• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Pro Kontra Mengenai Pelaporan Kinerja CSR

Dalam pelaksanaan tahap akhir dari pelaksanaan CSR yang berupa Reporting terdapat pro dan kontra tentang pelaksanaanya. Di samping ada yang mendukung penerapan pelaporan akuntansi sosial yang memuat informasi tentang dampak positif dan negatif perusahaan, ada juga yang mengkritik. Adapun kritikannya adalah sebagai berikut (Harahap,2007) :

1. Informasi pertanggungjawaban sosial itu hanya menambah biaya saja dan tidak dibutuhkan oleh pemegang saham atau investor lainnya.

2. Ukuran dampak sosial perusahaan dalam satuan moneter secara tekhnis tidak dapat dilakukan karena sangat kompleks dan merupakan estimasi saja.

3. Faktor – faktor di luar perusahaan bukan merupakan tanggung jawab perusahaan dan tidak dapat mengendalikannya.

4. Belum ada kesepakatan umum tentang konsep, tujuan, pengukuran maupun pelaporannya.

5. Informasi tentang akuntansi sosial akan dapat mengalihkan perhatian pada indicator bisnis intinya sehingga dapat menyulitkan para pengambil keputusan.

6. Informasi tentang akuntansi sosial akan dapat mengalihkan perhatian pada indikator bisnis intinya sehingga dapat menyulitkan para pengambil keputusan.

2.6.1 Alasan Perlu dan Tidaknya Dalam Melaporkan Laporan Keberlanjutan.

Alasan perlunya perusahaan melaporkan kinerja keberlanjutan sebagaimana yang diungkapkan Kolk (2004) dalam A Decade of Sustainability Reporting yaitu:

1. Enhanced ability to track progress against specific targets. 2. Facilitating to implementation of the environmental strategy.

3. Greater awareness of broad environmental issues throughout the organisation.

4. Ability to clearly convey the corporate message internall and externally. 5. Improved all-round creadibility from greater transparency.

6. Ability to communicate efforts and standards. 7. License to operate and campaign.

8. Reputation benefits, cost savings identification, increase efficiency, enhanced business development oppurtunities and enhanced staff morale.

Berdasarkan teori diatas maka kesimpulan mengenai alasan perlunya melaporkan kinerja keberlanjutan yaitu:

1. Meningkatkan kemampuan perusahaan untuk mencapai suatu kemajuan dalam mewujudkan target tertentu.

2. Kemudahan dalam mengimplementasikan strategi lingkungan

3. Kesadaran yang lebih besar mengenai luasnya isu lingkungan di luar organisasi.

4. Kemampuan untuk menyampaikan secara jelas pesan internal dan eksternal suatu perusahaan.

5. Transparansi yang tinggi dapat meningkatkan kredibilitas perusahaan. 6. Sebagai wujud kemampuan perusahaan dalam berusaha menjalin

komunikasi.

7. Merupakan bentuk lisensi untuk menjalankan operasional dan mensosialisaskan keberadaan perusahaan.

8. Bermanfaat bagi reputasi perusahaan, untuk menunjukkan biaya yang disisipkan perusahaan untuk kepentingan lingkungan maupun sosial, dan merupakan kesempatan perusahaan untuk mengembangkan bisnis serta menunjukkan moral para pegawai.

Alasan tidak perlunya perusahaan melaporkan kinerja keberlanjutan sebagaimana yang diungkapkan oleh Kolk (2004) dalam A Decade of Sustainability Reporting yaitu:

1. Doubts about the advantages it would bring to the organization. 2. Competitors are neither publishing report.

3. Costomers (and the general public) are not interested in it, it will not increase sales.

4. The company already has a good reputation for its environmental and social performance.

5. There are many other ways of communicating about environmental and social issues.

6. It is to expensive.

7. It is difficult to gather consistent data from all operations and to select correct indicators.

8. It could damage the reputation of the company, have legal implications or wake up ‘sleeping dog’ (such as environmental organitations).

Berdasarkan teori diatas maka kesimpulan mengenai alasan tidak perlunya melaporkan kinerja keberlanjutan yaitu:

1. Ragu bahwa laporan keberlanjutan tidak akan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

2. Pesaing perusahaan tidak mempubliskan laporan.

3. Pelanggan maupun masyarakat tidak peduli, dan perusahaan berpendapat bahwa laporan keberlanjutan tidak akan mampu meningkatkan penjualan produk perusahaan.

