BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Profil Informan
PAUD Sinar Pelangi ……….… 62 Matrik III. 3.1 Tanggapan Informan terhadap konflik yang terjadi
antara pengelola dengan Pemerintah……….. 64 Matrik III. 3.2 Tanggapan Informan terhadap konflik yang terjadi
antara pengelola dengan masyarakat……….. 68 Matrik III. 3.3 Tanggapan Informan terhadap konflik yang terjadi
antara pengelola dengan orang tua murid..………….. 71 Matrik III. 3. 4 Tanggapan Informan terhadap konflik yang terjadi
antara pengelola dengan donatur….……….. 74 Matrik III. 4 Konflik yang terjadi di PAUD Sinar Pelangi…………. 76
commit to user
xiii
ABSTRAK
SINUNG REJEKI, D0306057, Konflik Pemangku Kepentingan Dalam
Pelaksanaan Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ( Studi eksploratif tentang konflik pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)Sinar Pelangi Di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta), Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik,
Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2011.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konflik yang terjadi antar pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksploratif kualitatif. Dalam penelitian ini sampel yang diambil sebanyak 10 (sepuluh) orang, dengan perincian sebagai berikut: 1 (satu) orang Pengelola PAUD, 1 (satu) orang anggota masyarakat, 1 (satu) orang donatur. 1 (satu) orang anggota Tim Pemantau PAUD tingkat Kota, 1 (satu) orang staff Kelurahan, 1 (satu) orang dari PKK, 1 (satu) orang wali murid yang pernah menitipkan anaknya di PAUD Sinar Pelangi, 3 (tiga) orang wali murid PAUD Sinar Pelangi. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi berperan pasif dan dokumentasi, sedangkan pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling. Informan yang diambil adalah merupakan informan yang memiliki latar belakang yang sesuai dengan kebutuhan peneliti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konflik yang terjadi antara dua kelompok dengan kepentingan yang berbeda. Kelompok kepentingan pertama mempunyai keinginan agar PAUD Sinar Pelangi tutup dan tidak beroperasi kembali, kelompok ini terdiri dari beberapa orang anggota masyarakat sekitar PAUD sinar Pelangi yang beragama Islam. Kelompok kepentingan yang kedua terdiri dari pengelola dan orangtua murid yang menginginkan PAUD Sinar Pelangi tetap berjalan.
commit to user
xiv ABSTRACT
SINUNG REJEKI, D0306057, Stakeholder Conflict in Progress Program Early Childhood Education (PAUD) (explorative study about conflict of stakeholders in the implementation of Early Childhood Education (PAUD) Sinar Pelangi At Semanggi Semanggi Subdistrict, Pasar Kliwon District Of Surakarta City), Script Faculty of Social Science and Political Science, Sebelas Maret University, 2011.
This study aims to identify conflicts between stakeholders in the implementation of Early Childhood Education program (PAUD) Sinar Pelangi in Semanggi Subdistrict,
Pasar Kliwon District Of Surakarta City.
This research is a type of exploratory qualitative research. In this study samples was 10 (ten) persons, with details as follows: 1 (one) Management of PAUD, 1 (one) member of society, 1 (one) of the donor. 1 (one) member of the Monitoring Team City early childhood level, 1 (one) District staff, 1 (one) out of the PKK, 1 (one) of parents who never leave their children in early childhood Sinar Pelangi, 3 (three) persons guardian Light Rain Early Childhood students. Techniques of collecting data through in-depth interviews, observation and documentation passive role, whereas sampling of research conducted with a purposive sampling technique. Informants are taken is an informant who has a background in accordance with the needs of researchers.
