• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2.1. Struktur Protein

Protein tanpa memandang fungsi dan aktifitas biologisnya dibangun oleh

susunan dasar yang sama yaitu 20 asam amino yang molekulnya sendiri tidak

memiliki aktivitas biologis. Masing-masing asam amino dalam suatu protein

terintegrasi melalui ikatan peptida yang tersusun secara kovalen membentuk

struktur yang beragam bergantung dari proses pembentukan dan fungsi dari

9 Struktur protein terdiri dari struktur primer, sekunder, tersier, dan

kuartener. Struktur primer menunjukkan jumlah, jenis, dan urutan asam amino

dalam molekul protein. Struktur primer protein juga menunjukkan ikatan peptida

yang urutannya diketahui (Poedjiadi, 1994).

R1 R2 COO C COO H3N C H3N H H H2O H R1 R2 COO C C N C H3N O H H + + + +

-Gambar 2.3. Struktur primer protein (Poedjiadi, 1994).

Struktur sekunder protein adalah struktur protein yang dihasilkan oleh

adanya interaksi ikatan hidrogen. Struktur sekunder terdiri dari α- heliks (spiral)

dan β- sheets (lembaran berlipat). Terdapat dua bentuk struktur β- sheets, yaitu

paralel dan anti paralel. Bentuk paralel terjadi apabila rantai polipeptida yang

berikatan melalui ikatan hidrogen itu sejajar dan searah, sedangkan bentuk anti

paralel terjadi apabila rantai polipeptida berikatan dalam posisi sejajar tapi

10 α-heliks

Β-sheets (paralel) β-sheets (anti paralel)

Gambar 2.4. Struktur sekunder protein (Poedjiadi, 1994)

Struktur tersier menunjukkan kecendrungan polipeptida membentuk

lipatan atau gulungan, sehingga membentuk struktur yang lebih kompleks.

Struktur ini dimantapkan oleh adanya beberapa ikatan antara gugus R pada

molekul asam amino yang membentuk protein. Beberapa jenis ikatan tersebut

11 rantai samping non polar, (d) interaksi dipol-dipol, dan (e) ikatan disulfida yaitu

suatu ikatan kovalen antara residu sistein (Poedjiadi, 1994).

Gambar 2.5. Beberapa jenis ikatan yang terdapat pada polipeptida (Poedjiadi, 1994)

Struktur kuartener menunjukkan adanya interaksi intermolekuler antar

unit-unit protein. Sebagaian besar protein globular terdiri atas beberapa rantai

polipeptida yang terpisah. Rantai polipeptida ini saling berinteraksi membentuk

persekutuan (Poerdjiadi, 1994). Gambar 2.6 menunjukkan suatu model struktur

kuartener.

12 2.2.2. Klasifikasi protein

Golongan protein berdasarkan fungsi biologisnya, antara lain :

a. Biokatalisator/ enzim dari hampir semua reaksi yang terjadi pada makhluk

hidup.

b. Protein pengangkut yaitu hemoglobin (Hb) yang mengikat dan membawa

oksigen ke dalam jaringan peri-peri dan lipoprotein yang membawa lipid

dari hati ke organ lain.

c. Antibodi yaitu immunoglobin yang berperan dalam sistem kekebalan

tubuh.

d. Protein pengatur yaitu hormon insulin yang berperan mengatur

keseimbangan kadar glukosa dalam darah.

e. Protein Struktural (keratin dan kolagen).

f. Protein kontraktil (myosin).

g. Protein nutrient yaitu ovalbumin dan kasein.

h. Protein Toksin, pada penelitian ini protein Cry termasuk protein toksin

yang dihasilkan oleh B.thuringiensis untuk mempertahankan hidupnya.

Golongan protein berdasarkan struktur, antara lain :

a. Protein fiber/ serat merupakan protein yang tidak larut dalam air, fleksibel

dan lentur.

b. Protein globular merupakan protein yang larut dalam air dan tidak stabil

13 2.2.3. Metode Identifikasi Protein

Identifikasi protein dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.

Secara kualitatif, yaitu melalui reaksi xantoprotein, Hopkins-Cole, reaksi Millon,

reaksi natriunnitroprusida, dan reaksi Sakaguchi. Sedangkan secara kuantitatif,

yaitu metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode biuret dan

metode spetofotometer UV (Apriyanto, 1989). Pada penelitian ini metode yang

digunakan dalam mengidentifikasi protein adalah metode Lowry.

