• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Kasus Muhamad Riyan Pratama (13 tahun)

BAB IV. PROFIL KASUS ANAK PEKERJA PENYAPU ANGKOT

4.4. Profil Kasus Muhamad Riyan Pratama (13 tahun)

Muhamad Riyan Pratama adalah anak berdarah Jawa berumur 13 tahun yang lahir di Medan, 23 April 2003. Muhamad Riyan Pratama yang biasa di panggil Riyan ini, anak pertama dari empat bersaudara dari empat orang bersaudara ini semua terdiri dari laki-laki saja. Adik keduanya bernama Ariya Putradinata yang pada saat ini duduk di kelas Empat SD, sedangkan Adik ke-3 yang bernama Fauzan Muzaki sedang duduk di bangku kelas Dua SD, namun ia pernah sempat putus sekolah di karenakan malas masuk sekolah selama seminggu tidak pernah masuk sekolah dan pada akhirnya dipindahkan sekolahnya ke Siantar dan sedangkan adik Riyan yang paling bungsu belum sekolah yang pada saat ini ia berumur Empat setenah tahun menjelang masuk TK. Riyan saat ini tinggal bersama orangtuanya beserta ketiga adik-adiknya di Jl. Puskesmas Pasar 2 Medan. Ayah Riyan adalah seorang Tukang Bangunan bagian ngecet rumah, kerja borongan perbulan setiap rumahnya. Ayah Riyan bekerjanya tidaklah menentu,

apabila ia di panggil orang untuk ngecet rumah maka ia akan bekerja, tetapi apabila tidak ada kerjaan maka ayah Riyan lebih banyak di rumah. Kadang- kadang ayah Riyan mencoba mencari pekerjaan sampingan sampai ia mendapat telfon untuk di panggil kerja ngecet rumah. Pekerja sampingan yang biasa ayah Riyan kerjakan yakni menjadi kenek mencari penumpang suatu bus di terminal. Namun kerja sampingan ini tidak terlalu sering ia lakukan. Kadang–kadang apabila tidak ada kegitan atau pekerjaan yang bisa ia lakukan ia hanya istirahat di rumah.

Sedangkan Ibu Riyan bernama ibu Nova Virdayanti adalah selain sebagai ibu rumah tangga, ibu dari ke-4 anak-anaknya dan istri dari suaminya yang bernama bapak Rizal. Ibu Riyan ini selain bekerja di rumah ia juga mencari kerja sampingan untuk membantu suaminya. Ibu Riyan ini kesehariannya bekerja sebagai Tukang cuci keliling, ia bekerja dari rumah kerumah, ia mempunyai dua rumah yang telah menjadi langanannya. Ia bekerja di gaji perbulannya senilai Rp. 600 ribu perbulan. Ia mulai pergi bekerja setelah anak-anak dan suaminya pergi sekolah dan kerja, sedangkan anaknya yang paling kecil ia tinggalkan dirumah. Pada pukul 10:30 ia berangkat kerumah tetangga yang telah menjadi langanannya mencuci.

Pada awalnya Riyan bekerja karena di ajak oleh teman-temannya yang bekerja sebagai penyapu angkot. Pada saat itu ia dalam kondisi sedang butuh uang untuk makan, ia belum makan mulai dari pagi hingga sore. Karena menunggu ayahnya lama pulang kerja Riyan pergi ke terminal Pinang Baris menjumpai

teman-temannya, awalnya ia hanya berniat pergi main-main ke terminal. Pada saat sesampai di terminal Riyan melihat teman-temannya bekerja menyapu angkot dan mendapatkan uang. Mulai dari situ Riyan mencoba bertanya kepada temannya tersebut mengenai pekerjaan yang temannya lakukan itu. Riyan pada saat itu bertanya kepada temannya yang bernama Jos, Jos adalah salah satu anak penyapu angkot yang rajin bekerja di terminal Pinang Baris ini. Setelah Riyan Bertanya Riyan pun tertarik untuk mencobanya sekedar untuk membeli nasi bungkus agar ia bisa makan, karena ia tidak tahan menunggu ayahnya pulang kerja membawa uang. Sebagai berikut pernyataannya:

