BAB IV DESKRIPSI WILAYAH dan INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.7 Profil Informan
Nama : Amrin B. S.Sos (AB) Usia : 51 Tahun
Pekerjaan : Lurah Pasar II Natal
Pak Amrin B merupakan Lurah di desa Pasar II Natal Kecamatan Natal Kabupaten Mandailing Natal. Pak AB lahir pada tanggal 5 April 1963. Pak AB telah berusia 51 Tahun. Pak AB adalah putra daerah asli dari Kecamatan Natal, tetapi sebenarnya ia bukanlah warga dari Kelurahan Pasar II Natal yang sedang dipimpinnya saat ini sebagai lurahnya. Pak AB sebenarnya adalah warga dari salah satu desa di kecamatan Natal yakni Desa Pasar IV Natal dimana Desa Pasar IV ini adalah tempat dimana orang tuanya tinggal dan menetap dulu ketika masih hidup. Pak AB dilahirkan di Natal tepatnya di desa Pasar IV Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal. Pada saat ini Pak AB telah memiliki seorang istri dan 4 orang anak yang terdiri dari 2 orang anak kandung dari Pak AB dan 2 orang lagi anak hasil dari pernikahan terdahulu istrinya sebelum dengan Pak AB. Sebelum menikah dengan Pak AB status istrinya ini adalah seorang janda dengan 2 anak. Anak – anak Pak AB sekarang yang paling besar adalah perempuan, ia sudah tamat SMA dan ia tidak melanjutkan sekolah lagi ke jenjang perkuliahan. Dulu ia juga sempat merantau ke Medan untuk bekerja dan sekarang sudah kembali lagi ke kampung tinggal dengan orang tuanya. Anak Pak AB yang kedua adalah laki-laki dan sekarang duduk di bangku
kelas 2 SMA. Anak pak AB yang ketiga adalah anak kandungnya yang pertama dan berjenis kelamin perempuan, sekarang sedang duduk dibangku kelas 5 Sekolah Dasar dan adiknya ataupun anaknya yang nomor 4 adalah laki-laki dan sekarang duduk dikelas 2 Sekolah Dasar.
Pak AB sendiri tingkat pendidikannya adalah tamatan SMA, ia mulai masuk menjadi PNS pada tahun 1992 sebagai pegawai di kantor Kecamatan Natal, dan masa kerjanya sampai saat ini sudah mencapai 22 tahun. Sekarang ia sudah diangkat sebagai lurah di Kelurahan Pasar II Natal dan sudah menjabat selama 3 tahun. Disebabkan rasa kepedulian yang tinggi terhadap kondisi pendidikan di Kecamatan Natal yang memprihatinkan khususnya di Kelurahan Pasar II Natal, sebelumnya Pak AB juga sempat menjadi guru di salah satu sekolah Madrasah Tsanawiyah Swasta yakni Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 20 Natal, dan ia juga turut aktif dalam kegiatan Pramuka disekolah tersebut, ia juga sering ikut dalam kegiatan pramuka ke luar kota, tetapi sekarang ia tidak lagi menjalani profesi sebagai guru tersebut dikarenakan kesibukannya sebagai lurah di Kelurahan Pasar II Natal.
2. Dinas Pendidikan Kecamatan Natal Nama : Maharuddin Usia : 46 Tahun
Pekerjaan : Pegawai Dinas Pendidikan Kecamatan Natal
Pak Maharuddin merupakan salah satu pegawai di Dinas Pendidikan Kecamatan Natal. Pak MH lahir pada tanggal 12 Maret 1968, dan Pak MH telah berusia 46 Tahun. Pak MH dilahirkan di Kampung Kapas yang terletak di Kecamatan Muara Batang Gadis, yakni salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Mandailing Natal selain Kecamatan Natal, namun ia sudah
sejak kecil menetap di Natal dan tinggal bersama neneknya. Pak MH mempunyai seorang istri dan sampai saat ini pak MH belum dikaruniai anak. Pak MH bersuku Melayu Pesisir. Pendidikan terakhir Pak MH adalah tamatan SMA (Sekolah Menengah Atas). Pak MH bekerja di Dinas Pendidikan Kecamatan Natal sudah selama 26 tahun terhitung sejak ia mulai masuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dilingkungan Dinas Pendidikan Kecamatan Natal, yakni pada tahun 1987. Selama ia bekerja di dinas pendidikan Kecamatan Natal banyak yang telah terjadi dengan dunia pendidikan dan kondisi pendidikan di Kecamatan Natal. Pak MH menyebutkan, pada awal-awal ia bekerja di dinas pendidikan, kondisi pendidikan di Kecamatan Natal belum separah pada saat ini. Sampai pada akhir tahun 97 kondisi pendidikan anak-anak di Kecamatan Natal masih dalam taraf yang normal. Kemudian memasuki awal 98 sampai sekarang, dari situlah terlihat menurunnya grafik tingkat pendidikan ataupun minat sekolah dari anak-anak di Kecamatan Natal khususnya di Kelurahan Pasar II Natal. Hal itu terlihat dari tingginya angka putus sekolah di Kelurahan tersebut.