Metode lowry dikembangkan pada tahun 1951 dengan menggunakan

reagen pendetektor Folin-Ciocalteu. Reagen ini biasa digunakan untuk mendeteksi

gugus-gugus fenolik. Dalam analisa protein dengan menggunakan reagen

Folin-Ciocalteu dapat mendeteksi residu tirosin yang mengandung gugus fenolik

melalui reaksi reduksi oksidasi dimana gugus fenolik tirosin akan mereduksi

gugus fosfotungstat dan fosfomolibdat yang terdapat pada reagen tersebut menjadi

tungsten dan molibden yang berwarna biru. Intensitas warna kompleks sebanding

dengan kandungan protein dalam sampel yang dianalisa (Apriyanto et al., 1989).

Hasil reduksi ini dapat dianalisa lebih lanjut dengan melihat puncak absorbsi yang

lebar pada daerah panjang gelombang sinar tampak (600-800 nm).

Sensitifitas metode ini mengalami perbaikan yang cukup signifikan

apabila digabung dengan metode biuret atau penambahan ion Cu, dimana

kompleks Cu-protein yang dihasilkan reagen biuret akan menyebabkan reduksi

fosfotungstat dan fosfomolibdat dalam reagen Folin-Ciocalteu, sementara

residu-residu tirosin dan triptofan mereduksi sisanya.

Dalam analisa kadar protein dengan metode Lowry, diperlukan protein

14 rentang konsentrasi tertentu dimana konsentrasi sampel protein berada didalam

rentang tersebut (Hermanto, 2008).

2.3. Protein Toksin pada Bacillus thuringiensis 2.3.1. ICP (Insecticidal Crystal Protein)

ICP (Insecticidal Crystal Protein) merupakan protein Cry (δ-endotoksin)

yang dihasilkan Bacillus thuringiensis yang bersifat anti serangga. Tiap-tiap

protein Cry memiliki toksisitas yang spesifik dengan sasaran serangga yang

spesifik dan dapat juga memiliki beberapa serangga sasaran (Zeigler, 1999).

Mekanisme kerja dari ICP adalah dengan termakan langsung oleh larva

pada saat memakan daun atau bagian tumbuhan lain yang mengandung protein

kristal. Kemudian protoksin tersebut masuk ke dalam usus dan terlarut oleh asam

serta enzim protease sehingga menjadi toksin. Toksin ini secara spesifik akan

menempel pada membran-membran sel di dalam usus serangga tersebut. Dalam

waktu 1-3 jam sel-sel akan mengalami gangguan osmotik dikarenakan toksin

tersebut meningkatkan derajat permeabilitas dinding sel, sehingga sel akan

menggembung lalu membentuk lubang-lubang pada membran dan pecah (Dini,

2005).

Perubahan biokimia yang tidak stabil tersebut akhirnya menyebabkan

serangga lemas, aktivitas makannya menurun dan tidak merespon untuk

pertumbuhan selanjutnya hingga terjadi perubahan secara fisik pada warna

tubuhnya dimulai warna kecoklatan pada bagian anterior sampai pada bagian

15 Struktur protein δ-endotoksin memiliki tiga daerah (domain) aktif rantai

polipeptida berdasarkan perbedaan struktur dan fungsi yang mengakibatkan

kematian serangga (gambar 7 ), yaitu domain I merupakan 7 gabungan rantai helix

(disimpulkan α = alpa) dapat menyebabkan pembentukan lubang-lubang pada

usus serangga dengan membentuk “ion channel”, domain II membentuk untaian

polipeptida yang panjang (disimpulkan β = beta) dan berikatan dengan ujung α-7

(domain I) berfungsi sebagai pengenal reseptor sel-sel epitel serangga. Domain III

banyak mengandung arginin dan diperkirakan berperan dalam menstabilkan “ion

channel”.

Gambar 2.7. Struktur tiga dimensi protein Cry 2Ab10 (Lin et al., 2007)

Umumnya protein Cry dengan bentuk kubus toksik terhadap jenis

serangga ordo Lepidoptera dan Diptera. Sedangkan protein Cry dengan bentuk

bipiramidal toksik terhadap jenis serangga ordo Lepidoptera dan yang berbentuk Domain III

Domain I

16 oval hanya toksik pada jenis serangga ordo Diptera (Dini, 2005). Bobot dari

protein Cry juga menentukan sifat toksik pada serangga tertentu seperti terlihat

pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1.Beberapa jenis-jenis protein Cry dari Bacillus thuringiensis berdasarkan ukuran dan serangga sasarannya.

Keterangan: Col = Coleoptera; Dip = Diptera; Lep = Lepidoptera Sumber: Hofte dan Whiteley, 1989 dan Feldman et al., 1995.

