• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN"

Copied!
315
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN

24 Maret 2018

Aula Rektorat Lantai 1

Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin

2018

(3)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN

Penguatan Pendidikan Berbasis Karakter Untuk Mewujudkan Generasi yang berdaya saing di era globalisasi

Penyelenggara :

Progam Studi Pendidikan Fisika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Jl. Bridgjen Hasan Basri Kayutangi Banjarmasin

Editor:

Misbah, M. Pd

Dewi Dewantara, M. Pd

Reviewer:

Dr. Mustika Wati, S. Pd., M. Sc Sri Hartini, S. Pd., M. Sc Drs. Zainuddin, M. Pd Saiyidah Mahtari, M. Pd

Lay out:

Muhammad Ikhwan Rasyidi Nita Purnama Hidayah

Diterbitkan oleh:

Lambung Mangkurat University Press, 2018 d/a Pusat Pengelolaan Jurnal dan Penerbitan ULM

Lantai 2 Gedung Perpustakaan Pusat ULM Jl. Hasan Basri, Kayutangi, Banjarmasin, 70123

Telp/Fax. 0511-3305195

Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang.

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit,

kecuali untuk kutipan singkat demi penelitian ilmiah atau resensi.

X + 304 hlm

Cetakan Pertama, April 2018

ISBN: 978-602-6483-63-8

(4)

Susunan Kepanitian Seminar Nasional Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Pelindung : Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M. Si., M. Sc Penasehat : Prof. Dr. H. Wahyu, MS

Penanggung Jawab : Dr. Mustika Wati, M. Sc Ketua Pelaksana : Misbah, M. Pd

Sekretaris : Saiyidah Mahtari, M. Pd Bendahara : Sri Hartini, M. Sc Seksi Acara : Drs. Zainuddin, M. Pd

Anggota:

1. Misna

2. Ema Hainun Hadhiedae 3. Fahrul Reza

4. Eka Rosanti 5. Muhammad Rizki 6. Norhanifah 7. M. Reza Pahlawan Seksi Konsumsi : Dr. Eko Susilowati, M. Si

Anggota:

1. Selviy Noraini

2. Shofia Rihtazkia Saputri 3. Rifna Zia

4. Suci Rahma Daniati 5. Siti Juhroh

Seksi Perlengkapan : Mastuang, M. Pd Anggota:

1. Muhammad Hafiz Ridho 2. Supriyadi

3. Munawarah 4. Noriah 5. Mahmudah 6. Nuraidayanti Seksi Kesekretariatan : Dewi Dewantara, M. Pd

Anggota :

1. Nita Purnama Hidayah 2. Ida Rusmawati

3. Ramadhanti 4. Melisa

5. Diana Eka Wati

6. Munawarah

7. Laila Rahmawati

(5)

Seksi Dokumentasi : Herru Soepriyanto, S. SE Anggota:

1. Arlin Dwi Yani 2. Arif Rizki 3. Hana Pertiwi

4. Maulana Ahmad Muzakkir

5. Nisa Fahira

(6)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2018 yang mengangkat tema “Penguatan Pendidikan Berbasis Karakter Untuk Mewujudkan Generasi Yang Berdaya Saing Di Era Globalisasi” dapat diterbitkan.

Prosiding ini memuat beberapa hasil penelitian yang dipresentasikan di Seminar Nasional Pendidikan 2018. Adapun judul-judul penelitian yang dipresentasikan merupakan hasil-hasil penelitian dan kajian pustaka para peneliti dari Universitas dan Instansi terkait.

Melalui kegiatan Seminar Nasional Pendidikan 2018, hasil-hasil penelitian dan kajian putaka dipublikasikan secara luas, sehingga dapat menjadi alternatif solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini. Hal ini berkaitan dengan tugas utama masyarakat pendidikan untuk memberikan solusi alternatif yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah terhadap masalah- masalah nyata baik bersifat lokal, regional maupun nasional yang terjadi saat ini.

Tiada gading yang tak retak. Tiada yang sempurna kecuali Yang Maha Sempurna. Kritik dan saran senantiasa kami harapkan demi perbaikan di masa mendatang. Semoga kumpulan abstrak ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam menambah ilmu pengetahuan. Akhir kata kepada semua pihak yang telah membantu, kami ucapkan terima kasih.

Banjarmasin, Maret 2018

Tim Penyusun

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul i

Susunan Kepanitiaan iii

Kata Pengantar v

Daftar Isi vi

Makalah

1 Strategi Inovatif Membangun Budaya Riset dalam Bidang Pendidikan Fisika di Era Desruptif (Heru Kuswanto)

1

2 Analisis Pengelolaan Pendidikan Karakter di Berbagai Jenjang Sekolah (Rambat Nur Sasongko)

6

3 Implementasi Nilai-Nilai Karakter Kece (Komunikatif, Empatik, Cinta Damai, Energik) di Sekolah Dasar Dalam Pemanfaatan Bonus Demografi (Ragil Dian Purnama Putri,

Nindiya Eka Safitri)

13

4 Penanggulangan Erosi Karakter Ke-Indonesian Dengan Ikhsan

(Panji Hidayat) 24

5 Pendidikan Karakter Melalui Outdoor Education (Ida

Komalasari, Erni Susilawati

)

30

6 Profil Pola Pikir Mahasiswa Fisika Unmul Dalam Melaksanakan Praktikum Fisika Eksperimen II (Syahrir)

37

7 Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Melalui Penerapan Model Less Structured Guided Discovery Learning (Mastuang, Elfa Erliana, Misbah, Sarah Miriam)

57

8 Meningkatkan Hasil Belajar Siswa VIII E SMPN 11 Banjarmasin Dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe Numbered Head Together (Eriana, M. Arifuddin, Mastuang)

62

9 Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP Negeri 13 Banjarbaru Kelas VIII C Pada Materi Getaran dan Gelombang Melalui Model Pengajaran Langsung Berbantuan LKS Permainan Edukatif (Firda Aulia, M. Arifuddin, Sri Hartini)

68

(8)

Halaman

10 Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA-Fisika Siswa dengan

Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif (Risda

Amalia, M. Arifuddin, Andi Ichsan Mahardika)

80

11 Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X SMA Korpri Banjarmasin Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Nisa Karnila, M. Arifuddin, Mastuang)

88

12 Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X-5 SMAN 12 Banjarmasin Melalui Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Mukhlis, M. Arifuddin, Sri Hartini)

102

13 Meningkatkan Keterampilan Prosedural Siswa Pada Pembelajaran Fisika Melalui Model Pengajaran Langsung Di Kelas XI IPA 4 SMA Negeri 5 Banjarmasin (Tohirah, M.

Arifuddin, Abdul Salam M)

110

14 Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Prosedural Siswa Kelas VII-D SMP Negeri 31 Banjarmasin Melalui Model Pengajaran Langsung (Saipudin, M. Arifuddin, Sarah

Miriam)

117

15 Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Learning Together (Shaumi

Khairunnisa, Zainuddin, Sarah Miriam)

125

16 Konsistensi Efektivitas Dari Strategi Argumentasi Dalam Pembelajaran Langsung Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Mahasiswa Terhadap Teori Kinetik Gas (Muhammad

Arifuddin, Mastuang, Abdul Salam M., Andi Ichsan Mahardika)

132

17 Investment In Physics Education Towards The Scientific Community And Socialistic (Wiwik Agustinaningsih)

137

18 Self &Peer Assessment Dalam Setting Pembelajaran Diskusi Kelas Untuk Melatihkan Kemampuan Menyusun Perangkat Pembelajaran (Abdul Salam M, Sarah Miriam)

144

19 Pengaruh Model Pembelajaran Scramble Dengan Media Question Card Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Kertosari II Kabupaten Madiun (Naniek Kusumawati)

149

(9)

