• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Produksi, Harga Jual, Penerimaan dan Pendapatan

5.4.1 Produksi dan Harga Jual

Produksi merupakan keseluruhan hasil panen yang dihasilkan dalam kegiatan usahatani yang dinyatakan dalam satuan kg atau ton. Produktifitas adalah perbandingan antara jumlah produksi dengan luas lahan dalam suatu kegiatan usahatani yang dinyatakan dalam satuan kg/ha atau ton/ha. Produksi kebun karet rakyat Desa Kampung Dalam adalah Lump. Lump merupakan getah pohon karet yang dibiarkan membeku secara alamiah dalam mangkuk. Lump merupakan karet berkadar air sekitar 50%. Jadi untuk lump seberat 1 kg, jika dikeringkan menjadi 0,5 kg karet kering. Produksi lump dijual petani (dengan harga yang sedikit berbeda diantara mereka) dikalikan harga jual masing-masing petani menghasilkan penerimaan (Revenue). Penerimaan dikurang dengan biaya total disebut pendapatan (Income), pendapatan ditambah biaya TKDK memberikan pendapatan keluarga (Family Income).

Tabel 25. Rataan Produksi Getah Karet Lump per Petani dan Per Ha.

No Uraian Rataan Interval

Sebelum Harga Getah Karet Turun

1 Produksi Per Petani, Kg lump 14.200 3000-38000

2 Produksi Per Ha, Kg lump 3.380,47 2666-4000

Sesudah Harga Getah Karet Turun

1 Produksi Per Petani, Kg lump 12.050 2500-35000

2 Produksi Per Ha, Kg lump 2.850,27 2334-3667 Sumber : Analisis Data Primer, 2016(Lampiran 4,11)

48

Pada Tabel 25menunjukkan bahwa rata-rata produksi lump/petani sebelum harga getah karet turun adalah 14.200 kg atau 14,20 ton, sesudah harga getah karet turun maka produksi getah karet menjadi 12.050 kg atau 12,05 ton. Produksi sesudah harga jual getah karet turun sebesar 15% dibandingkan dengan produksi sebelum harga jual getah karet turun.

Produksi per hektar sebelum harga jual getah karet turun adalah 3.380,47 kg/ha atau 3,38 ton/ha dengan interval 2.666-4.000 kg/ha. Sesudah harga turun produktivitas menjadi 2.850 kg/Ha atau 2,850 ton/ha dengan interval 2.334-3.667 Kg/Ha. Produktivitas sesudah turun sebesar 15,6% dibandingkan dengan produktivitas sebelumnya.

Berdasarkan skripsi Selly Natalia pada penelitian tentang pendapatan petani karet di Desa Hatonduhan, Kabupaten Simalungun tahun 2012 memberikan hasil produksi sebesar 2.031 kg/Ha dengan harga jual getah karet Rp12.000/kg sehingga penerimaan Rp23.332.400 dengan pendapatan bersih Rp13.042.356.

Berdasarkan skripsi Murni Tampubolon pada penelitian tentang pendapatan petani karet di Desa Naman Jahe, Kabupaten Langkat pada tahun 2013 memberikan hasil produksi sebesar 2038,5 kg/Ha dengan harga jual getah karet rata-rata Rp 7.600 dengan rentang Rp6.000-Rp9.000 sehingga penerimaan sebesar Rp15.643.650/Ha dengan pendapatan Rp5.922.750/Ha.

Berdasarkan penelitian di atas dibandingkan dengan penelitian di Desa Kampung Dalam, Kabupaten Labuhanbatu pada 2016, Produksi di Desa Kampung Dalam sebelum harga turun tahun 2011 lebih tinggi dibandingkan produksi di Desa Hatonduhan dan Desa Naman Jahe, yaitu 3.380 Kg/Ha. Saat Sesudah harga getah

49

karet turun pada tahun 2016, produksi di Desa Kampung Dalam menurun dibandingkan pada sebelum harga turun, namun lebih tinggi dibandingkan produksi si Desa Hatonduhan dan Desa Naman Jahe yaitu 2.850,27Kg/Ha.

Harga jual adalah besarnya harga yang dibebankan kepada konsumen yang diperoleh atau dihitung dari biaya produksi ditambah biaya non produksi dan laba yang diharapkan (Mulyadi, 2005). Namun pengertian tersebut tidak sesuai untuk petani sebagai produsen. Petani sebagai produsen bertindak sebagai price taker (penerima harga) dan konsumen atau disebut agen getah sebagai price maker(pembuat harga) sehingga petani menjual getah karet sesuai harga yang ditetapkan oleh agen getah. Di desa Kampung Dalam para agen getah melakukan “Lelang Harga” kepada petani setiap hari senin, setelah dilakukan penetapan harga petani menjual getah karetnya pada hari selasa. Pada penelitian ini, peneliti menyajikan data yang berdasarkan kuisioner yang diberikan kepada petani yaitu harga tertinggi, harga terendah, dan harga rata-rata yang diterima petani pada saat sebelum harga jual getah karet belum turun yaitu pada tahun 2011 dan sesudah harga jual getah karet turun yaitu tahun 2016, untuk penerimaan, maka data harga yang digunakan adalah harga rata-rata. Pada penelitian ini pada tahun 2011, rata- rata harga yang diterima petani sampel sebesar Rp 12.000/Kg dengan interval Rp 8.000-18.000/Kg sebelum harga jual getah karet turun dan Rp 5.243,3/Kg dengan interval Rp 4.000-7.000/Kg (Lampiran 4,11).

