BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
B. Profil Pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu
Pulau Jampea (biasa disebut juga pulau Tanah Jampea) adalah pulau yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Pulau ini berada di bagian selatan Pulau Selayar tepatnya di antara Pulau Kayuadi Kecamatan Takabonerate dan Pulau Kalao Toa Kecamatan Taka Bonerate. Di pulau ini terdapat 2 Kecamatan antara lain Kecamatan Pasimasunggu dan Kecamatan Pasimasunggu Timur serta 10 Desa antara
lain Desa Bontosaile, Desa Maminasa, Desa Labuang Pamajang, Desa Kembang Ragi, Desa Lembang Baji, Desa Maasungke, Desa Tanamalala, Desa Bontomalling, Desa Bontobulaeng, dan Desa Bontobaru.
Pulau Jampea merupakan pulau terbesar kedua di Kepulauan Selayar setelah Pulau Selayar. Penduduk di Pulau Jampea rata-rata menguasai 3 bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Bugis dan bahasa Selayar. Mata pencaharian penduduk di Pulau sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Menurut hitung-hitungan waktu tempuh jalur laut dengan menggunakan kapal feri dari Pelabuhan penyebrangan Pattumbukang di desa Lantibongan, Kecamatan Bontosikuyu ke Pelabuhan penyebrangan Jampea di Desa Kembang Ragi, Kecamatan Pasimasunggu memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam sementara dari desa Lantibongan ke kota Benteng ditempuh sekitar 1 sampai 2 jam perjalanan darat. Berarti lama perjalanan dari ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar ke Pulau Jampea sekitar 5 sampai 6 jam perjalanan.
2. Letak Geografis
Wilayah penelitian ini mencakup dua kecamatan yaitu Kecamatan Pasimasunggu yang terletak diantara 120030’-120030’20” BT dan 600’-7030’ LS dan Kecamatan Pasimasunggu Timur yang terletak diantara 120030’12”-120030’24” BT dan 6045’-7001’ LS dengan luas wilayah 15.937,20 Ha atau 159,37 km2 yang berada di Kabupaten Kepulauan Selayar dengan batas-batas sebagai berikut :
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Selayar
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores
3) Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Flores
4) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pasimarannu
PETA PULAU JAMPEA
Gambar 4. 2 Peta Pulau Jampea
Pasimasunggu adalah kecamatan di kabupaten kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Kecamatan Pasimasunggu terletak pada koordinat 7◦4’12.83”LS,120◦38’37.02”BT. Kecamatan ini terbagi menjadi 6 Desa yaitu Desa Massungke, Desa Kembang Ragi, Desa Labuang Pamajang, Desa Tanamalala, Desa Bontosaile dan Desa Ma’minasa dengan batas-batas sebagai berikut :
1) Sebelah Utara Kecamatan Takabonerate 2) Sebelah Selatan Kecamatan Pasimarannu
3) Sebelah Timur Kecamatan Pasimasunggu Timur 4) Sebelah Barat Laut Flores
Kecamatan Pasimasunggu Timur merupakan kecamatan yang terdapat di Pulau Jampea, jarak Pulau Jampea dari kota Benteng atau Daratan sekitar 149 km² atau sekitar 4 sampai 5 jam perjalanan laut atau naik kapal feri.
PETA KECAMATAN PASIMASUNGGU
Gambar 4. 3 Peta Kecamatan Pasimasunggu
3. Keadaan Penduduk
Penduduk kecamatan di pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu terdiri dari berbagai suku yang ada di Sulawesi, dimana mayoritas suku Selayar, selain itu sebagian penduduk setempat juga terdapat suku lain sebagai pendatang dari berbagai daerah seperti : Suku bugis, Suku Bajo, Suku Makassar dan lain-lain.
