• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip-Prinsip dalam Kepailitan Lintas Batas

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 40-68)

Dalam hal kasus kepailitan yang dialami oleh pelaku usaha yang melibatkan pelaku usaha warga negara asing atau badan hukum asing (ada unsur asingnya), maka ada dua (2) prinsip yang harus diperhatikan:75

a. Prinsip Territorial

Prinsip ini yang membatasi putusan pengadilan suatu negara dalam kepailitan lintas batas. Menurut prinsip ini, harta yang dapat dieksekusi atas putusan suatu negara hanya berlaku terhadap aset yang berada di negara putusan itu dikeluarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Paul J Omar yang mengatakan bahwa

“ Territorialy drives from the doctrine of state soverignity, the notion that the autority of one system including its insolvency law and procceding, should be confine to territory of the state”76

74 Ibid. hal 30

75 Op.cit. hal. 34

76Paul Omar. 2008. Insolvency law themes and perspective, Ashgate publhising Company, Burlington. hal 45

52 b. Prinsip Universalitas

Prinsip yang menganggap bahwa putusan suatu pengadilan di negara tertentu berlaku untuk semua negara. Prinsip ini lebih mengutamakan kepentingan antara pihak dalam kepailitan lintas batas, apabila suatu debitur dinyatakan pailit, maka putusan pengadilan yang memutus akan berlaku dimanapun harta debitur berada.77

“Universality is achieved when a single estate consisting of all the debtors assets, whereever located, is adminitered by a single trustee appointed by the authoriyies in the adjudicating country, one bankruptcy court marshals all of the debtors assets in its jurisdiction gives international effect to a local bankruptcy adjudication”

Beberapa negara telah menerapkan sebuah sistem dimana putusan dari pengadilan negara tertetu berlaku secara universal, dan beberapa negara juga menerapkan bahwa putusan pengadilan suatu negara hanya berlaku di wilayah teritorialnya saja. Negara yang menganut prinsip universalitas ini adalah Jerman dan Swiss.

Sedangkan menurut hukum perdata internasional Belanda, keputusan kepailitan memakai prinsip territorialitas. Bahwa putusan pengadilan luar negara tidak berlaku pula di dalam negeri. Begitu pun Indonesia menerapkan asas territorialitas, Indonesia tidak mengakui putusan pengadilan asing dan juga sebaliknya, putusan pengadilan Indonesia hanya berlaku diwilayah Indonesia sendiri. Apabila suatu negara yang menganut prinsip ini , maka apabila terjadi kepailitan maka dapat juga dinyatakan pailit di negara lain dan semua aset debitur yang berada di luar teritorial pengadilan dapat di eksekusi.

77 Paul Omar. Ibid. hal 46

53 5. Kepailitan Lintas Batas (Cross-Border Insolvency) Dalam Instrumen

Hukum Indonesia

Pengarturan tentang kepailitan lintas batas pada hukum Indonesia dan konsekuensi-konsekuensinya sangat lah terbatas. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUK-PKPU) tidak mengatur secara rinci mengenai kepailitan lintas batas. Pada UUK-PKPU hanya ada tiga (3) pasal yang menjelaskan tentang kepailitan lintas batas. Pasal dalam Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang hanya mengatur bagaimana pelaksanaan kepailitan atas benda-benda debitur atau harta debitur yang berada diluar negeri ( di luar teritorial Indonesia), tetapi mengenai adanya unsur asing lain seperti kreditur asing, debitur asing yang seharusnya diatur di dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 justru tidak diatur sama sekali.

Padahal salah satu unsur dalam kepailitan lintas batas yaitu adanya debitur asing atau kreditur asing dimana kreditur berhak atas perlindungan atas hak nya untuk mendapat pelunasan utang sesuai dengan perundang-undangan.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bahwa posisi debitur dan kreditur asing diperlakukan sama kedudukannya dengan kreditur atau debitur lokal. Tidak ada perlakukan khusus terhadap kreditur ataupun debitur asing sebagai subyek hukum dalam kepailitan lintas batas di Indonesia.78

Namun, walapun demikian, pengaturan mengenai kepailitan lintas batas tidak hanya terfokus atas pengaturan tentang Kepailitan dan PKPU saja, harus juga memperhatikan pengaturan tentang Hukum Perdata Internasionalnya juga. Oleh sebab itu, apabila terjadi kepailitan lintas batas

78 Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, UMM Press: Edisi Revisi,Malang, 2008, hal 353

54 Indonesia, tidak hanya terfokus atas UUK-PKPU saja, harus diperhatikan juga pengaturan nasional mengenai unsur asing. Hukum perdata Internasional yang dapat dijadikan acuan ketika terjadi kepailitan lintas batas yaitu: Rv, HIR, BW, WvK.

