B. Teori-Teori Hukum Kontrak (Perspektif Perbandingan) Hukum Kontrak; Studi Perbandingan Antara Kitab
4. Prinsip-prinsip Hukum Kontrak 1 Prinsip Kebebasan Berkontrak
4.3 Prinsip Pacta Sunt Servanda a Menurut KUHPdt.
Prinsip pacta sunt servanda juga sering disebut prinsip daya mengikat kontrak atau kekuatan mengikat dipopulerkan oleh para ahli hukum berdasarkan teori-teori hukum serta doktrin-doktrin, kemudian disebarkan melalui tulisan-tulisan dan atau buku-buku kajian tentang hukum kontrak. Pacta sunt servanda berasal dari bahasa Latin yang berarti perjanjian harus dipertahankan. Peraturan yang
64 Oliver Wendell Holmes Jr., The Common Law, The John Harvard
Library, USA, 2009, hlm. 187-188.
57
perjanjian dan ketentuan utamanya terutama yang dimuat di dalam kontrak harus dipelihara66.
Sudah selayaknya apa yang telah dijanjikan oleh para pihak, dipatuhi pula oleh para pihak yang telah membuat janji-janji tersebut. Dengan demikian para pihak yang berjanji tersebut harus melaksanakan kontrak yang telah disepakati bersamanya itu selayaknya keharusan untuk mentaati Undang-Undang.
J. Satrio menekankan bahwa bentuk keterikatan yang paling penting adalah isinya. Karena isinya mereka tentukan sendiri, maka orang sebenarnya terikat kepada janjinya sendiri, janji yang diberikan kepada pihak lain dalam perjanjian.
Prinsip pacta sunt servanda pada B.W terletak pada Pasal 1338 alinea (1) B.W menentukan bahwa “... berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya”67.
Kata Undang-Undang tidak bisa diartikan secara sempit hanya dengan melihat pengertian gramatikalnya saja melainkan sifat preskriptifnya suatu Undang-Undang, artinya mengikat dan diberlakukan sebagai peraturan.
Menurut Bryan A. Garner, prescript adalah “a rule, law, command, or ordinance. The act of establishing authoritative rules68.
Sifat preskriptif lainya dalam B.W terletak pada Pasal 1339
B.W yang menentukan “suatu perjanjian tidak hanya
mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menrut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau Undang-Undang”69. Pasal ini menentukan bahwa yang
mengikat para kontraktan di dalam kontrak adalah isi
66 Ibid., hlm. 1140.
67 R. Subekti, R Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
Paradnya Paramita, Jakarta, 2007, hlm. 342.
68 Bryan A. Garner, Op. Cit., hlm. 1220.
58
kontrak, kepatutan, kebiasaan, dan Undang-Undang. Mengenai isi kontrak yang berasal dari janji-janji terhadap kata-kata yang diucapkan sendiri kepada pihak lain adalah mengikat. Dengan kata lain, terdapat kesanggupan untuk memenuhi apa yang telah dijanjikan yang kemudian menjadi suatu kewajiban hukum di dalam sistem tukar-menukar janji.
Hal demikian sudah menjadi kodrat “untuk setia terhadap
kata yang diucapkan, oleh karena itu tak lain adalah tuntutan
akal sehat alami”70.
b. Menurut Hukum Kontrak Singapura
Pada bagian ketiga, mengatur tentang janji bertimbal balik atau consideration yang menjadi ciri khas lain dalam hukum kontrak menurut common law system. Dengan adanya janji yang dibalas dengan janji, maka terjadilah janji-janji yang bertimbal balik sehingga kontrak yang dibuat para pihak dapat ditegakan menurut hukum atau enforceable by law. Pasal 8.3.1 mendefinisikan, suatu janji yang terkandung di dalam kesepakatan tidak dapat diberlakukan kecuali bila disertai dengan imbalan atau dalam bentuk dokumen tertulis yang dibuat secara sah. Imbalan adalah sesuatu yang bernilai, yang diminta oleh pihak yang membuat janji dan diberikan oleh pihak yang menerimanya, untuk janji yang akan diberlakukan oleh pihak penerima janji. Dengan demikian, janji terdiri keuntungan yang diterima oleh pihak pembuat janji, atau kerugian bagi pihak penerima janji. Keuntungan atau kerugian ini dapat meliputi janji-janji balik atau tindakan yang telah diselesaikan71.
70 Johannes Ibrahim, Op. Cit., hlm. 16.
71 http://www.singaporelaw.sg/, Op. Cit.
