• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

6.2.1 Petani

1. Petani tanaman karet di Desa Kampung Dalam sebaiknya melakukan pencatatan penerimaan sehingga petani dapat mengalokasikan dana untuk pengelolaan tanaman sehingga kebutuhan tanaman akan terjaga dan produksi akan optimal.

2. Petani sebaiknya meminta rekomendasi pemupukan pada Dinas Perkebunan atau penyuluh untuk tanaman karet umur tanaman menghasilkan.

6.2.2 Pemerintah

1. Pemerintah disarankan memberikan solusi mengenai turunnya harga getah karet. Turunnya harga getah karet yang drastis ini menyebabkan petani harus mengurangi bahkan mayoritas petani tidak menggunakan input produksipupuk

65

dan herbisida dan pendapatan yang berkurang menyebabkan petani sulit memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

2. Pemerintah disarankan agar lebih banyak menyediakan pupuk bersubsidi sehingga biaya produksi dapat diminimalisir dan pendapatan yang diperoleh petani akan meningkat.

6.2.3 Peneliti Selanjutnya

Kepada mahasiswa dan penelitian selanjutnya disarankan melanjutkan penelitian menggunakan metode analisis uji Chow mengenai dampak turunnya harga jual getah karet terhadap pemakaian input produksi dan penerimaan petani karet.

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA

PEMIKIRAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Karet alam merupakan salah satu komoditi pertanian yang penting baik untuk lingkup internasional dan teristimewa bagi Indonesia. Di Indonesia karet merupakan salah satu hasil pertanian terkemuka karena banyak menunjang perekonomian negara. Hasil devisa yang diperoleh dari karet cukup besar. Bahkan, Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia dengan melibas negara-negara lain dan negara asal tanaman karet sendiri di Daratan Amerika Selatan (Tim Penulis, 1999).

Sesuai dengan habitat aslinya di Amerika Selatan, karet merupakan tanaman yang cocok ditanam di daerah tropis. Daerah tropis yang baik ditanami tanaman karet mencakup luasan antara 15° LU – 10° LS. Suhu harian yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangannya adalah 25 – 30° C. Tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1 – 600 m dpl. Curah hujan yang cukup antara 2000 – 2500 mm/tahun adalah salah satu kondisi yang disukai oleh tanaman karet. Dalam sehari, tanaman karet membutuhkan sinar matahari dengan intensitas yang cukup yaitu antara 5 – 7 jam per hari (Suwarto dan Yuke, 2010).

Tanaman karet merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun. Habitus tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15 - 20 meter. Modal utama dalam pengusahaan tanaman ini adalah batang setinggi 2,5 – 3 meter dimana tempat bertumbuhnya lateks. Oleh karena itu

9

fokus pengelolaan tanaman karet ini adalah bagaimana mengelola batang tanaman ini seefisien mungkin (Budiman, 2012).

Menurut Tim Penulis (1999), Dalam dunia tumbuhan, tanaman karet tersusun dalam sistematika sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Hevea

Spesies : Hevea brasiliensis

Topografi tanah mempengaruhi tingkat keberhasilan penanaman. Tanaman karet sebaiknya ditanam pada tanah yang datar. Hal ini akan memudahkan pemeliharaan dan pengambilan lateks. Sebaiknya lahan penanaman juga dekat dengan sumber air, misalnya sungai atau aliran-aliran air

(Suwarto dan Yuke, 2010).

Tanaman karet disebut tanaman menghasilkan yaitu memasuki tahun kelima dari siklus hidup karet. Pada tahun ini tanaman karet sudah mulai disadap. Namun adakalanya dari sejumlah pohon karet yang berumur empat tahun itu ada pohon yang belum bisa disadap. Menurut teori, tanaman karet yang bisa disadap pada usia empat tahun itu belum 100%. Biasanya dari 476 pohon, yang benar-benar matang sadap hanya sekitar 400 pohon.

