• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modernisasi berdampak kepada perubahan nilai, sikap dan kepribadian, perubahan mengarah kepada terwujudnya “manusia modern”. Menurut Joseph Kahl (dalam Lauer, 1993) manusia modern adalah orang yang aktif, ia berupaya membentuk kehidupannya meskipun secara pasif dan memberikan tanggapan terhadap takdirnya (tidak pasrah). Ia seorang yang individualis yang tidak menggabungkan karir pekerjaan dengan hubungan persaudaraan atau pertemanan. Ia yakin bahwa karir yang terpisah dari hubungan persaudaraan atau pertemanan ini tidak hanya diperlukan tetapi mungkin karena ia membayangkan baik peluang hidup maupun komunitas lokal hampir tidak ditentukan oleh status yang diperoleh karena keturunan. Ia lebih menyukai kehidupan kota dari pada desa, dan ia mengikuti berita media masa.9

1. Problem Hedonisme

Kata hedonisme berasal dari bahasa Yunani (hedone, nikmat, kegembiraan). Hedonisme bertolak dari anggapan bahwa manusia hendaknya hidup sedemikian rupa sehingga ia dapat semakin bahagia. Yang khas bagi hedonisme adalah anggapan bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari perasaan-perasaan

9 Sanggar Kanto, Perspektif Modernisasi Dan Perubahan Sosial Suatu Tinjauan Teoritik dan

menyenangkan sebanyak mungkin dan sedapat-dapatnya

menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak.10

Dengan kata lain segala apa yang dilakukan manusia hanyalah demi mencapai kenikmatan saja (untuk menhindari perasaan yang menyakitkan), karena manusia selalu tertarik oleh perasaan nikmat, dan secara otomatis condong untuk menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak atau tidak dapat disangkal. Manusia adalah makhluk dengan banyak nilai, jadi kebahagiaan tentu tidak tercapai kalau hanya menari salah satu saja, apalagi nilai tersebut bersifat indrawi dan terbatas.11

Problem Hedonisme dalam kehidupan yang sudah tercampur dengan gaya hidup manusia untuk mendapatkan perhatian orang lain menunjukkan bahwa akan selalu ada baik di masa lalu maupun masa yang akan datang. Hedonisme adalah aliran dalam filsafat yang mengajar bahwa sebagai aturan paling dasar hidup kita hendaknya menghindari dari rasa sakit dan mengusahakan rasa nikmat. Pertimbangan dasar hedonisme adalah bahwa menghindar dari rasa sakit dan mengejar perasaan merupakan tujuan pada dirinya sendiri.

Menurut Aristoteles, hedonisme menerapkan cara hewani kepada manusia, jadi hedonisme tidak membedakan manusia dengan binatang, dan itu tentu tidak masuk akal dan sebenarnya

10 Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar & Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, (Yogyakarta : Forum, 2015), h.114.

memalukan. Binatang memang melakukan apapun semata-mata demi mencapai nikmat (misalnya makanan dan seksualitas) atau

untuk menghindar dari perasaan-perasaan yang menyakitkan. 12

Menurut kaum hedonism, yang diajarkan oleh Aristippus memaknai kebahagiaan sebagai tujuan akhir dan universal dari segala perbuatan manusia. Kebahagiaan dapat dicapai dengan menghadirkan perasaan senang dan menghindari penderitaan, karena itu kesenangan menjadi tujuan manusia.13

2. Problem Materialisme

Materialisme adalah paham filsafat yang menyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik.14 Istilah materialisme dapat diberi definisi dengan beberapa cara, di ataranya, pertama, materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri dan bergerak merupakan unsur-unsur yang membentuk alam dan bahwa akal dan kesadaran (conciousness) termasuk di dalamnya segala proses pisikal merupakan mode materi tersebut dan dapat disederhanakan menjadi unsur-unsur fisik.

