BAB II LANDASAN TEORI
1. Prinsip Bahan Ajar Konsistensi dan Kecukupan
a. Pengertian Bahan Ajar
Menurut National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training menyatakan bahwa:
Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaaahan implementasi pembelajaran. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.( Abdul Majid, 2008: 174). Menurut Kemp dalam Abdul Gafur (1982: 86) menjelaskan bahwa bahan ajar adalah ”Materi pelajaran dalam hubungannya dengan proses penyusunan disain instruksioanal merupakan gabungan antara pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat) dan faktor sikap”.
Menurut Oemar Hamalik (2003: 132) menyatakan bahwa:
Bahan pengajaran pada hakikatnya adalah isi kurikulum itu sendiri. Isi kurikulum senantiasa mengacu ke usaha pencapaian tujuan-tujuan kurikulum dan tujuan-tujuan instruksional bidang studi. Bahan pengajaran itu sendiri adalah sebagai rincian dari pada pokok-pokok bahasan dan subpokok-subpokok bahasan dalam GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) atau kurikulum bidang studi bersangkutan.
Menurut Sulikin (2009: http ://blog.unnes.ac.id) menyatakan bahwa: Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Sejalan dengan berbagai aspek standar kompetensi, materi pembelajaran dalam bahan ajar juga dapat dibedakan menjadi jenis materi pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor).
commit to user
Pendapat lain diungkapkan oleh Reigeluht (dalam Degeng 1987: 295) nenyatakan bahwa ”Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur”. Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya. Materi jenis konsep berupa pengertian, definisi, hakekat inti isi. Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat, adagium, paradigma, teorema. Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut.
Menurut Bloom, dkk (dalam Aunurrahman, 2009: 49) ”Materi pembelajaran aspek kognitif terdiri dari enam jenis perilaku, yaitu: 1) pengetahuan, 2) pemahaman, 3) penerapan, 4) analisis, 5) sintesis, 6) evaluasi”, sedangkan menurut Krathwohl dan Bloom dkk (dalam Aunurrahman, 2009: 51) menyatakan bahwa ”Materi pembelajaran aspek afektif terdiri dari lima jenis perilaku, yaitu: 1) penerimaan, 2) partisipasi, 3) penilaian dan penentuan sikap, 4) organisasi, 5) pembentukan pola hidup”.
Menurut Simpson (dalam Aunurrahman , 2009: 53) menyatakan bahwa ”Materi pembelajaran aspek psikomotorik terdiri dari tujuh jenis perilaku, yaitu: 1) persepsi, 2) kesiapan, 3) gerakan terbimbing, 4) gerakan terbiasa, 5) gerakan komplek, 6) penyesuaian, 7) kreativitas”.
Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar, yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar mengajar yang berkaitan dengan ketercapaian tujuan pengajaran, serta menentukan kegiatan-kegiatan belajar mengajar.
a. Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan bagian yang paling penting dalam proses belajar mengajar, selain bahan ajar terdapat juga media pembelajaran yang
dapat dijadikan sebagai penentu keberhasilan belajar mengajar. Hal ini dipertegas dengan pendapat Basuki Wibawa (2001: 12) menyatakan bahwa:
Dalam suatu proses belajar mengajar, pesan yang disalurkan oleh media dari sumber pesan ke penerima pesan itu ialah isi pelajaran. Dengan perkataan lain, pesan itu ialah isi pelajaran yang berasal dari kurikulum yang disampaikan oleh guru kepada siswa. Pesan ini dapat bersifat rumit dan mungkin harus dirangsang dengan cermat supaya dapat dikomunikasikan dengan baik kepada siswa.
Menurut pendapat Sadiman,dkk (1996: 19) menyatakan bahwa, ”media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional dan macam-macam pengelompokan media terdiri dari media grafis, media audio dan media proyeksi diam”.
Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan. Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. Sedangkan peralatan atau perangkat keras (hardware) sendiri merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.Macam-macam pengelompokan media:
1. Media grafis, antara lain: gambar / foto, sketsa, diagram, bagan / chart, grafik, kartun, poster, peta dan globe, papan flanel / flanel board, papan buletin / bulletin board.
2. Media Audio, antara lain: radio, alat perekam pita magnetic, laboratorium bahasa.
3. Media proyeksi diam, antara lain: film bingkai (slide), film rangkaian (film strip), overhead proyektor, proyektor opaque, tachitoscope, microprojection dengan mikrofilm.
Menurut Abdul Majid (2008: 174) bentuk bahan ajar paling tidak dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: “bahan cetak, bahan ajar dengar, bahan ajar pandang dengar dan bahan ajar interaktif”.
commit to user
Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Bahan cetak (printed) antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leafleat, wallchart, foto/gambar, model/maket.
2) Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan, hitam, dan compact disk audio.
3) Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.
4) Bahan ajar interaktif (interactive teaching material ) seperti compact disk interaktif.
b. Prinsip Pemilihan Bahan Ajar
Perumusan pemilihan bahan ajar diwujudkan dalam bentuk standar kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh siswa. Standar kompetensi meliputi standar materi atau standar isi dan standar pencapaian. Standar materi berisikan jenis, kedalaman, dan ruang lingkup materi pembelajaran yang harus dikuasi siswa, sedangkan standar penampilan berisikan tingkat penguasaan yang harus ditampilkan siswa. Setelah pokok-pokok materi pembelajaran ditentukan, materi tersebut kemudian diuraikan. Uraian materi pembelajaran dapat berisikan butir-butir materi penting yang harus dipelajari siswa atau dalam bentuk. Urutan perlu diperhatikan agar pembelajaran menjadi runtut. Perlakuan (cara mengajarkan/menyampaikan dan mempelajari) perlu dipilih setepat-tepatnya agar tidak salah mengajarkan atau mempelajarinya .
Menurut Aunurrahman (2009: 79) prinsip pemilihan bahan ajar, yaitu: ”Prinsip relevansi, prinsip konsistensi, dan prinsip kecukupan”.
Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajarn hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan. 2) Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus
harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah mendeskripsikan pengertian, menganalisis peranan, menunjukkan sikap, menganalisis upaya, maka materi yang harus diajarkan sesuai dengan kompetensi dasar tersebut.
3) Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
Materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru dan harus dipelajari siswa hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Mimin Haryati (2007: 9) bahwa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menentukan materi pokok dan uraian materi pokok antara lain :
1) Prinsip relevansi, yaitu adanya kesesuaian antara materi pokok dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
2) Prinsip konsistensi, yaitu adanya keajegan antara materi pokok dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi.
3) Prinsip adekuasi, yaitu adanya kecakupan materi ajar yang diberikan untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Uraian diatas dapat peneliti simpulkan selain memperhatikan jenis materi pembelajaran juga harus memperhatikan prinsip relevansi, prinsip konsistensi, dan prinsip kecukupan yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan berapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran, sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh siswa.
commit to user
Adanya temuan yang mengkaji mengenai prinsip relevansi sehingga dimungkinkan telah dihasilkan buku yang relevan. Maka juga perlu diadakan pengkajian mengenai prinsip konsistensi dan prinsip kecukupan pada bahan ajar agar dapat menghasilkan materi ajar yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Mengkaji bahan ajar yang sesuai dengan prinsip konsistensi dan prinsip kecukupan perlu digunakan sebuah teori Elaborasi dalam mengorganisasikan materi pembelajaran, karena teori ini mengatur pembelajaran dengan suatu cara untuk memudahkan pengendalian siswa serta dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar yang lebih nyata dan bermakna.