10

Komposisi umur tanaman menghasilkan karet yang standar (25 tahun sadap) dengan sifat produksinya pada Tabel 4 sebagai berikut:

Tabel 4. Komposisi Umur TM dengan Sifat Produksinya. Umur Tanaman

(Tahun)

Kelas Standar Luas

(%)

Sifat Produksi

6-12 tahun Taruna 23 Belum Potensial

13-18 tahun Muda 20 Potensial

19-23 tahun Dewasa 17 Sangat Potensial

24-27 tahun Tua 13 Kurang Potensial

>27 tahun Tua Renta 10 Tidak Potensial

Sumber : Tim Penulis, 2013

Pada tanaman menghasilkan (TM) pemupukan mempunyai dua tujuan yaitu untuk meningkatkan hasil dan mempertahankan serta memperbaiki kesehatan dan kesuburan pertumbuhan tanaman pokok. Pemberian pupuk dilakukan 2 kali setiap tahun. Pemupukan tanaman produktif yang dilakukan dengan dosis yang tepat dan teratur dapat mempercepat pemulihan bidang sadapan, memberi kenaikan produksi 10-20%, meningkatkan resistensi tanaman terhadap gangguan hama penyakit dan tingkat produksi yang tinggi dapat dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama (Setyamidjaja, 1993).

Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuannya adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir. Kecepatan aliran lateks akan berkurang bila takaran cairan lateks pada kulit berkurang.

Kebun karet yang memiliki tingkat pertumbuhan normal siap disadap pada saat umur lima tahun dengan masa produksi selama 25-35 tahun. Pohon karet siap sadap adalah pohon yang sudah memiliki tinggi satu meter dari batas pertautan okulasi atau dari permukaan tanah untuk tanaman asal biji dan memiliki lingkar

11

batang 45 cm. Menurut Tim Penulis (2013) Kebun karet mulai disadap bila 55% pohonnya sudah menunjukkan matang sadap. Jika belum mencapai 55%, maka sebaiknya penyadapan ditunda, karena akan mengurangi produksi lateks dan akan mempengaruhi pertumbuhan pohon karet. Kebun yang dipelihara dengan baik biasanya memiliki 60 – 70% jumlah tanaman berumur 5 – 6 tahun yang berlilit batang 45 cm.

Penyadapan dilakukan dengan memotong kulit pohon karet sampai batas kambium dengan menggunakan pisau sadap. Jika penyadapan terlalu dalam dapat membahayakan kesehatan tanaman. Bentuk irisan berupa saluran kecil, melingkar batang arah miring ke bawah. Melalui saluran irisan akan mengalir lateks selama 1-2 jam sesudah itu lateks akan mengental (Budiman, 2012).

Dalam pelaksanaan penyadapan harus diperhatikan ketebalan irisan, kedalaman irisan, waktu pelaksanaan dan pemulihan kulit bidang sadap. Tebal irisan yang dianjurkan 1,5-2 mm, kedalaman irisan yang dianjurkan 1-5 mm dari lapisan kambium. Penyadapan hendaknya dilakukan pada pagi hari antara pukul 05.00- 06.00 pagi. Sedang pengumpulan lateksnya dilakukan antara pukul 08.00-10.00 pagi. Kulit pulihan bisa disadap kembali setelah 9 tahun untuk kulit pulihan pertama dan dapat disadap kembali pada bidang yang sama setelah 8 tahun untuk kulit pulihan kedua (Tim Penulis, 2013).

12

2.2 Landasan Teori

Usahatani adalah cara seseorang dalam mengusahakan dan mengkoordinir faktor- faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin (Suratiyah, 2009).

2.2.1 Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan

Menurut Tim Penulis (2011) Sebelum tanaman karet ditanam hingga berproduksi diperlukan biaya-biaya diantaranya adalah biaya pembukaan lahan, biaya penanaman, biaya pemeliharaan sebelum menghasilkan, dan biaya lain. Biaya itu disebut biaya pokok. Sedangkan biaya operasional adalah biaya sadap, biaya perawatan, biaya pemrosesan, dan biaya pengelolaan.

