• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Tan Malaka

BAB VI: merupakan penutup yang didalamnya membahas kesimpulan dan saran

HASIL PENELITIAN

A. Profil Tan Malaka

1. Biografi dan pendidikan Tan Malaka

Tan Malaka memiliki nama kecil, yaitu Sultan Ibrahim. Pada usia sekitar 16 tahun, melalui upacara adat, ibrahim diberi gelar “Datuk Tan Malaka” dari sanalah, di masa depan, ia dikenal sebagai Datuk Tan Malaka atau ia sendiri sering menyebut dirinya Tan Malaka. Gelar Datuk Tan Malaka merupakan gelar semi bangsawan yang di dapatkan dari garis keturunan sang ibu.1 Tan Malaka lahir di Pandang Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada tanggal 2 Juni 1897.2 Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan petani, dan ibunya bernama Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa. Orang tuannya termasuk kedalam golongan bangsawan yang memilki hak dan kedudukan yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat sekitar desa. Semasa kecilnya Tan Malaka senang mempelajari ilmu agama dan berlatih pancak silat.3

Tan malaka lahir dalam lingkungan keluarga yang menganut agama secara puritan, taat pada perintah Allah serta senantiasa menjalankan ajaran Islam. Sejak kecil Tan Malaka dididik oleh tuntutan Islam secara ketat, seperti lazimnya tradisi masyarakat Minangkabau yang amat

1 Masykur Arif Rahman, Tan Malaka. ( Yogyakarta: LAKSANA, 2018). hal. 15.

2 Tan Malaka, Parlemen Atau Sovyet. ( Jakarta: LLPM Tan Malaka, 2012). hal. 6.

3 Muhammad Atho’illah, “Pandangan Tan Malak Tentang Tuhan”, (Skiripsi , Jurusan Aqidah Dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin Adad Dan Humaniora, Universitas Negeri Walisongo 2019). hal. 65-66.

religius. Terlebih karena ayahnya adalah seorang ulama yang wara’ dan terkemuka pada masa itu, sejak kecil Tan Malaka tumbuh dengan teman-teman sebayanya di kampung-nya dan kerap Tan Malaka menampakkan bakatnya sebagai seorang anak yang cerdas, periang mampu berbahasa Arab dan menjadi guru muda di surau kampungnya. Pendidikan agama Islam yang begitu membekas dalam diri Tan Malaka sehingga kemudian mewarnai seluruh corak pemikiran Tan Malaka. Tan Malaka mendapat pendidikan yang sangat religius. Pendidikan agama dari orang tuanya, menyebabkan Tan Malak kecil sudah hafal Al-Qur’an dan ia pun sudah dapat menafsirkannya. Sehingga ia dijadikan guru muda di kampungnya.

Selain itu, ibunya sering menceritakan kisah-kisah kehidupan para Nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad bin Abdullah, dimana dengan mendengar cerita tersebut kerap mata Tan Malak berkaca-kaca dan sekaligus inilah yang turut mengasah nalar sastranya.4

Tan Malaka memulai pendidikannya di sekolah rendah, dan begitu pandai sehingga guru-gurunya mempersiapkannya untuk ikut ujian masuk sekolah Guru Pribumi (Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers) di Bukuttinggi, yang merupakan satu-satunya lembaga untuk pendidikan lanjutan di Sumatera, Tan Malaka lulus dan meneruskan di sekolah Guru dengan sukses pada tahun 1908-1913. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah Guru Pribumi (Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers) kemudian diakhir tahun 1913 sampai pertengahan 1915 tinggal di

4 Arifansyah,” Tan Malaka: Filsafat Realisme Ketimuran”. Jurnal Theosofi Dan Peradapan Islam. vol 2, No 1 Desember -Mei 2020. hal 126.

Haarlem atas jasa salah satu guruya. G.H Horensma seorang guru dari Belanda. Ia berhasil mendapatkan tempat untuk Tan Malaka di Kweekschool Haarlem (Belanda) dan juga mengurus dana untuk perjalanan dan belajarnya, selain juga ikut menyumbang dana khusus dari Suliki. Setelah selesai menyelesaikan pendidikan di Belanda, sosok Tan Malaka selalu berpindah-pindah tempat, mulai dari Banten, Moskow, China, Filipina, Thailand, Malak, Burma dan tempat lainnya sampai ia meninggal pada tanggal 21 Februari 1949 di Jawa Timur. Tan makala banyak menghabiskan waktu hidupnya di luar negeri dikarenakan karena Tan Malaka selalu dalam bayang-bayang penangkapan yang dipelopori oleh Belanda dan sekutu.5

