• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

D. Faktor Sosial

2. Profesi Guru

Profesi merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang lanjut dan latihan khusus, seperti ahli hukum, arsitek, dokter, guru, teolog dan lain-lain (Homby dalam Intan Desy Cahyani, 2006:10).

Menurut Arikunto (1990:231), profesi diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan nafkah. Dedi Supriyadi (1999:95) berpendapat bahwa profesi menunjukkan pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap profesi. Suatu profesi secara teoritik tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang yang tidak dilatih atau disiapkan untuk itu.

Ciri-ciri profesi menurut Dedi Supriadi (1999:96) adalah:

a. mempunyai fungsi dan signifikansi sosial karena diperlukan mengabdi pada masyarakat,

b. menuntut keterampilan tertentu yang diperoleh lewat pendidikan yang lama dan intensif serta dilakukan dalam lembaga tertentu secara sosial dapat dipertanggungjawabkan (accountable),

c. didukung oleh suatu disiplin ilmu (a systematic body of knowledge), bukan hanya sekedar serpihan atau hanya common sense,

d. ada kode etik yang menjadi pedoman perilaku anggotanya beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggaran kode etik.

e. sebagai konsekuensi dari layanan yang diberikan kepada masyarakat, maka anggota profesi secara perorangan ataupun kelompok memperolah imbalan finansial atau material.

Sementara itu, guru dapat diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar (McLeod, 1989), sedangkan Soelaeman (1985:7), mendefinisikan guru sebagai komponen strategis yang memiliki peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Sementara itu UU RI No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 5 mendefinisikan guru sebagi tenaga profesional yang mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi dengan tugas utama menjadi pendidik yang memotivasi, memfasilitasi, mendidik, membimbing, dan melatih peserta didik sehingga menjadi manusia yang berkualitas yang mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya secara optimum, pada jalur pendidikan formal jenjang pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan anak usia dini formal.

Menurut Amatembun (1973:4-10), jabatan guru sebagai suatu profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang membutuhkan keahlian (pendidikan atau latihan) khusus di bidang keguruan, perlu memiliki syarat-syarat tertentu untuk menjunjung martabat guru dan menjamin mutu pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu, dibutuhkan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu:

a. Syarat profesional

Syarat profesional adalah syarat menyangkut bidang keahlian guru, meliputi:

1) pengetahuan di bidang keguruan pada khususnya dan mendidik pada umumnya

2) ketrampilan dalam mengajar pada khususnya dan mendidik pada umumnya yang pada hakekatnya memiliki kesanggupan dalam memimpin kelasnya.

b. Syarat personal

Syarat ini yang menyangkut diri pribadi orang yang menjadi guru, adapun syaratnya adalah:

1) Kesehatan fisik

Guru harus sehat secara jasmani atau fisik tidak sakit-sakitan apalagi mengidap penyakit menular seperti TBC. Mengenai jasmani yang cacat seperti buta dan sebagainya dewasa ini bukanlah menjadi hambatan utama bagi seorang yang merasa dipanggil menjadi guru. Dewasa ini Indonesia telah mempunyai

beberapa Sarjana Muda bahkan Sarjana pendidikan lulusan IKIP yang tuna netra.

2) Kesehatan psikis

Guru hendaklah sehat jiwanya, sehat mental atau rohaninya. Orang yang menderita penyakit jiwa atau gangguan syaraf (misalnya gangguan sayaf otak dan kejiwaan), janganlah diangkat menjadi guru.

3) Kesehatan psycho-somatic

Guru bukan hanya sehat jasmaniah dan rohaniahnya saja tetapi juga harus memiliki kesehatan psycho-somatcs yang baik karena gangguan-gangguan pada badan dapat mempengaruhi fungsi-fungsi jiwa tertentu dan sebaliknya.

4) Integritas pribadi

Syarat personal terintegrasi kepribadiannya yang telah dewasa dalam arti menyangkut kepribadian seorang guru sebagai suatu totalitas. Kita membutuhkan guru yang telah pendagogik yaitu sanggup mengambil keputusan sendiri atas tanggung jawab sendiri.

c. Syarat moralitas

Faktor ini lebih menyangkut watak pribadi seseorang, atau suatu pertanda kemampuan seseorang bertindak susila. Seorang guru bukan hanya dapat mengetahui apa yang baik dan buruk tetapi juga sanggup berbuat menurut norma kesusilaan.

d. Syarat religiousity

Syarat beragama adalah syarat yang mutlak bagi orang-orang yang bertindak sebagai guru di bumi Indonesia ini sebagai perwujudan falsafah Pancasila secara konsekuen.

e. Syarat formalitas

Syarat ini mencakup keempat syarat yang telah disediakan di atas (profesional, personal, moralitas, religiousity) merupakan syarat formal yang harus dimiliki seseorang sebelum menjadi guru.

Dalam UUGD (Undang-Undang Guru dan Dosen) syarat-syarat menjadi guru adalah sebagi berikut:

1) guru wajib memiliki kualifikasi akademik melalui pendidikan sarjana atau diploma empat,

2) memiliki kompetensi pendagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi,

3) sertifikat pendidik diberikan pada guru yang telah memenuhi persyaratan,

4) sehat jasmani dan rohani,

5) memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. 3. Kompetensi keguruan

Kompetensi pada dasarnya merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja, yang diharapkan bisa dicapai seseorang setelah menyelesaikan suatu

program pendidikan. Sementara itu menurut keputusan menteri Pendidikan Nasional No. 045/u/2003, kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu.

Berkaitan dengan kompetensi keguruan yang harus dikuasai guru, kompetensi diartikan sebagai kebutuhan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai profesi. Keempat jenis kompetensi guru dijelaskan sebagai berikut.

a. Kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. b. Kompetansi pedagogik

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara

rinci masing-masing elemen kompetensi pedagogik tersebut dapat dijadikan menjadi subkompetensi sebagai berikut.

1) Memahami peserta didik. Subkompetensi ini mempunyai indikator esensial memahami pesert didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bakal-ajar peserta didik.

2) Merancang pembelajaran termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: merupakan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

3) Melaksanakan pembelajaran subkompetensi ini memiliki indikator esensial; menata latar (setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

4) Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran subkompetensi ini memiliki indikator esensial; melaksankan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level) dan memanfaatkan hasil

penilaian pembelajaran untuk perbaiki kualitas program pembelajaran secara umum.

5) Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik.

c. Kompetensi profesional

Kompetensi profesional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Secara rinci masing-masing elemen kompetensi tersebut memiliki subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut.

1) Menguasai substansi keilmuan yang berkaitan dengan bidang studi. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar; memahami

hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

2) Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk menambah wawasan dan memperdalam pengetahuan/bidang studi.

d. Kompetensi Sosial.

Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut.

1) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.

2) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.

3) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Dokumen terkait