Biaya-biaya diatas sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Penyertaan sejumlah biaya untuk memperoleh hasil maksimal harus diperhitungkan. Untuk itu diperlukan perencanaan sebelumnya.

Dalam perhitungan biaya ini disertakan tenaga kerja, sarana dan prasarananya. Jumlah ini tidak kecil, apalagi saat menanti tanaman karet berproduksi. Setelah berproduksi, semua biaya tidak akan kembali dalam beberapa tahun pertama.

Menurut Mubyarto (1986) dan Soekartawi (1987), biaya usaha tani dibedakan menjadi: Biaya tetap (fixed cost): biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Yang termasuk biaya tetap adalah sewa tanah, pajak, dan penyusutan alat pertanian. Biaya tidak tetap (variable cost): biaya besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, seperti biaya saprodi (tenaga kerja, pupuk, pestisida, danbibit).

13

TC = TFC + TVC

Dimana:

TC = Total cost atau biaya total FC = Fixed cost atau biaya tetap

VC = Variable cost atau biaya variabel.

Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Penerimaan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut:

TR = P.Q

Dimana: P = Harga jual Q = Jumlah produksi

Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dan modal milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usahatani. Pendapatan usahatani merupakan selisih penerimaan dengan total biaya usahatani, dimana penerimaan diperoleh dari perkalian antara jumlah produksi dan harga jual yang diterima petani (Soekartawi, 2002).

Pd = TR-TC

Dimana:

Pd = Pendapatan

TR = Total revenue atau total penerimaan TC = Total cost atau total biaya

14

2.2.2. Uji Chow

Menurut Tarigan (2011) uji Chow adalah perbandingan dua model persamaan regresi untuk mengetahui perbedaan parameter dalam model antara regresi linier yang satu dengan linier yang lainnya. Chow test atau juga disebut uji statistik F berguna untuk menguji bilamana nilai konstanta adalah tetap atau berubah-ubah untuk setiap individu dan waktu (Gujarati, 2004).

Model regresi 1 dan 2 mengasumsikan bahwa regresi pada kedua periode waktu adalah berbeda, maka intercept dan koefisiennya berbeda. Sedangkan model regresi gabungan mengasumsikan bahwa tidak ada perbedaan diantara periode waktu tersebut sehingga estimasi hubungan antara variabel dependen dan variabel independen untuk seluruh total observasi. Dengan kata lain, regresi ini mengasumsikan bahwa intercept seperti halnya koefisien kemiringan tetap sama sepanjang waktu, yang berarti tidak ada perubahan struktural. Perubahan struktural bisa disebabkan oleh pengaruh eksternal, perubahan kebijakan, dan faktor-faktor lainnya (Kurniasih,E. 2012).

Pada dua kondisi yaitu regresi pada periode waktu 1 dan regresi pada periode waktu 2, dapat dibangun masing-masing fungsi sebagai berikut:

Pada saat periode waktu 1:

Y1 = a1 + b1X1

Dimana:

Y1 = Y pada saat periode waktu 1

15

Pada saat periode waktu 2:

Y2 = a2 + b2X2

Dimana:

Y2 = Y pada saat periode waktu 2

X2 = X pada saat periode waktu 2

Dari dua fungsi penerimaan diatas dibandingkan untuk mengetahui apakah parameter dalam model fungsi penerimaan itu terdapat perbedaan yang nyata. Perbedaan ini baik pada parameter intersep (a1 vs a2) juga pada parameter slope

(b1 vs b2).

Dengan tingkat signifikansi α= 5%, jika F hitung < F tabel maka Ho diterima yaitu tidak ada perubahan struktural diantara 2 periode waktu. Sedangkan jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak dan menerima H1 artinya model regresi untuk dua periode waktu yang berarti variabel independen mengalami perubahan struktural diantara dua periode waktu.