Keadaan Monografi atau data dinamis kependudukan Kecamatan Pasimasunggu, sesuai dengan data terakhir yang dicatat kantor camat Pasimasunggu yaitu berpenduduk sebanyak kurang lebih 7.397 jiwa terdiri dari laki-laki 3.811 jiwa, perempuan 4.126 jiwa dan Kepala Keluarga 2.222 KK. Penduduk Kecamatan Pasimasunggu pada umumnya bermata pencaharian di bidang pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan dengan produksi utama di bidang pertanian adalah padi, di bidang perikanan adalah ikan, di bidang peternakan adalah kambing, kerbau, sapi, dan ungags, serta di bidang perkebunan adalah kelapa, cokelat, dan jagung, tetapi dominan masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan.
53 BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Proses penelitian ini bermula dari ketertarikan penulis melihat kondisi sosial dan budaya masyarakat pesisir. Permasalahan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk dan strategi kehidupan sosial masyarakat pesisir Pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu, dan hubungan mata pencaharian masyarakat pesisir dengan kebiasaan atau tradisi yang dilakukan masyarakatnya. Oleh karena itu pada siang harinya, peneliti melakukan observasi terlebih dahulu dengan mengunjungi rumah para nelayan dan meminta izin kepada mereka untuk melakukan wawancara.
Adapun hasil temuan peneliti di lokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui wawancara, ditemukan beragam informasi sebagai bahan untuk dianalisis menjadi hasil penelitian. Adapun hasil wawancara yang telah dilakukan sendiri oleh peneliti dari 8 (delapan) informan yang telah diwawancarai dan menyajikan data-data yang telah ditetapkan.
Informan yang ditampilkan adalah informan inti dan informan tambahan yang dapat memberikan informasi untuk peneliti dalam menyusun jawaban dari pertanyaan penelitian.
1. Bentuk Dan Strategi Kehidupan Sosial Masyarakat Pesisir Pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu Kab. Kepulauan Selayar.
Masyarakat Pesisir merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah pesisir, saling membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas dan terkait dengan ketergantungan pemanfaatan sumber daya dan lingkungan pesisir. Kehidupan masyarakat pesisir berbeda dengan masyarakat lainnya, perbedaan yang dimaksud disini dimulai dari kondisi sosial dan kondisi ekonomi masyarakatnya.
Bentuk kehidupan setiap masyarakat itu berbeda-beda begitupun dengan kehidupan masyarakat pesisir di Pulau Jampea. Masyarakat pesisir termasuk ke dalam masyarakat yang masih terbelakang dan berada pada posisi marginal. Kehidupan masyarakatnya masih bersifat sedehana.
Berdasarkan hasil temuan peneliti di lokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui observasi ditemukan beragam informasi.
Adapun observasi yang dilakukan sendiri oleh peneliti tepatnya di lokasi penelitian, maka telah ditemukan bahwa masyarakat pesisir di pulau jampea memiliki mata pencaharian beragam yaitu sebagai pelaut, petani, pegawai dan juga pengusaha. (observasi 08 Juni 2021).
Adapun hasil temuan peneliti di lokasi penelitian terkait dengan tujuan penelitian melalui wawancara, ditemukan beragam informasi sebagai bahan untuk dianalisis menjadi hasil penelitian. Adapun hasil wawancara yang dilakukan sendiri oleh peneliti di lapangan bahwa terdapat beberapa pola hidup yang unik dimiliki oleh masyarakat pesisir di
pulau Jampea dan juga ada beberapa strategi yang dilakukan oleh masyarakatnya dalam bertahan hidup.
a. Bentuk Kehidupan Masyarakat Pesisir
Bentuk kehidupan yang dimiliki setiap masyarakat itu berbeda-beda begitupun dengan kehidupan yang dimiliki oleh masyarakat pesisir di Pulau Jampea, dimana masyarakat disana memiliki sumber mata pencaharian yang beragam. Masyarakat disana bermata pencaharian sebagai nelayan, petani, pegawai dan pengusaha, namun sebagian besar hidup masyrakatnya bergantung pada ekosistem laut.
Masyarakat pesisir hidup dalam kesederhanaan, mereka tidak hidup dengan kemewahan karena masyarakat pesisir masih termasuk kedalam masyarakat yang terbelakang dan berada pada posisi marginal. Dari segi pendidikan sebagian besar masyaraktnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah.