Dalam buku Zulhasril Natsir yang berjudul Tan Malaka dan gerakan kiri Minangkabau menkaji hubungan antara kerevolusioner Tan Malaka dengan aspek sosial budaya Minangkabau dengan gerakan kiri yang anti penjajah. Buku tersebut mencoba menguak unsur-unsur egaliter Minangkabau dengan gerakan kiri yang dilahirkan dari tokoh-tokoh Minangkabau. Formulasi ideologi Tan Malaka merupakan wujud dari jejak kebudayaan dan sejarah yang ia lalui dengan gagasan seperti Marxisme yang diperoleh selama perjuangan di Eropa, Asia dan di Tanah Air.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran revolusioner Tan Malaka dipengaruhi oleh ideologi Marxisme. Bahwa ia juga terlibat dan bahkan

5 Randy Fadillah Gustama, “ Tan Malaka (Ditinjau Dari Presfektif Perjuangan Bangsa).

Jurnal Afretak, Vol. 4, No 1 April 2017. hal. 63.

menjadi ketua PKI, serta menjadi delegasi Komintrem, mewakili Asia di Moskow. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa Tan Malaka adalah seorang Marxis.

Sementara revolusioner sendiri Tan Malaka mempelajarinya dari revolusi Perancis. Filsafat materialisme dialektika dan historis ala Karl Marx, mencoba dikembangkan oleh Tan Malaka dalam konteks yang berbeda. Yaitu dengan melihat situasi dan kondisi Indonesia yang sedang terjajah saat itu.6

Tan Malaka meninggal pada usia 52 tahun, dimana setegah dari usia itu banyak dilewatkannya di luar negri. 6 tahun belajar di negri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politiknya hampir mengelilingi separuh dunia. Pelarian poliknya yang dimulai dari di Amsterdam dan Rotterdam pada tahun 1922 diteruskan ke Berlin, Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok.

Selama masa itu Tan Malaka menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya ada tujuh nama samaran yang pakai Tan Malaka pada waktu itu. Dimana di Manila Tan Malaka dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina selatan Tan Malaka dikenal sebagai Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy Tan Malaka dikenal sebagai Ossario. Ketika menyeludup ke Burma Tan Malaka mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii.

6 Ponirin dan Agum Patria Silaban, “Pemikiran Politik Tan Malaka Tentang Negara Indonesia”. Jurnal Putri Hijau. Vol, 4. No, 1. 2019. hal. 60-62.

Sedangkan ketika Tan Malaka menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menegah atas di Singapura Tan Malaka di kenal dengan nama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, Tan Malaka bekerja dipertambangan Bayan, Banten, dan namanya dinganti menjadi Ilyas Husein.

Pelarian dan penyamaran Tan Malaka itu dimungkinkan, salah satunya, karena Tan Malaka sendiri mengusai bahasa-bahasa setempat dengan baik. Ketika Tan Malaka di tangkap di Manila pada Agustus 1927, koran Amerika, Manilla Bulletin, menulis, “ Tan Malaka, seorang Bolsyewik Jawa, ditangkap. Tan Malaka berbicara bermacam-macam bahasa:

Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Tagalog, Tionghoa, dan Melayu.”

Dimana pada masa pelarian Tan Malaka sudah banyak macam-macam pekerjaan yang sudah Tan Malaka lakukan.7

2. Karya-karya Tan Malaka

Kecintaannya pada buku telah menghasilkan sejumlah gagasan dan pemikirannya Tan Malaka tuangkan ke dalam 26 karya yaitu: Dari Penjara ke Penjara (3 jilid, 1948) yang diterbitkan pertama kali oleh PT Narasi, sesuai dengan namanya buku ini menggambarkan kodisi saat-saat terakhir Tan Malaka harus masuk penjara. Buku ini banyak memberikan gambaran kehidupan dan kenangan Tan Malaka yang sangat erat dengan agama dan adat, kemudian pendidikannya, pemikirinnya, masa-masa pembuangannya, orang-orang yang memiliki tempat dalam hidupnya dan

7 Yandhrie Arvian, Philipus Parera, dkk, Tan Malaka Bapak Republik Yang Dilupakan. ( Jakarta: Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa 2008). hal.