“Saya pada saat mulai tertarik untuk menyapu ketika saya posisinya sedang membutuhkan uang untuk makan, karena dirumah tidak ada yang bisa di makan kak,, pada saat saya pulang sekolah liat kedapur ngak ada makanan, mamak ngak masak karena beras udah abis, bahan untuk dimasak pun ngak ada, mau beli duit mamak ngak ada,,,kata mamak sabar sampai bapak bawak duit pulang dari kerja,,, awak mana tahan nunggu bapak sampai sore pulang kerja, jadinya awak pigi keterminal, cumpa sama kawan-kawan sana, saya liat mereka nyapu dan dapat duit,,yaudah saya coba aja nyapu dan pada akhirnya saya bisa dapat duit dan bisa makan pada saat itu”

Selain alasan ingin mendapatkan uang untuk makan pada saat itu, Riyan pada akhirnya di ajak oleh temannya yang bernama Jos, karena orang pertama Riyan lihat pada saat itu adalah Jos, ia melihat Jos mendapatkan uang pada saat selesai menyapu senilai Dua ribu dan Riyan melihat Jos serta memperhatikan Jos menyapu angkot dalam sekejab bisa mendapatkan uang Sepuluh ribu. Pada akhirnya Riyan bertanya kepadanya, karena Jos melihat Riyan kelaparan dan pada akhirnya Jos mengajak Riyan untuk menyapu, awalnya Jos meminjamkan sapunya kepada Riyan dan mengajari Riyan menyapu. Sehingga Riyan bisa

menghasilkan uang seperti yang Jos lakukan di terminal Pinang Baris, lama- kelamaan Riyan ketagihan dan merasakan enak mendapatkan uang dari hasil kerjannya, sampai sekarang Riyan sepulang sekolah terus bekerja.

“ Saya pada saat itu di ajak oleh teman saya yang bernama Jos, dia udah lama dan udah terbiasa nyampu di terminal ini kak. Pada saat saya main keterminal saya liat dia dan kawan-kawan yang lain menyapu angkot, saya menyamperin dia dan bercerita-cerita dengannya, pada akhirnya saya ceritakan bahwa saya belum makan dari pagi karena ibu saya tidak memasak, yaudah si Jos ngajak saya untuk menyapu angkot dan meminjamkan sapunya kepada saya agar saya bisa menyapu dan mendapatkan uang untuk sekedar makan untuk satu hari ini”.

Selain di ajak oleh temannya serta mengajarinya, Riyan dari awal pada saat melihat teman-temannya mendapatkan uang dari hasil kerjannya sendiri, Riyan sebenarnya sudah terbesit di hatinya untuk mencobannya. Ia hanya coba-coba bekerja, yang pada awalnnya ia tidak pernah bekerja dan menghasilkan uang, dikarenakan posisinya pada saat itu kelaparan ia tertarik untuk mencoba bekerja menyapu angkot seperti kawan-kawannya yang lain. Berikut pernyataan Riyan kepada penulis pada saat di wawancarai di siang hari di terik matahari menyengat kulit, kami di bawah pohon duduk sambil makan buah yang penulis beli tidak jauh dari terminal tersebut, yakni :

“Awalnya saya kerja hanya coba-coba ajak kak, soalnya saya melihat kawan-kawan saya bisa mendapatkan duit dan ngak minta lagi sama orangtuanya, justru mereka bisa memberikan uang kepada keluargannya, sehingga saya tertarik mencobannya kak,, saya tertarik karena keluarga saya dari orang susah dan saya adalah anak pertama dari keluarga jadi saya coba-coba aja membantu”

Itulah pernyataan Riyan kepada penulis pada saat penulis wawancarai mengenai pekerjaan yang ia lakukan sekarang.

