• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Ketentuan Umum Kepailitan 1. Pengertian Kepailitan

Istilah Faillite dalam bahasa Prancis mempunyai arti suatu kemacetan atau kemogokan dalam melakukan pembayaran. Sedangkan orang yang mogok atau berhenti untuk membayar disebut sebagai Le failli. Dalam bahasa Belanda digunakan istilah faillite yang memiliki arti ganda yaitu kata benda dan kata sifat. Dalam bahasa inggris digunakan istilah to fail, dan dalam bahasa Latin menggunakan istilah failure. Beberapa Negara yang menggunakan bahasa inggris, pengertian pailit dan kepailitan menggunakan istilah “bankrupt” dan “bankruptcy”. Perusahaan-Perusahaan (debitur) yang tidak mampu bayar disebut dengan insolvency. Istilah kepailitan yang digunakan di Indonesia saat ini merupakan terjemahan dari bahasa Belanda (failissement). Sistem hukum Common Law, istilah pailit dikenal dengan istilah “ bankruptcy”.11

Sedangkan menurut Black’s Law Dictionary, pailit atau bankrupt adalah ”the state or condition of a person (individual, partnership, corporation, municipality) who is unable to pay its debt as they are, or become due”. The term includes a person against whom an voluntary petition has been filed, or who has been adjudged a bankrupt.12 Berdasaran pengertian pailit diatas,dapat disimpulkan bahwa pengertian pailit menurut Black’s Law Dictionary merupakan suatu “keadaan tidak mampu membayar” hutang- hutangnya yang telah jatuh tempo oleh seorang debitur/badan hukum.

Ketidakmampuan tersebut harus disertai dengan suatu tindakan nyata untuk mengajukan pailit kepada pengadilan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitor sendiri maupun permintaan pihak ketiga (diluar debitur). Tujuan

11Jono, Hukum Kepailitan. Cetakan Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hal.1.

12Blanck Law Dictionary, http://www.heimatundrecht.de/sites/default/files/dokumente/Black, Akses 20 Maret 2020

(2)

13 dari permohonan pailit yang diajukan debitur kepada pengadilan adalah untuk memenuhan asas “publisitas” dari keadaan tidak mampu membayar dari seorang/badan hukum.13

Jerry Hoff menggambarkan Kepailitan sebagai:

“ Bankruptcy a general statutory attacment encompass-ing all the assets of debtor. The Bankruptcy only covers the aset. The personal status of an individual will not be affectedby the bankruptcy, he is not placed under guardianship. A companyalso continues to exist after he declaration of bankruptcy. During the bankruptcy proceeding, act with regard to the bankruptcy estate can only be performedby the receiver, but other acts remain part of the domain of the debtors corporate organs”.14

Kalangan umum sering kali salah mengartikan terminologi Kepailitan.

Sering kali mereka mengartikan Kepailitan sebagai bentuk cacat hukum berbentuk kriminalisasi dan vonis terhadap subyek hukum, kerna itu sebisa mungkin Kepailitan harus dijatuhkan dan dihindari. Padahal, Kepailitan merupakan langkah komersil yang dianjurkan kepada debitur agar bisa keluar dari himpitan hutang-hutangnya kepada kreditur.15 Apabila debitur menyadari ketidakmampuannya membayar hutang kepada kreditur, debitur dapat mengambil langkah pengajuan Pailit terhadap dirinya sendiri (Voluntary petetion to self bankruptcy) kepada Pengadilan Negeri.

Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayara Utang tidak memberikan secara jelas pengertian pailit. Namun, dari rumusan pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dinyatakan bahwa :

“Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh

13Ahmad Yani, Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis: Kepailitan, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal.12.

14 Ibid. hal 13

15 Munir Fuady, Hukum Pailit dalam Teori dan Praktek, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 2014, hal 7

(3)

14 Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini”.

Untuk memperoleh gamabaran yang lebih komprehensif tentang kepailitan, maka Penulis mengutip beberapa pengertian kepailitan atau pailit menurut para ahli, antara lain sebagai berikut :

a. Kartono :

“Kepailitan adalah suatu sitaan dan eksekusi atas seluruh harta kekayaan semua kreditur -krediturnya bersama-sama yang pada waktu si debitur dinyatakan pailit mempunyai piutang dan untuk jumlah yang masing-masing kreditur dimiliki pada saat itu”.16 b. E.Suherman :

“Pada hakikatnya kepailitan adalah sita umum yang bersifat konservatoir dan pihak yang dinyatakan pailit hilang penguasaannya atas harta bendanya”.17

c. H. M. N. Puwosutjipto :

“Kepailitan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa pailit. Pailit adalah keadaan berhenti membayar (utang- utangnya)”.18

d. R. Subekti :

“Kepailitan adalah suatu usaha bersama untuk mendapatkan pembayaran bagi semua orang yang berpiutang secara adil”.19 Berdasarkan pengertian kepailitan dari para ahli diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian kepailitan secara esensi adalah sita umum. Sita umum atas seluruh aset debitur baik yang sudah ada selama proses kepailitan maupun yang diperoleh selama proses kepailitan

16Kartono, Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran, Pradnya Paramita, Jakarta, 2000, hal.7.

17 E.Suherman, Failissement, Bina Cipta, Jakarta, 1997, hal.5.

18 H.M.N.Purwosutjipto, Pengertian dan Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, Jakarta, 2004, hal.28.

19 R.Subekti, Pokok-Pokok Hukum Dagang, Intermasa, Jakarta, 1995, hal.2.

(4)

15 berlangsung. Sita umum atas seluruh aset debitur akan dipergunakan untuk pelunasan utang-tangnya kepada para kreditur yang pengurusan dan pengawasannya dilakukan oleh pihak yang berwenang20

Konsep dasar kepailitan sebenarnya bertitik tolak dari ketentuan Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pada pasal tersebut menyatakan bahwa semua barang milik debitur baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari menjadi jaminan bagi perikatan-perikatan perorangan debitor itu.21 Rumusan pasal 1131 KUH Perdata,menunjukan bahwa setiap tindakan yang dilakukan seseorang akan selalu membawa akibat terhadap harta kekayannya, baik yang bersifat menambah jumlah harta kekayaanya maupun yang nantinya akan mengurangi jumlah harta kekayaan (Kartini Muljadi).

Debitor dapat dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga atas permohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh debitor itu sendiri atau kreditor lainya.

Selama debitur yang belum dinyatakan pailit oleh pengadilan maka selama itu pula debitur dianggap mampu membayar utang-utangnya yang telah jatuh tempo kepada para kreditur.

Apabila pengadilan telah memutuskan debitur dalam keadaan pailit, maka pengadilan niaga akan menunjuk Kurator untuk melakukan pengurusan atau pemberesan terhadap kekayaan debitor pailit. Kurator kemudian akan membagikan boedal pailit kepada para kreditur sesuai dengan besar pitang masing-masing.

a. Debitor Pailit

Debitur merupakan orang atau badan hukum yang mempunyai utang baik karena perjanjian maupun karena undang-undang yang pelunasan utangnya dapat ditagih di depan pengadilan. Sedangkan pengertian debitur pailit adalah orang atau badan hukum yang telah dinyatakan pailit berdarkan putusan pengadilan niaga yang

20 Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan (Edisi Revisi), UMM Press, Malang, 201, hal.5.

21 Martiman Prodjohamidjojo, Proses Kepailitan, Mandar Maju, Bandung, 1999, hal.45.

(5)

16 mengakibatkan debitur kehilangan hak keperdataan atas kekayaannya. Hak keperdataan merupakan hak yang dimiliki debitur untuk mengurusi dan membereskan hartaya. Setelah adanya putusan pengadilan, pengurusan dan pemberesan harta debitur dilakukan oleh Kurator yang ditunjuk oleh pengadilan dan diawasi oleh seorang hakim pengawas.

