• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Pola Pikir Yang Dimikili Oleh Subjek A002

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN (Halaman 64-92)

Implementasi Nilai-Nilai Karakter KECE (Komunikatif, Empatik, Cinta Damai, Energik) di Sekolah Dasar Dalam Pemanfaatan Bonus Demografi

A.2. Profil Pola Pikir Yang Dimikili Oleh Subjek A002

Lingkungan keluarga dari Subjek A002 merupakan anak pertama dari 2 orang bersaudara, agak lain karena Subjek A002 adalah wanita tapi ketika SD menyukai Mainan Mobil mobilan, Ketika SMP dan SMA kesukaannya adalah Mainan yang menggunakan Batray.

Lingkungan dengan Masyarakat Anggota keluarga yang pernah kuliah dan sarjana adalah anggota keluarga jauh. Dan Di surabaya tinggal dengan sepupu yang sudah berkeluarga.

Pendidikan Praktek yang paling disukai adalah optik dan listrik. Dan Praktek yang paling disukai adalah optik dan listrik.

Sistem Kepercayaan Setelah praktik mata kuliah elektronika masih komponen memikirkan Resistor. Ragu jika nilai elektronikanya bisa lulus dengan baik dan yang paling susah adalah analisis.

Simpulan

Proses Dalam pembuatan profil 4 subjek yang dilakukan pada penelitian ini, sebagaimana telah di rincikan pada bab 3 dari desertasi ini yang dimulai dari Preleiminary study (diantaranya pengamatan awal keadaan tempat penelitian, perizinan, penekatan terhadap nara sumber, pendekatan terhadap calon subjek), Kemudian setelah subjek ditentukan maka dilakukan pengamatan awal berupa kegiatan subjek sebelum melakukan eksperimen (tes Pra-Lab, yang dilakukan oleh Dosen Pengampu mata kuliah), langkah kedua dari penelitian ini adalah Pengambilan data lapangan, Data lapangan dalam penelitian ini meliputi:

Pengamatan langsung pada Subjek saat melakukan praktik eksperimen yang dilakukan didalam laboratorium Fisika eksperimen F.MIPA Unesa, pengamatan juga dilakukan diluar laboratorim dan ditempat-tempat dimana mahasiswa sering berkumpul berdiskusi dana mengerjakan laporan eksperimen atau mengerjakan tugas mata kuliah, wawancara dilakukan saat melihat Subjek terlihat sedang tidak sibuk, angket dibagikan ke semua mahasiswa saat berkumpul dengan harapan tidak menumbulkan keistimewaan pada terhadap subjek yang sedang dipantau aktivitasnya. Untuk teknik dokumentasi digunakan penelusuran berupa nilai ijazah SD samapai dengan SMA, juga saat mahasiswa data-data tersebut akan digunakan untuk mengetahui salah satu elemen pola-pikir dari Subjek yaitu pendidikan yang dimiliki, untuk mengetahui lingkungan dari subjek yang sedang diamati digunakan metode wawancara mendalam, wawancara tersembunyi, dan menggunakan informan. Pada bagian akhir pengamatan adalah saat subjek membuat laporan, dan melihat isi laporan subjek.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Pola Pikir ini, sangat baik untuk mendiskripsikan atau membuat satu atau beberapa profil Subjek saat melakukan eksperimen ataupun praktikum kelas atau diluar kelas, Untuk mendapatkan hasil berupa profile lebih dari 2 orang akan membutuhkan waktu yang cukup lama

Hasil penelitian PP ini bagus digunakan untuk pemantauan aktivitas Siswa Atau Mahasiswa untuk pengkajian lebih lanjut

1. Identifikasi mengenai berbagai kendala/permasalahan yang dihadapi oleh Subjek dapat diketahui untuk perbaikan serta peningkatan kinerja praktik Subjek dikemudian hari.

- Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai literatur untuk memahami Pola-pikir yang dimiliki oleh subjek.