Nilai Uji Chow dihitung dengan rumus :

�� = ��

/�

��/(��+��− ��)

Keterangan:

G4 = Jumlah Kuadrat Galat dari Regresi dua periode waktu (G2+G3)

G5 = Jumlah Kuadrat Galat dari Regresi dua periode waktu (G4-G1)

k = jumlah variabel independen. n1 = jumlah pengamatan pada periode 1

16

2.3 Penelitian Terdahulu

Berdasarkan skripsi Erni Kurniasih dengan judul “Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), Suku Bunga, dan Inflasi Terhadap Profitabilitas (Perbandingan Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Umum Konvensional (BUK))”. Dalam penelitian ini, variabel dependen yang digunakan adalah Return On Asset (ROA), dan variabel independen adalah CAR, NPF, FDR, BOPO, Suku Bunga, dan Inflasi. Untuk metode analisis peneliti menggunakan regresi linier berganda dan uji Chow test. Hasil penelitian menunjukkan bahwaCAR, NPF, FDR, BOPO, Suku Bunga, dan Inflasi secara simultan berpengaruh terhadap profitabilitas BUS dan BUK. Hasil pengujian menghasilkan nilai Chow test F sebesar 4,819 sedangkan F tabel diperoleh sebesar 2,19. Dengan demikian diperoleh nilai Chow test (4,819) > F tabel (2,19) artinya model regresi untuk dua kelompok bank (BUS dan BUK) yang beroperasi di Indonesia memang berbeda yang berarti variabel independen mengalami perubahan struktural diantara dua kelompok bank.

Berdasarkan skripsi Henri Siregar dengan judul “Dampak Turunnya Harga Tandan Buah Segar terhadap Pemeliharaan Usahatani Kelapa Sawit Rakyat”. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji Chow dan data yang diteliti adalah data sebelum dan sesudah turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS). Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa turunnya harga TBS menyebabkan menurunnya produksi dan jumlah pemakaian input, serta mempunyai dampak terhadap jumlah pemakaian pupuk (Fhit>Ftabel; 4,70>3,15) (Fhit>Ftabel; 6,05>4,98), jumlah pemakaian tenaga kerja (Fhit>Ftabel; 6,05>4,98) dan jumlah

17

pemakaian pestisida (Fhit>Ftabel; 18,48>4,98). Namun petani masih menerima keuntungan dalam jumlah tertentu.

2.4 Kerangka Pemikiran

Usahatani merupakan suatu kegiatan untuk mengombinasikan dan mengkoordinir penggunaan berbagai faktor-faktor produksi agar menghasilkan hasil yang maksimal dan berkelanjutan. Dalam usaha perkebunan karet rakyat, terkhusus dalam pengelolaan perkebunan, seorang petani karet harus dapat mengombinasikan input-input produksi seperti pupuk, herbisida, dan tenaga kerja sehingga perkebunan karet rakyat menghasilkan lateks atau getah karet yang berkualitas.

Dalam usahatani karet rakyat, harga jual getah karet merupakan salah satu faktor petani berlomba untuk memilih tanaman karet sebagai usahataninya. Namun beberapa tahun ini harga jual getah karet mengalami penurunan. Sehingga petani harus mampu mengelola perkebunan walaupun dalam kondisi turunnya harga jual, yang menyebabkan penerimaan serta pendapatan yang menurun.

Pendapatan adalah selisih dari penerimaan dan biaya produksi. Penerimaan adalah perkalian dari harga komoditi dengan hasil produksi getah karet. Sebelum harga jual getah karet turun penggunaan input produksi digunakan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman karet untuk mempertahankan produksi getah karet. Bila penerimaan tinggi maka pendapatan juga cukup tinggi.

18

Sesudah harga jual getah karet turun, maka petani mengambil tindakan untuk membatasi atau mengurangi pemakaian input sehingga jumlah produksi menurun. Menurunnya jumlah produksi menyebabkan turunnya penerimaan, maka pendapatan juga menurun. Jadi ada dampak penurunan harga getah karet terhadap pengelolaan perkebunan.