Menurut pasal 1 angka 3 Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, pengertian debitor pailit adalah orang yang mempuyai utang karena perjanjian atau undang- undang yang pelunasannya dapat ditagih di muka pengadilan.

b. Kreditor Pailit

Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kreditor pailit adalah orang/badan hukum yang mempunyai piutang yang timbul karena perjanjian ataupun undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan. Kreditor pailit pada perkara kepailitan dibedakan menjadi:22

1. Kreditor Separatis (secured creditor)

Kreditor separatis merupakan kreditor yang memiliki hak separatis atau hak yang diberikan oleh undang-undang kepada kreditor pemegang hak jaminan. Hak jaminan yang yang dibebenani dengan hak jaminan bukan merupakan harta/

boedal pailit. Kreditor separati dapat melakukan eksekusi atas haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Namun, pelaksanaannya harus ditangguhkan sembilan puluh hari sejak tanggal putusan diucapkan.

22 Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyatakan: Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena per-janjian atau Undang- Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.

(6)

17 Dengan kata lain kreditor separatis mempunyai hak untuk melakukan eksekusi atas jaminan berdasarkan kekuasannya sendiri sesuai dengan yang diberikan oleh undang-undang.

Perundang-undangan menyatakan bahwa kreditor pemegang hak jaminan didahulukan dari para kreditor lainnya. Misalnya kreditor pemegang hak jaminan, gadai, fidusia, hipotek, dan hak tanggungan.

2. Kreditor Istimewa

Kreditor istimewa (preferen) merupakan kreditor yang memiliki hak istimewa. Yang dimaksud dengan hak istimewa adalah hak yang diberikan oleh undang-undang kepada kreditur sehingga kreditur tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kreditur lainnya. Perbedaan kedudukan dapat berdasarkan piutangnya.

Kreditur yang tergolong kreditur istimewa mendapatkan pelunasan terlebih dahulu dari penjualan harta/boedal pailit.

Misalnya, pembayaran upah kurator. 23 3. Kreditor Konkuren

Kreditor konkuren merupakan semua kreditor atau penagih berdasarkan piutang. Kreditur konkuren tidak memiliki hak jaminan maupun hak istimewa, sehingga kreditor konkuren ini menerima pembayarannya paling akhir.

Kreditur konkuren akan mendapatkan hak pelunasan piutangnya setelah hak dari kreditor separatis dan istimewa telah dibayarkan terlebih dahulu dari boedel pailit.

c. Utang

Makna utang dalam perikatan memiliki arti yang luas. Utang dapat diartikan sebagai kewajiban/prestasi yang harus dilakukan

23 Rahayu Hartini. Ibid. hal 7

(7)

18 oleh debitur. Kewajiban/prestasi tersebut dapat timbul akibat perjanjian maupun karena undang-undang. Salah satu bentuk kewajiban memenuhi prestasi adalah memberikan sesuatu.

Memberikan sesuatu ini dapat berupa memberikan sejumlah uang.

Pengertian utang dalam arti sempit adalah prestasi/kewajiban yang harus dilakukan oleh debitur akibat dari perjanjian pinjam- meminjam saja.

Menurut Pasal 1 ayat 6 Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengartikan utang dalam arti luas, yang bunyinya sebagai berikut:

“Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung atau yang timbul di kemudian hari atau kontingen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang yang wajib dipenuhi oleh debitor bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitor”.24 Sehingga makna utang yang dimaksud dalam Undnag- Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang merujuk pada kewajiban/prestasi debitur dalam hukum perikatan.

d. Harta Debitor Pailit

Menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang dimaksud dengan harta debitur pailit adalah seluruh kekayaan debitor pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang diperoleh debitur selama proses kepailitan. Pada Pasal 1131 KUHPerdata juga menjelasakan hal serupa bahwasanya seluruh harta kekayaan debitor baik yang bergerak maupun tidak bergerak, dikemudian hari akan menjadi tanggungan/agunan bagi seluruh utang debitor.

24 Ibid. Pasal 1 ayat 6

(8)

19 Sehingga menurut ketentuan di atas, yang dimaksud dengan harta kekayaan debitor pailit tidak hanya sebatas pada harta kekayaan barang-barang tidak bergerak (tetap), seperti halnya tanah, tetapi juga termasuk barang-barang bergerak, seperti perhiasan, mobil, mesin-mesin, saham, dan bangunan. Termasuk juga barang- barang yang berada di dalam penguasaan orang lain, yang di dalam barang-barang tersebut debitor memiliki hak, seperti barang-barang debitor yang disewa oleh pihak lain atau yang dikuasai oleh orang lain secara melawan hukum.

2. Tujuan dan Akibat Kepailitan25

a. Tujuan Kepailitan

Pailit adalah suatu keadaan dimana debitur tidak mampu membayar hutang-hutangnya kepada para kreditur.

Ketidakmampuan debitur untuk membayar kepada kreditur pada umumnya disebabkan keadaan keuangan debitur sedang dalam kesulitan ( finansial destress ) dari usaha yang dilakukan debitur.

Kepailitan merupakan putusan pengadilan yang mengakibatkan sita umum atas harta debitur baik yang sudah ada maupun yang akan ada.

Ketikan pengadilan memutus suatu perusahaan pailit, aka akan ditunjuk seorang Kurator untuk mengurusi seluruh harta pailit Debitur dibawah pengawan Hakim Pengawas. Pengurusan dilakukan oleh kurator dengan tujuan untuk membayar seluruh hutang debitur pailit tersebut secara proporsional ( Prorate parte) menggunakan hasil penjualan harta kekayaan debitur yang sesuai dengan struktur kreditur.26

Pada dasarnya tujuan Kepailitan adalah memberikan solusi kepada para pihak apabila debitur dalam keadaan tidak

25 Munir Fuady, Hukum Pailit dalam Teori dan Praktek, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 2014, hal 61

26 Andrian Sutedi, Hukum Kepailitan, Ghalia Indonesia, Bogor, 2009, hal 29

(9)

20 membayar/berhenti membayar hutang-hutangnya.27 Kepailitan mencegah/menghindari tindakan-tindakan yang tidak adil yang dapat merugikan semua pihak yaitu menghindari eksekusi yang dilakukan kreditur dan mencegah kecurangan oleh Debitur.

Kepailitan merupakan realisasi dalam 2 pasal di KUHPerdata yaitu pasal 1131 dan pasal 1132 sebagai berikut:

Pasal 1131 “ Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada ataupun yang akan baru ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk perikatannya perseorangan”

Pasal 1132 “ Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama- sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara para piutang itu ada alasan-alasan yang sah didahulukan”.

Rumusan pasal 1131 KUHPerdata mengatakan bahwa dalam lapangan harta kekayaan akan selalu dipengaruhi oleh tindakan yang dilakukan perseorangan, baik yang akan menambah kekayaannya (kredit), maupun mengurangi kekayaannya (debit). Sedangkan rumusan pasal 1132 berbunyi bahwa setiap pihak atau kreditur yang berhak atas suatu perikatan, maka harus lah pihak tersebut mendapatkan pemenuhan perikatan tersebut dari harta yang berkewajiban ( debitur).

27 Ibid. hal 29

(10)

21 Adrian Sutedi mengatakan bahwa tujuan kepailitan adalah sebagai berikut:

1. Melindungi kreditur konkuren atas pemenuhan haknya.

Sebagaimana pasal 1131 KUHPerdata yang menjunjung tinggi asas jaminan. Tujuannya agar tidak terjadi keributan anatar kreditur atas harta debitur;28

2. Untuk menjamin pembagian harta kepada para debitur sesuai asas Pari Passu Pro Ratta Parte (pembagian sama rata) atau membagi harta debitur kepada para kreditur sesuai proporsional masing-masing hutang, sesuai dengan pasal 1132 KUHPerdata.

3. Untuk mencegah kreditur melakukan perbuatan yang dapat merugikan para kreditur atas harta debitur. Ketika sudah dinyatakan pailit oleh pengadilan, maka debitur tidak memiliki wewenang lagi mengurusi seluruh harta debitur, putusan pailit mengakibatkan harta debitur menjadi dibawah sita umum;

4. Kepada debitur perorangan (Individual debtor atau person, bukan badan hukum), diberi perlindungan dengan cara pembebasan hutang dari para kreditur. Seteleah selesainya tindakan pemberesan atau likuidasi atas harta debitur walapun harta debitur tidak mencukupi untuk melunasi hutang kepada kreditur, maka debitur akan dibebaskan hutangnya. Debitur diberi kesempatan untuk memperoleh finacial fresh start . Hal ini hanya berlaku di Amerika Serikat, Indonesia tidak mengenal pembebasan hutang.

