• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Profesi dan Posisi Jabatan Alumni Perguruan Tinggi

Profesi dapat dirumuskan sebagai pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup dengan mengandalkan keahlian dan ketrampilan yang tinggi dan dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) yang mendalam (Keraf, 1998: 35). Profesi didefinisikan sebagai jenis pekerjaan spesialisasi yang dipraktekkan dengan penggunaan pengetahuan yang

terklasifikasi dan istilah yang umum, serta memerlukan tolok-ukur praktek dan kode etik yang ditetapkan oleh suatu badan yang diakui (Allen, 1989:87).

Dengan demikian orang profesional adalah orang yang melakukan suatu pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan ini dengan mengandalkan keahlian dan ketrampilan yang tinggi serta punya komitmen pribadi yang mendalam atas pekerjaan itu. Dengan kata lain, orang profesional adalah orang yang melakukan pekerjaan karena ahli di bidang tersebut dan meluangkan seluruh waktu, tenaga, dan perhatiannya untuk pekerjaan tersebut (Keraf, 1998:35-36).

2. Ciri-Ciri Profesi

Pertama, adanya keahlian dan ketrampilan khusus. Profesi selalu mengandaikan adanya suatu keahlian dan ketrampilan khusus tertentu yang dimiliki oleh sekelompok orang yang profesional untuk bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik. Keahlian dan ketrampilan khusus ini umumnya dimiliki dengan kadar, lingkup, dan tingkat yang melebihi keahlian dan ketrampilan orang kebanyakan lainnya. Keahlian dan ketrampilan ini biasanya dimilikinya berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang diperolehnya selama bertahun-tahun. Bahkan pendidikan dan pelatihan itu (formal maupun informal) di jalaninya dengan tingkat seleksi yang sangat ketat dan keras.

Kedua, adanya komitmen yang tinggi. Komitmen moral ini biasanya dituangkan, khususnya untuk profesi yang luhur, dalam bentuk

aturan khusus yang menjadi pegangan bagi setiap orang yang mengemban profesi yang bersangkutan. Biasanya kode etik ini berisi tuntutan keahlian dan komitmen moral yang berada diatas tingkat rata-rata tuntutan bagi orang kebanyakan dan sekaligus merupakan tuntutan minimal yang harus diperolehi dan tidak dilanggar. Kode etik ini ikut menentukan identitas dan perilaku, khususnya perilaku moral dari para profesional.

Ketiga, biasanya orang yang profesional adalah orang yang hidup dari profesinya, artinya ia hidup sepenuhnya dari profesinya tersebut dan profesi telah membentuk identitas orang tersebut.

Keempat, adalah pengabdian kepada masyarakat. Adanya komitmen moral yang tertuang dalam kode etik profesi ataupun sumpah jabatan menyiratkan bahwa orang-orang yang mengemban profesi tertentu, khususnya profesi luhur, lebih mendahulukan dan mengutamakan kepentingan masyarakat daripada pribadinya. Orang yang profesional akan melayani, mengabdi, dan membantu masyarakat dengan keahlian dan ketrampilannya sampai tuntas, yaitu sampai ada hasil yang memuaskan, baik bagi orang yang dilayani maupun bagi orang profesional itu sendiri.

Kelima, pada profesi luhur biasanya ada izin khusus untuk menjalankan profesi tersebut. Karena setiap profesi, khususnya profesi luhur, menyangkut kepentingan orang banyak, dan terkait dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup, kesehatan, dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi

yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak itu diperlukan izin khusus.

Keenam, kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu organisasi profesi. Tujuan anggota profesi ini terutama adalah untuk menjaga dan melindungi keluhuran profesi tersebut. Tugas pokoknya adalah menjaga agar standar keahlian dan ketrampilan tidak dilanggar, kode etik tidak dilanggar, dan berarti menjaga agar kepentingan masyarakat tidak dirugikan oleh pelaksanaan profesi tersebut oleh anggota manapun (Keraf, 1998:39-43).

3. Prinsip-prinsip Etika Profesi

a. Prinsip tanggung jawab artinya bertanggung jawab pada pelaksanaan pekerjaan dan terhadap hasilnya serta bertanggung jawab atas dampak profesinya terhadap kehidupan dan kepentingan orang lain.

b. Prinsip keadilan artinya orang profesional agar dalam menjalankan profesinya tidak merugikan hak dan kepentingan pihak tertentu. Demikian pula, prinsip ini menuntut agar dalam menjalankan profesinya orang yang profesional tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap siapapun, jadi tidak boleh membeda-bedakan pelayanannya dan kadar mutu pelayanan itu.

c. Prinsip otonomi yaitu prinsip yang dituntut oleh kalangan profesional terhadap dunia luar agar mereka diberi kebebasan sepenuhnya dalam menjalankan profesinya. Otonomi penting agar kaum profesional itu bisa secara bebas mengembangkan profesinya, bisa melakukan inovasi

dan kreasi tertentu yang kiranya berguna bagi perkembangan profesi itu dan kepentingan masyarakat luas. Prinsip otonomi punya batasan-batasan. Pertama, prinsip otonomi dibatasi oleh tanggung jawab dan komitmen profesional (keahlian dan moral) atas kemajuan profesi tersebut serta dampaknya pada kepentingan masyarakat. Kedua, otonomi hanya berlaku sejauh pelaksanaan profesi tidak sampai merugikan kepentingan bersama.

d. Prinsip integritas moral. Prinsip ini merupakan tuntutan kaum profesional atas dirinya sendiri bahwa dalam menjalankan tugas profesionalnya ia tidak akan sampai merusak nama baiknya serta citra dan martabat profesinya. Ia sendiri akan menuntut dirinya sendiri untuk bertanggung jawab atas profesinya serta tidak melecehkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan diperjuangkan profesinya (Keraf, 1998: 44-46).

4. Pengertian Jabatan

Edwin B. Flippo dalam Simorangkir (1978:79), mengemukakan arti dari suatu jabatan (position) adalah sekelompok tugas-tugas dan tangung jawab yang diserahkan kepada satu orang. Jabatan (position) berarti tugas-tugas yang dijadikan oleh seorang tanpa menunjukkan apakah pekerjaan itu berbeda dengan pekerjaan dari orang perorangan lainnya. Dapat disimpulkan bahwa jabatan adalah serangkaian tugas-tugas dengan ditandai oleh kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab tertentu yang membutuhkan waktu dari perhatian penuh dilakukan oleh seseorang.

5. Etika Jabatan

Etika jabatan adalah kebiasaan yang baik atau peraturan-peraturan yang diterima dan ditaati oleh pegawai-pegawai dan kemudian mengendap menjadi normatif (Simorangkir, 1978:80). Dalam pelaksanaan etika jabatan, tidak bisa memisahkan diri dari moral pancasila. Tindak tanduk kita sehari-hari dalam pekerjaan di kantor ataupun perusahaan juga harus berpedoman pada kelima sila dari pancasila. Justru dengan melakukan etika jabatan akan tercapai sistem jabatan yang sehat di negara kita. Sistem jabatan yang sehat dan bermoral merupakan suatu keharusan, jika suatu negara ingin membangun untuk menaikkan derajat hidup bangsanya di bidang materiil.

Dokumen terkait