Dalam keluarga Riyan adalah keluarga ekonomi rendah orantuanya sering berantam karena masalah ekonomi, karena ayahnya Riyan kerja tidaklah tentu, ayahnya kerja musiman. Sedangkan ibu Riyan bekerja sebagai tukang cuci keliling datang kerumah-rumah tetangganya menawarkan jasannya, namun saat ini ibu Riyan telah memiliki langganan mencuci dengan ini bisa membantu pendapatan suaminya. Di karenakan ayah dan ibu Riyan bekerja dan gajiannya bulanan jadi sebelum gajian keluarga Riyan binggung mencari uang makan sehari-hari apabila uang belanja mereka telah habis oleh kebutuhan lain. Dengan seperti ini Riyan tertarik untuk mencoba membantu keluarganya, ia mencoba membantu keluarganya mencari uang. Dan pada akhirnya Riyan rutin sepulang sekolah bekerja menyapu angkot di terminal Pinang Baris. Pada saat ia mendapatkan uang ia berikan pada ibunya sebagian, sebagiannya lagi untuk Riyan. Riyan gunakan uang itu untuk beli jajan di sekolah selain itu apabila ia mendapatkan lebih ia tabungkan untuk biaya sekolahnya nanti, apabila ia sudah dewasa nanti ia ingin melanjutkan sekolahnnya kepeguruan tinggi yang ia suka dengan hasil tabungannya.

“Yang membuat saya tertarik untuk mencoba bekerja adalah karena keluarga kak, saya sangat sadar keluarga saya dari kalangan menengah kebawah atau bisa di sebut miskin kak, jadi karena melihat ayah sebagai tukang bangunan, dia bekerja tidaklah tentu, kadang ada dapat kerja kadang ngak, sedangkan kebutuhan sekolah saya dan adik-adik saya sangatlah besar kak,,meskipun ibu juga bekerja sebagai pencuci keliling, tetap aja kami susah. Yaudah saya coba-coba mulai menyapu angkot yang sebelumnya saya udah di ajarkan oleh Jos, tinggal saya membeli peralatannya, barulah saya bisa bekerja kapan pun saya mau,, sampai sekarang saya ketagihan untuk mencari uang dari hasil menyapu angkot kak”

Sepulang sekolah kegiatan Riyan adalah pulang kerumah untuk makan, ganti baju dan langsung berangkat lagi untuk bekerja menyapu angkot. Ia mengaku bosan berada dirumah karena dirumah ia tidak bisa melakukan apa-apa. Sesekali apabila Riyan pulang sekolah melihat rumah berantakan ia bersihkan, namun setelah itu ia merasa bosan berada dirumah, ia hanya nonton Tv dan bermain dengan adik-adiknya, ia merasa bosan hanya bermain saja dengan mereka, Riyan sepulang sekolah uang yang di berikan oleh ibunya telah habis di belanjakan di sekolah sehingga Riyan pada saat dirumah ia juga ingin belanja, tetapi ibunya tidak mempunyai uang lebih untuk ia bisa belanja pada saat pulang sekolah dan berada dirumah. Selain bosan akan rutinitas seperti itu Riyan pergi keluar menjumpai teman-temannya di terminal dan ia lebih suka bekerja agar bisa bermain dan mendapatkan uang untuk ia bisa belanja membeli jajan pada saat sepulang sekolah. Apabila ia hanya duduk dirumah ia merasa bosan dan suntuk dengan perut kosong.

“Karena udah terbiasa bekerja sehari-harinya, kalau ngak kerja berada dirumah aja bosan saya kak, ngak enak dirumah aja atau main sama kawan-kawan yang ngak kerja itu kak, soalnya nanti pas main mereka pasti jajan dan awak ngak,, yaudah saya mending pigi keterminal bisa ngumpul-ngumpul denga kawan sambil kerja dan bisa menghasilkan duit dari menyapu angkot”