Apabila harta debitur tidak mencukupi untuk melunasi hutang kepada kreditur, maka debitur masih mempunyai kewajiban untuk melunasi sisa hutangnya;

28 Pasal 1131 KUHPerdata mengatakan bahwa:

“ Segala barang-barag bergerak dan tak bergerak milik debitu, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan untuk perikatan-perikatan perorangan debitur itu”

(11)

22 5. Menghukum pengurus perusahaan yang karena kesalahannya mengakibatkan tidak sehatnya keuangan perusahaan yang berujung pada putusan pengadilan yang menyatakan perusahaan tersebut pailit;

6. Memberikan kesempatan untuk debitur dan para kreditur melakukan perundingan dan membuat suatu kesepakatan restrukturisasi utang-utang debitur.29

b. Akibat Kepailitan

Di dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUK- PKPU) mengatur akibat dari kepailitan (Buku II Pasal 21- 64).

Sesuai pasal 21 mengatakan bahwa Debitur yang telah dinyatakan pailit oleh pengadilan, demi hukum kehilangan hak untuk menguasai dan mengurusi seluruh harta pailit yang dimaksud dalam kepailitan, termasuk juga perhitungan dari pernyataan itu sendiri.30 Namun, sebagaimana bunyi pasal 21, tidak berlaku pada:

1. Benda termasuk juga hewan-hewan yang dibutuhkan debitur untuk pekerjaanya, perlengkapannya, alat medis untuk kesehatan, tempat tidur yang digunakan debitur dan bahan makanan untuk keperluan tiga puluh (30) hari yang dipergunakan debitur dan keluarganya;

2. Segala sesuatu yang diperoleh debitur dari penggajian atas pekerjaannya atas suatu jabatan atau jasa, sebagaimana yang ditentukan oleh hakim pengawas;

3. Uang pemerian kepada debitur untuk pemenuhan kewajiban dalam hal pemerian nafkah menurut Undang-Undang.31

29 Adrian Sutedi, Hukum Kepailitan, Bogor, Ghalia Indonesia, 2009, hal 29

30 Ibid. hal. 32

31 Op.cit. hal. 35

(12)

23 Pada saat putusan pailit dinyatakan, maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut:

1. Seluruh harta kekayaan debitur jatuh pada sita umum yang sifatnya konsevator;

2. Debitur kehilangan hak unuk menguasai dan mengurusi kekayaan pailit;

3. Kekayaan debitur dikuasai oleh Balai Harta Peninggalan (BPH) atau Kurator untuk kepentingan para kreditur;

4. Dalam putusan pailit terseut ditunjuk seorang hakim pengawas untuk mengawasi pengurusan harta pailit oleh Kurator;

5. Kepailitan tersebut hanya sebatas harta pailit saja, person dari pailitnya tidak dikenakan apapun.

3 Asas - Asas dan Prinsip - Prinsip dalam Kepailitan

Beradasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang termasuk asas-asas dari kepailitan adalah: 32

a. Asas Keseimbangan

Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengatur mengenai beberapa ketentuan yang merupakan perwujudan dari asas keseimbangan. Ketentuan tersebut mengatur pencegahan penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh debitur yang tidak jujur. Selain itu, ketentuan ini juga mengatur mengenai pencegahan apabila terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh oleh kreditur yang memiliki etikad tidak baik. 33

32 Arbijoto, “Tinjauan Kritis Terhadap Hukum Kepailitan”, Jurnal Hukum Prioris. Vol. 2. No. 3, 2009, hal 5

33 Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, ( Malang: UMM Press, 2008), hal 4

(13)

24 b. Asas Kelangsungan Usaha

Di dalam Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang mengatur ketentuan apabila suatu perusahaan debitur yang masih prospektif tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya.

c. Asas Keadilan

Di dalam kepailitan terdapat asas keadilan. Ynag dimaksud dengan asas keadilan adalah bahwasanya ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang berkepentingan dalam perkara. Asas keadilan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan dari pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap aset debitor tanpa memperhatikan atau mempedulikan hak kreditor lainnya. 34

d. Asas Integrasi

Di dalam kepailitan juga dikenal asas integrasi. Asas integrasi mengandung makna bahwa suatu sistem hukum formal dan hakum materiil merupakan satu kesatuan dan saling berintegrasi secara utuh. Maksudnya yaitu adanya integrasi antara sistem hukum perdata dan sistem hukum acara perdata nasional. Selain asas-asas diatas, pada hakikatnya Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang juga mengatur mengenai beberapa pokok materi baru yaitu:

1. Di dalam Undang-Undang Kepailitan dan Kewajiban Penundaan Pembayaran Utang (UUK-PKPU) diberikan batasan secara tegas mengenai pengertian utang agar tidak

34 Ibid. hal 5

(14)

25 menimbulkan banyak penafsiran. Selain itu diatur pula mengenai penjatuhan waktu atas utang tersebut.

2. Pengaturan mengenai syarat dan prosedur permohonan Pailit dan PKPU diberikan batasan waktu untuk pengadilan dalam memutuskan permohonan Pailit dan PKPU . Prinsip umum yang mengatur hukum kepailitan Indonesia terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer), antara lain:

a. Prinsip Paritas Creditorium

Prinsip ini dapat ditemui dalam Pasal 1131 KUHPer:

“Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang akan nada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perorangan”.

Prinsip Peritas creditorium merupakan prinsip paling utama dalam penyelesaian utang dari debitur kepada krediur. Prinsip ini menitikberatkan atas keberadaan para kreditur yang sama terhadap semua harta debitur baik kreditur separatis, kreditur preferen dan kreditur konkuren. Sedangkan makna semua harta debitur adalah semua harta debitur, baik yang bergerak dan harta yang tidak bergerak maupun harta yang sudah ada dan harta yang baru akan ada dikemudian hari yang terkait atas penyelesaian hutang. Prinsip ini harus bersamaan dengan prinsip Pari Passu Prorate Parte dan prinsip structured creditors agar terciptanya keadilan antara kreditur.35 Apabila tidak bersamaan penggunaannya, maka para kreditur akan sama kedudukannya antara kreditur yang mempuyai piutang satu Milyar dengan Kreditur yang mempunyai piutang

35 Hadi Shubhan.2009. Hukum Kepailitan; Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan. Kencana Prenada Medi Grup; Jakarta. hal 27

(15)

26 satu juta, ataupun antara kreditur yang mempunyai jaminan dengan kreditur yang tidak mempunyai jaminan.

b. Prinsip Pari Passu Prorata Parte

Prinsip ini memiliki arti bahwasanya seluruh harta debitur menjadi jaminan bersama bagi para kreditur. Hasil penjualan aset debitur (prorata) antara mereka sesuharus dibagikan sesuai dengan besar kecilnya piutang masing-masing kreditur. Hal ini tidak berlaku untuk kreditur yang harus didahulukan pembayarannya sesuai amanat Undang-Undang.

Prinsip Pari Passu Prorata Parte diatur dalam Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang bunyinya sebagai berikut:

“Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama bagi semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing- masing kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.” 36

e. Prinsip Universal

Menurut prinsip ini, keberlakukan sita umum atas harta kekayaan debitur tidak hanya berlaku untuk wilayah Indonesia saja melainkan juga di luar wilayah Indonsia. Kurator yang akan mengurusi harta pailit

36 Ibid. hal 28

(16)

27 melakukan pengurusan dan pemberesan di Indonesia dan di luar negeri demi kepentingan para kreditur .37 f. Prinsip Teritorial

Prinsip teritorial dalam kepailitan memiliki arti bahwa putusan suatu negara hanya berlaku di negara itu saja. Prinsip ini selaras dengan adanya asas sovereignty, di mana putusan pengadilan asing mengenai perkara kepailitan. Atas putusan pailit dari Indonesia tidak dapat dilakukan pengurusandan pemberesan terhadap aset debitur yang berada di luar negeri. Hal serupa juga berlaku untuk putusan pengadilan asing di Indonesia.

g. Prinsip Debt Collection

Prinsip Debt Collection merupakan prinsip yang memberikan kemudahan dalam melakukan permohonan kepailitan. Hal ini dilakukan untuk menghindari perbuatan debitur yang dapat merugikan para kreditur sehingga pengurusan dan pemberesan dilakukan oleh Kurator .38

h. Prinsip Structured Creditors

Prinsip ini bertujuan untuk mengklasifikasian dan mengelompokkan berbagai macam debitor sesuai dengan kelasnya masing-masing. Dalam prinsip ini, kreditur dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kreditur separatis, kreditur preferen, dan kreditur konkuren.