3. Kepala Sekolah
• SD (Sekolah Dasar) Nama : Ainannur Usia : 57 Tahun
Pekerjaan : Kepala SD Inpres Natal
Ibu Ainannur merupakan kepala sekolah di SD Inpres Natal, Kecamatan Natal. Sekolah ini tepatnya berada di Kelurahan Pasar II Natal, Kecamatan Natal yang mana sekolah ini berada di daerah lokasi penelitian yaitu Kelurahan Pasar II Natal. Ibu AN dilahirkan di Natal pada
tanggal 5 September 1956, dan Bu AN sekarang telah berusia 57 Tahun. Bu AN merupakan orang Natal asli dan telah menetap di Natal khususnya di Kelurahan Pasar II Natal sejak ia dilahirkan, sampai saat ini ia pun masih tinggal di Kelurahan Pasar II Natal, Kecamatan Natal. Bu AN mempunyai seorang suami dan 4 orang anak yang terdiri dari 1 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Keempat anak Bu AN semuanya sudah berkeluarga dan tinggal diluar kota. Anaknya yang pertama sudah menamatkan pendidikan S2 nya dan sekarang menetap di Semarang, dan yang 3 perempuan menetap di Medan. Suami Bu AN juga seorang Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Dinas Sosial Kecamatan Natal. Bu AN bersuku Melayu Pesisir sama dengan suaminya. Pendidikan terakhir Bu AN adalah tamatan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) atau dulunya disebut SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Bu AN mulai masuk menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada tahun 1977 dan dia sudah bekerja sebagai seorang pegawai negeri selama 36 tahun. Bu AN sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama 3 tahun terakhir. Pada waktu Bu AN belum menjabat sebagai kepala sekolah, sekolah ini pernah menerima murid dikelas 1 pada tahun ajaran baru hanya 8 orang murid saja. Ini merupakan jumlah siswa terkecil yang pernah diterima di tahun ajaran baru sepanjang sejarah berdirinya sekolah ini. Hal ini bukan disebabkan oleh tidak memadainya infrastruktur ruangan kelas untuk menerima para murid melainkan disebabkan oleh memang hanya 8 murid tersebut yang mendaftar. Hal ini menunjukkan sangat berkurangnya minat anak-anak untuk bersekolah dilingkungan masyarakat nelayan di Kelurahan Pasar II Natal. Sebelumnya SD Inpres ini bisa dikategorikan sekolah favorit disbanding SD lainnya, hanya saja dalam beberapa tahun terakhir kondisinya tidak lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Bu AN menyebutkan bahwa sikap anak-anak sekarang terhadap pendidikan cenderung menganggap pendidikan itu tidak terlalu penting, dan kebanyakan siswa datang bersekolah hanya
karena paksaan dari orang tua mereka, tetapi tidak sedikit juga dari mereka yang belajar dengan sungguh-sungguh ataupun atas kemauan mereka sendiri. Di SD Inpres ini Bu AN lebih lanjut menyatakan bahwa sebagian dari muridnya ada juga yang menggunakan waktu luangnya untuk membantu orang tua mereka untuk bekerja dalam rangka membantu menopang perekonomian keluarga, yang mana anak-anak tersebut rata-rata adalah anak-anak nelayan di Kelurahan Pasar II Natal yang bersekolah di SD Inpres. Untuk membantu menumbuhkan minat belajar dari para siswa, Bu AN sebagai kepala sekolah di SD Inpres melakukan berbagai upaya yakni seperti melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler kepada para siswa antara lain adalah Drum Band, selain itu untuk anak-anak kelas 1 SD atau kelas 2 yang jam belajarnya belum begitu padat