- Berbagai kendala dapat terungkap dalam melakukan penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam

2. Bagi kalangan akademis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memperkaya pengetahuan serta melengkapi literatur mengenai peranan Pengamatan terhadap Siswa ataupun Mahasiswa.

Saran

Penggunaan Model PP yang digunakan bukan untuk memberikan rangking terhadapa subjek yang diamati, tetapi sebatas memantau aktivitas dan masalah yang dihadapi oleh subjek.

Model PP akan menampilkan informasi berupa profile Siswa atau Mahsiswa yang dijadikan subjek dalam penelitian dengan sangat detail jika pengamatan juga dilakukan terhadap oran tua subjek artinya mengamati dan mewawancari langsung oran tua subjek, juga melihat langsung lingkungan pergaulannya dengan masyarakat sekitarnya, aktivitas subjek setelah di tempat rumah sewa atau kost-kosannya.

DAFTAR PUSTAKA

Hermawan Wasito, (1995). ”Pengantar Metodologi Penelitian”, Jakarta:

PT Gramedia Pustaka Utama, hal 88

Jan De Houwer & Dermot Barnes-Holmes & Agnes Moors, (2013).

What is learning ? On the nature and merits of a functional definition of learning (c) Psychonomic Society, Inc.

Jeffrey Pickens. (2005) . Attitudes and Perceptions, chapter 3 7688_CH03_043_076.qxd 3/9/05 4:49 PM Page 43

Research Paper Kiyoyuki OHSHIKA, (2005) Influence of “Biological Experiment for Junior High School Science Teachers” on the Skills and

Ability of Students in Pre-service Teacher Education Course.

Berwyn Clayto, Kaaren Blo, David Meyer, Andrea Bateman, (2003).

Assessing and certifying generic skills, © Australian National Training Authority.

Employers, (2004). Generic Skills Development in Local

Government, email

[email protected].

At a glance, Defining generic skills, © Australian National Training Authority, (2003)

Brett Freudenberg, Mark Brimble And Craig Cameron, (2010). WIL and generic skill development: The development of business students’

generic skills through work-integrated learning, Corresponding Author:

[email protected].

Phan Thanh Chung, (1978). Effects Of Chemical Demonstrations In Teaching Analytical Chemistry, Cantho University.

Ismo T. Koponen and Terhi Mäntylä, ___., Generative Role of Experiments in Physics and in Teaching Physics: A Suggestion

for Epistemological

Reconstruction.

A SAS White Paper, (2005). Concepts of Experimental Design, Design Institute for Six Sigma, SAS and all other SAS Institute Inc. product or service names are registered trademarks or trademarks of SAS Institute Inc. in the USA.

Burhan Bugin, (2007) “Penelitian Kualitatif”, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Hal 76 Liliasari,at all, (2008), The use of

interactive multimedia to promote students’ understanding of science concepts and generic.

FORMAMENTE - Anno III, Numero 1 - 2/2008.

A.F.C. Wijaya*, T.R.Ramalis, (2012).

Collaborative Ranking Tasks (Crt)

Berbantuan E-Learning Untuk Meningkatan Keterampilan Generik Sains Mahasiswa Calon Guru Fisika. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 8 (2012) 144-151.

Setiya Utari and Liliasari. (2009).

Provisioning Experimental Ability Of Prospective Physics Teachers At Elementary Level, Science Education Program, Graduate School, UPI.

Mary James, at al, (2006), Learning how to learn – in classrooms, schools

and networks, Teaching and Learning Research Programme www.tlrp.org.

Evangeline Amalathas, (2010), Learning to Learn in Further Education, A literature review of effective practice in England and abroad.

Karl R. Wirth Dexter Perkins, (2008), Learning how to learn http://www.macalester.edu

/geology /wirth/ Course -Materials.html (version 16 September 2008).

Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Melalui Penerapan Model Less Structured Guided Discovery Learning

Mastuang, Elfa Erliana, Misbah, Sarah Miriam Pendidikan Fisika, FKP, Universitas Lambung Mangkurat

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan proses sains siswa melalui model less structured guided discovery learning. Penelitian ini merupakan penelitian analisis deskriptif. Subjek dalam penelitian ini ialah siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 12 Banjarmasin. Data diperoleh melalui tes. Adapun indikator keterampilan proses yang diteliti meliputi merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, menyusun prosedur percobaan, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa pada indikator merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, menyusun prosedur percobaan dan membuat kesimpulan berkategori sangat terampil, serta pada indikator menganalisis data berkategori terampil.

Diperoleh simpulan bahwa model less structured guided discovery learning dapat melatih keterampilan proses sains siswa.

Kata kunci: Less structured guided discovery keterampilan proses sains.

PENDAHULUAN

Sains merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui suatu kegiatan yang sistematis menggunakan berbagai keterampilan yang dimiliki siswa (Rosarina, Sudin, dan Sujana, 2016).

Sains dicirikan oleh sikap para ilmuwan dalam menggunakan berbagai keterampilan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, sains merupakan kesatuan proses, sikap, dan produk.

Pembelajaran sains bukanlah semata-mata kegiatan mentransfer pengetahuan yang dimiliki guru ke siswa, melainkan suatu proses untuk membangun pengetahuan dan mengembangkan berbagai keterampilan proses sains melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif (Susanti, Jamhari, dan Suleman, 2016).

Fisika sebagai bagian dari sains diajarkan melalui kegiatan-kegiatan yang menekankan pada aktivitas nyata meliputi pengamatan, percobaan, atau

eksperimen. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, siswa didorong untuk terlibat aktif dalam proses membangun pengetahuannya serta dilatih keterampilan proses sains siswa.

Proses pembelajaan fisika yang terjadi saat ini, masih banyak menekankan pada aspek produk. Siswa cenderung belajar melaluikegiatan menghafal konsep /prinsip/ rumus fisika (Widiadnyana, Sadia, dan Suastra, 2014).

Sedangkan aspek proses dan sikap jarang dilatihkan pada siswa. Terbukti dari penggunaan metode cermah yang masih menjadi pilihan utama para guru untuk mengajarkan fisika dalam proses pembelajaran di kelas (Musthofa, 2013).

Metode ceramah lebih menekankan pada penguasaan materi sehingga mata pelajaran fisika cenderung diajarkan sebagai produk. Hal ini menyebabkan keterampilan proses sains siswa jarang dilatihkan dalam proses pembelajaran (Susanti, Jamhari, dan Suleman, 2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru fisika di SMA Negeri 12 Banjarmasin diperoleh bahwa proses pembelajaran di kelas lebih banyak menggunakan metode ceramah, drill soal, dan tanya jawab. Keterbatasan alat/bahan percobaan, alokasi waktu pembelajaran fisika yang terbatas, dan banyaknya materi pelajaran yang harus disampaikan menyebabkan penggunaan metode percobaan dalam proses pembelajaran jarang digunakan sehingga keterampilan proses sains jarang dilatihkan kepada siswa meskipun guru pernah mendemonstrasikan suatu fenomena fisika tetapi siswa tidak terlibat secara langsung.

Berdasarkan hasil tes keterampilan proses sains siswa di kelas XI IPA 2 SMA Negeri 12 Banjarmasin, diperoleh bahwa merumuskan hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang telah disajikan 52,20% siswa berkategori kurang terampil, mengidentifikasi variabel percobaan 47,80% siswa berkategori tidak terampil; menyusun prosedur percobaan 74,00% siswa berkategori tidak terampil, menganalisis data 100% siswa berkategori tidak terampil, dan membuat kesimpulan 78,20% siswa berkategori tidak terampil.

Hasil rata-rata keterampilan proses sains siswa berkategori tidak terampil.

