• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.7 Prinsip Ekonomi Dalam Proses Produksi Usahatani

Untuk melakukan analisa efisiensi usahatani, maka langkah pertama yang harus ditempuh adalah menentukan bentuk fungsi produksi pada usahatani tersebut. Bahwa di dalam proses produksi beberapa input (masukan) yang digunakan pada akhimya akan diubah ke dalam output (produksi) dan suatu alat untuk mengetahui keberhasilan produksi dalam suatu usaha adalah fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu hubungan teknis antara faktor input dan output dalam suatu proses produksi (Koutsoyianis,1985). Hal tersebut menggambarkan hukum proporsi, yaitu transpormasi faktor input dalam produk (output) pada periode waktu tertentu.

Sementara Teken (1979) menyebutkan bahwa fungsi produksi adalah hubungan fisik atau hubungan teknis antara jumlah faktor produksi yang dipakai dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga faktor produksi yang dipakai maupun harga produksi yang dihasilkan. Dan selanjutnya Soekartawi (1990) menambahkan bahwa fungsi produksi merupakan hubungan yang bersifat fisik maupun yang bersifat teknis antara faktor produksi dengan produksi, didalamnya menyangkut juga pengertian teknologi.

Memahami prinsip-prinsip ekonomi dalam proses produksi adalah penting, sebab proses produksi yang tidak diikuti oleh arti ekonomis menjadi tidak banyak berarti. Setiap produsen dalam usahatani akan selalu berusaha untuk mengalokasikan faktor produksi yang dikuasai seefisien mungkin untuk memperoleh produksi yang maksimal. Pendekatan ini disebut dengan pendekatan profit maximisation.

Di lain pihak apabila petani dihadapkan pada masalah keterbatasan biaya maka merekajuga tetap berusaha untuk meningkatkan keuntungan dengan kendala biaya yang dimiliki kuantitasnya terbatas. Pendekatan ini dikenal dengan istilah meminimumkan biaya atau cost minimazation. Kedua prinsip mi adalah sama yakni untuk memaksimumkan keuntungan dengan cara mengalokasikan penggunaan sumberdaya yang seefisien mungkin.

Dalam proses produksi dikenal konsep efisiensi ekonomis yaitu konsep yang mengukur penggunaan input, jumlah biaya (korbanan) dan keuntungan yang diperoleh atau konsep yang mengukur antara imbangan biaya dan penerimaan usahatani yang diterimanya.

Untuk mengukur imbangan biaya penerimaan dinyatakan dengan menggunakan rumus RC ratio (Return and Cost Ratio). Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Apabila hasil analisa memberikan R/C rasio> 1, maka usahatani atau usaha yang dilakukan tersebut dinyatakan dengan efisien dan menguntungkan.

2. Apabila hasil analisa memberikan R/C rasio = 1, maka usahatani atau usaha yang dilakukan tersebut dinyatakan dengan efisien dan menguntungkan dan juga tidak mengalami kerugian.

3. Apabila hasil analisa memberikan RIC rasio < 1, maka usahatani atau usaha yang dilakukan tersebut dinyatakan dengan tidak efisien dan tidak menguntungkan dan atau usaha tersebut mengalami suatu kerugian.

Selanjutnya seperti apa yang dikemukakan Banoewidjaja (1979) bahwa peranan penyuluhan mengenai teknologi baru adalah sangat penting, karena produksi pertanian akan meningkat apabila teknik bercocok tanam yang harus dilakukan oleh petani berkembang dengan baik yaitu dengan menggunakan teknologi baru yang dimaksud, meliputi penggunaan bibit unggul, pupuk, dan abat-obatan pemberantasan hama dan penyakit. Hal tersebut juga bisa ditunjukkan pada produksi: Y (produksi kg) F (X2) F (X1) X (Faktor Produksi)

Gambar 1 : Kurva Produksi Sebelum dan Sesudah Penerapan Teknologi Baru

Kurva produksi pada gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Mula-mula sebelum penggunaan teknologi baru produksi digambarkan

seperti garis f(X1)

2. Setelah adanya penerapan I penggunaan teknologi baru produksi yang dihasilkan mengalami perubahan / peningkatan yaitu seperti yang ditunjukkan oleh garis f(X2).