Halaman

20 Identifikasi Kearifan Lokal Kalimantan Selatan Sebagai

Sumber Belajar Fisika (Zainal fuad, Misbah, Sri Hartini,

Zainuddin)

158

21 Menggali Potensi Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Melalui Model Creative Responsibility Based Learning (Muhammad

Arifuddin, Suyidno, Mohamad Nur, Leny Yuanita)

170

22 Penerapan Literasi Sains Dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa Dalam Memecahkan Masalah (Fitria Hidayati, Julianto)

180

23 Studi Literatur Hubungan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Kerja Ilmiah Mahasiswa Pendidikan IPA (Ellyna

Hafizah, Rizky Febriyani Putri, Syubhan Annur)

185

24 Pengembangan Keterampilan Berfikir Kreatif Melalui Kegiatan Origami Pada Sekolah Dasar (Suprayitno,

Supriyono)

190

25 Profil Sikap Terhadap Sains, Keterampilan Proses Sains, Dan Kreativitas Mahasiswa Jurusan PGSD FIP UNESA di Mata Kuliah Konsep Dasar IPA (Julianto, Wasis, Rudiana

Agustini)

197

26 Karakterisasi dan Uji Emisi Briket Campuran Cangkang Biji Karet dan Abu Dasar Batubara (Ninis Hadi Haryanti, Rijali

Noor, Dwi Aprilia)

203

27 Studi Deskriptif Performa Sistem Pencahayaan Pada Ruang Kerja Dosen di Cuaca Mendung Ditinjau dari Standar Acuan Dan Konservasi Energi (Samuel Gideon)

210

28 Aktivasi dan Karakterisasi Lempung Alam Asal Kalimantan Tengah Sebagai Salah Satu Alternatif Bahan Adsorben (I Made Sadiana, Abdul Hadjranul Fatah, Karelius)

216

29 Pemanfaatan Limbah dan Serat Alam Sebagai Bahan Dasar Alternatif Peredam Suara di Bidang Interior (Purwanto)

227

30 Identifikasi Pengaruh El Nino dan La Nina Terhadap Variasi Curah Hujan Tahunan di Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua (Iriwi L.S. Sinon)

232

31 PUKUL E.coli (Arsil Maulana, AlMubarak) 245

(10)

Halaman

32 Sustainable Development Goals (SDGs) dan Peningkatan

Kualitas Pendidikan (Syubhan An’nur, Saiyidah Mahtari,

Mustika Wati, Miranti Diah Prastika)

251

33 Melatihkan 21 Century Skills Melalui Pembelajaran Student

Centered (Agus Rohman, Mohammad Zahri) 256

34 Pengaruh Metode Scaffolding Terhadap Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas V SD Negeri Tidung Kecamatan Rappocini Kota Makassar (Erna Ervianti)

263

35 Desain Buku Tutorial Pembuatan Mainan Tradisional di Kampoeng Dolanan Pandes sebagai Media Pembelajaran Anak (Kristian

Oentoro, Wiyatiningsih, Marcellino A.

Mahendra)

272

36 Pendekatan Klarifikasi Nilai untuk Mengembangkan Karakter Anak Melalui Layanan Bimbingan dan Konseling Di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (Mufida Istati)

280

37 Keterlaksanaan Literacy Learning Model (LLM) dalam Melatihkan Literasi Sains dan Sikap Positif terhadap Sains Mahasiswa Calon Guru Fisika (Titin Sunarti, Madlazim,

Wasis, Suyidno)

287

38 Keterlaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Jejaring Pertanyaan Dan Kendala yang Dihadapi Guru Dalam Pembelajaran Fisika (Evendi, Endang Susantini, Wasis)

296

(11)

Strategi Inovatif Membangun Budaya Riset dalam Bidang Pendidikan Fisika di Era Desruptif

Heru Kuswanto

Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Yogyakarta [email protected]

Abstrak

Tulisan ini akan membahas pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber bahan pembelajaran fisika. Sajian fisika memanfaatkan smartphone. Pembahasan diawali bagaimana membangun budaya inovatif. Teknik pengembangan bahan kajian yang menggabungkan antara budaya lokal, kandungan fisika, kemampuan yang akan dikembangkan dan taknologi yang digunakan.

Kata Kunci: pendidikan, fisika, lokal, inovatif.

PENDAHULUAN

Pada makalah ini akan dikaji tentang isu-isu yang berkembang dalam penelitian pendidikan Fisika. Isu-isu ini diharapkan disandingkan dengan potensi lokal yang memungkinkan untuk layak publish di jurnal internasional. Kajian akan dimulai dengan pemetaan tentang isu penelitian pendidikan fisika. Kajian berikutnya contoh-contoh konsep fisika yang diturunkan dari produk budaya lokal. Strategi inovatif dilakukan dengan memanfaatkan tabel. Pilihan teknologi yang digunakan untuk menampilkan presentasi disesuiakan dengan kemampuan yang diharapkan dari siswa.

MASALAH MASALAH DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN FISIKA

Kajian penelitian Pendidikan Fisika dapat digolongkan ke dalam pembahasan tentang: Pemahaman konseptual, pemecahan masalah, kurikulum dan pengajaran, penilaian, psikologi kognitif, dan sikap dan keyakinan tentang pengajaran dan pembelajaran. (Docktor dan Mestre 2014).

Pemahaman konseptual berkaitan dengan identifikasi kesalahpahaman yang terjadi pada siswa. Gambaran arsitektur struktur konseptual dikaji

untuk mengurangi masalah ini. Penelitian yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan strategi instruksional untuk mengurangi kesalahpahaman.

Disamping itu, pengembangan cara-cara evaluasi untuk mendeteksi dan mengurangi masalah ini dapat dilakukan.

Kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan yang penting untuk dikembangkan dalam memahami fisika. Pemahaman tentang bagaimana para ahli dalam mecahkan masalah dapat digunakan untuk diimplementasikan kepada siswa bahkan mahasiswa yang sedang mempelajari Fisika. Kemampuan representasi terhadap gejala fisis. Topik- topik yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan ini di antaranya kajian tentang bagaimana siswa memecahkan masalah. Hasil ini dibandingkan dengan para ahli memecahkan masalah, dengan demikian dapat ditemukan kesenjangan yang terjadi.

Kemampuan merepresentasikan data yang diperoleh menunjukkan pula kemampuan memecahkan masalah:

Representasi yang berkaitan dengan tabulasi data, grafik, verbal, vektor, maupun matematis dapat dijadikan variabel penelitian.

(12)

Evaluasi terhadap stretegi instruksional untuk pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan pemecahan masaalah dapat menjadi tema yang berkelanjutan. Tentu saja penelitian tidak berhenti pada pengetahuan kefektivan semata, perlu dilanjutkan untuk menghasilkan produk yang dapat dimanfaakan.

Topik–topik yang berkaitan dengan kurikulum dan pengajaran dapat berupa perbandingan metode. Pembelajaran di laboratorium juga perlu mendapat perhatian. Hal yang tidak dapat dilupakan adalah tentang struktur dan lingkungan kelas, begitu jsika tidak hanya juga strategi dan bahan pembelajaran. Topik bahan pembelajaran ini menarik untuk dikaji agar sesuai dengan kontekstual Indonesia. Diharapkan peserta didik merasakan bahwa Fisika tidak hanya ada di Eropa atau Amerika saja, tetapi berada di lingkungan peserta didik berada.

Bentuk-bentuk penilaian yang diharapkan dapat mengukur kemampuan peserta didik merupakan tema yang perlu dikembangkan. Topik ini meliputi:

a. Pengembangan dan validasi inventarisasi konsep.

b. Membandingkan skor dari beberapa alat ukur.

c. Membandingkan skor di beberapa populasi (budaya dan gender).

d. Ujian perkuliahan dan pekerjaan rumah.

e. Rubrik untuk penilaian proses.

f. Model kompleks belajar siswa.

