BAB II LANDASAN TEORI
METODOLOGI PENELITIAN
A. Temuan umum
2. Sejarah Berdirinya Dayah Terpadu Darul Mukhlisin
Sejarah berdirinya Dayah Darul Mukhlisin dilatar belakangi dari pemikiran untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan pembinaan terutama dalam bidang ilmu - ilmu keislaman guna mencerdaskan kehidupan masyarakat khususnya di dataran tinggi tanah Gayo, dengan didukung oleh sejumlah masyarakat di daerah Burnijimet Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah dan sekitarnya untuk mengadakan kegiatan pengajian dalam rangka pembinaan dan pengembangan ilmu-ilmu agama Islam.
Sejarah berdirinya Dayah Terpadu Darul Mukhlisin merupakan inisiatif dari pendiri dayah itu Drs. Tgk H. M. Hasan Tan sebagai respon terhadap kebutuhan pembangunan manusia khususnya dalam bidang ilmu - ilmu agama Islam. Pendirian Dayah Darul Mukhlisin juga dipengaruhi oleh jarak tempuh dari wilayah tengah Aceh ke Pesisir yang dirasa sangat sulit dan membutuhkan biaya serta waktu yang tidak sedikit. Selain itu kondisi keamanan Aceh yang kurang kondusif karena menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) sekitar tahun 1990 an sehingga akses masyarakat terhadap pendidikan dayah di daerah pesisir mengalami keterbatasan, sehingga keinginan Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan semakin memuncak untuk
mendirikan dayah dengan mewakafkan sebidang tanah untuk pembangunan dayah dalam kondisi yang sangat sederhana sebagai cikal bakal yang dijadikan sebagai wadah pertama kegiatan pembelajaran bagi para santri Dayah Terpadu Darul Mukhlisin.
Kabupaten Aceh Tengah merupakan zona pertanian, berhawa dingin sehingga profesi mayoritas masyarakat adalah petani. Mengingat kebutuhan dan antusias masyarakat yang mayoritas petani sangat tinggi terhadap pendidikan agama untuk mengembangkan kemampuan penguasaan ilmu - ilmu duniawi dan ukhrawi, sebab akses terhadap pendidikan khususnya pendidikan keagamaan tahun 90-an masih sulit dan sangat terbatas, maka dirasa sangat diperlukan sebuah lembaga pendidikan keagamaan, keinginan masyarakat disambut oleh Drs. Tgk. H. Hasan Tan dengan mewakafkan sebidang tanah seluas ½ haktare yang dianggap tidak produktif untuk bercocok tanam bagi masyarakat sebagai cikal bakal lokasi dayah. Maka pada tanggal 20 juli 1990, Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan bersama Tgk. Adnan Yakub, bapak Rutih dan Drs. Fauzi. M. Saleh bekerja mempersiapkan pendirian Dayah Terpadu Darul Mukhlisin. Di atas tanah wakaf tersebut kemudian dididirikan sebuah bale (balai) dan asrama sederhana yang bahan bakunya kayu gelondongan, atap dari daun rumbia sebagai tempat shalat, belajar dan tempat tinggal santri, oleh para pendiri dan masyarakat sekitar bekerja secara gotong royong, sebagai institusi pendidikan keagamaan masyarakat Takengon dan sekitarnya. Begitu besarnya harapan terebut, sehingga Drs. Tgk. M. Hasan Tan sangat optimis bahwa dari sebidang tanah yang tidak produktif dengan bangunan bale dan asrama sangat sederhana yang kecil ini akan muncul pemimpin-pemimpin handal di masa yang akan datang.
Keberadaan Dayah Terpadu Darul Mukhlisin diceritakan oleh Putra dari Pendiri yang saat ini melanjutkan tongkat estapet sebagai pimpinan Dayah Darul Mukhlisin, yaitu: “Dayah Terpadu Darul Mukhlisin didirikan oleh Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan bin Muhammad Tawar yang lahir di Bebesen tahun 1947 yang kemudian menetap di desa Tan Saril. Di
desa inilah terdapat lokasi yang diberi nama dengan Burni Jimet di mana Dayah Darul Mukhlisin berdiri di atas lahan seluas ½ haktare. Sejalan dengan pendirian Dayah Terpadu Darul Mukhlisin sekaligus mendirikan Madrasah Tsanawiyah Darul Mukhlisin dan Madrasah Aliyah Darul Mukhlisin di bawah naungan Dayah Terpadu Darul Mukhlisin. Dayah ini didirikan bertujuan untuk mencetak kader-kader ulama di Aceh Tengah, dan mencetak generasi yang memiliki wawasan keagamaan yang mampu menjadi panutan masyarakat dalam menjalankan ajaran syari’at Islam”.275
Setelah antusias dan kebutuhan masyarakat dengan keinginan pendiri menyatu dalam wujud lahirnya sebuah institusi pendidikan Islam yang awalnya diberi nama Pondok Pesantren Modern Darul Mukhlisin, gayung pun bersambut, antara kebutuhan masyarakat Dataran Tinggi Tanah Gayo Takengon dengan hasrat yang kuat dari pendiri terhadap ketersediaan sebuah wadah menuntut ilmu, dengan cita-cita keluarga Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan dalam mendirikan institusi pendidikan Islam.