Kedua, bahwa dokrin alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains condong untuk menyajikan bentuk

materialisme yang lebih tradisional. Pada akhir-akhir ini, dokrin tersebut dijelaskan sebagai energisme yang mengembalikan segala

h. 47-52.

12 Suseno, h.13.

13 Jalaluddin Rakhmat, Meraih Kebahagiaan, (Bandung : Simbiosa Rekamata Media, 2006),

sesuatu kepada bentuk energi, atau sebagai suatu bentuk dari positivisme yang memberi tekanan untuk sains dan mengingkari hal-hal seperti ultimate nature of reality (realitas yang tinggi, baca:Allah).15

Materialisme modern mengatakan bahwa alam (universe) itu merupakan kesatuan material yang tak terbatas; alam, termasuk di dalamnya segala materi dan energi(gerak atau tenaga) selalu ada dan akan tetap ada, dan bahwa alam (world) adalah realitas yang keras, dapat disentuh, materiel, objektif yang dapat diketahui oleh manusia. Materialisme modern mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa (self), dan dunia material adalah yang perpertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua.

Problem mencari makanan, pakaian dan tempat tinggal adalah problem yang akan selalu ada. Seorang materialis terkesan oleh oleh stabilitas dan permanensi benda fisik dan perlunya kehidupan manusia. Dengan sangat mudah orang percaya bahwa benda-benda materil adalah satu-satunya yang menentukan dan bahwa yang dinamakan benda-benda non materil bersandar kepada benda fisik.16

15 Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat & Etika, h.142.

25 BAB III

PEMIKIRAN KEBAHAGIAAN AL-GHAZALI A. Biografi Imam Al-Ghazali

Salah satu kelebihan Al-Ghozali adalah beliau memiliki daya ingat yang kuat dan luar biasa. Beliau mendapatkan gelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan, hampir semua ilmu pengetahuan telah dipelajarinya hingga beliau tidak menemukan keputusan akan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dan akhirnya berlabuh kedunia tasawuf hingga akhirnya mendapatkan ketenangan. Disaat beliau telah mencapai karir yang gemilang, beliau sanggup meningkatkan segala kemewahan hidup yang telah diraihnya untuk mengembara mencari ilmu sekaligus melepaskan ikatan dengan hal-hal kematerian yang membuat

dirinya jauh dengan tuhannya sampai dekat dengan Tuhannya.28

1. Riwayat Hidup Al-Ghazali

Muhammad bin muhammad bin muhammad bin Ahmad, Imam Besar Abu Hamid Al-Ghazali Hujjatul-Islam merupakan nama lengkapnya. Lahir di Thusia dekat Masyhud, suatu kota di Khurasan pada tahun 450 H / 1058 M. ayahnya bekerja sebagai pembuat pakaian dari bulu (wol) dan menjualnya di pasar Thusia. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha sendiri bertenun kain bulu. Ayahnya sangat rajin mengunjungi rumah alim ulama, memetik ilmu pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Sebelum meninggal ayah Al-Ghazali

meninggalkan pesan pada seorang temannya yang ahli tasawuf, supa ya mengasuh dan mendidik Al-Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah meninggal ayahnya kehidupan Al-Ghazali di bawah asuhan ahli tasawuf itu.29

Pada masa kecilnya Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih kepada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani di Thusia. Kemudian pergi ke negeri Jurjan untuk belajar beberapa ilmu kepada Imam Abi Nasar Al-Ismaili (1015-1085 M). Negara Nisapur merupakan negara tujuan berikutnya, disana Al-Ghazali belajar pada Imam Al- Haramain untuk belajar ilmu mantik (logika), falsafah dan fiqih madzhab Syafi’i, di sinilah mulai kelihatan tanda-tanda kecerdasan dan ketajaman otaknya serta dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan, sampai ia mendapatkan julukan “Al-Ghazali itu lautan tak bertepi…” dari gurunya.