8.3.1. A promise contained in an agreement is not enforceable unless it is supported by consideration or it is made in a written document made under seal. Consideration is something of value (as defined by the law), requested for by the party making the promise (the ‘promisor’) and provided by the party who receives it (the ‘promisee’), in exchange for the promise that the
59
Selanjutnya, diatur juga mengenai ide imbalan dalam suatu kontrak antar para pihak. Pasal 8.3.2 menentukan, ide imbalan yang mendasari ketentuan janji bertimbal balik memiliki arti bahwa harus ada suatu hubungan kausa antara imbalan dan janji itu sendiri. Dengan demikian, imbalan tidak dapat berupa sesuatu yang telah dilakukan sebelum janji dibuat. Akan tetapi, Pengadilan tidak selalu menggunakan pendekatan kronologis secara ketat dalam menganalisa perkaranya.72
Untuk melengkapi ide imbalan yang diharuskan sebagai kausa dalam kontrak, Pasal 8.3.3 mengatur tentang kecukupan, yaitu apakah imbalan yang diberikan mencukupi adalah suatu permasalahan hukum, dan pada umumnya, Pengadilan tidak hanya berfokus pada apakah nilai imbalan sesuai dengan nilai janji. Pelaksanaan, atau janji untuk melaksanakan, suatu tugas publik yang ada yang dikenakan pada pihak penerima janji bukan, tidak lebih, merupakan imbalan yang cukup menurut hukum untuk mendukung janji dari pihak yang memberi janji. Pelaksanaan kewajiban yang sudah ada, yang mana masih terhutang menurut perjanjian kepada pihak pemberi janji, dapat dianggap sebagai imbalan yang mencukupi jika pelaksanaan tersebut memberikan keuntungan yang sesungguhnya dan praktis bagi pihak pemberi janji. Apabila pihak penerima janji melaksanakan atau berjanji melaksanakan kewajiban kontraktual yang
promisee is seeking to enforce. Thus, it could consist of either some benefit received by the promisor, or some detriment to the promisee. This benefit/detriment may consist of a counter promise or a completed act.
72 Ibid.
Reciprocity. 8.3.2 The idea of reciprocity that underlies the requirement for consideration means that there has to be some causal relation between the consideration and the promise itself. Thus, consideration cannot consist of something that was already done before the promise was made. However, the courts do not always adopt a strict chronological approach to the analysis.
60
sudah ada yang terhutang kepada pihak ketiga, maka pihak penerima janji telah memberikan imbalan yang cukup menurut undang-undang untuk mendukung janji yang diberikan sebagai gantinya73.
Pada pasal berikutnya, diatur cukup singkat dan jelas tentang bagaimana mengartikan doktrin Promissory Estoppel, yaitu dalam hal doktrin larangan menyangkal janji berlaku, maka suatu janji menjadi mengikat terlepas apakah janji tersebut disertai dengan imbalan. Doktrin ini berlaku apabila suatu pihak dari kontrak membuat janji yang tegas, baik melalui kata-kata atau tindakan, bahwa ia tidak akan menggunakan hak berdasarkan hukumnya di dalam kontrak, dan pihak lainnya bertindak, dan selanjutnya mengubah posisinya, dengan mengandalkan janji tersebut. Pihak yang membuat janji tidak dapat menggunakan hak berdasarkan hukumnya tersebut jika tindakan tersebut dianggap tidak adil, meskipun hak hukum tersebut dapat dipulihkan kembali setelah pihak pembuat janji memberikan pemberitahuan sewajarnya. Doktrin ini mencegah pember- lakuan hak yang ada, tetapi tidak menimbulkan dasar gugatan baru74.
73 Ibid.
Suffiency 8.3.3. Whether the consideration provided is sufficient is a question of law, and the court is not, as a general rule, concerned with whether the value of the consideration is commensurate with the value of the promise. The performance of, or the promise to perform, an existing public duty imposed on the promisee does not, without more, constitute
sufficient consideration in law to support the promisor’s promise. The
performance of an existing obligation that is owed contractually to the promisor is capable of being sufficient consideration, if such performance confers a real and practical benefit on the promisor. If the promisee performs or promises to perform an existing contractual obligation that is owed to a third party, the promisee will have furnished sufficient consideration at law to support a promise given in exchange.