Dalam penyelesaian sengketa kepailitan lintas batas di Indonesia harus melalui alur yaitu penentuan yuridiksi agar dapat menetunkan . Setelah lembaga ditentukan, maka akan ditentukan hukum lembaga yang memiliki kewenangan untuk menyelesaikan perkara kepailitan lintas batas. Alur terakhir adalah setelah adanya putusan pailit oleh pengadilan, akan menimbulkan masalah terhadap pengakuan maupun pelaksanaan atas putusan yang telah diajukan . Pengakuan maupun pelaksanaan putusan pailit berkaitan dengan tempat letaknya harta termohon ( debitur ) yang akan dieksekusi.

Permasalahan yang paling sering timbul ketika terjadi kepailitan lintas batas adalah masalah pengadilan yang digunakan untuk menyelesaikan.

Dengan adanya perbedaan domisili antara kreditur dan debitur maka akan menimbulkan perselisihan tentang sistem hukum yang akan digunakan dalam penyelesaian. Untuk menentukan yusridiksi yang berhakk untuk menyelesaikan kepailitan lintas batas maka harus diperhatikan juga peraturan yang berkaitan dengan perdata internasional.

Berdasarkan ketentuan didalam HIR tentang kompetensi suatu pengadilan, maka pengadilan yang memiliki kewenangan untuk menerima, melakukan pemriksaan, dan memutus suatu perkara adalah pengadilan yang berdomisili sama dengan tempat tergugat berada (actor sequitur forum rei).

Hal tersebut berdasarkan prinsip:

1. The basic of presence, yurdiksi suatu negara dapat diakui selama hal tersebut meliputi semua orang dan benda secara teritorial berada dalam batas wilayah.

2. Principle of effectivnes, Hakim hanya akan mengeluarkan putusan yang dimungkin dapat dilaksanakan dikemudian hari.

55 Sehingga permohonan pengajuan gugatan harus diajukan di pengadilan yang berdomisili sama dengan tergugat dan hartanya berada.

Sedangkan, pada pasal 3 AB menyatakan bahwa tidak ada perbedan antara asing maupun lokal dalam hukum perdata maupun dagang, kecuali apabila Undang-Undang mengatur hal tersebut secara jelas. Pada pasal 100 Rv ( Regliment of de Burgelijke Rechtsvordering) menyatakan bahwa orang asing yang bukan penduduk Indonesia dan yang tidak mempunya tempat tinggal di Indonesia dapat diajukan gugatan di pengadilan Indonesia terhadap perikatan dagang di Indonesia dan berhubungan dengan warga negara Indonesia79. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa orang asing sekalipun dapat mengajukan gugatan di pengadilan Indonesia apabila berhubungan dengan perikatan dagang Indonesia dan berhubungan dengan warga negara Indonesia.

Namun, dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 hal tersebut tidak diatur secara jelas mengenai pemberlakuan syarat formil atas kepailitas yang didalamnya terdapat unsur asing/ pihak asing. Permohonan atas kepailitan terhadap kreditur asing sama posisinya dengan permohonan kepailitan atas kreditur lokal.

Dalam kondisi seorang kreditur asing yang akan mengajukan permohonan pailit di Indonesia, kreditur asing tersebut dapat menunjuk advokat Indonesia sebagai kuasa hukumnya untuk mengajukan permohonan. Setelah itu, kuasa kreditur harus mendapat legislasi dari kedutaan Indonesia di negara asal kedua pihak. Dengan demikian, kuasa hukum kreditur baru dapat mewakili semua kepentingan kreditur asing tersebut di muka pengadilan niaga Indonesia.