BUDAYA LOKAL

Lingkungan memiliki peran yang penting dalam mengembangkan kemampuan representasi. Kearifan lokal merupakan fenomena yang terjadi di lingkungan. Dengan demikian kearifan lokal merupakan salah satu cara untuk

mengembangkan kemampuan

representasi. Multirepresentasi berguna untuk mendekskripsikan konsep dengan bentuk yang berbeda baik secara verbal, gambar, diagram, grafik dan persamaan

matematis. Multirepresentasi digunakan untuk mempermudah peserta didik untuk memecahkan masalah. Beberapa bentuk multirepresentasi antara lain verbal, gambar, diagram, grafik, simulasi komputer, dan persamaan matematika.

Representasi verbal dapat berupa tulisan maupun lisan, dapat menarik informasi dari masa lalu secara langsung, dapat mengatasi kesalahpahaman peserta didik.

Hasil budaya lokal dapat digunakan untuk mengambangkan mempresentasi- kan konsep-konsep fisika yang dilihat dari komponennya. Alat musik tradisional rebab merupakan salah satu produknya. Rebab memiliki komponen kosok rebab (alat penggesek) dan dawai.

Komponen tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan gaya-gaya yang bekerja menggunakan representasi diagram. Komponen lain diantaranya gelombang bunyi, dimana rebab menghasilkan gelombang bunyi yang abstrak dapat direpresentasikan dalam bentuk diagram. Selain itu terdapat konsep fisika lain seperti tegangan, regangan dan modulus elastisitas pada dawai sebelum penyeteman dan sesudah penyeteman. Sementara kemampuan verbal digunakan untuk memberikan deskripsi dan keterkaitan hubungan antara simbol-simbol fisika.

Gambar 1 adalah contoh produk lokal yang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar peserta didik. Konsep fisika yang digunakan untuk menjelaskan produk pada Gambar 1 disajikan pada Gambar 2.

Gambar 1. Kapal-kapalan

(13)

Gambar 2. Konsep fisis yang dapat dikembangkan dari kapal- kapalan

STRATEGI PENGEMBANGAN Tabel dapat digunakan untuk membantu memetakan antara komponen kemampuan yang akan dikembangkan dengan materi yang akan disajikan.

Tabel 1. Perancangan untuk kemampuan verbal pada Rebab

Indikator Materi

Gesekan statis Gesekan kinetis Menjelaskan

konsep secara verbal

Disajikan gambar pemain rebab sedang meletakkan kosok rebab pada dawai rebab, peserta didik diminta membangun fakta yang terjadi

Disajikan video pemain rebab sedang memainkan rebab dengan menggesek dawai secara horizontal.

Peserta didik menjelaskan konsep gaya yang bekerja saat rebab dimainkan

Melakukan pemberian label dan simbol fisika pada free body diagram secara verbal

Disajikan sebuah gambar rebab, kemudian peserta didik diminta menganalisa gaya-gaya yang bekerja

Disajikan sebuah gambar rebab yang sedang dimainkan, kemudian peserta didik diminta menganalisa gaya-gaya yang bekerja

Menentukan konsep yang benar berdasarkan data atau gejala fisis yang diberikan

Diberikan sebuah gambar rebab peserta didik diminta menghitung besar gaya dan menafsirkan hubungan beberapa simbol dalam persamaan fisika.

Diberikan sebuah gambar rebab yang sedang dimainkan kemudian peserta didik diminta menganalisis fakta yang terjadi

Diberikan gambar rebab dimana kosok rebab menempel pada dawai rebab dan gambar lain berupa rebab yang sedang digesek secara horizontal, kemudian peserta didik diminta menyebutkan gaya yang bekerja dengan bantuan sebuah diagram jatuh bebas Memecahkan

masalah dengan kalimat atau kata- kata secara verbal Menggunakan bantuan free body diagram untuk memecahkan masalah

(14)

Tabel 2. Perancangan untuk kemampuan verbal pada Andong

Indikator Materi

Gerak Melingkar Usaha dan Energi Dinamika Rotasi Menggambar

diagram secara sederhana beserta

komponen yang terlibat di dalamnya

Disajikan sebuah gambar diagram kecepatan dan percepatan linear pada roda andong

Disajikan diagram gaya yang bekerja pada andong, baik di atas bidang datar maupun bidang miring

Disajikan diagram hubungan roda- roda sepusat, roda-

roda yang

dihubungkan, dan garis kerja gaya Menuliskan

besaran-

besaran yang digunakan pada diagram

Disajikan besaran- besaran yang berkaitan dengan kecepatan dan percepatan linear pada diagram kecepatan dan percepatan

Disajikan besaran- besaran yang ada pada diagram gaya yang bekerja pada andong

Disajikan besaran- besaran yang terlibat dalam diagram hubungan roda-roda sepusat, roda-roda yang dihubungkan, dan garis kerja gaya Mengetahui

hubungan antar komponen dalam diagram

Disajikan rumusan hubungan antara kecepatan dan percepatan, berupa persamaan-

persamaan terkait kecepatan dan percepatan

Disajikan rumusan hubungan antar gaya- gaya yang bekerja pada andong

Disajikan rumusan hubungan antar komponen yang terlibat dalam diagram

Melakukan perhitungan matematis sesuai dengan penjelasan dalam diagram

Disajikan persoalan yang berhubungan dengan usaha, energi dan daya

Menentukan besar dan arah vektor (positif dan negatif) pada gerakan roda andong.

Disajikan gambar besar dan arah vektor kecepatan maupun perceptan pada roda andong

Disajikan sebuah animasi andong yang bergerak kemudian

digambarkan arah dan besar gaya yang dilakukan oleh kuda terhadap andong

Disajikan diagram

gaya dan

komponennya pada balok

Disajikan garis kerja gaya pada roda andong

(15)

Lanjutan Tabel 2

Indikator

Materi Gerak

Melingkar

Usaha dan Energi Dinamika Rotasi Menggambar

vektor dalam format anak panah dan ijk

Disajikan gambar besar dan arah vektor kecepatan maupun

percepatan pada roda andong

• Disajikan gambar vektor gaya gambar perpindahan

berdasarkan animasi

• Disajikan animasi gerak andong beserta komponen vektornya, berupa kecepatan, gaya, dan gaya gesek.

• Disajikan gambar hubungan jari-

jari dan

kecepatan sudut pada roda andong

Melakukan penjumlahan, pengurangan vektor dan perkalian vektor, baik dot maupun cross product

Disajikan persamaan kecepatan linear, kecepatan rata- rata, kecepatan sudut, percepatan linear dan percepatan sudut

• Disajikan persamaan

usaha dengan

melakukan perkalian dot antara gaya dan perpindahan

• Disajikan perkalian dot dari komponen gaya dan perpindahan pada sumbu x dan y

Disajikan

persamaan momen gaya dan momen inersia yang bekerja pada andong

Mengetahui resultan vektor baik

menggunakan format anak panah maupun ijk.

• Disajikan diagram vektor satuan gaya dan perpindahan

• Disajikan uraian komponen gaya pada andong yang berjalan pada bidang datar maupun bidang miring berdasarkan gambar diagram arah dan besar komponen tersebut

PENUTUP

Produk budaya lokal dapat digunakan sebagai sumber dalam pengembangan bahan ajar Fisika.

Strategi memadukan kemampuan yang akan ditingkatkan dengan materi bahan dilakukan dengan Tabel. Telepon pintar dapat dipakai sebagai media untuk menampilkan pembelajaran yang luwes.

ACUAN

Docktor L. J., Mestre J. P. (2014).

Synthesis of discipline-based education research in physics.

Physical Review Special Topics - Physics Education Research 10, 020119 (2014)

https://journals.aps.org/prper/pd f/10.1103/PhysRevSTPER.10.0 20119.

