(ei bi) Ao max Selisih
III. PRIORITAS RENDAH
Gambar 15. Grafik Kepentingan (ei) dan Keyakinan (bi)
X9 = latar belakang perusahaan terpercaya X10 = harga produk X11 = variasi produk X12 = pemasok (supplier) X13 = pelayanan toko X14 = penampilan toko X15 = komunikasi dengan franchisor
X16 = SOP (Standard Operation Procedur)
X1 = besarnya investasi X2 = reputasi merek (brand) X3 = branch
X4 = system managemen X5 = lamanya pengembalian
modal (PBP dan BEP) X6 = promosi X7 = pelatihan managemen X8 = kualitas franchise Keyakinan (bi) 5.3 5.2 5.1 5.0 4.9 4.8 4.7 4.6 K ep ent ingan ( ei ) 5.8 5.7 5.6 5.5 5.4 5.3 5.2 5.1 x16 x15 x14 x13 x12 x11 x10 x9 x8 x7 x6 x5 x4 x3 x2 x1 II. PRIORITAS UTAMA I. PERTAHANKAN PRESTASI III. PRIORITAS RENDAH IV. BERLEBIHAN
Tabel 19. Perbandingan Ao-Ao max dengan kategori kuadran
No. Atribut Kategori Ao - Ao max
1 Lamanya pengembalian
modal (PBP dan BEP) Prioritas utama 7.63
2 Pelatihan berkelanjutan Prioritas rendah 7.02
3 Harga produk Prioritas rendah 6.92
4 Variasi produk Prioritas rendah 6.37 5 Sistem managemen Prioritas utama 6.27
6 Promosi Prioritas rendah 5.81
7 Komunikasi dengan
franchisor Pertahankan prestasi 5.71 8 Besar investasi Pertahankan prestasi 5.64
9 Kualitas franchise Pertahankan prestasi 5.25 10 Latar belakang perusahaan Berlebihan 5.15
11 SOP Pertahankan prestasi 5.13
12 Penampilan toko Pertahankan prestasi 4.72 13 Pelayanan toko Pertahankan prestasi 4.50 14 Pemasok (Supplier) Berlebihan 4.27
15 Branch Berlebihan 4.07
16 Reputasi merek (Brand) Berlebihan 3.81
b. Kuadran II (Prioritas Utama)
Atribut yang termasuk Kuadran ini adalah sistem managemen dan lamanya pengembalian modal. Hal ini dapat dintrepretasikan bahwa kedua atribut tersebut harus mendapat prioritas utama untuk dievaluasi performanya karena tingkat kepentingan yang tinggi namun tingkat keyakinannya rendah. Atribut lamanya pengembalian modal memiliki nilai selisih 7,63 yang merupakan nilai selisih terbesar diantara antribut yang lain. Sehingga atribut inilah yang harus menjadi prioritas evaluasi yang utama bagi pihak franchisor yang dalam hal ini adalah manajemen Alfamart. Pihak managemen hendaknya dengan segera mengidentifikasi fakor-faktor yang menyebabkan atribut tersebut dinilai tidak baik atau tidak memuaskan dibenak franchise.