79 RV, Pasal 100

56 Undang-Undang nomor 37 Tahun 2004 hanya memberikan pengaturan mengenai kompetensi suatu pengadilan untuk mengadili suatu gugatan kepailitan sebagai berikut:80

1. Putusan atas permohonan pailit yang diajukan atau segala hal yang berkaitan dengan kepailitan yang diatur dalam Undang-undang, yang diputuskan oleh pengadilan yang berkedudukan di wilayah debitur berada.

2. Apabila debitur telah meninggal dunia di wilayah Negara Republik Indonesia, pengadilan yang berwenang mengadili dan memutus adalah pengadilan yang daerah hukumnya terletak diwilayah debitur.

3. Dalam hal pemohon pailit adalah sebuah perseroan atau lembaga, pengadilan yang berkedudukan di wilayah hukum badan tersebut.

4. Dalam hal debitur berada di luar wilayah Indonesia, namun menjalankan usaha di Indonesia, maka pengadilan yang berwenang adalah pengadilan sama kedudukannya diwilayah kantor pusat badan/lembaga tersebut berada.

Dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan hukum, maka dapat disimpulkan bahwa :

a. Debitur lokal

Apabila debitur berada diwilayah Indonesia dan kreditur berada di luar yuridiksi Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, maka pengadilan Indonesia berhak mengadili permohonan tersebut. Pasal 3 AB, PASAL 118 HIR dan pasal 3 UUK-PKPU mengamanatkan demikian.

80 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

57 b. Debitur asing

Ketika debitur berada di luar yuridiksi Indonesia dan kreditur berada di wilayah Indonesia, berdasarkan UUK-PKPU Pasal 3 ayat 4, pasal 118 HIR, pasal 3 AB dan pasal 100 Rv mengatakan bahwa yang berhak mengadili permohonan pailit tersebut adalah pengadilan Indonesia. Ketentuan pasal 100 Rv juga menyebutkan bahwa pengadilan Indonesia juag berhak mengadila perkara yang dimana debitur asing berada di luar teritorial Indonesia. Namun, dengan adanya prinsip “ the basis of presence and the principle of effectiveness”, maka dapat diajukan permohonan pailit diwilayah debitur berada ( di luar negeri).

Berdasarkan ketentuan-ketentuan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yuridiksi yang mempunyai kewenangan untuk mengadili suatu perkara adalah pengadilan yang berkedudukan diwilayah debitur berada kecuali debitur meninggalkan wilayah Indonesia. Permasalahan yuridiksi yang mempunyai kewenangan untuk mengadili suatu perkara kepailitan lintas batas adalah yuridiksi dari termohon berada serta benda-benda termohon berada.

c. Pengakuan dan Pelaksanaan Suatu Putusan Pailit (recognition and enforcement ).

Permasalahan yang sering terjadi dalam perkara kepailitan lintas batas adalah pengakuan suatu putusan dan pelaksanaan putusan tersebut. Menyangkut pengakuan dan pelaksanaan putusan dalam yuridiksi ang berbeda memiliki hubungan terhadap sifat suatu putusan. Dalam suatu putusan terdapat dua sifat yakni: Putusan yang bersifat constitutive yaitu putusan yang dapat meniadakan atau menciptakan suatu hukum dan putusan yang bersifat declatoir yaitu putusan yang bersifat

58 memerangkan atau menjelaskan suatu keadaan hukum.

Putusan pailit sendiri tergolong putusan yang bersifat constitutive karena putusan yang dikeluarkan pengadilan mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

1. Bahwa putusan pailit menimbulkan keadaan hukum yang baru pada saat putusan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

2. Bahwa keadaan pailit terjadi pada saat putusan dibacakan tanpa adanya paksaan terlebih dahulu.

3. Bahwa putusan suatu pailit membutuhkan bantuan pihak lawan karena putusan tidak menerapkan hak terhadap pihak pemohon.

d. Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Asing di Indonesia Berdasarkan asas territorisl yang dianut Indonesia, maka terdapat larangan atas pelaksanaan putusan dari pengadilan asing di wilayah Indonesia karena adanya anggapan bahwa hal tersebut sebagai suatu pelanggaran atas kedaulatan Indonesia di wilayah teritorialnya. Namun, walapun demikian, putusan hakim asing yang tidak dimintakan eksekusi terhadap harta benda yang berada di wilayah Indonesia dapat diakui sepanjang peradilan yang memutus memang memiliki wewenang untuk mengadili perkara kepailitan tersebut. Keputusan semaca ini hanya akan menciptakan hak dan kewajiban dari orang yang bersangkutan dalam hubungan hukum tertentu, maka oleh karenanya mudah diakui oleh hakim luar negeri karena tidak memerlukan pelaksanaanya.

