AL-GHAZALI DAN ARISTOTELES DI ERA MODERN A. Persamaan Dalam Usaha Mencapai Kebahagiaan
B. Relevansi Kebahagiaan Menurut Al-Ghazali Dan Aristoteles di Era Modern
Relevansi adalah hubungan atau keterkaitan, dalam hal ini relevansi yang dimaksudkan yaitu hubungan atau keterkaitan pandangan Al-Ghazali dan Aristoteles di era modern. Modernisasi dapat merubah sikap atau perilaku manusia baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya pergeseran kebiasaan dari kebiasaan tradisional ke kebiasaan alat atau teknologi. Kemudahan yang di tawarkan di era modernisasi rupanya akan mengubah kebiasaan bergotong royong menjadi kebiasaan individual, dari kebiasaan memproduksi menjadi konsumerisasi, dari kebiasaan musyawarah menjadi otoriter dan lain-lain. Apabila kebahagiaan seseorang bergantung kepada keinginan yang beragam di era modern kemungkinan terbesar jika dapat di capai akan merasakan kebahagiaan namun apabila tidak tercapai akan membawa sebuah kekecewaan. Lalu bagaimana mengatasi masalah kebahagiaan yang banyak itu sehingga tidak terjadi sebuah kekecewaan manusia.
1. Mengatasi Problem Hedonisme
Hedonisme di era modern biasanya ditandai dengan adanya gaya hidup serba mewah dan memiliki uang banyak serta dipergunakan dengan berlebihan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kesenangan atau kenikmatan sebagai tujuan hidupnya. Banyak cara untuk mendapatkan kebahagiaan salah satunya dengan hidup mewah, memiliki banyak uang atau harta, memiliki barang antik, jalan-jalan berkeliling antar benua, dan lain- lain. Modernisasi memberikan kemudahan mengakses barang atau jasa yang diinginkan oleh semua orang untuk mendapatkannya.
Seorang hedonis tidak dapat menahan keinginannya untuk mendapatkan atau menikamati yang diinginkan, ia akan selalu memiliki keinginan untuk mewujudkan apa saja yang menurutnya dapat membuat senang dan bahagia. Disisi lain hedonisme akan terlihat baik apabila keinginannya sampai kepada tujuan dan akan merasa senang atau bahagia, tetapi akan terlihat buruk apabila keinginannya tercapai namun tidak merasakan kesenangan atau kebahagiaan, justru merasakan ketidak puasan terhadap tujuannya tersebut, sehingga orang tersebut akan mencari-cari kenikmatan yang menurutnya membawa kesenangan atau kenikmatan.
Menurut Al-Ghazali berlebihan mencintai dunia tidak dianjurkan, karena dapat membuat manusia menjadi lupa dengan dirinya sendiri. Sehinggaa setelah mati akan disiksa oleh sembilan puluh sembilan ular, yang masing-masing punya kepala sembilan.61 Dalam hal ini, yang dimaksud ular merupakan perwujudan atau simbol dari sifat-sifat jahat yang bersemayam dalam jiwa orang kafir, itulah neraka bagi mereka sehingga mereka tidak bisa melarikan diri dari sifat-sifat jahatnya. Dunia yang sifatnya sementara ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam akhirat, apakah mungkin dunia akan bersifat kekal jika manusia mencintai dunia, yang ada manusia mempercayai kematian yang akan merenggut semua nikmat duniawi dan membuatmu jauh lebih menderita dibanding ketika kau terikat kepadanya.62
61 Al-Ghazali, Kῐmiyᾶ´ al-Sᾶ´dah, terj. Kimia Ruhani Kebahagiaan Abadi, h.67.
Dalam hal ini, kebahagiaan akhirat yang abadi tidak dapat ditukar dengan kecintaan kepada dunia yang sementara. Pada perspektif Al-Ghazali dalam mengatasi problem hedonisme di era modern yaitu dengan mengurangi dan menghilangkan sifat cinta kepada dunia supaya tidak mendapatkan siksa di akhirat. Menghindari sifat jahat seperti iri, dengki, benci, munafik, sombong, licik dan lain-lain dalam kehidupan, serta selalu mengingat kebesaran Allah ketika hendak melakukan sesuatu.
Menerima dan mensyukuri segala pendapatan dan penghasilan untuk di pergunakan seperlunya saja sisanya ditabung agar tidak menimbulkan kemubaziran. Memberikan uluran tangan atau
kebermanfaatan bagi masyarakat dan lingkungan seperti
memberikan bantuan sosial, mengikuti kegiatan sosial untuk mendapatkan kebermanfaatan bersama. memanfaatkan waktu yang diberikan di dunia untuk digunakan sebaikmungkin agar suatu saat dapat berguna di akhirat. Memberikan edukasi terkait hedonisme yang dapat membuat kesia-siaan dan ketidak bermanfaatan.