1) Pola hidup Nelayan
Dalam perspektif stratifikasi sosial ekonomi, masyarakat nelayan di daerah pesisir terbentuk oleh kelompok-kelompok sosial yang beragam. Seperti halnya dengan masyarakat pesisir di pulau jampea yang bermata pencaharian sebagai nelayan dimana masyarakat nelayan disana menggantungkan hidupnya pada seberapa besar hasil tangkapan yang mereka peroleh setiap harinya. Pendapatan yang mereka peroleh setiap hari tidak
menentu karena dipengaruhi oleh faktor cuaca dan juga musim.
Hal ini berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan salah satu informan yang bernama bapak Demma Siga yang mengatakan bahwa :
“ pekerjaanku saya nak itu nelayan, hampir ma mungkin 10 tahun jadi nelayan. Kalau masalah pendapatan itu tidak menentu ki nak kadang banyak kadang juga sedikit, terus itu toh hasil tangkapanku biasanya di jual ki terus sisanya itu di bawa pulang mi di makan ki. Biasa juga itu ikan yang ku dapat ada yang saya keringkan baru dijual ki nak. Begitu mi itu kerjaanku sebagai nelayan nak hidup pas-pasan makan seadanya jaki nak. (Wawancara DS, 42 tahun, 10 Juni 2021).
Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu informan yaitu bapak Badaruddin yang mengatakan bahwa :
“ kalau saya nak kerjaku itu jadi nelayan sudah hampir 5 tahun kalau tidak salah ingat ka. Begitu mi pendapatanku sehari itu tidak menentu ki kadang banyak kadang juga tidak kah biasa cuaca buruk ki jadi kurang ki ikan dilaut biasa juga nda pergika itu melaut nak. Kalau hasil tangkapanku itu biasa kalau banyak ki ku jual sisanya itu di bawami pulang di makan. Bukanji juga ikan basah ku jual biasa juga kasih kering ka ikan baru dijual nak.”
(Wawancara BR, 59 tahun, 11 Juni 2021)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan yang di peroleh oleh nelayan tidak menentu. Hasil tangkapan yang mereka dapat selain bisa dijual juga bisa dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarganya dan juga selain menjual ikan basah mereka juga mengeringkan ikan untuk dijual.
Masyarakat nelayan memang menggantungkan hidupnya kepada ekosistem laut, namun seperti yang telah kita ketahui bahwa hasil
tangkapan yang diperoleh oleh nelayan dipengaruhi oleh faktor cuaca dan juga musim sehingga apabila bukan musim ikan dan cuaca tidak mendukung pendapatan yang didapat oleh nelayan berkurang.
Kemudian peneliti melakukan wawancara dengan salah satu informan yang bernama bapak Bahar dan terdapat jawaban yang berbeda dengan informan sebelumnya. Adapun hasil wawancara dengan bapak Bahar yaitu :
“ saya nak pekerjaanku itu beragam ki nelayan sama petani, tapi yang paling utama itu nelayan nak pergi terus ja itu melaut juga kalau masuk lagi musim panen pergi ma lagi di sawah nak. Biasa itukan tidak menentu ki cuaca toh ada juga itu musimnya cari ikan begitu mi juga padi nak ada juga musimnya. Begini mi ini kerjaku saya nak jadi bergantung ka sama pendapatan melaut sama hasil panen.”(Wawancara Bahar, 45 tahun, 12 Juni 2021)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa selain menjadi nelayan ada juga masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani. Apabila sudah memasuki musim panen mereka ke sawah untuk menanam padi begitupun sebaliknya apabila memasuki musim ikan mereka pergi kelaut menangkap ikan, tetapi yang menjadi pekerjaan utamanya menjadi seorang nelayan.
