MEMAHAMI HAK DAN KEPENTINGAN
BURUH SERTA ANALISA KRITIS
TERHADAP PKB YANG ADA
Disampaikan dalam Pelatihan yang
diselenggarakan oleh Industriall di Hotel Grand
Pangestu, Karawang, 1 – 3 September 2014
BAGIAN PERTAMA : UMUM
1.PENGERTIAN PERJANJIAN
PERJANJIAN ADALAH SUATU PERISTIWA DIMANA
SEORANG BERJANJI KEPADA SEORANG LAINNYA
ATAU DIMANA DUA ORANG ATAU LEBIH SALING
BERJANJI UNTUK MELAKSANAKAN SESUATU HAL (psl
1313).
SUATU PERJANJIAN ADALAH SAH APABILA
MEMENUHI SYARAT (psl 1320):
ADANYA KESEPAKATAN
DIBUAT OLEH ORANG YANG CAKAP HUKUM
(SYARAT SUBJEKTIF : JIKA TIDAK TERPENUHI, DAPAT
DIBATALKAN)
MENGENAI SESUATU HAL TERTENTU
SESUATU SEBAB YANG HALAL (SYARAT
OBJEKTIF : JIKA TIDAK TERPENUHI, BATAL DEMI
HUKUM)
AKIBAT DARI SUATU PERJANJIAN (psl 1338)
BERLAKU SEBAGAI UNDANG-UNDANG BAGI
PIHAK YANG MEMBUATNYA
TIDAK DAPAT DITARIK KECUALI ATAS
2.PENGERTIAN PERJANJIAN KERJA
PERJANJIAN KERJA ADALAH PERJANJIAN ANTARA
PEKERJA/BURUH DENGAN PENGUSAHA ATAU
PEMBERI KERJA YANG MEMUAT SYARAT-SYARAT
KERJA, HAK, DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK
DIBUAT SECARA LISAN ATAU TERTULIS
DIBUAT DALAM BAHASA INDONESIA DAN HURUF
LATIN
SEKURANG-KURANGNYA RANGKAP 2 (DUA)
TIDAK BOLEH BERTENTANGAN DENGAN PP, PKB,
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
ADA PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU (PKWT)
DAN ATAU PERJANJIAN KERJA WAKTU TIDAK
TERTENTU(PKWTT)
2.1.PERJANJIAN KERJA DIBUAT ATAS DASAR :
a. KESEPAKATAN KEDUA BELAH PIHAK ;
b. KEMAMPUAN ATAU KECAKAPAN MELAKUKAN
PERBUATAN HUKUM ;
c. ADANYA PEKERJAAN YANG DIPERJANJIKAN ; DAN
d. PEKERJAAN YANG DIPERJANJIKAN TIDAK
BERTENTANGAN DENGAN KETERTIBAN UMUM,
KESUSILAAN, DAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU.
BERTENTANGAN DENGAN (a) dan (b) DAPAT
DIBATALKAN
BERTENTANGAN DENGAN (c) dan (d) BATAL DEMI
HUKUM
ISI MUATANNYA :
NAMA, ALAMAT PERUSAHAAN DAN JENIS USAHA
JABATAN DAN JENIS PEKERJAAN
TEMPAT PEKERJAAN
BESARNYA UPAH DAN CARA PEMBAYARANNYA
SYARAT-SYARAT KERJA YANG MEMUAT HAK
DAN KEWAJIBAN PENGUSAHA DAN PEKERJA
MULAI DAN JANGKA WAKTU BERLAKUNYA
TEMPAT DAN TANGGAL PERJANJIAN DIBUAT
TANDA TANGAN PARA PIHAK
3.PENGERTIAN PERATURAN PERUSAHAAN
PERATURAN PERUSAHAAN ADALAH PERATURAN
YANG DIBUAT SECARA TERTULIS OLEH PENGUSAHA
YANG MEMUAT SYARAT-SYARAT KERJA DAN TATA
TERTIB PERUSAHAAN.