Keterampilan proses sains siswa yang rendah, dapat dilatih atau ditingkatkan melalui model pembelajaran yang sesuai. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model less structured guided discovery learning. Pada model less structured guided discovery learning ini, guru hanya mengajukan rumusan masalah tanpa memberikan prosedur pemecahan masalah. Kemudian siswa didorong untuk menyusun sendiri prosedur pemecahan masalah. Melalui prosedur pemecahan yang dibuat, digunakan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan setelah disetujui oleh guru (Carin, 1993). Siswa

mengkonstruksi pengetahuannya dengan menggunakan keterampilan proses sains, sehingga diperoleh penyelesaian atas masalah yang diberikan.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan berkenaan dengan penggunaan model pembelajaran penemuan antara lain hasil penelitian Tandayu, Sudibyo, dan Setiawan (2015) menyatakan bahwa model discovery learning dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Hal ini juga didukung oleh penelitian Hariani, Zainuddin, dan Hartini (2016), yang menyatakan bahwa model penemuan termbimbing dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa.

Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis keterampilan proses sains siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 12 Banjarmasin melalui model less structured guided discovery learning. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana keterampilan proses sains setelah diterapkan model less structured guided discovery learning.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian analisis deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 12 Banjarmasin semester genap tahun ajaran 2016/2017. Tempat penelitian adalah SMA Negeri 12 Banjarmasin yang berlokasi di Jalan Alalak Utara Gang Pelita RT 2 Banjarmasin.

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data keterampilan proses sains yaitu melalui tes. Data keterampilan proses sains siswa dianalisis secara deskriptif kuantitatif yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

𝑃 = 𝑅

𝑁 (1) Keterangan:

𝑃 = Skor keterampilan proses sains 𝑅 = Jumlah skor yang diperoleh 𝑁 = Jumlah skor maksimum yang

mungkin diperoleh

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keterampilan proses sains siswa diperoleh menggunakan tes, setelah diterapkan model less structured guided discovery learning dalam proses pembelajaran. Adapun keterampilan proses sains yang diukur meliputi

merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, menyusun prosedur percobaan, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Adapun hasil keterampilan proses sains siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini

.

Tabel 1. Ketercapaian keterampilan proses sains siswa

Keterampilan Proses Sains

Kategori Sangat

Terampil Terampil Cukup

Terampil Kurang

Terampil Tidak Terampil Persentase (%)

Merumuskan Hipotesis 100 0 0 0 0

Mengidentifikasi Variabel 95,65 4,35 0 0 0

Menyusun Prosedur Percobaan 91,30 8,70 0 0 0

Menganalisis Data 13,04 73,91 13,04 0 0

Membuat Kesimpulan 95,65 4,35 0 0 0

Dari Tabel 1. di atas tampak bahwa ketercapaian indikator keterampilan proses

sains siswa setelah diterapkan model less structured guided discovery learning sebagian besar berkategori sangat terampil.

Pemberian bimbingan berupa arahan dan penekanan terhadap langkah-langkah yang harus dilakukan siswa sebelum menyusun prosedur percobaan memberikan dampak positif yaitu ketercapaian aspek keterampilan menyusun prosedur percobaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Biggs (Toharudin, Hendrawati, dan Rustaman, 2011) yang menyatakan bahwa jika guru menginginkan siswanya memahami pengetahuan yang dipelajarinya, guru harus dapat membantu dan atau mendorong siswanya untuk membangun sendiri makna-makna dari pengetahuan yang telah dipelajarinya.

Pengurangan bimbingan pada saat siswa merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, dan membuat kesimpulan juga berdampak positif bagi siswa. Siswa menjadi lebih mandiri dan lebih mahir dalam merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, dan

membuat kesimpulan terlihat dari besarnya persentase ketercapaian untuk ketiga indikator keterampilan proses sains tersebut. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme Lev Vygotsky yang menyatakan bahwa pada tahap-tahap awal pembelajaran, siswa diberikan sejumlah besar bimbingan, arahan, dan bantuan, kemudian mengurangi bimbingan, arahan, dan bantuan tersebut untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengambil tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu menyelesaikan tugas tersebut secara mandiri (Cahyo, 2013).