The results showed that there is conflict between the two groups with different interests. The first interest group has the desire for early childhood Sinar Pelangi closed and not operated again, this group consisted of some community members about early childhood Rainbow rays as Muslim. The second interest group composed of managers and parents who want early childhood Rainbow Rays keep it running
commit to user
1 BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia berkomitmen dalam menindaklanjuti deklarasi A World
Fit For Children yang diterjemahkan ke dalam Program Nasional Bagi Anak
Indonesia (PNBAI) 2015. PNBAI 2015 mencakup 4 (empat) bidang pokok yaitu: promosi hidup sehat; penyediaan pendidikan berkualitas; perlindungan terhadap perlakuan salah; eksploitasi dan kekerasan; serta, memerangi HIV/AIDS. Untukmempercepat pelaksanaan PNBAI 2015, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan bersama sektor pemerintah terkait, organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat mengembangkan model Kota Layak Anak, yaitu kota yang didalamnya telah meramu semangat untuk memberikan perlindungan terhadap anak sebagai kegiatan atau upaya untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya dalam proses pembangunan berkelanjutan.
Inisiatif Kota Layak Anak (KLA) yang dikembangkan oleh UNICEF merujuk pada hasil penelitian Kevin Lynch mengenai “Children’s
Perception of theEnvironment” di Melbourne, Warsawa, Salta dan Mexico City
tahun 1971- 1975. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang terbaik untuk anakadalah yang mempunyai kelompok yang kuat secara fisik dan sosial, kelompok yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas, kelompok yang 1
commit to user
2 memberi kesempatan pada anak, dan kelompok yang mempunyai fasilitas pendidikan yang memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka. Dari penelitian inilah kemudian dikembangkan berbagai indikatoruntuk mengukur suatu wilayah/ kawasan ramah terhadap anak atau belum.
KLA kemudian diperkenalkan oleh UNICEF bersama UNHABITAT Pada UnitedNations General Assembly Special Session on Children (UN-GASS) tahun 2002 yang mendeklarasikan World fit for Children. Pada paragraf 13 pembukaan menegaskan bahwa anak dan remaja harus mempunyai tempat tinggal yang layak, terlibat dalam proses pengambilan keputusan baik di kota maupun komunitas, dan penting untuk terpenuhinya kebutuhan dan peran anak dalam bermain di komunitasnya. Istilah Ramah Anak kemudian lahir di Indonesia menandai sebuah kondisi dimana masyarakat diajak bersama- sama lebih memperhatikan, mengakomodir dan memenuhi hak-hak anak.
Model Kota Layak Anak dikembangkan dengan pertimbangan bahwa 43,24% anak Indonesia tinggal di perkotaan (UNICEF, 2007) dengan pertumbuhan sekitar 4,4% diperkirakan pada tahun 2025, sekitar 60% anak Indonesia tinggal di kota. Permasalahan anak di kota mendapat perhatian tersendiri mengingat belakangan banyak berkembang berbagai perlakuan tak layak terhadap anak seperti kekerasan, kelaparan dan gizi buruk, penyakit endemik, kenakalan anak, eksploitasi anak berupa pelacuran, trafficking, pekerja
commit to user
3 anak dan kondisi traumatis, serta tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan.
Untuk mempercepat terwujudnya pengembangan Kota Layak Anak (KLA), Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan menjadikan model KLA ini sebagai prioritas program dalam bidang kesejahteraan dan perlindungan anak denganmenetapkan 7 (tujuh) aspek penting dalam pengembangan KLA yaitu :
1. Kesehatan 2. Pendidikan 3. Sosial
4. Hak Sipil dan Partisipasi 5. Perlindungan Hukum
6. Perlindungan Ketenagakerjaan 7. Infrastruktur
Salah satu aspek terpenting dalam perkembangan hidup anak yaitu aspek pendidikan dan sosialisasi anak. Pada usia 0-6 tahun merupakan masa emas bagi pertumbuhan anak. Aneka stimulus yang diberikan pada masa itu akan meningkatkan daya pikir dan kreativitas anak. Karena itu, beberapa tahun terakhir ini bermunculan "sekolah" yang diperuntukkan bagi anak di bawah usia 4 tahun yang akrab disebut pre school.