61
Bagian 4 mengatur tentang niat atau maksud untuk menciptakan hubungan hukum. Niat atau maksud tersebut dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu niat atau maksud secara kontraktual, pengaturan secara komersial, dan pengaturan secara sosial. Pasal 8.4.1 menentukan, apabila tidak ada niat atau maksud berdasarkan kontrak, suatu kesepakatan, meskipun telah disertai dengan imbalan, tidak dapat diberlakukan. Apakah para kontraktan bermaksud untuk membuat hubungan yang mengikat secara hukum di antara mereka merupakan suatu permasalahan yang ditentukan berdasarkan penilaian obyektif atas fakta-fakta terkait yang ada. Selanjutnya Pasal 8.4.2, dalam hal kesepakatan- kesepakatan dalam konteks komersial, Pengadilan pada umumnya lebih dahulu berasumsi bahwa para pihak bermaksud untuk terikat secara hukum. Akan tetapi, asumsi ini menjadi gugur apabila para pihak secara tegas menyatakan maksud yang sebaliknya. Hal ini seringkali dilakukan dengan penggunaan ketentuan penghargaan atau honour clauses, surat kesanggupan, memorandum kesepahaman atau dokumen lain yang serupa, meskipun kesimpulan akhirnya tergantung, tidak pada label yang melekat pada dokumen, tetapi pada penilaian obyektif atas bahasa yang digunakan dan pada semua fakta yang ada. Kemudian Pasal 8.4.3 menentukan, para pihak dalam pengaturan rumah tangga dan sosial lebih dahulu
Promissory Estoppel. 8.3.4 Where the doctrine of promissory estoppel applies, a promise may be binding notwithstanding that it is not supported by consideration. This doctrine applies where a party to a contract makes an unequivocal promise, whether by words or conduct, that he or she will not insist on his or her strict legal rights under the contract, and the other party acts, and thereby alters his or her position, in reliance on the promise. The party making the promise cannot seek to enforce those rights if it would be inequitable to do so, although such rights may be reasserted upon the promisor giving reasonable notice. The doctrine prevents the enforcement of existing rights, but does not create new causes of action.
62
diasumsikan tidak bertujuan untuk menimbulkan konsekuensi hukum75.
Memasuki bagian 5 yang mengatur tentang macam- macam ketentuan pelaksanaan kontrak. Pasal 8.5.1-Pasal 8.5.4 menentukan ketentuan-ketentuan secara tegas, Pasal 8.5.1, hak-hak dan kewajiban-kewajiban para kontraktan ditentukan pertama-tama, dengan memastikan ketentuan- ketentuan kontrak, dan kedua, menafsirkan ketentuan- ketentuan tersebut. Dalam memastikan ketentuan-ketentuan kontrak, kadangkala perlu, terutama apabila kontrak tidak dibuat secara tertulis, untuk memutuskan apakah suatu pernyataan tertentu adalah suatu ketentuan kontraktual atau sekedar pernyataan saja. Apakah suatu pernyataan bersifat kontraktual tergantung pada niat atau maksud dari para pihak, yang dipastikan secara obyektif, dan hal ini merupakan permasalahan fakta. Dalam memastikan niat atau maksud para pihak, Pengadilan akan memperhatikan sejumlah faktor yang meliputi tahapan transaksi di mana pernyataan tersebut dibuat, pentingnya nilai yang dilekatkan oleh pihak penerima pernyataan pada pernyataan tersebut
75 Ibid.
Contractual Intention. 8.4.1 In the absence of contractual intention, an agreement, even if supported by consideration, cannot be enforced. Whether the parties to an agreement intended to create legally binding relations between them is a question determined by an objective assessment of the relevant facts.
Commercial Arrangements. 8.4.2 In the case of agreements in a commercial context, the courts will generally presume that the parties intended to be legally bound. However, the presumption can be displaced where the parties expressly declare the contrary intention. This is often done through the use of honour clauses, letters of intent, memoranda of understanding and other similar devices, although the ultimate conclusion would depend, not on the label attached to the document, but on an objective assessment of the language used and on all the attendant facts. Social Arrangements. 8.4.3 The parties in domestic or social arrangements are generally presumed not to intend legal consequences.
63
dan pengetahuan atau keahlian dari para pihak atas pokok permasalahan dari pernyataan tersebut. Kemudian Pasal 8.5.2 menentukan, setelah ketentuan-ketentuan kontrak dipasti- kan, Pengadilan akan melakukan pengujian obyektif dalam mengartikan atau menafsirkan arti dari ketentuan-ketentuan ini. Oleh karenanya, hal terpenting di dalam penentuan ini bukanlah arti yang dibawa oleh salah satu pihak ke dalam kata-kata yang digunakan, tetapi bagaimana seorang biasa dapat memahami ketentuan-ketentuan itu. Dalam hal ini, Pengadilan Singapura telah secara konsisten menekankan pentingnya matriks faktual dalam pembuatan kontrak oleh karena dapat membantu menentukan bagaimana seorang biasa dapat memahami bahasa dokumen tersebut. Pasal 8.5.3 menentukan, dalam hal para pihak membuat kontrak mereka secara tertulis, maka untuk menentukan apakah suatu pernyataan tertentu, baik lisan maupun tulisan, merupakan bagian dari kontrak yang sebenarnya tergantung pada penerapan aturan bukti parol atau parol evidence.
