Bab ini mengemukakan profil rumahtangga petani adopter budidaya jambu kristal (selanjutnya ditulis BJK), khususnya berkenaan karakteristik anggota rumahtangga dan rumahtangga di Desa Bantarsari yang disurvei penelitian ini. Profil rumahtangga petani adopter BJK mencakup karakteristik individu dan rumahtangga. Anggota rumahtangga (selanjutnya ditulis ART) meliputi jenis kelamin, umur, jenis pekerjaan, status perkawinan, dan tingkat pendidikan formal. Adapun karakteristik rumahtangga petani adopter BJK, meliputi: kepemilikan ternak, benda-benda berharga, serta penguasaan lahan yang dimiliki. Responden tersebar di empat kampung, yakni: Hulurawa, Bantarsari, Bojong Tengah, dan Baru. Jumlah populasi petani BJK di Kampung Hulurawa sebesar 19 orang, di Kampung Bantarsari lima orang, Kampung Bojong Tengah tujuh orang, dan Kampung Baru sebanyak tujuh orang, sehingga jumlah keseluruhan petani BJK di Desa Bantarsari berjumlah 38 petani yang terdiri empat individu perempuan dan 34 individu laki-laki dengan cara sensus.
Karakteristik Anggota Rumahtangga Petani Adopter BJK Rata-rata Jumlah Anggota Rumahtangga dan Jenis Kelamin
Dari hasil survei rumahtangga diketahui bahwa jumlah ART dari total rumahtangga petani adopter sebanyak 191 orang, atau rata-rata terdapat sekitar 5 orang per rumahtangga. Hal ini diduga karena mayoritas rumahtangga yang bekerja di sektor pertanian masih menganut sistem nilai “Banyak Anak Banyak Rezeki”. Selain itu diduga juga karena melemahnya pelaksanaan Program Keluarga Berencana yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Bogor.
Menurut jenis kelaminnya, ART Petani Adopter BJK terdiri atas 99 orang laki-laki (51.83 persen) dan 92 orang perempuan (48.17 persen). Kondisi lebih tingginya persentase ART laki-laki dibanding ART perempuan ini tidak jauh berbeda dengan kondisi umum penduduk di Desa Bantarsari, dimana persentase penduduk laki-lakinya sedikit lebih tinggi dibanding penduduk perempuan.
Gambar 4 Persentase anggota rumahtangga petani BJK Desa Bantarsari menurut jenis kelamin, tahun 2013
1 52% 2
Anggota Rumahtangga menurut Kelompok Umur
Pada Tabel 11 di bawah ini disajikan data komposisi ART petani adopter BJK menurut kelompok umur dan jenis kelamin. Dari tabel tersebut diketahui bahwa mayoritas ART adopter BJK tergolong usia produktif (15-64 tahun) sebesar 77.49 persen. Adapun sisanya adalah mereka yang tidak produktif. Pada kelompok usia bukan produktif ( <15 tahun), persentase ART perempuan lebih tinggi sekitar 0.52 persen dibanding laki-laki. Adapun persentase ART petani BJK yang tergolong usia lanjut (65 tahun ke atas) karena sudah lansia sebesar 4.19 persen.
Tabel 1 Jumlah dan persentase anggota rumahtangga petani adopter BJK menurut kelompok umur dan jenis kelamin di Desa Bantarsari, tahun 2013
Kelompok Umur (tahun)
Laki-laki Perempuan Total
Jumlah (orang) Persen (%) Jumlah (orang) Persen (%) Jumlah (orang) Persen (%) <15 17 8.90 18 9.42 35 18.32 15-19 9 4.71 9 4.71 18 9.42 20-24 10 5.24 7 3.66 17 8.90 25-29 6 3.14 10 5.24 16 8.38 30-34 12 6.28 5 2.62 17 8.90 35-39 6 3.14 12 6.28 18 9.42 40-44 9 4.71 10 5.24 19 9.95 45-49 8 4.19 3 1.57 11 5.76 50-54 5 2.62 6 3.14 11 5.76 55-59 6 3.14 6 3.14 12 6.28 60-64 5 2.62 4 2.09 9 4.71 65+ 6 3.14 2 1.05 8 4.19 Total 99 51.83 92 48.17 191 100.00
Menurut jenis kelaminnya, persentase ART laki-laki lebih tinggi 3.66 persen dibanding ART perempuan. Terdapat 8.90 persen ART yang tergolong lanjut usia atau lansia (berumur ≥60 tahun). Menurut jenis kelaminnya, ART laki- laki pada kelompok umur ini lebih tinggi 2.62 persen disbanding kelompok ART perempuan pada kelompok umur yang sama.
