B. Teori-Teori Hukum Kontrak (Perspektif Perbandingan) Hukum Kontrak; Studi Perbandingan Antara Kitab
2. Perbandingan Antara Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dengan Unidroit Principles Of International
3.2 Prinsip Itikad Baik a Menurut KUHPer
Penerapan itikad baik pada KUHPer sering dikaitkan dengan pasal-pasal:
- Pasal 25 Algemene Bepalingen van Wegeving yang meyatakan bahwa orang dengan perbuatan atau perjanjiannya tidak
85
boleh menghilangkan kekuatan dari peraturan-peraturan hukum dari ketentuan umum atau kesusilaan97.
- Pasal 1338 alinea (3) KUHPer menentukan bahwa perjanjian-perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik98.
- Pasal 1339 KUHPer menentukan bahwa persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan di dalamnya, melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifatnya persetujuan dituntut berdasarkan keadilan, kebiasaan, atau Undang-Undang99. Kata keadilan inilah
memberikan maksud itikad baik.
Untuk mencapai transaksi yang berimbang, pihak yang ingin melakukan kontrak secara itikad baik (in good faith) tidak diperbolehkan melakukan hal-hal:
a. Pasal 1322 KUHPer, mengenai perbuatan yang kekhilafan atau dwaling;
b. Pasal 1323 KUHPer, mengenai unsur paksaan atau dwang; c. Pasal 1328 KUHPer, mengenai perbuatan penipuan atau
bedrog;
d. Pasal 1355 KUHPer, yang melarang dibuatnya kontrak tanpa causa, atau dibuat berdasarkan suatu causa yang palsu atau dilarang, dengan konsekuensi hukum tidaklah mempunyai kekuatan;
e. Pasal 1337 KUHPer, yang menentukan bahwa suatu sebab adalah terlarang apabila dilarang oleh Undang-Undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan atau ketertiban umum.
Pembuatan kontrak harus dilaksanakan dengan itikad baik (with good faith) dengan memperhatikan ketentuan Pasal
97 Yansen Dermanto Latip, Pilihan Hukum dan Pilihan Forum, Univer-
sitas Indonesia Fakultas Hukum Program Pascasarjana, Jakarta, 2002, hlm. 84.
98 R. Subekti, R. Tjitrosudibio, Op. Cit, hlm. 342. 99 Ibid.
86
1320 KUHPer, bahwa untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat, yang terdiri atas:1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. kecakapan untuk membuat perikatan; 3. suatu hal tertentu; dan 4. suatu sebab yang diperbolehkan.
Pelaksanaan kontrak yang demikian wajib dijalankan dan mengikat para pihak yang membuatnya sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1338 (1) KUHPer Formulasi itikad baik dan transaksi berimbang pada KUHPer dititik beratkan kepada larangan unsur pengeksploitasian pihak yang satu kepada pihak lainnya. Unsur-unsur pengeksploitasian: 1. memperdaya mengenai fakta atau menyarankan sesuatu
yang tidak benar sehingga menjadi percaya sehingga melakukan tindakan;
2. menyembunyikan fakta yang seharusnya diketahui orang lain namun tidak diberikan atau diplesetkan sehingga melakukan tindakan;
3. menyimpangkan tujuan sehingga seolah-olah membuat janji tetapi tidak berniat menepati janjinya itu;
4. perbuatan ilegal dan mengorbankan kepentingan umum; 5. memberikan pengaruh sedemikian rupa sehingga pihak yang satu menjadi dominan untuk melakukan penekanan dan pengaruh-pengaruh;
6. memanfaatkan atau menyalah gunakan keadaan tidak berdaya/kesulitan atau ketidak-mengertian pihak satunya yang pada akhirnya berbeda maksud dan tujuan; dan 7. penggunaan pengaruh dan kedudukan yang tidak
seimbang sehingga terjadi pembagian kewajiban yang tidak proporsional.
Satu-satunya alat ukur terhadap itikad baik adalah kewajaran atau reasonableness, dan terhadap transaksi berimbang adalah keterbukaan (disclosure). Pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi pengeksploitasian ialah dengan mempertanyakan sampai sejauh mana tingkat
87
kewajaran dan saling keterbukaan para pihak yang bernegosiasi, membuat kontrak, serta melaksanakan kontrak untuk pemenuhan ekspektasi yang wajar dan saling bertimbal balik (reasonable expectations).