B A

2.2.8 Analisis Ekonomi Usahatani

Ilmu usahatani biasanya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki atau kuasai dengan sebaik-baiknya; dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumber daya tersebut menghasilkan keluaran yang melebihi masukan (input) (Soekartawi, 1990).

Efisiensi usahatani dapat diukur dengan cara menghitung efisiensi teknis, efisiensi harga dan efisiensi ekonomi. Ketiga macam efisiensi ini penting untuk diketahui dan diraih oleh petani bila petani menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Umumnya para petani memang tidak mempunyai catatan tentang usahatani yang sedang dilakukannya, sehingga sulit bagi petani untuk melakukan analisis usahataninya. Petani hanya mengingat-ingat anggaran arus uang tunai (cash flow) yang mereka lakukan, walaupun sebenarnya ingatan tidak terlalu jelek, karena mereka masih ingat bila ditanya tentang berapa output yang diperoleh dan berapa input mereka gunakan. Tentu saja teknik pengumpulan datanya harus baik dan benar. Perlunya analisis usahatani memang bukan untuk kepentingan petani saja tetapi juga untuk para penyuluh pertanian, mahasiswa dan pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan analisis usahatani.

Menurut Soekartawi (1990), dalam melakukan analisis usahatani, seseorang dapat melakukannya menurut kepentingan untuk apa analisis yang dilakukannya. Dalam banyak pengalaman analisis usahatani yang dilakukan oleh petani memang dimaksudkan untuk tujuan mengetahui atau meneliti tentang :

a. Keunggulan komperatif (comparative advantage).

b. Kenaikan hasil yang semakin menurun (law of diminishing return) c. Substitusi (substitution effect)

d. Pengeluaran biaya usahatani (farm expenditure) e. Biaya yang diuangkan (opportunity cost) f. Macam tanaman yang diusahakan. g. Baku timbang tujuan (goal trade-off)

Maksud dari tujuh macam analisis usahatani pada dasarnya sama, yaitu mencari informasi tentang keragaan suatu usahatani dilihat dari berbagai aspek. Telaah seperti ini sangat penting karena tiap macam usahatani pada skala usaha dan pada teknologi tertentu berbeda satu dengan yang lain, karena terdapat perbedaan dalam karakteristik yang dipunyai pada usahatani yang bersangkutan. Usahatani pada skala usaha yang luas umumnya bermodal besar, teknologi tinggi, manajemen modern dan bersifat komersial. Sebaliknya usahatani skala kecil umumnya bermodal sedikit, teknologi tradisional, bentuk usahataninya sederhana yang sifat usahanya subsisten. Untuk itulah dalam melakukan analisis usahatani hendaknya memperhatikan berbagai karakteristik usahatani yang ada dan selalu mengingat kegunaan dan analisis tersebut.

Menurut Soekartawi (1996), perhitungan yang dipakai dalam analisis ekonomis dalam usahatani untuk menentukan usahatani tersebut mengalami keuntungan atau tidak adalah anggaran arus uang tunai atau biasa disebut dengan cash flow analysis. Dibawah ini diuraikan penjelasan beserta rumus-rumus yang biasa digunakan. Dalam pekerjaan evaluasi suatu usahatani, perhitungan ini penting sekali karena menyangkut biaya sewa, penerimaan dan pendapatan yang berlaku pada usaha yang dijalankan. Anggaran arus uang tunai adalah besarnya pengeluaran yang diperoleh dari selisih pengeluaran (revenue) dan biaya (cost). Pada analisis ini terdapat tiga variabel yang diukur antara lain; biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani. Penjelasan dari ketiga variabel tersebut diuraikan beserta rumus-rumus yang berlaku sebagai berikut :