Berdasar pada pendapat Rusli (1995) tentang rumus analisis ketergantungan individu (dependency ratio)2, dapat diketahui besaran beban tanggungan setiap rumahtangga dengan cara menghitung rasio ART usia muda dan lanjut usia (lansia) dengan jumlah ART usia produktif. Dari data tersebut diperoleh nilai ketergantungan individu (dependency ratio) sebesar 30. Artinya setiap 100 orang ART usia produktif harus menanggung 30 orang ART usia tidak produktif. Dengan perkataan lain, analisis ketergantungan individu menunjukkan bahwa adopter BJK di Desa Bantarsari mempunyai tingkat ketergantungan yang rendah, yakni sekitar 0.3 atau kurang dari satu. Ini memperkuat data jumlah
2
Rumus Dependency Ratio = Jumlah penduduk umur − tahun dan +
penduduk usia kerja lebih banyak daripada jumlah penduduk yang bukan usia kerja (penduduk usia muda dan tua atau lanjut usia).
Anggota Rumahtangga menurut Jenis Pekerjaan
Secara umum pekerjaan ART petani adopter BJK di Desa Bantarsari menurut jenis pekerjaannya dapat dikategorikan ke dalam enam jenis pekerjaan, yaitu: petani pemilik, butuh tani, pedagang, PNS, pensiunan, dan karyawan.
Pada Tabel 12 menyajikan data mengenai kondisi rumahtangga menurut jenis pekerjaan. Terdapat sekitar 38 persen ART petani BJK bekerja di sektor pertanian dan berstatus sebagai petani pemilik. Hal ini dimungkinkan pada bab sebelumnya mengenai keadaan desa telah dijelaskan luas lahan sawah dan kebun tergolong tinggi sehingga dimungkinkan adanya hubungan tingginya ART petani BJK yang bekerja di sektor pertanian karena masih banyak lahan persawahan di Desa Bantarsari.
Tabel 12 Jumlah dan persentase anggota rumahtangga petani adopter BJK menurut pekerjaan dan jenis kelamin, tahun 2013
Laki-laki Perempuan Total
Jenis Pekerjaan Utama Jumlah (orang) Persen (%) Jumlah (orang) Persen (%) Jumlah (orang) Persen (%) Sektor Pertanian Petani Pemilik 25 30.86 6 7.40 31 38.27 Buruh Tani 6 7.40 0 0.00 6 7.40 Sub total 31 38.27 6 7.40 37 45.67 Sektor Jasa Pedagang 6 7.40 1 1.23 7 8.64 PNS 3 3.70 4 4.93 7 8.64 Pensiunan 4 4.93 0 0.00 4 4.93 Karyawan (buruh industri/pegawai swasta) 21 25.93 5 6.17 26 32.09 Sub total 34 4198 10 12.35 44 54.32 Total 65 80.25 16 19.75 81 100.00
Jika dilihat dari jenis kelaminnya, diketahui bahwa persentase ART laki- laki yang bekerja sebagai petani lebih tinggi sekitar 10 persen dibanding ART perempuan. Hal ini diduga ART perempuan umumnya ART perempuan dewasa pada rumahtangga mengaku sebagai ibu rumahtangga. Diketahui juga sekitar 30 persen penduduk Desa Bantarsari tidak bekerja karena termasuk tergolong ke dalam usia sekolah dan masih di bawah umur empat tahun, sehingga belum termasuk golongan umur yang produktif dalam bekerja. Beberapa lainnya anggota rumahtangga yang bekerja selain di sektor pertanian, yakni sebagai pedagang, PNS, karyawan, dan pensiunan. Data di atas terdapat 110 ART yang tergolong Ibu Rumahtangga (IRT) dan masih tergolong pelajar sehingga total ART awalnya 191 ART menjadi 81 ART karena IRT dan pelajar tidak termasuk jenis pekerjaan.
Berdasar data pada Tabel 12, diketahui bahwa mayoritas ART adopter BJK bekerja di sektor pertanian yakni sebesar 38.27 persen. Menurut jenis kelaminnya, persentase ART laki-laki yang bekerja disektor ini sebesar 30 persen, atau 23 persen lebih tinggi dibanding ART perempuan. Hal ini terjadi karena ART laki-laki umumnya berperan sebagai kepala keluarga, sehingga mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mencari nafkah bagi anggota keluarganya.
Status Perkawinan Anggota Rumahtangga
Sebagaimana terlihat pada Tabel 13, secara umum proporsi ART Petani Adopter BJK yang berstatus kawin dan belum kawin tidak berbeda jauh, dengan persentase berturut-turut 53.40 persen dan 45.55 persen. Perbedaannya sekitar delapan persen.