5.4.2 Penerimaan dan Pendapatan

Penerimaan adalah hasil kali jumlah produksi petani sampel dengan harga yang mereka terima, dalam hal ini yang dihitung adalah harga jual rata-rata pada saat sebelum harga getah karet turun dan sesudah harga getah karet turun. Pendapatan

50

adalah selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi. Dalam hal ini biaya produksi yang dihitung adalah biaya pupuk, biaya herbisida, dan biaya penggunaan tenaga kerja. Pendapatan keluarga merupakan adalah hasil pengurangan pendapatan yang diterima petani dengan biaya Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK).Rata-rata dari penerimaan, pendapatan, dan pendapatan keluarga pada Tabel 26sebagai berikut:

Tabel 26. Rataan Penerimaan dan Pendapatan Petani Sampel Desa Kampung Dalam (Rp/Tahun)

No Uraian Rataan Interval

Sebelum Harga Getah Karet Turun

1 Penerimaan/Petani 180.916.667 24.000.000-570.000.000

2 Pendapatan/Petani 153.913.667 14.825.000-509.850.000

3 Pendapatan/Ha 33.483.179 14.825.000-50.915.000

4 Pendapatan Keluarga/Petani 156.588.333 20.705.000-509.150.000

5 Pendapatan Keluarga/Ha 35.318.846 20.705.000-50.915.000

Sesudah Harga Getah Karet Turun

1 Penerimaan/Petani 63.938.333 11.250.000-210.000.000

2 Pendapatan/Petani 32.498.738 1.632.800-104.653.200

3 Pendapatan/Ha 7.523.697 1.632.800-15.608.250

4 Pendapatan Keluarga/Petani 36.707.738 11.172.600-104.653.200

5 Pendapatan Keluarga/Ha 10.462.780 3.724.200-20.971.000 Sumber : Analisis Data Primer, 2016(Lampiran 18,20)

Pada Tabel 26 menunjukkan bahwa Rata-rata penerimaan per petani adalah Rp180.916.667 sebelum harga getah karet turun dan Rp 63.938.333 sesudah harga getah karet turun atau 35,34% dari sebelumnya. Pendapatan per petani adalah Rp153.913.667 sebelum harga getah karet turun dan Rp 32.498.738 sesudah harga getah karet turun atau 21,1% dari sebelumnya. Pendapatan per hektar adalah Rp33.483.179 sebelum harga getah karet turun dan Rp 7.523.697 sesudah harga getah karet turun atau 22,47% dari sebelumnya.

Pendapatan keluarga per petani adalah Rp 156.588.333 sebelum harga getah karet turun dan Rp 36.707.738 sesudah harga getah karet turun atau 23,44% dari

51

sebelumnya. Pendapatan keluarga per hektar adalah Rp35.318.846 sebelum harga getah karet turun dan Rp 10.462.780 sesudah harga getah karet turun atau 29,62% dari sebelumnya. Pada Tabel 25 juga dapat dilihat bahwa kenaikan pendapatan keluarga dari pendapatan per petani sebelum harga getah karet turun adalah Rp 2.674.666 dan sesudah turun harga getah karet adalah Rp 4.209.000. Hal ini disebabkan sesudah harga getah karet turun beberapa petani memutuskan mengurangi penggunaan pupuk dan herbisida dan meningkatkan intensitas penyadapan, hal ini disebabkan karena penerimaan yang turun menyebabkan pendapatan yang diterima semakin kecil dibandingkan dengan pendapatan sebelum getah karet turun, selain itu alasan lainnya yaitu beberapa petani memutuskan mengurus kebun karetnya sendiri atau memakai TKDK lebih banyak dari sebelumnya, serta kenaikan harga upah TKDK sebelum harga getah karet turun sebesar Rp 30.000-40.000 dan saat turun Rp 35.000-50.000. Dari 30 petani sampel tidak ada yang mengalami kerugian atau petani sampel keseluruhan masih mempunyai pendapatan yang positif walaupun lebih rendah daripada pendapatan sebelum harga jual getah karet turun.

5.5 Dampak Turunnya Harga Jual Getah Karet terhadap Pengelolaan

Dokumen terkait