bagian terpenting dari buku ini adalah semangat yang hendak disampaikan kepada pembaca. Madilog, Materialiseme Dialektika Logika (1943), Madilog ini ditulis Tan Malaka taklama berselang saat Tan Malaka tiba di Jakarta. Madilog dituliskan berdasarkan gagasan orang lain namun semua itu ia kutip diluar kepalanya. Tan Malaka tidak sekedar menghapalkan, akan tetapi apa yang ia terima dicerna secara kritis dan diolah sesuai dengan pemahamannya. Madilog merupakan undang-undang kaum proletar yang disuguhkan Tan Malaka untuk memberantas segala bentuk pemikiran yang berdasakan kepada logika mistika. Dimana pada akhir dari buku Madilog ini Tan Mala membuat tentang impian Tan Malaka akan bangsa Indonesia dimasa yanga ka datang. Parlemen Atau Soviet (1920), SI Semarang dan Onderwijs (1921). Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh sekolah serikat Islam, dimana karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk barang langka brosus ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Dasar Pendidikan (1921), Naaf De Republik Indonesia (1942), brosur ini ditulis Tan Malaka dalam bahasa Belanda ketika Tan Malaka dalam pengasingan di Canton. Dimana salah satu gagasan yang penting dari buku ini ialah sistem pengelolahan banga oleh organisasi tunggal yang efesien. Mirip dengan negara sosialis pada umunya. Tidak meniru sistem Trias Politika Montesquieu. Semangat Muda (1925), Massa Actie (1926). Dimana didalam buku ini Tan Malaka menunjukkan

pemikirinnya bahwa upaya perebutan dengan kekuasaan dengan radikal bukanlah soslusi terbaik. Baginya untuk merebut suatu kekuasaan adalah aksi segerombongan kecil yang bergerak secara diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Manifestor Bangkok (1927), Pari Dan PKI (1927), Pari dan Nasionalisten (1927) Asia Bergabung (1943), Manifestor Jakarta (1945), Politik, Rencana Ekonomi Berjua (1945), Muslihat (1945), Thesis (1946), Pidato Porwokerto (1946), Pidato Solo (1946), Islam Dalam Timjauan Madilog (1948), Pandangan Hidup (1948), Kuhandel di Kaliurang (1948), Pidato Kediri (1948), Gerpolek (1948). Dimana buku ini merupakan buku yang dikonsepkan oleh Tan Malaka ketika dirinya meringkuk di penjara Madiun, dimana buku ini ditulis tanpa dukungan informasi kepustakaan apapun, selain hanya mengandalkan pengetahuan, ingatan, dan semangat kepemimpinan untuk tetap memikirkan keberlangsungan kemerdekaan Republik Indonesia.

Proklamasi 17-8-45 Isi dan Pelaksanaannya (1948). Pada awal tahun 2000-an sejumlah buku Tan Malaka diterbitkan ulang oleh banyak penerbit. Buku Madilog oleh Pusat Data Indikator dan Teplok Press.

Buku Gerpolek: Gerilya Politik Ekonomi oleh Djambatan dan Jendela.

Juga Massa Aksi oleh Komunitas Bambu, Yayasan Massa, dan Cedi Aliansi Press.8

8 Taufik Adi Susilo, Tan Malaka: Biografi Singkat (1897-1849), (Jogjakarta: GARASI, 2008). hal. 31-32.

3. Pemikiran Tan Malaka

Ciri-ciri khas, pemikiran dan gagasan Tan Malaka adalah: Pertama;

dibentuk dengan berpikir ilmiah berdasarkan ilmu pengetahuan. Kedua;

bersifat Indonesia sentris. Ketiga; futuristik, memprediksi kedepan.

Keempat; asli, mandiri, konsekuen, dan konsisten. Pemikiran dan gagasannya tersebut, dituangkan dalam bentuk buku dan brosur. Serta ratusan risalah diberbagai surat kabar Hindia Belanda dan Belanda.9

1. Konseb pendidikan menurut Tan Malaka

Tan Malaka berpendapat bahwa pendidikan adalah sebuah usaha untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan, dan ketidaktahuan, menjadikan hidup lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dimana tidak ada lagi kelas-kelas atau kasta yang menjadi pembeda.

