HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Profil Protein Hasil SDS-PAGE
Analisa SDS-PAGE dilakukan untuk mengestimasi bobot molekul protein
sampel yang didapat dari hasil isolasi B. thuringiensis pada tanah di kabupaten
Tangerang. Kemudian mencocokkan hasil bobot molekul yang didapat dengan
sumber referensi untuk memprediksi jenis protein toksin yang didapat.
Adapun hasil-hasil analisa SDS-PAGE yang dilakukan pada setiap sampel
disajikan pada gambar berikut :
M 1 2 3 4 5 6 7
Gambar 4.7. Hasil analisa SDS-PAGE pada sampel protein 1 (Kos 6), 2 (Kem 23), 3 (Par 17), 4 (Kos 9), 5 (Kos 7), 6 (Par 8), dan 7 (Pm 14). 21 125 10 56,2 35,8 2 Cry 25 Cry 35 Cyt A Cry 15 Cry 23 Kda
40 M 1 2 3 4 5 6 7
Gambar 4.8. Hasil analisa SDS PAGE pada sampel protein 1 (Kem 6), 2 (Par 18), 3 (Par 11), 4 (Kos 16), 5 (Par 9), 6 (Pm 19), dan 7 (Pm 10).
M 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Gambar 4.9. Hasil analisa SDS PAGE pada sampel protein 1 (Cdk 3), 2 (Kem 22), 3 (Ch 7), 4 (Cdk 4), 5 (Ch 3), 6 (Pm 14), 7 (Cdk 14), 8 (Kem 3), dan 9 (Cdk 9) 210 125 101 56, 35,8 2 9 210 125 10 56, 2 35,8 Cry 35 Cry 46 (PS-2) Cyt A Cry 45 (PS-4) Cry 41 (PS-3) Cry 23 Cyt A Kda Kda
41 M 1 2 3 4 5 6
Gambar 4.10. Hasil analisa SDS PAGE pada sampel protein 1 (Pm 6), 2 (Kos 15), 3 (Kem 24), 4 (Kem7), 5 (Par 16), dan 6 (Kem 5).
M 1 2 3 4
Gambar 4.11. Hasil analisa SDS PAGE pada sampel protein 1 (Pm 23), 2 (Kem 10), 3 (Cdk 9), dan 4 (Par 18).
Hasil SDS PAGE untuk ke 30 isolat, diinterpretasikan melalui persamaan
regresi dengan menggunakan microsoft excel, seperti terlihat pada lampiran 8 125 210 101 56, 35,8 2 Cry 45 (PS-4) Cry 30 125 210 101 56, 2 35,8 Cry 45 (PS-4) Kda Kda
42 hingga 12. Hasil prediksi protein toksin dari masing-masing protein sampel
berdasarkan referensi seperti terlihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Bobot molekul protein sampel dan prediksi protein toksinnya. Sampel Bobot Molekul
(kDa)
Prediksi protein toksin Sumber
Cdk 3 29 Cry 23 Arrieta et al., 2004
Cdk 4 29 Cry 23 Arrieta et al., 2004
Cdk 9 29 Cry 23 Arrieta et al., 2004
Cdk 14 28 Cyt A Hofte dan Whiteley, 1989
Ch 3 27 Cyt A Balaraman, 2005
Ch 7 27 Cyt A Balaraman, 2005
Kem 3 49 - -
Kem 5 35 Cry 30 Zeigler, 1999
Kem 6 32 - -
Kem 7 31 Cry 45 (PS-4) Kitada et al., 2005
Kem 10 38 - -
Kem 22 88 Cry 41 (PS-3) Kitada et al., 2005
Kem 23 100 Cry 25 Zeigler, 1999
Kem 24 45 - -
Kos 6 44 Cry 35 Ernest et al., 2005
Kos 7 29 Cry 23 Arrieta et al., 2004
Kos 9 34 Cry 15
Brown dan Whiteley, 1992
Kos 15 30 - -
Kos 16 28 Cyt A Hofte dan Whiteley, 1989
Par 8 56 - -
Par 9 31 Cry 45 (PS-4) Kitada et al., 2005
Par 11 33 Cry 46 (PS-2)
Hayakawa et. al., 2007
Par 16 35 Cry 30 Zeigler, 1999
Par 17 28 Cyt A Hofte dan Whiteley, 1989
Par 18 44 Cry 35 Ernest et al., 2005
Pm 6 169 - -
Pm 10 199 - -
Pm 14 39 - -
Pm 19 196 - -
Pm 23 31 Cry 45 (PS-4) Kitada et al., 2005
Pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa terdapat 20 sampel protein toksin yang
43 sampel protein lainnya belum dapat diprediksi jenis protein toksinnya. Protein Cyt
yang diprediksi didapat hanya 1 tipe yang terdiri dari 5 sampel protein yaitu Cyt
A. Terdapat 5 tipe protein toksin yang diprediksi bersifat insektisidal atau lebih
dikenal dengan ICP (Insecticidal Crystal Protein) yang terdiri dari 10 sampel
protein, antara lain Cry 15, Cry 23, Cry 25, Cry 30, dan Cry 35. Hal ini
didasarkan pada penelitian sebelumnya dimana, protein Cry 15 memiliki sifat
toksin terhadap serangga ordo lepidoptera (Brown dan Whiteley, 1992), protein
Cry 23 memiliki sifat toksin terhadap serangga ordo diptera (Arrieta et al., 2004),
protein Cry 25 memiliki sifat toksin terhadap serangga ordo coleoptera, protein
Cry 30 memiliki sifat toksin terhadap serangga ordo dipteral (Zeigler,1999), dan
protein Cry 35 memiliki sifat toksin terhadap serangga ordo diptera (Ernest et al.,
2005).