c. Kuadran III (Prioritas Rendah)
Sedangkan yang termasuk kategori Prioritas Rendah terdiri dari promosi, pelatihan managemen, harga produk, dan
variasi produk. Atribut yang masuk ke dalam kuadran ini adalah atribut-atribut yang memiliki nilai kepentingan yang rendah juga tingkat keyakinan yang rendah. Hal ini berarti bahwa secara keseluruhan atribut-atribut ini sesuai dengan kenyataan dan yang diharapkan namun masih mempunyai peluang untuk dievaluasi karena bila dilihat dari skor selisih Ao dengan Ao max, keempat atribut ini memiliki skor selisih yang masih cukup besar. Dalam hal ini franchise masih merasa kurang puas. Oleh karena itu, atribut pelatihan manajemen, harga produk dan variasi produk masih harus mendapatkan penanganan yang serius dari pihak franchisor
d. Kuadran IV (Berlebihan)
Dan kategori terakhir adalah Berlebihan. Terdiri dari atribut reputasi merek (brand), pemasok (supplier), branch, dan latar belakang terpercaya. Atribut yang masuk kategori berlebihan berarti memiliki nilai keyakinan yang tinggi namun nilai kepentingannya rendah berarti terjadi ketidakefektifan dan ketidakefisienan. Sehingga franchisor harus mengurangi budget untuk strategi pengembangan merek, pemasok, dan jaringan toko. Dan mengalokasikan budgetnya untuk atribut yang masuk kategori prioritas utama. Namun bukan berarti menghentikan sama sekali.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik disimpulkan sebagai berikut :
1. Variabel-variabel yang mempengaruhi proses keputusan pembelian franchise Alfamart dapat diringkas menjadi enam faktor utama. Hasil analisis faktor meringkas variabel-variabel yang diteliti yaitu sebanyak 21 variabel yang tersisa menjadi enam faktor yaitu: faktor pendorong/pengaruh utama terdiri dari teman, jiwa wiraswasta, promosi, harga jual produk, variasi produk, dan pemasok (supplier); faktor sistem dan informasi franchise terdiri dari variabel sistem managemen franchise, kualitas franchise, komunikasi dengan franchisor, dan SOP (Standard Operation Prosedure); faktor analisis keuangan franchise yang terdiri dari variabel besar investasi, PBP dan BEP, ketersediaan dana; faktor citra perusahaan yang terdiri dari variabel jaringan toko (branch), pelatihan managemen, dan latar belakang perusahaan; faktor citra produk franchise terdiri dari variabel merek (brand), pelayanan toko, dan penampilan toko; dan faktor motivasi yang terdiri dari motivasi pembelian dan mencari pengalaman bisnis.
2. Berdasarkan evaluasi tingkat kepentingan (ei) pada tahap awal analisis multiatribut fishbein menunjukkan bahwa semua atribut dipertimbangkan oleh konsumen terbukti dari skor tingkat kepentingan atribut (ei) semuanya di atas nilai tiga. Atribut terpenting yang dipertimbangkan oleh konsumen yaitu sistem managemen franchise, lamanya pengembalian modal, dan pelayanan toko. Sedangkan atribut pemasok adalah atribut dengan tingkat kepentingan paling rendah.
3. Berdasarkan penilaian tingkat kepercayaan konsumen (bi) terhadap franchise Alfamart menunjukkan bahwa atribut yang paling baik tingkat keyakinannya adalah atribut reputasi merek (brand) tertinggi yaitu sebesar 5,28. Sedangkan atribut yang dianggap paling kurang tingkat keyakinannya adalah atribut lamanya pengembalian modal, hal ini
ditunjukkan dari skor bi yang terkecil diantara atribut-atribut yang lain yaitu hanya 4,65. Setelah mengalikan skor ei dengan bi didapatkan nilai sikap konsumen (Ao) terhadap kedua merek. Sikap franchise terhadap franchise Alfamart memilki nilai 436,73. Skor tersebut masuk ke dalam kategori mendekati baik. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan franchise memiliki sikap puas terhadap franchise Alfamart.
4. Dalam analisis lanjutan evaluasi atribut terdapat atribut-atribut yang masuk kategori prioritas utama untuk dievaluasi oleh pihak manajemen, yaitu atribut lamanya pengembalian modal dan sistem managemen franchise. Kedua atribut inilah yang harus menjadi prioritas utama karena menujukkan kinerja yang tidak baik.
2. Saran
Dengan mengacu pada hasil penelitian, saran yang bisa diberikan adalah sebagai berikut :
1. Bagi franchisor (pewaralaba) yang ingin mengembangkan usaha di bidang ritel (eceran) perlu mengkaji lebih dalam lagi bagaimana mengemas produk franchise yang mengutamakan pelayanan (service) dan penampilan produk sebab franchise sangat mementingkan kedua atribut tersebut. Pelayanan (service) dan penampilan produk bisa menjadi keunggulan suatu sistem franchise ditengah sengitnya persaingan produk sejenis yang dapat membedakannya dengan merek lain.