Dimana lebih dalam Tan malaka menyatakan bahwa dengan pendidikanlah masyarakat bisa membebaskan diri dari kebodohan, kelemahan, kesengsaraan, serta penindasan yang tidak pernah berujung 10

Dimana dasar yang dipakai Tan Malaka dalam pendidikan ialah berdasarkan pada ideologi Materialisme, dimana ideologi Materialisme yang dimaksud Tan Malaka adalah mengajak pada anti-mistifikasi, dengan menyakinkan hasil kerja sebagai proses dari perubahan. Walaupun Tan Malaka banyak dipengaruhi oleh filsafat

9 Waris Surarto, Dalam Pengantarnya, Madilog : Materialisme, Dialektika, Logika, (Jakarta: Teplok Press, 1999), hal. 18.

10 M. Maulana Rokhim, dkk, “Pemikiran Tan Malaka dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam”, Jurnal of Islamic Education, Vol. 6 No. 1 2019, hal. 58.

Hegelian yang dapak kita lihat dari kontruksi pemikirannya. Namun sumber kehidupan yang dipakai oleh Tan Malaka adalah tetap ajaran Islam sebagaimana yang terdapak dalam buku Islam dalam Madilog sebgai berikut:

“…sumber yang saya peroleh buat agama Islam, inilah yang hidup. Seperti saya sudah kintaskan lebih dahulu dalam buku ini, saya lahir dari keluarga Islam yang taat. Pada ketika sejarahnya Islam buat bangsa Indonesia masih boleh dikatakan pagi, diantara keluarga tadi sudah lahir seorang Alim Ulama yang sampai sekarang dianggap keramat Ibu Bapa saya keduanya dianggap taat dan orang takut kepada Allah dan jalankan sabdah Nabi… meskipun banjir ombak asik dalam sanubari saja dimasa usia pancaroba dilondong hanyutkan sampai sekarang terus dihilirkan oleh kejadan “1917”

perhatian saya terhadap islam terus berjalan. Pengertian yang masih saya ingat dari tafsir Qur’an itu, tentulah tidak berarti lagi yang tinggal dibawah lantai kesadaran.11

Dimana dari kutipan tersebut dapat disumpulkan bahwa Tan Malaka adalah sosok yang konsisten dengan apa diyakininyan, dimana Tan Malaka tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Barat yang mengaduk-aduk pemikirannya. Agama Islam masih tetap hidup dalam jiwanya dan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sumber pendidikan yang dipakai Tan malaka sedikit banyaknya berasal dari

11 Tan Malaka, Islam Dalam Madilog, ( Bandung: Sega Arsy 2014), hal. 13-14.

agama Islam.12 Dalam brousur S.I Semarang dan Onderwijs Tan Malaka menguaraikan dasar dan tujuan serta cara yang bisa lakukan untuk mencapai tujuan pendidikan.

…Tujuan sekolah S.I bukanlah mendidik murid menjasi juru tulis seperti tujuan sekolah Gubermen (sekolah kolonial), melainkan untuk mencari nafkah diri sendiri, kelurganya, dan membantu pergerakan rakyat.13

Menurut Tan Malaka pendidikan untuk bangsa Indonesia harus berakar kepada budaya negara Indonesia yang terus digali dan disampaikan dengan bahasa Indonesia, dimana prinsip rakyat Indonesia sendiri adalah landasan filosofis dalam praktis pendidikan yang sesuai dengan jati diri dan ideologi bangsa Indonesia sendiri, dimana prinsip kerakyatan adalah landasan yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Dimana Tan Malaka menyebutkan ada tiga tujuan pendidikan Tan Malaka yang menajdi dasar pendidikannya yaitu:

a. Memberi bekal yang cukup untuk kehidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, dan ilmu bahasa) b. Memberi hak-hak kepada murid-murid yakni sesuia dengan

kesukaan dan kegemaran mereka dalam menjalankan pergaulan.

c. Menunjukkan kewajipan terhadap orang lain.14

12 M. Maulana Rokhim, dkk, “Pemikiran Tan Malaka…, hal. 59

13 Tan Malaka, S.I Semarang dan Onderwijs, ( Yayasan Massa, 1987), hal. 4.

14 Afandi dan Mifta Rahman, “Ideologi Pendidikan Tan Malaka: Rekontruksi Konsep Madilog”, Jurnal Profesi Pendidikan, vol. 2 No. 2 November 2015, hal. 12.

Prinsip pendidikan yang dipakai oleh Tan Malaka ialah semangat antikolonialisme. Dimana prinsip ini digagas Tan Malaka berdasarkan fakta dan realitas yang ada. Dimana menurut Tan Malaka pendidikan tidak dapat dipisahkan dari hakekat realitas yang merupakan pusat dari setiap konsep pendidikan. Yang berbeda dengan proses pendidikan kaum bermodal yang berdasarkan atas kemodalannya.