Pembelajaran penemuan menjadikan siswa terlibat aktif dalam kegiatan percobaan yang memungkinkan mereka untuk menemukan sendiri suatu fakta/konsep/prinsip. Dalam pembelajaran penemuan, siswa didorong untuk belajar secara mandiri (Supriyanto, 2014). Dalam hal ini, siswa didorong untuk menemukan pengetahuan melalui proses mentalnya sendiri (Aini, Tukiran, dan Qosyim, 2013). Proses mental yang dimaksud antara lain merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,

mengidentifikasi variabel, menyusun prosedur pengumpulan data, mengamati, mengukur, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan dan sebagainya.

Belajar melalui penemuan mempunyai beberapa keuntungan antara lain dapat memacu rasa ingin tahu siswa, dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah melalui kerjasama (Putrayasa, Syahruddin, Margunayasa, 2014), pengetahuan yang diperoleh lebih bermakna sehingga dapat bertahan lama dalam ingatan siswa, membuat siswa menjadi lebih percaya diri (Putrayasa, Syahruddin, Margunayasa, 2014), melatih siswa belajar mandiri, berani mengemukakan pendapatnya pada saat diskusi di kelas (Audina, Jamal, dan Misbah, 2017), meningkatkan karakter tanggung jawab dan kemampuan kognitif siswa (Mastuang,dkk, 2017), serta membantu siswa menghilangkan skeptisme karena mengarah pada kebenaran yang pasti (Hosnan, 2014). Peran guru dalam pembelajaran penemuan yaitu membimbing, mendorong, dan memfasilitasi siswa agar dapat menggunakan ide, pikiran, informasi, dan keterampilan yang sudah mereka miliki untuk dapat memperoleh pengetahuan baru (Rahmi, Zainuddin, dan Suriasa, 2013).

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa penerapan model less structured guided discovery learning dapat melatih keterampilan proses sains siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Carin (1993) yang menyatakan bahwa pada model less structured guided discovery learning, guru hanya mengajukan rumusan masalah tanpa memberikan metode pemecahan masalah, kemudian siswa didorong untuk menyusun sendiri metode pemecahan masalah dan menggunakan metode tersebut untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan setelah mendapat persetujuan guru. Model less structured

guided discovery learning, menuntut siswa membangun pengetahuannya sendiri untuk dapat merumuskan hipotesis, mengidentifikasi dan mendefinisikan variabel secara operasional, menyusun prosedur pemecahan masalah dan menggunakan prosedur tersebut untuk mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik kesimpulan sehingga diperoleh jawaban dari permasalahan yang diberikan (Mastuang,dkk, 2017). Dengan demikian, model less structured guided discovery learning menuntut aktivitas berpikir dan keterampilan ilmiah yang tinggi.

SIMPULAN

Keterampilan proses sains siswa pada indikator merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, menyusun prosedur percobaan dan membuat kesimpulan berkategori sangat terampil, serta pada indikator menganalisis data berkategori terampil. Diperoleh simpulan bahwa model less structured guided discovery learning dapat melatih keterampilan proses sains siswa.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan Universitas Lambung Mangkurat karena DIPA 2017 untuk penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Aini, N., Tukiran, dan A. Qosyim.

(2013). Model Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) pada Pembelajaran IPA Terpadu Tipe WEBBED dengan Tema Biopestisida. Jurnal Pendidikan Sains. 1 (2): 118-122.

Audina, Mia, M. A. Jamal, dan Misbah.

