo Inoue yang diterjemahkan dari novel Jepang yang berjudul “500g De Umareta Musume E” pada tahun 2000 dan diterjemahkan pada tahun 2006 yang beraliran kisah nyata dari kehidupan sebuah keluarga yang menggambarkan masalah sosiologis dan perjuangan seorang ibu mengasuh anaknya yang berkelainan penglihatan (tunanetra).

2. Novel “Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu” mengambil setting di kota Kurume, Provinsi Fukuoka di Jepang. Saat itu masyarakat masih menganggap keberadaan penyandang cacat itu aneh dan tidak dapat diterima.

3. Pola asuh yang dilakukan oleh Michiyo terhadap anaknya adalah akibat masalah sosiologis yang dialaminya ketika masih anak-anak hingga dewasa membuatnyaa menjadi seorang ibu yang keras dalam mendidik anak.

4. Dalam mengasuh anaknya yang berkelainan, Michiyo telah menerapkan 4 pola-pola asuh seperti yang dikemukakan oleh Bambang Putranto yaitu meliputi:

a. Individual yaitu perlunya penerapan IEP (Individual Education Program) bertujuan mengetahui yang bisa dilakukan anak, kemampuan yang seharusnya dimiliki anak, dan cara orangtua membantu anak memiliki kemampuan tersebut.

b. Kekonkretan/pengalaman pengindraan menekankan perlunya Michiyo membimbing anak berkelainan untuk menggunakan komponen alat/media dan lingkungan pembelajaran, seperti huruf braille, komputer berbicara, buku bicara (Digital Talking Book), printer braille.

c. Totalitas anak berkelainan perlu dilatih dan dibiasakan untuk memanfaatkan secara maksimal indra lain yang masih berfungsi dengan baik sehingga dapat membantu indranya yang kurang.

d. Prinsip Aktivitas Mandiri (Self Activity) menekankan strategi pembelajaran harus memungkinkan anak untuk bekerja dan mengalami, bukan sekedar mendengar dan menjadikan anak memiliki jiwa yang mandiri meskipun memiliki kelainan dibandingkan dengan anak yang tidak berkelainan

4.2 Saran

Melalui sripsi ini penulis berharap agar apresiasi masyarakat terhadap karya sastra lebih baik lagi, khususnya novel yang diangkat dari kisah nyata. Semakin banyak mengetahui karya sastra maka pengetahuan kita dan ketertarikan kita untuk menganalisis nya pun akan semakin luas.

Novel merupakan salah satu karya sastra yang menarik karena cerita dalam novel dikemas dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Dengan membaca novel dapat memberikan amanat atau pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca yang dapat dijadikan pelajaran dan pengajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Setelah membaca skripsi ini diharapkan agar pembaca lebih bijaksana dalam menghadapi anak berkelainan khususnya anak tunanetra. Perjuangan orangtua dalam novel ini dapat menjadi motivasi bagi pembaca untuk memperlakukan anak berkelainan dengan baik, tidak memandangnya sebagai sebuah perbedaan dan tetap mendukungnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2000. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Effendi, Mohammad. 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan.

Jakarta:

PT Bumi Aksara.

Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Center for

Academic Publishing Service.

Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra, cet.2. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Farlinda, Fani. 2015. “Hubungan Pola Asuh Orangtua Terhadap Perkembangan Sosial Pada Remaja di SMA Dharma Pancasila Medan” (Skripsi). Medan:

Fakultas Keperawatan USU.

Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Fauzi, Azmi Ridwan. 2017. “Kenakalan Remaja Dalam Novel Catatan (Seorang) Pelajar Jakarta Karya Arif Rahman: Analisis Sosiologi Sastra” (Skripsi).

Medan: Fakultas Ilmu Budaya USU.

Inoue, Michiyo. 2006. Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu. Jakarta: PT Gramedia.

Nofriyati. 2016. “Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Perkembangan Anak Pra

Sekolah (3-5 Tahun) di Kelompok Bermain Melati Suka Ramai Kabupaten Tanah Datar Sumatera Bara” (Skripsi). Medan: Fakultas Keperawatan USU.

Nugraha, Muhammad Rizky Adi. 2016. “Strategi Orangtua Tunggal dalam Mengasuh

Anak di Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu” (Skripsi).

Medan: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

_________________. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Putranto, Bambang. 2015. Tips Menangani Siswa yang Membutuhkan Perhatian Khusus. Yogyakarta: DIVA Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

__________________. 2005. Paradigma Sosiologis Sastra. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Santoso, Hargio. 2018. Cara Memahami&Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus.

Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Soeseno, Slamet. 1995. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Suharianto, S. 1982. Berkenalan dengan Cipta Seni. Semarang: Mutiara Permatawidya.

Suryanto, Alex dan Agus Haryanta. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Tangerang: Erlangga.

Tantawi, Isma. 2014. Terampil Berbahasa Indonesia. Medan: USU Press.