Bu AN juga menginstruksikan kepada guru kelas agar sesekali membawa anak-anak pada akhir pekan untuk rekreasi, hal ini dimaksudkan agar anak-anak tidak bosan dengan rutinitas belajar sehari-hari. Kelas ekonomi anak-anak yang bersekolah di SD Inpres rata-rata berasal dari kelas ekonomi menengah kebawah, tetapi ada juga sebagian yang berasal dari kelas ekonomi menengah keatas. Perlakuan terhadap semua siswa sama saja dalam memberikan ilmu dan pelajaran, baik itu dari siswa yang ekonominya mencukupi maupun siswa yang kurang mampu. Untuk anak-anak yang kurang mampu ataupun ekonomi keluarganya lemah pihak sekolah sudah melaksanakan kegiatan dana bos yang merupakan bagian dari program pemerintah untuk membantu anak-anak yang kurang mampu dalam bidang pendidikannya. Menyangkut infrastruktur yang ada di SD Inpres Natal, Bu AN menyatakan bahwa infrastruktur yang ada disekolahnya sampai saat ini sudah cukup memadai, ruangan kelasnya cukup untuk menampung semua siswanya, hanya saja terkadang banyak juga kursi-kursi dan meja yang sudah patah, tetapi itu semua bisa disiasati olehnya. Bu AN juga menyatakan tenaga pengajar di SD Inpres Natal banyak juga yang sudah mengikuti sertifikasi guru termasuk dirinya sendiri.
• SMP (Sekolah Menengah Pertama) Nama : Risna Dewi
Usia : 48 Tahun
Pekerjaan : Kepala SMPN 1 Natal
Ibu Risna Dewi merupakan Kepala Sekolah di SMP Negeri 1 Natal, Kecamatan Natal. Ibu RD dilahirkan di Natal pada tanggal 29 April 1965, dan Bu RD sekarang telah berusia 48 tahun. Bu RD merupakan orang Natal asli dan telah menetap di Natal khususnya di Kelurahan Pasar I Natal sejak ia dilahirkan, sampai saat ini ia pun masih tinggal di Kelurahan Pasar I Natal dan tinggal bersama dengan orang tuanya, suami dan kedua anaknya. Bu RD mempunyai seorang suami dan 2 orang anak yang mana kedua anaknya adalah anak perempuan. Kedua anak BU RD masih bersekolah, yang pertama duduk dibangku kelas 2 SMA dan yang kedua sekarang duduk dibangku kelas 2 SMP. Bu RD bersuku Melayu Pesisir sama dengan suaminya. Pendidikan terakhir Bu RD adalah Sarjana Pendidikan. Bu RD mulai masuk menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada tahun 1991 dan dia sudah bekerja sebagai seorang pegawai negeri selama 22 tahun. Bu RD sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama 2 tahun terakhir. Selama Bu RD menjabat sebagai kepala sekolah ataupun sebelum ia menjabat sebagai kepala sekolah di SMPN 1 Natal ini, Bu RD menyebutkan tidak banyak perubahan yang terjadi mengenai perilaku ataupun sikap siswa terhadap pendidikannya, kebanyakan dari mereka belum mengerti arti pentingnya pendidikan kelak untuk kehidupan mereka. Hal ini terlihat dari beberapa siswa yang berhenti atau putus sekolah ditengah jalan yang disebabkan oleh berbagai faktor, dan umumnya mereka yang putus sekolah atau berhenti ditengah jalan tersebut adalah berasal dari anak-anak nelayan yang tinggal di pemukiman nelayan yang ada di Kelurahan Pasar