Kreditur separatis adalah kreditur yang mempunyai

37 Op.cit. hal 47

38 Lilik Mulyadi. Perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pebayaran Utang; Teori dan Praktek (Dilrngkapi Putusan-putusan Pengadilan Niaga). PT. Alumni; Bandung. hal 121

(17)

28 jaminan kebendaan dalam hukum kebendaan, kreditur preferen adalah kreditur yang menurut Undang- Undang harus didahulukan pembayarannya, kreditur konkuren adalah kreditur yang tidak memegang hak jaminan kebendaan.

4. Syarat Kepailitan

Pada Pasal 1 ayat 2 UU No. 4 Tahun 1998 (UUK/Undang-Undang Kepailitan Lama) syarat agar debitor dapat diajukan permohonan pernyataan pailit adalah sebagai berikut:

“Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 2, baik atas permohonan sendiri maupun atas permintaan satu atau lebih kreditornya.39 Definisi tersebut ternyata masih eksis dan dipertahankan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UUK-PKPU) yang mendefinisikan syarat agar debitor dapat diajukan permohonan pernyataan pailit adalah:

“ Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan baik atas permohonanannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya”.40

39 Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan”, Pustaka Utama Gafiti, Jakarta, 2009, hal 53

40 Ibid. hal 55

(18)

29 Berdasarkan penjelsan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa syarat untuk mengajukan perohonan pailit baik perorangan muapun badan hukum adalah:

a. Adanya minimal 2 (dua) orang kreditor;

b. Debitor tidak membayar lunas sedikitnya satu utang; dan c. Utang tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih.41

Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang membuat perbedaan kewenangan-kewenangan siapa saja yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit. Hal ini tentunya disesuaikan dengan jenis debitor yang akan dipailitkan tersebut, antara lain:42

a. Permohonan Pernyataan Pailit oleh Debitor sendiri. Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menentukan bahwa dalam mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap seorang debitor dapat pula diajukan oleh debitor sendiri. Dalam bahasa inggris disebut voluntary petition. Pengajuan permohonan pailit oleh debitur sendiri dapat dilakukan untuk kepentingan deitur maupun kreditur.

Syarat pengajuan permohonan pailit oleh debitur sendiri adalah debitor mempunyai dua atau lebih kreditor ;

b. Adanya tagihan yang jatuh tempo Salah satu syarat utama apabila ingin mengajukan permohonan pailit adalah debitur meiliki utang kepada minimal dua kreditur dan utang tersebut sudah jatuh tempo

41 Op.cit. hal 57

42 Jono, Hukum Kepailitan, Sinar Grafika: Jakarta, Bogor, hal 10

(19)

30 Pasal 2 ayat 1 UUK-PKPU menyebutkan bahwa syarat dinyatakannya pailit adalah adanya hutang yang telah jatuh tempo pembayarannya;

c. Syarat adanya utang

Para pihak yang akan mengajukan permohonan pailit harus bisa membuktikan bahwa debitur memang memiliki hutang kepada mereka. Undang-Undang Kepailitan dan PKPU sudah mendefinisikan utang dalam Pasal 1 angka 6 yakni sebagai kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang. Baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan nantinya timbul dikemudian hari karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib terpenuhi oleh debitor, bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan debitor;43

5. Manfaat Kepailitan

Pelaku usaha yang melakukan kegiatan usaha tidak selalu dibarengin dengan keberuntungan semata. Sering kali pelaku usaha mengalami kerugian dengan beberapa penyebabnya yang berdampak pada tidak sehatnya keadaan keuangan usahanya. Keadaan keuangan suatu usaha apabila aset passiva lebih tinggi dibandingkan aset aktivanya. Apabila aset passiva lebih tinggi dari aktiva, maka perusahaan berarti memiliki kemungkinan besar diajukan PKPU atau Pailit oleh krediturnya.

Namun, perlu dipahami bahwasannya keadaan pailit tidak selalu berdampak buruk baik bagi kreditur maupun debitur. Memang pada prinsipnya, kreditur lebih diuntungkan dengan adanya keadaan pailit ini dikarenakan dengan kepailitan ini kreditur akan mendapatkan pembayaran utang dari debitur. Ada beberapa manfaat ketika terjadi keadaan pailit, yaitu:

43 Ibid. hal 12

(20)

31 Bagi debitur sendiri, apabila pengadilan niaga telah memutus pailit maka debitur akan mendapat kepastian atas pelunasan piutang dari debitur.

Meskipun dalam praktiknya, pelunasan utang oleh debitur sering kali tidak sepenuhnya dilakukan dikarenakan alasan aset debitur tidak mencukupi.

Selain itu, dengan adanya keadaan pailit maka seluruh harta debitur akan digunakan untuk pelunasan utang, kecuali terhadap hal-hal yang dikecualikan oleh undang-undang.

Kreditur tidak perlu menunggu lama karena debitur mengulur-ulur pembayaran karena waktu pengurusan dan pembayaran utang sudah ditentukan secara jelas oleh undang-undang. Pengadilan akan menunjuk kurator dan haki pengawas setelah keluarnya putusan pailit walapun masih dimungkinkan langkah-langkah hukum berupa kasasi. Dengan pembatasan waktu , penyelesaian pembayaran dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.

Keadaan pailit juga bermanfaat bagi debitur. Dengan keadaan pailit, debitur dapat lepas dari bayang-bayang kreditur yang terus melakukan penagihan, karena penyelesaian utang-tangnya akan dilakukan pihak lain yaitu pengadilan, kurator, dan hakim pengawas. Debitur tidak dapat lagi mencampuri urusan aset perusahaannya apabila keadaan pailit sudah terjadi.

Peralihan pengurusan penyelesaian utang-utang tersebut oleh kurator memungkinkan debitur melakukan langkah-langkah lain untuk memulihkan usahanya.

Selain itu, dengan kepailitan debitur dan kreditur dimungkinkan menemukan kesepakatan-kesepakan baru seperti: 1) perdamaian, yang dimaksud perdamaian disini adalah kesepakatan untuk membayar hanya sebagian utang-utangnya, sisanya tidak perlu dibayar lagi; 2) Debitur dimungkinkan mendapat bantuan untuk memulihkan kembali usaha- usahanya sehingga dapat lancar kembali dan menguntungkan kembali.

(21)

32 B. Ketentuan Umum Kepailitan Lintas Batas

1. Pengertian Kepailitan Lintas Batas ( Cross-Border Insolvency )

Perekonomian dunia terus mengalami perkembangan maju bahkan melampaui batas-batas yuridiksi suatu negara, hal ini terjadi akibat dari globalisasi saat ini yang mengakibatkan terjadinya interaksi bisnis antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Di era globalisasi, batas-batas suatu negara bukan menjadi hambatan lagi dalam melakukan transaksi keuangan antar negara. Dalam melakukan transaksi antar negara, memungkinkan seorang mempunyai harta baik aktiva maupun passiva di negara lain. Dalam melakukan transaksi bisnis tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan, hal yang paling mungkin terjadi adalah kepailitan.

Kepailitan yang mengandung unsur-unsur Internasional disebut sebagai Kepailitan Lintas Batas (Cross-Border Insolvency). Pengertian dari Kepailitan Lintas Batas (Cross-Border Insolvency) adalah Kepailitan yang didalamnya terdapat unsur-unsur asing (foreign elements) atau melintasi batas suatu negara (Di luar Yuridiksi suatu negara).