Tidak tercukupi kebutuhan Riyan dari ibunya ini membuat ia masuk kedalam dunia kerja. Karena ia membutuhkan pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhannya seperti, membeli jajan, baju, dan uang belanjanya kesekolah. Riyan mengaku apabila ia tidak bekerja ia tidak mendapatkan uang belanja sekolah dari ibunnya. Namun apabila ibunnya mempunyai uang maka ia di berikanlah uang

belanja kesekolah. Namun selain itu Riyan membutuhkan ingin membeli sesuatu selain jajanan, ia menginginkan membeli mainan, baju yang bagus, dan uang untuk pergi kewarnet untuk ia bermain. Karena ibunya dan ayahnya tidak bisa memberikan ini setiap Riyan berkeinginan, membuat Riyan terpaksa harus bekerja untuk memperoleh itu semua. Ia bekerja tidaklah disuruh ibu dan ayahnnya ia bekerja atas kemauannya sendiri karena atas dasar ingin mencari uang tambahan untuk membeli sesuatu ia inginkan. Tindakan orangtuanya tidak melarang ia untuk bekerja, justru orangtuanya senang ia bisa menghasilkan uang, dengan seperti itu Riyan bisa membantu kebutuhan keluarga apabila ayah dan ibunnya tidak bisa penuhi.

“Uang dari hasil kerja saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari kak, untuk beli jajan, untuk uang beli buku disekolah, untuk membeli baju dan sepatu,, kalau mamak ada duit biasanya mamak yang belikan, tapi kalau mamak ngak ada duit saya sendiri yang membeli kebuthan saya itu kak dari hasil menyapu angkot ini, jadinya saya ngak mintak-mintak duit lagi ke mamak, saya bekerja atas kemauan saya sendirikak karena saya ingin membantu keluarga saya”

Menurut Riyan dengan ia bekerja ia bisa membantu orantuannya, karena setiap hasil pekerjaannya bisa ia berikan kepada orangtuannya untuk membeli lauk, beras, sayur untuk bisa makan sehari-harinya. Karena Riyan mengaku apabila ayah dan ibunya belum menerima gaji atau tidak mendapatkan uang ia dan keluarga sering hanya makan nasi dan telur, kadang-kadang ikan asin, dan ikan teri. Apabila sama sekali tidak ada uang mereka hanya bisa menunggu ayahnya pulang membawa uang untuk bisa makan.

Dengan Riyan bekerja setiap harinya ia bisa membantu ibunnya untuk membeli lauk untuk makan. Uang dari hasil kerja Riyan ini bisa ia kumpulkan untuk biaya sekolahnya, dan biaya belanja ketika ia pergi sekolah di pagi hari. Sesekali Riyan juga membantu ayah dan ibunnya memberi belanja adik-adiknya. Dikarenakan Riyan anak pertama membuat ia harus bertangung jawab bisa membantu adik-adiknya. Dalam menyapu angkot Riyan bisa mendapatkan uang senilai Rp. 80 ribu dalam seharinya, pekerjaan menyapu angkot ini tergantung banyaknya angkot disapu, apabila angkonya banyak maka ia bisa mendapatkan lebih dari Rp.80 ribu. Riyan mengaku ia pernah mendapatkan uang dari hasil menyapu angkot ini senilai Rp. 100 ribu dalam seharinya. Dengan seperti itu Riyan bisa membantu keluargannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Selain untuk membantu keluarga ia bisa menabungkan uang tersebut untuk biaya kuliah ia nanti apabila sudah besar. Ia bercita-cita nanti ia akan masuk kuliah bagian TataBoga, sehingga ia mulai menabung mulai dari sekarang.

“ Saya bekerja agar bisa membantu keluarga saya dari kesulitan ekonomi kak, dengan saya bekerja saya bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri tampa meminta uang lagi untuk uang jajan saya, kalau saya mendapat uang banyak saya akan kasihkan kepada ibu saya untuk membeli beras dan lauk untuk makan, dan sesekali saya juga membantu ibu saya memberi uang belanja sekolah untuk adik saya kak, saya kasihan melihat adik saya yang paling kecil sering menangis mintak duit kemamak untuk beli jajan tetapi mamak ngak bisa kasih karena mamak punya duit pas-pasan aja”

