• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bunga Rampai Menelaah Relevansi Dan Kemu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bunga Rampai Menelaah Relevansi Dan Kemu"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

Bunga Rampai

Menelaah Relevansi

Dan Kemutakhiran Hukum

Kontrak Indonesia Melalui Studi

Perbandingan

Diterbitkan Oleh R.A.De.Rozarie

(2)

Bunga Rampai Menelaah Relevansi Dan Kemutakhiran Hukum Kontrak Indonesia Melalui Studi Perbandingan

© Februari 2018 Tim Penyusun

Tomy Michael, S.H., M.H.

Dr. Erny Herlin Setyorini, S.H., M.H. Sukmawaty Arisa Gustina, S.H. Tegar Mukmin A P

Bismit Andi I, S.H., M.H.

Penanggung Jawab : Dekan Fakultas Hukum

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Editor : Tomy Michael

Master Desain Tata Letak : Eko Puji Sulistyo 10.5281/zenodo.1172919

Angka Standar Buku Internasional: 9786021176276

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Katalog Dalam Terbitan

Sebagian atau seluruh isi buku ini dilarang digunakan atau direproduksi dengan tujuan komersial dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari R.A.De.Rozarie kecuali dalam hal penukilan

untuk keperluan artikel atau karangan ilmiah dengan menyebutkan judul dan penerbit buku ini secara lengkap sebagai

sumber referensi. Terima kasih

(3)

i

KATA PENGANTAR

Di tahun 2018 ini, Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 memulainya dengan kegiatan ilmiah bulan Januari. Berawal dari itulah, terbersit untuk menjadikan sebuah tulisan dari para mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Tujuan penulisan ini untuk mengubah paradigma bahwa kontrak tidak sesederhana yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Kontrak dalam tataran masyarakat awam memiliki pengertian berbeda dengan tataran keilmuan. Oleh karena itu, saya sebagai Dekan sangat bangga dengan prestasi adik-adik mahasiswa. Semoga buku ini tetap menjadi pencerah pengetahuan dalam studi hukum.

Surabaya, 5 Februari 2018

(4)

ii PRAKATA

Bom waktu merupakan suatu kengerian dimana hanya waktulah yang tahu kapan itu terjadi. Ketika mahasiswa diajak untuk berpikir lebih kritis lagi maka salah satu caranya yaitu dengan menuankan pemikiran mereka dalam bentuk buku. Buku yang merupakan hasil perkembangan Seminar Mahasiswa Hukum Kontrak (Studi Perbandingan) pada 5 Januari 2018 lalu ini adalah bukti nyata dari mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Sekiranya hal itu akan terjadi maka terjadilah. Bukankah begitu alur kehidupan?

Tanjung Perak, Februari 2018 Tim Penyusun,

(5)

iii DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Prakata ii

Daftar Isi iii

A. Dogmatika-Dogmatika Hukum Kontrak (Perspektif Perbandingan)

1. Mona 1

2. Abraham Michael Setyagraha 22

B. Teori-Teori Hukum Kontrak (Perspektif Perbandingan)

1. Rucita Permatasari 27

2. Fajar Sugianto 27

3. Sudwijayanti 73

C.Filsafat Hukum Kontrak

1. Dwi Tatak Subagiyo 97

2. Dr. Endang Prasetyawati 97

D. Penutup

(6)
(7)

1

A.Dogmatika-Dogmatika Hukum Kontrak (Perspektif Per-bandingan)

Hukum Kontrak

Studi Perbandingan Antara Indonesia Dengan Belanda1

1. Latar Belakang

Kontrak dalam bentuk yang paling klasik dipandang sebagai ekspresi kebebasan manusia untuk memilih dan mengadakan perjanjian. Kontrak merupakan wujud dari kebebasan (freedom of contract) dan kehendak bebas untuk memilih (freedom of choice). Sejak abad ke-19, prinsip-prinsip itu mengalami perkembangan dan berbagai pergeseran penting, sebagai akibat beberapa hal berikut. Pertama, tumbuhnya bentuk kontrak standar. Kedua, berkurangnya makna kebebasan memilih dan kehendak para pihak, sebagai akibat meluasnya campur tangan pemerintah dalam kehidupn rakyat. Ketiga, masuknya konsumen sebagai pihak dalam berkontrak. Ketiga faktor ini berhubungan satu sama lain. Sekalipun demikian, prinsip kebebasan berkontrak dan kebebasan untuk memilih tetap dipandang sebagai prinsip dasar pembentukan kontrak.

Pada dasarnya praktik hukum kontrak dalam sejarah hukum Romawi berbeda-beda. Misalnya kontrak-kontrak berikut:

1) Sistem kontrak dengan deposit (deposituum) muncul sejak abad ke-5 SM dalam Undang-Undang 12 Pasal. Jika para pihak tidak dapat menepati untuk menyerahkan barang yang dijanjikan, deposit atau panjar harus dikembalikan sebesar dua kali lipat, yang kini menjadi suatu hukum yang masih berlaku di banyak tempat saat ini.

1 Mona, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945

(8)

2

2) Kontrak loan untuk konsumsi (muutum) sudah ada sejak abad ke-3 SM. Mutuum bermula dari pinjaman. Semiusal pinjam gandum dari tetangga yang akan dibayar pada saat musim panen gandum nantinya.

3) Kontrak barter (permutatio) muncul beberapa abad setelah muncul kontrak loan untuk konsumsi.

4) Kontrak jual-beli telah ada sejak abad ke-2 sebab uang koin baru digunakan di Romawi sekitar tahun 275 SM.

5) Kontrak sewa muncul pada abad ke-2 SM.

6) Kontrak untuk berbuat sesuatu untuk orang lain secara cuma-cuma (contract of mandate) atau yang dikenal dengan istilah mandatuum yang muncul sebelum tahun 123 SM. Dalam sistem hukum Eropa Kontinental ada tiga alasan kontrak harus diatur dalam KUH Perdata sampai pada kontrak-kontrak tertentu, yakni:

1) Pembentuk undang-undang harus menentukan model untuk kontrak tertulis tersebut, yang merupakan model kontrak dengan klausula adil dan jujur. Model ini dapat dipakai sebagai acuan bagi pengadilan dalam memutuskan tentang keabsahan dari klausula-klausula yang tidak fair dalam suatu kontrak.

2) Beberapa kontrak tertentu banyak dipraktikkan orang sehingga sering timbul pertanyaan yang sama secara berulang-ulang maka undang-undnag dapat menyediakan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. 3) Karena pihak tertentu dalam kontrak atau

pihak-pihak ketiga yang perlu dilindungi oleh hukum, hal tersebut harus diatur oleh undang-undnag dan ketentuan seperti itu bersifat hukum memaksa (dwingen recht).2

Pada makalah ini akan dipaparkan lebih lanjut bahwa di setiap negara dalam sistem hukumnya masing-masing

2 Beni Ahmad Saebani, Perbandingan Hukum Perdata, Pustaka Setia,

(9)

3

terdapat hukum tentang kontrak. Berikut ini akan dipaparkan beberapa aturan hukum tentang kontrak dari 2 negara yang menganut sistem hukum Eropa Kontinental.

2. Konsep Kontrak

2.1. Konsep Kontrak Indonesia

Kontrak di Indonesia diatur dalam buku III KUH

Perdata Indonesia. Pasal 1313 KUH Perdata berbunyi “suatu

perjanjian adalah suatu pebuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau

lebih”. Kontrak adalah hubungan huykum antara dua pihak

atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum (hak dan kewajiban). Kontrak merupakan perbuatan hukum yang bertimbal balik dalam lapangan hukum harta kekayaan (hukum tentang benda/barang bergerak, atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud, yang bernilai ekonomis, dapat dinilai dengan uang, dapat dialihkan dan dapat dikuasai dengan hak milik) yang dilakukan oleh satu orang atau lebih, atau badan hukum (sebagai subjek hukum yang mempunyai hak dan kewajiban) dengan mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih, atau badan hukum (juga sebagai subjek hukum yang mempunyai hak dan kewajiban).3

Substansi atau isi kontrak merupakan kesepakatan yang didasarkan atas otoritas (kehendak bebas yang berdasarkan wenang dan cakap melakukan perbuatan hukum) yang dimiliki oleh para pihak yang membuat kontrak, kecuali dalam batas-batas tertentu terdapat intervensi, baik dari undang-undang yang bersifat memaksa, ketertiban umum dan/atau kesusilaan, maupun dari otoritas hukum tertentu (dalam hal ini hakim di pengadilan).