c. Ukuran (Indikator) Prinsip Bahan Ajar Konsistensi Dan Kecukupan
Mengukur prinsip bahan ajar, baik konsistensi maupun prinsip kecukupan terdapat indikator-indikator yang berpatokan pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Ukuran (indikator) prinsip bahan ajar konsistensi adalah:
1) Cakupan materi, memuat sebagai berikut:
(a) Kelengkapan ruang lingkup materi (memuat pengetahuan, sikap, dan keterampilan civic)
(b) Keluasan materi (c) Kedalaman materi
(d) Relevansi/keterkaitan dengan nilai-nilai pancasila (e) Mengembangkan wawasan global
(f) Mengembangkan wawasan demokrasi (g) Mengembangkan wawasan kebhinnekaan
(h) Mendorong pengembangan pengetahuan kewarganegaraan (i) Mendorong pengembangan kecakapan kewarganegaraan (j) Mendorong pengembangan nilai-nilai kewarganegaraan (k) Menyadarkan pentingnya hak asasi manusia (HAM)
(l) Menyadarkan pentingnya kepastian dalam hokum (rule of law) (m)Mengembangkan budaya politik
(n) Menyadarkan pentingnya sikap positif terhadap konstitusi Negara. 2) Keakuratan materi, terdiri dari:
(a) Kebenaran fakta (b) Kebenaran konsep (c) Kebenaran teori
(d) Kebenaran hokum/prinsip (e) Kebenaran prosedur (f) Ketepatan nilai
Sedangkan ukuran (indikator) prinsip bahan ajar kecukupan adalah: 1) Teknik Penyajian, meliputi:
(a) Sistematika sajian tiap bab utuh/lengkap (b) Kelogisan sajian materi
(c) Keruntutan sajian konsep
(d) Keseimbangan sajian materi (subtansi) antar bab dan antar subbab 2) Penyajian pesan pembelajaran, meliputi:
(a) Menggunakan alat pemusat perhatian (b) Menerapkan prinsip perulangan repetisi (c) Mendorong partisipasi aktif peserta didik (d) Berpusat pada peserta didik
(e) Merangsang berfikir kritis, kreatif, dan inovatif (f) Penyajian bersifat komunikatif dan interaktif (g) Sajian atau pembahasan tidak bias gender (h) Membatasi materi yang tidak relevan
Pada uraian diatas dapat dilihat bahwa penentuan kategori prinsip kecukupan dan prinsip konsistensi terdiri dari beberapa indikator, dimana pada setiap indikatornya guru dan ahli harus menilai berdasarkan sudut pandang mereka apakah buku teks yang mereka nilai sangat sesuai atau sesuai atau cukup sesuai atau kurang sesuai dengan ukran yang diharapkan.
Sangat sesuai diberikan nilai 4, berarti indikator yang di harapkan benar-benar ada dan teraplikasi dengan baik pada buku paket tersebut.
commit to user
Sesuai diberikan nilai 3, berarti indikator yang diharapkan ada meskipun tidak sangat sesuai.
Cukup sesuai diberikan nilai 2, berarti indikator yang diharapkan masih ada yang kurang, sehingga cenderung satu indikator menutupi indikator yang lain.
Kurang sesuai diberikan nilai 1, berarti indikator yang diharapkan pada masih banyak yang belum tercapai dengan kata lain buku teks tersebut hanya menerangkan kulit luarnya saja tanpa ada pendalaman dan penguasaan seluruh materi yang diajarkan.
Prinsip konsistensi dan prinsip kecukupan bahan ajar pada materi sistem hukum dan peradilan nasional di dalam instrument penilaian Badan Standar Penilaian Nasional merupakan penilaian tahap ke II dengan kategori penilaian sebagai berikut:
1) Lolos. Buku teks pelajaran dinyatakan lolos penilaian seleksi tahap ke II berdasarkan profil hasil penilaian dari seluruh empat komponen penilaian apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) Komponen kelayakan isi mempunyai rata-rata skor komposit minimal 2,75 pada setiap subkomponen.
b) Komponen kebahasan, penyajian, dan kegrafikan, mempunyai rata-rata skor komposit lebih besar dari 2,50 pada setiap sub komponen. 2) Lolos dengan perbaikan. Buku teks pelajaran dinyatakan lolos dengan
perbaikan, apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: komponen kebahasan, penyajian dan kegrafikan mempunyai rata-rata skor komposit kurang dari atau sama dengan 2,50 dengan presentase kurang dari 30% pada setiap sub komponen.