Riyan banyak menghabiskan waktu di luar, yakni di Terminal Pinang Baris tempat ia bekerja. Mulai di pagi hari pukul, 08:00 WIB ia mulai pergi keterminal Pinang Baris untuk bekerja, sesampai di sana ia mulailah menawarkan jasanya

kepada setiap angkot yang ada di terminal tersebut. Ia tidak banyak waktu bermain dengan temannya, waktu ia bermain yakni sekaligus ia bekerja, dimana ia bekerja disitu waktu ia bermain, ia bermain dengan teman-temannya sesama penyapu angkot, ia tidak bisa bermain dengan teman-temannya yang tidak bekerja, teman dimana hanya khusus bermain bergembira layaknnya seorang anak-anak seusiannya. Waktu sekolah Riyan juga tidak tentu, kadang masuk di sinag, dan kadang-kadang masuk di pagi hari. Jadi Riyan bekerja sesuai waktu sekolahnnya, apabila ia sekolah masuk pagi, ia akan bekerja sepulang sekolah yakni di siang hari hingga sore, apabila ia masuk siang maka ia bekerja mulai di pagi hari. Apabila selesai bekerja ia langsung pulang menganti baju dan memakai seragam sekolah untuk berangkat kesekolah. Riyan adalah salah satu anak yang paling peduli akan sekolahnnya, ia mempunyai cita-cita yang tinggi untuk masadepannya. Jadi ia lebih mendahulukan sekolah daripada bekerja, namun ia juga tidak bisa tidak bekerja karena untuk sekolah dan makan keluarga, tenagannya dibutuhkan oleh keluarganya tersebut, sehingga ia harus melakukan beban ganda.

“Saya bekerja setelah pulang sekolah kak, jam sekolah saya kandang masuk siang kadang masuk pagi, jadi kalau saya masuk pagi saya pulang sekolahnya jam Satu siang, setelah itu saya pulang dulu kerumah ganti baju lalu makan, abis itu barulah saya pigi keterminal untuk kerja menyapu angkot, tapi kalau saya masuk siang saya kerjanya pagi-pagi kak jam Delapananlah tapi saya ngak makan dulu, sepulang kerja jam Sebelasan barulah saya mandi, ganti baju pakai seragam sekolah dan makan abis itu saya barulah berangkat sekolah kak, biasanya saya pulang sekolah jam Enam sore, setelah pulang sekolah sore saya ngak kerja lagi”.

Apabila Riyan masuk siang jam 13:30 Wib ia hanya bekerja di pagi hari sampai jam 11:30 Wib setelah itu ia berangkat kesekolah sampai jam Enam di sekolah. Setelah pulang sekolah ia tidak bekerja lagi apabila pulang sekolah jam Enam sore. Tetapi apabila ia sekolah masuk pagi jam Delapan, ia pulang sekolah jam Satu siang, jadi setelah pulang sekolah ia pergi keterminal untuk bekerja menyapu angkot. Berbeda dengan hari minggu, pada hari minggu Riyan tidaklah bekerja karena di hari minggu angkot sepi beroperasi jadi di hari minggu Riyan menghabiskan waktu dengan adik-adiknya dan ibunnya di rumah. Riyan juga mengaku di malam minggu harus keluar rumah untuk main-main dengan teman- temannya. Waktu Riyan bermain hanyalah di malam minggu dengan teman- temannya, selebihnya ia habiskan untuk sekolah dan bekerja di terminal Pinang Baris menyapu angkot.

Seperti yang penulis tuliskan diatas bahwasanya Riyan adalah salah satu anak yang peduli akan pendidikannya, ia merupakan anak yang aktif dan berprestasi di sekolah, ia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Ia juga pernah mendapatkan juara tiga dari lomba membuat puisi antar sekolah. Selain itu ia juga pernah ikut lomba bermain Futsal tetapi ia tidak sempat juara. Seperti penulis uangkapkan diatas bahwa Riyan dalam umur masih 13 tahun sudah memikirkan kuliahnya, sehingga mulai dari sekarang ia mulai menabung sedikit-sedikit dari hasil menyapu angkot tersebut. Ayahnya telah menyarankan Riyan masuk di jurusan Tataboga bila kuliah nanti, dan Riyan pun setuju akan apa yang di sarankan oleh ayahnya, karena ia masih belum tahu ia berbakat kemana. Jadi

sekarang ini ia fokus sekolah dan bekerja untuk bisa kuliah di peguruan tinggi yang hebat. Riyan saat ini sudah duduk di kelas 1 SMP di Madrasah Islamiah Sunggal. Setiap hari ia berangkat kesekolah dengan menaiki angkutan umum, sesekali apabila ayahnya ada waktu ia diantarkan oleh ayahnya kesekolah dengan mengendarai sepeda motor.