3 Muhammad Syaifuddin, Hukum Kontrak, Mandar maju, Bandung,

(10)

4 2.2. Konsep Kontrak Belanda

Di Belanda, hukum kontrak dikenal dengan istilah

“perjanjian yang mengikat” yang diatur dalam Pasal 6:213

NBW, yang berbunyi:

“ 1) Een overeenkomst in de zin van deze titel is een

meerzijdige rechtshandeling, waarbij een of meer partijen

jegens een of meer andere een verbintenis aangaan”. Artinya: “ 1) Kesepakatan dalam arti judul ini adalah tindakan

hukum multilateral, dimana satu pihak atau lebih

berkewajiban terhadap pihak satu atau lebih yang lain.”4

Maksud dari pasal tersebut yakni bahwa kontrak merupakan perbuatan hukum yang bertimbal balik, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya. Sebuah perbuatan hukum, merupakan suatu tindakan yang memiliki konsekuensi hukum. Tindakan konsekuensi disini terdiri dari dua elemen yaitu, teori kehendak dan teori pernyataan (Pasal 3:33 NBW). Adapun maksud dari kedua teori tersebut adalah:

a. Teori kehendak, maksudnya adalah kehendak merupakan syarat untuk melakukan kontrak dan jika kehendak tersebut tidak sesuai dengan kehendak si pelaku, maka kontrak dianggap tidak sah.

b. Teori pernyataan, maksudnya adalah seseorang yang mengeluarkan suatu pernyataan dalam suatu kontrak, misalnya pernyataan perjanjian, maka orang tersebut berkewajiban untuk melakukan apa yang telah ia nyatakan dan apa yang akan ia lakukan.

(11)

5 3. Syarat Sahnya Kontrak

3.1. Menurut KUH Perdata Indonesia

Syarat sahnya perjanjian diatur di dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Pasal 1320 KUH Perdata menentukan empat syarat sahnya suatu kontrak, yaitu:

a. Kesepakatan (consensus);

Syarat pertama sahnya kontrak adalah adanya kesepakatan atau konsensus para pihak. Kesepakatan ini diatur dalam Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak lainnya. Yang sesuai itu adalah pernyataannya, karena kehendak itu tidak dapat dilihat/diketahui orang lain. Ada lima cara terjadinya persesuaian pernyataan kehendak, yaitu dengan:

1) Bahasa yang sempurna dan tertulis; 2) Bahasa yang sempurna secara lisan;

3) Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak lawan. Hal ini mengingat dalam kenyataannya sering kali seseorang menyampaikan dengan bahasa yang tidak sempurna tetapi dimengerti oleh pihak lawannya;

4) Bahasa isyarat asal dapat diterima oleh pihak lawannya; dan

5) Diam atau membisu tetapi asal dipahami atau diterima pihak lawan.5

Pada dasarnya cara yang paling banyak dilakukan oleh para pihak, yaitu dengan bahasa yang sempurna secara lisan dan tertulis. Tujuan pembuatan perjanjian secara tertulis adalah agar memberikan kepastian hukum bagi

5 Salim HS, Perancangan Kontrak & Memorandum Of Understanding

(12)

6

para pihak dan sebagai alat bukti yang sempurna di kala timbul sengketa di kemudian hari.

b. Cakap untuk membuat suatu kontrak;

Kecakapan bertindak adalah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum. Pasal 1329 KUH Perdata memuat ketentuan definitif bahwa setiap orang adalah cakap mambuat perikatan (kontrak), kecuali jika ia oleh undang-undang dinyatakan tidak cakap. Orang yang tidak cakap membuat kontrak yaitu:

1) Orang-orang yang belum dewasa; (Pasal 330 KUH Perdata). Ukuran dewasa diatur dalam Pasal 330 KUH Perdata yang menegaskan bahwa belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai usia 21 (dua puluh satu) tahun dan tidak telah kawin sebelumnya. Jika perkawinan itu berakhir sebelum usia mereka 21 tahun, maka mereka tidak kembali berstatus belum dewasa. 2) Orang-orang yang ditaruh dibawah pengampuan;

(Pasal 433, Pasal 452 KUH Perdata).

3) Perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan oleh undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu; (dicabut dengan adanya Pasal 31 UU Nomor 1 Tahun 1974 Jo. SEMA No. 3 Tahun 1963)

c. Objek atau pokok persoalan tertentu;

Di dalam berbagai literatur disebutkan bahwa yang menjadi objek perjanjian adalah prestasi (pokok perjanjian). Prestasi adalah apa yang menjadi kewajiban debitur dan apa yang menjadi hak kreditur. Prestasi terdiri atas memberikan sesuatu, berbuat sesuatu; tidak berbuat sesuatu.6 Prestasi itu harus dapat ditentukan, dibolehkan,

dimungkinkan, dan dapat dinilai dengan uang, umumnya

(13)

7

disebut dengan barang, yang harus ditentukan jenis-jenisnya di dalam perjanjian. Perjanjian yang memiliki objek melahirkan hak dan kewajiban. Yang dapat menjadi objek dalam perjanjian adalah berupa benda bergerak, benda tidak bergerak, benda berwujud dan benda tidak berwujud. Klasifikasi lain terhadap barang yang menjadi objek perjanjian adalah benda-benda tersebut harus objek perdagangan. Artinya, seluruh benda-benda di luar perdagangan tidak dapat menjadi objek perjanjian (Pasal 1332 KUH Perdata). Ketentuan ini tidak berarti bahwa benda/barang untuk kepentingan umum tidak dapat menjadi objek atau persoalan dalam kontrak. Kontrak jasa konstruksi yang dibuat oleh pemerintah kota dan perusahaan jasa konstruksi untuk pembangunan kanal banjir tidak dapat digolongkan dalam kontrak sebagaimana dimaksud oleh Pasal 1332 KUH Perdata tersebut. Prinsip hukumnya adalah sepanjang objek atau pokok persoalan dalam kontrak tersebut berkaitan dengan kepentingan umum, maka prestasi dalam kontrak adalah untuk melakukan sesuatu. Sedangkan untuk prestasi memberikan sesuatu, dalam kaitannya dengan akan dialihkannya benda/barang untuk kepentingan umum tersebut, maka prestasi memberikan sesuatu itu harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam aturan hukum positif. Kemudian, benda/barang yang baru akan ada di kemudian hari juga dapat menjadi objek atau pokok persoalan dalam kontrak (Pasal 1334 ayat (1)). d. Sebab yang tidak terlarang atau causa yang halal.

Pengertian causa atau sebab yang tidak dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1320 KUH Perdata, harus dihubungkan dalam konteks Pasal 1335 KUH

Perdata yang memuat ketentuan bahwa “suatu kontrak

yang dibuat tanpa sebab atau dibuat dengan sebab yang

(14)

8

Pasal 1337 KUH Perdata yang memuat ketentuan bahwa

“suatu sebab adalah terlarang, jika dilarang oleh undang-undang, atau jika bertentangan dengan kesusilaan yang

baik atau ketertiban umum”. Jadi suatu kontrak tidak sah

sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, jika kontrak tersebut tidak mempunyai sebab atau causa, sebab atau causanya palsu, sebab atau causanya dilarang oleh undang-undang, sebab atau causanya bertentangan dengan kesusilaan dan/atau sebab atau causanya bertentangan dengan ketertiban umum. 3.2. Menurut KUH Perdata Belanda

Syarat sah kontrak di Belanda saat ini juga ada 4 yang diatur dalam NBW, yakni:

a. Kesepakatan

Kesepakatan ini diatur dalam Article 6:217 NBW, mengenai penawaran dan penerimaan, yang berbunyi:

“1) Een overeenkomst komt tot stand door een aanbod en de

aanvaarding daarvan.

2) De artikelen 219-225 zijn van toepassing, tenzij iets anders voortvloeit uit het aanbod, uit een andere rechtshandeling of uit

een gewoonte”. Artinya:

“1) Kesepakatan datang dengan adanya penawaran dan

penerimaannya.

2) Pasal 6: 219 sampai dan termasuk 6: 225 berlaku untuk pembentukan kesepakatan, kecuali jika tawaran tersebut, tindakan yuridis atau praktik umum lainnya secara

berbeda”.7

Maksud dari pasal tersebut yakni bahwa sebuah perjanjian pada dasarnya ada dengan adanya penawaran dan penerimaan, juga diterapkan ketentuan sebagaimana terdapat pada Pasal 6:219 sampai 6:255 NBW dalam pembentukan perjanjian, terkecuali penawaran, perbuatan

(15)

9

hukum lain atau praktik umum mempengaruhi secara khusus. Kesepakatan inilah yang dijadikan perbuatan tersebut dapat dilaksanakan kedua belah pihak tanpa adanya paksaan dan kewajiban yang mutlak setelah perjanjian ini disepakati, sehingga ini akan melahirkan sebuah konsekuensi hukum bagi keduanya untuk menaati dan melaksanakannya dengan suka rela. Kesepakatan dimaksud dibentuk oleh dua unsur yang fundamental, penawaran dan penerimaan. Hal yang sama dipersyaratkan dalam BW (vide Pasal 1320 syarat 1) namun NBW lebih terperinci mengatur kapan terbentuknya suatu kontrak sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 6:219-225 NBW. Apabila dalam penawaran yang diberikan penawar kepada pihak lain tidak berisi informasi yang jelas atau hanya sebatas ingin mengajak untuk melakukan kontrak maka hal tersebut dapat dianggap sebagai undangan untuk mengajukan penawaran. Penawaran pada prinsipnya dapat ditarik kembali Pasal 6:219 NBW. Artinya penawaran tersebut dapat ditarik kembali apabila penerima belum menerima atau tidak adanya kata sepakat (menolak) penawaran tersebut, maka penawar dapat menarik kembali kontraknya kecuali penerima menyetujui kontrak maka telah terjadi kontrak yang sah sehingga tidak dapat ditarik kembali (teori penerimaan). Penawaran akan kehilangan keabsahannya dalam kasus berikut:

a) Karena ditolak (Pasal 6:221 sub 2).