“ Cross Border Insolvency may occur, for instance, where an insovent debtor has assets in more than one state, or where creditor are not from the state where the insolvency proceedings are taking place, yet the a cross-border Insolvency can apply to individuals or corparates”44

Keadaan insolvency merupakan keadaan dimana debitur berhenti membayar, keadaan berhenti membayar merupakan keadaan objektif yaitu karena keadaan keuangan debitur yang mengalami ketidakmampuan dalam membayar utang-utangnya dan juga keadaan objektif dimana debitur memang tidak mampu mebayar utang-tangnya. Menurut US Bankruptcy code dalam chapter 1 section 101 verse (32) bahwa keadaan insolven adalah

44 Sudarga Gautama, Hukum Perdata Internasional Indonesia, Bandung:Bina Cipta, 2002, hal 302

(22)

33 keadaan dimana debitur memiliki utang lebih besar dibandingkan aset debitur.45

Dalam kamus Hukum Ekonomi ELIPS mengatakan bahwa insolvensi adalah ketidakmampuan seorang atau badan hukum untuk membayar hutangnya yang telah jatuh tempo, atau keadaan dimana passiva melebihi jumlah aktiva.

Kepailitan lintas batas pada dasarnya melibatkan kepentingan antara dua/ lebih negara yang sistem hukumnya berbeda. Pada saat terjadinya keadaan dimana kreditur dan debitur memiliki kewarganegaraan yang berbeda ataupun kreditur dan debitur dari satu negara yang sama, namun memiliki aset di negara lain (Di luar teritorial negara tersebut), maka Kaidah-kaidah hukum yang seharusnya dipakai adalah kaidah Hukum Perdata Internasional. Dengan demikian penyelesaian kepailitan yang mengandung unsur asing berbeda penyelesaiannya dengan kepailitan tanpa ada unsur asingnya.

Dalam kepailitan yang mengandung unsur asing, terdapat dua prinsip atau asas yang menjadi dasar apakah putusan suatu negara diakui atau mempunyai kekuatan hukum di negara lain, yaitu:46

a. Prinsip Universalitas (Unite Universalite Exterritorialite de la faillite)

Menurut prinsip ini bahwa putusan kepailitan yang sudah berkekuatan hukum disuatu negara mempunyai akibat hukum dimana saja dimana debitur yang dinyatakan pailit memiliki aset.

Berdasarkan prinsip ini, debitur yang memiliki aset diluar yuridiksi negaranya dapat dieksekusi.

45 Roman Tomasic, “ Insolvency law in East Asia” Asgathe Phublising, 2006, hal 5

46 Ibid

(23)

34 b. Prinsip Teritorialitas (Pluralitas de Faillites, Teritorialite de la

Faillites)

Menurut Prinsip ini, Putusan pailit suatu negara hanya berlaku bagi teritorial negara tersebut. Berdasarkan prinsip ini, Putusan pailit dari pengadilan asing tidak dapat diakui negara lain sehingga harta debitur yang berada di luar negeri tidak dapat dieksekusi. Dengan prinsip ini, seorang debitur dimungkinkan dapat dinyatakan pailit lebih dari satu kali.

2. Subyek Hukum Kepailitan Lintas Batas

Dalam dunia hukum, subyek hukum memiliki pengertian sebagai seorang atau badan yang memiliki hak dan kewajiban yang dapat melakukan perbuatan hukum tertentu. Dalam hukum perdata, subyek hukum dapat dibagi menjadi dua:

a. Manusia (natuurlijk Persoon) b. Badan Hukum (rechtpersoon)

Kedua subyek hukum diatas berhak melakukan hubungan hukum antara manusia dengan manusia maupun manusia dengan badan hukum.

Tanpa terkecuali, subyek hukum memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum yang dapat menimbulkan akibat hukum, misalnya melakukan perjanjian-perjanjian dengan pihak lain (pihak ketiga) baik tertulis maupun tidak tertulis selama subyek hukum tersebut memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian. Subyek hukum juga memiliki hak perdata atas benda-benda bergerak aupun tidak bergerak, benda berwujud maupun tidak berwujud, ataupun melakukan perbuatan hukum di Pengadilan.47

Yang menjadi pembeda antara kedua subyek hukum tersebut adalah saat lahirnya subyek hukum. Subyek hukum pribadi sudah menjadi subyek

47 Daniel Suryana, Kepailitan terhadap Badan Usaha Asing oleh Pengadilan Indonesia; Bandung;

Pustaka Sastra; 2007;hal 2

(24)

35 hukum mulai dari anak dalam kandungan apabila si anak memiliki kepentingan. Sedangkan, subyek hukum berupa badan/lembaga lahir menjadi subyek hukum yang resmi ketika didaftarkan kepada pejabat yang berwenang sehingga memiliki hak atas kekayaan perusahaan.48

Dalam hukum kepailitan, subyek hukum diatur dalam Undang- undang kepailitan sebuah negara. Beberapa negara menggolongkan kepailitan menjadi dua yaitu kepailitan pribadi dan kepailitan badan hukum.

Kategori tersebut dilhat dari jenis subyek hukumnya, apakah subyek hukumnya pribadi atau subyek hukumnya berupa badan hukum. Secara garis besar, subyek hukum dalam kepailitan dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Pemohon Pailiti b. Termohon Pailit c. Pemohon Pailit

a. Pemohon pailit adalah pihak yang mempunyai inisiatif untuk mengajukan kepailitan ke Pengadilan berdasarkan Undang-Undang Kepailitan. Pemohon pailit atau biasanya disebit sebagai kreditur memiliki hak pengajuan peilit atau pihak termohon (debitur). Pihak- pihak yang dapat menjadi pemohon pailit terbagi menjadi (tiga), yaitu;

1. Debitur itu sendiri

2. Kreditur perseorangan atau lebih 3. Instansi Negara Terkait

1. Debitur itu sendiri

Para pemohon pailit merupakan subyek hukum yang dapat mengajukan perohonan pailit terhadap termohon di pengadilan.

Berdasarkan penjelasan diatas, pemohon pailit dapat berupa perseorangan atau badan hukum. Pemohon pailit bisa juga berasal dari debitur itu sendiri (Voluntary petition) bilaman terdapat alasan bahwa dirinya atau kegiatan usahanya sudah tidak mampu lagi

48 Ibid. hal 5

(25)

36 melaksakan kewajiban-kewajiban internal maupun external secara ekonomi.49

Dalam peraturan Kepailitan Indonesia ( Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) mengatakan bahwa debitur merupakan seseorang atau badan hukum yang mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-Undang yang pelunasannya dapat ditagih di depan Pengadilan.

Sedangkan, Black Law Dictionary mendefenisikan debitur sebagai, “ One who owes a debt; he who may be coplled to pay a claim or demand. Anyone liable on a claim, whether due or to become due.”50

2. Kreditur Perseorangan atau lebih

Pemohon pailit juga bisa berasal dari kreditur. Dalam Undang- Undang K-PKPU mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kreditur adalah orang yang mempunyai piutang baik karena suatu perjanjian atau karena perundang-undangan yang penagihannya dapat dilakukan di depan pengadilan.51 Black Law dictionary menjelaskan bahwa kreditur adalah “ a person to whom a debt is owing by another person who is the debtor”. Sementara US Bankruptcy Code mendefenisikan kreditur sebagai “ entity ( include person, estate, trust, governmental unit, and US trustee) that has a claim against debtor that arose at that time of or before the order for relief concerning the debtor”.52

49 Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

50 Hendry Campbell Black. opcit, hal 492

51 M. Hadi Shubhan. 2009. Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan. Jakarta:

Kencana Prenada Mdia Grup. hal 119

52 Ibid. hal 123

(26)

37 Untuk menjamin pelunasan utang atau pinjaman, terdapat dua asas yang berkaitan dengan jaminan, yaitu:

a. Asas Pertama

Asas ini terdapat di dalam pasal 1131 KUH Perdata, yang berbunyi bahwa” harta debitur menjadi agunan bagi kewajiban membayar utang yang timbul karena perjanjian perikatan serta menjadi agunan pembayaran untuk kewajiban terhadap utang yang timbul karena perikatan- perikatan lainnya yang diatur oleh Undang-Undang. Selain itu seluruh aset debitur menjadi agunan bagi pelaksanaan kewajiban tidak hanya pada kreditur tertentu saja, tetapi juga kepada seluruh kreditur lainnya.