2) Pola Hidup Petani
Masyarakat pesisir di Pulau Jampea selain bermata pencaharian sebagai nelayan mereka juga bermata pencaharian sebagai petani, adapun lahan pertanian yang digunakan selain untuk menanam padi mereka juga menanam berbagai tanaman lainnya di lahan tersebut, seperti jagung, ubi,
dan juga lombok. Apabila masuk musim padi lahan tersebut ditanami padi, begitupun seterusnya apabila memasuki musim jagung ditanami jagung, ubi dan juga lombok. Musim padi di pulau Jampea hanya terjadi 2 kali dalam setahun kemudian dilanjutkan dengan musim jagung dan saat ini masyarakat disana juga memanen lombok di lahan mereka. Hal ini berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan salah satu informan yang bernama Bapak Adisman yang mengatakan bahwa :
“ iye nak jadi saya itu kerjaku jadi petani ka, biasa juga toh pergi ka juga tangkap ikan di laut tapi memang pekerjaan utamaku itu petani, jadi itu lahanku toh biasa kalau bukan mi musim padi masuk mi lagi musim jagung saya tanami lagi jagung kan musim padi itu disini terjadi 2 kali ji dalam setahun makanya saya pergunakan ki itu lahan menanam tanaman lain kayak jagung, kacang juga sama sekarang itu musim lombok lagi nak. Bagus sekali lahannya disini untuk ditanami nak dan Alhamdulillah banyak tommi itu hasil yang saya dapat nak. (Wawancara Adisman, 39 tahun, 13 Juni 2021)
Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu informan yaitu bapak Aziz yang mengatakan bahwa :
“ Kalau saya toh nak jadi petani sekaligus nelayan ka juga cuman lebih saya utamakan ki itu petani karena memang pekerjaan tetapku itu. Jadi itu lahan toh kalau masuk musim padi say tanami padi kalau masuk lagi musim jagung saya tanami lagi jagung, karena itu musimnya padi disini 2 kali ji selama setahun nak beda ki sama daerah lain biasa ada itu empat kali ki tanam padi. Kalau musim jagung lagi ditanami mi lagi jagung baru banyak sekali itu saya dapat dari hasil jagung nak. Sekarang itu musim lombok lagi banyak lagi yang tanam lombok di lahannya termasuk saya nak. Bersyukur sekali ma itu sama hasil panenku nak.”
(Wawancara Aziz, 40 tahun, 14 Juni 2021)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa mata pencaharian masyarakat di pulau Jampea bukan hanya sebagai nelayan tetapi juga sebagai petani yang dimana di lahan yang mereka punya bukan hanya menanam padi saja tetapi juga menanam berbagai tanaman lainnya seperti jagung, kacang, dan juga lombok, selain itu musim panen di pulau jampea berbeda dengan daerah lainnya dimana musim panen disana hanya terjadi selama 2 kali dalam setahun dikarenakan air yang digunakan untuk lahan bergantung pada air hujan.
Musim panen di Pulau Jampea hanya terjadi 2 kali dalam setahun berbeda dengan daerah lain ada yang sampai 4 kali panen dalam setahun.
Lahan yang digunakan petani tidak hanya ditanami padi saja tetapi berbagai tanaman lainnya semuanya tergantung dengan musim yang terjadi.
Mata pencaharian yang dimiliki oleh masyarakat pesisir di pulau Jampea memang berbeda dengan masyarakat lainnya, seperti yang telah kita ketahui bahwa masyarakat pesisir dominan dengan mata pencariannya sebagai nelayan namun berbeda dengan mata pencaharian masyarakat pesisir dimana masyarakat disana memiliki pekerjaan yang beragam bahkan ada dari mereka yang memiliki pekerjaan lebih dari satu. Ada yang bekerja sebagai nelayan sekaligus sebagai petani, semuanya bergantung pada kondisi dan juga musim, misalnya apabila masuk musim padi mereka turun ke sawah untuk menanam padi begitupun sebaliknya apabila masuk musim ikan mereka turun ke laut menangkap ikan.
b. Strategi bertahan hidup Masyarakat Pesisir
Strategi merupakan sebuah tindakan aksi atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Strategi adalah cara yang dilakukan oleh setiap individu untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai, adapun yang dimaksud disini adalah cara yang dilakukan oleh setiap orang untuk mempertahankan hidup mereka. Seperti halnya dengan masyarakat pesisir dimana dominan masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani. Pendapatan yang diperoleh setiap masyrakat disana tidak menentu bergantung pada keadaan cuaca dan juga musim. Sehingga beberapa dari mereka harus mencari pekerjaan sampingan agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi.