Tabel 13 Jumlah dan persentase anggota rumahtangga petani adopter BJK menurut kelompok umur dan status perkawinan, tahun 2013
Kelompo k Umur
Kawin Belum Kawin Janda/duda Total
Jumla h (orang ) Perse n (%) Jumla h (orang ) Perse n (%) Jumla h (orang ) Persen (%) Jumla h (orang ) Perse n (%) <15 1 0.52 34 17.80 0 0.00 35 18.32 15-19 0 0.00 18 9.42 0 0.00 18 9.42 20-24 1 0.52 16 8.38 0 0.00 17 8.90 25-29 7 3.66 9 4.71 0 0.00 16 8.38 30-34 9 4.71 8 4.19 0 0.00 17 8.90 35-39 16 8.38 2 1.05 0 0.00 18 9.42 40-44 18 9.42 0 0.00 1 0.52 19 9.95 45-49 11 5.76 0 0.00 0 0.00 11 5.76 50-54 10 5.24 0 0.00 1 0.52 11 5.76 55-59 12 6.28 0 0.00 0 0.00 12 6.28 60-64 9 4.71 0 0.00 0 0.00 9 4.71 65+ 8 4.19 0 0.00 0 0.00 8 4.19 Total 102 53.40 87 45.55 2 1.05 191 100.00
Hal menarik yang dapat diperhatikan dari informasi Tabel 13 adalah bahwa tidak ditemukan adanya ART Petani yang menikah dibawah umur (>15 tahun). Ini sesuai dengan Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan bahwa batas usia yang diizinkan dalam suatu perkawinan diatur dalam pasal 7 ayat (1) yaitu, jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun, dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Sebagaimana terlihat pada tabel tersebut, pada ART adopter BJK di Desa Bantarsari tidak ditemukan adanya ART adopter BJK yang menikah pada umur kurang dari 19 tahun. Ini artinya, meskipun sebelumnya banyak temuan yang menggambarkan bahwa ART di perdesaan cenderung melakukan pernikahan di usia muda, maka untuk saat sekarang keadaan tersebut telah mengalami perubahan
Selain itu, perlu diketahui bahwa dari total ART yang berstatus kawin, terdapat delapan orang atau sekitar empat persen anggota rumahtangga yang
belum menikah pada umur 30-34 tahun yang dominan terdiri dari jenis kelamin laki-laki. Hal ini dikarenakan masih adanya yang pengangguran dan masih masih nyaman berkerja di perusahaan swasta.
Tingkat Pendidikan Formal Anggota Rumahtangga
Tingkat pendidikan formal yang dijelaskan di bawah ini berkenaan dengan pendidikan formal. Pendidikan formal adalah kegiatan pendidikan yang diikuti ART petani adopter BJK di Desa Bantarsari dalam lingkup pendidikan sekolah formal, yakni mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT) pendidikan formal ART petani adopter BJK tergolong sedang, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Jumlah dan persentase anggota rumahtangga petani adopter BJK menurut tingkat pendidikan formal dan jenis kelamin, tahun 2013 Tingkat
Pendidikan Formal
Laki-laki Perempuan Total
Jumlah (ART) Persen (%) Jumlah (ART) Persen (%) Jumlah (ART) Persen (%) SD tidak tamat 2 1.11 4 2.23 6 3.35 SD tamat 27 15.08 28 15.64 55 30.72 SMP/Sederajat 9 5.02 16 8.93 25 13.96 SMA/Sederajat 28 15.64 16 8.93 44 24.58 Akademi 3 1.67 11 6.14 14 7.82 Perguruan tinggi 23 12.85 9 5.02 32 17.87 Total 93 51.96 86 48.04 179 100.00
Secara keseluruhan, persentase tertinggi ART petani BJK Desa Bantarsari ada pada tingkat pendidikan lulusan SD (30.72 persen) dan yang terendah adalah tingkat SD tidak tamat (3.35 persen). Hal ini diduga karena adanya wajib program belajar 12 tahun. Hal menarik yang dapat dilihat pada tabel tersebut adalah proporsi tingkat pendidikan formal kategori perguruan tinggi tergolong tinggi dikarenakan sadarnya ART atas pentingnya pendidikan.
Membandingkan tingkat pendidikan formal dan jenis kelaminnya, diketahui bahwa proporsi ART Petani Adopter BJK antara laki-laki dan perempuan tidak berbeda jauh, dengan persentase berturut-turut 51.96 persen dan 48.04 persen. Pada Tingkat pendidikan akademi, ART Petani BJK perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki, sebaliknya pada tingkat pendidikan perguruan tinggi, ART Petani BJK laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Pada data di atas anggota rumahtangga dari 191 ART menjadi 179 ART dikarenakan ART yang tidak sekolah tidak termasuk dalam Tingkat Pendidikan Formal.