Setelah Imam Al-Haramain wafat Al-Ghazali kemudian

berangkat ke Al-Askar untuk mengunjungi Menteri Nizamul-

muluk dari pemerintahan dinasti Saljuk. Ia disambut dengan

kehormatan sebagai seorang ulama besar. Disana Al-Ghazali dipertemukan dengan ulama-ulama besar dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan, semuanya mengakui akan ketinggian dan

keahlian Al-Ghazali. Pada tahun 484 H Al-Ghazali dilantik sebagai guru besar pada Perguruan Tinggi Nizamiyah oleh Nizamul-muluk di kota Bagdad. Empat tahun lamanya Al-Ghazali mengajar

29 Dr. Khudori Soleh, Filsafat Islam Dari Klasik Hingga Konteporer, (Yogyakarta ; Ar-Ruzz Media, 2016), h.107.

mendapat perhatian dari para pelajar, mayarakat dan sampai datang kepadanya suatu masa Al-Ghazali menjauhkan diri dari masyarkat ramai.

Pada tahun 488 H Al-Ghazali pergi ke Makkah untuk menunaikan Haji, setelah itu ia pergi ke negara Syam (Siria), untuk mengunjungi Baitul-makdis, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Damaskus dan menetap di masjid Al-Umawi. Pada masa itu Al- Ghazali mengarang kitab “IHYA”. Keadaan hidup dan kehidupannya pada saat itu sangat sederhana, dengan berpakaian kain kasar, menyedikitkan makan dan minum, mengunjungi masjid- masjid serta desa dan selalu melatih dirnya untuk memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap perjalanannya.

Al-Ghazali kembali ke Bagdad untuk mengadakan majlis pengajaran dan menerangkan isi dan maksud dari kitabnya “Ihya”, setelah itu Al-Ghazali pergi ke Nisapur dan mengajar disana. Akhirnya, Al-Ghazali kembali ke kampung asalnya Thusia lalu mendirikan sebuah madrasah untuk ulama-ulama fiqih dan pondok untuk kaum shufi (ahli tasawuf) yang didirikan di samping rumahnya. Dalam satu harinya Al-Ghazali membagi waktunya antara membaca Al-Qur’an, mengadakan pertemuan dengan kaum shufi, mengajar, dan lain-lain. Cara hidup yang demikian diteruskan sampai akhir hayatnya, pada hari senin tanggal 14 Jumadil-akhir tahun 505 H / 1111 M di Thusia ia wafat. Jenazahnya dikebumikan

di makam Ath-Thabiran, berdekatan dengan makam Al-Firdaus, seorang ahli sya’ir yang termashur. Sebelum meninggal Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yaitu: “kuletakkan arwahku dihadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa depan”.

2. Latar Belakang Intelektualitasnya

Pendidikan awalnya di Thus, lalu di Jurjan, dalam bidang hukum (fiqh) di bawah bimbingan Abu Nasr Al-Ismaili (1015- 1085M). Pada usia 20 tahun, ia pergi ke Nisabur untuk mendalami fiqh dan teologi Al-Juwaini (1028-1085M) yang kemudian menjadi asisten gurunya sampai sang guru wafat. Al-Juwaini adalah tokoh yang berperan penting dalam memfilsafatkan teologi Asy’ariyah.

Menurut Tajuddin Al- Subki (w.1379M), ia mengenalkan Al- Ghazali pada filsafat termasuk logika dan filsafat alam lewat disiplin teologi. Selain mendalami fiqih dan teologi, di Nisabur Al- Ghazali juga belajar dan melakukan praktik tasawuf dibimbing Abu Ali Al- Farmadzi (w.1084M), tokoh sufi asal Thus, murid Al- Qusyairi (986-1072M).