1. Melakukan pekerjaan sampingan a) Menjadi buruh
Masyarakat pesisir pada dasarnya merupakan kelompok masyarakat yang kehidupannya bergantung pada seberapa banyak hasil tangkapan dilaut dimana kelangsungan hidupnya sangat dipengaruhi oleh cuaca dan juga musim. Seperti yang dialami nelayan dimana hasil tangakapan yang di peroleh dipengaruhi oleh faktor cuaca ketika cuaca tidak bersahabat dan ikan-ikan cenderung sembunyi di dasar laut, maka disitulah pendapatan yang didapat masyarakat berkurang dan mereka harus hidup irit, sehingga tidak heran banyak keluarga dari
masyarakat pesisir yang hidup dengan kekurangan dan penuh dengan kesederhanaan. Begitupun juga dengan petani dimana berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bahwa musim panen padi di pulau Jampea hanya terjadi 2 kali dalam setahun kemudian dilanjutkan dengan musim jagung dan sekarang musim lombok. Namun hasil pertanian yang mereka peroleh tidak mampu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Kurangnya pemenuhan kebutuhan yang dialami masyarakat menjadikan masyarakat harus membuat strategi untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang bisa menyebabkan kemiskinan pada masyarakat pesisir. Konsep dari strategi adalah untuk mendapatkan pencapaian terhadap tujuan yang diinginkan. Seperti halnya dengan masyarakat nelayan dan juga petani mengalami ketidakpastian dalam memperoleh pendapatan.
Dari hasil penelitian yang diperoleh masyarakat pesisir yang ada di pulau Jampea tidak ingin berdiam diri dalam menghadapi kemiskinan, mereka dalam hal tertentu dapat menggunakan potensi yang mereka miliki untuk mempertahankan hidup mereka dengan melakukan pekerjaan sampingan yaitu menjadi buruh bangunan, seperti yang telah diungkapkan oleh informan yang merupakan seorang nelayan bernama bapak Demma Siga yang mengatakan bahwa :
“ yah begini mi nak kehidupanku tidak bisa ki juga terlalu berharap sama hasil laut karena tidak menentu hasilnya, hidup pas-pasan, biasa hasil laut itu toh kurang ki karena
faktor cuaca sama bukan juga musim ikan makanya nak cari ka lagi kerjaan sampingan jadi buruh ka biasa kah kalau tidak kerja ki yang lain tidak cukup ki kebutuhan ku sama keluargaku apalagi ada anak sekolah banyak pengeluaran nak.” (Wawancara DS, 42 tahun, 10 Juni 2021)
Hal senada juga diungkapkan oleh informan yang bernama bapak Badaruddin yang mengatakan bahwa :
“ Kalau saya itu nak memang nelayan ji pekerjaanku tapi begitu mi kasihan pendapatanku itu tidak seberapa ji biasa kodong nda cukup ki kebutuhan keluargaku manami anak-anak juga sekolah, makanya carika kerjaan sampingan jadi buruh ka biasa hitung-hitung tambah pemasukan kasihan, kah biar mau ki toh juga tanam padi nda ada lahan ta.”
(Wawancara Badaruddin, 58 tahun, 11 Juni 2021)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa para nelayan di pulau Jampea tidak bisa hanya mengandalkan hasil tangkapan yang mereka peroleh selama melaut karena dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang kadang berubah dan juga musim sehingga mereka harus mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan mereka.