a. Biaya usahatani

Menurut Soekartawi (2001), biaya usahatani dibedakan menjadi dua kategori biaya yaitu biaya tetap (fixed cost), biaya tidak tetap (variable cost), biaya yang dikeluarkan petani dalam proses produksi serta membawanya menjadi produk disebut biaya produksi, termasuk didalamnya barang yang dibeli dan jasa yang dibayar didalam maupun diluar usahatani. Didalam jangka pendek, satu kali produksi dapat membedakan biaya tetap dan biaya tidak tetap. Adanya klasifikasi biaya ini sangat penting dalam membandingkan pendapatan untuk mengetahui kebenaran jumlah biaya yang digunakan. Ada dua kategori atau pengelompokan biaya, yaitu :

FC TFC n i

å

= = 1 1. Biaya Tetap (fixed cost)

Adalah biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu kali masa produksi. Tergolong dalam kelompok biaya ini antara lain: pajak, tanah, penyusutan alat maupun biaya pemeliharannya. Bila tidak ada biaya imbangan dalam penggunaannya atau tidak ada penawaran untuk hal tersebut baik didalam usahatani maupun diluar usahatani. Untuk menghitung biaya tetap dalam usahatani digunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

TFC : Total biaya tetap (total fixed cost) FC : Biaya tetap (fixed cost)

n : Macam input

Dimana :

Keterangan :

FC : Biaya tetap (fixed cost)

PXi : Jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap

Xi : Jumlah input ke i

Maka :

Keterangan :

TFC : Total biaya tetap (fixed cost)

X i : Jumlah fisik dan input yang membentuk biaya tetap PXi : Harga input ke i (Rp)

n : Macam input Xi P FC= Xi. Xi i n i P X TFC

å

= = 1

2. Biaya tidak tetap (variable cost)

Merupakan biaya yang besar kecilnya sangat bergantung kepada skala produksi. Apabila petani menginginkan produksi yang tinggi maka biaya untuk sarana produksi juga harus ditambah sehingga biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung besar kecilnya produksi yang diinginkan. Tergolong biaya ini antara lain : sewa lahan, pengolahan tanah, benih, biaya tanam, pupuk, dangir, obat, tenaga kerja, pengairan, serta biaya panen. Untuk mengetahui besarnya biaya varibel dapat menggunakan rumus :

Keterangan :

TVC : Total biaya tidak tetap (total variable cost) VC : Biaya tidak tetap (variable cost)

n : Macam input

Dimana :

Keterangan :

VC : Biaya tidak tetap (variable cost)

PXi : Harga input ke i

Xi : Jumlah input ke i

Maka :

Keterangan :

TVC : Total biaya tidak tetap (total variable cost) X i : Jumlah input ke i

PXi : Harga input ke i (Rp)

n : Macam input VC TVC n i

å

= = 1 Xi P VC= Xi. Xi i n i P X TVC

å

= = 1

Untuk mengetahui total biaya usahatani dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini, karena total biaya (TC) adalah jumlah dari total biaya tetap (fixed cost) dan total biaya tidak tetap (variable cost), maka rumusnya adalah :

TC = TFC + TVC

Keterangan :

TC : Biaya produksi total (total cost) TFC : Biaya tetap total (total fixed cost) TVC : Biaya variabel total (total variable cost)

b. Penerimaan usahatani

Penerimaan usahatani adalah keseluruhan nilai produksi yang diperoleh petani, dengan klarifikasi musim, luas lahan, tahun, maupun banyaknya tanaman. Untuk mengetahui penerimaan usahatani menggunakan rumus :

TR = Q. P Keterangan :

TR : Penerimaan usahatani (total revenue) Q : Jumlah produksi (quantity)

P : Harga jual (price)

Apabila macam tanaman yang diusahakan lebih dari satu, maka rumus (1) berubah menjadi :

Keterangan :

TR : Penerimaan usahatani (total revenue) Qi : Jumlah produksi (quantity)