Di Singapura, aturan common law ini dan pengecualian utamanya telah diundangkan dalam Pasal 93 dan Pasal 94 dari Undang-Undang Pembuktian atau Evidence Act (Cap 97, 1997 Rev. Ed.). Pasal 93 menentukan bahwa apabila
‘ketentuan-ketentuan perjanjian … telah menjadi … bentuk
dokumen …, maka tidak perlu lagi bukti untuk membuktikan
ketentuan-ketentuan perjanjian tersebut … kecuali dokumen
itu sendiri’. Dengan demikian, bukti kesepakatan atau
pernyataan lisan tidak perlu diajukan untuk menentang, mengubah, menambah, atau mengurangi ketentuan- ketentuan kontrak secara tertulis. Akan tetapi, bukti sekunder dapat diterima apabila bukti tersebut termasuk dalam salah satu pengecualian dari aturan umum ini yang dapat ditemukan dalam ketentuan Pasal 94.
Ada beberapa kontroversi yang mempertanyakan apakah Pasal 94 merupakan ketentuan satu-satunya
64
mengenai semua pengecualian terhadap aturan umum ini, atau apakah ada pengecualian menurut common law lainnya yang tidak secara tegas tercantum dalam Pasal 94 yang akan terus berlaku. Dalam Pasal 8.5.4 menambahkan, namun demikian, perlu diperhatikan bahwa lingkup Pasal 93 dan Pasal 94 telah dipersempit oleh Parlemen dalam keadaan- keadaan tertentu76.
76 Ibid.
Express Terms. 8.5.1 The rights and obligations of contracting parties are determined by first, ascertaining the terms of the contract, and secondly, interpreting those terms. In ascertaining the terms of a contract, it is sometimes necessary, especially where the contract has not been reduced to writing, to decide whether a particular statement is a contractual term or a mere representation. Whether a statement is contractual or not depends on the intention of the parties, objectively ascertained, and is a question of fact. In ascertaining the parties’ intention, the courts take into account a number of factors including the stage of the transaction at which the statement was made, the importance which the representee attached to the statement and the relative knowledge or skill of the parties vis-à-vis the subject matter of the statement.
8.5.2 Once the terms of a contract have been determined, the court applies an objective test in construing or interpreting the meaning of these terms. What is significant in this determination therefore is not the sense attributed by either party to the words used, but how a reasonable person would understand those terms. In this regard, Singapore courts have consistently emphasised the importance of the factual matrix within which the contract was made, as this would assist in determining how a reasonable man would have understood the language of the document. 8.5.3 Where the parties have reduced their agreement into writing, whether a particular statement (oral or written) forms part of the actual contract depends on the application of the parol evidence rule. In Singapore, this common law rule and its main exceptions are codified in s 93 and s 94 of the Evidence Act (Cap 97, 1997 Rev Ed). Section 93 provides that where ‘the terms of a contract…have been reduced …to the form of a document…, no evidence shall be given in proof of the terms of such contract …except
the document itself’. Thus, no evidence of any oral agreement or statement
may be admitted in evidence to contradict, vary, add to, or subtract from the terms of the written contract. However, secondary evidence is admissible if it falls within one of the exceptions to this general rule found in the proviso to s 94.Some controversy remains as to whether s 94 is an
65
Selanjutnya pada Pasal 8.5.9 dan Pasal 8.5.10 mengatur tentang klasifikasi terhadap ketentuan-ketentuan, yaitu 8.5.9: ketentuan-ketentuan kontrak dapat diklasifikasikan menjadi syarat-syarat, jaminan-jaminan atau ketentuan-ketentuan yang bukan syarat ataupun jaminan (intermediate atau innominate). Klasifikasi ketentuan- ketentuan yang dilakukan secara baik ialah penting untuk menentukan apakah kontrak dapat dibebaskan atau diakhiri karena adanya pelanggaran.