(2017). Meningkatkan Pemahaman

Konsep Siswa dengan

Menggunakan Model Duided Inquiry Discovery Learning (GIDL) di Kelas X PMIA-2 SMAN 3

Banjarmasin. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika. 1 (1): 12-25.

Cahyo, A. N. (2013). Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler.

Yogyakarta: DIVA Press.

Carin, A. A. (1993). Teaching Science Through Discovery. New York:

Macmillan Publishing Company.

Hariani, N., Zainuddin, Z., & Hartini, S.

(2016). Meningkatkan

Keterampilan Proses Sains Melalui Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Untuk Kelas VII B SMP Negeri 27 Banjarmasin Pada Materi Pokok Kalor. Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika, 3(3), 242-251.

Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor:

Ghalia Indonesia.

Mastuang, M., Erliana, E., Misbah, M., &

Miriam, S. (2017). Penerapan Model Discovery Learning Untuk Meningkatkan Karakter Tanggung Jawab Dan Kemampuan Kognitif Siswa. Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains, 6(2), 132-143.

Putrayasa, I. M., H. Syahruddin, I. G.

Margunayasa. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning dan Minat Belajar terhadap Hasil Belajar IPA Siswa.

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha. 2 (1).

Rahmi, Karlina, Zainuddin, dan Suriasa.

(2013). Penerapan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Suatu Upaya Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa. Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika. 1 (1): 1-11.

Rosarina, Gina, A. Sudin, dan A. Sujana.

(2016). Penerapan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Perubahan Wujud Benda. Jurnal Pena Ilmiah. 1 (1): 371-380.

Supriyanto, Bambang. (2014). Penerapan Discovery Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VI B Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Keliling dan Luas Lingkaran di SDN Tanggul Wetan 02 Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember.

Pancaran. 3 (2): 165-174.

Susanti, E., M. Jamhari, dan S. M.

Suleman. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Keterampilan Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII IPA SMP Advent Palu. Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako. 5 (3): 36-41.

Tandayu, A. S, E. Sudibyo, dan B.

Setiawan. (2015). Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa SMPN 2 Sidoarjo melalui Model Discovery Learning. Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains. 3 (3): 1-6.

Toharudin, U., S. Hendrawati, dan A.

Rustaman. (2011). Membangun Literasi Sains Siswa. Bandung:

Humaniora.

Widiadynyana, Sadia, dan Suastra.

(2014). Pengaruh Model Discovery Learning terhadap Pemahaman Konsep IPA dan Sikap Ilmiah Siswa SMP. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA. 4.

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa VIII E SMPN 11 Banjarmasin Dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe Numbered Head Together

Eriana, M. Arifuddin, Mastuang

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lambung Mangkurat [email protected]

Abstrak

Rendahnya hasil belajar siswa dikarenakan pembelajaran yang berpusat pada guru sehingga siswa cenderung pasif dan tidak memiliki keberanian untuk bertanya atau berpendapat menyebabkan siswa kurang memahami apa yang disampaikan guru. Hal ini menyebabkan perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa VIII E SMPN 11 Banjarmasin melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Tujuan khusus penelitian adalah mendeskripsikan: (1) keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (2) aktivitas siswa, dan (3) hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus, setiap siklusnya terdiri dari: perencanaan, tindakan/observasi, dan refleksi. Perangkat dan instrumen penelitian yang digunakan adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Tes Hasil Belajar (THB), materi ajar, dan lembar observasi aktivitas siswa. Data diperoleh dari hasil tes dan observasi. Temuan penelitian yaitu: (1) keterlaksanaan RPP yaitu 75,6% pada siklus I dengan kategori baik menjadi 87,8% pada siklus II dengan kategori sangat baik; (2) Aktivitas belajar siswa juga meningkat dari 74%

pada siklus I dengan kategori aktif menjadi 86,7% pada siklus II dengan kategori sangat aktif; (4) hasil belajar siswa, yaitu 36% pada siklus I dengan kategori tidak tuntas menjadi 70% pada siklus II dengan kategori tuntas. Diperoleh simpulan bahwa hasil belajar siswa VIII E SMPN 11 Banjarmasin meningkat setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Kata kunci: Numbered Head Together (NHT), aktivitas siswa, hasil belajar.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang yang penting bagi manusia di setiap negara karena pendidikan akan menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara. Dalam pendidikan, interaksi yang terjadi antara pendidik dengan peserta didik dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar.