(16)

Analisis Pengelolaan Pendidikan Karakter di Berbagai Jenjang Sekolah

Rambat Nur Sasongko

Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu

[email protected] Abstrak

Pendidikan karakter sepertinya berjalan di tempat. Hal itu karena kurang ada perubahan yang signifikan baik tujuan, materi, metode, proses pembelajaran, evaluasi, hingga hasil yang diperolehnya. Kecenderungan perilaku anak di era globalisasi malah kian negatif.

Kondisi tersebut diduga pengelolaan pendidikan karakter kurang berjalan dengan efektif.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah. Metode yang digunakan dengan pendekatan analisis deskriptif evaluatif.

Penelitian dilakukan di berbagai jenjang sekolah, baik SD, SMP, SMA, dan SMK di provinsi Bengkulu. Teknik pengumpulan data dengan ceklis, observasi, studi dokumentasi, dan wawancara. Analisis data dengan induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter pada berbagai jenjang sekolah kurang dikelola sesuai dengan standar nasional pendidikan. Pendidikan karakter hanya sebatas kebijakan. Implementasi di berbagai jenjang sekolah amat keropos, tidak memiliki fundamen pembelajaran yang terstruktur sebagaimana mata pelajaran yang lainnya. Saran berdasarkan hasil penelitian ini yaitu agar pendidikan karakter dikelola sesuai standar nasional, utamanya standar kelulusan, isi, proses, pendidik, pengelolaan, dan penilaian pembelajaran.

Kata kunci: Pengelolaan pendidikan karakter, sekolah.

PENDAHULUAN

Pendidikan karakter sesungguhnya bukan merupakan isu yang baru. Sejak nabi Adam diturunkan ke dunia sesungguhnya juga berupaya melakukan pendidikan karakter untuk anak cucunya.

Para nabi, rasul, pengembang dan penyebar agama dan keyakinan pun juga berupaya memperbaiki karakter dan perilaku manusia. Dalam referensi ilmiah pun seperti Plato tahun 428 SM juga telah menggagas pengembangan pendidikan yang diarahkan agar manusia beradap.

Quintilanus tahun 42 M sebagai seorang pendidik secara tegas mengembangkan pendidikan untuk perbaikan karakter siswanya. Nabi Muhammad saw tahun 571 M diturunkan ke dunia juga untuk memperbaiki akhlak atau karakter manusia. Demikian pula Ibnu Kaldun tahun 980 M juga telah menggagas pendidikan untuk melahirkan manusia yang insan kamil dan berbudi pekerti baik (Sasongko, 2015).

Di Indonesia pendidikan karakter sesungguhnya juga telah dilakukan sejak lama seperti di padepokan, pesantren, seminari, dan lembaga pendidikan sejenisnya. Di era kemerdekaan presiden Sukarno sekitar tahun 1950-an telah melakukan gerakan “character building”

untuk membangun bangsa ini. Hingga kini di era reformasi, presiden Jokowi juga telah melakukan gerakan

“Penguatan Pendidikan Karakter”

melalui Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Munculnya peraturan presiden tersebut didasarkan atas kekurang berhasilan pendidikan karakter yang belum mampu menunjukkan hasil yang optimal. Padahal pendidikan karakter tersebut telah dilaksanakan di berbagai jenjang sekolah, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi. Kurang lebih anak telah memperoleh pendidikan karakter 16

(17)

hingga 20 tahun. Namun kenyataannya masih tetap menghasilkan lulusan yang jahat (Aswandi, 2010). Seperti kejadian siswa SMA menganiaya gurunya hingga meninggal, lebih dari setengah pimpinan daerah yang ada di Indonesia tersandung korupsi, merosotnya nilai sopan santun di kalangan legislatif, merosotnya nilai kerja keras di kalangan pegawai negeri, sikap intoleransi di kalangan masyarakat semakin tinggi, semangat kebangsaan dan menjaga persatuan menurun, disiplin masyarakat menurun, kecenderungan siswa dan mahasiswa yang kurang gemar membaca, kecenderungan masyarakat mengkonsumsi narkoba dan Indonesia sedang dalam darurat narkotika, prestasi dan daya saing kurang, dan sebagainya.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan.

Terlebih dalam kerangka menghadapi era milenial.

Gejala dan kejadian merosotnya karakter di berbagai kalangan masyarakat tersebut, diduga merupakan kesalahan dari pengelolaan pendidikan karakter yang berjalan kurang efektif.

Pendidikan karakter yang dikelola di bebagai jenjang sekolah kurang sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan aturan implementasinya tentang standar kelulusan, isi, proses, pengelolaan, pendidik, sarana dan prasarana, pembiayaan, dan penilaian. Padahal hasil belajar atau pendidikan dapat berhasil dengan efektif, jika dikelola sesuai dengan standar nasional yang telah ditetapkan (Burton, 2009; Sasongko, 2011; dan Sasongko, 2015).

Penelitian ini rumusan masalahnya yaitu: “Apakah pengelolaan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah sudah berjalan efektif?” Permasalahan pokok tersebut dideskripsikan menjadi beberapa sub masalah yakni: (1) apakah kebijakan pendidikan karakter telah sesuai dengan SNP? (2) apakah perencanaan pendidikan karakter telah sesuai dengan SNP?, (3) apakah pelaksanaan pendidikan karakter telah

sesuai dengan SNP?, dan (4) apakah evaluasi pendidikan karakter telah sesuai dengan SNP?

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengelolaan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah. Diharapkan melalui penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi perbaikan dan peningkatakan kebijakan pengelolaan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah, perbaikan kinerja layanan pembelajaran, perbaikan peran guru dan kepala sekolah, dan perbaikan karakter siswa di berbagai jenjang sekolah.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode evaluatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian bermaksud menganalisis efektivitas pengelolaan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah yang dipaparkan secara naratif dan kontekstual (Burn, 2009 dan Miles and Huberman, 2007). Analisis evaluatif digunakan untuk memaparkan tentang efektivitas kebijakan pendidikan karakter, efektivitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah dilihat dari ukuran standar nasional pendidikan.

Subyek penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru, siswa, dan alumni SD, SMP, SMA, dan SMK Negeri di beberapa wilayah provinsi Bengkulu.

Subyek dan responden penelitian dipilih secara bertujuan (purposive and snow

ball sampling) dengan

mempertimbangkan keterwakilan institusi dan jenis data yang dikumpulkan (Burn, 1995).

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan ceklis, observasi, studi dokumentasi, dan wawancara. Ceklis digunakan untuk melihat efektivitas pendidikan karakter dari ukuran SNP.

Observasi dan studi dokumentasi digunakan untuk melihat bukti yang ada di sekolah. Adapun wawancara

(18)

digunakan untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang pengelolaan pendidikan karakter.

Analisis data dilakukan secara evaluatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif (Burn, 1995 dan Miles and Huberman, 2007). Analisis evaluatif dilakukan dengan melihat keterlaksanaan pendidikan karakter dilihat dari 8 standar nasional. Pengelolaan pendidikan karakter dikatakan efektif, jika sesuai dengan 8 standar nasional. Selain hal tersebut data dan informasi yang dihimpun dari berbagai teknik, diolah, dipaparkan, dicermati, dan diramu menjadi satu kesatuan pola yang bermakna. Pola tersebut bisa jadi merupakan fenomena baru, gejala baru, teori lapangan baru (grounded theory), atau tesis yang benar-benar orisinil (Miles and Huberman, 2007).