Berikut kutipan dari sebuah jurnal yang berisikan pentingnya pendidikan anak sejak usia dini terutama sebagai sarana untuk mengenalkan anak pada lingkungan sosial:
commit to user
4 Usia dini yang lazim diartikan pada kisaran 0-6 tahun memang merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan pengembangan intelegensi seorang anak. Sudah banyak penelitian yang membuktikan pada usia tersebut anak-anak memiliki tingkat intelegensi atau kecerdasan paling optimal.
Tujuan utama pendidikan usia dini adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal yang meliputi aspek fisik, psikis, dan sosial secara menyeluruh. Dengan begitu anak diharapkan lebih siap untuk belajar lebih lanjut. Bukan hanya belajar secara akademik di sekolah, melainkan juga sosial, emosional, dan moral di semua lingkungan. (Tri Subeno. 2009)
Dengan diadakannya pendidikan sejak dini, maka kualitas generasi muda akan lebih optimal. Namun, tak semua anak Indonesia dapat menikmati
pre school akibat mahalnya biaya pendidikan yang harus ditanggung orang tua.
Belajar dari pengalaman itu, maka dikembangkan satu Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berbasis masyarakat. Program PAUD berbasis masyarakat yang diupayakan secara mandiri merupakan satu upaya mengatasi kendala dana bagi anak dari keluarga tidak mampu untuk dapat menikmati rangsangan dalam pendidikan sejak usia dini.
Pendidikan anak usia dini sebenarnya menjadi kebutuhan anak, terutama yang tinggal di perumahan sempit, dengan fasilitas yang kurang mampu mendukung proses tumbuh kembang anak. Misalnya, anak yang tinggal
commit to user
5 di rumah dengan satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Mereka jadi tidak mengenal dengan perbendaharaan kata- kata kamar bermain, ruang keluarga atau kamar belajar. Yang ada dibenak mereka hanya kamar tidur dan ruang tamu saja. Dengan kata lain, perbendaharaan kata mereka terbatas atau jadi miskin kata-kata. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan dengan biaya murah, karena perangkat pendidikannya bisa dibuat sendiri dan tidak membeli produk impor yang harganya jutaan. Sehingga, biaya pendidikan yang dipungut ke orang tuanya tidak terlalu mahal.
Meskipun anak baru berusia satu tahun, mereka sudah bisa diperkenalkan dengan lingkungan belajar sekaligus bermain, sebelum memasuki lingkungan sekolah. Jadi di dalam PAUD pendidikannya tidak sama dengan taman kanak-kanak atau sekolah dasar yang mulai diperkenalkan huruf-huruf atau angka.
Pendidikan anak usia dini dapat dilakukan sendiri oleh para ibu di rumah, hal itu mungkin saja dapat dilakukan bila kualitas pendidikan sang ibu memenuhi kriteria untuk itu. Tapi persoalannya, pendidikan anak usia dini tak sekedar melatih kemampuan kognitif anak tetapi juga bersosialisasi dengan lingkungan. Karena biasanya keluarga masa kini hanya punya dua anak. Dan itu sangat berbeda bila anak bergaul dengan lingkungannya di dalam kelompok belajar.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan jenjang pendidikan prasekolah untuk anak usia 0-6 tahun yang memiliki tujuan untuk
commit to user
6 mengembangkan potensi yang dimiliki anak sesuai bakat dan talenta melalui kurikulum pendidikan yang bersifat tutorial. Lembaga ini menjadi media pendorong tumbuh-kembang anak sesuai tahapan usia dengan mengutamakan unsur kegembiraan, permainan, dan kreasi berpikir bebas.