Kemudian peneliti juga melakukan wawancara dengan informan yang bernama bapak Adisman yang bekerja sebagai petani, beliau juga menyampaikan hal yang sama seperti yang diucapkan oleh informan sebelumnya bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya hanya mengandalkan satu jenis pekerjaan saja mengingat bahwa kebutuhan hidup yang harus mereka penuhi sangat banyak sehingga mereka harus mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. (Wawancara Adisman, 39 tahun, 13 Juni 2021)
Adapun pernyataan-pernyataan tersebut didukung dengan hasil pengamatan peneliti. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, para nelayan dan juga petani melakukan pekerjaan sampingan setelah mereka dari melaut dan menanam, akan tetapi hal itu tidak terjadi setiap waktu, selain menjadi buruh bangunan, terdapat juga beberapa masyarakat yang menjadi tukang kayu. Hal tersebut biasa dilakukan pada musim kemarau yang panjang bukan saja sama dengan memperlama masa kesulitan mereka dalam memperoleh hasil tangkapan. Pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat pesisir guna menambah penghasilannya yang berfungsi dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, yaitu masyarakatnya melakukan pekerjaan sampingan seperti menjadi tukang kayu. Hasil dari pekerjaan sampingan itu sangat membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya paling tidak bisa mendapat pemasukan ketika mereka tidak bisa melaut dan juga apabila bukan musim panen padi, menjadi buruh bangunan merupakan salah satu cara yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meski menjadi buruh hasil yang didapatkan tidak seberapa dan tidak selamanya pekerjaan itu ada, akan tetapi hasil yang diperoleh setidaknya bisa membantu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan menjauhkan mereka dari derita kemiskinan.
b) Menjadi tukang kayu
Menurut Kusnadi (2002 : 150) mendefenisikan bahwa usaha akan terjadi apabila hasil yang diperoleh tidak pasti atau adanya ketidapastian yang diperoleh. Oleh sebab itu nelayan menggabungkan pekerjaan guna
memperoleh tambahan penghasilan yang berguna untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pekerjan sebagai nelayan bukanlah pekerjaan yang mudah dan bisa mendapat penghasilan yang melimpah. Pekerjaan sebagai nelayan adalah pekerjaan yang banyak resikonya, tidak mudah, tidak bisa sewaktu-waktu dilakukan karena kondisi cuaca dan faktor menjadi penghambat, dan penghasilan yang diperoleh tidak menentu.
Ketidakpastian yang didapat nelayan menjadikannya harus mempunyai pekerjaan sampaingan selain nelayan. pekerjaan nelayan hanyk cukup memenuhi kebutuhan sekunder saja menjadikan nelayan harus lebih giat bekerja. Sebagian dari mereka selain menjadi buruh bangunan mereka juga mengambil pekerjaan sampingan sebagai tukang kayu dan membuat perahu. Hal ini berdasarkan wawancara dengan informan yang bernama bapak Danial yang mengatakan bahwa :
“begini mi keadaanku nak kalau ituji hasil tangkapan ikan diharapkan tidak terpenuhi ki semua kebutuhan kah ikan juga adaji musimnya, kadang banyak ki kadang sedikit apalagi kalau cuaca buruk, besar ombak biasa nda pergi ma cari ikan dilaut itumi carika kerjaan sampingan jadi tukang kayu sama bikin perahu juga biasa nak.” (Wawancara Danial, 15 Juni 2021)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa dari nelayan mengambil pekerjaan sampingan seperti menjadi tukang kayu karena pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Profesi seorang nelayan sangat bergantung pada kondisi perairan di masing-masing daerah, selain itu penghasilannya juga tidak menentu maka pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka adalah berusaha mencari sumber alternative lain, akan tetapi kendalanya ada beberapa faktor yang mempersulit informan untuk mencari pekerjaan lain yaitu persoalan tingkat pendidikan sehingga mereka melakukan pekerjaan sampingan dengan menjadi tukang kayu.
c) Keikutsertaan istri nelayan mencari nafkah
Pada umumnya wanita ikut serta dalam upaya mencukupi kebutuhan nafkah rumah tangga karena tuntutan ekonomi rumah tangga, dimana penghasilan suami saja tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga yang semakin meningkat, begitu juga terhadap istri nelayan yang ada di pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu karena kesulitan
Pada umumnya wanita ikut serta dalam upaya mencukupi kebutuhan nafkah rumah tangga karena tuntutan ekonomi rumah tangga, dimana penghasilan suami saja tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga yang semakin meningkat, begitu juga terhadap istri nelayan yang ada di pulau Jampea Kecamatan Pasimasunggu karena kesulitan