Dalam hukum kepailitan Indonesia, apabila status pailit deberikan kepada debitur Indonesia maka seluruh aset

59 debitur berstatus sebagai siat umum.81 Sedangkan, apabila debitur asing dinyatakan pailit, maka aset teritorial hanya akan dibatasi sampai di luar wilayah hukum Indonesia atau dengan kata lain tidak dapat dilakukan pelaksanaan diwililayah Indonesia. Keadaan demikian lah yang menjadi permasalahan, pelaksanaan putusan tidak dapat dilakukan di Indonesia sedangkan harta debitur berada di wilayah Indonesia. Apabila putusan asing terhadap debitur yang memiliki aset di Indonesia, maka aset tersebut tidak berada pada status sita umum.

Tidak dapatnya dan tidak diakuinya putusan asing di Indonesia dikarena tidak adanya aturan perundang-undangan di Indonesia yang menyatakan bahwa suatu putusan asing dapat diakui dan dilaksanakan di Indonesia.

UUK-PKPU pun tidak mengatur hal demikian. Selain itu, Indonesia tidak memiliki perjanjian bilateral kepada negara lain dibidang kepailitan.

Pada pasal 264 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyatakan bahwa Pengadilan Niaga Indonesia tidak boleh mengeksekusi putusan asing dikarenakan pada pasal tersebut memberlakukan hukum acara perdata dimana berpedoman.82 Hal ini juga sejalan dengan bunyi pasal 436 Rv yang menyatakan bahwa putusan pengadilan asing tidak dapat diakui dan tidak dapat dieksekusi oleh pengadilan putusan pengadilan asing83.

81 Pasal 21 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

82 Pasal 264 Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

83 Pasal 436 Rv

60 Dengan demikian, penulis dapat menyimpulkan bahwasanya putusan asing sama sekali tidak dapat dieksekusi di Indonesia walapun diajukan kembali permohonan pailit di pengadilan Indonesia melalui perwakilan negara yang bersangkutan. Mengingat dalam pasal 264 UUK-PKPU dan 436 Rv secara tegas mengatakan bahwa putusan asing tidak dapat dieksekusi menyangkut kedaulatan negara Indoensia.

e. Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Indonesia di Negara Lain

Pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan Indonesia tergantung pada sisteem HPI yang dianut oleh negara tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan putusan asing di Indonesia yang memang tidak dapat dilaksanakan sama sekali. Putusan Indonesia masih dapat dilaksanakan di negara tertentu tergantung sistem HPI yang dianut negara tersebut. Pada umumnya, baik negara yang menganut sistem hukum civil law maupun negara yang menganut sistem hukum common law, kebanyakan tidak memperkenankan pelaksanaan putusannya dengan alasan kedaulatan negara atas wilayahnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Paul J. Omar yang mengatakan “ The traditional common law doctrine is that a foreign order, althought creating an obligation that the actionable within the jurisdiction, can not be enforced without the institution of fresh legal proceedings”. 84

Selain itu, hal ini berkaitan dengan konsep kedaulatan negara , bahwa negara memiliki kedaulatan untuk tidak mengakui institusi tertentu, kecuali negara tersebut secara sukarela tunduk pada institusi tersebut.

84 Sidarta Gautama,op.cit. hal 2

61 Suatu negara hanya akan mengakui dan melaksanakan putusan asing di wilayahnya yang menyangkut hal-hal sebagai berikut:

1. Apabila putusan tersebut mempunya kekuatan dan diakui secara standart-standart Internasional.

2. Apabila terlaksannya suatu sidang yang adil

3. Apabila putusan suatu negara tersebut tidak melanggar kepentingan umum.

Dalam pasal 21 UUK-PKPU menyatakan bahwa harta pailit seorang debitur meliputi seluruh kekayaan debitur pada saat pengadilan memutuskan suatu perusahaan pailit.