Teknik untuk meningkatkan keabsahan data dilakukan melalui cek- recek (mengecek kembali ke responden berkali-kali), trianggulasi (menanyakan dari berbagai sumber minimal tiga sumber), peer debriefing (mengkaji data dan informasi dari rekan sebaya responden), analisis kasus negative (mengecek mengapa diperoleh data yang nyeleneh), dan audit trail (melakukan mengecekan catatan lapangan) (Miles and Huberman, 2007). Demikian pula dilakukan teknik untuk meningkatkan kredibilitas penelitian melalui uji obyektivitas (kejujuran pengumpulan data dan informasi), transfermabilitas (keterpakaian dan kesesuaian hasil penelitian), dependabilitas (ketidak- berpihakan peneliti), dan auditabilitas (pengecekan hasil kembali) (Miles and Huberman, 2007).

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Pendidikan karakter pada berbagai jenjang sekolah di provinsi Bengkulu telah diselenggarakan mengikuti kebijakan pemerintah. Sekolah, baik pada jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK

telah mengimplementasikan pendidikan karakter dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Pendidikan karakter dalam kegiatan intrakurikuler diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari. Kegiatan intrakurikuler tersebut diperkuat dengan kegiatan kokurikuler yang digunakan untuk pendalaman materi. Sementara pelaksanaan dalam kegiatan ekstrakurikuler dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti pramuka, palang merah remaja, kegiatan keagamaan, olah raga, kesenian, dan peminatan kegiatan yang disukai siswa.

Pada tataran kebijakan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah sudah berusaha mengikuti kebijakan pemerintah. Seluruh sekolah telah melaksanakan pendidikan karakter sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Kepala sekolah dan guru umumnya berupaya menerjemahkan kebijakan pemerintah dalam wujud program.

Pelaksanaan cenderung bersifat

“formalitas” yang penting melaksanakan dan ada program kegiatannya, tanpa melihat unsur kualitas yang sesuai dengan delapan SNP. Pelaksanaan pendidikan karakter kurang sesuai dengan standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar tenaga pendidik dan kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan, standar pengelolaan, dan standar penilaian. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa pendidikan karakter di sekolah kurang efektif.

Menurut kepala sekolah dan guru penyebabkan karena ketiadaan mata pelajaran yang berdiri sendiri, sebagaimana mata pelajaran lain di sekolah. Kondisi ini melemahkan penilaian penguasaan dan kepemilikan karakter siswa. Penanaman karakter siswa di sekolah juga kurang dibarengi dengan pembinaan di lingkungan keluarga. Edukasi yang terputus ini juga merupakan penyebab kekurangefektivan pendidikan karakter.

(19)

Perencanaan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah tercermin dalam program kegiatan pembelajaran dan ekstra kurikuler. Pendidikan karakter termuat dalam kurikulum sekolah yang mencakup muatan mata pelajaran, muatan lokal, pengembangana diri, kecakapan hidup, dan sebagainya.

Seluruh kurikulum sekolah, baik yang menggunakan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) maupun K- 13 (Kurikulum 2013) memuat pendidikan karakter yang kegiatannya mencakup tatap muka, kegiatan terstruktur, dan kegiatan mandiri. Dalam kegiatan pembelajaran guru menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang memuat Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang menurut kepala sekolah dan guru seluruhnya menggambarkan kompetensi karakter siswa. Telaah terhadap perencanaan pembelajaran baik dalam SK dan KD memuat kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, dan kecakapan hidup. Muatan karakter lainnya kurang terinci dan tidak dijelaskan secara detil dalam perencanaan pembelajaran. Demikian pula dengan program kegiatan ko dan ekstra kurikuler. Meskipun kepala sekolah telah mengatakan bahwa pendidikan karakter telah diprogram, dalam dalam kegiatan ko dan ekstra kurikuler tidak nampak dalam dokumen kegiatan. Kegiatan yang nampak hanya jenis kegiatan ekskul seperti pramuka, berbagai jenis cabang olah raga, kesenian, dan kegiatan keagamaan.

Dengan demikian ditinjau dari standar nasional, perencanaan pendidikan karakter belum sepenuhnya mengikuti standar isi maupun lulusan.

Pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan dalam kegiatan intra kurikuler, ko dan dan ekstra kurikuler. Dalam kegiatan intra kurikuler tergambar dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung hanya mentransfer materi mata pelajaran.

Siswa yang melanggar melakukan

kegiatan biasanya diberikan nasehat dan sanksi. Disinilah karakter ditanamkan.

Karakter tidak secara khusus dikembangkan kepada siswa, namun diintegrasikan ke dalam mata pelajaran.

Demikian pula dalam pelaksanaan kegiatan ko dan ekstra kurikuler. Seluruh guru menyebutkan bahwa semua pelaksanaan pembelajaran, ko dan ekstra kurikuler dilakukan dalam kerangka pendidikan karakter. Bila ditinjau dari segi standar proses, maka pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran sudah sesuai. Namun khusus untuk pembelajaran yang menanamkan karakter kurang tersentuh secara mendalam. Guru mata pelajaran maupun ekstra kurikuler lebih cenderung mengutamakan capaian materi pelajaran daripada melakukan pembinaan karakter.

Demikian pula halnya dengan penilaian pembelajaran, guru lebih menekankan menilai materi pembelajaran melalui tes tertulis dari pada melalui perbuatan.

Evaluasi pendidikan karakter kurang dilakukan secara khusus untuk menilai karakter anak satu persatu.

Karakter anak seperti disiplin tidak tergambarkan secara khusus, demikian pula karakter lainnya. Guru lebih menekankan melakukan evaluasi penguasaan materi pelajaran dari pada menilai karakter anak. Namun menurut pengakuan guru, nilai anak pada suatu mata pelajaran menggambarkan keseluruhan potensi anak, termasuk karakternya. Telaah dari segi standar penilaian, evaluasi pendidikan karakter belum sepenuhnya mengikuti standar nasional yang ditetapkan. Seperti belum mengikuti prosedur, jenis, dan alat penilaian yang benar-benar mampu mengggambarkan kepemilikan karakter anak. Penilaian hanya dilakukan untuk mengukur kemampuan anak memenuhi ketuntasan belajar. Misalnya anak memperoleh nilai 80, artinya telah memenuhi ketuntasan belajar dari mata pelajaran tertentu dan mencakup kepemilikan karakter anak. Namun

(20)

ketika ditanyakan kepada guru, apakah nilai 80 tersebut menjamin bahwa anak memiliki karakter yang baik? Mereka umumnya menjawab “iya”. Namun kesetujuan ini tidak disertai raut muka yang sungguh-sungguh.

Pembahasan

Efektivitas pendidikan karakter di sekolah dapat diukur dengan membandingkan antara delapan standar nasional pendidikan dengan implementasi yang sesungguhnya terjadi di sekolah. Dengan membandingkan kedua hal tersebut tersebut dapat terlihat efektivitasnya (Burton, 2009 dan Sasongko, 2011). Kebijakan nasional tentang penerapan pendidikan karakter telah dikelola di berbagai jenjang sekolah, baik SD, SMP, SMA, dan SMK di provinsi Bengkulu. Pengelolaannya cenderung bersifat “formalitas” yang penting terselenggara. Sekolah umumnya tidak mempedulikan segi kualitas kepemilikan karakter siswa. Dilihat dari SNP pelaksanannya belum sepenuhnya memenuhi unsur standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar tenaga pendidik dan kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan, standar pengelolaan, dan standar penilaian.

Dengan perkataan lain bahwa pendidikan karakter belum efektif dikelola di sekolah.

Kondisi di atas sesungguhnya hampir sama dengan temuan Marzuki, Murdiono, dan Samsuri (2011) yang menunjukkan bahwa pendidikan karakter di SD dan SMP di Daerah Yogjakarta belum dikembangkan secara khusus yang berbasis keagamaan. Demikian pula jika merujuk kepada Aswandi (2010) yang lebih menekankan kepada internalisasi karakter melalui empat tahapan, seperti melalui pemahaman, pembiasaan, keteladanan, dan pembelajaran secara integral; maka pendidikan karakter di sekolah provinsi Bengkulu belum sepenuhnya dilaksanakan. Kondisi

demikian menurut Berkowitz, Bier, dan McCauley (2017) pendidikan karakter belum memberikan nilai yang berarti bagi siswa.