“Menurut saya pendidikan itu sangat penting kak, meskipun saya dari keluarga ngak mampu saya ingin menjadi keluarga mampu nantinya kak, saya ngak mau seterusnya seperti ini hidup saya, jadi saya ngak mau meninggalkan sekolah saya, meskipun saya bekerja saya tetap mendahulukan sekolah kak. Sempat saya terkendala sekolah gara-gara biaya buku tetapi ibu saya berhutang dulu pada tetangga untuk membeli buku tersebut. Karena ngak mau lagi terkendala saya berusaha bekerja untuk bisa membantu orangtua saya sekaligus untuk biaya sekolah juga. Saya nanti besar mau kuliah di peguruan tinggi yang saya mau kak, kata bapak nanti kalau saya kuliah ambil jurusan tataboga aja, mulai dari sekarang hasil menyapu angkot sedikit-sedikit saya tabungkan untuk biaya masuk kuliah nanti, karena kata mamak biaya kuliah nanti besar,, mamak saya pun menyuruh saya bekerja menyapu angkot dengan benar agar bisa menabung untuk biaya kuliah saya”.

Pengalaman berbahaya yang pernah Riyan alami selama bekerja di terminal Pinang Baris adalah berkelahi dengan teman-temannya di tempat kerja karena masalah dipalaki uang hasil menyapu angkot. Pertama kali Riyan mulai menyapu angkot di terminal Pinang Baris adalah di mintai uang hasil dari menyapu oleh anak-anak yang terlebih (anak lama) dahulu berkerja disana. Riyan memberikan uang kepada mereka senilai Rp. 5 ribu tetapi mereka tidak terima, justru mereka meminta semua hasil kerja Riyan, Riyan sempat menolak pada akhirnya Riyan di pukuli oleh mereka sehingga muka Riyan biru-biru dan mulut berdarah. Karena mereka tidak terima ada anak baru masuk kedalam terminal untuk bekerja, ini

akan membuat uang masuk mereka akan berkurang. Riyan sempat mengadukan ini kepada ayahnya, justru ayahnya menyuruh Riyan melawan mereka apabila mereka melakukan itulagi kepada Riyan, sekarang ini apabila mereka meminta uang dari hasil ia menyapu ia akan melawan dan juga akan membalas pukulan yang di berikan kepada Riyan. Namun sekarang mereka telah kenal dengan Riyan sehingga mereka tidak pernah lagi meminta uang kepada Riyan. Mereka hanya tidak terima ada anak baru tampa meminta izin terlebih dahulu kepada mereka. Sekarang ini sesama anak penyapu angkot bekerja dengan damai dan bersahabat, meskipun setiap perkataannya selalu melontarkan kata-kata kotor dan bertindak sesukanya di terminal tersebut. Riyan mengaku ia adalah salah satu anak yang tidak terpengaruh untuk merokok dan negelem, berjudi, minum-minum, ia hanya bekerja khusus menyapu angkot saja, untuk kebutuhannya dan membantu kebutuhan keluarganya dirumah. Ayahnya juga pernah menasehatinnya bahwa ia di bolehkan bekerja asalkan tidak ikutan merokok seperti anak-anak penyapu angkot lainnya. Selain itu pengalaman perlakuan kasar dari supir-supir angkot setiap ia bertanya untuk menyapu angkot supir tersebut, justru supir itu membentak Riyan dan berkata kotor, bahkan sebagian dari supir-supir tersebut

Dokumen terkait