BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.4 Perbandingan Struktur Biaya dan Pendapatan Usahatan
5.4.4 Produksi
Produksi merupakan jumlah keseluruhan dari produk yang dihasilkan oleh petani pada waktu musim tanam MK tahun 2009. Produksi juga merupakan suatu kegiatan atau usaha tani yang melibatkan beberapa faktor produksi seperti tanah, iklim, varietas, kultur teknis, pengolahan, serta alat-alat. Hasil rata-rata produksi padi untuk 1 Ha oleh petani SRI dapat mencapai 9.469,80 kg, sedangkan hasil rata-rata produksi untuk 1 Ha oleh petani konvensional adalah 7.526 kg.
5.4.5 Pendapatan
Pendapatan usahatani diperoleh dari pengurangan total penerimaan dengan total biaya produksi. Pendapatan juga disebut sebagai keuntungan petani dalam berusaha tani. Rata-rata keuntungan untuk lahan 1 ha yang diperoleh petani SRI adalah Rp. 7.029.811,00 sedangkan petani konvensional adalah Rp. 5.136.225,00. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata keuntungan yang diperoleh petani SRI lebih besar dari pada rata-rata keuntungan petani konvensional, dengan selisih sebesar 29,94%.
Tabel 13. Rata-Rata Pendapatan Petani SRI dan Konvensional per Hektar
No Keterangan Petani SRI (Rp) Petani Konvensional (Rp) Selisih (%) 1 TR 22.727.514,29 18.062.601,68 20.53% 2 TVC 10.886.786,90 7.914.355,76 27.30% 3 TFC 4.810.915,48 5.012.020,88 4.18% PENDAPATAN 7.029.811,91 5.136.225,05 26.94%
Total pendapatan dari total usaha tani padi adalah keuntungan yang diperoleh dalam berusaha tani. Dapat dilihat pada tabel diatas bahwa petani SRI lebih besar pendapatannya dari pada petani konvensional. Perbedaan pendapatan ini sangat jelas terlihat dan dapat dirasakan petani, kemudian juga berdampak pada produktifitas yang lebih besar sehingga penerimaan petani SRI juga lebih besar.
5.5 Pengujian Hipotesis
Dalam menguji hipotesis diduga bahwa total biaya, total pendapatan dan keuntungan petani yang menggunakan metode SRI lebih besar dari pada
pendapatan petani yang menggunakan metode konvensional, analisis
menggunakan uji t dengan uji satu arah. Hasil dari pengujian total biaya, total pendapatan dan keuntungan masing-masing dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
5.5.1 Total Biaya
Total biaya terdiri dari komponen biaya tenaga kerja, biaya saprodi, biaya lahan, dan biaya penyusutan, selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1. Dengan sampel sebanyak 20 orang pada masing-masing metode dapat diketahui bahwa nilai rata-rata dari total biaya lebih besar petani yang menggunakan metode SRI yakni sebesar Rp. 15.697.702,3810 daripada petani konvensional. Standar deviasi menunjukkan seberapa besar/luas rentang data-data sampel dari nilai rata-ratanya, dengan demikian data SRI menunjukkan standar deviasi yang lebih tinggi dari data konvensional yakni sebesar 1.462.921,37492.
Sedangkan standar error rata-rata menunjukkan besarnya penyimpangan dari data metode SRI dan metode konvensional.
Hasil pengujian hipotesis total biaya petani SRI dengan menggunakan uji t diperoleh nilai signifikansi atau p value (2-tailed) pada bagian equal variances assumed sebesar 0.000. Oleh karena p < 0.05; maka Ho ditolak atau kedua rata- rata biaya total berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95%. Artinya biaya yang dikeluarkan oleh petani SRI lebih besar daripada petani konvensional. Pengeluaran terbesar adalah biaya tenaga kerja, karena usahatani padi metode SRI memerlukan perawatan yang intensif, sehingga akan memberikan peluang kerja bagi masyarakat sekaligus sebagai wahana belajar dan mengembangkan ketrampilan teknologi baru.
5.5.2 Total Penerimaan
Total penerimaan merupakan hasil yang diperoleh petani padi baik dengan metode SRI maupun konvensional dengan tingkat harga Rp. 2.400. Hasil analisis untuk total penerimaan usahatani metode SRI dan Konvensional selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1.
Dengan sampel sebanyak 20 orang pada masing-masing metode dapat diketahui bahwa nilai rata-rata dari total penerimaan lebih besar petani yang menggunakan metode SRI yakni sebesar Rp. 22.727.514,2857 daripada petani konvensional. Standar deviasi menunjukkan seberapa besar/luas rentang data-data sampel dari nilai rata-ratanya, dengan demikian data SRI menunjukkan standar deviasi yang lebih tinggi dari data konvensional yakni sebesar 1.899.189,30548.
Sedangkan standar error rata-rata menunjukkan besarnya penyimpangan dari data metode SRI dan metode konvensional, berikut disajikan tabel hasil analisis uji beda rata-rata.
Hasil pengujian hipotesis total penerimaan petani SRI dengan menggunakan uji t diperoleh nilai signifikansi atau p value (2-tailed) pada bagian equal variances assumed sebesar 0.000. Oleh karena p < 0.05; maka Ho ditolak atau kedua rata-rata total penerimaan berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95%. Artinya para petani pengguna metode SRI menggunakan standar teknologi yang dianjurkan dalam budidaya padi SRI. Faktor inilah yang akhirnya membuat hasil panen mereka lebih baik dan berbeda jauh dari produksi budidaya padi metode konvensional. Hal ini memang patut disadari, sebagai salah satu contoh keberhasilan budidaya padi SRI dalam meningkatkan produksi padi yang signifikan.
5.5.3 Laba
Laba merupakan hasil yang diperoleh petani padi baik dengan metode SRI maupun konvensional berasal dari total pendapatan setelah dikurangi total biaya. Hasil analisis untuk laba usahatani metode SRI dan Konvensional selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1.
Dengan sampel sebanyak 20 orang pada masing-masing metode dapat diketahui bahwa nilai rata-rata dari laba, menunjukkan nilai yang lebih besar dari petani yang menggunakan metode SRI yakni sebesar Rp. 7.029.811,9048 daripada petani konvensional. Standar deviasi menunjukkan seberapa besar/luas rentang data-data sampel dari nilai rata-ratanya, dengan demikian data SRI menunjukkan standar deviasi yang lebih tinggi dari data konvensional yakni sebesar Rp. 2.185.648,81104.
Hasil pengujian hipotesis keuntungan petani SRI dengan menggunakan uji t diperoleh nilai signifikansi atau p value (2-tailed) pada bagian equal variances assumed sebesar 0.002. Oleh karena p < 0.05; maka Ho ditolak atau kedua rata- rata keuntungan berbeda pada taraf kepercayaan 95%. Faktor keuntungan tidak bisa kita lepaskan dari variabel penentu berupa tonase produksi dan harga pada saat musim panen. Dengan mengacu pada dua variabel tersebut dapat dijelaskan mengapa terjadi perbedaaan yang signifikan antara pendapatan petani SRI dan konvensional. Hal ini dikarenakan produksi padi yang jauh berbeda antara usahatani metode SRI dan metode Konvensional, walaupun berada pada tingkat harga yang sama. Dengan adanya peningkatan produksi pada usahatani padi metode SRI akan berdampak pada meningkatnya pendapatan, dan kedepannya output atau beras yang dihasilkan juga akan semakin bermutu karena seluruh input usahataninya ramah lingkungan (organik), dan tentu saja ini akan berimbas pada harga beras yang semakin meningkat.
5.6 Analisis Efisiensi Usahatani Padi Sawah Metode SRI dan konvensional