17 2.3.2. Parasporin

Parasporin adalah protein Cry yang memiliki kemampuan sitosidal

terhadap sel kanker. Berdasarkan hasil penelitian hingga tahun 2008, telah

diketahui ada empat jenis parasporin, yaitu PS-1, PS-2, PS-3 dan PS-4. Pada tahun

2005, Hiromi juga menemukan protein kristal 29 kDa yang disebut protein p-29.

Aktivitas sitosidal parasporin terhadap sel kanker hanya terjadi bila protein

tersebut didegradasi oleh enzim-enzim protease menjadi satu molekul protein

kecil (Jusuf, 2010).

PS-1 merupakan protein Cry Aa/b/c berbentuk spherical dengan struktur 3

domain, bukan toksin pembentukan pori-pori membran. Agriculture and

Agri-food Canada (AAFC) telah mengisolasi dan karakterisasi satu protein Cry31Aa2

dari galur B. thuringiensis M15 yang menunjukkan aktivitas sitosidal in vitro

khususnya terhadap sel HepG2 (human hepatocyte cancer cells) dan sel-sel jurkat

(leukemic T cells). Mizuki et. al. (2000) mengisolasi protein dari B.thuringiensis

nomor isolat 84-HS-1-11 asal Hiroshima berukuran ± 81.045 kDa yang tersusun

dari 723 asam amino, disandi oleh satu gen berukuran 2169 bp. Protein ini dikenal

sebagai Cry31Aa2. Sekuen asam amino tediri dari 5 conserved block seperti

biasanya yang terdapat protein Cry pada umumnya, tetapi homolginya dengan

protein Cry maupun Cyt sangat rendah (< 25%).

Aktivitas sitosidal terjadi apabila protein telah didegradasi oleh protease

menjadi molekul yang kecil berukuran 40 sampai 60 kDa. Tripsin dan proteinase

K dapat mengaktifkan parasporin, tetapi chymotrypsin tidak dapat mengaktifkan,

Aktivitas sitosidal sangat kuat terhadap MOLT-4 (human leukemic T cells) dan

18 thuringiensis var. dakota A1547 yang diisolasi oleh Yamagiwa et al. (2002) juga

gen dari protein yang telah dimurnikan diklon pada sel lain dan menghasilkan

protein rekombinan yang memiliki aktivitas sitosidal yang kuat terhadap sel-sel

kanker hati dan usus tanpa efek terhadap sel normalnya.

Mekanisme sitosidal dari protein ini adalah meningkatkan dengan cepat

kepekatan ion bebas Ca2+ intraseluler dengan tanpa perubahan permeabilitas

membran plasma dan sel-sel kanker dibunuh melalui apoptosis. pada sel HeLa

yang ditreatment dengan parasporin-1, dapat diobservasi adanya degradasi

pro-caspase-3 dan poly (ADP-ribose) polymerase. Hal ini ditunjukkan oleh adanya

penurunan sintesis protein selular dan DNA pada sel HeLa. Tingkat kepekatan ion

bebas Ca2+ naik tajam 1-3 menit setelah pemberian PS-1, dan hasil uji

menunjukkan bahwa derajat sensitivitas sel berbanding lurus dengan besarnya

peningkatan kepekatan Ca2+ intraseluler. Jadi, PS-1 mengaktifkan apoptotic

signaling pada sel-sel kanker yang ditreatment sebagai akibat meningkatnya level

Ca2+ dan influx Ca 2+ ini merupakan langkah awal dalam jalur proses toksisistas

PS-1. Bentuk toksin hasil pemecahan oleh protease adalah 15 dan 56 kDa,

sementara bentuk reseptor pada sel sasaran belum diketahui (Kitada et al., 2005).

PS-2 adalah protein Cry46Aa atau disebut juga sebagai Mtx-like protein

dengan bentuk tidak beraturan yang ditunjukkan oleh protein PS2Aa1. Proses

sitosidal terjadi dengan meningkatkan permeabilitas sel kanker. Tahap awalnya,

peningkatan pada reseptor putative (GPI-anchored proteins) yang berada pada

lipid rafts (detergents resistans membrane) yang diikuti dengan oligomerisasi dan

pembentukan pori pada membran plasma dengan efek sitolisis (Kitada et al.,

19 Protein kristal yang tergolong PS-2 diperoleh dari galur B. thuringiensis

TK-E6 yang dikenal sebagai PS2Ab adalah polipeptida dengan 304 asam amino

dan berat molekul diprediksi sekitar 33.107 kDa (Hayakawa et al., 2007). Sekuen

asam amino PS2Ab menunjukkan homologi signifikan (84% identitas). PS2Aa

yang sebelumnya ditemukan terdapat dalam galur B. thuringiensis var. dakota

A1547. Protein Kristal PS2Ab diproses dengan proteinase K menghasilkan

protein aktif berukuran 29 kDa yang memiliki sitotoksisistas kuat terhadap sel-sel

MOLT-4 dan Jurkat dengan nilai EC50 masing-masing 0,545 dan 0,745 ng/mL.