4. Perusahaan telah mempunyai reputasi yang baik dalam berkontribusi dibidang lingkungan maupun bidang sosial.

5. Ada banyak cara-cara lain untuk mengkomunikasikan mengenai isu lingkungan dan sosial.

6. Membuat laporan keberlanjutan itu membutuhkan biaya yang tinggi. 7. Kesulitan dalam mengumpulkan data atau informasi dan memilih indikator

yang benar dan tepat yang sesuai dengan kebutuhan di bidang lingkungan dan sosial.

8. Dapat merusak reputasi perusahaan dikarenakan kegiatan di bidang lingkungan maupun sosial tidak sesuai dengan lingkup kerja perusahaan. dikarenakan kegiatan lingkungan dan sosial sudah ada yang bertanggung jawab. Contoh: LSM di bidang lingkungan dan sosial.

Berbagai penjelasan mengenai pentingnya perusahaan untuk melaporkan CSR, yaitu:

 Perusahaan didirikan atas mandat dari masyarakat; Laporan keberlanjutan/CSR dibuat agar perusahaan tidak kehilangan mandat.

 Perusahaan harus bertanggung jawab atas seluruh hal yang ditimbulkannya dalam wilayah dampak. Laporan dibuat untuk menunjukkan pencapaian, proses, dan evaluasi, dan agenda perusahaan dalam memaksimumkan dampak postif untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasar keseimbangan pilar ekonomi, sosial dan lingkungan.

2.6.2 Latar Belakang Pelaporan CSR

Laporan CSR harus menggambarkan pelaksanaan CSR yang sebenarnya, sehingga dapat digunakan dan diandalkan oleh para stakeholders dalam mengevaluasi kinerja CSR perusahaan. Untuk memastikan bahwa laporan CSR relevan dan dapat diandalkan maka diperlukan suatu standar pelaporan dan

pengungkapan CSR yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun laporan CSR. Ketiadaan standar akan menyulitkan stakeholders dalam melakukan evaluasi, karena perusahaan akan menyajikan laporan CSR yang sangat beragam. Kualitas laporan juga akan dipertanyakan mengingat perusahaan membuat laporan sesuka hatinya dengan sumber daya terbatas. Agar laporan CSR bermanfaat maka standar pelaporan dan pengungkapan CSR harus memastikan bahwa terdapat akuntansi, pelaporan dan pengungkapan kegiatan dan biaya CSR serta manfaat yang diperoleh dari kegiatan CSR tersebut. Keberadaan suatu standar pelaporan CSR tidak menjamin bahwa kualitas laporan CSR meningkat. Laporan CSR dibuat oleh perusahaan dan karena perusahaan menginginkan citra positif tentang dirinya, maka perusahaan cenderung hanya mengungkapkan informasi yang positif mengenai perusahaan. Akibatnya laporan tersebut bisa jadi tidak menggambarkan keadaan sebenarnya dan laporan tersebut akan kehilangan maknanya.

Ada dua mekanisme yang dapat dijalankan perusahaan untuk memastikan bahwa laporan CSR menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi di perusahaan, yaitu :

1. Mekanisme dan struktur governance di perusahaan.

2. Keberadaan jasa assurance oleh pihak eksternal dan independen yang memastikan keakuratan informasi yang di laporan CSR

Governance perusahaan menentukan arah dan kebijakan perusahaan, termasuk diantaranya kegiatan CSR beserta pelaporannya. Pelaksanaan CSR terkait dengan praktek Good Corporate Governance (GCG), seperti yang dinyatakan pada prinsip GCG ke tiga dari OECD (2004). Prinsip tersebut

menyatakan bahwa perusahaan perlu memperhatikan kepentingan stakeholders, sesuai dengan aturan yang berlaku, serta mendorong kerjasama (cooperation) perusahaan dengan stakeholders dalam memajukan perusahaan.