BERSIFAT WAJIB BAGI PENGUSAHA YANG
MEMPEKERJAKAN PEKERJA SEKURANG-KURANGNYA
10 ORANG
DISUSUN DENGAN MEMPERHATIKAN SARAN DAN
PERTIMBANGAN WAKIL PEKERJA (SP)
ISI MUATAN : HAK DAN KEWAJIBAN; SYARAT KERJA;
ATA TERTIB DAN JANGKA WAKTU BERLAKUNYA
KETENTUAN DALAM PP TDK BOLEH BERTENTANGAN
DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YG
BERLAKU
MASA BERLAKU SELAMA 2 TAHUN DAN WAJIB
DIPERBAHARUI
DALAM MASA BERLAKU, KETIKA SP MENGHENDAKI
PERUNDINGAN PKB MAKA PENGUSAHA WAJIB
MELAYANI
PERATURAN PERUSAHAAN DAN PERUBAHANNYA
DISAHKAN OLEH MENTERI/YG DITUNJUK (DISNAKER)
4.PENGERTIAN PERJANJIAN KERJA
BERSAMA(PKB)
PERJANJIAN KERJA BERSAMA ADALAH
PERJANJIAN YANG MERUPAKAN HASIL
PERUNDINGAN ANTARA SERIKAT
PEKERJA/SERIKAT BURUH ATAU
BEBERAPA SERIKAT PEKERJA/ SERIKAT
BURUH YANG TERCATAT PADA INSTANSI
YANG BERTANGGUNG JAWAB DIBIDANG
KETENAGAKERJAAN DENGAN
PENGUSAHA ATAU BEBERAPA PENGUSAHA
ATAU PERKUMPULAN PENGUSAHA YANG
MEMUAT SYARAT – SYARAT KERJA, HAK
DAN KEWAJIBAN KEDUA BELAH PIHAK.
5.PERATURAN PERUNDANGAN TENTANG PKB
DAN YANG TERKAIT DENGAN ISI PKB
6.1.UU 21/2000 tentang SP/SB.
6.2.UU 13/2003 – ttg Ketenagakerjaan ps 116 s/d 125
6.3.UU 02/2004 tentang PPHI
Plus pelbagai peraturan perundangan tentang hubungan
kerja dan hubungan industrial.
6.
T U J U A N
1. Mempertegas dan memperjelas hak-hak dan kewajiban Pekerja dan Pengusaha.
1. Memperteguh dan menciptakan hubungan industrial yang harmonis dalam perusahaan.
1. Menetapkan secara bersama syarat-syarat kerja, keadaan industrial yang harmonis dan atau hubungan ketenagakerjaan yang belum diatur dalam peraturan perundangan.
7.
MANFAAT
1. Baik pekerja maupun pengusaha lebih memahami tentang hak dan kewajiban masing-masing.
1. Mengurangi timbulnya perselisihan hubungan industrial atau hubungan ketenagakerjaan sehingga dapat menjamin kelancaran proses produksi dan peningkatan usaha.
1. Menciptakan ketenangan kerja dan mendorong semangat kegiatan bekerja yang lebih tekun dan rajin.
1. Pengusaha dapat menganggarkan biaya tenaga kerja (labour cost) yang perlu dicadangkan atau disesuaikan dengan masa berlakunya PKB.
8.
KEDUDUKAN HUKUM PKB
1. Perjanjian kerja yang dibuat oleh pengusaha dan pekerja tidak boleh bertentangan dengan PKB (Pasal 127 ayat (1) UU No. 13/2003).
2. Dalam hal ketentuan dalam Perjanjian Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertentangan dengan PKB, maka ketentuan dalam Perjanjian Kerja tersebut batal demi hukum dan yang berlaku adalah ketentuan dalam PKB (Pasal 127 ayat (2) UU No. 13/2003).
3. Dalam hal Perjanjian Kerja tidak memuat aturan-aturan yang diatur dalam PKB, maka yang berlaku adalah aturan-aturan dalam PKB (Pasal 128 UU No. 13/2003).
4. Dalam hal terjadi pembubaran Serikat Pekerja atau pengalihan kepemilikan perusahaan maka PKB tetap berlaku sampai berakhirnya jangka waktu PKB (Pasal 131 ayat (1) UU No. 13/2003).
5. Dalam hal terjadi penggabungan perusahaan (merger) dan masing-masing Perusahaan mempunyai PKB maka PKB yang berlaku adalah PKB yang lebih menguntungkan pekerja /buruh (Pasal 131 ayat (2) UU No. 13/2003). 6. Dalam hal terjadi penggabungan perusahaan (merger) antara perusahaan
yang mempunyai PKB dengan perusahaan yang belum mempunyai PKB, maka PKB tersebut berlaku bagi perusahaan yang bergabung sampai dengan berakhirnya jangka waktu PKB (Pasal 131 ayat (3) UU No. 13/2003).
8. PKB yang ditandatangani oleh pihak yang membuat PKB, selanjutnya didaftarkan oleh pengusaha pada instansi yang berlaku bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan (Pasal 132 ayat (2) UU No. 13/2003). 9. Masa berlakunya PKB paling lama 2 (dua) tahun (Pasal 123 ayat (1) UU No.