(16)

10

yang diperlukan untuk membuat keputusan akan diizinkan (Pasal 6:221 sub 1).

c) Karena orang yang membuat penawaran mencabutnya. Hal ini tidak bisa terjadi setelah tawaran diterima. Sebuah penawaran dapat dicabut sebelum ia diterima, yaitu, sebelum pernyataan yang berisi penerimaan telah dikirim (Pasal 6:219 sub 2).

Di Belanda, dikenal adanya penawaran dengan hadiah/penghargaan (offer of reward) sebagaimana diatur dalam Pasal 6:220 sub 1 artinya penawar menyertakan informasi suatu iming-iming berupa keuntungan bagi penerima apabila menerima kontrak dari penawar. Dan konsep penawaran seperti ini tidak dikenal di Indonesia. Ada dua jenis penawaran diluar pada penawaran pada umumnya yaitu:

a) Penawaran yang tanpa disertai kontrak, umumnya penawaran jenis ini memiliki kekuatan hukum yang lemah bukan tidak memiliki kekuatan hukum, bisa saja ditarik kembali walaupun telah terjadi penerimaan terhadap kontrak. (Pasal 6: 219 sub 2)

b) Penawaran yang tidak dapat dibatalkan adalah jenis penawaran yang kuat, yang tidak dapat dicabut selama periode waktu tertentu (Pasal 6:219 sub 1). Contoh penawaran yang tidak dapat ditarik kembali:

(1) Berdasarkan kontrak. Orang yang menyewa rumah memiliki hak untuk membelinya selama waktu dia tinggal di rumah tersebut.

(2)Berdasarkan sifat dari penawaran itu sendiri. Sebuah

katalog berbunyi: “Penawaran berlaku sah sampai 01/12/2010.”

(17)

11

digugat atas dasar itikad buruk tersebut. Sehingga, kesepakatan yang sah secara hukum harus ada penawaran dan penerimaan tawaran itu. Jika tidak ada penawaran yang diajukan atau penawaran tersebut belum diterima, tidak ada pertanyaan tentang kesepakatan yang valid. Contohnya ada tawaran saat seseorang memasukkan unsur-unsur utama dari isi perjanjian. ‘Apakah mobil ini dijual’ ini tidak ada tawaran untuk membeli mobil,

‘Apakah Anda ingin menjual mobil ini seharga € 2000?’ ini termasuk penawaran, kemudian ‘Ya’ yang harus dikatakan. Penerimaan tawaran ini sering terjadi dengan

‘Ya’ atau ‘Ok’, Tapi bisa juga dilakukan diam-diam, misalnya karena supir mobil mengisi bahan bakar mobilnya di SPBU swalayan. Jadi pasti ada seseorang yang pada dasarnya mengatakan: ‘Apakah Anda ingin membeli ini untuk ... euro?’ dan seseorang yang masuk dengan 'Ya, tolong!’. Jika itu sudah terjadi, maka pada prinsipnya kesepakatan telah disepakati.

b. Kecakapan

Dalam Pasal 3:32 NBW, yang berbunyi :

“1) Iedere natuurlijke persoon is bekwaam tot het verrichten van rechtshandelingen, voor zover de wet niet anders bepaalt. 2) Een rechtshandeling van een onbekwame is vernietigbaar. Een eenzijdige rechtshandeling van een onbekwame, die niet tot een of meer bepaalde personen gericht was, is echter nietig”. Artinya:

“1) Setiap orang alami memiliki kapasitas hukum untuk

melakukan tindakan yuridis sejauh hukum tidak memberikan yang lain.

(18)

12

Tindakan yuridis satu sisi (sepihak) dari orang alami semacam itu, bagaimanapun, tidak berlaku lagi bila tidak ditujukan kepada satu atau lebih orang tertentu”.8

Maksud dari Pasal tersebut yakni mengenai Kapasitas Legal untuk melakukan perbuatan hukum menyatakan bahwa setiap pribadi kodrati memiliki kapasitas legal untuk melakukan perbuatan hukum sepanjang tidak diatur lain oleh hukum. Sebuah perbuatan hukum yang dilakukan oleh orang yang melanggar kapasitas legal untuk melakukan perbuatan hukum [anak-anak dan orang dewasa yang berada di bawah pengampuan], adalah dapat dibatalkan. Sebuah perbuatan hukum bersegi satu (unilateral) dari orang seperti itu, bagaimanapun, batal demi hukum ketika tidak ditujukan untuk satu atau beberapa orang yang spesifik. Anak di bawah umur adalah mereka yang belum mencapai usia delapan belas tahun dan yang belum dinyatakan sebagai orang dewasa dengan penerapan Pasal 253ha .9

Dalam Pasal 1:234 NBW10 disebutkan bahwa:

1.) Anak di bawah umur, asalkan dia bertindak atas izin perwakilan hukumnya, berkompeten untuk melakukan tindakan hukum, kecuali jika undang-undang mengatur hal yang sebaliknya.

8 Dalam terjemahan bebas.

9 Pasal 1: 233 KUH Perdata Belanda.

10 Artikel 234.

1. Een minderjarige is, mits hij met toestemming van zijn wettelijke vertegenwoordiger handelt, bekwaam rechtshandelingen te verrichten, voor zover de wet niet anders bepaalt.

2. De toestemming kan slechts worden verleend voor een bepaalde rechtshandeling of voor een bepaald doel.

(19)

13

2.) Izin hanya dapat diberikan untuk tindakan hukum tertentu atau untuk tujuan tertentu.

3.) Persetujuan tersebut dianggap telah diberikan kepada anak di bawah umur jika menyangkut tindakan hukum yang berkenaan dengan kebiasaan di masyarakat bahwa anak di bawah umurnya melakukan hal ini secara independen.

Namun ada pengecualian untuk aturan yang ditetapkan dalam Pasal 1:234 BW. Khususnya, dari usia enam belas dan seterusnya seorang anak yang belum dewasa juga secara legal kompeten untuk menjadi pihak dalam sebuah kontrak kerja (Pasal 7:612 BW). Sehubungan dengan kontrak kerja itu, anak yang belum dewasa tersebut sama dengan orang yang sudah berusia penuh (dewasa) dalam segala hal dan boleh masuk dalam proses hukum tanpa bantuan dari kuasa hukumnya. Jika dikaitkan dengan perkawinan, anak-anak yang berusia 16 tahun atau lebih boleh menikah dengan syarat bahwa pihak wanita mengajukan sertifikat medis yang menyatakan bahwa ia hamil atau telah memiliki anak, berdasarkan pasal 1:31 BW.

c. Hal tertentu

Dalam Pasal 6:227 NBW, yang berbunyi

“De verbintenissen die partijen op zich nemen, moeten

bepaalbaar zijn.”. Artinya:

“Kewajiban pihak-pihak yang tunduk pada kesepakatan,

harus dapat ditentukan.”11

Maksud dari Pasal tersebut yakni bahwa komitmen yang akan dilakukan oleh para pihak harus ditentukan, mengenai kewajiban-kewajiban harus dapat ditentukan di mana para pihak menyatakan dirinya tunduk pada kontrak tersebut.

(20)

14 d. Sebab yang Halal

Dalam Pasal 3:40 NBW, yang berbunyi:

“ 1) Een rechtshandeling die door inhoud of strekking in strijd is

met de goede zeden of de openbare orde, is nietig.

2) Strijd met een dwingende wetsbepaling leidt tot nietigheid van de rechtshandeling, doch, indien de bepaling uitsluitend strekt ter bescherming van één der partijen bij een meerzijdige rechtshandeling, slechts tot vernietigbaarheid, een en ander voor zover niet uit de strekking van de bepaling anders voortvloeit. 3) Het vorige lid heeft geen betrekking op wetsbepalingen die niet de strekking hebben de geldigheid van daarmede strijdige

rechtshandelingen aan te tasten”. Artinya:

“1) Tindakan hukum yang bertentangan dengan moral baik atau ketertiban umum melalui konten atau kepentingan tidak berlaku lagi.

2) Konflik dengan ketentuan hukum yang mendesak menyebabkan nulitas tindakan hukum, namun, jika ketentuan tersebut hanya melindungi salah satu pihak dalam tindakan hukum multilateral, hanya karena ketidakberdayaan, semua ini sejauh tidak timbul dari lingkup ketentuan.

3) Paragraf sebelumnya tidak berhubungan dengan ketentuan hukum yang tidak memiliki kepentingan untuk mempengaruhi keabsahan tindakan hukum yang bertentangan dengannya.