II Natal. Bu RD melihat di SMPN 1 Natal ini siswa nya bersekolah atas kemauan mereka sendiri tanpa ada paksaan dari orang tua untuk bersekolah. Tetapi ada juga sebagian dari siswa yang sekolahnya malas-malasan dan sering tidak masuk sekolah. Di SMPN 1 Natal Bu RD menyatakan bahwa ada juga muridnya yang sepulang sekolah bekerja membantu orang tuanya untuk bekerja meringankan perekonomian keluarga, dan sudah jelas mereka itu berasal dari keluarga yang ekonomi nya kurang mencukupi, yakni anak-anak yang mayoritas orang tuanya bekerja sebagai nelayan, dan ada juga yang orang tuanya tidak bekerja sebagai nelayan. Didalam lingkungan keluarga Bu RD menganggap pendidikan itu sangatlah penting, dan ia juga menerapkan prinsip didalam keluarganya tersebut di sekolah yang dipimpinnya yakni di SMPN 1 Natal. Setiap upacara bendera hari senin Bu RD selalu menyampaikan tentang pentingnya arti pendidikan didalam pidatonya kepada siwa-siswanya. Mengenai meningkatnya angka putus sekolah akhir-akhir ini Bu RD juga menyatakan bahwa faktor budaya sangat berpengaruh didalamnya untuk menanamkan nilai-nilai tentang pentingnya pendidikan. Dari segi kelas ekonomi siswa yang bersekolah di SMPN 1 Natal ini Bu RD menyebutkan bahwa porsinya lebih kurang hampir sama antara siswa dari kelas ekonomi menengah keatas dan siswa dari kalangan kelas ekonomi menengah kebawah. Perlakuan terhadap siswa dalam kegiatan belajar mengajar semuanya sama, tidak ada yang dibeda-bedakan antara kelas ekonomi atas dan kelas ekonomi bawah. Bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu atau ekonominya lemah, pihak sekolah telah menyalurkan dana bos yang berasal dari program pemerintah. Khusus dari pihak sekolah Bu RD menyebutkan belum ada program yang dibuat untuk membantu anak-anak yang ekonominya kurang mampu. Menyangkut infrakstruktur sekolah yang ada di SMPN 1 Natal sampai saat ini menurut Bu RD sudah cukup memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, dan tenaga pengajarnya pun juga sudah cukup memadai dengan adanya guru honor
yang mengajar disekolah tersebut ditambah lagi dengan guru tetap ataupun PNS yang mengajar disitu. Guru – guru di SMPN 1 Natal juga sudah ada sebagian yang mengikuti sertifikasi guru termasuk Bu RD sendiri. Jika ada hambatan yang terjadi disekolah dalam kegiatan belajar mengajar Bu RD akan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dalam menyelesaikan persoalan tersebut, begitu juga dalam menghadapi perilaku siswa yang menyimpang dari peraturan sekolah.
• SMA (Sekolah Menengah Atas)
Nama : Syafruddin Usia : 50 Tahun
Pekerjaan : Kepala Sekolah SMAN 1 Natal
Bapak Syafruddin merupakan Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Natal, Kecamatan Natal. Pak SF dilahirkan di Natal pada tanggal 31 Desember 1963, dan Pak SF sekarang telah berusia 50 tahun. Pak SF merupakan orang Natal asli dan telah menetap di Natal khususnya di Desa Pasar III Natal sejak ia dilahirkan,tetapi sekarang semenjak ia berumah tangga ia telah tinggal dirumahnya sendiri yang terletak di Desa Pasar V Natal, Kecamatan Natal ataupun yang sering disebut juga dengan Desa Seberang. Pak SF mempunyai seorang istri dan 5 orang anak, anaknya yang pertama telah lulus dari Universitas Sumatera Utara yakni dari Fakultas teknik, kemudian anaknya yang 4 orang masih duduk dibangku sekolah. Pak SF bersuku campuran yakni antara Mandailing dan Melayu Pesisir yang mana bapaknya bersuku Mandailing dengan marga Nasution dan ibu nya bersuku Melayu Pesisir. Pendidikan terakhir Pak SF adalah S2. Pak SF mulai masuk menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) pada tahun 1994 dan dia sudah bekerja sebagai seorang pegawai negeri selama 19 tahun. Pak SF sudah menjabat sebagai kepala