13/2003).
10.Masa berlaku PKB dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) tahun berdasarkan kesepakatan tertulis antara pengusaha dengan Serikat Pekerja (Pasal 123 ayat (2) UU No. 13/2003).
11.Perundingan pembuatan PKB berikutnya dapat dimulai paling cepat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya PKB yang sedang berlaku (Pasal 123 ayat (3) UU No. 13/2003).
12.Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat 3 (tiga) tidak mencapai kesepakatan, maka PKB yang sedang berlaku tetap berlaku paling lama 1 (satu) tahun (Pasal 123 ayat (4) UU No. 13/2003).
13.Ketentuan dalam PKB tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 124 ayat (2) UU No. 13/2003). 14.Dalam hal isi PKB bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (dua) (Psl 124 UU 13 /2003), maka ketentuan yang bertentangan tersebut batal demi hukum dan yang berlaku adalah ketentuan dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 124 ayat (3) UU No. 13/2003).
15.Dalam hal kedua belah pihak sepakat mengadakan perubahan PKB, maka perubahan tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari PKB yang sedang berlaku (Pasal 125 UU No. 13/2003).
16.Pengusaha, Serikat Pekerja wajib melaksanakan ketentuan yang ada dalam PKB (Pasal 126 ayat (1) UU No. 13/2003).
17.Pengusaha dan Serikat Pekerja wajib memberitahukan isi PKB atau perubahannya kepada seluruh Pekerja (Pasal 126 ayat (2) UU No. 13/2003).
18.Pengusaha harus mencetak dan membagikan naskah PKB kepada setiap Pekerja atas biaya perusahaan (Pasal 126 ayat (2) UU No. 13/2003).
9.
TIPE-TIPE PENYELENGGARAAN PKB
1. SINGLE PLANT.
- Pihak-pihak yang berunding ialah PUK dan pengusaha dari suatu perusahaan.
- PKB yang dihasilkan mengikat pekerja dan pengusaha di perusahaan itu.
- PKB ini tidak berlaku di perusahaan lain.
2. COMPANY WIDE.
PKB tipe ini pada umumnya diselenggarakan di perusahaan-perusahaan yang mempunyai cabang-cabang yang tersebar dibeberapa tempat.
- Pihak-pihak yang berunding ialah PUK-PUK dari kantor pusat dan cabang.
- Dalam tipe ini Pimpinan Pusat Sektor biasanya ikut serta sebagai pendamping atau kordinator.
- PKB yang dihasilkan mengikat semua pekerja di pusat maupun cabang-cabang.
10.
PRINSIP-PRINSIP DALAM PENYELENGGARAAN PKB
1. Masing-masing pihak dijamin untuk mengeluarkan pendapat dan keinginan secara bebas dan bertanggung jawab.
1. Kedua belah pihak harus berusaha dengan segala ketulusan hati dan semangat kemitraan dalam mewujudkan PKB.
1. Keputusan diambil atas dasar prinsip musyawarah untuk mufakat, Pemungutan suara bukan aturan permainan dalam perundingan PKB.
1. Isi dan nilai PKB tidak boleh lebih rendah dari norma yang berlaku.
1. PKB yang telah dihasilkan dan ditandatangani oleh kedua belah pihak, mengikat kedua belah pihak.
11.
TATA CARA PEMBUATAN
1. Masing-masing pihak wajib mempersiapkan konsep PKB, yang materinya dalam batas-batas ukuran yang wajar bagi kepentingan kedua belah pihak. 1. Terhadap permintaan berunding yang diajukan secara tertulis oleh salah satu pihak, maka pihak yang lainnya wajib menanggapi secara tertulis dalam waktu selambat-lambatnya 14 hari terhitung sejak tanggal diterimanya surat permintaan berunding tersebut.
1. Pihak yang mengajukan permintaan berunding harus mengajukan konsep PKB.
1. Selama perundingan berlangsung, baik pekerja maupun pengusaha tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang bersifat menekan atau merugikan.
1. Perundingan-perundingan dilakukan dengan i’tikad baik, penuh sikap jujur dan terbuka.
1. Tahapan proses pembuatan PKB adalah :
- Bipartite di perusahaan.
- Perantaraan Disnaker/Kanwil Disnaker/Dirjen PHI Depnakertrans RI.
- Menteri Menteri Tenaga Kerja.