Keberadaan jasa assurance atas laporan CSR oleh pihak eksternal dan independen berperan untuk memberi keyakinan bagi stakeholders bahwa laporan tersebut telah disusun sesuai dengan standar pelaporan yang ada. Karena laporan tersebut diaudit oleh pihak eksternal dan independen maka seharusnya laporan tersebut menyatakan apa adanya (positif maupun negatif) atas kegiatan CSR perusahaan dan bebas dari kepentingan pihak-pihak tertentu. Untuk dapat melaksanakan audit dengan baik, maka diperlukan standar pemeriksaan untuk laporan CSR, yang dapat dijadikan acuan auditor dalam melaksanakan pemeriksaan. Standar tersebut tidak dapat disamakan dengan standar pemeriksaan laporan keuangan karena cakupan laporan CSR lebih luas dari laporan keuangan, demikian pula jenis informasi yang disajikan lebih bersifat kualitatif disbanding laporan keuangan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaporan CSR yang transparan dan akuntabel akan mendorong pelaksanaan kegiatan CSR, yang pada akhirnya akan meningkatkan tidak saja nilai perusahaan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu diperlukan adanya infrastruktur pendukung untuk tercapainya pelaporan CSR yang akuntabel. Bagian ini menjelaskan infrastruktur pendukung tersebut, yang diikhtisarkan pada bagan berikut.

Gambar 2: Infrastruktur Pendukung Laporan Keberlanjutan \\\ Regulasi CSR dan pelaporannya Mekanisme dan struktur governance Keberadaan standar pelaporan CSR yang diterima umun Keberadaan standar assurance untuk laporan CSR Peningkatan kesejahteraan perusahaan Peningkatan nilai perusahaan Peningkatan kegiatan CSR Pelaporan CSR yang transparan dan akuntabel Tekanan publik

Sumber: Utama, 2007. Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan Tanggungjawab Sosial dan lingkungan di Indonesia.

4 Isu utama yang dihat oleh perusahaan sebagai isu penting dalam laporan keuangan menurut Waller dan lannis, 2008 dalam An Analysis of Corporate Social Responsibility Disclosure, yaitu:

1. Work output: particularly focusing on the effect and the impact of their work in the marketplace, and that they undertake ethical work practices; 2. HR activities: range across a number of areas including looking after the

health and well-being of the staff, staff training, staff diversity and staff volunteering;

3. Social/community commitment: presenting activities that are aimed at the benefit of society in general, including assistance to charitable and non- profit organisations; and

4. Environmental initiatives: emphasizing initiatives undertaken within the organization to assist in protecting the environment and conserve resources, such as reducing energy and water consumption, as well as paper and ink recycling.

Berdasarkan teori yang diungkapkan oleh Waller dan Lannis di atas maka isu penting dalam laporan keuangan dapat disimpulkan menjadi:

1. Lingkup kegiatan perusahaan: Fokus pada efek dan dampak operasional perusahaan di dalam masyarakat, dan menunjukkan bahwa perusahaan telah melakukan praktek pekerjaan yang etis.

2. Lingkup SDM: Fokus pada kesejahteraan dan kesehatan dari pegawai. 3. Lingkup sosial: Fokus terhadap pemberian bantuan berupa kegiatan yang

bermanfaat bagi masyarakat, contoh: pelatihan internet bagi masyarakat. 4. Lingkup lingkungan: Fokus terhadap perlindungan terhadap lingkungan

dan seperti mengurangi konsumsi air dan energi.

2.7 Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development), secara sederhana bisa didefinisikan sebagai pembangunan atau perkembangan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Maka dari itu, untuk mengetahui kinerja perusahaan yang berkelanjutan dibutuhkan adanya suatu laporan keberlanjutan yang mana laporan tersebut mampu memonitor kondisi perusahaan secara

periodik. Dalam hal ini ada berbagai hal yang dapat mendefinisikan arti dari laporan keberlanjutan, antara lain:

 Dokumen yang dibuat oleh perusahaan berkaitan dengan kinerja aspek ekonomi, sosial, dan lingkungannya sebagai alat kontrol manajemen kepada pemangku kepentingan internal maupun alat akuntabilitas (terutama) kepada pemangku kepentingan eksternal.

 Laporan kinerja ketiga aspek hanya bisa disebut laporan keberlanjutan manakala kinerja yang dilaporkannya dalam kurun waktu tertentu sudah berkelanjutan atau menunjukkan kecenderungan membaik menuju dampak bersih positif.

 Konsekuensinya: laporan keberlanjutan memuat berbagai indikator ketiga aspek yang terus dipantau secara periodik.