Pendidikan karakter yang diselenggarakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas yang didukung dengan kegiatan ko dan ekstra kurikuler, belum sepenuhnya menghasilkan karakter yang sesuai dengan standar nasional. Kegiatan pembelajaran cenderung kepada pencapaian materi ajar dan ketuntasan belajar minimal. Kondisi ini memang amat mudah dilakukan guru daripada membina dan menilai secara detil dan komprehensif karakter siswa.

Pendidikan karakter sesungguhnya merupakan dilemma bagi kepala sekolah dan guru (Graham dan Diaz, 2015;

Sasongko, 2015; dan Larry, 2017).

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang kemudian direvisi melalui Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan memiliki merencanakan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Namun dalam implementasinya belum optimal. Sebagai tindak lanjutnya ditetapkan Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Perpres tersebut ditujukan untuk mewujudkan bangsa yang berbudaya yang kuat nilai- nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. PPK tersebut merupakan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga

(21)

dengan pelibatan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Penyelenggaraan PPK pada jalur pendidikan formal dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang dilakukan di dalam dan atau di luar lembaga.

Penyelenggaraan PPK dalam kegiatan intrakurikuler untuk penguatan nilai-nilai karakter dilakukan melalui penguatan materi pembelajaran, metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum. Kegiatan PPK dalam kokurikuler dilakukan melalui pendalaman dan atau pengayaan kegiatan intrakurikuler sesuai muatan kurikulum.

Kegiatan PPK dalam kegiatan ekstrakurikuler dilakukan melalui kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah bakat/olah minat, dan kegiatan keagamaan dan penghayat kepercayaan.

Penyelenggaraan pendidikan karakter di berbagai jenjang sekolah belum sesuai dengan Perpres sebagaimana di atas; seharusnya dilakukan secara terpadu, baik di sekolah, masyarakat, maupun di keluarga. Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama dalam pendidikan karakter (Sasongko, 2015).

Oleh karena itu pendidikan karakter sudah semestinya dilakukan secara bersama-sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat (Graham dan Diaz, 2015 dan Larry, 2017).

Pendidikan karakter yang belum memiliki struktur program yang jelas amat melemahkan bagi penilaian hasil belajar. Ketiadaan mata pelajaran pendidikan karakter yang mandiri, menyebabkan tidak adanya nilai tersendiri bagi karakter siswa. Kondisi ini menjadi penyebab bagi siswa untuk tidak menampilkan karakter mulia.

PENUTUP Simpulan

Simpulan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter pada

berbagai jenjang sekolah belum efektif, sebab kurang dikelola sesuai dengan standar nasional pendidikan. Pendidikan karakter pada berbagai jenjang sekolah diselenggarakan tidak memiliki fundamen pembelajaran yang kuat dan terstruktur sebagaimana mata pelajaran yang lainnya. Kebijakan pendidikan karakter cenderung bersifat formalistis dan belum sesuai dengan delapan standar nasional. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan karakter belum sepenuhnya memenuhi standar nasional pendidikan.

Saran

Saran kepada kepala dinas pendidikan setempat dan kepala sekolah agar dapat mengeluarkan kebijakan pengelolaan pendidikan karakter yang terstruktur menjadi mata pelajaran yang sesuai standar nasional, utamanya standar kelulusan, isi, proses, pendidik, pengelolaan, dan penilaian pembelajaran.

Pendidikan karakter hendaknya direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sinergis, terpadu dan sinambung pada lingkup sekolah, masyarakat dan keluarga.

TERIMA KASIH

Apresiasi dan terima kasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang telah membiayai kegiatan penelitian kompetitif nasional Penelitian Tim Pascasarjana (PTP) Tahun 2017-2018 dengan judul: “Percepatan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan Melalui Pengembangan Model Pembinaan Sekolah Berbasis Audit Kinerja”. Terima kasih juga kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bengkulu yang telah membantu kegiatan penelitian ini melalui Kontrak Penelitian No. 982/UN30.15/LT/2017, tanggal 6 April 2017

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Aswandi (2010). Membangun Bangsa Melalui Pendidikan Karakter.

Pendidikan Karakter: Jurnal Publikasi Ilmiah Pendidikan Umum dan Nilai, 2 (2), 16-23.

Berkowitz, MW; Bier, MC, and McCauley, B. (2017). Toward a Science of Character Education:

Frameworks for Identifying and Implementing Effective Practice.

Journal of Character Education,

13 (1).

http://.infoagepub.com/jrce- isssue.html (diunduh 5 Februari 2018).

Burn, Robert B.(1995). Introduction to Research Methods. Sidney:

Longman.

Burton, Paul (2009). National Education Standards: Getting Beneath the Surface. New Jersey: Policy

Information Center.

https://www.ets.org/Media/Resear ch/pdf/PICNATEDSTAND.pdf (Diunduh 2 Maret 2016).

Graham, SE and Diaz, ME (2015). The Complexity of Character: An Ability Based-Model for Higher Education. Journal of Character

Education. 11 (1).

http://www.m,character.org/url=ht tp.fjournal-ce (diunduh 8 Februari 2018).

Larry, Nucci (2017). Character: A Multifaceted Development System. Journal of Character

Education, 13 (1).

http://.infoagepub.com/jrce- isssue.html (diunduh 5 Februari 2018).

Marzuki, Murdiono, M, dan Samsuri (2011). Pembinaan Karakter Siswa Berbasis Pendidikan Agama di SD dan SMP DIY. Jurnal Kependidikan: Jurnal Ilmiah Penelitian Pendidikan, 41 (1), 71- 86.

Miles, MS and Huberman, AM (2007).

Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Method.

http://www.ed.gov/databased/qual idata.Ed54673534 (Diunduh 3 Mei 2012).

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Sasongko, Rambat Nur (2011). Model Manajemen Pendidikan Berbasis Solusi Untuk Mengatasi Sekolah Miskin. Jurnal Kependidikan:

Jurnal Ilmiah Penelitian Pendidikan. 41 (2), 127-134.

Sasongko, Rambat Nur (2015). Strategi Mengatasi Madrasah Miskin Melalui Pengembangan Model Manajemen Berbasis Kolaborasi (Penelitian Tindakan Kependidikan di Berbagai Jenjang Madrasah Provinsi Bengkulu).

Madania: Jurnal Kajian Keislaman. 19 (2), 185-194.

(23)

Implementasi Nilai-Nilai Karakter KECE (Komunikatif, Empatik, Cinta

Damai, Energik) di Sekolah Dasar Dalam Pemanfaatan Bonus Demografi

Ragil Dian Purnama Putri1, Nindiya Eka Safitri2

1Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Ahmad Dahlan

2Bimbingan dan Konseling, SMK Muhammadiyah Wonosari [email protected]

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang implementasi nilai-nilai karakter KECE (Komunikatif, Empatik, Cinta Damai, Energik) di sekolah dasar. Pendidikan memberikan pengaruh besar dalam menanamkan dan mengembangkan karakter bagi peserta didik.