Dari sudut pandang ini, sifat dasar yang melekat pada itikad baik adalah saling memiliki (possesing) dan saling menunjukan (displaying) moral kebaikan pada penerapannya. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki dan menunjukan itikad baik adalah mereka yang patuh dan tunduk terhadap peraturan hukum, dalam hal ini membuat hubungan hukum dengan pihak lain melalui kontrak yang tunduk pada peraturan perundang-undangan. Sifat dasar yang melekat pada transaksi berimbang adalah menerima pembagian dan pertukaran kewajiban-hak hukum yang proporsional sehingga dirasa wajar dan dapat diterima. Suatu transaksi dapat dikatakan berimbang apabila ia memperlakukan pihak satunya dalam persamaan derajad tanpa ada keterpihakan dan pembedaan, baik dari awal pembentukan kontrak maupun pada pelaksanaannya.
b. Menurut UNIDROIT Principles of International Commercial Contracts 20010
Pengakuan terhadap itikad baik dan transaksi berimbang di dalam UNIDROIT Principles of International Commercial Contracts 2010 tidak lagi bersifat rule of interpretation, namun secara terang dan jelas ditentukan keberadaannya sehingga para pihak diharuskan untuk menjunjung tinggi itikad baik dan transaksi berimbang sebagai rule of law. Perbedaan signifikan antara kebebasan berkontrak dan itikad baik – transaksi berimbang yang ditentukan dalam prinsip ini adalah kebebasan berkontrak menjadi liberty bagi para pihak untuk dapat mengesampingkan ketentuan-ketentuan yang ada dalam UNIDROIT Principles of International Commercial Contracts 2010, sementara kebebasan tersebut tidak lepas dari prinsip
88
itikad baik dan transaksi berimbang. Keharusan ini dapat dilihat dari pengaturan inti:
a. Itikad baik dan jujur ini tidak dapat dikesampingkan di dalam kontrak;
b. Dilarang pula untuk melakukan perbuatan tidak konsisten yang dapat merugikan pihak lain selama berkontrak. c. Satu pihak dapat membatalkan kontrak karena kesalahan
apabila pada saat kontrak tersebut ditutup, kesalahan penting yang menunjukan orang lain yang layak sekali- pun di situasi yang sama dapat membuat kesalahan yang sama pada saat menyetujui kontrak atau tidak menyetujuinya sama sekali apabila menyadari akan hubungan kekeliruan tersebut, dan (a) pihak lainnya telah mengetahui kesalahan yang sama, atau penyebab kesalasahan, atau telah mengetahui atau seharusnya menyadari kesalahan itu dan kesalahan ini menjadi hal-hal di luar perdagangan baku terhadap transaksi berimbang untuk meninggalkan pihak satunya di dalam kesalahannya; atau (b) pihak satunya tidak melakukan penghindaran terhadap kontrak pada hal-hal yang menyangkut kontrak.
d. Terdapat pula pengaturan tentang pihak mana saja dapat membatalkan kontrak pada saat ditemukan tipu muslihat dalam penggambarannya, termasuk tutur bahasa atau tindakan, atau tipu muslihat terhadap ketidak- terbukaannya keadaan-keadaan yang seharusnya menurut kebiasaan transaksi berimbang itu diharuskan terbuka.
e. Dalam hal sewaktu penutupan kontrak, didapatkan perbedaan mencolok sehingga memberikan keuntungan tidak masuk akal kepada pihak satunya, kontrak semacam ini dapat dibatalkan, melihat (a) fakta menunjukan pihak lain mengambil kesempatan tidak seimbang terhadap ketergantungan pihak satunya, tekanan ekonomi atau
89
kebutuhan mendesak, asal-asalan, acuh, tidak berpengalaman atau kurangnya kemampuan tawar- menawar, dan (b) tujuan awal pembentukan kontrak, (c) melalui permohonan pembatalan, Pengadilan dapat menyesuaikan kontrak atau syarat-syarat sesuai dengan praktek perdagangan baku yang bertransaksi secara adil; (d) Pengadilan juga dapat menyesuaikan kontrak atau syarat melalui permohonan sepanjang para pihak saling memberikan pemberitahuan menghindari keadaan ini f. Dalam hal terjadi pengesampingan ketentuan-ketentuan
tertentu, para pihak diharuskan merumuskannya menjadi sesuatu yang layak diterima bagi para pihak dengan mempertimbangkan (a) tujuan para pihak; (b) keberadaan dan tujuan kontrak; (c) itikad baik dan transaksi berimbang; dan (d) kewajaran.
g. Kewajiban kontraktual yang tersirat, diacu dari: (a) keberadaan dan tujuan kontrak; (b) pelaksanaan dan penggunaan kontrak yang ditetapkan para pihak; (c) itikad baik dan transaksi berimbang; dan (d) kewajaran.