3) Tidak Lolos. Buku teks pelajaran dinyatakan tidak lolos apabila subkomponen mempunyai rata-rata skor 1 dari salah satu penilai pada semua komponen.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa penarikan kategori berasal dari rata-rata tiap indikator, sehingga penentuan lolos, lolos dengan perbaikan ataupun tidak lolos adalah berdasarkan hasil rata-rata yang didapat, yang tidak lain disusun
dari penilaian guru dan ahli terhadap tiap indikator berdasarkan sudut pandang mereka dari ukuran-ukuran buku paket tersebut.
d. Teori Elaborasi dalam Mengorganisasikan Materi Pembelajaran
Teori elaborasi berkaitan dengan cara mengorganisasikan pembelajaran pada tingkat struktur isinya, yang berkaitan dengan cara memilih, menata dan menunjukkan saling hubungan materi pembelajaran.
Menurut Degeng (1988: 296) menyatakan bahwa :
Teori elaborasi mendeskripsikan cara pengorganisasian pengajaran dengan mengikuti urutan umum-ke-rinci. Urutan umum-ke-rinci dimulai dengan menampilkan epitome (struktur isi bidang studi yang dipelajari), kemudian mengelaborasi bagian-bagian yang ada dalam epitome secara lebih rinci.
Menurut Reigeluth dan Stein (dalam Degeng, 1988: 296) ada 7 komponen strategi yang diintegrasikan dalam teori elaborasi adalah sebagai berikut: ”1) urutan elaboratif, 2) urutan prasyarat belajar, 3) rangkuman, 4) sintesis, 5) analogi, 6) pengaktif strategi kognitif, 7) kontrol belajar”.
Menurut E. Mulyasa (2007: 150) ”Tujuan teori elaborasi adalah untuk mengintegrasikan pengetahuan baru tentang pembelajaran dan componen display theory (CDT), teori ini hanya berhubungan dengan domain kognitif , tetapi telah mencakup banyak komponen strategi motivasi”. Teori elaborasi mengatur pembelajaran dengan suatu cara untuk memudahkan pengendalian mahapeserta didik, tetapi pada tingkat makro hal ini berarti pengendalian terhadap pemilihan dan pengurutan sebagaimana sistesis dan reviu. Urutan dari sederhana ke kompleks memungkinkan mahapeserta didik membuat keputusan mengenai gagasan-gagasannya.
Teori elaborasi dapat digunakan untuk mengorganisasikan pembelajaran mulai dari yang berisi satu materi standar sampai kepada serangkaian kompetensi dalam kurikulum. Karena kekuatan teori ini pada penyususnan dan penataan materi pembelajaran, maka makin banyak bagian-bagian materi pembelajaran yang dapat diorganisasikan akan memberikan pengaruh terhadap hasil belajar yang lebih nyata dan bermakna.
commit to user
e. Urutan Elaborasi Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah pokok-pokok materi pelajaran yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kemampuan dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar. Materi pembelajaran atau pokok-pokok materi tersebut perlu dirinci atau diuraikan kemudian diurutkan untuk memudahkan kegiatan pembelajaran.
M. Joko Susilo (2006:123) menyatakan bahwa:
Yang harus diperhatikan dalam merinci atau menguraikan materi pelajaran adalah menentukan jenis materi pembelajaran. Terdapat dua jenis klasifikasi materi pembelajaran. Pertama, klasifikasi materi pelajaran menjadi pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural, yang berisi informasi, konsep, generalisasi, fakta dan lain sebagainya. Kedua, klasifikasi materi pelajaran yang dibagi menjadi 4 jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur.”
Menurut E. Mulyasa (2007: 153) menyatakan bahwa: ”Pada pokoknya teori elaborasi memiliki tiga macam urutan penataan pembelajaran, berdasarkan konsep, prinsip, dan prosedur”.
Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, penataan elaborasi berdasarkan konsep, hal ini dilakukan bila materi pokok pembelajaran ditujukan untuk mengetahui konsep-konsep dari pembelajaran yang diberikan. Langkah pertama adalah memilih semua konsep yang akan diajarkan, kemudian merancang urutan materi berdasarkan konsep yang paling umum, paling mudah dan paling dikenal oleh peserta didik, yang selanjutnya dikenal sebagai epitome. Tahapan elaborasi menjabarkan konsep-konsep lain yang lebih rinci dan bermakna. Kedua, penataan elaborasi berdasarkan prinsip, jika tujuan utama pembelajaran untuk mengetahui prinsip-prinsip, maka patokan urutan elaborasi menggunakan acuan prinsip-prinsip yang akan diajarkan. Setelah semua prinsip dipelajari dan dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran, ditetapkan prinsip-prinsip yang paling penting sebagai epitome. Selanjutnya elaborasi menguraikan lebih rinci prinsip-prinsip lain sesuai aturan yang disyaratkan. Ketiga, penataan elaborasi berdasarkan prosedur, penataan ini dilakukan bila tujuan utama pembelajaran ingin memahami
prosedur-prosedur. Hal ini dipilih dari semua prosedur yang akan diajarkan, yang paling dekat dengan kompetensi dasar, paling umum dan paling sederhana, sebagai epitome. Selanjutnya elaborasi dilakukan berdasarkan upaya menjabarkan prosedur-prosedur lain secara lebih rinci.
Seperti telah dikemukakan, umumnya materi pembelajaran terdiri dari gabungan konsep, prinsip, dan prosedur, bahkan juga seperangkat fakta. Pada pelaksanaan elaborasi, bergantung pada materi yang paling dominan, penataan urutan yang didasarkan pada hanya satu diantara tiga materi pembelajaran tersebut. Dengan demikian, materi pembelajaran lain menjadi struktur pendukung dan melengkapi pokok penetaan yang dikembangkan.
Materi pembelajaran pendukung harus diletakkan sedekat mungkin dengan materi pembelajaran pokok yang menjadi patokan dalam penataan. Misalnya, jika pada elaborasi berdasarkan prosedur yang diperlukan materi pembelajaran konsep dan prinsip, maka konsep dan prinsip disajikan pada tahapan elaborasi prosedur tersebut.
f. Langkah-Langkah Pengajaran Yang Diorganisasi Dengan Model
Elaborasi
Menurut I Nyoman Sudana Degeng (1988: 307) ”Terdapat 7 langkah pengajaran yang diorganisasi dengan model elaborasi”.
Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Penyajian kerangka isi. Pengajaran dimulai dengan menyajikan kerangka isi: struktur yang memuat bagian-bagian yang paling penting dari bidang studi
2) Elaborasi tahap pertama. Elaborasi tahap pertama adalah mengelaborasi tiap-tiap bagian yang ada dalam kerangka isi, mulai dari bagian yang terpenting. Elaborasi tiap-tiap bagian diakhiri dengan rangkuman dan pensistesis yang hanya mencakup konstruk-konstruk yang baru saja diajarkan (pensisntesis sederhana)
3) Pemberian rangkuman dan sistesis eksternal. Pada akhir elaborasi tahap pertama, diberikan rangkuman dan diikuti dengan pensitesis eksternal. Rangkuman berisi pengertian-pengertian singkat mengenai
konstruk-commit to user
konstruk yang diajarkan dalam elaborasi dan pensitesis eksternal menunjukkan, a) hubungan-hubungan penting yang ada antar bagian yang telah dielaborasi, b) hubungan antara bagian-bagian yang telah dielaborasi dengan kerangka isi.