Pasal 8.5.10 menentukan, para kontraktan dapat secara tegas mengatur di dalam kontrak bagaimana suatu ketentuan tertentu akan diklasifikasikan. Akan tetapi, hal ini tidak bersifat tetap kecuali apabila para pihak ternyata mempunyai arti teknis khusus untuk kata-kata yang digunakan untuk menetapkan klasifikasi suatu ketentuan. Apabila tidak ada pengaturan secara tegas, Pengadilan akan melihat bahasa perjanjian secara obyektif untuk menentukan bagaimana, dengan memperhatikan keadaan-keadaan sekelilingnya, para pihak menginginkan suatu ketentuan tertentu diartikan. Ada juga contoh-contoh dimana Undang- Undang mengatur apakah ketentuan-ketentuan jenis tertentu harus dianggap sebagai syarat-syarat atau jaminan-jaminan, apabila tidak ada penentuan secara khusus oleh para kontraktan77.
exhaustive statement of all exceptions to the rule, or whether other common law exceptions not explicitly covered in s 94 continue to be applicable. 8.5.4 It should, however, be noted that the scope of s 93 and s 94 has been circumscribed by Parliament in certain circumstances.
77 Ibid.
Classification of Terms. 8.5.9 The terms of a contract may be classified into conditions, warranties or intermediate (or innominate) terms. Proper classification is important as it determines whether the contract may be discharged or terminated for breach [as to which see Paragraphs 8.8.11 to 8.8.12 below].
66
Selanjutnya Pasal 8.5.11 mengatur tentang klasula- klausula pengecualian yang menentukan, klausula pengecualian yang berupaya mengesampingkan atau membatasi tanggung jawab para kontraktan pada umumnya, tetapi tidak secara eksklusif, ditemukan di dalam format kontrak standar. Hukum Singapura yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tersebut pada intinya berlandaskan pada hukum Inggris. Undang-Undang Ketentuan-Ketentuan Kontrak yang Tidak Wajar Inggris atau English Unfair Contract Terms Act 1977, yang membatalkan ketentuan pengecualian atau membatasi keberlakuan ketentuan tersebut dengan menerapkan ketentuan kewajaran, telah diberlakukan kembali di Singapura menjadi Undang-Undang Ketentuan- Ketentuan Kontrak yang Tidak Wajar atau Unfair Contract Terms Act (as Cap 396, 1994 Rev Ed)78.
Bagian 6 mengatur ketentuan-ketentuan tentang kecakapan para pihak untuk mengadakan kontrak, yaitu terhadap anak di bawah umur, gangguan jiwa (tidak cakap secara mental) dan pemabuk, dan perusahaan. Pasal 8.6.1
8.5.10 The parties may expressly stipulate in the contract how a particular term is to be classed. This is not, however, conclusive unless the parties are found to have intended the technical meaning of the classifying words used. In the absence of express stipulation, the courts will look objectively at the language of the contract to determine how, in light of the surrounding circumstances, the parties intended a particular term to be classed. There are also instances where statutes may stipulate whether certain kinds of terms are to be treated as conditions or warranties, in the absence of any specific designation by the contracting parties.
78 Ibid.
Exception Clauses. 8.5.11 Exception clauses that seek to exclude or limit a contracting party’s liability are commonly, but not exclusively, found in standard form agreements. The law in Singapore relating to such clauses is essentially based on English law. The English Unfair Contract Terms Act 1977, which either invalidates an exception clause or limits the efficacy of such terms by imposing a requirement of reasonableness, has been re- enacted in Singapore as the Unfair Contract Terms Act (as Cap 396, 1994 Rev Ed).
67
menentukan, berdasarkan sistem common law Singapura, anak di bawah umur adalah orang yang berusia di bawah 21 tahun. Keberlakuan kontrak yang diadakan dengan anak di bawah umur diatur oleh common law, sebagaimana diubah oleh Undang-Undang Perjanjian Anak Di Bawah Umur atau
Minors’ Contract Act (Cap 389, 1994 Rev. Ed.). Selanjutnya Pasal 8.6.2, sebagai aturan umum, kontrak tidak dapat diberlakukan terhadap anak di bawah umur. Akan tetapi, apabila seorang anak di bawah umur telah diberikan barang dan atau jasa kebutuhan, seperti barang atau jasa yang sesuai untuk memelihara kehidupan anak di bawah umur tersebut, maka anak di bawah umur tersebut harus membayarnya. Kontrak pemberian jasa yang secara keseluruhan untuk kepentingan anak di bawah umur juga berlaku sah. Anak di bawah umur juga terikat dengan beberapa jenis kontrak, seperti kontrak berkenaan dengan tanah atau saham di perusahaan, perjanjian kemitraan dan penyelesaian perkawi- nan, kecuali apabila anak di bawah umur tersebut menolak kontrak sebelum menjadi dewasa pada umur 21 tahun atau dalam waktu sewajarnya setelah itu79.
79 Ibid.
Minors. 8.6.1Under Singapore common law, a minor is a person under the