Toksisitas PS2Ab ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan PS2Aa setelah beberapa

kali pengujian (Jusuf, 2010). Spektrum sitotoksisitas dari parasporin terhadap

beberapa tipe kanker dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Spektrum sitotoksisitas empat macam parasporin terhadap berbagai tipe sel kanker dan normal ( Ohba et al., 2009 ).

Keterangan : Tingkat toksisitas bernilai EC50 : sangat tinggi (++++), tinggi, (+++), sedang (++), rendah ( +), sangat rendah (-) dan NT ( tidak di tes/ Not Test )

20 Protein kristal PS-3 atau Cry41Aa/b berbentuk bipiramidal berukuran 88

kDa dengan struktur tiga domain. setelah pemecahan protease menjadi aktif pada

toksik dengan ukuran 64 kDa. Mekanisme penghambatan tumbuh sel kanker

belum diungkap dan reseptor yang mengenali protein ini pada membran sel-sel

kanker belum diketahui (Kitada et al., 2005).

PS-4 digolongkan dalam dua macam, yaitu Cry45Aa yang disebut epsilon

toxin like dan Cry42Aa yang merupakan struktur tiga domain, berukuran 31 kDa

dan bentuk aktif pada ukuran 27 kDa, dimana bentuk protein reseptor pada sel

target belum diketahui (Kitada et al., 2005). Didapatkan pada galur B.

thuringiensis var. shandongiensis strain 89-T-34-22 yang dikenal sebagai

Cry45Aa (Okumura et al., 2004).

Sekuen asam amino PS-4 yang ditelusurkan berdasarkan sekuen gen

penyandinya memiliki homologi sangat rendah dibandingkan dengan umumnya

protein Cry maupun dengan ketiga jenis parasporin tersebut di atas. Pelarutan

dengan alkali dan proteinase K menghasilkan protein dengan aktivitas sitotoksik

kuat terhadap MOLT-4 dan sitotoksik lemah terhadap sel-sel T normal, tetapi efek

terhadap sel-sel HeLa tidak terlihat. Uemori et al. (2008) mengidentifikasikan dua

gen protein parasporin masing-masing gen ps1Aa3 dengan panjang 2.619 bp

menyandi protein 81 kDa (PS1Aa3) dan gen ps1Ab1 dengan panjang 2.178 bp

menyandi protein 82 kDa (PS1Ab1) dari B. thuringiensis strain B0195. Sekuen

asam amino PS1Aa3 ternyata 100% identik dengan protein referensi PS1Aa1,

sedang PS1Ab1 adalah 86,4% identik dengan PS1Aa1. Protein rekombinan

21 proteolitik mampu menginduksi sitolisis sel HeLa, tetapi tidak berpengaruh

terhadap sel non-kanker UtSMC (human uterine smoot muxcle cells)

2.4. SDS PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrilamid Gel Electroforesis) 2.4.1. Prinsip Dasar

Elektroforesis merupakan proses bergeraknya molekul bermuatan pada

suatu medan listrik. Kecepatan molekul-molekul yang bergerak dalam medan

listrik bergantung pada muatan, bentuk dan ukuran. Dengan demikian

elektroforesis dapat digunakan untuk separasi makromolekuler (seperti protein

dan asam nukleat). Posisi molekul yang tersparasi pada gel dapat dideteksi dengan

pewarnaan autoradiografi, ataupun dilakukan dengan densitometer (Ikmalia,

2008).

Salah satu metode elektroforesis yang umumnya digunakan untuk analisa

campuran protein secara kualitatif adalah SDS‐PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate

Polyacrilamid Gel Electroforesis). Prinsip penggunaan metode ini adalah

pembentukan polimer dari komponen akrilamida dengan ikatan silamg

N.N` bisakrilamida. Kisi-kisi tersebut berfungsi sebagai saringan

molekul sehingga konsentrasi atau rasio akrilamida dengan bisakrilamida dapat

diatur untuk mengoptimalkan migrasi komponen protein (Wilson dan Walker,

2000).

Elektroforesis gel SDS dilakukan pada pH netral dengan adanya SDS dan

β-merkaptoetanol. Dengan adanya SDS, protein rantai ganda akan terdisosiasi menjadi rantai-rantai individual dan terdenaturasi oleh detergen ini, sehingga

Dokumen terkait