19

Gambar 2 SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN

KETERANGAN : Mempengaruhi : Saling Mempengaruhi : Menjelaskan Perkebunan Karet Rakyat Produksi

Harga Jual Getah Karet Belum

Turun

Harga Jual Getah Karet

Harga Jual Getah Karet Sudah Turun PENERIMAAN SEBELUM HARGA TURUN PENERIMAAN SESUDAH HARGA TURUN

Fungsi Produksi Yang Berbeda

Dampak Turunnya Harga Jual Getah Karet

Produksi Herbisida, Pupuk, Tenaga Kerja Produksi Pupuk, Herbisida, Tenaga Kerja

20

2.4 Hipotesis Penelitian

1. Turunnya harga jual getah karet berdampak terhadap penggunaan pupuk pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian.

2. Turunnya harga jual getah karet berdampak terhadap penggunaan herbisida dan pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian.

3. Turunnya harga jual getah karet berdampak terhadap pencurahan tenaga kerja dan pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian.

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Dengan demikian, sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Kenyataan yang terjadi bahwa sebagian besar penggunaan lahan di wilayah Indonesia diperuntukkan sebagai lahan pertanian dan hampir 50 persen dari total angkatan kerja masih menggantungkan nasibnya bekerja di sektor pertanian. Keadaan seperti ini menuntut kebijakan sektor pertanian yang disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan yang terjadi di lapangan dalam mengatasi berbagai persoalan yang menyangkut kesejahteraan bangsa (Yudo,S. dkk, 2009).

Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar 13,38 persen pada tahun 2014 atau merupakan urutan kedua setelah sektor Industri Pengolahan. Pada waktu krisis ekonomi, sektor pertanian merupakan sektor yang cukup kuat menghadapi goncangan ekonomi dan ternyata dapat diandalkan dalam pemulihan perekonomian nasional(BPS, 2015).

Menurut Budiman (2012) Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu

2

upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya.

Menurut Budiman (2012) sampai saat ini permintaan akan hasil karet masih tinggi. Permintaan yang tinggi tersebut dikarenakan semakin meluasnya penggunaan karet sehingga permintaan terhadap bahan baku pun meningkat. Penggunaan karet sebagai bahan baku dalam industrialisasi karet paling besar digunakan dalam pembuatan ban kendaraan. International Rubber Study Group (IRSG) memperkirakan bahwa permintaan karet dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31,3 juta ton untuk industri ban dan nonban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.

Luas areal dan produksi karet yang dihasilkan oleh Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun. Luas lahan dari tahun ke tahun terus bertambah dan produksi tertinggi selama 3 tahun terakhir ini dicapai pada tahun 2013, kemudian pada tahun berikutnya mengalami penurunan. Untuk lebih jelasnya, keadaan ini digambarkan pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Produksi Karet Indonesia menurut Jenis Pengusahaan, Tahun 2012-2014 (dalam ribu ton).

Jenis Pengusahaan 2012 2013 2014 Produksi (Ton) Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Luas Areal (Ha) Perkebunan Rakyat 2.431.018 2.977.364 2.655.942 3.026.020 2.555.386 3.062.931 Perkebunan Besar Negara 255.581 243.753 255.616 247.068 258.209 249.040 Perkebunan Besar Swasta 325.655 285.084 325.875 282.858 339.591 294.274 Jumlah 3.012.254 3.506.201 3.237.433 3.555.946 3.153.186 3.606.245 Sumber : Statistik Karet Indonesia 2012-2014

3

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada tahun 2014, jumlah produksi karet yang berasal dari perkebunan rakyat meliputi 81,04 persen dari seluruh produksi karet Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya sektor perkebunan rakyat dalam menentukan produksi karet nasional.

Luas perkebunan rakyat yang terus meningkat menunjukkan minat rakyat yang terus meningkat untuk usaha ini. Sehingga Indonesia merupakan negara penghasil karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand dengan produksi 3,97 juta ton. Luas lahan karet Indonesia pada tahun 2014 sebesar 3,6 juta hektar dengan produksi 3,15 juta ton (Harian Republika, 2015).Pada beberapa tahun ini harga jual getah karet mengalami penurunan. Menurut Hidayah, N (2015) faktor-faktor yang menyebabkan turunnya harga getah karet adalah turunnya permintaan getah karet dari negara konsumen,tengkulak dan pabrik yang menetapkan harga secara sepihak, Kualitas getah karet yang rendah, dan turunnya harga minyak dunia yang mengalami penurunan. Keadaan harga jual getah karet dijelaskan pada Gambar 1 sebagai berikut: Gambar 1. Grafik Harga Jual Karet per kilogram di tingkat Petani Jenis Lump

tahun 2008-2013 .