b. Asas Kedua

Asas ini tertuang dalam pasal 1132 KUH Perdata yang berbunyi bahwa seluruh aset debitur menjadi agunan bersama-sama bagi seluruh krediturnya, dengan seimbang sesuai dengan perbandingan besar-kecilnya tagihan masing-masing kreditur, keculai terdapat kreditur yang didahulukan.53

Dalam Hukum Kepailitan kreditur dapat dibagi menjadi tiga jenis;

1. Kreditur Konkuren (Unsecured Creditur)

Kreditur Konkuren adalah kreditur yang tanpa jaminan, tidak memiliki hak prioritas, namun tetap mendapatkan pembayaran setelah semua kreditur mendapat pembayaran dan debitur masih memiliki sisa

53 Adrian Sutedi. 2009. Hukum Kepailitan. Ghalia Indonesia; Bogor. hal 30

(27)

38 harta. Jerry Hoff berpendapat bahwa “ unsecred creditors do not have priority and will therefore be paid, if any proceeds of the bankruptcy estate remain, after all the aother creditor have received payment. Unsecured creditors are required to present their claims for verification to their receiver and they are charged a pro rata parte share of the costs of the bankruptcy”.54 2. Kreditur Preferen ( Secured Creditor)55

Kreditur preferen adalah kreditur yang memegang hak jaminan, dimana kreditur ini memiliki hak prioritas pelunasannya berdasarkan perjanjian terhadap debitur.

Kreditur preferen dapat melakukan penyitaan terhadap harta debitur yang dijadikan jamian tanpa menunggu putusan pengadilan, karena debitur preferen memiliki hak prioritas. Penyitaan atas harta debitur tanpa menunggu putusan pengadilan ini disebut sebagai the right immediate enforceent.

Kreditur preferen merupakan kreditur yang dimaksud dalam pasal 1132 KUH Perdata, dimana merupakan kreditur-kreditur tertentu yang diberikan kedudukan yang lebih tinggi dari kreditur lainnya sehingga didahulukan pembayarannya. Dalam pasal 1133 menyebutkan bahwa seorang kreditur dapat disebut sebagai kreditur preferen apabila tagihan kreditur yang bersangkutan berupa:56

a. Utang dengan hak istimewa

54 Ibid. hal 32

55 Elyta Ras Ginting, Hukum Kepailitan: Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, Sinar Grafika:

Jakarta, 2019, hal 358

56 Sjahdeini, Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, 2002, hal 5

(28)

39 b. Utang dengan hak gadai

c. Utang dengan hak hipotek

Setelah adanya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Tanggungan dan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang fidusia, maka selain kreditur yang dimaksud dalam pasal 1133 KUH Perdata, maka kreditur yang memiliki hak tanggungan dan/ atau fidusia pun menjadi krditur preferen.57

3. Kreditur dengan hak Istimewa

Kreditur dengan hak istimewa merupakan kreditur oleh Undang-Undang diberikan kedudukan lebih tinggi untuk didahulukan pembayarannya dari kreditur konkuren maupun kreditur preferen.58 Berdasarkan pasal 1134 KUH Perdata yang menyatakan bahwa” hak istimewa adalah suatu hak yang oleh Undang-Undang diberikan kepada seorang kreditur sehingga tingkatannya lebih tinggi dari kreditur lainya, semata- mata karena sifat piutangnya”.59 Berdasarkan isi pasal tersebut, bahwa apabila tidak ditentukan lain oleh Undang-Undang, maka kreditur pemegang hak jaminan harus didahulukan pembayarannya daripada kreditur pemegang hak istimewa. Sedangkan kreditur pemegang hak istimewa yang didahulukan pembayarannya daripada kreditur yang memegang jaminan antara lain:

a. Kreditur yang memiliki hak istimewa berdasarkan pasal 1137 ayat (1) KUH Perdata;

57 Ibid. hal 6

58 Opcit.hal 7

59 Lo.cit. hal 9

(29)

40 b. Hak istimewa berdasarkan pasal 21 ayat (3) Undang-

Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1994.

c. Hak istimewa berdasarkan pasal 1139 ayat (1) KUH Perdata yakni biaya perkara yang semata-mata karena disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang barang bergerak maupun tidak bergerak;

d. Hak istimewa berdasarkan pasal 1149 ayat (1) yakni biaya perkara yang semata-mata karena pelelangan dan penyelesaian suatu warisan;

e. Imbalan Kurator sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.

Dalam hukum kepailitan kreditur preferen maupun kreditur separatis merupakan kreditur yang dihalukun pembayarannya. Berdasarkan pasal 55 UUK-PKPU menyatakan bahwa krediur separatis adalah kreditur yang memegang hak tanggungan, hak gadai, dan hak agunan atau hak lainnya, dapat mengeksekusi hak nya seolah-olah tidak terjadi pailit.60

Kreditur sebagai pemohon pailit dapat bertindak sebagai pribadi atau perseorangan perseorangan dan dapat bertindak sebagai badan hukum. Dalam kepailitan, selain itu pemohon pailit juga dapat berupa kreditur sindikasi, dimana kreditur sindikasi ada karena adanya perjanjian berupa sindikasi. Pada umumnya terdapa beberapa pihak yang berperan sebagai kreditur. Kreditur

60Pasal 55 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang: 1) “ Dengan tetatp memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 56, pasal 57, dan pasal 58, setiap kreditur pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan;

(30)

41 yang berhak mengajukan permohonan pailit tergantung pada perjanjian sindikasinya. Pada pasal 2 ayat (1) UU Nomor 37 Tahun 2004 mengatakan bahwa apabila dalam suatu perkara pailit terdapat kreditur sindikasi maka seluruh kreditur adalah kreditur sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 angka (2) UU Nomor 37 Tahun 2004.

3 Instansi Negara Terkait

Intansi pemerintah juga dapat berperan sebagai kreditur sesuai peraturan perundang-undangan. Instansi pemerintah dapat melakukan perbuatan hukum berupa mpengajuan permohonan pailit di Pengadilan. Beberapa Intansi pemerintah Indonesia dapat melakukan permohonan pailit antara lain: BPPN, Kantor Pajak, Kejaksaan RI, Bank Indonesia dan BAPPEPAM.61

b. Termohon Pailit

Selain pemohon pailit, salah satu unsur penting lain dalam kepailitan lintas batas yang dapat bertindak sebagai subyek hukum adalah Termohon pailit. Termohon pailit merupakan unsur penting dalam kepailitan, karena tanpa adanya termohon pailit, suatu kepailitan tidak akan pernah terjadi. Sebagai subyek hukum dalam kepailitan lintas batas, termohon pailit pun dapat berupa perorangan atau pribadi dan dapat berupa badan hukum.62

3. Ruang Lingkup Kepailitan Lintas Batas a. Adanya Unsur Asing

61 Pasal 1 angka (2) UU Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang berbunyi “Kreditur adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau perundang-undangan yang penagihannya dapat dilakukan di depan pengadilan”.

62 A. Fadilla Jamila; Skripsi: Pengaturan Hukum Internasional Terhadap Kepailitan Lintas Negara, Universitas Hasanuddin, 2016, hal 48, Akses tanggal 1 Januari 2020

(31)

42 Suatu keadaan Kepailitan dapat digolongkan menjadi Kepailitan Lintas batas apabila terdapat unsur-unsur asing di dalamnya. Dengan demikian, perlu diketahui apa saja unsur-unsur asing yang terdapat didalam kepailitan lintas batas. Dalam kepailitan lintas batas yang didalamnya terdapat unsur-unsur asing perlu diperhatikan karena akan berbenturan dengan unsur domestik sehingga dalam hal inilah muncul cross-border transnational.