Seiring dengan pesatnya era globalisasi, Indonesia saat ini hampir kehilangan kearifan lokal yang menjadi karakter budaya bangsa. Penurunan nilai-nilai karakter juga tengah dirasakan semakin drastis terjadi di lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Terjadinya degradasi moral di tubuh bangsa ini menjadi isu krusial akhir-akhir ini. Fakta ini ditunjukkan dengan adanya berbagai fenomena penyimpangan perilaku pada generasi muda, khususnya anak usia sekolah seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, pesta miras, pelecehan seksual, free sex, sikap agresif, bullying dan lain-lain. Salah satu cara untuk menghadapi fenomena tersebut adalah melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai strategi, salah satunya adalah dengan pengembangan budaya sekolah yang sesuai dengan penguatan pendidikan karakter. Sekolah dasar merupakan pijakan awal dalam penanaman karakter kepada peserta didik. Budaya KECE diimpelementasikan melalui berbagai kegiatan maupun program sekolah yang terencana secara matang dengan memanfaatkan bonus demografi. Artikel ini mengupas tentang bagaimana budaya KECE diimplementasikan melalui kegiatan-kegiatan terencana dan langkah-langkah implementatif dengan kolaborasi berbagai elemen pendidikan di sekolah dasar. Dengan penanaman budaya KECE sejak dini, peserta didik akan tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dan berkarakter layaknya kualitas dan karakter generasi emas 2045.

Kata Kunci : degradasi moral, pendidikan karakter, bonus demografi, budaya KECE.

PENDAHULUAN

Maraknya kasus tawuran antar pelajar, antar mahasiswa dan antar kampung pada akhir-akhir ini telah menjadi sorotan publik. Peran orang tua dan guru saat ini telah diabaikan oleh anak karena perkembangan zaman dan teknologi membuat globlasisasi pada budaya asing dengan cepat masuk ke dalam negeri. Menurut Kemendiknas (2010: 1) dalam buku Agus (2012: 17), pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif. Itu karena pendidikan membangun generasi baru bangsa menjadi lebih baik. Akan tetapi telah diketahui bahwa bangsa saat ini

sedang kehilangan kearifan lokal yang menjadi karakter budaya bangsa sejak bertahun-tahun yang lalu.

Agus (2012: 18) mengatakan bahwa sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa ini dalam berbagai aspek, serta dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang harus diakui bahwa hasil hasil dari pendidikan itu tidak akan terlihat dalam waktu sekejap atau periode tertentu. Melalui pendidikan karakter yang diinternalisasikan diberbagai tingkat dan jenjang

(24)

pendidikan, diharapkan krisis karakter bangsa ini bisa segera diatasi. Lebih dari itu pendidikan karakter sendiri merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Selain itu, pendidikan karakter juga memiliki korelasi positif pada keberhasilan akademik anak didik.

Karena sangat penting pendidikan karakter, sampai beberapa negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina sudah menerapkan model pendidikan karakter sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Negara-negara

maju tersebut telah

mengimplementasikan pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis, berdampak positif pada pencapian akademis. Mansur, (2011: 1) mengatakan bahwa dampak globalisasi yang terjadi pada saat ini membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter bangsa. Padahal pada kondisi seperti ini pendidikan karakter memiliki peranan penting untuk menjadi pondasi bangsa yang perlu ditanamkan pada siswa. Hal tersebut telah terbukti dengan kondisi yang terjadi di sekolah dasar dimana anak yang menjadi cikal bakal penerus bangsa ini sangat terdegradasi moral dan karakternya sehingga berdampak sampai ketika dewasa.

Supratiningrum dan Agustin (2015: 219) mengemukakan bahwa kebutuhan pendidikan yang dapat melahirkan manusia Indonesia yang memiliki karakter dan bermoral sangat dirasakan penting karena degradasi moral yang terus menerus terjadi pada generasi bangsa ini dan nyaris membawa bangsa Indonesia pada kehancuran.

Budaya tawuran, geng-geng antar pelajar, penyalahgunaan narkoba yang semakin menggurita dan mungkin kasus kejahatan lainnya yang dirasa meresahkan masyarakat khususnya orang tua.

Maraknya tindak kriminalitas pada siswa menyebabkan terjadi bullying antar siswa yang berakhir pada kasus

kekerasan antar pelajar dan berakhir kematian. Fakta ini diberitakan oleh harian Merdeka.com Rabu, 9 Agustus 2017 tentang tewasnya SR (8th) seorang siswa kelas II SDN Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang tewas diduga setelah berkelahi dengan rekannya DR di lingkungan sekolah (8/8) sekitar Pukul 07.00 WIB. Parahnya lagi, kenakalan siswa sekolah juga terjadi pada siswa Sekolah Dasar yang tawuran dengan sesama Sekolah Dasar. Seperti yang diberitakan oleh Liputan6.com 25 November 2016 SD di Semarang 3 SD melakukan tawuran, meski telah sukses digagalkan, warga tetap kaget karena siswa SD ini ada yang membawa senjata tajam.

Berdasarkan kasus diatas dapat kita lihat bahwa kondisi peserta didik saat ini sangat memprihatinkan dan krisis moral. Mansur, (2011: 2-3) mengemukakan bahwa faktor yang menyebabkan runtuhnya potensi bangsa Indonesia pada saat ini salah satunya adalah faktor pendidikan. Tentunya kita ta bahwa pendidikan mekanisme institusionl yang akan mengakselerasi pembinaan karakter bangsa dan berfungsi sebagai sarana mengintegrasi reaktivasi karakter luhur budaya bangsa Indonesia dimasa lampau dan karakter inovatif serta kompetitif kedalam segenap sendi-sendi kehidupan bangsa dan program pemerintah. Zubaedi (2011:

56) mengemukakan bahwa pengaruh buruk secara nyata begitu melekat dalam budaya kita, sehingga hampir tidak mungkin menghindarkan anak-anak dari pengaruh tersebut. Kondisi inilah yang menjadi sebab mengapa membangun kecerdasan moral sangat penting dilakukan agar suara hati anak-anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, sehingga mereka dapat menangkis pengaruh buruk dari luar.

Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter pada saat ini

(25)

mengalami penurunan. Untuk itu perlu adanya upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Guru sebagai fasilitator diharapkan tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa tetapi guru juga harus mampu menanamkan nilai-nilai karakter melalui kegiatan-kegitan positif.

METODE PENULISAN

Metode penelitian dan/atau penulisan yang digunakan adalah kajian kepustakaan. Data-data yang dipergunakan dalam penyusunan karya tulis ini berasaldari berbagai literatur kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji. Beberapa jenis referensi utama yang digunakan adalah buku, peraturan perundangan-undangan, makalah seminar, prosiding, jurnal imiah edisi cetak maupun edisi online, hasil penelitian dan artikel ilmiah yang bersumber dari internet. Jenis data yang diperoleh variatif, bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Sumber data dan informasi didapatkan dari berbagai literatur dan disusun berdasarkan hasil studi dari informasi yang diperoleh. Penulisan diupayakan saling terkait antar satu sama lain dan sesuai dengan topik yang dikaji.

Data yang terkumpul diseleksi dan diurutkan sesuai dengan topik kajian.

Kemudian dilakukan penyusunan karya tulis berdasarkan data yang telah dipersiapkan secara logis dan sistematis.

Teknik analisis data bersifat deskriptif argumentatif. Simpulan didapatkan setelah merujuk kembali pada rumusan masalah, tujuan penulisan, serta pembahasan. Adapun kesimpulan ditarik dari uraian pokok bahasan karya tulis, serta didukung dengan saran praktis sebagai rekomendasi selanjutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN Degradasi Moral

Dewasa kini telah marak terjadinya degradasi moral di dunia pendidikan lebih halnya lagi yaitu terjadi

pada kalangan anak Sekolah Dasar, dikutip dari www.iNews.id seperti kasus pencabulan guru Sekolah Dasar di Surabaya terhadap 65 siswa, Jumat (23/2/2018). Selain itu kasus yang sama terjadi pencabulan anak di bawah umur yang diungkap Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim), Rabu 21 Februari 2018.