Harta debitur dalam pasal ini meliputi seluruh harta baik yang ada di dalam negeri maupun yang berada di luar negeri. Dengan kata lain bahwa putusan pailit Indonesia sebenarnya menganut asas universalitas. Pada prinsipnya, saat putusan pailit sudah dibacakan oleh pengadilan di muka umum, ada kewajiban bagi kurator yang ditunjuk pengadilan mengurus seluruh harta pailit debitur baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri.

Namun, pasal ini tidak dapat menjadi dasar hukum yang kuat bagi para kurator ketika ingin melaksanakan tugasnya. Pasal ini bertentangan dengan asas soverignity yang menyatakankan bahwasanya tiap negara mempunyai kedaulatan yang berbeda dan tidak dapat ditebus oleh negara lain. Asas inilah yang menjadi kendala oleh perwakilan pengadilan suatu negara yang akan melaksanakan eksekusi atas harta debitur yang berada di luar yuridiksi negaranya.

62 6. Kepailitan Lintas Batas (Cross-Border Insolvency) Dalam Instrumen

Hukum Internasional

a. Convention Abolishing the Requirment of Legalization for Foreign Public Documents (1961)85

Konvensi ini terbentuk pada tahun 1961 di Den Haag (Belanda).

Konvensi ini mengatur tentang syarat legalisasi atas dokumen-dokumen asing. Adapun tujuan dibentuknya konvensi ini adalah untuk menghapus syarat-syarat legalisasi terhadap dokumen-dokumen asing yang dibuat di luar negeri untuk dipergunakan atas suatu perkara yang sedang berlangsung di negara lain. Namun, sampai saat ini, Indonesia belum meratifikasi konvensi tersebut, padahal banyak keuntungan apabila Indonesia meratifikasinya. Dengan meratifikasi konvensi ini, Indonesia akan dipermudah dalam hal prosedur perkara yang enyangkut pembuktian dokuen-dokumen di luar negeri.

Kesulitan kerap terjadi ketika terjadi sengketa hukum yang melintasi batas yuridiksi suatu negara. Salah satu kesulitannya adalah pada saat pengurusan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam penyelesaian.

Pasal 1 dalam Konvensi Den Haag yang merumuskan tetang “public documents” ini menyatakan bahwa:

1. Dokumen yang berasal dari suatu instansi atau pejabat yang mempunyai hubungan dengan pengadilan-pengadilan dari suatu negara.

2. Dokumen administratif

3. Dokumen berupa Akta-Akta Notaris

85 Arindra Maharany, Skripsi: “ Tinjauan Hukum Terhadap Penerapan Instrumen Hukum Internasional Dalam Pengaturan Kepailitan Lintas Batas di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang”, Jakarta: Universitas Indonesia, 2001, hal 65

63 4. Sertifikat-Sertifikat resmi yang ditempelkan atau ditandatangani oleh seseorang yang memiliki kapasitas secara pribadi.86

Pengurusan dokumen-dokumen tertentu yang menjadi permasalahan yang sering terjadi ketika terjadi kepailitan lintas batas pada negara tertentu. Salah satu contohnya adalah surat kuasa, pemohon pailit yang dimana krediturnya berada di negara lain memerlukan surat kuasa khusus kepada advokat untuk mengajukan perohonannya ke pengadilan niaga. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pada pasal 7 ayat (1) UUK-PKPU mengatur bahwa kreditur harus memberikan surat kuasa khusus kepada advokat yang ditandatangani oleh notaris sebagai bukti otentik, kemudian dilegalisasi oleh departemen kehakiman di negara asalnya. Kemudian surat kuasa ini diberikan kepada Departemen Luar negeri untuk selanjutnya diterukan kepada Keduataan Republik Indonesia di negara asal kreditur berada.

Persyaratan ini juga berlaku untuk dokumen-dokumen lainnya yang hendak digunakan sebagai bukti otentik dalam persidangan perkara di pengadilan.87 Akan tetapi kuasa khusus dalam konvensi ini tidak berlaku pada perkara kepailitan lintas batas yang diajukan oleh BI, Kejaksaan, Badan Pengawas Penanaman Modal, dan juga Menteri Keuangan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan urutan pengurusan legalisasi dokumen-dokumen asing, pengurusan dokumen oleh kreditur asing tidaklah mudah dan murah. Dengan meratifikasi konvensi ini maka untuk melegalisasi suatu dokumen asing cukup hanya menempelkan sertifikat atau slip kertas yang ditempelkan