Unsur asing merupakan suatu keadaan dimana sistem hukum bertautan dengan sistem hukum asing diluar sistem hukum pengadilan yang menangani perkara. Pada umumnya, pertautan tersebut terdapat pada fakta-fakta perkara. Dalam kepailitan lintas negara yang memiliki unsur asing, pada dasarnya melibatkan kepentingan dua negara atau lebih misalnya keadaan dimana kreditur dan debitur berada dalam domisili negara yang berbeda. Keadaan ini berhubungan dengan kedaulatan masing-masing negara asal kreditur dan debitur.63

Apabila kreditur menggugat debitur di negara kreditur, maka putusan pengadilan negara kreditur hanya berlaku sebatas teritorial negara kreditur atau dengan kata lain putusan pengadilan dari negara kreditur tidak dapat dilaksanakan di negara debitur. Sudargo Gautama berpendapat bahwa suatu keadaan pailit yang mengandung unsur asing apabila salah satu pihak berasal dari warga negara asing atau berkedudukan hukum asing atau terdapat harta benda di luar negeri.64

Kreditur maupun debitur dapat dikatakan sebagai kreditur asing maupun debitur asing dalam kepailitan lintas batas apabila tedapat unsur asing berupa unsur kebangsaan dari ranah hukum terkhususnya

63 Ibid. hal 48

64 Anggitya Maharsi, 2019. Skripsi: Pemberesan Harta Debitur Pailit Dalam Kepailitan Lintas Batas Negara ( Cross-Border Insolvency ) Yang diPutuskan Pengadilan Niaga Indonesia. UII:

Yogyakarta. Akses 20 Desember 2019

(32)

43 dalam ranah hukum acara perdata, baik unsur kebangsaan dari subyek hukum pribadi maupun subyek hukum berupada badan hukum.

Sudargo Gautama berpendapat bahwa status personal pada umumnya mengikuti seseorang dimanapun dia berada yang mempunya ruang lingkup kuasa berlaku serta univesal atau tidak tergantung pada teritorial negara tertentu. Dapat disimpulkan bahwa status personal adalah hukum dimana subyek hukum itu berada baik perseorangan maupun badan hukum.

Keadaan lainnya adalah ketika kreditur dan debitur berada dalam satu negara yang sama, namun debitur memiliki aset (harta pailit) di luar negeri pada saat debitur dinyatakan pailit oleh putusan pengadilan di negaranya. Harta pailit ini secara otomatis berada diluar teritorial negara debitur dan kreditur.

Dapat disimpulkan bahwa suatu kepailitan yang didalamnya terdapat unsur asing berupa:65

1. Adanya kreditur asing 2. Adanya debitur asing

3. Adanya aset kreditur di luar negeri 4. Adanya aser debitur di luar negeri c. Utang

Utang menjadi salah satu ruang lingkup kepailitan lintas batas. Sama halnya dengan kepailitan biasa, yang menjadi dasar adanya kepailitan adalah adanya utang yang telah jatuh tempo.

“ Membayar berarti memenuhi kewajiban perikatan dan bahwa yang dimaksud membayar tidak hanya memberikan suatu uang,

65 Suyana, Hukum Kepailitan: Kepailitan Terhadap Badan Usaha Asing Oleh Pengadilan Niaga Indonesia, Pustaka Sustra;Bandung, 20017, hal 48

(33)

44 tetapi termasuk melakukan suatu pekerjaan atay memberikan kenikmatan”, pendapat plato dan Brekel tentang membayar utang.

Apabila seseorang tidak melakukan pembayaran atas suatu perikatan, ia dikatakan berutang. Membayar tidak hanya berupa penyerahan berupa uang saja, melainkan juga melakukan sesuatu dan memberikan kenikmatan. Hal ini sesuai dengan isi pasal 1234 KUH Perdata yang menetapkan tiap-tiap perikatan adalah untuk berbuat sesuatu dan/atau tidak untuk berbuat sesuatu.

Sedangkan utang dalam Undang-Undang Kepailitan Indonesia diartikan sebagai suatu kewajiban yang dianyatakan atau dapat dinyatakan sebagai sejumlah uang baik dalam bentuk mata uang Indonesia atau mata uang asing, baik yang sudah timbul maupun yang akan timbul dikemudian hari, baik yang timbul karena suatu perikatan/perjanjian maupun yang timbul karena undang-undang dan yang wajib dipenuhi seorang debitur kepada kreditur, apabila pemenuhan tersebut tidak didapat oleh kreditur, maka kreditur berhak mendapat pemenuhan dari harta debitur.66

Utang sebagai ruang lingkup kepailitan terdiri atas:

1. Utang berupa prestasi yang memiliki nilai ekonomis, yaitu dimana prestasi tersebut dapat dinilai dan dinyatakan delam jumlah, baik dengan mata uang negara kreditur ataupun kreditur.

2. Utang yang timbul karena perjanjian atau Undang-Undang

Sehingga dapat disimpulkan bahwa utang tidak hanya timbul dari perjanjian pinjam-meminjam saja, namun utang dapat dinyatakan dengan batasan berupa jumlah untuk memastikan utang

66 Ibid. 50

(34)

45 memiliki nilai ekonomis. Ditinjau dari arti luas sebuah utang, maka utang dapat diartikan sebagai berikut:

a. Utang dalam arti sempit

Utang adalah kewajiban yang timbul karena perjanjian kredit yang berupa sejumlah uang saja, dan tidak termasuk utang karena perjanjian lainnya sehingga tidak mencakup prestasi yang timbul dari perjanjian di luar perjanjian utang-piutang.67

b. Utang dalam Arti Luas

Utang dalam arti luas adalah semua kewajiban debitur yang harus dipenuhi terhadap krediturnya (berpiutang).

Dengan kata lain, utang dalam arti luas adalah kewajiban kreditur untuk membayar sejumlah uang, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu kepada debitur akibat dari perjanjian/perikatan.68 Dalam undang-undang Kepailitan, utang mempunya arti sebagai suatu kewajiban kreditur yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih pelunasannya. Artinya telah ada suatu kewajiban dari debitur untuk memberikan atau melakukan pretasi kepada kreditur baik karena suatu yang telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sesuai yang diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, karena putusan pengadilan, arbiter maupun majelis arbiter.

Selain itu, Kepailitan lintas batas juga mempunyai ruang lingkup dengan hukum perdata internasional. Kepailitan lintas batas dan hukum

67 Hadi Shubhan, 2008. Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Pengadilan, Jakarta:

Prenada Media Grup. hal 89

68 Ibid. 91

(35)

46 perdata internasional tidak bisa dipisahkan antara keduanya, karena menyangkut adanya yuridiksi dari negara lain ( element foreign ).

a. Pengertian Hukum Perdata

Sudarga Gautama berpendapat bahwa:

“Hukum Perdata Internasional adalah keseluruhan peraturan maupun keputusan yang mencerminkan hukum mana yang akan berlaku atau apakah yang tergolong hukum.”

Apabila hubungan atau peristiwa antara warga negara pada waktu tertentu memperlihatkan titik pertalian dengan stelsel - stesel dan kaidah-kaidah hukum dari dua atau lebih negara yang berbeda dengan lingkungan kuasa tempat, pribadi, dan soal-soal.69

Graveson berpendapat bahwa conflict of laws atau HPI merupakan bidang hukum yang berkaitan dengan perkara- perkara yang didalamnya ada fakta yang relevan dan berhubungan dengan sistem hukum lain baik karena aspek teritorial maupun aspek subjek hukum.70

Sedangkan, E. Hambro mengatakan bahwa Hukum Perdata Internasional adalah” The rule ( of private intenational law) may be common to several states, and may even be established by international conventions or custos and in the later case may possess the character of the true international law governing the relations between states. But

69Sudargo Gautama, Pengantar Hukum Perdata Internasional, Bina Cipta; Bandung, 1997, hal 21

70 Op.cit, hlm.8; Graveson, R.H., Conflict of Laws – Private International Law, Edisi Ketujuh, Sweet

& Maxwell, London, 1974, hlm.3.

(36)

47 apart from this, it is to be considered that these rules from part of municipal law”.