BAGIAN KEDUA: MEMAHAMI HAK DAN
KEPENTINGAN
1.PENGERTIAN HAK
Sesuatu atau beberapa hal yang telah diatur dalam
norma, PP atau PKB. Dan sesuatu yang telah diberikan
kepada para pekerja lebih dari 2(dua) tahun
2.PENGERTIAN KEPENTINGAN
2.1.Sesuatu atau beberapa hal yang belum diatur dalam
norma, PP atau PKB.
2.2.Peningkatan nilai dari ketentuan yang telah ada
dalam PP/PKB.
3.ISI POKOK PKB
3.1.Penjabaran norma
3.2.Kebiasaan2 yang selama ini berlaku
3.3.Aspirasi SP(peningkatan nilai dari ketentuan yang
ada dan pengaturan hal baru)
4.SISTEMATIKA BAB DAN PASAL PKB IDEAL
MUKADIMAH, memasukkan paragraf TANPA DISKRIMINASI DALAM PENERIMAAN PEKERJA DAN DALAM HUBUNGAN KERJA BAB:U M U M
1. Pihak-pihak yang membuat Perjanjian 2. Istilah-istilah.
3. Luasnya Perjanjian.
4. Kewajiban pihak-pihak yang membuat Perjanjian.
BAB:PENGAKUAN, JAMINAN DAN FASILITAS BAGI SERIKAT PEKERJA (SP).
5. Pengakuan dan jaminan bagi Serikat Pekerja.
6. Fasilitas bagi Serikat Pekerja.
BAB:HUBUNGAN INDUSTRIAL
7. Lembaga Kerja sama Bipartite dan Forum Bipartite-N 8. Pertukaran informasi
9. Pendidikan/penyuluhan hubungan industrial
BAB:HUBUNGAN KERJA
10.Penerimaan pekerja baru
13.Promosi, Demosi dan Prosedurnya 14.Mutasi dan prosedurnya.
15.Kesempatan berkarir dan penilaian prestasi kerja. 16.Tenaga kerja asing-N
BAB: WAKTU KERJA DAN LEMBUR
17.Hari, Jam, Istirahat Kerja dan kerja shift-N 18.Kerja Lembur dan Perhitungan upah lembur-N
BAB:PEMBEBASAN DARI KEWAJIBAN BEKERJA
19.Istirahat mingguan.-N 20.Hari libur resmi.-N 21.Cuti tahunan-N 22.Istirahat panjang - N
23.Cuti hamil dan Gugur kandungan - N 24.Cuti sakit - N
25. Ijin meninggalkan pekerjaan dengan upah - N 26.Ijin meninggalkan pekerjaan tanpa upah
BAB:KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DAN LINGKUNGAN HIDUP
27.Prinsip-prinsip
28.Hygiene perusahaan dan kesehatan - N 29.Pakaian kerja dan Alat pelindung diri
30.Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja - N 31.Sistem Manajemen K3 dan lingkungan hidup - N
32.General Check Up (Pemeriksaan Kesehatan menyeluruh) - N
BAB:KOMPETENSI, PELATIHAN DAN SERTIFIKASI
33.Kompetensi kerja -N 34.Pelatihan Kerja - N
BAB:PRODUKTIVITAS KERJA
35.Prinsip – Prinsip
36.Upaya peningkatan produktiftas kerja dan penghargaan
BAB:PENGUPAHAN
37.Prinsip Dasar 38.Skala upah - N
39.Komponen Upah dan Rasio Upah - N
40.Waktu, Tempat dan cara Pembayaran upah 41.Peninjauan upah - N
42.Tunjangan Hari Raya - N 43.Bonus dan Jasa produksi
44.Upah selama sakit berkepanjangan - N
45.Upah selama pekerja ditahan pihak yang berwajib - N 46.Upah selama skorsing - N
47.Tunjangan perjalanan dinas
48.Pajak penghasilan dan pajak atas pesangon - N
BAB:PENGOBATAN DAN PERAWATAN - N
49.Umum
50.Poliklinik perusahaan
51.Pengobatan di luar poliklinik perusahaan 52.Pengobatan pada dokter spesialis
55.Keluarga Berencana
56.Konsultasi psikologi dan test bakat anak 57.Prothese
58.Pengobatan yang tidak mendapat penggantian 59.Prosedur pengobatan dan perawatan
BAB:JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA - N
60.Jaminan Kecelakaan Kerja
61.Jaminan Hari Tua dan “Jaminan Pensiun”
62.Jaminan kematian
BAB:FASILITAS KESEJAHTERAAN
63.Kantin dan Fasilitas makan
64.Makanan tambahan (Extra fooding) 65.Sumbangan – sumbangan
66.Fasilitas pinjaman uang 67.Koperasi pekerja
68.Asuransi diluar jam kerja
69.Rekreasi, Olah raga dan kesenian 70.Sarana dan kesempatan beribadah
71.Penghargaan masa kerja dan Pemilihan pekerja teladan 72.Fasilitas transportasi
73.Ulang tahun pekerja dan perusahaan 74.Pembagian saham
75.Distribusi hasil produksi
BAB:TATA TERTIB KERJA
76.Kewajiban umum 77.Larangan – larangan
78.Pelanggaran /kesalahan berat yang dapat dikenakan sanksi PHK 79.Sanksi atas pelanggaran tata tertib kerja
BAB:PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA (PHK)- N
80.Prinsip dasar
81.Perhitungan uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, uang penggantian hak dan uang pisah
82.Pengertian upah dalan perhitungan pesangon 83.Jenis – jenis PHK dan perolehannya.
