BAB I PENDAHULUAN
B. Pendidikan anak prasekolah berdasarkan pendekatan karakteristik
3. Prinsip-prinsip pembelajaran berdasar karakteristik
Dalam rangka mewujudkan program pendidikan anak yang ideal, maka disusunlah prinsip-prinsip program pendidikan anak sebagai acuan pelaksanaan pendidikan anak. Prinsip-prinsip pembelajaran yang berdasar pada karakteristik perkembangan adalah sebagai berikut (Bredekamp dan Copple 1997: 10-15):
a. Aspek-aspek perkembangan anak, yaitu aspek fisik, kognitif, sosial, emosional, bahasa dan komunikasi saling behubungan satu dengan yang lain. Sebagai contoh, ketika kemampuan fisik anak mulai berkembang maka kemampuannya untuk bereksplorasi juga semakin bertambah, hal ini mendorong perkembangan kemampuan kognisi, komunikasi dan sosial. Mengingat bahwa aspek-aspek perkembangan saling berhubungan, maka orang tua dan pendidik anak harus mampu memanfaatkan setiap pengalaman anak untuk mengoptimalkan perkembangan fisik, kognitif, sosial, emosional, bahasa dan komunikasi anak.
b. Secara umum, pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia 0-6 tahun relatif teratur dan dapat diramalkan. Meski demikian pertumbuhan dan perkembangan tersebut terjadi dalam berbagai variasi sesuai dengan latar belakang lingkungan dan budaya anak. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut melandasi praktek pembelajaran bagi anak.
c. Setiap anak merupakan individu yang unik dengan bentuk kepribadian, temperamen, cara belajar, pengalaman, latar belakang keluarga dan irama pertumbuhan serta perkembangan yang berbeda. Hal tersebut membuat setiap anak membutuhkan cara pendidikan serta pengasuhan yang sesuai dengan keunikan masing-masing. Memperlakukan anak dengan cara yang sama akan merugikan anak yang memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda.
d. Intensitas dan kontinuitas pengalaman-pengalaman anak berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya. Setiap pengalaman anak baik positif maupun negatif memiliki efek bola salju, yaitu semakin sering dialami akan semakin kuat dalam mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya (Katz and Chard, 1989; Kostelnik, Soderman and Whiren, 1993; Wieder and Greenspan, 1993 dalam Bredekamp, 1997: 11). Perkembangan anak juga dipengaruhi oleh pengalaman yang jarang dialami anak namun memiliki intensitas kuat.
e. Perkembangan cara berfikir anak akan berproses dari pengetahuan konkret menuju pengetahuan simbolik (Bruner, 1983 dalam Bredekamp, 1997: 11). Sebagai contoh, anak mengetahui letak rumahnya sebelum dia memahami konsep arah atau membaca peta. Pendekatan pembelajaran harus membantu anak untuk memperdalam pengetahuannya dengan cara memberi kesempatan pada anak untuk mengalami secara langsung berbagai macam hal (experiential learning). Pengetahuan simbolik anak semakin berkembang ketika anak menuangkan pengalamannya melalui berbagai media seperti, gambar, cerita baik secara verbal maupun tulisan, drama, membangun balok (Katz, 1995 dalam Bredekamp, 1997: 11).
f. Perkembangan dan pembelajaran anak terjadi di dalam konteks sosial dan budaya yang beraneka ragam. Pemahaman terhadap anak harus didasarkan pada konteks keluarga, budaya dan masyarakatnya. Tujuan utama dari pendidikan adalah agar semua anak dapat menjalankan peran masing-masing dan merasa nyaman hidup dalam masyarakatnya yang plural. Untuk mampu menjalankan perannya secara baik dalam masyarakat, anak harus memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang wajar serta bisa menghargai orang lain.
g. Anak adalah pembelajar yang aktif. Pengetahuan mereka semakin bertambah ketika mereka mengamati dan terlibat dalam aktivitas baik di rumah, di sekolah ataupun di lingkungan pergaulannya. Hipotesa-hipotesa yang disusun oleh anak akan teruji ketika mereka mengamati kejadian, mengemukakan pendapat, bertanya, dan menjawab pertanyaan. Orang dewasa membantu anak untuk menghubungkan kejadian yang sedang dialami anak dengan pengalaman anak sebelumnya sehingga anak memperoleh pengetahuan baru.