(21)

15 4. Prinsip-prinsip hukum kontrak 4.1. Kebebasan berkontrak

a. Menurut KUH Perdata Indonesia

Asas kebebasan membuat kontrak ini adalah asas yang universal, artinya dianut oleh hukum kontrak di semua negara pada umumnya. Asas kebebasan membuat kontrak membebaskan para pihak menentukan apa saja yang ingin mereka perjanjikan sekaligus menentukan apa saja yang tidak dikehendaki untuk dicantumkan dalam kontrak. Namun, asas kebebasan membuat kontrak tidak berarti bebas tanpa batas, karena negara harus intervensi untuk melindungi pihak yang lemah secara sosial dan ekonomi atau untuk melindungi ketertiban umum, kepatutan dan kesusilaan. Asas kebebasan membuat kontrak terkandung dalam Pasal 1338 KUH Perdata, yang memuat ketentuan-ketentuan normatif, sebagai berikut:

1) Semua kontrak yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya;

2) Kontrak itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu;

3) Kontrak-kontrak harus dilaksanakan dengan itikad baik. Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:

1. Membuat atau tidak membuat kontrak;

2. Memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat kontrak; 3. Menentukan isi kontrak, pelaksanaan dan persyaratannya; 4. Menentukan bentuk suatu kontrak;

(22)

16

ditentukan perturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan kesusilaan.

b. Menurut KUH Perdata Belanda

Kebebasan kontrak berarti para pihak memiliki kebebasan untuk membuat kesepakatan dengan mereka untuk mengatur hubungan dengan cara yang mereka anggap paling baik, asalkan tidak bertentangan dengan peraturan hukum wajib, ketertiban umum dan moral yang baik.12

Kebebasan kontrak memberikan orang yang melaksanakan kontrak dengan tiga kekuatan berikut:

a. Orang tersebut bebas memutuskan apakah akan menyetujui suatu kesepakatan atau tidak.

b. Orang tersebut bebas untuk menentukan dengan siapa dia ingin menyimpulkan sebuah kesepakatan.

c. Orang tersebut bebas menentukan isi sebuah kesepakatan. Otoritas ini juga disebut dengan istilah otonomi partai. Kebebasan kontrak bukanlah kebebasan mutlak. Ini adalah kebebasan yang berlaku secara prinsip, tapi yang bisa dibatasi. Misalnya, ada peraturan hukum yang membatasi kebebasan untuk menandatangani kontrak jika hal ini bertentangan dengan hukum, ketertiban umum atau moral yang baik sebagaimana yang telah disebutkan dalam Pasal 3;40 NBW. Ini memastikan bahwa kesepakatan, konten, dimasukkan ke dalam kontrak dari kesepakatan dan cakupan kesepakatan.

4.2. Prinsip Itikad Baik a. Menurut KUH Perdata

KUH Perdata tidak memberikan penjelasan tentang makna asas itikad baik yang perlu diperhatikan dalam pembuatan dan pelaksanaan kontrak tersebut, namun tersirat

dalam Pasal 1338 paragraf ke 3 yang berbunyi “suatu

perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Makna

(23)

17

iktikad baik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kepercayaan, keyakinan yang teguh, maksud, kemauan (yang baik).13 Simposium Hukum Perdata Nasional yang

diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasioanal (BPHN) pada 1981, mengartikan itikad baik yaitu:

1) Kejujuran pada waktu membuat kontrak;

2) Pada tahap pembuatan ditekankan, apabila kontrak dibuat di hadapan pejabat, para pihak dianggap beritikad baik (meskipun ada juga pendapat yang menyatakan keberatannya);

3) Sebagai kepatutan dalam tahap pelaksanaan, yaitu terkait suatu penilaian baik terhadap perilaku para pihak dalam melaksanakan apa yang telah disepakati dalam kontrak, semata-mata bertujuan untuk mencegah perilaku yang tidak patut dalam pelaksanaan kontrak tersebut.

Sehubungan dengan makna iktikad baik yang objektif-dinamis, Arthur S. Hartkamp menegaskan adanya dua model pengujian tentang ada atau tidak adanya itikad baik dalam kontrak, yaitu: pertama, pengujian objektif yang dikaitkan dengan kepatutan, artinya satu pihak tidak dapat melakukan pembelaan diri dengan mengatakan bahwa ia telah bertindak jujur manakala ternyata ia tidak bertindak secara patut. Kedua, pengujian subjektif yang dikaitkan dengan keadaan karena ketidaktahuan.14

b. Menurut KUH Perdata Belanda

NBW tidak memiliki definisi umum tentang itikad baik. Namun, Pasal 3:11 NBW menyatakan:

13 Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan

Bahasa-Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1997, hlm. 369.

14 Arthur S. Hartkamp, dalam Y. Sogar Simamora, Prinsip Hukum

(24)

18

“Goede trouw van een persoon, vereist voor enig

rechtsgevolg, ontbreekt niet alleen, indien hij de feiten of het recht, waarop zijn goede trouw betrekking moet hebben, kende, maar ook indien hij ze in de gegeven omstandigheden behoorde te kennen. Onmogelijkheid van onderzoek belet niet dat degene die goede reden tot twijfel had, aangemerkt wordt als iemand die de feiten of het recht behoorde te

kennen”. Artinya:

“Iman baik seseorang, yang dibutuhkan untuk

konsekuensi hukum apapun, tidak hanya kurang jika dia mengetahui fakta atau hak yang harus dikaitkan dengan itikad baiknya, tetapi juga jika dia harus mengenal mereka dalam situasi tertentu. Kemungkinan penelitian tidak menghalangi orang tersebut dengan alasan yang baik untuk ragu dianggap sebagai seseorang yang seharusnya

mengetahui fakta atau haknya.”15

Oleh karena itu, gagasannya bukan hanya bahwa tidak ada itikad baik jika orang yang bersangkutan mengetahui fakta-fakta yang relevan, tetapi juga jika dia seharusnya mengenal mereka. Jika penelitian tentang fakta itu tidak mungkin, tapi ada alasan untuk ragu, itikad baik kurang. Dengan kata lain: seseorang yang mengambil risiko adalah (di muka) dilindungi dengan itikad baik.

4.3. Prinsip Pacta Sunt Servanda a. Menurut KUH Perdata Indonesia

Asas pacta sunt servanda disebut juga dengan asas kekuatan mengikat kontrak, yang secara konkrit dapat dicermati dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang

berbunyi “smua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Pasal tersebut mengarahkan pemahaman bahwa sebenarnya

(25)

19

setiap subjek hukum (orang dan badan hukum) dan sesama subjek hukum lainnya dapat melakukan perbuatan hukum seolah-olah sebagai pembentuk undang-undang dengan menggunakan kontrak. Oleh karena itu, kontrak dianggap sebagai sumber hukum perikatan selain undang-undang.16

b. Menurut KUH Perdata Belanda

Prinsip pacta sunt servanda juga digunakan untuk menunjukkan prinsip dasar sehubungan dengan kesepakatan dalam hukum kontrak Belanda.

Asas tersebut diabadikan dengan kuat dalam KUH Perdata kuno “Semua kontrak dibuat secara hukum bagi mereka yang telah menandatangani undang-undang” (Pasal 1374, paragraf 1 BW lama). Kode Sipil Baru saat ini memberikan penyisipan yang agak halus dari asas ini pada Pasal 6: 248 ayat 1 NBW, yang berbunyi:

“Een overeenkomst heeft niet alleen de deur, maar zorgt

ervoor dat de naleving van de voorwaarden van de eisen van redelijkheid en billijkheid vooruitgaat”.

“Kesepakatan tidak hanya memiliki konsekuensi

hukum yang disepakati oleh para pihak, tetapi juga yang berdasarkan kesepakatan tersebut secara legal kebiasaan atau persyaratan kewajaran dan kewajaran

muncul”.17

5. Penutup

Konsep kontrak negara Indonesia diatur dalam buku III KUH Perdata Indonesia khususnya Pasal 1313 KUH Perdata Indonesia sama dengan konsep kontrak negara Belanda yang diatur dalam Pasal 6:213 NBW, bahwa kontrak merupakan perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya

16 Muhammad Syaifuddin, Hukum Kontrak, Mandar Maju, Bandung,

2012, hlm. 91.

(26)

20

terhadap satu orang atau lebih lainnya, sehingga perbuatan hukumn tersebut memiliki konsekuensi hukum atau untuk menimbulkan akibat hukum. Syarat sah kontrak negara Indonesia dan syarat sah kontrak di negara Belanda saat ini juga ada 4, yakni:

a. Kesepakatan; b. Kecakapan; c. Suatu hal tertentu d. Kausa yang halal

Perbedaan hanya terletak pada ukuran dewasa, KUH Perdata Indonesia ukuran dewasa adalah umur 21 tahun (Pasal 330 KUH Perdata), sedangkan NBW ukuran dewasa adalah umur 18 tahun (Pasal 1: 233 NBW).

Prinsip kebebasan berkontrak negara Indonesia dibatasi oleh Pasal 1338 dan Pasal 1337 KUH Perdata, dan di negara Belanda diatur dalam Pasal 3:40 NBW. Perbedaannya bahwa mengenai prinsip kebebasan berkontrak lebih terperinci NBW jika dibandingkan dengan KUH Perdata Indonesia. Prinsip itikad baik negara Indonesia diatur dalam Pasal 1338 meskipun tidak terperinci maksud atau pengertian itikad baik, sedangkan negara Belanda diatur dalam Pasal 3:11. Prinsip pacta sunt servanda diatur dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, sedangkan di negara Belanda diatur dalam Pasal 6: 248 ayat (1) NBW.