Saat ini banyak lembaga sosial atau yayasan pendidikan, yang menyelenggarakan pendidikan anak usia dini diberbagai wilayah. Meskipun demikian, disadari atau tidak, pendirian PAUD, baik berupa playgroup, TK, maupun Raudhatul Athfal, dan sebagainya lebih didorong oleh motivasi ekonomi. Di tengah arus komersialisasi pendidikan institusi ini tampak sebagai “alat ekonomi” untuk menarik laba sang pemilik. Tidak mengherankan di berbagai kota besar bermunculan institusi penyelenggara PAUD yang menawarkan berbagai fasilitas, metode pendidikan, serta segala keunggulan yang tentu saja harus ditebus orang tua siswa dalam bentuk sumbangan (biaya) pendidikan yang mahal.
Berikut kutipan dari sebuah jurnal yang menyatakan mahalnya biaya pendidikan usia dini formal. Sehingga perlu adanya PAUD non formal agar dapat diakses oleh anak dari keluarga yang termasuk dalam ekonomi bawah:
Persoalan yang muncul adalah PAUD yang formal seperti TK masih lebih banyak dinikmati oleh anak-anak dari masyarakat kelas menengah ke atas. Realitas seperti itu terjadi karena biaya pendidikan di TK tergolong mahal, apalagi di TK yang menerapkan sistem fullday school. Dengan
commit to user
7 demikian, anak-anak dari lapisan masyarakat bawah kehilangan akses untuk memasuki PAUD formal. Karena itu, yang mendesak untuk dilakukan adalah menggalakkan PAUD nonformal seperti kelompok bermain, tempat penitipan anak, dan pengasuhan di rumah.. Pemanfaatan jalur nonformal dan informal tersebut, menurut saya, akan menambah akses bagi masyarakat luas untuk memasukkan anak-anaknya ke dalam PAUD. (Bahtiar, 2009)
Berikut kutipan dua jurnal internasional yang berisikan bahwa anak dari keluarga miskin akan lebih susah mengakses pendidikan dibanding dengan anak-anak dari keluarga mampu:
Socioeconomic factors.Children from families that are better off economically and socially are more likely to be enrolled than are children from families with few resources or that are part of groups discriminated against socially. Although this statement is logical and comes from a general literature review, in evaluation reports prepared for the World Education Forum almost no attempt was made to present hard data showing how enrollment is related to
economic or social status (ROBERT G. MYERS Gale Encyclopedia of
Education)
Faktor sosial ekonomi. Anak-anak dari keluarga yang lebih baik secara ekonomi dan sosial lebih berpeluang untuk mendaftarkan diri daripada anak-anak dari keluarga dengan sumber daya yang sedikit (miskin) yang merupakan bagian dari kelompok pinggiran. Meskipun pernyataan ini logis dan berasal dari tinjauan literatur umum, dalam laporan evaluasi dipersiapkan untuk Forum Pendidikan Dunia hampir tidak ada usaha untuk menyajikan data nyata yang menunjukkan bagaimana pendaftaran terkait dengan status ekonomi atau sosial
Furthermore, within districts, the poor get the worst of all of these inequities. Children from poor families start school later, complete fewer years of schooling, and have higher dropout and repetition rates. These children also have lower rates of participation in early childhood education and development services.
Lagipula, di dalam daerah, yang miskin mendapat yang terburuk dari semua ini inequas. Anak-Anak dari keluarga-keluarga miskin terlambat memulai sekolah,
commit to user
8 kemudian putus sekolah, dan harus mengulang. Anak-Anak ini juga mempunyai tingkat keikutsertaan yang rendah dalam pendidikan anak usia dini dan pengembangan jasa. (NAEYC 1994. 64 Early Childhood Education and Development in Indonesia)
Tidak ketinggalan di tengah inflasi partisipasi publik dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini sesuai amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, diberbagai wilayah, terutama di Surakarta bermunculan institusi penyelenggara PAUD bersifat sosial. Institusi penyelenggara yang bersifat sosial umumnya didirikan oleh komunitas pro-edukasi atau oleh pemerintah lokal. Banyak institusi penyelenggara yang didirikan oleh kalangan organisasi non-pemerintah dan elemen civil society dengan sasaran komunitas dampak (beneficiaries community) adalah anak-anak usia prasekolah dari keluarga miskin.