Hanya saja, menurut Osman bakar, pada saat pertama ini, Al- Ghazali tidak berhasil mencapai tingkat di mana sang sufi menerima inspirasi dari alam ‘atas’. Ia juga mempelajari doktrin-

doktrin Ta’limiyah hingga Al-Mustadzhir menjadi khalifah (1094- 1118M).30

Pada 1091M, Al-Ghazali diundang oleh Nidham Al-Mulk (1063-1092M), wazir dari Sultan Malik Syah I (1072-1092M) untuk menjadi guru besar di Nidhamiyah, Baghdad. Undangan dan penghormatan yang diberikan pihak penguasa kepada Al-Ghazali ini, menurut Osman Bakar, disebabkan penguasa dari kalangan Bani Saljuk (1037-1194M) tersebut secara kebetulan sama-sama bermazhab Syafi’i (767-820M) dalam fiqh dan Asy’ari (874-936M) dalam teologi, di samping adanya tujuan-tujuan politik dari pihak penguasa, demi mengukuhkan kedudukannya.

Namun, lepas dari itu semua, selama di Baghdad ini Al- Ghazali berhasil menuntaskan kajiannya tentang teologi, filsafat, ta’limiyah, dan tasawuf. Masa-masa di Baghdad merupakan periode penulisan paling produktif. Akan tetapi, disisi lain perkenalannya dengan empat aliran ini ternyata justru menyebabkan Al-Ghazali mengalami krisis epistemologis yang kemudian memaksanya mengundurkan diri dari jabatannya, lalu mengasingkan diri dan melakukan pengembaraan selama 10 tahun, dimulai ke Damaskus, Yerussalem, Makkah, kembali ke Damaskus, dan terakhir ke Baghdad.

Setelah lama dalam pengasingan spiritual, setelah

menyakinkan dirinya bahwa “kaum sufilah orang yang menempuh

jalan kepada Tuhan secara benar dan langsung’, dan setelah merasa mencapai tingkat tertinggi dalam realitas spiritual, Al-Ghazali mulai merenungkan dekadensi moral dan religius pada komunitas kaum Muslimin saat itu, bersama dengan itu, Fakhr Al-Mulk, penguasa Khurasan (1095-1113M), memintanya mengajar di Nisabur, tahun 1105. Namun, di Nisabur ini Al-Ghazali tidak lama, hanya sekitar 5 tahun, karena pada tahun 1110M ia kembali ke Thus.

3. Karya-Karya Al-Ghazali

Al-Ghazali meninggalkan beberapa karya yang tidak dapat dilupakan oleh ummat muslimin khususnya dan bagi dunia pada umumnya menurut penelitiannya Saiful Anwar, setidaknya ada 72 karya tulis yang di wariskan Al-Ghazali, kitab yang dianggap

monumental diantaranya:31

1) Kitab Ihya Ulum al-Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu religius) terdir dari empat jilid besar, sebuah kitab yang ditulis untuk memulihkan keseimbangan dan keselarasan antara dimensi eksoterik dan esoterik islam.

2) Tahafutul-falasifah (kerancuan para filsafat) 3) Mi’yar al-ilm (standar pengetahuan)

4) Mihak al-Nadzar fi al-Manthiq (Batu Uji Pemikiran Logis) Sedangkan karya Al-Ghazali dalam bidang teologi, antara lain:

1) Qawaid al-Aqa’id (prinsip-prinsip keimanan) 2) Al-Iqtisha fi al-tiqad (muara kepercayaan)

Karya Al- Ghazali dalam bidang ushul fiqh, yaitu:

1) Al-Mustashfa min Ilm al-Ushul (Intisari ilmu

tentang pokok-pokok Yurisprudensial)

2) Al-Mankhul min Ilm al-Ushul (Ikhtisar Ilmu tentang prinsip-prinsip)

Karya Al-Ghazali dalam bidang tasawuf, antara lain: 1) Al-Kimia al-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan) 2) Misyukat al-Anwar (ceruk cahaya-cahaya) Karya Al-Ghazali dalam kebatinan, antara lain:

1) Qisthas al-Mustaqim (neraca yang lurus) 2) Al-Mustadzir

Dokumen terkait