86 Pasal 1 The Haque Convention on Abolishing the Requirements of Legalization for Foreign Public Documents 1961,http://www.hcch.net/en/publications-and-studies/, akses 20 Maret 2020

87 Pasal 7 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

64 didokumen atau bisa juga dengan distempel ( apostille ) di dokumen tersebut. Oleh karena itu, negara-negara anggota konvensi ini dipermudah apabila ingin membuat dokumen untuk perkara-perkara internasional sesuai dengan isi pasal 3 dan 4 konvensi ini.88

b. Convetion on the Taking Evidence Abroad in Civil or Commercial Matters (1970)

Konvensi ini mengatur mengenai pengambilan bukti-bukti di luar negeri dalam perkara perdata dan dagang. Konvensi ini bertujuan untuk mempermudah proses perpindahan dan pelaksanaan keputusan berdasarkan surat permintaan (Letters of Request), serta penyesuai terhadap metode-metode yang berupa perbedaan hukum antara negara-negara anggota konvensi. Sehingga, negara-negara-negara-negara anggota konvensi ini dapat mengambil data-data untuk keperluan perkara perdata dan dagang di negara-negara anggota konvensi. Hal inilah yang mempermudah antara anggota konvensi dalam melakukan pembuktian di persidangan. Konvensi ini menjamin pengambilan dokumen-dokumen tanpa harus adanya pelaksanaan oleh diplomatik negara tempat dokumen berada. Sehingga dengan meratifikasi konvensi ini, suatu negara dimudahkan mengambil dokumen yang dibutuhkan ketika terjadi perkara perdata maupun dagang.89

c. Convetion on the Recognition and Enforcement of Foreign Judgments in Civil and Commercial Matters (1971) and The Supplementary Protocol of 1 February 19 to The Haque Convention on Recognition and Enforcement of Foreign Judgments in Civil and Commercial Matters90

Konvensi ini mengatur mengenai pengakuan dan pelaksanaan putusan-putusan Hakim Asing dalam perkara perdata dan dagang

88 Ibid. Pasal 7

89 Arindra Maharany. Ibid. hal68

90 Arindra Maharany. Op.cit. hal 69

65 disertai protokol tambahan yang juga menegaskan tentang masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan asing serta yuridiksi berlakunya konvensi ini. Negara yang meratifikasi konvensi ini, setiap negara akan mendapat kemudahan dalam pengakuan dan pelaksanaan yang termasuk perkara perdata dan dagang di negara-negara anggota konvensi.

Namun, tidak semua putusan dapat diakui dan dilaksanakan oleh anggota-anggota konvensi. Ada beberapa putusan yang tidak dapat diakui dan dilaksanakan dalam konvensi ini yang berkaitan dengan:91

1. Status atau kewenangan orang-orang yang termasuk dalam hukum kekeluargaan yang didalamnya termasuk hak dan kewajiban pribadi atau keuangan diantara orang tua dan anak-anak maupun antara suami dan istri;

2. Soal penciptana atau kelanjutan badan-badan hukum serta kewenangan dari pejabat-pejabatnya;

3. Kewajiban-kewajiban alimentasi yang tidak termasuk dalam angka

4. Soal-soal warisan

5. Soal-soal kepailitan , perdamaian atau hal yang serupa;

6. Soal Jamina sosial;

7. Persoalan-persoalan mengenai kerugian atau ganti rugi yang berkaitan dengan nuklir;

Dari pengecualian diatas, dapat disimpulkan bahwa konvensi ini tidak mengakui putusan dari negara-negara anggota konvensi yang berkaitan dengan kepailitan. Putusan kepailitan tidak dapat diakui dan dilaksakan secara langsung oleh anggota-anggota konvensi. Konvensi ini tetap menerapkan asas territorial atas perkara kepailitan

91 Convetion on the Recognition and Enforcement of Foreign Judgments in Civil and Commercial Matters (1971) and The Supplementary Protocol of 1 February 19 to The Haque Convention on

91 Convetion on the Recognition and Enforcement of Foreign Judgments in Civil and Commercial Matters (1971) and The Supplementary Protocol of 1 February 19 to The Haque Convention on

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 40-68)

Dokumen terkait