Sehingga kesimpulan dari KUH Perdata Indonesia dibandingkan dengan NBW negara Belanda, masih kurang lengkap. Dan Indonesia sendiri untuk kelengkapannya diatur dengan undang-undang yang baru atau dengan didukung oleh teori-teori yang ada.

Daftar Pustaka

(27)

21

Hartkamp, Arthur S, dalam Y. Sogar Simamora, Prinsip Hukum Kontrak dalam Barang dan Jasa oleh Pemerintah, Ringkasan Disertasi, Program Pascasarjana, Universitas Airlangga Surabaya, 2005

Syaifuddin, Muhammad, Hukum Kontrak, Mandar Maju, Bandung, 2012.

Salim HS, Perancangan Kontrak & Memorandum Of Understanding (MOU), Sinar Grafika, Jakarta, 2008, Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan

Bahasa-Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1997.

http://de.jurispedia.org/index.php/Vertragsrecht_(de) https://www.academia.edu/8672014/perbandingan_huku

m_orang_di_indonesia_dengan_hukum_orang_di_be landa.

(28)

22

Hukum Kontrak

Studi Perbandingan Antara Indonesia Dengan Inggris18

1. Konsep Kontrak

Syarat sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 BW: a) kesepakatan

b) kecakapan 1446 1329-1330 (syarat subjektif) c) hal tertentu

d) sebab yang halal (syarat objektif)

Para ahli hukum membedakan 2 (dua) macam kontrak terkait dengan syarat tersebut:

1. Batal demi hukum (void ab initio) perjanjian yang dari semula sdh batal. Sehingga dari awal dikatakan tidak ada perjanjian. Karena tidak terpenuhi salah satu syarat sah. 2. Dapat dibatalkan (voidable) perjanjian yang dapat

dimintakan pembatalannya dan bila tidak dimintakan pembatalannya makan perjanjian tersebut tetap berlaku. perjanjian dengan kesepakatan yang tidak sah(semu) yaitu perjanjian yang diberikan karena kehilafan , paksaan atau karena penipuan, dwaling. Dwang, bedrog.

2. Menurut Hukum Kontrak Inggris Kesepakatan (Consensus/Agreement) Section 23 Restatement Second

Hal yang penting pada suatu transaksi adalah bahwa masing-masing pihak menyatakan persetujuanntya sesuai dengan pernyataan pihak lawannya)

Section 20 Restatement Second

Kesepakatan tidak ada bila pernyataan para pihak diartikan secaara berbeda dan para pihak itu tidak menhetahui maksud dari masing-masing lawannya yang

18

(29)

23

berbeda itu. Kehendak untuk mengikatkan diri. Intention to be legally bound umumnya terdapat dalam dunia bisnis.

Contoh: X menawarkan Arloji kepada Y & Z kedua nya sama-sama setuju dengan harga. Namun Z yang menyatakan kepada X. pernyataan tersebut dianggap sebagai kehendak untuk mengikatkan diri.

3. Penawaran Dan Penerimaan (Offer-Acceptance)

Manifestasi dari kehendak untuk mengadakan transaksi. Yang terpenting dari offer adalah bahwa persetujua pada transaksi itu di harapkan dan hal itu akan menutup transaksi itu. (offer to accept). Bila suatu pernyataan masih memerlukan persetujuan lebih lanjut maka hal ini bukanlah offer melainkan negosiasi (preliminary negotiation Section 26) disebut juga invitation to trat atau offer to negotiate), contoh: swalayan itu offer to negotiate bila itu adalah offer maka setiap pembeli yang telah mengambil barang tidak dapat lagi membatalkannya.

Pernyataan acceptance atas suatu offer yang tidak menyatakan tentang cara atau metode tertentu untuk kabulnya, dapat dilakukan dengan cara atau metode apa saja yang masuk akal sesuai dengan keadaan pada waktu itu (section 30.Restatement Second). Namun bila offeror secara tegas menuntukan metode tertentu sebagai syarat kabulnya. Bila offeree melakukan penerimaan dengan cara yang berbeda maka belum dapat dikatakan terjadi acceptance.

4. Prinsip-Prinsip Hukum Kontrak 4.1. Menurut BW (freedom of contract)

(30)

24 Unsur:

1) apa yang diperjanjikan 2) kepatutan/keadilan 3) kebiasaan

4) undang-undang

Menurut Hardijan Rusli, dikarenakan undang-undang berada diurutan terakhir. Hal ini berarti bahwa dalam hal tidak diatur dalam perjanjian atau tidak berlawanan dengan kepatutan/keadilan, dan tidak diatur dalam hukum tidk tertulis (kebiasaan) maka barulah diterapkan ketentuan dalam undang-undang. Sehingga KUHPer (Undang-Undang) hanya pelengkap saja yaitu dipakai atau diterapkan dalam hal ketentuan tersebut tidak didapatkan dalam perjanjian, kepatutan atau kebiasaan. 4.2.Menurut Hukum Kontrak Inggris

Yurispridensi Jessel M.R (1875)

462. setiap orang dewasa yang waras mempunyai hak kebebasan berkontrak sepenuhnya dan kotrak-kontrak yang dibuat secara bebas atas kemauannya sendiri, adalah dianggap mulia/kudus dan harus dilaksanakan oleh pengadilan.. dan kebebasan berkontrak ini tidakboleh dicampuri sedikitpun. Menurut Black Law dictionary, mencampuri suatu kontrak adalah melemahkan (to Weaken), mengurangi nilainya, atau mengubah maksud dan akibat hukum para pihak untuk menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak yang lain. Asas ini menentang kontrak-kontrak yang bersifat membatasi perdagangan tanpa menentukan batas waktu. Atau batas waktu yang terlalu lampau lama karena dianggap bertentangan dengan asas tersebut, membatasi usaha (restraint of trade).

5. Prinsip Itikad Baik

(31)

25

Putusan MA 11 Mei 1955. Pantas dan sesuai dengan rasa keadilan bila dalam hal menggadai tanah kedua belah pihak memikul masing-masing separuh deri resiko kemungkinan perubahan harga nilai uang rupiah, dengan bahan pembanding harga emas pada waktu menggadaikan dan pada waktu menebus tanah itu. Sawah digadaikan Rp 50,- ditetapkan oleh MA harus ditebus dengan 15 x lipat yaitu Rp 750. Karena harga emas sudah naik 30 x lipat. Menurut Subekti. Keputusan ini adalah keputusan yang membanggakan.

Good Faith restament Second. Section 205. setiap perjanjian membebankan kepada masing-masing pihak suatu kewajiban untuk melaksanakan perjanjian secara itikad baik dan transaksi yang adil. Contoh tentang bad faith dalam keterangan Section 205

1. mengindari dari maksud/ tujuan transaksi 2. kurang aktif dan berkurangnya perhatian

3. melakukan perbuatan yang tidak baik dengan sengaja 4. kesewenangan dalam menentukan isi perjanjian

5. ikut campur tangan atau gagal bekerja sama dalam prestasi pihak lawan.

Definisi itikad baik menutur commom law system yaitu kejujuran dalam fakta, dalam tindakan, atau dalam transaksi yang bersangkutan.

6. Prinsip Pacta Sunt Servanda

(32)

26

(33)

27

B. Teori-Teori Hukum Kontrak (Perspektif Perbandingan) Hukum Kontrak; Studi Perbandingan Antara Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dengan Singapura19

1. Latar Belakang

Perjanjian atau lebih dikenal sebutannya dengan istilah kontrak sangat melandasi berbagai macam aspek dalam kegiatan bisnis. Kontrak dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt) disebut perjanjian, yang merupakan salah satu sumber perikatan yang ketentuannya tunduk di bawah Buku III Tentang Perikatan KUHPdt. Para ahli hukum perjanjian atau kontrak, secara diametral telah terbagi pandangannya tentang penyebutan istilah perjanjian dengan kontrak.

Menurut Peter Mahmud Marzuki sebagaimana dikutip oleh Agus Yudha Hernoko memberikan pandangan kritis tentang perbedaan istilah tersebut, yaitu:

Di dalam pola pikir Anglo-American, perjanjian yang bahasa Belanda-nya overeenkomst dalam bahasa Inggris disebut agreement yang mempunyai pengertian lebih luas dari contract, karena mencakup hal-hal yang berkaitan dengan bisnis atau bukan bisnis. Untuk agreement yang berkaitan dengan bisnis disebut contract, sedangkan untuk yang tidak terkait dengan bisnist hanya disebut agreement.20

Padangan tersebut sesuai dengan prinsip ekonomi dalam kegiatan bisnis, yaitu menyeimbangkan kebutuhan

19Rucita Permatasari, Mahasiswa Magister Hukum, Fakultas

Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Fajar Sugianto, Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

20 Peter Mahmud Marzuki, Batas-batas Kebebasan Berkontrak,

Yuridika 18 No. 3, Mei-Juni, hlm. 195-196 dalam Agus Yudha

Hernoko, Hukum Perjanjian; Asas Proporsionalitas Dalam Kontrak

(34)

28

subyek hukum yang tidak terbatas dengan sumber daya yang dimiliki subyek hukum yang sangat terbatas. Interaksi yang terjadi antara subyek hukum ketika melakukan kegiatan bisnis perlu dijelmakan melalui kontrak sehingga hubungan hukum dari antara para pihak yang melahirkan hak dan kewajiban menjadi sarana pemenuhan kebutuhan bisnis para subjek hukum.