 Dibuat untuk meningkatkan reputasi terkait dengan transparensi dan akuntabilitas.

 Ditujukan kepada berbagai pemangku kepentingan, agar mereka bisa mendapatkan informasi yang benar, jadi harus disebarluaskan lewat berbagai cara (internet, tercetak, stakeholder convening, dsb).

 Membantu perusahaan untuk mengambil keputusan manajemen: memperbaiki kinerja pada indikator yang masih lemah.

 Membantu investor untuk mengetahui kinerja perusahaan secara lebih menyeluruh.

Untuk melaporkan aspek kinerja CSR yang diakibatkan perusahaan ada beberapa tekhnik pelaporan CSR yaitu sebagai berikut (Diller,1970) dalam (Harahap,2007):

1. Pengungkapan dalam surat kepada pemegang saham baik dalam laporan tahunan atau bentuk laporan lainnya.

2. Pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan.

3. Dibuat dalam perkiraan tambahan misalnya melalui perkiraan (akun) penyisihan kerusakan lokasi, biaya pemeliharaan lingkungan, dan sebagainya.

2.7.2 Komponen Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)

Tabel 1: Components of a model to analyse the implementation likelihood of sustainability reports.

Menurut Kolk (2004) dalam A Decade of Sustainability Reporting menjelaskan bahwa tabel 3 yang disajikan merupakan kemungkinan penyajian komponen suatu model yang menggambarkan pelaksanaan dalam pembuatan laporan keberlanjutan.

Berdasarkan komponen yang disajikan menurut teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

Focus:

Nature: Mencakup lingkup sosial, lingkungan dan ekonomi

Reporting Scope: Lingkup pelaporan disajikan secara global dan secara umum dengan studi penyajian tertentu.

Standart, Code, and Guidelines, Conventions : Standar, pengkodean, dan petunjuk/pemandu mengacu pada regulasi pemerintah(contoh: Per-05 tentang PKBL), maupun organisasi internasional (contoh: GRI).

Organisation:

Enviromental System: Dalam hal ini organisasi memiliki sistem atau kebijakan yang lengkap sebagai bukti petunjuk pelaksanaan tentang program yang berkaitan dengan lingkungan.

Social System: Dalam hal ini organisasi memiliki sistem atau kebijakan yang lengkap sebagai bukti petunjuk pelaksanaan tentang program yang berkaitan dengan sosial.

Integrated system: Adanya pelaporan yang mencakup lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berdasarkan sistem atau kebijakan yang ada.

Environmental Performance: Adanya bukti yang menunjukkan pencapaian dalam pelaksanaan program di bidang lingkungan.

Social Performance: Adanya bukti yang menunjukkan pencapaian dalam pelaksanaan program di bidang lingkungan.

Internal Control: Bukti pencapaian yang ada baik di bidang lingkungan maupun sosial berguna bagi organisasi sebagai kendali dalam pengawasan pelaksanaan program yang ada.

Supplier Requirements: Informasi mengenai sosial, lingkungan dan ekonomi berguna sebagai acuan atau referensi bagi pemegang saham.  Sanctions of Suppliers: Dapat dijadikan sebagai jenis pengukuran bagi

supplier (dalam hal ini pemegang saham) untuk menuntut hal lebih kepada pihak manajemen perusahaan agar program yang dijalankan dapat terlaksanakan sesuai dengan kesepakatan yang ada terutaman terhadap suppliers (pemegang saham).

Performance:

Environmental: Di dalam laporan disajikan indikator-indikator yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan keseluruhan aktivitas kegiatan di bidang lingkungan dan jenis indikator yang digunakan.

Social: Di dalam laporan disajikan indikator-indikator yang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan keseluruhan aktivitas kegiatan di bidang sosial dan jenis indikator yang digunakan.

Monitor:

System: Berupa kebijakan yang berfungsi untuk mengawasi kegiatan lingkungan dan sosial.

Monitoring Party of System: Adanya divisi atau badan, baik di internal perusahaan ataupun eksternal (lembaga/ asosiasi) yang berfungsi untuk memonitor pelaksanaan kebijakan perusahaan.

Report: Laporan yang ada bersifat menyeluruh.

Verifier of Report: Profesional eksternal yang dibayar perusahaan. Contoh: auditor.

2.8 Standar Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)

Dokumen terkait