Menurut Aristoteles hedonisme menghindar dari rasa sakit dan mengejar perasaan yang merupakan tujuan pada dirinya sendiri. Orang memang tidak ingin merasakan rasa sakit dan lebih memilih nikmat karena memberi perasaan puas serta mengusahakan apa yang menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Namun Aristoteles cenderung menolak hedonisme, menurutnya ada tiga pola hidup yang membuat kepuasan dalam dirinya sendiri yaitu hidup
mengejar nikmat, hidup berpolitik dan filsafat. Hidup mengejar nikmat disebutkan seperti pola hidup ternak, binatang juga melakukan apapun semata-mata demi pencapaian nikmat (makan, tidur, seksualitas) atau untuk menghindari dari perasaan-perasaan
yang menyakitkan.63
Dalam hal ini, Aristoteles menolak hedonisme karena tidak membedakan manusia dengan binatang, disisi lain Aristoteles juga mempertimbangkan usaha memperoleh nikmat dan untuk menghindari rasa sakit karena nikmat bagi Aristoteles merupakan unsur penting dalam segala segi kehidupan.
Pada perspektif Aristoteles dalam menghadapi problem hedonisme di era modern yaitu mengutamakan mengejar nikmat, hal ini dapat di maksudkan bahwa mencari sebanyak-banyaknya nikmat akan mendapatkan kebahagiaan di dunia. Namun apabila seseorang berlebihan memaksakan untuk mendapatkan kenikmatan justru akan mengelak darinya. Kenikmatan hidup yang bersifat indrawi seperti makan enak, hidup mewah, seksualitas jika semakin dikejar justru akan mengecewakannya dan tidak mendapatkan kebahagiaan.
Di era modern ini yang terjadi adalah memperlihatkan kebahagiaan dengan cara kemewahan, artinya mempertunjukan kekayaan untuk mendapatkan perhatian masyarkat umum untuk memberitahukan bahwa kekayaan merupakan cara mendapatkan
kebahagiaan, dalam hal ini salah besar karena kekayaan tidak akan menjamin sebuah kebahagiaan, disisi lain orang sederhana dengna penghasilan pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya justru mendapatkan kebahagiaan.
2. Mengatasi Problem Materialisme
Materialis di era modern menjelaskan tentang kebutuhan materil yang dibutuhkan oleh manusia, apabila di penuhi oleh manusia makan manusia akan merasakan sebuah kepuasan atau kebahagiaan. Di sisi lain materialisme dipahami sebagai uang, yang dapat membeli kebutuhan manusia dan dapat membuat orang bahagia. Materialis dapat menyebabkan ketergantungan terhadap suatu benda materil, ketidak puasan terhadap suatu barang karena tidak sesuai keinginan dan menjadi seorang yang konsumtif (tidak puas dengan hanya satu barang atau jasa).
Pesatnya kebutuhan akan barang dan jasa yang dibutuhkan manusia modern serta kemudahan akses barang dan jasa mengakibatkan ketidak pastian kebutuhan yang jumlahnya sangat banyak. Sehingga manusia membutuhkan uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan yang banyak juga.
Menurut Al-Ghazali, dunia menipu manusia dengan cara-cara seperti menampakkan diri sebagai sesuatu yang remeh dan sepele, tetapi setelah dikejar ternyata ia punya cabang yang begitu banyak
dan panjang sehingga waktu dan energi manusia dihabiskan untuk mengejarnya.64
Maksudnya seorang yang memperlihatkan nafsunya akan tenggelam dalam dunia, semakin banyak harta yang dinikmati maka akan semakin berat beban yang dirasakan sampai mereka dipishkan oleh kematian. Saat kematian datang, akan terasa berat bagi manusia yang sudah cinta kepada harta atau nafsunya, karena jiwanya sudah dilekati sifat tamak sehingga mereka akan menderita dikarenakan nafsunya. Terlalu cinta dunia justru akan mempersulit jalan kebahagiaan, namun jika mencintai Allah akan mempermudah jalan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Menjalin hubungan baik dengan Allah akan memudahkan kita dalam mendapatkan kebahagiaan dan di jauhkan dari sifat-sifat tercela.
Pada perspektif Al-Ghazali tentang menyelesaikan problem materialisme di era modern yaitu dengan menjauhi segala larangan- Nya dan mendekatkan diri kepada perintah-Nya, hal ini sangat penting dikarenakan uang dapat membuat seseorang silau dengan dunia sehingga melupakan akhirat. Di era modern sekarang lebih dominan orang melakukan apapun untuk mendapatkan uang, sehingga apabila yang dilakukan adalah keburukan maka keburukan itu akan ia dapatkan, namun apabila yang dilakukan
dengan kebaiakn makan akan mendapatkan kebahagiaan.
Berlebihan dalam membelanjakan uang untuk keperluan yang sebenarnya tidak dibutuhkan juga dapat memberikan kesan tidak baik pada kehidupannya. Kebahagiaan yang dicari selama ini tidak hanya sesuatu hal yang berkaitan dengan harta atau kemampuan untuk mendapatkannya, namun kebahagiaan di era modern sekarnag yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut Aristoteles kebahagiaan bukan terletak pada kenikmatan maupun kekayaan, melainkan pada aktualisasi potensi- potensi dan fungsi-fungsi khas jiwa manusia. Beberapa manusia menginginkan harta yang berlebih, tanpa mengenal berkecukupan untuk mencapai kebahagiaan, bisa jadi terdapat kesalahan dalam dirinya karena harta dijadikan tujuan untuk kebahagiaan.