2. Bagi pihak Alfamart perlu dilakukan penanganan yang segera terhadap kinerja atribut lamanya pengembalian modal (PBP dan BEP) karena akan berdampak signifikan terhadap perusahaan. Salah satu caranya, yaitu dengan melakukan evaluasi terhadap kinerja laporan keuangan semua outlet franchise Alfamart milik franchise di wilayah Jabotabek.. Selain itu, cara yang dapat dilakukan adalah managemen Alfamart harus mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan pengembalian modal relatif lama.
3. Perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai perumusan strategi franchise Alfamart berdasarkan dengan penilaian kepuasan franchise terhadap Alfamart.
Anoraga, P. 1997. Manajemen Bisnis. Rineka Cipta, Jakarta.
Budhisetiawan,.Y. 10 Februari – 9 Maret 2006. Minimarket Investasi Bisnis Tahan Banting. Info Franchise Indonesia No.01/1/, hal 18 – 25.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia. 1998. panduan Umum Pengembangan Kemitraan Waralaba Lokal. Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia, Jakarta.
Karamoy, A. 1996. Sukses Usaha Lewat Waralaba. Jurnalindo Aksara Grafika, Jakarta.
Kotter, P. 1997. Manajemen Pemasaran. (Terjemahan, Jilid 1). PT. Prenhallindo, Jakarta.
_______. 2000. Manajemen Pemasaran edisi Millenium. (Terjemahan, Jilid 1). PT. Prenhallindo, Jakarta.
_______. 2002. Manajemen Pemasaran edisi Millenium. (Terjemahan, Jilid 1). PT. Prenhallindo, Jakarta.
Lidia. 2001. Evaluasi Pelaksanaan Pola Waralaba dan Strategi Pengembangan Usaha Makanan Siap Saji (FAST FOOD) DI CV X Jakarta. Skripsi pada Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mandelshon, M. 1993. Franchising Petunjuk Praktis bagi Franchisor dan Franchisee. Pustaka Binaman, Jakarta.
_________________, dan Achesen. 1993. Franchising Petunjuk Praktis bagi Franchisor dan Franchisee. Pustaka Binaman, Jakarta.
Marketing. 2005. Peritel Harus Menekan Cost. Edisi 12/V/Desember, hal 46. Novisar, D M.. 10 Januari – 09 Februari 2006. Bank HS 1906 Melirik Potensi
Waralaba. Info Franchise Indonesia No.01/1/, hal 24 - 25.
Parinduri, F.R. 2004. Analisis Pengambilan Keputusan Konsumen dan Perceptual Mapping Mie Instan di Kota Bekasi (Kasus di Supermarket Hero, Matahari, dan Giant). Skripsi pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Purba, V. 1995. Apa dan Bagaimana Franchising Dilihat dari Segi Hukum.
Queen, D. J. 1993. Pedoman Membeli dan Menjalankan Franchise. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Santoso, S. 2003. Buku Latihan SPSS Statistik Multivariat. PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.
Saragih, Irwanto L. J.1991. Upaya Pengembangan Pasar Melalui Strategi Franchise. Skripsi pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Sartono, B, dkk. 2003. Model Teori Analisis Peubah Ganda. Departemen
Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. CV. Alfabeta, Bandung.
Parinduri, F.R. 2004. Analisis Pengambilan Keputusan Konsumen dan Perceptual Mapping Mie Instan di Kota Bekasi (Kasus di Supermarket Hero, Matahari, dan Giant). Skripsi pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Simamora, B. 2003. Analisis Multivariat Pemasaran. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Sumarwan, U. 2003. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Supranto, J. 2001. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Meningkatkan Pangsa Pasar.Rineka Cipta, Jakarta.
Umar, H. 2003. Riset Pemasaran dan perilaku Konsumen. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.