BAB II LANDASAN TEORI
H. Problematika Penerjemahan dan Langkah Pemencahannya
Proses dan kegiatan penerjemahan adalah proses untuk mengetahui informasi yang disampaikan oleh sesorang dalam bahasa sumber yang kemudian seorang penerjemah berusaha untuk mengetahui apa yang disampaikan oleh informan dan menjelaskannya kepada pihak kedua, oleh karena itu dalam pelaksanaan kegiatan tersebut seorang penerjemah berhubungan dengan dua bahasa, sedangkan dua bahasa tersebut secara ligustik mempunyai kaidah kebahasaan tersendiri. Ini menjadi satu sebab kesulitan dan problematika dalam penerjemahan, kemudian dari sisi non ligustik .
Diantara kesulitan lingistik dalam penerjemahan antara lain pertama: kesulitan kosa kata yang sering dijumpai karena pengetahuan tentang kosa kata suatu bahasa yang amat terbatas yang terdapat dalam teks-teks bahasa pertama, kedua: kesulitan tata kalimat, ketiga, kesulitan transliterasi, keempat, perkembangan bahasa bergantung pada perkembangan ilmu sains, sedangkan kesulitan non lingguistik biasanya menyangkut masalah sosial dan kurtural109.
Menurut Nur Mufid dan Kasirun AS. Rahman pada umumnya persoalan kesulitan penerjemahan tidak beda jauh dengan apa yang disampaikan oleh Ahmad Izzan diatas bahwa kesulitan penerjemahan berkisar pada dua hal yang sangat penting dikarenakan penerjemah dihadapkan kepada persoalan mencari padanan yang terkadang penerjemah menemukan ketidak
108 M.Zaka AL-Farisi, Pedoman Penerjemahan Arab Indonesa, (Bandung: 2014), h. 53
sepadanan, kesulitan tersebut adalah berkisar pada persoalan lingguistik dan non lingguistik110.
Kesulitan - kesulitan yang ditemukan oleh seorang penerjemah harusnya dicarikan solusi pemecahannya, sebab jika tidak maka hasil yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah akan menghasilka terjemahan yang tidak baik. Namun kita dapat mengukur berkualitas ataupun tidak hasil terjemahan tersebut dengan melihat syarat-syarat terjemahan yang baik dan benar diantaranya adalah pertama, bentuk terjemahan dapat berdiri sendiri sehingga dapat menggantikan dan menduduki tempat yang sama dengan teksnya yang asli.kedua, hasil terjemahan tidak boleh ditambah dan dikurangi karena terjemahan haruslah sesuai dengan dan meniru teksnya yang asli
ketiga, terjemahan haruslah memenuhi semua makna dan maksud dari teks
asli, keempat, terjemahan harus memberi kepastian semua makna dan maksud yang diterjemahkan111.
Supaya tarjamahan menghasilkan hasil penerjemahan yang berkaualitas dan bermutu maka semua kesukaran tersebut haruslah ditemukan langkah-langkah untuk memecahkan kesulitan tersebut. Para ahli membuat langkah-langkah agar penerjemah terhindar dari kesulitan diantaranya adalah: 1. Memahami ide atau gagasan yang terdapat dalam teks asli karena tidak ada
artinya bila kita menerjemahkan teks yang tidak kita fahami.
2. Memindahkan ide-ide atau gagasan yang difahaminya itu dengan bahasa dan ungkapan yang benar.
3. Perluasan,penambahan kata-kata dalam bahasa target.
4. Penyempitan, pengurangan, atau reduksi penyederhanaan dalam bahasa target dengan membuang satu atau beberapa kata.
5. Mengubah sususnan kalimat sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa target.
6. Menyediakan kamus-kamus standar yang berisi kosakata yang baku.
110 Nur Mufit dan Kasirun AS.Rahman, Buku Pinter Menerjemah Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 2007), h. 32
7. Berusaha secara intensif menguasai qawaid (baik nahwu, sharf, maupun balagah) secara teoris dan praktis.
8. Berusaha memiliki kemampuan dua bahasa baik bahasa asli maupun bahasa target.
9. Mencari dan mengikuti perkembangan bahasa, khususnya istilah yang ada pada jenis buku yang akan diterjemahkan .
10. Mengetahui latar belakang sosial kurtural bangsa Arab dulu maupun sekarang112
Seorang penerjemah yang ingin menghasilkan hasil terjemahan yang baik maka haruslah juga memiliki bekal-bekal sebagai berikut ini:
1. Penguasaan dan pengetahuan yang luas mengenai kosa-kata bahasa sumber maupun bahasa target.
2. Pengetahuan yang mendalam mengenai kaidah-kaidah kebahasaan baik bahasa sumber maupun bahasa target.
3. Pengetahuan yang luas mengenai berbagai disiplin ilmu khusus menyangkut teks yang akan diterjemahkan.
4. Seorang penerjemah haruslah memiliki sifat jujur dan amanah.
5. Penerjemah haruslah memilki sifat sabar, karena kegiatan penerjemahan adalah adalah satu kegiatan yang memerlukan kesabaran.