Sumber : Statistik Perkebunan Indonesia 2013-2015

Rp5.608 Rp6.584 Rp11.928 Rp12.814 Rp11.219 Rp10.516 2008 2009 2010 2011 2012 2013

4

Gambar 1 menunjukkan bahwa harga getah karet jenis lump dari tahun 2008-2013 mengalami naik turun, pada tahun 2008-2011 mengalami kenaikan harga dan pada tahun 2012-2013 mengalami penurunan harga. Pada tahun 2014, harga rata- rata dari tingkat produsen Sumatera Utara Rp 4.578 dijelaskan pada Tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2. Harga Produsen Karet Provinsi Sumatera Utara Tahun 2014.

Bulan Harga (Rp) Januari 6.034 Februari 5.101 Maret 4.992 April 5.064 Mei 4.327 Juni 4.458 Juli 4.455 Agustus 4.498 September 4.098 Oktober 3.866 November 3.988 Desember 4.048 Rata-rata 4.578

Sumber : Statistik Harga Produsen Pertanian, 2014

Bila harga jual getah karet turun, maka jumlah penerimaan petani berkurang, dan mengakibatkan jumlah pendapatan berkurang. Pendapatan yang berkurang membuat petani harus mengurangi pengelolaan di perkebunan karet mereka. Pengelolaan seperti penggunaan pupuk, penggunaan herbisida pencurahan tenaga kerja harus dikurangi untuk memenuhi kebutuhan petani. Pengurangan pengolahan perkebunan menyebabkan produksi getah karet berkurang, berkurangnya produksi dan turunnya harga jual getah karet menyebabkan semakin turunnya penerimaan petani (Siregar, Henri, 2010).

Berikut ini adalah tabel luas tanaman dan produksi karet tanaman perkebunan rakyat menurut kabupaten di Sumatera Utara tahun 2014 disajikan pada Tabel 3.

5

Tabel 3. Luas tanaman dan Produksi Karet Tanaman Perkebunan Rakyat menurut kabupaten di Sumatera Utara pada Tahun 2014.

Kabupaten/Kota Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Produk tivitas (Ton/H a) T.B.M T.M T.T.M Jumlah 1 Nias 942,00 2.077,00 520,00 3.530,00 2.285,00 0,65 2 Mandailing Natal 5.121,00 55.337,00 17.921,00 78.379,00 83.921,00 1,07 3 Tapanuli Selatan 5.900,00 9.870,00 8.540,00 24.310,00 7.996,00 0,33 4 Tapanuli Tengah 3.996,00 23.960,00 4.480,00 32.436,00 20.465,00 0,63 5 Tapanuli Utara 770,00 8.115,00 152,00 9.037,00 4.901,00 0,54 6 Toba Samosir 70,00 376,00 21,00 467,00 400,00 0,86 7 Labuhanbatu 1.698,00 21.754,00 89,00 23.541,00 24.012,00 1,02 8 Asahan 400,00 5.835,00 400,00 6.635,00 5.762,00 0,87 9 Simalungun 1.589,00 12.405,00 159,00 14.153,00 11.825,00 0,84 10 Dairi 125,00 203,00 28,00 356,00 186,00 0,52 11 Karo 28,00 54,00 1,00 83,00 47,00 0,57 12 Deli Serdang 890,00 4.290,00 640,00 5.820,00 5.786,00 0,99 13 Langkat 3.424,00 39.841,00 240,00 43.505,00 34.621,00 0,80 14 Nias Selatan 2.600,00 6.493,00 460,00 9.553,00 6.395,00 0,67 15 Humbang Hasundutan 1.048,00 2.933,00 204,00 4.185,00 2.300,00 0,55 16 Pakpak Bharat 900,00 706,00 147,00 1.753,00 624,00 0,36 17 Samosir - - - - 18 Serdang Bedagai 1.286,00 10.602,00 58,00 11.946,00 12.325,00 1,03 19 Batu Bara 213,00 202,00 17,00 492,00 335,00 0,68 20 Padang Lawas Utara 13.702,00 25.804,00 668,00 40.234,00 25.012,00 0,62 21 Padang Lawas 6.821,00 4.375,00 1.198,00 12.304,00 4.123,00 0,34 22 Labuhanbatu Selatan 678,00 25.217,00 300,00 26.195,00 26.756,00 1,02 23 Labuhanbatu Utara 855,00 21.977,00 97,00 22.929,00 26.854,00 1,17 24 Nias Utara 1.280,00 7.762,00 1.330,00 10.372,00 8.000,00 0,77 25 Nias Barat 1.385,00 3.420,00 1.425,00 6.230,00 2.600,00 0,42 Kota 78 Gunungsitoli 586,00 2.604,00 1.150,00 4.340,00 2.565,00 0,59 Sumatera Utara2014 56.307,00 296.332,00 40.245,00 392.884,00 321.096,00 0,82 2013 54.665,00 296.462,00 40.302,00 391.430,00 310.363,70 0,79 2012 51.572,00 281.895,00 43.600,00 377.068,00 349.063,04 0,93