Dimana Tan Malaka menganbil prinsip kerakyatan sebagai landasan filosofis dalam praktis pendidikannya.15

2. Tuhan Menurut Tan Malaka

Madilog merupakan ruang yang cukup banyak bagian teks dan dinamika ketuhanan, dimana dapat kita lihat dalam bab awal dalam buku madilog juga sudah membahas tentang logika mistika atau yang sering disebut juga dengan logika rohani.

Demikianlah firman maha dewa rah:

Bersabdah: maka timbullah bumi dan langit Bersabdah: maka timbullah bintang dan udara.

Bersabdah: maka timbullah sungai Nil dan daratan.

Bersabdah: maka timbullah tanah subur dan gurun.16

Roh tak perlu menunggu-nunggu, seperti pak tani yang menunggu padinya sesudah benihnya ditanam. Kalau pak tani mesti menunggu, maka berarti ia takhluk dengan waktu, dengan sang tempo, maka jika bengitu roh tersebutkan bukanlah terkuasa, dengan singkatnya Maha

15 M. Maulana Rokhim, dkk, “Pemikiran Tan Malaka…, hal. 61.

16 Tan Malaka, Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika, (Jakarta: Teplok Press, 1999), hal. 32.

Dewa Rah itu terkuasa, tidak akan takluk dengan waktu dan tempo.

Firman Roh itulah yang menggambarkan jawaban yang paling jitu dan konsekuen, dimana atas prtanyaan yang maha penting dari filsafat: yang manakah yang pertama dan mana yang kedua, yang mana asal dan yang mana akibat, di antara zat dan rohani.17

Dimana menurut Tan Malaka, Emanuel Khan memmakai hukum evolusi untuk menjelaskan tentang proses pencibtaan tumbuhan dan tumbangnya, matahari serta berjuta-juta bintang yang ada di langit.

Dimana system yang dibangun oleh Darwin dan Khan, bias diperiksa dan dikritik, karena itu merupakan sifatnya ilmu alam, yaitu tahan uji.

Dimana kalau system ini tak bias diperiksa kebenarannya dan tidak bisa dikritik, maka matilah ilmu alam itu. Tetapi walaupun suatu sistem dari suatu sistem dari suatu ilmu itu bisa mati, hukum evolusi akan tetap tinggal.18 Evolusi tersebut berawal dari sebab akibat yang nyata dan dalam waktu yang lama, tidak sama dengan Dewa Roh, yang dapat mencibtakan segala sesuatu hanya dengan Sabdahnya saja.

Sebab evolusi terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka didalam ini tidak terdapat kodrad yang terdahulu. Dari sinilah Logika Mistika ditantang oleh ilmu pasti dalam hal pencibtaan. Dimana dasar ilmu kodrat ialah hukum ketetapan jumlah kodrat yang menajdi salah satu dari cabang ilmu pasti. Jadi itulah tantangan bagi Logika Mistika dari teori Evolusi. Perlu kita ingat bahwa Maha Dewa Rah mencibtakan

17 Tan Malaka, Madilog: Materialisme, Dialektika…, hal. 33.

18 Tan Malaka, Madilog: Materialisme, Dialektika…, hal. 35.

segala sesuatu tidak terikat oleh waktu dan masa. Dima Maha Dewa Rah bisa mencibtakan semuanya hanya dengan Sabdahnya. Dimana Tan Malaka ingin menemukan “kebenaran” bukan hanya sekedar

“pengalaman” dan “pengetahuan” dimamana secara umum pengetahun empiris menurut Tan Malaka adalah semacam realisme dan pragmatisme anteoposentris, sedangkan pengetahuan menurut pandangan Tan Malaka adalah menyakini keterbatasan ilmu pengetahuan. 19

Selanjutnya menurut Tan Malaka demikianlah kalau kita pakai pikiran yang jernih, berani dan jujur, demikianlah bahwa zat berasal dari rohani, kita mesti tersesat. Kita mesti akui, bahwa hakikat yang semacam itu bertentangan dengan akal.20 Dimana istilahnya Tan Malaka ingin mensainskan Tuhan melalui penjabaran materialisme, dialektika dan logika. Dan apa yang dijabarkan oleh Tan Malaka sendiri telah Tan Malaka konfirmasi lewat tulisan selanjutnya dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Tinjauan Madilog. Dimana tulisan ini buka bermaksud untuk mengganti buku Madilog melainkan untuk memberi petunjuk.