BAB:PENYELESAIAN KELUH KESAH PEKERJA
84.Prinsip
85.Prosedur penyelesaian keluh kesah
BAB:MOGOK KERJA DAN LOCK OUT - N
86.Mogok Kerja dan Lock out
BAB:KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP
87.Masa Berlaku dan usulan pembaharuan PKB
88.Pendaftaran, pembuatan dan distribusi buku serta sosialisasi PKB 89.Aturan tambahan, aturan peralihan, dan perbedaan penafsiran 90.Biaya dan tempat perundingan
--- o 0 o
---BAGIAN KETIGA: ANALISA KRITIS TERHADAP
PKB YANG ADA
1.PENGANTAR
PKB adalah indikator utama dari keberhasilan Serikat
Pekerja dalam melindungi dan mensejahterakan
anggota.
2.TINJAUAN KONDISI MAYORITAS PKB
DALAM 5 TAHUN TERAKHIR
2.1.SP yang mendapat peningkatan signifikan=10%
2.2.SP yang mendapat peningkatan biasa2 saja=30%
2.3.SP yang tidak mendapat peningkatan=30 %
2.4.SP yang mengalami degradasi nilai=30 %
3.MENGAPA KONDISI ITU TERJADI?
3.1.Kurang adanya strategi
3.2.Kurangnya peran perangkat
3.3.Lemahnya daya runding
3.4.Kurangnya data
3.7.Tidak adanya pelatihan spesialisasi PKB
4.PERLUNYA STRATEGI PEMBUATAN DAN
PEMBAHARUAN
STRATEGI (LANGKAH-LANGKAH ) BER PKB
1. Adakan rapat PUK yang diperluas dengan Komisaris-komisaris untuk : - Menentukan sikap : diperpanjang atau diperbaharui.
- Membentuk tim perumus/tim perunding. 1. Konsultasi dengan perangkat Organisasi.
1. Mencari/mempelajari informasi-informasi tentang PKB. - Peraturan perundangan
- PKB dari perusahaan/sektor sejenis
1. Mengadakan pengamatan tentang perkembangan perusahaan :
- Data produksi
- Data pemasaran
- Pembelian alat-alat baru, dsb. 1. Menggali aspirasi anggota :
- Dengan tatap muka.
- Dengan angket
1. Menyaring aspirasi anggota.
1. Adakan penataran khusus bagi tim perumus/tim perunding.
1. Menyusun konsep PKB dengan bahasa yag ringkas, jelas dan tegas. 1. Menyusun argumentasi permintaan.
1. Mengadakan pendekatan terhadap unsur-unsur manajemen perusahaan. 1. Memilih waktu pengajuan yang tepat.
1. Mengajukan surat permohonan berunding disertai konsep PKB dan konsep tata tertib perundingan.
1. Ketahui karakter tim perunding perusahaan 1. Rundingkan tata tertib perundingan PKB :
- T u j u a n
- Susunan tim
- Masa perundingan, Jadwal perundingan.
- Materi perundingan ; materi yang bersifat normatif tidak perlu dibicarakan dalam perundingan.
- Tempat perundingan
- Dalam perusahaan
- Luar perusahaan
- Tata cara perundingan
- Syahnya perundingan
1. Bersikap tegas tapi luwes serta senantiasa kompak dalam perundingan. 2. Tegaskan sisi positif tuntutan bagi kepentingan pengusaha.
1. Tahu kapan harus berkompromi.
1. Komunikasikan hasil perundingan dengan anggota.
1. Awasi pelaksanaan PKB