BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Profil Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills)
Depdiknas (2002), menegaskan pendidikan kecakapan hidup (life skills) dapat dipilih menjadi :
1. Kecakapan personal (personal skills) yang mencakup kecakapan mengenai diri sendiri, kecakapan berpikir rasional, dan percaya diri.
2. Kecakapan sosial (social skills) seperti kecakapan melakukan kerjasama, bertenggang rasa, dan tanggung jawab sosial.
3. Kecakapan akademik (academic skills) seperti kecakapan dalam melakukan penelitian, percobaan-percobaan dengan pendekatan ilmiah.
4. Kecakapan vokasional (vocational skills) adalah kecakapan yang berkaitan dengan suatu bidang kejuruan/keterampilan tertentu seperti dibidang perbengkelan, jahit-menjahit, peternakan, pertanian, produksi barang tertentu.
Menurut Depdiknas (2002), Penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup pada satuan dan program pendidikan kecakapan hidup (life skills), dilaksanakan dalam rangka turut memecahkan masalah pengangguran, kemiskinan, lebih ditekankan pada upaya pembelajaran yang bisa memberikan penghasilan (learning
and earning). Dalam pendidikan kecakapan hidup (life skills) ada empat pilar
pendidikan, yaitu : learning to know (belajar untuk memperoleh pengetahuan),
learning to do (belajar untuk dapat berbuat /melakukan pekerjaan), learning to be
(belajar untuk dapat menjadikan dirinya menjadi orang yang berguna), dan learning
Menurut Sinaga ( 2004 ), life skills dapat diartikan sebagai “kecakapan /keterampilan hidup”, yaitu kecakapan hidup yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tampa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya.
Broling (1989) dalam Depdiknas (2002), menyebutkan bahwa “life skills” adalah interaksi berbagai pengetahuan yang sangat penting dimiliki seseorang agar dapat hidup mandiri. Life skills dikelompokan kedalam tiga kelompok yaitu : kecakapan hidup sehari-hari (daily living skills), kecakapan pribadi/sosial (personal/social skills) dan kecakapan untuk bekerja (occupational skills). Kecakapan hidup sehari-hari (daily skills) antara lain; pengelolaan kebutuhan pribadi, pengelolaan uang pribadi, pengelolaan rumah pribadi, kesadaran kesehatan, kesadaran keamanan , pengelolaan makanan bergizi, pengelolaan pakaian, tanggung jawab sebagai warga negara, pengelolaan waktu ruang, rekreasi dan kesadaran lingkungan. Kecakapan pribadi/sosial (personal/ social skills) meliputi : kesadaran diri (minat, bakat, sikap dan kecakapan), percaya diri, komunikasi dengan orang lain, tenggang rasa dan kepedulian pada sesama, hubungan antar personal, pemahaman dan pemecahan masalah, menemukan dan mengembangkan kebiasaan positif, kemandirian dan kepemimpinan. Sedangkan kecakapan bekerja (occupational skills) meliputi, memilih pekerjaan, perencanaan pekerjaan, persiapan keterampilan kerja, latihan keterampilan, penguasaan kompetensi, menjalankan suatu profesi, kesadaran untuk menguasai berbagai bidang keterampilan, kemampuan menguasai dan
menerapkan teknologi, merancang dan melaksanakan proses pekerjaan serta menghasilkan barang dan jasa.
Menurut Anwar (2003), bahwa belajar untuk tahu menjadi basis bagi belajar untuk dapat melakukan; belajar untuk dapat melakukan merupakan basis bagi belajar untuk mandiri; belajar untuk mandiri merupakan basis bagi belajar untuk bekerjasama. Aspek tahu, dapat melakukan, mandiri, dan kemampuan bekerjasama merupakan kesatuan dan prasyarat bagi individu untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.
2.5.2. Tujuan Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills)
Secara umum pendidikan kecakapan hidup (life skills) bertujuan menfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi peserta didik dalam menghadapi perannya dimasa mendatang.
Secara khusus pendidikan kecakapan hidup (life skills) bertujuan untuk : 1. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk
memecahkan problema yang dihadapi.
2. Memberikan wawasan yang luas mengenai pengembangan karir peserta didik.
3. Memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
4. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan konstektual.
5. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumberdaya yang ada di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
Kemungkinan terlaksananya Praktik Kerja Industri (prakerin) dalam PSG di SMK sangat bergantung kepada ketersedian DU/DI menjadi pasangan SMK untuk bekerjasama melaksanakan program tersebut, karena ikut berperan dalam penyelenggaraan prakerin menjadi kewajiban yang di atur dalam undang-undang. Ada atau tidak adanya kesedian dunia usaha/industri untuk menjadi institusi pasangan sangat di tentukan oleh kemampuan manajemen sekolah dalam mendekati dan menyakinkan dunia usaha dan industri. Kegiatan kerjasama dengan dunia industri /dunia usaha yang telah di kembangkan, dapat menjadi modal dasar untuk lebih difokuskan kepada kerjasama pelaksanaan Praktik Kerja Industri.
Naval Air Station Atlanta (2003) dalam Anwar (2003) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Life Skills adalah :
“to promote family strength and growth through education; toteach concepts and principles relevant to family living, to explore personal attitudes and values, and help members undertand and accept the attitudes and values of ether ; to develop interpersonal skills which contribute to family well-being; to reduce marrige and family conflict and the rebyenhance service member productivity ; and to encourage on-bas delyvery of family eucation program and referral as approprite to community program.”
Dari pernyatan tersebut dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan life skills adalah pertama, suatu upaya mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi. Kedua, memberikan kesempatan pada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel , sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas. Dan ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah dengan memberikan peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
2.5.3. Manfaat Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills)
Pendidikan kecakapan hidup yang diarahkan pada usaha untuk memecahkan masalah penggangguran dan kemiskinan, serta dalam pemilihan keterampilan yang akan dipelajari didasarkan pada kebutuhan masyarakat, potensi lokal dan kebutuhan pasar, diharapkan akan memberikan manfaat yang positif bagi siswa , masyarakat dan bagi pemerintah (Dirtjen PLSP, 2003).
1. Manfaat bagi siswa : 1). Memiliki keterampilan, pengetahuan, dan sikap sebagai bekal untuk mampu bekerja atau berusaha sendiri, 2). Memiliki penghasilan yang mampu menghidupi dirinya dan keluarganya, 3). Menularkan/memberikan kemampuan yang dirasakan bermanfaat kepada orang lain, dan 4). Meningkatnya kualitas kemampuan diri, keluarga dan lingkungannya.
2. Manfaat bagi masyarakat : 1). Menguranggi penggangguran, 2). Menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, 3). Menguranggi kesenjangan sosial.
3. Manfaat bagi pemerintah : 1). Meningkatkan SDM di daerah, 2). Mencegah urbanisasi, 3). Menumbuhkan kegiatan usaha ekonomi masyarakat dan 4). Menekan kerawanan sosial.