PHQMDGL6HRUDQJ.$'(53HNND
III. PRINSIP-PRINSIP DASAR PEKKA
Untuk menjadikan sebuah proyek pembangunan menjadi gerakan masyarakat, ada beberapa prinsip yang dijadikan landasan dalam pengembangan Pekka dan merupakan faktor penting dalam keberhasilan dan perkembangan Pekka saat ini. Hal prinsip yang menjadi landasan Pekka selama ini menyangkut pendekatan khusus, pilihan pintu masuk (entry point), pengembangan sistem pendukung (support sistem), dukungan forum pemangku kepentingan (multistakeholder forum), dan alokasi sumber pendanaan.
1. Pendekatan khusus
Aksi afirmasi (affirmative action)
Pekka menerapkan pengorganisasian eksklusif perempuan kepala keluarga miskin. Dengan demikian cukup banyak ruang dan kesempatan bagi kelompok khusus Pekka untuk berkembang termasuk membangun kekuatan diri dan kolektif, serta memperoleh akses terhadap berbagai sumberdaya yang hampir tidak pernah mereka peroleh sebelumnya.
Mengorganisir melalui kelompok
Pendampingan Pekka dilakukan melalui kelompok-kelompok yang dibentuk berdasarkan wilayah terdekat dimana Pekka berada. Kelompok yang dibentuk merupakan cikal bakal berkembangnya sebuah organisasi kemasyarakatan, tempat anggota berlatih organisasi dan mengembangkan kepemimpinan mereka. Melalui kelompok mereka juga membangun kekuatan kolektif, menghimpun swadaya, mengangkat keberadaan mereka agar dikenal dan difahami dalam masyarakat.
Kaderisasi pemimpin di tingkat lokal
Kader lokal dan pemimpin dari kalangan Pekka dikembangkan dengan melatih dan memfasilitasi mereka secara intensif untuk mengembangkan diri menjadi penggerak masyarakat. Transfer pengetahuan dan keterampilan dapat langsung dilakukan oleh kader dan pemimpin kepada sesamanya di dalam masyarakat. Keberadaan kader yang terlatih merupakan investasi untuk keberlanjutan proses pemberdayaan di tingkat masyarakat.
2. Kegiatan pintu masuk
Simpan pinjam
Simpan pinjam dipilih sebagai kegiatan pintu masuk dalam pemberdayaan Pekka sesuai dengan kondisi Pekka yang miskin dan membutuhkan sumber dana untuk aktivitas ekonominya. Selain mampu menumbuhkan jiwa keswadayaan, simpan pinjam juga menjadi sarana saling bantu dalam mengatasi persoalan ekonomi anggota. Kegiatan menyimpan dan meminjam merupakan ruang bagi anggota untuk bertemu secara rutin memperkuat ikatan kelompoknya. Pengelolaan simpan pinjam menjadi sarana berlatih “manajemen” bagi pengurus khususnya dan anggota pada umumnya. Kegiatan simpan pinjam juga dapat menjadi terapi perilaku konsumtif menjadi produktif. Kewajiban menyimpan sebelum meminjam memaksa anggota kelompok untuk belajar cermat mengelola keuangannya agar dapat menabung. Kebiasaan menabung dalam kelompok juga membantu anggota melawan pemborosan dari pembelanjaan yang tidak berguna.
Prinsip koperasi
Simpan pinjam di Pekka menerapkan sistem koperasi. Dalam sistem koperasi, pemimpin dipilih oleh anggota, pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak, serta jumlah simpanan pokok dan wajib sama untuk setiap orang. Hal ini menjadi dasar untuk membangun kesetaraan dan demokratisasi
5
proses pengambilan keputusan dalam kelompok serta rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif terhadap perkembangan kelompok. Rapat tahunan anggota dalam sistem ini, mengajarkan Pekka membangun sistem pertanggungjawaban yang transparan. Pergantian kepemimpinan secara berkala dapat memberi kesempatan pada banyak orang untuk berlatih memimpin dan menghalangi munculnya elit yang terlalu berkuasa dan cenderung status quo.
3. Kebutuhan sistem pendukung
Peran pendamping lapang (PL)
Pendamping lapang yang langsung hidup ditengah masyarakat melakukan aktivitas pendampingan sehari-hari di tingkat lapang termasuk mengorganisir, melatih dan mendampingi. PL berfungsi sebagai fasilitator yang mengarahkan kelompok dan kader-kader untuk mengembangkan kegiatan mereka.
Yang terpenting dari seorang PL adalah dedikasi dan motivasi yang kuat untuk bekerja di tengah masyarakat yang penuh tantangan dan hambatan. Keterampilan dan pengetahuan bisa ditingkatkan melalui berbagai pelatihan.