Sumber : Sumatera Utara dalam Angka 2015

Tabel 3 menunjukkan bahwa kabupaten Labuhanbatu merupakan salah satu daerah penghasil karet terbesar. Kabupaten Labuhanbatu mempunyai luas tanaman seluas 23.541 Ha atau 6 persen dari seluruh luas tanaman di Sumatera Utara. Kabupaten Labuhanbatu mempunyai jumlah produksi karet rakyat sebesar 24.012 Ha atau 7,48 persen dari seluruh produksi di Sumatera Utara.

Dalam usahatani karet rakyat, harga merupakan sesuatu hal yang tidak dapat diprediksi oleh petani. Dalam hal ini, harga jual ditentukan oleh pasar, sehingga petani sebagai price taker hanya bisa menerima harga sesuai dengan permintaan

6

agen atau pembeli. Penurunan harga jual getah karet selama beberapa tahun terakhir menyebabkan petani harus memikirkan cara untuk tetap mengelola perkebunannya dalam penerimaan yang menurun.sehingga dari penjelasan diatas menunjukkan perlunya peneliti untuk meneliti dampak turunnya harga jual getah karet terhadap pengelolaan tanaman karet rakyat.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana dampak turunnya harga jual getah karet terhadap penggunaan

pupuk pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian?

2. Bagaimana dampak turunnya harga jual getah karet terhadap penggunaan herbisida pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian?

3. Bagaimana dampak turunnya harga jual getah karet terhadap pencurahan tenaga kerja pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Untuk menganalisis bagaimana dampak turunnya harga jual getah karet

terhadap penggunaan pupuk pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian.

2. Untuk menganalisis bagaimana dampak turunnya harga jual getah karet terhadap penggunaan herbisida pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian.

3. Untuk menganalisis bagaimana dampak turunnya harga jual getah karet terhadap pencurahan tenaga kerja pada pengelolaan tanaman karet rakyat di daerah penelitian.

7

1.4 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan dalam mengembangkan usahatani karet rakyat.

2. Sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan dan kebijaksanaan dalam pengembangan perkebunan karet.

ABSTRAK

Grace Anasthasya (120304087) dengan judul skripsi “Dampak Turunnya Harga Jual Getah Karet Terhadap Pengelolaan Tanaman Karet Rakyat (Studi Kasus: Desa Kampung Dalam, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu)”. Penelitian dibimbing oleh bapak Prof.Dr.Ir.Kelin Tarigan, M.S.

selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr.Ir.Salmiah, M.S. selaku anggota

Dokumen terkait