Mengingat peranan kontrak sangat penting di dalam setiap kegiatan bisnis, hal mana mengalami perubahan dan percepatan sangat pesat, maka sangat dibutuhkan analisis hukum tentang kemutakhiran pengaturan pokok hukum kontrak menurut KUHPdt melalui metode perbandingan (comparative study) dengan negara Singapura yang menganut sistem hukum common law. Perbandingan hukum dilakukan dengan mendudukan kontrak berdasarkan teori, kemudian membandingkan pengaturan dan prinsip-prinsip hukum kontrak. Agar analisis menjadi terarah, dilakukan perban-dingan dengan komponen syarat sahnya perjanjian, prinsip kebebasan berkontrak (freedom of contract principle), prinsip itikad baik (good faith principle), dan prinsip pacta sunt servanda.

(35)

29

2. Studi Perbandingan Hukum Kontrak Antara Indonesia Dengan Singapura

2.1. Teori Kontrak

Kontrak bisnis selalu memiliki sifat timbal balik, oleh karenanya kontrak bisnis juga dikenal dengan nama

perjanjian obligatoir. Menurut Herlien Budiono, “Perjanjian

obligatoir adalah perjanjian yang timbul karena kesepakatan dari dua pihak atau lebih dengan tujuan timbulnya suatu perikatan untuk kepentingan yang satu atas beban yang lain

atau timbal balik”.21

Secara teoritis, kontrak terdiri atas 3 (tiga) bagian, yaitu bagian essensilia, bagian naturilia, dan bagian accidentalia. Menurut R. Soeroso, unsur essensilia adalah unsur yang harus ada dalam perjanjian, tanpa adanya unsur ini maka tidak ada perjanjian.22

Bagian naturilia menurut Herlien Budiono, adalah bagian perjanjian yang berdasarkan sifatnya dianggap ada tanpa perlu diperjanjian secara khusus oleh para pihak. Bagian dari perjanjian ini yang galibnya bersifat mengatur termuat di dalam ketentuan perundang-undangan untuk masing-masing perjanjian bernama.23 Bagian ini masih

terbagi lagi menjadi 2 (dua) jenis kontrak, yaitu kontrak nominat dan kontrak inominaat. Menurut Salim H.S., kontrak nominaat merupakan ketentuan yang mengkaji berbagai kontrak atau perjanjian yang dikenal dalam KUHPer.24

Kontrak inominaat adalah kontrak yang timbul, tumbuh dan

21 Herlien Budiono, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan

Penerapan-nya di Bidang Kenotariatan, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2011, hlm. 21.

22 R. Soeroso, Perjanjian Di Bawah Tangan; Pedoman Praktis Pembuatan

dan Aplikasi Hukum, Jakarta, Sinar Grafika, 2011, hlm. 16.

23 Harlien Budiono, Op Cit., hlm. 70.

24 Salim H.S., Perkembangan Hukum Kontrak Inominaat di Indonesia,

(36)

30

berkembang dalam masyarakat. Jenis kontrak ini belum dikenal pada saat KUHPer diundangkannya.25 Bagian

accidentalia menurut Agus Yudha Hernoko merupakan unsur yang ditambahkan oleh para pihak dalam hal undang-undang tidak mengaturnya.26

Dalam perkembangannya, kontrak menjadi bagian yang melekat dari transaksi bisnis baik dalam skala besar maupun kecil, baik domestik maupun internasional Hubungan hukum yang terjadi dalam kontrak berfungsi sangat penting untuk menjamin bahwa seluruh harapan yang dibentuk dari janji-janji para pihak dapat terlaksana dan terpenuhi. Dengan demikian kontrak merupakan sarana untuk memastikan bahwa apa yang hendak dicapai oleh para pihak dapat diwujudkan. P.S. Atiyah menambahkan, isi kontrak pada umumnya berkaitan dengan pertukaran ekonomi.27 Pertukaran tersebut haruslah adil terkait dengan

kewajiban kontraktualnya yang didasarkan proporsi masing-masing.28

Terhadap fungsi kontrak, Beatson memperhatikan 4 (empat) hal, yaitu:

1. kontrak pada umumnya menetapkan nilai pertukaran (the value of exchange);

2. kontrak terdapat kewajiban yang bertimbal balik dan standard pelaksanaan kewajiban;

3. kontrak membutuhkan alokasi pengaturan tentang risiko ekonomi (economic risks) bagi para pihak; dan

25 Ibid., hlm. 1.

26 Agus Yudha Hernoko, Op. Cit., hlm. 226.

27 P.S. Atiyah, An Introduction to the Law of Contract, 4th ed., Oxford

University Press, New York, 1996, hlm. 5.

28 P.S. Atiyah, Promises, Morals and Law, Clarendon Press, Oxford,

(37)

31

4. kontrak dapat mengatur kemungkinan kegagalan dan akibat hukumnya.29

Menurut perspektif Economic Analysis of Law, kontrak yang efisien ialah kontrak yang memiliki kematangan kesepakatan guna membentuk independensi dan berguna untuk menghilangkan sifat oportunistik sehingga para pihak mampu menciptakan hubungan dengan saling memberikan pertukaran-pertukaran yang kooperatif. 30 Oleh karenanya,

kontrak yang baik dari perspektif ekonomi ialah kontrak yang mampu menyediakan remedy kepada para kontraktan serta memberikan nilai tambah kepada siapapun yang memanfaatkan pertukaran sumber daya yang ada.

2.2. Syarat Sahnya Kontrak

a. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Pasal 1320 KUHPdt menentukan 4 syarat untuk dipenuhi agar kontrak yang dibuat para pihak menjadi sah, yakni: 1. Kesepakatan, 2. Kecakapan, 3. Suatu hal, 4. Causa yang diperbolehkan. Dari ke-empat syarat tersebut, syarat pertama tentang adanya kesepakatan, KUHPdt tidak memformulasikan bagaimana cara mencapai kata sepakat. Kesepakatan dikembangkan dari kedudukannya sebagai prinsip konsensualisme yang menekankan adanya kata sepakat sebagai awal mula terjadinya kontrak.

Prinsip konsensualisme memiliki keterkaitan erat dengan kesepakatan dalam membentuk kontrak. Untuk dapat mencapai suatu tingkat konsensus menurut KUHPdt, terlebih dahulu dibedakan antara kontrak yang lahir dari persetujuan dan yang lahir karena Undang-Undang. Berikut

29 J. Beatson, Anson’s Law of Contract, Oxford University Press,

Oxford, 2002, hlm. 2.

30 Fajar Sugianto, Economic Analysis of Law, Seri I: Pengantar,

(38)

32

adalah pasal-pasal yang menentukan prinsip konsensualisme menurut KUHPdt:

Pasal 1233 KUHPdt menentukan bahwa kontrak lahir karena suatu persetujuan atau karena Undang-Undang31.

Persetujuan yang berisikan janji-janji yang termuat di dalamnya sebagai perjanjian. Selanjutnya di dalam Pasal 1313 mendefinsikan perjanjian adalah suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih32.

Rumusan ketentuan mengenai pembentukan kontrak menurut KUHPdt yang lahir karena perjanjian, ditentukan di dalam Pasal 1320 KUHPdt tentang syarat sahnya suatu perjanjian, yaitu kesepakatan, kecakapan, suatu hal tertentu, dan causa yang diperbolehkan. Khusus mengenai kesepakatan, KUHPdt tidak menentukan secara jelas rumusan kesepakatan yang bagaimana bentuknya yang dimaksud, sehingga dapat dikatakan terjadi kesepakatan, persetujuan, atau persamaan pendapat. KUHPdt hanya mengatur, bahwa kesepakatan itu tidak boleh diberikan dalam keadaan khilaf, paksaan, penipuan.

Mengenai kecakapan, Pasal 1330 KUHPdt menentukan bahwa mereka yang tidak cakap adalah orang-orang yang belum dewasa menurut hukum, di bawah pengampunan, dan orang-orang perempuan yang ditetapkan Undang-undang yang melarang membuat perjanjian-perjanjian tersebut.

Mengenai suatu hal tertentu, hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan saja yang dapat dijadikan pokok perjanjian (Pasal 1332 KUHPdt) dan pokok suatu barang dapat ditentukan jenisnya (Pasal 1333 KUHPdt).

31 Engelbrecht, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik

Indonesia, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2006, hlm. 509.

(39)

33

barang yang baru akan ada dikemudian hari dapat pula menjadi pokok suatu perjanjian (Pasal 1334 KUHPdt).