Pi Qi TR n i . 1

å

= =

Pi : Harga jual (price)

N : Jumlah atau macam tanaman yang diusahakan

Menurut Soekartawi (2001), dalam menghitung penerimaan usahatani dapat dipisahkan menjadi 2 yaitu analisis parsial usahatani dan analisis keseluruhan (whole farm analysis) usahatani. Analisis parsial adalah analisis yang digunakan untuk menghitung penerimaan usahatani yang mengusahakan satu macam tanaman, sedangkan analisis keseluruhan (whole farm analysis) adalah analisis yang digunakan untuk menghitung penerimaan usahatani yang mengusahakan lebih dari satu macam tanaman (dalam proses penghitungan analisis keseluruhan jumlah tanaman yang diusahakan dihitung satu per satu kemudian hasil akhirnya dijumlahkan). Kedua analisis ini digunakan untuk membedakan usahatani yang mengusahakan satu komoditi dan usahatani yang mengusahakan tanaman lebih dari satu komoditi usaha.

c. Pendapatan usahatani

Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dengan biaya produksi selama satu tahun dalam satuan rupiah. Bentuk penerimaan tunai dapat menggambarkan tingkat kemajuan usahatani dalam spesialisasi dan pembagian kerja. Besarnya pendapatan tunai dari total penerimaan dapat digunakan untuk perbandingan keberhasilan petani satu terhadap petani yang lain. Adapun manfaat dari analisis pendapatan ialah untuk mengukur kegiatan usahatani pada saat ini menguntungkan atau tidak.

Menurut Soekartawi (2001), untuk mengetahui besarnya pendapatan usahatani menggunakan rumus :

Pd = TR – TC Keterangan :

Pd : Pendapatan usahatani (Rp)

TR : Penerimaan usahatani (total revenue) TC : Biaya produksi (total cost)

2.3 Kerangka Pikir dan Hipotesis

Pembangunan pertanian pada hakekatnya adalah suatu proses perubahan sosial dan pertumbuhan ekonomi kearah yang lebih baik. Keberhasilan pembangunan pertanian ditentukan oleh kemampuan petani itu sendiri dalam berbagai usahatani dan diharapkan mampu mengelola usahanya dengan lebih baik, namun pada kenyataannya masih belum sesuai yang diharapkan.

System of rice intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada 3 pola manajemen pokok yaitu: (1) Manajemen pengelolaan tanah, (2) Manajemen pengelolaan tanaman, dan (3) Manajemen pengelolaan air melalui pemberdayaan petani maupun kelompok tani yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Penerapan gagasan System of rice intensification (SRI) yang dilakukan oleh petani maupun kelompok tani sebenarnya berdasarkan pada 7 komponen penting sebagai berikut: (1) Transplantasi bibit muda 7-15 hari, (2) Waktu transplating adalah 30 menit, (3) Bibit ditanam satu batang, (4) Jarak tanam lebar, (5) Melakukan irigasi berselang sehingga kondisi tanah lembab , (6) Melakukan penyiangan dengan gosrok, (7)

Dengan demikian diharapkan hasil peenerapan metode System of rice intensification (SRI) akan mampu meningkatkan produktifitas padi yang akhirnya berdaampak pada meningkatnya pendapatan petani/kelompok tani.

Gambar 2. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka disusunlah hipotesis sebagai berikut:

1. Diduga terdapat perbedaan Biaya (Total Cost) usahatani padi metode SRI dengan Metode Konvensional.

2. Diduga terdapat perbedaan Penerimaan (Total Revenue) usahatani padi metode SRI dengan Metode Konvensional.

3. Diduga terdapat perbedaan Laba usahatani padi metode SRI dengan Metode Konvensional.

4. Diduga bahwa usahatani padi Metode SRI lebih efisien dibandingkan metode konvensional. Metode SRI Petani Metode Konvensional

III. METODE PENELITIAN

Dokumen terkait