Sekretariat dan tim koordinasi dan tenaga ahli
PL membutuhkan dukungan sistem untuk pengembangan konsep, kerangka, metodologi dan konten mengingat rutinitas dan letak yang jauh dari berbagai sumber informasi menyebabkan PL sulit untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu diperlukan keberadaan sekretariat nasional dengan tim koordinasi yang terdiri dari ahli berbagai aspek pemberdayaan. Tugas tim ini adalah mendukung kerja PL termasuk meningkatkan kapasitas PL secara terus menerus agar mampu melaksanakan fungsinya.
Tim juga bertanggungjawab terhadap pengembangan kader dan memastikan bahwa program berjalan mencapai tujuan yang digariskan.
Dokumentasi
Mendokumentasikan proses dan hasil program secara intensif sejak awal merupakan kekuatan sebuah program. Dokumentasi dibuat dalam beragam bentuk termasuk audio dan cetak serta dilakukan di berbagai tingkatan baik oleh sekretariat pendukung, pendamping lapang dan oleh anggota kelompok.
Hasil dokumentasi disebarluaskan pada khalayak selain sebagai bahan kampanye dan pendidikan, juga sebagai media untuk pelatihan dan diskusi.
4. Jaringan dan Forum Pemangku Kepentingan
Jaringan dan komunikasi dengan pemangku kepentingan (pemerintah; eksekutif, legislative, aparat penegak hukum dan penjaga keamanan, LSM, dan Lembaga Pendidikan dan Kajian) melalui forum rutin sangat penting dalam upaya pemberdayaan kelompok Pekka agar perubahan struktural dapat dicapai. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan jaringan kelompok pekka dengan sesama mereka. Selain itu, komunikasi dan forum dialog antara jaringan kelompok pekka dengan pemangku kepentingan dalam hal ini pemerintah dan lembaga donor misalnya, dapat membuka akses masyarakat terhadap berbagai informasi, sumberdaya, bahkan proses pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan.
5. Kebutuhan Pendanaan
Ada tiga komponen pendanaan yang dibutuhkan untuk upaya pemberdayaan kelompok Pekka;
Bantuan Langsung Masyarakat (BLM)
BLM merupakan pendanaan yang dibutuhkan dalam proses pemberdayaan Pekka yang termasuk kelompok termiskin dalam masyarakat. BLM disediakan sebagai dana stimulan sampai masyarakat mampu mengembangkan dan mengelola sumberdaya lokal, dan pemerintah daerah setempat
6
berkomitmen untuk mengintegrasikan kepentingan mereka dalam pendanaan daerah secara rutin.
BLM dibutuhkan untuk berbagai kepentingan termasuk modal usaha simpan pinjam kelompok yang selanjutnya digulirkan untuk modal usaha anggota, pendidikan anak-anak dan perempuan, pembangunan sarana dan prasarana bagi pemberdayaan perempuan dan masyarakat, kesehatan dan kebutuhan pangan pada kondisi ekstrim.
Pelatihan dan pendampingan tekhnis
Pelatihan dan pendampingan tekhnis secara intensif dibutuhkan dalam pemberdayaan Pekka paling sedikit selama lima tahun. Oleh karena itu dibutuhkan pendanaan untuk pelatihan dan pendampingan tekhnis yang dapat dinilai sebagai investasi yang tak ternilai untuk proses pemberdayaan yang bertitik berat pada pengembangan sumberdaya manusianya. Dana pelatihan untuk memenuhi kebutuhan logistik seperti akomodasi, konsumsi, peralatan dan perlengkapan pelatihan. Sementara itu dana pendampingan tekhnis untuk membayar honor, transportasi dan operasional pendamping lapang, tim koordinasi dan tenaga ahli yang umumnya melakukan pelatihan di tingkat basis dan tingkat nasional.
Idealnya alokasi pendanaan untuk ini antara 25-40%
Kesekretariatan
Seluruh proses pemberdayaan membutuhkan dukungan kesekretariatan yang mengelola administrasi dan keuangan program serta dokumentasi, agar sistem transparansi program dapat dikembangkan dan dijaga dengan baik. Peruntukan pendanaan termasuk sewa kantor, kebutuhan komunikasi, bahan dan peralatan perkantoran, sarana transportasi, produksi dan distribusi produk dokumentasi program.
Memberikan alokasi khusus untuk kesekretariatan dapat membantu mencegah penyalahgunaan alokasi pendanaan lainnya.Idealnya peruntukkan kesekretariatan berkisar 10% dari total biaya program.
7
IV. WILAYAH KERJA PEKKA