Sebuah iktikad pelayanan sosial di bidang pendidikan dasar yang tanpa menarik biaya sepeser pun dari orang tua siswa atau dengan menarik biaya seminimal mungkin. Dukungan dari lembaga donor atau unit penggalangan dana, menjadikan aktivitas pendidikan anak usia dini bagi keluarga miskin bisa terselenggara secara berkelanjutan.
Partisipasi multipihak pada penyelenggaraan pendidikan usia dini bagi masyarakat miskin memiliki beberapa ciri sosial. Pertama, diselenggarakan di wilayah tinggal para siswa usia dini. Wilayah edukasi berbasis kampung (teritori tinggal) anak yang mengikuti fasilitas pendidikan anak usia dini. Kedua, dikelola dalam konsep public voluntary, dengan
commit to user
9 melibatkan partisipasi multipihak. Karena itu ada kerja sama untuk memajukan proses pendidikan anak usia dini. Ketiga, lebih mengedepankan aspek pembelajaran yang mendorong penguatan aspek solidaritas sosial dalam ranah peningkatan psikomotorik siswa anak usia prasekolah.
Di Kota Surakarta institusi PAUD berbasis kampung pada umumnya berada di wilayah pinggiran kota yang didiami masyarakat urban yang biasanya berprofesi sebagai pekerja informal. Sayangnya berbagai institusi penyelenggara PAUD yang bervisi sosial, untuk kepentingan masyarakat kurang mampu (miskin) masih memiliki kekurangan. Kekurangan itu meliputi: fasilitas atau infrastruktur kegiatan baik berupa bangunan yang semi permanen, alat peraga-permainan yang ala kadarnya, sampai model kurikulum pembelajaran yang belum inovatif. Tenaga pendidik institusi penyelenggara PAUD berbasis kampung, juga merupakan tenaga honorer tanpa pendidikan keahlian. Meski demikian kompetensi mereka tidak diragukan dalam mendidik anak-anak usia dini. Sebenarnya jika ada respons kreatif dari pemegang kebijakan anggaran pendidikan institusi PAUD yang berfungsi sosial seharusnya berhak mendapatkan alokasi anggaran sesuai kebutuhan. Lagipula, saat ini ada goodwill dari pemerintah pusat/ daerah untuk mengalokasikan 20 persen dana APBN/APBD untuk sektor pendidikan. Meski dalam implementasi masih terkendala kebijakan birokrasi.
commit to user
10 Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
“Bagaimanakah konflik pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program PAUD institusi Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta?”
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui kepentingan pemerintah, dan lembaga sosial/ lembaga
donor dalam pola relasi dengan Pemangku Kepentingan PAUD Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta.
2. Untuk mengetahui kepentingan masyarakat dan wali murid dalam pola relasi dengan Pemangku Kepentingan PAUD Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta.
3. Untuk mengetahui jenis atau tipe- tipe konflik antar pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program PAUD Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta.
4. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab konflik antar pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program PAUD Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta.
commit to user
11 5. Untuk mengetahui resolusi yang diambil dalam upaya menyelesaikan konflik antar pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program PAUD Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberi sumbangan dan sekaligus ikut memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya bagi ilmu Sosiologi.
2. Dapat digunakan sebagai titik tolak untuk melakukan penelitian secara lebih mendalam.
3. Menjadi referensi dalam pengembangan proses pendidikan usia dini khususnya PAUD Sinar Pelangi di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta.