Apabila kekayaan sudah tercapai sebanyak-banyaknya, apakah kebahagiaan akan selalu bersamanya, pasti ada kekurangan yang membuat diri menjadi tidak bahagia. Manusia tercermin dari tindakan tapi juga memiliki sifat yang konsisten dalam melakukan tindakan tapi juga memiliki tindkan yang konsisten dalam melakukan tindakan. Tidak hanya menunjuk kepada orang yang selalu berbuat baik, yang pertama-tama menandakan orang yang kuat batinnya, mantap, tidak mudah goyah, berani dan dapat diandalkan.65
Pada perspektif Aristoteles tentang menyelesaikan problem materialisme di era modern yaitu perilaku ingin mendapatkan
banyak materi untuk mencapai kebahagiaan justru akan mendapatkan kesia-siaan karena di era ini kebutuhan barang dan jasa semakin banyak dan beragam membuat seseorang tidak dapat memastikan apakah kebahagiaan yang nantinya didapatkan akan bersifat selamanya atau hanya sementara.
Dalam sebuah keluarga modern apakah dengan satu kendaraan bermotor sudah cukup untuk keluarganya, pasti masih kurang cukup minimal satu keluarga apabila terdiri dari tiga orang harus memiliki tiga kendaraan bermotor untuk dapat merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang di dapatkan dari suatu barang atau jasa biasanya bersifat sementara, berbeda dengan kebahagiaan yang disalurkan berupa barang atau jasa yang dibutuhkan orang lain akan bersifat selamanya. Intropeksi dalam setiap masalah materil yang dihadapi akan lebih mudah di netralisir dari pada harus menghindar dari masalah tersebut.
67 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan
Kebahagiaan menurut Al-Ghazali dijelaskan bahwa, kebahagiaan dibagi menjadi dua yaitu yang dapat dirasakan melalui anggota badan dan yang dapat dirasakan melalui hati atau jiwa. Jika kebahagiaan dirasakan atau didapatkanpa oleh anggota badan maka bahagialah anggota badannya, dan apabila kebagiaan dirasakan atau didapatkan oleh hati maka hati atau jiwanya bahagia.
Kolaborasi antara intuisi indrawi dengan hati atau jiwa akan menghasilkan suatu kebahagiaan tersendiri kepada manusia. Menurut Aristoteles tentang kebahagiaan, yaitu kebahagiaan bukanlah yang bersifat egois yang terfokus pada yang dapat membantu dalam pencapaian kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
Kebahagiaan adalah hidup yang terintegritas dan memuaskan, dapat diperoleh manusia di dunia jika manusia berupaya keras untuk mengusahakan. Al-Ghazali dan Aristoteles, memiliki pandangan yang sama mengenai usaha mencapai kebahagiaan, harus didasari dengan berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan. Dan tujuan akhir dari manusia adalah kebahagiaan, Al-Ghazali dan Aristoteles memiliki kesamaan. Mengatasi problem hedonisme di era modern menurut perspektif Al-Ghazali yaitu menjadikan hati sebagai pengendali atas banyaknya keinginan, membatasi diri terhadap hal-hal yang dapat menjerumuskan.
Sedangkan menurut perspektif Aristoteles yaitu melakukan hal-hal yang dinikmati dan menghindari hal-hal yang menyakiti secara seimbang, karena hal yang nikmat belum tentu kenikmatan dan hal yang menyakitkan belum tentu menyakutkan. Mengatasi problem materialisme dari perspektif Al-Ghazali yaitu cermat dalam memilih dan menikmatinya supaya tidak membawa kepada kehancuran diri, dimana seharusnya suatu kenikmatan dapat membawa kebahagiaan. Menurut Aritoteles yaitu kebahagiaan bukan terletak pada kenikmatan maupun
kekayaan.
B. Saran
Kebahagiaan dari perspektif Al-Ghazali dan Aristoteles
memberikan sudut pandang yang menarik untuk dibahas, sehingga dapat memperluas wawasan pengetahuan, kedepan semoga dari penelitian ini dapat membuka kajian-kajian baru lagi dari pemikiran dan perspektif Al-Ghazali dan Aristoteles, baik dari sudut pandang jiwa, karya ataupun aliran pemikirannya. Serta kedepan semoga kajian ini dapat menjadi referansi penelitian selanjutnya, karena banyak informasi yang akan didapatkan dari penelitian ini. Kedepan mengenai kajian kebahagiaan agar dapat mengambil tokoh-tokoh ulama nusantara ataupun tokoh-tokoh nasional, supaya didapatkan khazanah intelektual. Kedepan semoga tidak hanya kebahagiaan lebih dalam lagi dari berbagai perspektif tokoh baik antar tokoh filsafat islam ataupun tokoh filsafat barat.
69