4) Elaborasi tahap kedua. Setelah elaborasi tahap pertama berakhir dan diintegrasikan dengan kerangka isi, pengajaran diteruskan ke elaborasi tahap kedua yang mengelaborasi bagian pada elaborasi tahap pertama dengan maksud membawa si belajar pada tingkat kedalaman sebgaimana ditetapkan dalam tujuan pengajaran. Seperti halnya dalam elaborasi tahap pertama, setiap elaborasi tahap kedua disertai rangkuman dan pensitesis internal.
5) Pemberian rangkuman dan sistesis ekternal. Pada akhir elaborasi tahap kedua, diberikan rangkuman dan sintesis eksternal, seperti pada elaborasi tahap pertama.
6) Setelah semua elaborasi tahap kedua disajikan, disintesiskan dan diintegrasikan kedalam kerangka isi, pola seperti ini akan berulang kembali untuk elaborasi tahap ketiga, dan seterusnya, sesuai dengan tingkat kedalaman yang diterapkan oleh tujuan pengajaran.
7) Pada tahap akhir pengajaran, disajikan kembali kerangka isi untuk mensintesiskan keseluruhan isi bidang studi yang telah diajarkan.
g. Buku Teks Pelajaran Pendidikan Dasar dan Menengah
Buku teks pelajaran sebagai sumber informasi seyogjanya memiliki kualitas yang baik, yang memenuhi kriteria standar tertentu. Seperti yang ditegaskan dalam Peraturan Menteri Nomor 11 Pasal 3 ayat (1) yang menyatakan bahwa “Buku teks pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang digunakan pada satuan pendidikan dasar dan menengah dipilih dari buku-buku teks pelajaran yang telah ditetapkan oleh Menteri berdasarkan rekomendasi penilaian kelayakan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)”.
Hal-hal penting yang perlu dipertimbangkan bagi sebuah buku yang dapat memenuhi syarat untuk terjadinya proses berpikir dan belajar mandiri
menurut BSNP (2009: http://www.bsnp-indonesia.org) yakni “Strategi pengolahan informasi, tingkat perkembangan psikologi peserta didik, dan proses belajar aktif”.
Hal tersebut dapat dijelaskana sebagai berikut: 1) Strategi pengolahan informasi
Sebuah buku yang baik harus mampu membangkitkan minat dan perhatian anak (atensi) untuk membaca teks bacaan. Hal ini diperlukan agar informasi mampu diserap sebagai rangsangan. Namun segala sesuatu yang diserap ini baru bisa berarti (meaningful) dan diingat bila informasi (tulisan) diolah dalam ingatan jangka panjang, misalnya dikategorisasikan, diberi makna, dan bisa dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Informasi yang disimpan dengan organisasi yang baik akan membentuk jaringan pengetahuan yang saling terjalin, tidak sekedar merupakan ingatan asosiatif belaka. Berarti sebuah buku harus tampil dalam“wajah” yang keterbacaannya tinggi, menarik minat dan memikat. Selain itu isi bahasannya harus dapat mengoptimalkan tingkat berolah pikir peserta didik, misalnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, pemecahan masalah, pemberian contoh-contoh konkret, eksperimen, dan penelusuran proses dari pengalamannya.
2) Tingkat Perkembangan Psikososial Peserta Didik
Kesanggupan untuk menerima dan mengolah informasi secara optimal dipengaruhi oleh tingkat perkembangan psikososial seseorang. Artinya penyajian yang baik, bahasa yang baik (readable) saja belum menjamin materi yang disajikan dapat mengoptimalkan proses belajar. Untuk itu, diperlukan kesadaran tentang pentingnya ciri-ciri kematangan kognitif dan sosial emosional pembaca yang akan menjadi sasaran buku pembelajaran. Misalnya, kemampuan kebahasaan seseorang,keakraban bahasan, tingkat kesulitan konsep yang di bahas, menghargai keberagaman, dan kesesuaian konteks.
3) Proses Belajar Aktif Belajar secara bermakna akan mudah terjadi apabila peserta didik terlibat aktif dalam proses belajar secara terus menerus.
commit to user
Melalui keterlibatan tersebut dapat terjalin komunikasi interaktif yang