Wujud kehadiran Dayah Terpadu Darul Mukhlisin telah terealisasi pada tahun 1990, dengan komitmen yang kuat Drs. Tgk. H.M Hasan Tan bersama beberapa rekan dan kerabat beliau, yang bernama Tgk. Adnan Yakub merupakan lulus dari Dayah Tanah Merah, yang sejak awal pendirian telah bergabung berkontribusi sebagai pengajar dalam mewujudkan Dayah Unggulan di Wilayah Tengah Aceh. Upaya-upaya pengembangan secara dinamis dilakukan, dengan menyibak berbagai hambatan yang muncul baik dari internal maupun eksternal, dengan komitmen yang kuat dari para pendiri Dayah Darul Mukhlisin mampu eksis bersaing dengan institusi sejenis di wilayah tengah Aceh, bahkan mengungguli dan menjadi lembaga pendidikan Islam kebanggaan di dataran tinggi tanoh Gayo, Takengon.
Dataran tinggi tanah Gayo Takengon yang dijejeri perbukitan telah menjadi saksi kelahiran salah satu Dayah Terpadu sebagai wadah untuk
275 Hasil wawancara dengan Tgk H. Mufassirin Hasan, MA, sebagai pimpinan Dayah Darul Mukhlisin hari Sabtu tanggal 06 Juli 2019, pukul 09.30 WIB
membina dan mendidik kader-kader muda sebagai penerus perjuangan ulama dalam menyebarkan dakwah islamiyah. Dayah Terpadu Darul Muklisin Burni Jimet, Kampung Kebet Kecamatan Bebesen, Kota Takengon, berdiri tegak di areal seluas 1.500 meter persegi di lereng bukit Burni Jimet Desa Tan Saril yang dikelilingi ratusan batang pohon kopi. Perjalan Dayah Darul Mukhlisinsejak awal berdiri dijelaskan oleh pimpinan dayah, yaitu:
“Pada awal pendiriannya Dayah Darul Mukhlisinsangat sulit, dengan fasilitas yang sangat terbatas, perintis pertama dayah ini hanya memiliki santri berjumlah 36 orang, di tahun berikutnya (1991) jumlah santri bertambah 150 orang, dan di tahun ketiga dayah ini mulai diminati banyak orang, santri baru yang mendaftar pada tahun 1992 berjumlah 345 orang. Dayah Darul Mukhlisin telah resmi beroperasi sejak tahun 1990, Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan, sebagai pendiri sekaligus pimpinan serta pengajar di Dayah Darul Muklisin, Burni Jimet. Secara administratif legalitas dayah ini diperkuat dengan diterbitkannya Akte Notaris oleh Sundari Siregar, SH, pada tanggal 24 Agustus 1992, Nomor 73, dengan nama Yayasan Pendidikan Pesantren Moderen Darul Mukhlisin Burni Jimet Takengon, yang menaungi penyelenggaraan Pondok Pesantren Modern Darul Mukhlisin, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah Darul Mukhlisin”.276
Pada awal berdirinya hanya berupa pondok panggung kecil berbahan kayu gelondongan dan beratapkan serule (sejenis rumbia) yang bertahan hanya enam bulan. Sedangkan, lantai tanah,dan meja belajar terbuat dari papan yang digunakan sebagai tempat belajar para santri. Melihat kondisi bangunan dayah yang tidak layak lagi, Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan memutuskan untuk mendirikan bangunan berkonstruksi beton dengan pembiayaan bersumber dari SPP, sumbangan, shadaqah, wakaf, dan sumber lain yang tidak mengikat.
Kemudian, setelah bangunan pondok panggung kecil (bale) berbahan kayu bulat gelondongan dan beratapkan serule (sejenis rumbia) dengan lantai papan, Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan secara otomatis menjadi pimpinan dan pengajar. Rumah tempat tinggal Drs. Tgk. H. M. Hasan Tan berjarak 200m dari lokasi dayah juga dijadikan sebagai tempat belajar santri, dan dibelakang rumah pimpinan dibangun asmara putri (santriwati), sejalan dengan eksistensinya yang terus mengalami perkembangan antusias masyarakat semakin kuat untuk memasukkan anak mereka ke Dayah tersebut, sehingga jumlah santri semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pertambahan jumlah santri menuntut adanya perluasan lahan dan pemenuhan sarana prasarana, bangunan yang tersedia tidak mampu menampung jumlah santri yang semakin bertambah. Berbagai upayapun dilakukan melalui pertemuan dengan para pendiri, orang tua santri dan pewakaf untuk membicarakan program perluasan lahan dan pendirian bangunan tempat pembelajaran karena ketersediaan fasilitas belajar sangat mendesak, maka kerja keras pendiri bersama para santri untuk mencari kayu dan material lainnya sebagai bahan bangunan asrama dan ruang/kelas tempat belajar bagi santri.