…pokok perkata yang berhubungan dengan Islam ialah ke Esaan Tuhan, dimana sudah termasuk boleh dikatakan hamper sama dengan tulisan yang baru lalu. Nabi Muhammad SAW mwngakui sahnya kitab Yahudi dan Kristen. Muhammad SAW mengakui Tuhannya Nabi

19 Muhammad Atho’illah, “Pandangan Tan Malaka…, hal. 92.

20 Tan Malaka, Madilog: Materialisme, Dialektika…, hal. 44.

Ibrahim dan Musa. Tetapi Tuhannya Nabi Ibrahim dan Musa Menurut Nabi Muhammad SAW itu mesti dibersihkan dari pemalsuan Yahudi dan Kristen dibelakang hari…21

Dimana konseb Tuhan yang dimaksud oleh Tan Malaka sendiri ialah bukan hanya sekedar dogmatis, sebab jika hanya sebatas itu, maka akal pikiran dan ilmu pengetahuan akan mati. Akan tetapi Tuhan yang selama ini yang kita yakini harus melewati sebuah metode yang ilmiah yang tidak keluar dari jalurnya. Sehingga dengan Madilog, Tan Malaka bermaksud menjabarkan Materialisme, Dialektika, dan Logika untuk mengantar kita sampai kepada pemahaman tentang ke-Esaan Tuhan.

B. Madilog

Madilog ditulis di Rajawali dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta.

Tepatnya di belakang Kalibata Mall sekarang. Untuk mengenang Tan Malaka, rakyat setempat membuat Gang Malaka I dan Gang Malaka II.

Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan, dari 15 Juni 1941 sampai 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam.22

Titik tolak madilog adalah mental bangsa Indonesia pada umumnya yang tebiasa dengan sistem perbudakan. Yang mana perbudak itu terjadi lebih dari 3.5 abad dibawah kolonialisme secara tidak langsung bangsa Indonesia sudah menimbulkan metal budak dan disamping itu bangsa Indonesia mendarah daging

21 Tan Malaka, Islam Dalam Tinjauan Madilog, ( Bandung: Sega Arsy, 2014), hal. 16.

22 Muhammad Fajrul Islam, “Pemikiran Politik (Madilog ). hal 159

tentang cara berpikir mistis dan tidak rasional. Akibat pekatnya pikiran mistik tersebut orang yang berpikiran dan rasional dengan mudah diekploitasi. Maka revolusi secara total, bagi Tan malaka, dapat diartikan sebagai kondisi yang merdeka diri secara total, baik politik, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya maupun mentalnya. Yang mengandung nilai-nilai yang dapat mendorong manusia untuk menjalakankan otaknya secara dinamis dan dapat berpikir secara rasional dan percaya pada dirinya sendiri.

Dari beberapa karya Tan Malaka, maka kita bisa mengetahui condong pemikiran Tan Malaka dan dimana pemikirinnya yang sangat dipengaruhi oleh pemikir Barat, seperti Karl Marx, Nietsche. Dalam hal ini Tan Malaka mengakui bahwa ia sangat terpengaruh oleh pemikir-pemikir Barat tersebut. Namun ia juga berupaya untuk mencocokkan dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia.

Dalam pengantar Madilog, Tan Malaka menuliskan.23

“Ketika saya menjalankan pembuangan yang pertama, yaitu dari Indonesia, pada tanggal 22 Maret 1922, saya cukup didiringi oleh buku, walaupun tidak lebih dari satu peti besar. Di sini ada buku agama, Qur’an dan Bibel, Budhisme, Confucuisme, Darwinisme. Perkara ekonomi yang berdasar liberal, sosialitis atau komunitis, perkara politik juga dari liberalisme sampai kekomunisme, buku-buku riwayat dunia, beberapa buku-buku ilmu perang dan buku-buku sekolah dari ilmu berhitung sampai ilmu mendidik. pustaka yang begitu lama menjadi kawan dan guru terpaksa saya tinggalkan di Nederland karena ketika saya pergi ke Moskow saya mesti melalui Polandia yang bermusuhan dengan Komunisme, dari

23 Hary A. Poeze, Tan Malaka; Pergulatan Menuju Republik,, (Jakarta: Utama Grafiti, 2000), hal. 20.

beberapa catatan nama buku di atas, orang bisa tahu kemana condongnya pemikiran saya.”24

Madilog penerapan filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat yang berbunyi: buka ide yang menentukan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide.

Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali sedari awal

Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali sedari awal

Dokumen terkait