Prinsip itikad baik dalam Unidroit Principles of International Commercial Contracts 2010 juga disandingkan dengan prinsip transaksi berimbang (fair dealing). Dengan demikian sistem norma yang terkandung di dalam pasal- pasal tentang itikad baik lebih menitikberatkan kepada 3 (tiga) fase, yakni pra-kontrak, pada saat pembuatan kontrak, dan pasca kontrak yang dilandasi dengan nilai-nilai kewajaran dan kepatutan (equity).
3.3Prinsip Pacta Sunt Servanda
Kekuatan mengikat dari suatu kontrak telah dijadikan asas dalam hukum kontrak yang sering disebut dengan pacta sunt servanda, sebuah asas yang mengharuskan para pihak terikat pada perjanjian yang dibuatnya dan oleh karenanya wajib untuk mentaatinya. Pengaturan yang termuat di dalam
90
kontrak dan ketentuan utamanya terutama yang dimuat di dalam kontrak harus dipelihara100.
a. Menurut Burgerlijk Wetboek
Kekuatan mengikat suatu kontrak menurut KUHPer, hanya berlaku bagi para pihak yang membuatnya, dengan kata lain tidak mengikat pihak ketiga sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1340 KUHPer juncto Pasal 1317 KUHPer Pasal 1340 KUHPer menetukan, bahwa suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat membawa rugi kepada pihak-pihak ketiga; tak dapat pihak-pihak ketiga mendapat manfaat karenanya, selain dalam hal yang diatur dalam Pasal 1317. Sedangkan Pasal 1317 KUHPer, menentukan, bahwa Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetapkannya suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang dibuat oleh seorang untuk dirinya sendiri, atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada orang lain, memuat janji yang seperti itu. Siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu, tidak boleh menariknya kembali apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya.
Selain itu, kewajiban-kewajiban kontraktual dari suatu kontrak untuk memenuhi prestasi-prestasi yang telah diperjanjikan berlaku mengikat (Pasal 1338 ayat (1) KUHPer). Janji-janji tersebut tetap mengikat walaupun tidak dinyatakan secara tegas di dalam perjanjian, menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau Undang-undang. Pasal 1338 KUHPer, menentukan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh Undang-undang
91
dinyatakan cukup untuk itu. Suatu perjanjian harus
dilaksanakan dengan itikad baik. Kata “berlaku sebagai
Undang-undang” mempunyai sifat preskriptif, yaitu mengikat dan diberlakukan sebagai peraturan.
Pasal 1339 KUHPer: suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.
Pasal 1340 KUHPer: suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya.Pasal 1341 KUHPer: meskipun demikian, tiap orang berpiutang boleh mengajukan batalnya segala perbuatan yang tidak diwajibkan yang dilakukan oleh si berutang dengan nama apapun juga, yang merugikan orang-orang berpiutang, asal dibuktikan bahwa ketika perbuatan dilakukan, baik si berutang maupun orang dengan atau untuk siapa si berutang itu berbuat, mengetahui bahwa perbuatan itu membawa akibat yang merugikan orang-orang yang berpiutang.
Hak-hak yang diperolehnya dengan itikad baik oleh orang-orang pihak ke tiga atas barang-barang yang menjadi pokok perbuatan batal itu, dilindungi.Untuk mengajukan hal batalnya perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan Cuma-Cuma oleh si berutang, cukuplah si berpiutang membuktikan bahwa si berutang pada waktu melakukan perbuatan itu tahu bahwa ia dengan berbuat demikian merugikan orang-orang yang mengutangkan padanya, tak peduli apakah orang yang menerima keuntungan juga mengetahuinya atau tidak.
Dalam hal pelaksanaan kontrak, ditentukan melalui pasal-pasal sebagai berikut:
a. Pasal 1342 KUHPer: jika kata-kata suatu perjanjian jelas, tidaklah diperkenankan untuk menyimpang daripadanya dengan jalan penafsiran.