6. Kemampuan penerjemah menghasilkan hasil terjemahanyang mendekati gaya bahasa teks asli.
7. Bahkan seorang penerjemah haruslah memiliki daya imajinasi yang dalam113.
I. Proses Penerjemahan Sebuah Teks
Akmaliah dan Nur Mufid menjelaskan petunjuk praktsis ketika penerjemah menterjemahkan suatu teks adalah bahwa ada tujuh langkah yang hampir sama dengan yang dipaparkan oleh Ahmad Izzan dalam persoalan syarat suatu penerjemahan yang baik, serta solusi berbagai persoalan
112 Ahmad, Metodelogi ..., h. 187
penerjemahan. Menurut Nur mufid secara global proses penerjamahan tersebut ada tiga tahap yaitu tahap analisa teks bahasa sumber, tahap pengalihan pesaan dan tahap restukturisasi. Secara rinci beliau mengutip pendapat Muhammad Najib bahwa langkah-langkah tersebut adalah114:
1. Membaca teks secara sekilas untuk menangkap ide-ide, tema dan gagasan umum yang terdapat dalam teks yang akan diterjemahkan.
2. Jka diperlukan, penerjemah membaca ulang teks yang akan diterjemahkan untuk menangkap seluruh isi teks sampai detil-detilnya.
3. Pembacaan ketiga. Dalam tahap ini penerjemah membaca teks paragraf demi paragraf. Ia harus mengetahui arti istilah-istilah yang digunakan. 4. Membaca kalimat-kalimat kemudian menerjemahkannya
5. Melakukan revisi-revisi untuk menyesuaikan hasil terjemahan dengan gaya bahasa target, juga melakukan koreksi-koreksi teknis ataupun yang lainnya.
6. Membaca kembali hasil terjemahan untuk menemukan diksi,kata penghubung,dan istilah-istilah yang paling tepat dan sesuai dengan bahasa sasaran.
7. Pembacaan terakhir.Untuk memastikan bahwa sudah tidak ada lagi kesalahan-kesalahan gramatikal,gaya bahasa maupun pemakaian istilah-istilah.
Sedangkan menurut Akmaliah115 mengutip pendapat Ronalt H.Bathgate menerangkan tujuh langkah penerjemahan ketujuh langkah tersebut adalah:
1. Tuning (penjajagan, taaruf)
yaitu upaya penerjemahan mengenai naskah dengan seksama,mengamati sampul bukunya,judul buku ataupun teksnya,isi buku dan daptar isinya sambil menimbang-nimbang apakah penerjemah dapat melakukan proses terjemahan terhadap buku tersebut.
2. Analysis (penguraian, altahlil)
114 Nur Mufid, Buku Pinter... ..., h. 26-27
adalah upaya penerjemah menguraikan rangkaian kalimat dalam bahasa sumber kedalam bahasa sasaran menjadi kata ataupun prasa melakukan hubungan sintaksis antara unsur-unsur kalimat,memahami peristilahan,dan mencari padanannya dalam bahasa sasaran.
3. Understanding (pemahaman)
yaitu upaya penerjemah memahami isi teks, dari mulai paragraf demi paragraf, agar memudahkan penerjemah melakukan kegiatan terjemahannya dan menghasilkan terjemahan sebagaimana yang diharapkan.
4. Peristilahan (terminologi)
Yaitu penerjemah mengungkapkan istilah-istilah dalam bahasa sasaran dengan cermat dan selaras.
5. Perakitan (restructuring)
Penerjemah melakukan penyusunan kalimat-kalimat terjemahan yang dilakukan secara wajar dan mengikuti aturan ma’na dan gaya bahasa sasaran namun tidak menyimpang dari pesan-pesan yang ditulis oleh penulis.
6. Pengecekan(checking)
Penerjemah melakukan pengecekan penggunaan kata dan tanda baca serta susunan kalimat yang dipakai.
7. Pembicaraan (discussion)
Penerjemah melakukan pembicaraan ataupun pembahasaan atas hasil penerjemahan berupa isi dan bahasanya.