Menurut Sardiman (2012) dalam proses belajar mengajar, guru sebagai pendidik harus memberikan motivasi kepada peserta didik dan bisa menghidupkan suasana agar terjadi proses proses pembelajaran yang kondusif.

Pembelajaran IPA memiliki tujuan agar siswa memperoleh pemahaman yang mendalam melalui proses mencari tahu dan berbuat, yang diperoleh dari

pengalaman langsung siswa dalam memahami alam sekitar (Suyidno &

Jamal, 2012). Dalam pembelajaran, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang berkaitan mencari tahu tentang alam berupa konsep, fakta, maupun prinsip.

Berdasarkan observasi di SMP Negeri 11 Banjarmasin ditemukan bahwa pembelajaran disana masih menggnakan model pembelajaran yang bersifat berfokus hanya kepada guru, hal ini mengakibatkan siswa pasif sehingga rendahnya aktivitas siswa seperti bertanya maupun menyampaikan pendapat. Selain itu, peneliti melakukan wawancara dengan guru IPA yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2017, sehingga diperoleh bahwa hasil belajar

oleh siswa kelas VIII E SMP Negeri 11 Banjarmasin masih rendah. Tingkat ketuntasan hasil belajar tahun pelajaran 2016/2017 sekitar 33 % dari 33 siswa dikelas tersebut dengan batas ketuntasan 70. Dari uraian diatas, perlu adanya cara pembelajaran baru untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada kelas VIII E SMP Negeri 11 Banjarmasin Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu adanya tindakan untuk siswa VIII E SMP Negeri 11 Banjarmasin untuk meningkatkan hasil belajar siswa agar siswa mampu belajar secara efektif dalam proses pembelajaran melalui model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).

Menurut Faturrohman (2016) tipe NHT dapat digunakan agar siswa dapat bertukar pikiran atau ide dan memperhitungkan jawaban yang paling akurat. Selain itu, model pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut Nur (2005) dapat meningkatkan tanggung jawab seorang siswa dalam diskusi kelompok, karena guru akan menunjuk satu orang siswa yang mewakili teamnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sehingga cara ini bisa membuat semua siswa ikut serta.

Berdasarkan latar belakang diatas dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah keterlaksanaan RPP pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT? (2) Bagaimana aktivitas siswa VIII E SMP Negeri 11 Banjarmasin melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi getaran dan gelombang? dan (3) Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa VIII E SMP Negeri 11 Banjarmasin melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi getaran dan gelombang?

Adapun tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan cara meningkatkan hasil belajar siswa VIII E SMP Negeri 11 Banjarmasin melalui Model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi getaran dan gelombang.

METODE PENELITIAN

Rendahmya hasil belajar siswa di SMP Negeri 11 anjarmasin di kelas VIII E, maka diperlukan tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar tersebut.

Penelitian ini terdiri atas dua siklus, masing-masing siklus dilaksanakan dua kali pertemuan yang terdiri dari perancanaan, tindakan/observasi, dan refleksi.

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa SMP Negeri 11 Banjarmasin kelas VIII E, yang terdiri 15 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

Tempat penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 11 Banjarmasin yang beralamat di jalan Tembus Mantuil RT. 2 No. 161 Banjarmasin. Penelitian dimulai bulan Maret sampai dengan Mei 2017 yang dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu (1) Tes dan (2) Observasi, digunakan untuk mengukur tingkah laku individu yaitu pada penelitian ini untuk mengetahui keterlaksanaan RPP yang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa selama pembelajaran.