Abidin, (2012: 27) dalam Windi &

Nana (2016) mengatakan bahwa Kemendiknas mengakui bahwa dikalangan pelajar dan mahasiswa degradasi moral tidak kalah memprihatinkan. Perilaku menabrak etika, moral, dan hukum dari yang ringan sampai yang berat masih kerap diperlihatkan oleh pelajar dan mahasiswa. Kebiasaan mencontek pada saat ulangan atau ujian masih dilakukan.

Dikutip oleh Windi & Nana (2016:

399) menurut Soejono Soekanto norma- norma yang ada dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma yang lemah, yang sedang sampai yang terkuat ikatannya. Pada yang terakhir, umumnya anggota-anggota masyarakat pada tidak berani melanggarnya. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma- norma tersebut, secara sosiologis mengikat norma-norma tersebut, secara sosiologis dikenal adanya empat pengetian,yaitu: cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom).

Windi & Nana (2016: 399) seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Sehingga tugas penting yang harus dikuasai adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh masyarakat dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak.

(26)

Pendidikan Karakter

Imam (2012: 3) mengatakan bahwa karakter dapat diartikan sebagai bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak. Karakter dalam pengertian ini menandai dan memfokuskan pengaplikasian nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah-laku. Orang yang tidak mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan, misalnya tidak jujur, kejam, rakus, dan perilaku buruk lainnya dikatakan orang yang berkarakter buruk, tetapi orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Menurut Suyanto (2009: 1) dalam Zulnuraini (2012: 1) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona tanpa ketiga aspek ini pendidikan karakter tidak akan efektif.

Pendidikan karakter menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011: 31) adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta didik.

Guru membantu dalam membentuk watak peserta didik dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi, dan berbagai hal yang terkaitnya. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Prasetyo dan Rivasintha, 2011: 2).

Pada hakikatnya, pendidikan karakter merupakan suatu sistem pendidikan yang berupaya menanamkan nilai-nilai luhur kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan

untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, semua komponen sekolah harus dilibatkan, termasuk komponen- komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan (Imam, 2012: 4-5).

Kemendikbud (2016) mengatakan bahwa gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) selain merupakan kelanjutan dan kesinambungan dari Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa Tahun 2010 juga merupakan bagian integral Nawacita. Dalam hal ini butir 8 Nawacita: Revolusi Karakter Bangsa dan Gerakan Revolusi Mental dalam pendidikan yang hendak mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengadakan perubahan paradigma, yaitu perubahan pola pikir dan cara bertindak, dalam mengelola sekolah. Untuk itu, Gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan. Ada lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas Gerakan PPK. Kelima nilai utama karakter bangsa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Religius

Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religius ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu

(27)

dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Subnilai religius antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

2. Nasionalis

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Subnilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa,rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

3. Mandiri

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita- cita. Subnilai mandiri antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

4. Gotong Royong

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan.

Subnilai gotong royong antara lain

menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolongmenolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

5. Integritas

Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral). Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Subnilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggungjawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).

Kelima nilai utama karakter bukanlah nilai yang berdiri dan berkembang sendiri-sendiri melainkan nilai yang berinteraksi satu sama lain, yang berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Dari nilai utama manapun pendidikan karakter dimulai, individu dan sekolah perlu mengembangkan nilai-nilai utama lainnya baik secara kontekstual maupun universal. Nilai religius sebagai cerminan dari iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan secara utuh dalam bentuk ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing dan dalam bentuk kehidupan antarmanusia sebagai kelompok, masyarakat, maupun bangsa.

Dalam kehidupan sebagai masyarakat dan bangsa nilai-nilai religius dimaksud melandasi dan melebur di dalam nilai- nilai utama nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Demikian pula jika nilai utama nasionalis dipakai sebagai titik awal penanaman nilai-nilai karakter, nilai ini harus dikembangkan

(28)

berdasarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang tumbuh bersama nilai- nilai lainnya.

Bonus Demografi

Bonus demografi adalah peluang (window of opportunity) yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya. Di Indonesia fenomena ini terjadi karena proses transisi demografi yang berkembang sejak beberapa tahun lalu dipercepat oleh keberhasilan kebijakan kependudukan menurunkan tingkat fertilitas, meningkatkan kualitas kesehatan dan suksesnya program- program pembangunan sejak era Orde Baru hingga sekarang. Keberhasilan program (KB) selama berpuluh tahun sebelumnya telah mampu menggeser penduduk berusia di bawah 15 tahun (anak-anak dan remaja) yang awalnya besar di bagian bawah piramida penduduk Indonesia ke penduduk berusia lebih tua (produktif 15-64 tahun).

Struktur piramida yang menggembung di tengah semacam ini menguntungkan, karena dengan demikian beban ketergantungan atau dukungan ekonomi yang harus diberikan oleh penduduk usia produktif kepada penduduk usia anak- anak (di bawah 15 tahun) dan tua (di atas 64 tahun) menjadi lebih ringan.

Kemudian muncul parameter yang disebut rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu rasio yang menunjukkan perbandingan antara kelompok usia produktif dan non produktif. Rasio ini sekaligus menggambarkan berapa banyak orang usia non produktif yang hidupnya harus ditanggung oleh kelompok usia produktif. Semakin rendah angka rasio ketergantungan suatu negara, maka negara tersebut makin berpeluang mendapatkan bonus demografi. Menurut guru besar demografi Universitas Indonesia (Prof. Dr Sri Moertiningsih

Adioetomo), Indonesia sudah mendapat bonus demografi mulai 2010 dan akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2020 hingga tahun 2030. Berdasarkan data BPS hasil sensus penduduk tahun 2010 angka rasio ketergantungan kita adalah 51,3% (lihat grafik). Bonus demografi tertinggi biasanya didapatkan angka ketergantungan berada di rentang antara 40-50%, yang berarti bahwa 100 orang usia produktif menanggung 40-50 orang usia tidak produktif. (Munawar, 2015:

124-125)

Gambar 1. Grafik bonus demografi (Sumber : Yuswoady) Budaya KECE

Kata “Kece” mungkin sudah banyak kita dengar karena itu merupakan bahasa gaul anak muda. Di kalangan remaja, “kece” dipahami sebagai bentuk tampilan anak muda yang ganteng/cantik, keren dan stylist. Remaja yang merasa dirinya paling ganteng/cantik dan paling keren akan menyebut dirinya sebagai orang “kece”.

Akan tetapi, dibalik beberapa persepsi negatif terhadap kata “kece”, sebenarnya kata “kece” memiliki makna filosofis

Referensi

Dokumen terkait

Sebanyak kurang lebih 39 % pasien dengan demam reumatik akut bisa terjadi kelainan pada jantung mulai dari gangguan katup, gagal jantung, perikarditis (radang

Menurut Kabag Umum Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Sabang, Abi Roib bahwa metode penangkapan ikan pada setiap Lhok berbeda-beda, hal ini dapat dilihat dari

Berdasarkan penggunaan minyak atsiri kayu manis sebagai antijerawat, maka perlu dilakukan penelitian terkait pengaruh kombinasi cera alba dan vaselinum album pada sediaan

Di dalam dunia ini, orang yang melakukan dosa besar itu bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi fasiq , tidak boleh disebut mukmin, walaupun dalam dirinya ada iman,

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan karakteristik responden dan lingkungan dengan perilaku petani dalam pemanfaatan cyber extension (Hp dan internet) untuk

 Nyeri dada yang terjadi berkaitan dengan adanya iritasi pada pleura yang berhubungan dengan penyebab efusi pleura, di mana efusi transudat

c.. Jadi dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa renovasi berpengaruh terhadap wisatawan sehingga hipotesis awal yang menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara

Dari segi perbandingan gred A dan gred C bagi kursus bahasa Mandarin Asas l sebelum dan selepas menggunakan e-Kosa Kata di empat buah fakulti yang dikaji, terdapat