Dari pendapat para pakar diatas, penulis menyimpulkan bahwa hukum perdata internasional adalah seperangkat aturan, norma-norma, asas-asas hukum nasional yang diciptakan untuk mengatur persoalan-persoalan yang mengandung unsur asing ( atau unsur ekstrateritorial). Dalam Hukum Perdata Internasional melibatkan lebih dari satu yuridiksi hukum negara dan saling berbeda yang satu dengan yang lainnya. HPI juga dapat diartikan sebagai bentuk dari aturan-aturan yang digunakan oleh pengadilan dalam suatu perkara yang dihadapi.

b. Titik Taut Hukum Perdata Internasional (HPI) Dalam HPI terdapat dua titik taut, yakni:

1. Titik Taut Primer

Titik taut primer merupakan semua fakta dalam suatu perkara yang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut mempunyai unsur-unsur asing (foreign elements), dan peristiwa hukum yang dihadapi merupakan HPI bukan peristiwa hukum domestik.71

2. Titik Taut Sekunder

Titik Taut Sekunder merupakan seluruh fakta dalam perkara HPI yang akan membantu menentukan hukum mana ynag digunakan untuk menyelesaikan perkara tersebut. Titik Taut Sekunder biasanya disebut sebagai titik taut penentu karena akan menentukan hukum mana yang

71 Ibid. hal 5

(37)

48 yang akan digunkan sebagai applicable law dalam menyelesaikan perkara tersebut.

Yang termasuk titik taut sekunder adalah:

1. Kewarganegaraan seseorang 2. Domisili

3. Bendera Kapal 4. Kediaman (Tempat) 5. Kedudukan badan hukum 6. Hukum yang dipilih 7. Tempat benda berada

8. Tempat dimana berlangsungnya perbuatan hukum 9.Tempat dimana perbuatan hukum terjadi yang melanggar hukum.

c. Masalah Pokok HPI

Beberapa negara di dunia mengalami permasalahan dibidang HPI antara lain:

1. Badan Peradilan dan Hakim dari negara mana yang menyelesaikan perkara yang mengandung unsur asing.

2. Hukum dari negara manakah yang digukan dalam menyelesaikan perkara yang mengandung unsur asing.

3. Sejauh mana pengadilan harus memperhatikan dan mengakui putusan dari peradilan hukum asing dan mengakui hak-hak atas putusan peradilan asing.

d. Pendekatan- Pendektan dalam HPI 1. Pendekatan berdasarkan tujuan HPI

a. HPI yang mempunyai tujuan untuk mewujudkan keadilan dalam perselisihan hukum (conflict justice).

Dalam mewujudkan tujuan HPI, dilakukan dengan

(38)

49 mengumpulkan teori-teori, doktrin-doktrin yang mengedepankan keseragaman pola penyelesaian perkara-perkara dalam HPI dalam hukum tertentu, dimanapun dan hukum apapun yang dipakai dalam penyelesaiannya (decisional harmony).72

b. Pendekatan berdasarkan tujuan mewujudkan keadilan berdasarkan subtansi dalam setiap perkara. Pengupulan teori-teori dan doktrin-doktrin bertujuan untuk menciptakan keadilan substansi dalam setiap perkara dengan memperhatikan situasi dan kondisi khusus dalam setiap penyelesaiannya. Dalam kelompok ini menawarkan metologi yang harus digunakan ntuk menetapkan aturan hukum subtansi, dimana aturan- aturan hukum yang lebih relevan digunakan untuk penyelesaiannya.

2 Pendekatan berdasarkan hasil yang dicapai dalam proses HPI. Pendekatan ini bertujuan untuk menetapkan sistem hukum yang seharusnya berlaku atas suatu persoalan hukum yang timbul. Pendekatan HPI yang bertujuan untuk memilih aturan hukum lokal yang harus diterapkan dalam sebuah perkara.

3 Pendekatan berdasarkan metodologi penetapan hukum yang harus dilakukan:

a. Pendekatan Lex Fori

Pengadilan yang menangani perkaralah yang berhak menentukan hukum mana yang dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu perkara dalam HPI

72 Op.cit. hal 7

(39)

50 b. Pendekatan Multilaterialism

Patokan dari pendekatan ini adalah pengadilan harus bersikap netral dan terlebih dahulu menetapkan tepat perkara berdasarkan titik tautnya. Apabila tempat atau kedudukan perkara sudah ditetapkan, maka hukum yang berlaku adalah hukum tempat perkara. Dalam pendekatan ini bersifat jurisdiction selecting.

c. Pendekatan Universalisme73

Dalam pendekatan ini terjadi musyawarah di dalam forum untuk mencapai kesepakatan penetapan hukum mana yang akan digunakan. Dalam penetuannnya, digunkana hukum yang paling relevan (baik lex fori maupun hukum asing) untuk menyelesaikan perkara yang timbul akibat perbuatan hukum. Pengadilan memiliki kewenangan untuk menentukan sejauh mana hukumnya dapat digunakan untuk menyelesaikan perkara yang timbul dari perbuatan hukum dan/atau alasa-alasan apa yang menjadi dasar untuk mengesampingkan lex fori dan menggunakan hukum asing.

d. Pendekatan hukum subtantif

Pendekatan hukum ini lebih mengedepankan aturan-aturan hukum yang substantif (materill) dalam menyelesaikan perkara yang timbul dari perbuatan

73 Fadilla Jamila; Skripsi: Pengaturan Hukum Internasional Terhadap Kepailitan Lintas Negara.

Universitas Hasanuddin. 2016, hal 29, akses 20 Desember 2020

(40)

51 hukum. Pendekatan ini lebih mengedepankan aturan yang diakui dan digunkana oleh internasional.

e. Pendekatan Elektrik

Dalam pendekatan ini, lebih cenderung mengaborasikan antara pendekatan-pendekatan hukum yang ada untuk menyelesaikan persoalan yang timbul dari perbuatan hukum. Elemen-elemen yang diunggulkan dari tiap pendekatan dapat digunakan untuk menentukan aturan hukum mana yang digunkana untuk meyelesaikan perkara yang timbul dari perbuatan hukum.74

4. Prinsip-Prinsip dalam Kepailitan Lintas Batas

Dalam hal kasus kepailitan yang dialami oleh pelaku usaha yang melibatkan pelaku usaha warga negara asing atau badan hukum asing (ada unsur asingnya), maka ada dua (2) prinsip yang harus diperhatikan:75

a. Prinsip Territorial

Prinsip ini yang membatasi putusan pengadilan suatu negara dalam kepailitan lintas batas. Menurut prinsip ini, harta yang dapat dieksekusi atas putusan suatu negara hanya berlaku terhadap aset yang berada di negara putusan itu dikeluarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Paul J Omar yang mengatakan bahwa

“ Territorialy drives from the doctrine of state soverignity, the notion that the autority of one system including its insolvency law and procceding, should be confine to territory of the state”76

74 Ibid. hal 30

75 Op.cit. hal. 34

76Paul Omar. 2008. Insolvency law themes and perspective, Ashgate publhising Company, Burlington. hal 45

Referensi

Dokumen terkait

Seorang debitur dapat dikatakan dalam keadaan jatuh pailit setelah adanya pernyataan kepailitan oleh Pengadilan Negeri yang dalam hal ini adalah Pengadilan Niaga

Pengertian kepailitan tersebut dikaitkan dengan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan tersebut, pernyataan pailit merupakan suatu putusan Pengadilan

37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU tersebut mengemukakan bahwa dalam hal menyangkut putusan atas permohonan pernyataan pailit oleh lebih dari satu

Secara umum, suatu piutang diindikasikan sebagai piutang tak tertagih apabila telah jauh melewati tanggal jatuh temponya, piutang yang telah ditentukan sebagai piutang

Pernyataan piutang ini merupakan unsur pengendalian intern yang baik dalam pencatatan piutang, dengan mengirimkan secara periodik pernyataan piutang kepada setiap

Dalam hal debitur adalah perusahaan asuransi, permohonan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan kepada Pengadilan Niaga, maka sesuai dengan ketentuan

Kepailitan adalah suatu proses seorang debitur yang memiliki kesulitan keuangan untuk membayar utangnya yang dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga, namun dalam

2.6 Akibat Kepailitan Bagi Debitur Pengajuan pernyataan pailit yang dikabulkan memiliki akibat bahwa debitur yang diajukan pailit kehilangan hak penguasaannya terhadap seluruh harta