Berdasarkan tes hasil belajar pada subjek penelitian, dilakukan analisis ketuntasaan secara individual dan klasikal. Ketuntasan hasil belajar secara klasikal dihitung dengan menggunakan rumus:

𝐾𝐾 =𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢𝑎𝑙

𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑥100%

Pembelajaran secara klasikal dikatakan tuntas apabila ≥70% individu tuntas.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Data penelitian diperoleh dari hasil pengamatan pada sebanyak dua siklus berupa lembar keterlaksanaan RPP, data hasil belajar dan hasil observasi aktivitas siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)

yang akan diuraikan dalam setiap siklusnya.

Berdasarkan data hasil observasi selama pembelajaran siklus I dan II, dilaksanakan analisis keterlaksanaan RPP sebagai berikut:

Tabel 1 Presentase Keterlaksaan RPP Siklus Persentase

Keterlaksanaan

I 75,6%

II 87,8%

Adapun hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dan II berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat dalam Tabel berikut.

Tabel 2 Presentase Aktivitas Siswa

No Aktivitas siswa Siklus I II 1 Mendengarkan/

Memperhatikan penjelasan guru/siswa

58,9 87,5 2 Berdiskusi antar Siswa 75,0 91,1 3 Membaca materi ajar

dan mengerjakan LKS 83,9 89,3 4 Mengerjakan

tugas-tugas 92,9 91,1

5 Mengungkapkan

Pendapat 58,9 73,2

6 Mendengarkan

pendapat teman 64,3 87,5 7 Bekerjasama dengan

siswa lain 83,9 87,5

Presentase 74,0 86,7

Hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Presentase Hasil Belajar Siswa

Siklus Persentase Penilaian

I 36%

II 70%

Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil data yang didapat melalui pengamatan pada tiap siklus, maka pembahasan hasil penelitian dapat dipaparkan dan dideskripsikan sebagai berikut. Persentase keterlaksanaan RPP model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus I sebesar 75,6% dengan reliabilitas sebesar 0,97 dan secara

keseluruhan pelaksanaan RPP pada siklus ini dapat dikatakan baik. Hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa menggunakan model kooperatif tipe NHT. Waktu yang seharusnya cukup untuk melakukan semua fase dengan maksimal menjadi sedikit pada fase empat yakni membimbing siswa dalam kelompok dan fase lima untuk mempresentasikan hasil diskusi juga kurang maksimal. Pada fase yang kurang maksimal tersebut, guru tetap berusaha aktif dan menggunakan waktu sebaik mungkin dalam menciptakan kondisi belajar yang interaktif dan dapat memotivasi siswa.

Pada siklus II setelah dilakukannya refleksi dan tindakan ke kelas kembali maka terjadi peningkatan pada setiap aspek RPP. Secara umum keterlaksanaan RPP pada siklus II semua kegiatan terlaksana semua dan dikategorikan dengan sangat baik. Untuk persentase rata-rata keterlaksanaan RPP pada siklus II adalah 87,8% dengan reliabilitas sebesar 0,95. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa keterlaksanaan RPP pada siklus I dan II rata-rata berkategori sangat baik dan terjadi peningkatan.

Terjadinya peningkatan pada siklus II ini dikarenakan guru sudah terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan guru sudah bisa mengoptimalkan waktu pelajaran, serta siswa juga sudah terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sehingga proses pembelajaran lebih mudah dilakukan.

Menurut Nur (2005) dapat meningkatkan tanggung jawab seorang siswa dalam diskusi kelompok, karena guru akan menunjuk satu orang siswa yang mewakili teamnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sehingga cara ini bisa membuat semua siswa ikut serta. Selain itu menurut penelitian Adi, dkk (2015) hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Aktivitas siswa adalah skor kegiatan yang dilakukan siswa selama kegiatan

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN (Halaman 64-92)

Dokumen terkait