h. Perkembangan dan pembelajaran anak dihasilkan oleh interaksi antara faktor genetis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan budayanya. Potensi genetis dapat teraktualisasi secara optimal bila didukung oleh lingkungan yang kondusif. Sebagai contoh, secara genetis seorang anak berpotensi untuk tumbuh secara sehat, namun dia tinggal di lingkungan yang memiliki kadar polusi tinggi sehingga mengganggu kesehatannya yang pada akhirnya menghambat perkembangan dan pertumbuhan optimalnya.
i. Bermain merupakan sarana alamiah yang paling efektif bagi anak untuk belajar. Ketika bermain, anak dapat mengembangkan seluruh aspek dirinya, yaitu aspek fisik, kognitif, sosial, emosional, bahasa dan komunikasi. Ketika bermain anak berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan mereka. Mereka selalu memiliki inisiatif dalam kegiatan yang mereka ciptakan sendiri. Hal ini dapat menumbuhkan kebahagiaan, kepuasan, dan rasa harga diri pada anak yang penting bagi perkembangan aspek sosial dan emosi mereka. Aspek sosial dan emosi anak juga semakin berkembang ketika dalam bermain anak merasakan kekecewaan, kesedihan, berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan norma yang berlaku, menemukan kesempatan untuk belajar berbagi, belajar bekerjasama ataupun belajar menyelesaikan masalah. Aspek fisik dan motorik anak semakin bekembang ketika anak memegang, mencium, meraba, berlari, melompat dan terlibat dalam berbagai kegiatan fisik lainnya, mereka dapat mempraktekkan ketrampilan barunya tanpa merasa khawatir terhadap hasil yang diperoleh dan mereka dapat mempelajari berbagai ketrampilan dengan senang hati tanpa merasa terpaksa atau dipaksa untuk mempelajarinya. Aspek bahasa dan komunikasi anak semakin berkembang ketika dalam bermain anak mengungkapkan rasa ingin tahunya dengan bertanya, mendengarkan teman, bernyanyi, dan bercakap-cakap. Aspek intelektual anak semakin berkembang ketika dalam bermain anak menemukan kesempatan untuk mengelompokkan, membagi sesuai ukuran, mengingat, mengurutkan, menemukan dan memahami konsep baru (Swaminathan Research Foundation, 1995: 9). Aktivitas bermain juga memberikan gambaran bagi pendidik tentang perkembangan
anak mereka sehingga pendidik dapat menemukan cara baru untuk mendukung perkembangan anak.
j. Perkembangan anak akan mencapai kemajuan manakala anak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan secara mandiri ketrampilan baru yang diperoleh, serta ketika mereka mendapatkan pembelajaran dengan tingkat kesukaran sedikit di atas kemampuan yang sudah mereka miliki. Anak yang sukses dengan ketrampilan baru yang dicobanya akan cenderung semakin termotivasi untuk belajar. Sebaliknya menentukan target belajar jauh di atas kemampuan anak cenderung menjadikan anak merasa frustasi dan tidak berdaya, sebab anak yang sering mengalami kegagalan cenderung mudah menyerah dan takut untuk mencoba hal baru. Dalam proses pembelajaran bagi anak, tugas utama pendidik adalah memberi motivasi dan sebagai fasilitator belajar anak.
k. Anak-anak berkembang dan belajar dengan baik dalam lingkungan di mana kebutuhan fisik mereka terpenuhi, mendapatkan rasa aman dan nyaman secara psikis dan dihargai sebagai individu.
l. Anak-anak memiliki cara memahami, cara belajar dan cara untuk menunjukkan pengetahuan mereka secara berbeda. Dalam hal ini tugas utama pendidik yang pertama adalah membantu anak belajar dengan cara belajar yang telah dikuasai anak agar anak semakin memperdalam kekuatan cara belajar yang sudah dimilikinya. Kedua, pendidik mengenalkan cara belajar baru pada anak dengan cara membantu anak belajar menggunakan cara belajar yang belum dikuasainya.
Dalam praktek pendidikan anak, 12 prinsip pendidikan anak berdasarkan pendekatan karakteristik perkembangan tersebut tidak dapat diterapkan
sendiri-sendiri. Keduabelas prinsip tersebut saling berkaitan sehingga dalam praktek pendidikan anak prinsip-prinsip pendidikan anak berdasarkan pendekatan karakteristik perkembangan harus diterapkan sebagai suatu kesatuan yang melandasi praktek pendidikan anak.