92
b. Pasal 1343 KUHPer: jika kata-kata suatu perjanjian dapat diberikan berbagai macam penfasiran, harus dipilihnya menyelidiki maksud kedua belah pihak yang membuat perjanjian itu, daripada memegang teguh arti kata-kata menurut huruf.
c. Pasal 1344 KUHPer: jika suatu janji dapat diberikan dua macam pengertian, maka harus dipilihnya pengertian yang sedemikian yang memungkinkan janji itu dilaksanakan, daripada memberikan pengertian yang tidak memungkinkan suatu pelaksanaan.
d. Pasal 1345 KUHPer: jika kata-kata dapat diberikan dua macam pengertian, maka harus dipilih pengertian yang paling selaras dengan sifat perjanjian.
e. Pasal 1346 KUHPer: apa yang meragu-ragukan harus ditafsirkan menurut apa yang menjadi kebiasaan dalam negeri atau di tempat, di mana perjanjian telah dibuat.
f. Pasal 1347 KUHPer: hal-hal yang menurut kebiasaan selamanya diperjanjikan, dianggap secara diam-diam dimasukkan dalam perjanjian, meskipun tidak dengan tegas dinyatakan.
Pengikatan secara hukum dimaksud agar para pihak mematuhi apa-apa saja yang telah ditentukan dan dituangkan dalam kontrak melalui syarat dan atau ketentuannya. Dengan adanya kekuatan mengikat yang dilindungi hukum, diharapkan para pihak yang mengikatkan dirinya itu di dalam kontrak menjadi lebih kuat dan tetap menjadi satu kesatuan. Dari unsur kebersamaan ini, para pihak diharuskan untuk menjunjung tinggi kontrak yang telah dibuatnya itu.
b. Menurut The UNIDROIT Principles of International Commercial Contracts 2010
Kekuatan mengikat suatu kontrak menurut UNIDROIT yaitu suatu kontrak yang dibuat sah mengikat kepada para pihak di dalamnya. Kontrak ini hanya dapat di
93
modifikasi atau dibatalkan atas kesepakatan bersama melalui syarat-syarat.
Di dalam pelaksanaan kontrak, UNIDROIT mengharuskan adanya itikad baik dan bertransaksi dengan jujur. Itikad baik dan jujur ini tidak dapat dikesampingkan di dalam kontrak. Selain itu, dilarang pula untuk melakukan perbuatan tidak konsisten yang dapat merugikan pihak lain selama berkontrak.
Kontrak yang dibuat dan mengikat para pihak, dapat dipergunakan sebagaimana yang telah diperjanjikan untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban mereka. Pelaksanaan kontrak dalam hal perdagangan internasional, dilakukan seluas-luasnya sesuai dengan praktek kebiasaan yang telah diketahui umum, kecuali tidak masuk akal untuk digunakan.
Pelaksanaan kewajiban kontraktual wajib dipenuhi jika ditentukan dalam kontrak berdasarkan ketetapan waktu, baik yang ditentukan pada saat kontrak atau yang ditentukan pada suatu waktu periode kecuali keadaan menunjukan pihak satunya dapat memilih waktu. Selain dari itu, pelaksanaan wajib dipenuhi dalam kurun waktu yang dianggap wajar setelah penutupan kontrak.
Dalam hal keadaan menunjukan suatu kewajiban pelaksanaan secara berkala memungkinkan untuk dilakukannya dalam waktu sekali dan seketika, maka diharuskan untuk melakukannya.Pihak yang berhak atas pemenuhan pelaksanaan dapat menolak permintaan pelaksanaan secara berkala apabila habis masa waktunya, baik tanpa atau dengan penyertaan jaminan untuk menyeimbangkan pelaksanaan, kecuali ia tidak memiliki kepentingan hukum untuk melakukannya. Terhadap biaya- biaya tambahan yang timbul akibat dari pelaksanaan berkala ini dibebankan kepada pihak yang bertanggung-jawab atas pelaksanaan kewajiban.
94
Pengaturan lanjutan tentang itikad baik ini terturang pada pokoknya sebagai berikut:
a. para pihak terikat untuk melaksanakan kewajibannya demi kelancaran pelaksanaan kewajiban secara optimal, kecuali keadaan menentukan sebaliknya. (1) dalam hal terdapat kewajiban pelaksanaan yang harus dipenuhi oleh salah satu pihak dahulu, maka pihak tersebut terikat untuk menjalankannya terlebih dahulu, kecuali keadaan menentukan sebaliknya.
b. Suatu pelaksanaan yang dilakukan sebelum waktunya dapat ditolak oleh pihak yang menerima pelaksanaan kecuali ia tidak memiliki kepentingan hukum untuk melakukannya. Dalam hal diterimanya pelaksanaan sebelum waktunya, tidak mempengaruhi batas waktu awal yang telah ditentukan dalam kontrak.
c. Mengenai tempat pelaksanaan, ditentukan pula (1) apabila tempat pelaksanaan tidak ditentukan atau juga tidak disyaratkan dalam kontrak, maka dalam hal menyangkut pelaksanaan keuangan, dilakukan di tempat pihak yang menerima kewajiban pelaksanaan; Dalam hal menyangkut segala bentuk kewajiban, dilaksanakan pada masing- masing tempat perdagangan. Setiap pihak diharuskan mengurangi potensi kenaikan biaya-biaya pelaksanaan kewajiban yang diakibatkan dari pindah/ganti tempat sesudah penutupan kontrak.