E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori Yang Digunakan
Dalam karya Dahrendorf (1958, 1959), pendirian teori konflik dan teori fungsional disejajarkan. Menurut Dahrendorf dan teoritisi lainnya, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial, berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan. Teoritisi
commit to user
12 konflik melihat apa pun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada diatas. Teori ini juga menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Teori konflik harus menguji konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat bersama dihadapan tekanan itu.
Menurut Dahrendorf, ada dua kelompok konflik yang dapat terbentuk di dalam setiap asosiasi. Kelompok yang memegang posisi otoritas dan kelompok subordinat yang mempunyai kepentingan tertentu “yang arah dan substansinya saling bertentangan”. Konsep kunci dalam teori konflik Dahrendorf adalah kepentingan. (Ritzer dan Goodman, 2007: 153-154)
Menurut Dahrendorf, teori konflik bertujuan mengatasi watak yang secara dominan bersifat arbiter dari peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak dapat dijelaskan, dengan menurunkan peristiwa-peristiwa tersebut dari elemen-elemen struktur sosial. Dengan kata lain, menjelaskan proses-proses tertentu dengan penyajian yang bersifat ramalan. Koflik antar buruh dan majikan memang memerlukan penjelasan tetapi yang lebih penting ialah menunjukkan bukti bahwa konflik yang demikian didasari oleh susunan-susunan struktur tertentu, yang oleh karenanya di manapun cenderung melahirkan susunan struktur sebagaimana yang telah ada. Dengan demikian yang menjadi tugas sisiologi ialah melihat hubungan konflik dengan struktur sosial tertentu dan bukan menganggapnya berhubungan dengan
variabel-commit to user
13 variabel psikologi (“sifat-sifat agresif”) atau variabel historis deskriptif (masuknya orang negro ke amerika serikat) atau unsur kebetulan (Poloma, 2005 : 129).
Teori konflik berorientasi ke studi struktur dan institusi sosial. Dalam karya Dahrendorf, teoritisi konflik lainnya, setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan. Teoritisi konflik juga melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teoritisi konflik juga melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan. (Ritzer dan Goodman, 2003 : 153).
Dahrendorf membedakan golongan yang terlibat konflik itu atas dua tipe. Pertama kelompok semu (Quasi Group) dan kelompok kepentingan. Kelompok semu merupakan kumpulan dari para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang sama yang terbentuk karena munculnya kelompok kepentingan. Sedangkan kelompok yang kedua yakni kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas. Kelompok kepentingan ini mempunyai struktur, organisasi, program, tujuan serta anggota yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata timbulnya konflik dalam masyarakat. (Ritzer, 2004 : 27)
Kedua kelompok ini dilukiskan oleh Dahrendorf seperti berikut : “Mode perilaku yang sama adalah karakteristik dari kelompok kepentingan yang direkrut dari kelompok semu yang lebih besar. Kelompok kepentingan adalah kelompok dalam pengertian sosiologi yang ketat; dan kelompok ini
commit to user
14 adalah agen riil dari konflik kelompok. Kelompok ini mempunyai struktur, bentuk organisasi tujuan atau program dan anggota perorangan. Dari berbagai jenis kelompok kepentingan itulah muncul kelompok konflik atau kelompok yang terlibat dalam konflik aktual (Ritzer dan Goodman, 2003 : 156).
Kondisi-kondisi tersebut, kepemimpinan, ideologi, kebebasan politik yang minimal, komunikasi internal merupakan prasyarat dasar untuk pembentukan kelompok-kelompok konflik. Dengan demikian berarti bahwa apabila salah satu dari elemen-elemen tersebut tidak ada diantara para anggota suatau kelompok semu, maka suatu kelompok konflik tidak akan terbentuk. Kondisi-kondisi ini juga harus diingat sebagai variabel- variabel yang mungkin mempunyai nilai yang berbeda dalam kelompok konflik yang berbeda. Disamping itu, diluar tingkat minimal yang diperlukan untuk pembentukan kelompok konflik, peminpin-pemimpin dan idiologi- idiologi