Mengenai syarat causa yang diperbolehkan ditentukan dalam Pasal 1335 yang pada pokoknya melarang perjanjian tanpa sebab palsu dan terlarang, Pasal 1336 yang menentukan perjanjian tetap sah walaupun tidak ada dinyatakan suatu sebab, namun ada sebab yang diperbolehkan, dan Pasal 1337 KUHPdt yang menentukan sebab terlarang ialah sebagaimana ditentukan oleh Undang-undang, bertentangan dengan kesusilaan, dan ketertiban umum. Dalam hal kontrak dibentuk dan lahir karena Undang-undang, Pasal 1352 menentukan bahwa perikatan-perikatan yang dilahirkan oleh Undang-undang sebagai akibat perbuatan orang, terbit dari perbuatan menurut hukum atau perbuatan melanggar hukum.

(40)

34

Tercapainya kata sepakat seperti ini dapat juga disebut sebagai meeting of the minds dan concurence of wills yang para

pihak menghendaki “sama dalam kebalikannya”33.

Kata sepakat dalam hal ini memiliki arti saling setuju untuk:

a. melakukan sesuatu;

b. melakukan kontrak dengan rekan;

c. menciptakan kontrak dalam suatu bentuk;

d. menentukan jenis kontrak yang saling dianggap sesuai; dan

e. memilih pilihan dan forum hukum.

Uraian tersebut senada dengan tradisi hukum kontrak menurut civil law system, kontrak dibuat berdasarkan teori konsensus atau kesepakatan para pihak yang mengikatkan dirinya. Kontrak yang demikian seharusnya lebih dikenal dengan consensual contract yang dibuat berdasarkan agreement yang berarti sepakat, bukan diartikan sebagai kontrak seperti banyak yang diterjemahkan oleh para pengguna. Menurut Bryan A. Garner, consensual contract adalah, secara historis, suatu kontrak yang lahir dari konsensus yang sederhana dari para pihak, tanpa adanya formalitas atau

33 Salah satu contoh civil law system modern adalah B.G.B Jepang

yang telah mengalami perubahan-perubahan dan penyesuaian

terhadap lex mercatoria yang dikuasai oleh common law system,

sehingga ditemukan sangat tipis jurang pemisah antara tradisi civil law dan tradisi common law. Selain penetuan offer-acceptance untuk mencapai kata sepakat, tata cara proses pengiriman proposal, cara-cara penarikan kembali, modifikasi penawaran atau penerimaan, penekanan terhadap batas-batas waktu juga menjadi hal esensial di dalam pembentukan suatu konsensus. Penyesuaian lain juga

terdapat pada pengadopsian consideration, dan prinsip-prinsip

(41)

35

perbuatan simbolis untuk penetapan kewajiban34. Ia

menambahkan bahwa walaupun consensual contract ini juga dikenal di dalam lingkungan common law, perkembangannya berasal dari hukum Romawi yang awalnya cukup menggunakan konsensus yang informal di dalam 4 (empat) jenis kontrak, yaitu perjanjian keagenan atau mandatum, perjanjian kemitraan atau (societas), jual-beli atau emptio venditio, dan sewa-menyewa atau (locatio conductio). Consensual contract. Hist. A contract arrising from the mere consensus of the parties, without any formal or simbolic acts performed to fix the obligation. Cf. Real contract.35

Dari definisi mengenai consensual contract tersebut di atas, sangat perlu diperhati dua elemen yang sangat penting, yaitu kata Hist. dan Cf. Menurut Bryan A. Garner, apabila dicantumkan hist, maka pengartiannya historical; no longer current in law,36 sementara pencantuman Cf berarti is used to refer to related but CONTRASBLE terms.37Dari pengertian ini,

dapat dimengerti bahwa kontrak yang hanya berdasarkan konsensus semata sudah tidak lazim dipakai dan pengertiannya tidak sama dengan makna kontrak sesungguhnya. Hal ini dapat didukung dengan kemajuan dan perkembangan zaman, menunjukan teori konsensus ini sulit menghadapi kemajemukan dan kepentingan kehidupan dalam pergaulan masyarakat dunia yang semakin menuju ke arah globalisasi. Pada akhirnya teori ini bergeser dan berkembang dengan pengadopsian teori offer dan acceptance yang sesungguhnya adalah tradisi dan ciri khas dari common law system. Sudah banyak negara-negara maju yang

34 Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, 8th Ed., Thompson West,

USA, hlm. 343.

35 Ibid., hlm. 343. Mengutip Henry S. Maine, Ancient Law, 10th ed.,

hlm. 322-323, 1884.

(42)

36

nut civil law system telah mengadopsi dan memberlakukan teori offer dan acceptance untuk mendapat suatu kesepakatan yang konsensus.

KUHPdt yang mengadopsi teori konsensus ini sebagai salah satu syarat syahnya kontrak, belum memasukan teori penawaran dan penerimaan untuk mendapatkan suatu kesepakatan. Konsensus yang bagaimana harus didapat untuk dijadikan suatu dasar kesepakatan merupakan pertanyaan dasar setiap pengguna hukum untuk melakukan kontrak. Proses-proses penawaran dan penerimaan yang sudah umum dilakukan di sektor perdagangan di Indonesia hanya berdasarkan suatu kebiasaan dan pengadopsian dari tata cara pebisnis luar negeri. Namun pada hakikatnya, KUHPdt tidak melarang adanya pengadopsian serta pencampuran sistem hukum lainnya sepanjang tidak bertentangan dengannya dan peraturan perundang-undangan lainnya.

3. Menurut Hukum Kontrak Singapura

(43)

37

Selanjutnya Pasal 8.2.3. menentukan, apakah pernyataan tertentu dianggap sebagai penawaran tergantung pada maksud dilakukannya penawaran tersebut. Suatu penawaran harus dilakukan dengan niat atau maksud untuk terikat. Di lain pihak, apabila seseorang sekedar memberikan penawaran atau menanyakan informasi, tanpa maksud untuk terikat, paling jauh ia hanya bermaksud mengundang untuk menjamu pihak lainnya. Berdasarkan pengujian obyektivitas, seseorang dapat dikatakan telah membuat penawaran apabila pernyataannya membuat orang biasa yakin bahwa orang yang sedang membuat penawaran tersebut bermaksud untuk terikat dengan penerimaan atas dugaan penawaran tersebut, meskipun orang tersebut sebenarnya tidak mempunyai maksud demikian.38

Mengenai cara pengakhiran suatu penawaran diatur Pasal 8.2.4 yang menentukan, suatu penawaran dapat diakhiri dengan cara menariknya pada setiap waktu sebelum penawaran tersebut diterima, dengan ketentuan penarikan penawaran tersebut diberitahukan kepada pihak yang

38 http://www.singaporelaw.sg/, diakses tanggal 11 November

2017 pukul 18:00 WIB.

Offer. 8.2.2 An offer is a promise, or other expression of willingness, by the ‘offeror’ to be bound on certain specified terms upon the unqualified acceptance of these terms by the person to whom the offer is made (the

‘offeree’). Provided the other formation elements (ie consideration and

intention to create legal relations) are present, the acceptance of an offer results in a valid contract.

(44)

38

ditawarkan, baik oleh pihak yang menawarkan atau melalui sumber yang dapat dipercaya.

Penolakan atas suatu penawaran, termasuk membuat penawaran balik atau mengubah ketentuan-ketentuan awal, mengakhiri adanya penawaran. Apabila tidak ada aturan tegas mengenai waktu, suatu penawaran akan berakhir setelah jangka waktu yang sewajarnya. Apa yang dianggap sebagai jangka waktu yang sewajarnya tergantung pada fakta-fakta tertentu dari kasus yang terkait. Meninggalnya pihak yang menawarkan jika diketahui oleh pihak yang ditawarkan, membuat pihak yang ditawarkan tidak dapat menerima penawaran. Bahkan jika tidak mengetahui kejadian tersebut, meninggalnya salah satu pihak mengakhiri keberadaan setiap penawaran yang bersifat pribadi.39

Mengenai tentang ketentuan suatu penerimaan, diatur dalam Pasal 8.2.5 dan Pasal 8.2.6. Penawaran menurut Pasal 8.2.5 menentukan, suatu penawaran diterima atas dasar penundukan tanpa syarat dan tanpa batasan pada ketentuan-ketentuannya oleh pihak yang ditawarkan. Penundukan ini dapat dinyatakan secara tegas melalui kata-kata atau tindakan, tetapi tidak dapat disimpulkan dari sekedar diam, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat luar biasa.