Zainuddin. 2001. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=391150&val=8577&title=PE RAN%20ORANG%20TUA%20DALAM%20PENDIDIKAN%20ANAK%20BE RKEBUTUHAN%20KHUSUS (diakses 1 Maret 2018)

https://www.ilmubahasa.net/2014/11/sosiologi-sastra.html (diakses 1 Maret 2018)

ABSTRAK

POLA ASUH BAGI ANAK BERKELAINAN DALAM NOVEL “HIDUPLAH ANAKKU IBU MENDAMPINGIMU “ KARYA MICHIYO INOUE

Karya sastra merupakan suatu hasil karya manusia yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki nilai keindahan. Melalui karya sastra seorang pengarang dapat menyampaikan pesan kepada pembaca. Novel mampu menampilkan masalah sosiologis yang dialami seorang tokoh dan pengaruhnya terhadap kehidupannya. Salah satu karya sastra yang mengangkut masalah sosiologis adalah novel “Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu” karya Michiyo Inoue. Novel ini merupakan kisah nyata dari kehidupan tokoh utama yaitu Michiyo yang berjuang untuk mengasuh anaknya yang berkelainan penglihatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan masalah sosiologis yang dialami tokoh utama dan mendeskripsikan pola asuh dalam mendidik seorang anak berkelainan penglihatan.

Dalam skripsi ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis yaitu dengan cara mendeskripsikan untuk menemukan unsur-unsurnya, kemudian dianalisis untuk memberikan penjelasan dari topik yang diteliti. Untuk menganalisis novel, digunakan teori sosiologi sastra yang bertolak bahwa karya sastra adalah cerminan masyarakat. Selain itu menggunakan teori pola asuh dalam mendidik anak berkelainan. Novel “Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu” merupakan novel yang mengungkapkan kehidupan seorang wanita bernama Michiyo yang lahir tanpa status pernikahan orangtuanya. Karena kehidupan yang pas-pas an, dia dititipkan ke rumah kakek dan neneknya di

Fukuoka. Selama hidupnya dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya.

Ketika masih anak-anak, Michiyo dipaksa oleh neneknya untuk mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga dan menjual telur ayam secara berkeliling desa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Pada umur 15 tahun Michiyo lari dari rumah ibunya akibat mendapat perlakuan tidak baik dari ayah tirinya.

Pada umur 36 tahun, Michiyo menjalani hubungan dengan seorang pria tetapi dilarang oleh orangtua pria tersebut. Hingga akhirnya Michiyo hamil diluar nikah, namun pria tersebut meninggal akibat kecelakaan. Akhirnya Michiyo melahirkan anaknya ketika masih berusia 5 bulan dan kondisi prematur menyebabkan anaknya tunanetra. Akibat penderitaannya di masa kecil, akhirnya Michiyo menetapkan akan mengasuh anaknya dengan baik dan menjadikannya sejajar dengan anak normal. Pola asuh yang dilakukan Michiyo terhadap anaknya adalah akibat masalah sosiologis yang dialaminya ketika masih anak-anak hingga dewasa dan membuatnya menjadi seorang ibu yang keras dalam mendidik anak.

Ada 4 pola asuh yang telah diterapkan Michiyo dan menjadi model pegangannya untuk mengasuh anaknya yang berkelainan penglihatan.

Pola Individual yaitu perlunya penerapan IEP (Individual Education Program) yang bertujuan mengetahui apa yang bisa dilakukan anak, kemampuan yang seharusnya dimiliki anak, dan cara orangtua dalam membantu anak memiliki kemampuan tersebut. Pola Kekonkretan atau pengalaman pengindraan adalah membimbing anak berkelainan untuk menggunakan komponen alat atau media, seperti huruf braille, komputer berbicara, buku bicara (Digital Talking Book), printer braille, dan lain-lain. Pola Totalitas adalah perlunya melatih anak berkelainan secara maksimal untuk terbiasa memanfaatkan indra lain yang masih

berfungsi dengan baik sehingga dapat membantu indranya yang kurang. Pola Aktivitas Mandiri (Self Activity) menekankan anak untuk bekerja dan mengalami, bukan sekedar mendengar sehingga menjadikan anak memiliki jiwa yang mandiri meskipun memiliki kelainan dibandingkan dengan anak yang tidak berkelainan.

みちよいのうえに書かれた 小 説しょうせつ「Hiduplah Anakku Ibu mendampingimu」

もち

いる。「Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu」という 小 説しょうせつはみちよの

両 親

かを知ることを目指 すIEP(Individual Education Program)の適用てきようの必要性ひつようせい

である。また、IEPは子供こ ど もを助たすけるのに、親おやがどんな努力どりょくしたらいいこと

を知るプログラム である。具体ぐ た いのパタ ーンや感覚体験かんかくたいけんパターンは、 障 害しょうがい

のある子どもたちがコンピュ ぴ ゅータや話はなせる本ほんや点字て ん じなどのことを使つかえるよ

うと希望き ぼ うされている。全体ぜんたいのパタ ーンは 障 害しょうがいを持つ児童を最大限さいだいげんに訓練くんれん

して、他の感覚かんかくを活用かつようして、より尐すくない感覚かんかくを助たすけることができるように

する必要性ひつようせいである。自己行動じ こ こ う ど う

パタ ーンは、普通ふ つ うの子供こ ど もと比較ひ か くして異常いじょうがあ

るにもかかわらず、聞くだけでなく、 働はたらき、経験けいけんすることを 強 調きょうちょうする

Dokumen terkait