4. Penutup
Dari perbandingan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa KUHPer masih terdapat kekurangan-kekurangan pengaturan rigid sehingga membuka celah kepada pihak yang memanfaatkan kekurangan dan invaliditas kontrak. Untuk melengkapi kontrak mendekati ke arah sempurna atau menyeluruh, aturan-aturan yang terdapat dalam Unidroit Principles of International Commercial Contracts 2010 dapat digunakan untuk melengkapi kontrak dengan meminimalisir
95
risiko, sekaligus mengisi kekosongan hukum sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah hukum yang berlaku.
Daftar Pustaka
Atiyah, P.S., The Practice of Promising”, dari Artikel Promises, Morals, and the Law, Oxford University Press 1981. Engelbrecht, Himpunan Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia, Ichtiar, Jakarta, 1989.
Garner, Bryan A., Black Law Dictionary,8th edition, Thompson West Group, USA, 2004.
Gunawan, Johanes “Penggunaan Perjanjian Standard dan
Implikasinya Pada Asas Kebebasan Berkontrak”, Majalah Padjadjaran, No. 3-4, 1987.
Hernoko, Agus Yudha, Hukum Perjanjian; Asas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersial, LBM, Yogyakarta, 2008. Lewis, Richacrd. C, Contract Suretyship, John Wiley & Sons,
USA, 2000.
Miru, Ahmadi, Hukum Kontrak-Perancangan Kontrak, Rajagrafindo Persada, 2007.
Santoso, Djohari & Ali Achmad, Hukum Perjanjian Indonesia, UII Press, Yogyakarta, 1983.
Satrio, J, Hukum Perikatan Yang Lahir Dari Undang-Undang I, Cetakan II, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001.
Subekti, R, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Paradnya _____, “Pokok-pokok Hukum Perdata”, Jakarta: Intermasa, 1980. Sugianto, Fajar, Economic Analysis of Law; Seri Analisis Ke-
ekonomian tentang Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, 2013.
_____, Hukum Kontrak; Teori & Praktek Pembuatan Kontrak, Intrans Publishings, 2014.
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, 1993.
Widjaya, I.G Rai, Meracang Suatu Kontrak (Contract Drafting), Kesaint Blanc, 2005.
96
Yansen Dermanto Latip, Pilihan Hukum dan Pilihan Forum, Universitas Indonesia Fakultas Hukum Program Pascasarjana, Jakarta, 2002.
97 C. Filsafat Hukum Kontrak
Pragmatisme Standar Kontrak Dalam Hukum Perjanjian101
1. Latar Belakang
Hukum Perdata merupakan segala aturan hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam hidup bermasyarakat. Salah satu aspek dari hukum perdata adalah perjanjian. Perjanjian merupakan hal yang sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat membeli bahan-bahan makanan di pasar, saat kita membayar ongkos angkutan umum dan sebagainya.
“Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, timbullah suatu hubungan hukum. Hubungan hukum antara orang yang satu dan orang yang lain menciptakan hak dan kewajiban timbal balik bagi pihak-pihak yang sifatnya mengikat”.102 Dari
peristiwa-peristiwa ini, hubungan antara dua orang tersebut
dinamakan perikatan. “Perjanjian merupakan sumber
terpenting yang melahirkan perikatan”.103
Berdasarkan pernyataan di atas menimbulkan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah hakekat pragmatisme standar kontrak dalam hukum perjanjian ?
2. Bagaimana perlakuan standar kontrak dalam kegiatan bisnis ?
101 Dwi Tatak Subagiyo, Mahasiswa Program Doktor Hukum, Fa-
kultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Angkatan 28, 5 Januari 2018.
Endang Prasetyawati, Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
102 Abdulkadir M., 2014, Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti,
Bandung, hlm. 3.
98 2. Pembahasan
2.1.Pragmatisme Standar Kontrak Dan Hukum Perjanjian