Mekanisme dari protein Cry yang bersifat insektisidal, yaitu dengan
termakan langsung oleh serangga. Protein Cry tersebut menjadi toksin setelah
mengalami proteolisis, kemudian menyebabkan gangguan osmotik sehingga sel
membengkak dan pecah lalu menyebabkan kematian pada serangga (Hofte dan
44 Gambar 4.12. Mekanisme kerja ICP (Jusuf, 2009)
Parasporin adalah protein Cry yang memiliki kemampuan sitosidal
terhadap sel kanker. Berdasarkan hasil penelitian hingga tahun 2008, telah
diketahui ada empat jenis parasporin, yaitu PS-1 (Cry 31), PS-2 (Cry 46), PS-3
(Cry41) dan PS-4 (Cry 45) (Jusuf, 2010). Berdasarkan tabel 4.3, juga terdapat 3
tipe protein toksin yang diprediksi bersifat sitosidal atau disebut parasporin (PS)
dari 5 sampel protein, antara lain PS-2 (Cry 46), PS-3 (Cry41), dan PS-4 (Cry 45).
Mekanisme dari PS-1 yaitu dengan meningkatkan dengan cepat kepekatan
ion bebas Ca2+ intraseluler dengan tanpa perubahan permeabilitas membran
plasma dan sel-sel kanker dibunuh melalui apoptosis (Kitada et al., 2005). Pada
PS-2 proses sitosidal terjadi dengan meningkatkan permeabilitas sel kanker
(Kitada et al., 2005). Sedangkan untuk PS-3 dan PS-4 hingga saat ini belum
diketahui mekanisme kerjanya terhadap sel kanker. Berikut merupakan
45 Gambar 4.13. Mekanisme kerja PS-2 (Jusuf, 2010)
Protein Cyt A yang dihasilkan oleh B.thuringiensis memiliki bobot
molekul 27 kDa (Balaraman et al., 2005) dan 28 kDa (Hofte dan Whiteley,
1989). Sampel protein Ch 3 dan Ch 7 memiliki bobot molekul sebesar 27 kDa,
serta sampel protein toksin Par 17, Kos 16, dan Cdk 14 memiliki bobot molekul
sebesar 28 kDa. Sehingga diprediksi sampel protein Ch 3, Ch 7, Par 17, Kos 16
dan Cdk 14 merupakan protein Cyt A.
Pada penelitian yang dilakukan Arrieta et al. (2004), protein toksin yang
dihasilkan oleh B.thuringiensis dengan bobot molekul 29 kDa digolongkan
sebagai protein Cry 23. Sampel protein Kos 7, Cdk 3, Cdk, 4, dan Cdk 9 memiliki
bobot molekul sebesar 29 kDa, sehingga diprediksi merupakan protein Cry 23.
Sampel protein Kos 9 dengan bobot molekul sebesar 34 kDa diprediksi
sebagai protein Cry 15, hal ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan Brown
dan Whiteley (1992) pada B.thuringiensis subs thompsoni bahwa protein Cry
dengan bobot molekul 34 kDa digolongkan sebagai protein Cry 15.
Zeigler (1999) menyatakan dalam Bacillus Genetic Stock Center of
46
bobot molekul 35 kDa digolongkan sebagai protein Cry 30 dan protein Cry dengan bobot molekul 100 kDa digolongkan sebagai Cry 25. Protein sampel Par 16 dan Kem 5 memiliki bobot molekul sebesar 35 kDa sehingga diprediksi merupakan protein Cry 30, sedangkan sampel protein Kem 23 memiliki bobot
molekul 100 kDa diprediksi merupakan protein Cry 25. Ernest et al. (2005),
melakukan karakterisasi terhadap protein Cry 35 dan didapat bobot molekul sebesar 44 kDa. Sampel protein Par 18 dan Kos 6 memiliki bobot molekul sebesar 44 kDa sehingga diprediksi merupakan protein Cry 35.
Hayakawa et al. (2007) menggolongkan protein kristal dengan bobot
molekul ± 33,107 kDa merupakan PS 2 (Cry 46) yang diperoleh dari galur
B.thuringiensis TK-E6. Sampel protein Par 11 memiliki bobot molekul 33 kDa,
sehingga diprediksi sebagai PS 2 (Cry 46). Sampel protein Kem 22 dengan bobot
molekul 88 kDa diprediksi sebagai PS 3 (Cry 41), sedangkan Pm 23, Par 9 dan
Kem 7 dengan bobot molekul 31 kDa diprediksi sebagai PS 4 (Cry 45). Hal ini
didasarkan pada penelitian Kitada et al. (2005) yang mengidentifikasi parasporin
dan sel kanker sasarannya, parasporin dengan bobot molekul 88 kDa digolongkan
sebagai PS 3 (Cry 41) dan parasporin dengan bobot molekul 31 kDa digolongkan
sebagai PS 4 (Cry45).
Berdasarkan hasil-hasil SDS PAGE, terlihat bahwa dari beberapa isolat
yang menghasilkan protein toksin, memiliki karakteristik bobot molekul yang
berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena B.thuringiensis dapat memproduksi satu
atau lebih protein toksin selama proses sporulasi (Hofte dan Whiteley, 1989).
Namun untuk mengkonfirmasi hal tersebut perlu dilakukan pengujian in vitro (bio
47