sekolah di SMAN 1 Natal selama 7 tahun terakhir. Selama Pak SF menjabat sebagai kepala sekolah ataupun sebelum ia menjabat sebagai kepala sekolah di SMAN 1 Natal ini, Pak SF menyebutkan tidak ada perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun mengenai sikap dan perilaku siswa mengenai pendidikannya. Setiap tahunnya ada saja siswa yang berhenti ataupun putus sekolah ditengah jalan yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah ketidakmampuan ekonomi keluarga dalam membiayai pendidikannya. Selain itu Pak SF juga menyatakan tidak sedikit siswa yang dikeluarkan dari sekolah akibat kenakalan siswa itu sendiri seperti merokok, sering bolos, terlambat, dll. Kemauan ataupun minat para siswa untuk bersekolah di SMAN 1 Natal menurut Pak SF cukup tinggi ditandai dengan banyaknya pendaftar pada setiap tahun ajaran baru dan itu semua masih banyak yang tidak diterima dari mereka semua yang mendaftar. Di SMAN 1 Natal Pak SF menyatakan bahwa ada juga muridnya yang sepulang sekolah bekerja membantu orang tuanya untuk bekerja meringankan perekonomian keluarga, dan sudah jelas mereka itu berasal dari keluarga yang ekonomi nya kurang mencukupi. Meskipun demikian, Pak SF tetap menekankan kepada murid-muridnya bahwa pendidikan itu harus diutamakan disamping tetap membantu orang tua untuk bekerja. Untuk tetap menjaga semangat dan minat anak-anak untuk bersekolah Pak SF melakukan bergagai program kegiatan disekolahnya melalui bidang masing-masing yaitu seperti mengadakan latihan pramuka bagi para siswa, sepak bola bagi siswa laki-laki, dan juga tari-tarian daerah sekaligus untuk menjaga kelestarian tarian tradisional didaerah Kecamatan Natal. Setiap akhir semester di SMAN 1 Natal juga diadakan pertandingan antar kelas, dan kegiatan ini juga ditujukan untuk meningkatkan minat siswa untuk tetap bersekolah. Pak SF menyebutkan juga bahwa faktor budaya ikut mempengaruhi minat siswa unutk tetap bersekolah, jika didalam keluarganya tidak ditanamkan dari sejak kecil tentang nilai-nilai pentingnya pendidikan, maka si anakpun akan tidak peduli
dengan pendidikannya sendiri. Mengenai tingkat ekonomi siswa yang bersekolah di SMAN 1 Natal Pak SF menyebutkan bahwa perbandingannya hampir sama antara siswa dari kelas ekonomi menengah keatas dan dari kelas ekonomi menengah kebawah. Perlakuan terhadap siswa dalam kegiatan belajar mengajar semuanya sama, tidak ada yang dibeda-bedakan antara kelas ekonomi atas dan kelas ekonomi bawah. Menyangkut infrakstruktur sekolah yang ada di SMAN 1 Natal sampai saat ini menurut Pak SF sudah cukup memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, ditandai dengan dibangunnya dua ruangan kelas baru pada tahun 2007 untuk menambah daya tamping siswa di SMAN 1 Natal. Tenaga pengajarnya pun juga sudah cukup memadai dengan adanya guru honor yang mengajar disekolah tersebut ditambah lagi dengan guru tetap ataupun PNS yang mengajar disitu. Guru – guru di SMAN 1 Natal juga sudah ada sebagian yang mengikuti sertifikasi guru termasuk Pak SF sendiri. Jika ada hambatan yang terjadi disekolah dalam kegiatan belajar mengajar Pak SF akan bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dalam menyelesaikan persoalan tersebut, begitu juga dalam menghadapi kenakalan- kenakalan siswa yang terjadi.
Anak – Anak Putus Sekolah 1. Nama : Roy Liswandi
Usia : 23 Tahun
Roy Liswandi adalah salah satu dari anak putus sekolah yang ada dilingkungan masyarakat nelayan yang ada di Kelurahan Pasar II Natal. RL berusia 23 tahun. RL bersuku melayu pesisir. Jenjang pendidikan terakhirnya hanya sampai pada kelas 5 Sekolah Dasar saja, pada saat duduk dikelas 5 ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan mulai saat itu hingga saat ini RL bekerja sebagai nelayan. Pada awalnya ia ikut bekerja dengan ayahnya menjemur ikan bersama di tempat penjemuran ikan yang ada disekitar pemukiman masyarakat nelayan yang ada
di Kelurahan Pasar II Natal, itupun mereka bekerja kepada seorang toke yang mempunyai gudang ikan ditempat mereka bekerja tersebut dan mendapat gaji per hari. Besaran gaji yang RL dan ayahnya dapat per hari nya dari menjemur ikan tersebut tidak menentu, tergantung dari banyaknya ikan yang mereka kerjakan. Paling sedikit RL pernah mendapat upah sepuluh ribu rupiah dari hasil bekerja seharian di gudang tempat penjemuran ikan. Beberapa waktu kemudian setelah RL berhenti sekolah RL tidak hanya lagi ikut dengan ayahnya bekerja menjemur ikan, ia pun mencoba ikut pergi melaut mencari ikan dengan ikut bekerja dikapal milik seorang toke. Mulai dari saat itu sampai sekarang ia pun terus bekerja sebagai nelayan dengan ikut melaut bersama kapal tempat ia bekerja tersebut. RL memutuskan untuk ikut melaut dikarenakan penghasilan yang didapat lebih besar dibandingkan dengan yang ia kerjakan sebeblumnya yakni menjemur ikan di tempat penjemuran ikan. Sekali pergi melaut ia bisa mendapatkan uang seratus ribu rupiah sepulangnya dari melaut, tetapi itupun tidak rutin setiap hari seperti itu, kadang ia juga pernah tidak mendapat sepeserpun dikarenakan sedikitnya ikan yang didapat dan hasilnya hanya cukup untuk membayar uang pembelian minyak kapal. Alasan RL untuk memutuskan berhenti sekolah adalah disebabkan oleh faktor ekonomi keluarganya yang kurang mampu. Penghasilan orang tua nya per bulan hanya berkisar antara Rp 500.000 – Rp 1.000.000. Sebenarnya orang tuanya tidak menyetujui keputusannya untuk tidak melanjutkan sekolah, tetapi karena himpitan ekonomi akhirnya orang tuanya menyetujui ia untuk berhenti sekolah. Didalam keluarganya tidak begitu mementingkan pendidikan, mereka beranggapan sekolah pun sampai SMA akhirnya akan bekerja sebagai nelayan juga. Meskipun RL putus sekolah, tapi ia menyatakan tidak merasa minder dengan statusnya yang putus sekolah tersebut. Tetapi terkadang ketika melihat teman-teman sebayanya yang tetap melanjutkan sekolah ada juga terlintas keinginannya kembali untuk melanjutkan sekolah. Dalam keluarganya RL ikut membantu
menunjang perekonomian keluarganya dengan bekerja sebagai nelayan tersebut, dan itu dilakukannya tidak semata-mata atas keinginannya sendiri, melainkan ada juga dorongan dari orang tuanya untuk ikut bekerja membantu mencari nafkah untuk keluarga.
2. Nama : Ali Hanafiah (Burung) Usia : 23 Tahun
Ali Hanafiah merupakan anak putus sekolah yang ada di lingkungan masyarakat nelayan yang terletak di Kelurahan Pasar II Natal, Kecamatan Natal. AH berusia 23 tahun dan ia bersuku mandailing. Jenjang pendidikan terakhirnya adalah hanya sampai tamat SD, setelah itu ia tidak melanjutkan sekolah lagi ke tingkat SMP. AH memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah adalah berdasarkan keinginannya sendiri dan bukan disebabkan oleh faktor ekonomi ataupun yang lainnya, dia mengaku malas untuk bersekolah dan memilih untuk berhenti dan bekerja mencari uang sendiri. Setelah tamat SD dan memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah lagi RL bekerja sebagai nelayan, mulai dari membelah ikan untuk dijemur sampai dengan bekerja di gudang penjualan udang. AH pun sudah pernah ikut melaut mencari ikan, tetapi itu tidak rutin