39 Ibid.

(45)

39

Selanjutnya Pasal 8.2.6 menentukan, sebagai aturan umum, penerimaan harus diberitahukan kepada pihak yang menawarkan, meskipun terdapat beberapa pengecualian dimana penerimaan dikirim melalui pos dan metode pemberitahuan ini dibenarkan baik secara tegas ataupun tersirat. Pengecualian ini, yang dikenal sebagai aturan penerimaan melalui pos sesuai dengan postal acceptance rule, mengatur bahwa penerimaan terjadi pada saat dimana surat penerimaan dikirimkan melalui pos, terlepas apakah surat tersebut benar-benar diterima oleh pihak yang menawarkan atau tidak40. Pasal berikutnya mengatur tentang bagaimana

suatu kepastian dalam kontrak semestinya dibuat, yaitu sebelum kesepakatan dapat diberlakukan sebagai kontrak, ketentuan-ketentuannya harus cukup pasti. Setidaknya, ketentuan-ketentuan utama dari kepakatan harus dijabarkan. Di luar ini, Pengadilan dapat memutuskan permasalahan ketidak-jelasan atau ketidak-pastian dengan mengacu pada tindakan-tindakan para pihak, pola transaksi sebelumnya antara para pihak, praktek perdagangan atau standar kewajaran. Kadangkala, ketentuan Undang-Undang mengenai hal-hal terperinci dari kontrak dapat mengisi kesenjangan ini41.

40 Ibid.

Acceptance. 8.2.5 An offer is accepted by the unconditional and unqualified assent to its terms by the offeree. This assent may be expressed through words or conduct, but cannot be inferred from mere silence save in very exceptional circumstances.

8.2.6 As a general rule, acceptance must be communicated to the offeror, although a limited exception exists where the acceptance is sent by post and this method of communication is either expressly or impliedly authorised. This exception, known as the ‘postal acceptance rule’, stipulates that acceptance takes place at the point when the letter of acceptance is posted, whether or not it was in fact received by the offeror.

41 Ibid.

(46)

40

Telah diatur juga ketentuan-ketentuan mengenai unsur-unsur kelengkapan suatu kontrak agar kontrak tersebut sah menurut hukum. Pasal 8.2.8 menentukan, kesepakatan yang tidak lengkap juga tidak dapat dianggap sebagai kontrak yang dapat diberlakukan. Kesepakatan-kesepakan yang dibuat dengan tunduk pada kontrak dapat dianggap tidak lengkap apabila tujuan dari para pihak, sebagaimana ditentukan dari fakta-fakta yang ada, tidak mengehendaki terikat secara hukum sampai dengan penandatanganan dokumen formal atau sampai dengan kesepakatan selanjutnya telah dicapai. Hal ini dapat dilihat lebih lanjut dalam kutipan di bawah ini.42

Pasal berikutnya menunjukan bahwa perangkat hukum Singapura telah disiapkan dan adequate untuk menyambut perkembangan jaman dan kemajuan teknologi. Pasal 8.2.9 mengatur tentang Electronic Transaction Act, yaitu Undang-Undang Transaksi Elektronik menjelaskan bahwa, kecuali dalam hal-hal yang berkenaan dengan persyaratan tertulis atau tanda tangan pada surat wasiat, surat berharga, indentur, pernyataan trust atau surat kuasa, kontrak-kontrak yang melibatkan harta tidak bergerak dan dokumen kepemilikan, catatan elektronik dapat digunakan untuk menyatakan penawaran atau penerimaan atas penawaran dalam pembuatan kontrak. Pernyataan niat atau maksud

agreement should be specified. Beyond this, the courts may resolve apparent vagueness or uncertainty by reference to the acts of the parties, a previous course of dealing between the parties, trade practice or to a standard of reasonableness. On occasion, statutory provision of contractual details may fill the gaps.

42 Ibid.

(47)

41

antara para pihak dari perjanjian dapat juga dibuat dalam bentuk catatan elektronik. Dijelaskan juga di dalam Undang-undang Transaksi Elektronik, bahwa kapan suatu catatan elektronik berasal dari orang tertentu dan bagaimana waktu dan tempat pengiriman dan penerimaan catatan elektronik akan ditentukan.43

Dari uraian di atas, suatu kontrak yang konsensus menurut hukum kontrak Singapura dirumuskan: Offer + Acceptance = Agreement. Unsur terpenting konsensualisme (offer dan acceptance) dalam common law system adalah adanya pertemuan kehendak (meeting of the minds) dan kesesuaian pendapat (concurence of wills) yang telah mempersatukan para pihak. Bersatunya para pihak berarti adanya keharmonisan atau kecocokan dalam pendapat, pandangan, maksud, dan tujuan yang dapat digabungkan untuk mengatur peristiwa yang akan datang.

4. Prinsip-prinsip Hukum Kontrak 4.1. Prinsip Kebebasan Berkontrak a. Menurut KUHPdt

Kebebasan berkontrak pada dasarnya merupakan perwujudan dari kehendak bebas, pancaran hak asasi manusia yang perkembangannya dilandasi semangat liberalisme yang mengagungkan kebebasan individu.

43 Ibid.

(48)

42

Perkembangan ini seiring dengan penyususnan B.W di negeri Belanda, dan semangat liberalisme ini juga dipengaruhi semboyan Revolusi Perancis “liberte, egalite et fraternite” yang berarti kebebasan, persamaan dan persaudaraan44. Dengan

kata lain, paham individualisme ini memperbolehkan setiap orang untuk bebas memperoleh apa yang dikehendaki. Dalam kaitannya dengan hukum kontrak, kebebasan fundamental yang demikian ini apabila tidak diatur dengan ketat dan jelas, kontrak yang dibuat dari hasil kebebasan berkontrak tidak dapat menghasilkan keadilan ke arah kesejahteraan.

Kebebasan berkontrak menjadi prinsip hukum kontrak sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1338 ayat (1)

KUHPdt: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku

mengikat sebagai undang-undang bagi pihak yang

membuatnya”. Kata “semua” dari sistem norma yang

tertuang dalam pasal tersebut menunjukan bahwa KUHPdt mengatur tentang kebebasan berkontrak sehingga akibat hukum terhadapnya ialah berlaku mengikat bagi dan antara para pihak yang membuatnya.

Kebebasan berkontrak terdiri atas:

1. kebebasan untuk membuat perjanjian atau tidak membuat perjanjian;

2. kebebasan untuk memilih dengan pihak mana akan membuat perjanjian;

3. kebebasan untuk menentukan isi perjanjian;

4. kebebasan untuk menentukan bentuk perjanjian; dan 5. kebebasan untuk menentukan cara pembuatan

perjanjian45.

44 Agus Yudha Hernoko, Op. Cit., hlm. 93-94.

45 Johanes Gunawan, “Penggunaan Perjanjian Standard dan Implikasi

-nya Pada Asas Kebebasan Berkontrak”, Majalah Padjadjaran, No. 3-4,

(49)

43

Menurut Sutan Remi Sjahdeini, prinsip kebebasan berkontrak menurut hukum kontrak Indonesia meliputi ruang lingkup sebagai berikut:

a. kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian;

b. kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian;

c. kebebasan untuk menentukan atau memilih causa dari perjanjian yang akan dibuatnya;

d. kebebasan untuk menentukan objek perjanjian;

e. kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian; f. kebebasan untuk menerima atau menyimpangi

ketentuan undang-undang yang bersifat optional46.

Tuntutan perubahan terhadap prinsip kebebasan berkontrak bukan sesuatu yang arogan dan atau sengaja dibuat-buat, lebih-lebih lagi bila dalam kondisi seperti dikemukakan oleh I.B.R Supancana, yang antara lain disebabkan oleh:

a. Pengaruh “social protectionism”.

1. Ketika revolusi industri mencapai titik kulminasinya, timbul berbagai permasalahan sosial ekses dari proses urbanisasi seperti masalah pengadaan infrastruktur, tumbuhya wilayah-wilayah kumuh, sanitasi, dan lainnya;

2. Kedudukan pemilik modal yang sangat kuat, maka terjadilah praktek eksploitasi terhadap pekerja dalam hubungan kontraktual yang bersifat sepihak; 3. Timbul reaksi keadaan tersebut, maka tumbuhlah

serikat-serikat pekerja guna melindungi kepentingan pekerja terhadap

kesewenangan-wenangan pemilik modal; tumbuhnya

46 Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang

Referensi

Dokumen terkait

Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasioanal dan Negara, yang berdasarkan atas

Magi Sympathetic atau mantra simpatik Banjar merupakan bentuk puisi tradisional Banjar yang digunakan untuk kepentingan pemakainya, tetapi tidak merugikan orang lain.. Dalam

7 Dalam menjalankan tugasnya menegakkan hukum, aparat penegak hukum tidak terlepas dari kemungkinan untuk melakukan perbuatan atau tindakan yang bertentangan dengan

Ketentuan penggunaan Instagram tentang lisensi Hak Cipta atas konten fotografi dan potret bertentangan dengan prinsip dan norma hukum yang telah diatur dalam Undang-Undang

Konflik kepentingan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang dianutnya atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak dicapainya, atau

Dalam hal ketentuan dalam Perjanjian Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertentangan dengan PKB, maka ketentuan dalam Perjanjian Kerja tersebut batal demi hukum dan yang

Penggunaan Feies Emerssen tidak boleh bertentangan dengan sistem hukum yang berlaku (kaidah hukum positif). Penggunaan Feies Emerssen hanya ditujukan demi kepentingan

Penjelasan mengenai Pasal 5 dinyatakan, bahwa: “Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air, dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional