• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 E-Government

2.6.4 Prinsip E-Government

Prinsip adalah suatu pernyataan yang mendasar atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Indrajit (2016:30) mengemukakan bahwa terdapat empat prinsip e-Government, yaitu:

a. Fokus pada perbaikan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Hal ini karena begitu banyaknya jenis pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. karena begitu banyak jenis pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakatnya, maka harus dipikirkan pelayanan mana yang akan menjadi prioritas.

b. Bangunlah sebuah lingkungan yang kompetetif bahwa misi untuk melayani masyarakat tidak hanya diserahkan, dibebani, atau menjadi hak dan tanggung jawab pemerintah semata, tetapi sektor swasta dan non komersial diberikan kesempatan untuk melakukannya.

c. Berikan penghargaan pada inovasi, dan berilah ruang kesempatan bagi kesalahan. Konsep e-Government merupakan sebuah pendekatan yang masih baru, dimana semua negara sedang melakukannya.

d. Tekankan pada pencapaian efisiensi. Pemberian pelayanan dengan memanfaatkan teknologi digital atau internet tidak selamanya menjadi jalur alternatif, tetapi juga harus efiesien.

Keempat prinsip yang telah dikemukakan di atas dapat menjadi pondasi yang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan pelayanan publik yang berbasis teknologi. Prinsip ini membutuhkan interaksi antara pemerintah dengan masyarakat, maupun dengan pihak swasta, dan lembaga non komerisal.

29 2.7 Program

Program merupakan bagian dari kebijakan dalam melaksanakan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuannya. Program-program yang telah diciptakan oleh pemerintah nyatanya harus mampu memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah harus mampu merencanakan program dengan sebaik mungkin, agar dapat berjalan dengan baik.

Menurut Hasibuan (2006:72) bahwa program adalah, suatu jenis rencana yang jelas dan konkret karena di dalamnya sudah tercantum sasaran, kebijaksanaan, prosedur, anggaran, dan waktu pelaksanaan yang telah ditetapkan.

Sementara itu menurut Joan L. Herman (dalam Tayipnapis, 2008:9) bahwa program sebagai segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh.

Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa program adalah suatu kegiatan yang dipilih dan direncanakan yang merupakan realisasi terhadap kebijakan yang telah ditentukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Program harus mempunyai prosedur yang jelas dalam pelaksanaannya, hal ini bertujuan agar program dapat berjalan sesuai dengan yang telah ditetapkan.

2.8 Definisi Konsep

Menurut Soedjadi (2000:14) Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata (lambang bahasa). Oleh sebab itu untuk menemukan batasan yang lebih jelas maka peneliti menyedarhanakan pemikiran atasa masalah yang sedang diteliti. Adapun konsep yang diungkapkan oleh peneliti, yaitu:

a. Efektivitas merupakan keberhasilan organisasi untuk menciptakan kondisi internal organisasi yang bersih. Efektivitas berbicara tentang

30 sejauh mana organisasi telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

b. E-Government adalah pelayanan publik yang berbasis teknlogi dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan oleh pemerintah.

c. Elektronik Warung Gotong Royong Kelompok Usaha Bersama Program Keluarga Harapan (e-Warong KUBE PKH) merupakan suatu program yang dibentuk oleh pemerintah untuk pencairan dana bantuan sosial berupa bahan pangan dengan sistem non tunai.

d. Efektivitas Program e-Warong KUBE- PKH dalam upaya mengentaskan Kemiskinan Pada Kecamatan Medan Barat, merupakan keberhasilan program dalam menciptakan lingkungan internal yang bersih, serta mencapai tujuan dari program yang telah ditetapkan sebelumnya.

2.9 Hipotesis Kerja

Menururt Ali (dalam Sandjaja, 2015:186) Hipotesis adalah pernyataan atau penjelasan yang didasari pengetahuan dan observasi, tetapi belum terbukti, atau disangkal kebenarannya. Berdasarkan pemaparan di atas maka penulis merumuskan hipotesis kerja, yaitu efektivitas program e-Warong KUBE PKH dalam upaya mengentaskan kemiskinan pada Kecamatan Medan Barat dengan menggunakan pendekatan proses (internal process approach) yang menganggap efektivitas sebagai efisiensi dan kondisi kesehatan organisasi internal, yaitu kegiatan dan proses internal organisasi yang berjalan dengan lancar. Pendekatan proses (process approach) melihat kegiatan internal organisasi dan mengukur efektivitas melalui kategori internal seperti efisiensi dalam pelayanan, prosedur

31 pelayanan, semangat kerjasama dan loyalitas kelompok kerja, hubungan antara atasan dan bawahan, serta sarana dan prasarana.

32 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Melalui metode ini, penulis berusaha mendapatkan gambaran secara sistematis, dan jelas mengenai fenomena-fenomena yang terjadi yang berkaitan dengan topik yang dibahas.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2006:6).

Dengan demikian, metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, menyajikan, serta menganalisis data sehingga diperoleh gambaran yang cukup jelas tentang masalah yang dihadapi mengenai efektivitas program e-Warong KUBE-PKH dalam upaya mengentaskan kemiskinan pada Kecamatan Medan Barat. Dalam penelitian ini akan mengumpulkan informasi yang terkait dengan efesiensi dalam pelayanan, prosedur pelayanan, semangat kerjasama dan loyalitas kelompok kerja, hubungan antara atasan dan bawahan, serta sarana dan prasarana.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kantor Dinas Sosial Kota Medan, hal ini dikarenakan Dinas Sosial Kota Medan merupakan pengendali dari pelaksanaan program e-Warong KUBE PKH di Kota Medan, sehingga akan mempermudah peneliti untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dinas Sosial Kota Medan berada di Jln. T.B Simatupang No. 114, Medan Sunggal Kota Medan. Penelitian ini juga difokuskan pada E-Warong KUBE-PKH yang berada di Kecamatan

33 Medan Barat, hal ini dikarenakan adanya permasalahan yang dikeluhkan KPM kepada Tim Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI dipimpin Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan (F-PKB) yaitu berupa saldo yang kerap kosong, hingga kebutuhan pokok yang tidak tersedia.

3.3 Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya, oleh karena itu pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel (Suyanto, 2005:17). Penentuan informan dalam penelitian kualitatif berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum (Sugiyono, 2009:221).

Informan adalah seseorang yang benar-benar mengetahui suatu persoalan tertentu yang darinya dapat diperoleh informasi yang jelas, akurat terpercaya baik berupa pernyataan, keterangan atau data-data yang dapat membantu dalam memahami persoalan tersebut. Dalam penelitian ini penentuan informan kunci dilakukan dengan teknik purposive sampling. Menurut (Sugiyono, 2011) bahwa purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel atas pertimbanngan tertentu yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan informasi.

Informan dalam penelitian ini adalah orang yang benar-benar mengetahui persoalan atau permasalahan tertentu dan dapat memperoleh informasi yang berkaitan dengan program e-Warong KUBE-PKH di Kecamatan Medan Barat, yang selanjutnya akan memberikan pernyataan melalui wawancara, atau memberikan data-data yang dapat membantu dalam memahami permasalahan tersebut.

34 Adapun yang akan menjadi informan peneliti, yakni:

Tabel 3.1: Matriks Informan Penelitian

No Informan Informasi yang dibutuhkan Metode Jumlah 1. Sekretaris Dinas

Sosial Kota Medan

Untuk Mengetahui:

1. Efesiensi Pelayanan Dalam Program E-Warong

1. Efesiensi pelayanan program e-Warong KUBE-PKH

2. Prosedur pelayanan

3. Semangat kerjasama dan loyalitas kelompok kerja

1. Efesiensi pelayanan dalam program e-Warong

Wawancara 1

35 2. Prosedur pelayanan

3. Semangat kerjasama dan loyalitas kelompok kerja

1. Efesiensi pelayanan program e-Warong KUBE-PKH

2. Prosedur pelayanan

3. Semangat kerjasama dan loyalitas kelompok kerja

36 (Perum Bulog) 3. Semangat Kerjasama dan

Loyalitas Kelompok Kerja 4. Sarana dan Prasarana 7. Operator

E-Warong KUBE-PKH

Untuk mengetahui:

1. Efesiensi pelayanan program e-Warong KUBE-PKH

2. Prosedur pelayanan

3. Semangat kerjasama dan loyalitas kelompok kerja

4. Hubungan antara atasan dan bawahan

5. Sarana dan prasarana.

Wawancara 2

8. Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

Untuk mengetahui:

1. Efisiensi Pelayann 2. Prosedur Pelayanan

3. Semangat Kerjasama dan Loyalita Kelompok Kerja

4. Hubungan antara atasan dan bawahan

5. Sarana dan prasarana.

Wawancara 6

Jumlah informan 14

37 3.4 Teknik Pengumpulan Data/ Informasi

Teknik pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Menurut Nazir (2003:174) bahwa teknik pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pungumpulan data dengan dua cara yaitu:

1. Teknik Pengumpulan Data Primer, yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian secara langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Teknik pengumpulan data primer ini dilakukan dengan cara:

a. Observasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap objek penelitian, dan selanjutnya mengadakan pencatatan terhadap gejala-gejala yang ditemukan dilapangan.

b. Wawancara, yaitu kegiatan pengumpulan data melalui pertanyaan secara lisan kepada informan secara sistematis dan terorganisasi, yang dilakukan oleh peneliti sehubung dengan masalah yang diteliti.

2. Teknik pengumpulan data sekunder, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui studi pustaka untuk mendukung data primer dalam menemukan informasi yang berkaitan dengan penelitian. Adapun bentuk pengumpulan data sekunder yang dilakukan dengan cara:

a. Studi Dokumentasi, yaitu teknik pengumulan data dengan menggunakan catatan-catatan dan dokumen penting yang berhubungan dengan objek penelitian.

38 b. Studi Kepustakaan, yaitu teknik pengumpuln data yang diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, jurnal, dan pendapat para ahli yang berhubungan dengan objek yang diteliti.

3.5 Teknik Analisis data

Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema. Menurut Nasution (dalam Usman dan Akbar 2009:84) analisis data ialah proses pencarian dan penyusunan data agar dapat ditafsirkan. Menyusun data berarti menggolongkannya (mengategorikannya) dalam pola atau tema. Adapun teknik yang dilakukan dalam menganalisis data, yaitu:

1. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan Miles dan Huberman (dalam Moelong, 2006). Reduksi data/proses transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun. Dalam proses reduksi data ini, peneliti melakukan pemilihan wawancara untuk kemudian kutipan wawancara tersebut digunakan untuk menguatkan hasil pembahasan dan analisis.

2. Penyajian Data

Penyajian data merupakan alur penting selanjutnya setelah reduksi data.

Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

Dengan adanya penyajian, kita dapat memahami apa yang terjadi, dan mengambil tindakan selanjutnya dari data yang ada. Penyajian data dalam

39 penelitian kualitatif yang paling sering digunakan adalah teks naratif.

Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk kata-kata atau deskripsi.

3. Penarikan Kesimpulan

Kegiatan analisis data selanjutnya yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, peneliti kemudian mulai memutuskan apakah makna sesuatu, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur kausal, dan proposisi-proposisi. Setelah menyimpulkan hasil penelitian dari data yang telah didapatkan dan diolah, peneliti melakukan verifikasi dengan cara melihat ataupun kembali mendiskusikannya. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian lebih valid dan bisa dipertanggung jawabkan.

3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Data yang sudah terkumpul merupakan modal awal dalam suatu penelitian dan dari data yang terkumpul akan dilakukan analisis yang digunakan sebagai masukan untuk penarikan kesimpulan. Untuk memastikan data/informasi lengkap dan valid, penelitian kualitatif mempergunakan teknik triangulasi. Menurut Wirawan (2012:156) untuk memastikan data atau informasi lengkap yang mempunyai validitas dan realibitasnya tinggi, penelitian kualitatif menggunakan teknik triangulasi (triangulation). Triangulasi adalah suatu pendekatan riset yang memakai suatu kombinasi lebih dari satu strategi dalam suatu penelitian untuk menjaring data dan informasi. Pendekatan triangulasi diterapkan dalam mengurangi resiko interpretasi yang salah dengan mempergunakan berbagai sumber informasi.

40 Dalam penelitian dapat digunakan lima jenis triangulasi menurut Wirawan (2012:156-157), yaitu :

1. Triangulasi data adalah mempergunakan berbagai sumber data dan informasi.

2. Triangulasi peneliti. Teknik triangulasi ini dipergunakan sejumlah evaluator dalam satu proyek evaluasi dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan studi kasus. Temuan dari para evaluator dibandingkan, jika temuan evaluator menghasilkan kesimpulan yang sama maka validitas dapat ditentukan. jika temuan dari para evaluator menghasilkan kesimpulan yang berbeda maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan perbedaan tersebut.

3. Triangulasi teori adalah penelitian dengan menggunakan berbagai profesional dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk menilai satu set data dan informasi.

4. Triangulasi metode adalah pemakaian berbagai metode kuantitatif dan kualitatif untuk mengevaluasi program. Jika kesimpulan setiap metode sama, maka validitas penelitian ditetapkan.

5. Triangulasi lingkungan mempergunakan berbagai lokasi yang berbeda dam faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan lingkungan dimana penelitian mengambil tempat seperti waktu suatu hari, satu minggu atau satu tahun. Jika temuan tetap dalam situasi berbagai faktor lingkungan maka validitas temuan telah ditentukan.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan triangulasi data dan metode.

Triangulasi data dilakukan dengan membandingkan data hasil wawancara dari informan, sedangkan triangulasi metode digunakan dengan cara membandingkan data yang diperloeh dari hasil wawancara dengan data yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumentasi penulis yang berkaitan dengan efektivitas program e-Warong KUBE-PKH dalam upaya mengentaskan kemiskinan pada Kecamatan Medan Barat.

41 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Dinas Sosial Kota Medan

Gambar 4.1: Kantor Dinas Sosial Kota Medan

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2019

Dinas Sosial Kota Medan merupakan bagian dari Kementerian Sosial dalam melaksanakan kebijakan sosial. Dinas Sosial Kota Medan dibentuk berdasarkan Pasal 29 ayat 2 Peraturan Walikota Medan Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Kedudukan, Struktur Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan. Rincian tugas dan fungsi masing-masing jabatan struktural pada Dinas Sosial Kota Medan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.

Sesuai dengan Peraturan Walikota Medan nomor 35 Tahun 2017 tentang Rincian Tugas Dan Fungsi Dinas Sosial Kota Medan dalam melaksanakan ketentuan Pasal 29 ayat (2) Peraturan Walikota Medan Nomor 1 Tahun 2017,

42 Tugas Pokok Dinas Sosial Kota Medan adalah membantu Walikota dalam melaksanakan urusan pemerintahan bidang sosial, sehingga adapun fungsi Dinas Sosial Kota Medan, yaitu:

a. Perumusan kebijakan urusan pemerintahan bidang sosial;

b. Pelaksanaan kebijakan urusan pemerintahan bidang sosial;

c. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan urusan pemerintahan bidang sosial;

d. Pelaksanaan administratif dinas sesuai dengan lingkup tugasnya;

e. Pelaksanaan tugas pembantuan berdasarkan atas peraturan perundang-undangan; dan

f. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.

4.1.1 Visi dan Misi Dinas Sosial Kota Medan a. Visi

Visi adalah suatu gambaran kedepan Dinas Sosial yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai oleh Dinas Sosial Kota Medan. Adapun visi Dinas Sosial Kota Medan yaitu “Kota Medan menuju kota sejahtera yang berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat”.

b. Misi

Untuk mewujudkan visi di atas, maka ditetapkan misi Dinas Sosial Kota Medan sebagai berikut:

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan perlindungan dan jaminan sosial.

2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pekerja sosial.

43 3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberdayaan masyarakat untuk

pengentasan kemiskinan.

4. Mengembangkan sistem informasi penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial berbasis IT.

5. Pembangunan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bagi potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS).

4.1.2 Struktur Organisasi Dinas Sosial Kota Medan

Organisasi merupakan kerjasama yang dilakukan dua orang atau lebih untuk mecapai tujuan bersama. Dalam sebuah organisasi, diperlukan struktur organisasi yang merupakan suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi, sehingga setiap bagian mempunyai tugas dan tanggungjawab dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Struktur organisasi yang baik, akan memberikan arah yang baik kepada setiap anggota organisasi, hal ini dikarenakan setiap anggota akan memahami apa yang harus dilakukannya agar pekerjaan yang dilakukan terkoordinasi dengan baik. Dengan adanya struktur organisasi Dinas Sosial Kota Medan, akan memberikan wewenang dan tanggung jawab dari setiap bagian untuk melakukan tugasnya, sehingga setiap wewenang dan tanggungjawab yang diberikan akan lebih terkendali. Adapun struktur organisasi Dinas Sosial Kota Medan, sebagai berikut:

44 Bagan 4.1: Bagan Struktur Organisasi Dinas Sosial Kota Medan

Sumber: Dinas Sosial Kota Medan, 2019 DINAS SOSIAL KOTA MEDAN

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, PENYALURAN BANTUAN

45 4.1.3 Kepegawaian Dinas Sosial Kota Medan

Dinas Sosial Kota Medan merupakan unsur pelaksana Pemerintah daerah, Dinas Sosial bertanggung jawab kepada Walikota Medan melalui Sekretaris Daerah. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, sumber daya merupakan salah satu penunjang keberhasilan organisasi dalam melaksanakan tugasnya. Dinas Sosial Kota Medan mempunyai pegawai sebanyak 49 orang, sebagai berikut:

Tabel 4.1: Daftar Pegawai Dinas Sosial Kota Medan

No Nama Pangkat/

46 34. Anny Melinda Barnjarnahor,

SS Sumber: Dinas Sosial Kota Medan, 2019

47 Adapun sumber daya aparatur pada Dinas Sosial Kota Medan berdasarkan jenis kelamin, dan tingkat pendidikan, yaitu:

Tabel 4.2: Tingkat Pendidikan Pegawai

No Tingkat Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Doktoral (S-3) - - -

2. Magister (S-2) 4 4 8

3. Sarjana (S1) 14 13 27

4. Diploma (D-III) - - -

5. Diploma (D-I) - - -

6. SLTA 9 5 14

7. SLTP - - -

Jumlah 27 22 49

Sumber: Dinas Sosial Kota Medan, 2019

Berdasarkan tabel di atas, dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki oleh pegawai Dinas Sosial Kota Medan sudah cukup memadai, yakni sebagian besar pegawai memiliki tingkat pendidikan sarjana. Tingkat pendidikan mempunyai pengaruh terhadap kinerja pegawai, yaitu pemahaman terhadap tugas dan tanggungjawab yang sedang dikerjakan dalam organisasi tersebut. Dalam organisasi, sangat dibutuhkan pegawai yang mampu memahami apa yang sedang dikerjakan, sehingga akan membantu dalam menciptakan lingkungan organisasi yang baik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4.2 Program E-Warong KUBE-PKH

Program E-Warong KUBE-PKH merupakan program yang sejalan dengan arahan dari presiden melalui Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010, Tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan yang merupakan penyempurnaan dari Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 Tentang

48 Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Sosial menerbitkan Peraturan Mensos RI Nomor 25 Tahun 2016 Tentang Bantuan Pengembangan Sarana Usaha Melalui Elektronik Warung Gotong Royong Kelompok Usaha Bersama Program Keluarga Harapan (E-Warong KUBE-PKH). Program e-(E-Warong adalah program yang dapat mensinergikan bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada keluarga penerima manfaat (KPM), yaitu dengan pemberian modal usaha sebagai sarana penyediaan bantuan pangan non tunai dengan sistem elektronik. Dalam program e-Warong, keluarga penerima manfaat (KPM) yang mengelola serta mengembangkan warungnya, sehingga dengan adanya program ini memberikan kesempatan kepada KPM untuk lebih mandiri dalam meningkatkan perekonomiannya.

Elektronik Warung Gotong Royong Kelompok Usaha Bersama- Program Keluarga Harapan yang selanjutnya disebut e-Warong KUBE-PKH adalah sarana usaha yang didirikan oleh KUBE di bidang jasa sebagai sarana pencairan bantuan sosial berupa bahan pangan pokok dan/atau uang tunai secara elektronik, kebutuhan usaha, serta pemasaran hasil produksi anggota KUBE (Kemsos, 2017).

Program e-Warong merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di setiap daerah dengan memberdayakan kelompok masyarakat yang nantinya akan mensinergikan bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Salah satu daerah yang ikut melaksanakan program e-Warong KUBE-PKH adalah Kota Medan.

Melalui program ini Pemerintah Kota Medan ikut melaksanakan kebijakan di bidang sosial, dengan memberikan kesempatan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) untuk meningkatkan perekonomian melalui pemberian modal usaha yang diberikan kepada masyarakat untuk mengembangkan

49 kemampuan berwirausaha, dengan menggunakan transaksi pelayanan secara elektronik menggunakan kartu elektronik, yaitu Katu Keluarga Sejahtera (KKS) yang diberikan pemerintah kepada keluarga penerima manfaat (KPM).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Sekretaris Dinas Sosial Kota Medan, yakni:

“Menurut saya program ini merupakan salah satu program yang cukup bagus, karena program e-Warong inikan merupakan program dari pemerintah sebagai program pengentasan kemiskinan, yang pengelolanya ditunjuk dari keluarga penerima manfaat itu sendiri, sehingga diharapkan program ini mampu memberdayakan masyarakat, yaitu dari yang kurang mampu, menjadi mampu” (Wawancara 15 Maret 2019. Transkrip wawancara, halaman 3).

Adapun pernyataan senada mengenai program e-Warong juga disampaikan oleh Kasi Pemberdayaan Masyarakat, Penyaluran Bantuan Stimulan, dan Penataan Lingkungan, yakni:

“Program e-Warong ini merupakan salah satu program yang memberdayakan masyarakat yang kurang mampu, agar lebih sejahtera.

Dalam program ini, anggota PKH difasilitasi oleh pemerintah untuk membuka warung, yang nantinya warung tersebut menjadi tempat penyaluran bantuan pangan non tunai dengan sistem elektronik”

(Wawancara. 28 Februari 2019. Transkrip wawancara, halaman 6).

Dari pernyataan di atas, menunjukkan bahwa program e-Warong KUBE-PKH merupakan salah satu program dalam upaya mengentaskan kemiskinan, yang mana dengan adanya program ini dapat memberdayakan masyarakat agar mampu berusaha, dengan harapan agar masyarakat lebih mandiri. Program e-Warong juga merupakan warung untuk menyalurkan bantuan pangan non tunai yang diberikan oleh pemerintah dengan menggunakan sistem elektronik yang bertujuan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.

50 Pada Tahun 2019 terdapat 92 jumlah e-Warong KUBE-PKH yang telah berdiri di Kota Medan, yaitu:

Tabel 4.3: Jumlah e-Warong KUBE-PKH di Kota Medan

Kecamatan Kelurahan

Nama E-Warong / KUBE

Medan Belawan 1 Belawan Bahari

2 Belawan Rukun Selalu

3 Belawan Bahagia Bahagia Selalu 4 Belawan I Belawan I Harmonis

5 Belawan II Sumber Rezeki

6 Belawan III Maju Bersama

7 Bagan Deli Harapan Sejahtera

8 Bagan Deli Peduli Keluarga

9 Sicanang Sicanag

10 Belawan Bahari Samudera 11 Belawan Sicanang Berkah

10 Belawan Bahari Samudera 11 Belawan Sicanang Berkah

Dokumen terkait