Hal yang menarik adalah bahwa pada persentase ART perempuan yang sedang bersekolah, baik di jenjang pendidikan SD, SMA, maupun Akademi menunjukkan persentase yang lebih tinggi dibanding ART laki-laki. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai yang menganggap anak laki-laki lebih didahulukan dalam mendapatkan pendidikan, tidak terjadi lagi pada masa sekarang. Kondisi ini diduga dapat terjadi karena zaman yang sudah semakin modern, sehingga sistem nilai masyarakat pun semakin maju.
Karakteristik Rumahtangga Petani Adopter BJK Kepemilikan Benda Berharga
Kepemilikan benda berharga merupakan karakteristik rumahtangga petani dimana melalui kepemilikan benda-benda tersebut akan diperoleh gambaran mengenai kondisi dari rumahtanga tersebut. Adapun kepemilikan benda berharga terdiri dari kepemilikan atas ternak, alat transportasi, dan alat-alat atau perabot rumahtangga.
Terdapat tiga jenis ternak yang dimiliki oleh rumahtangga adopter petani BJK, yakni domba, kerbau, dan ayam. Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 15, rata-rata kepemilikan ternak ayam menunjukkan jumlah tertinggi, sementara pada ternak domba menunjukkan jumlah paling rendah.
Tabel 15 Jumlah dan persentase kepemilikan ternak pada rumahtangga petani adopter BJK Desa Bantarsari, tahun 2013
Jenis Ternak Jumlah (ekor) Persen (%)
Domba 6 10.17
Kerbau 13 22.03
Ayam 40 67.80
Kondisi tersebut terkait dengan lahan pekarangan yang sempit di Desa Bantarsari. Dalam beternak domba ataupun kerbau memerlukan kandang dan lahan pekarangan yang cukup luas dalam perawatannya. Sehingga petani adopter BJK beternak ayam karena tidak memerlukan kandang khusus dan lahan pekarangan yang luas.
Selanjutnya, pada Tabel 16 disajikan data berkenaan benda berharga yang dimiliki rumahtangga petani adopter BJK.
Diketahui bahwa persentase tertinggi ada pada kepemilikan televisi sebesar 97.40 persen. Televisi, kompor gas, dan motor, memiliki sedikit perbedaan. Persentase kepemilikan kompor gas dan motor berturut-turut sebesar 94.70 persen dan 92.10 persen. Ketiga kepemilikan teknologi rumahtangga adopter BJK di Desa Bantarsari merupakan kepemilikan yang paling banyak dibandingkan barang teknologi lainnya. Sehingga dapat diartikan bahwa masyarakat petani adopter BJK telah memposisikan televisi salah satu kebutuhan primer (harus terpenuhi) dalam kehidupannya. Adapun persentase kepemilikan benda teknologi rumahtangga lainnya secara berturut-turut adalah kulkas, handphone, sepeda, DVD, komputer, mobil, dan yang terakhir adalah radio. Kepemilikan kompor gas di Desa Bantarsari pada umumnya merupakan subsidi dari program pemerintah pada tahun 2004.
Selain itu, pada tersebut terlihat kepemilikan mobil di Desa Bantarsari. Terdapat tiga petani adopter BJK yang memiliki benda tersebut. Hal tersebut dikarenakan adanya hubungan dengan status kepemilikan lahan yang dimiliki dan jumlah pohon jambu kristal yang ditanam dilahan adopter BJK masing-masing. Di antara semua petani adopter BJK, petani adopter yang memiliki mobil tersebut
adalah lahan yang dimiliki di atas dua hektar dan jumlah pohon yang ditanam di lahan jambu kristal mencapai 500 pohon.
Tabel 16 Jumlah dan persentase anggota rumahtangga menurut kepemilikan benda teknologi rumahtangga petani adopter BJK Desa Bantarsari, tahun 2013
Kepemilikan teknologi
Rumahtangga Jumlah (unit) Persen (%)
Mobil 3 7.8 Motor 35 92.1 Sepeda 9 23.7 TV Berwarna 37 97.4 Radio 1 2.6 DVD Player 9 23.7 Komputer 5 13.2 Kulkas 30 78.9 Kompor Gas 36 94.7 Handphone (HP) 29 76.3
Luas Lahan Usahatani
Luas lahan (sawah, kebun, kolam) yang dikuasai rumahtangga petani adopter BJK berkisar antara 0–2.652 ha, dengan rata-rata penguasaan seluas 0.38 ha. Selanjutnya, dengan merujuk pada kriteria stratifikasi penguasaan lahan menurut Sayogyo (1990), hasil penelitian menunjukkan sebagian besar besar petani adopter BJK tergolong lapisan bawah yaitu pada kisaran <0.25 ha. Petani adopter BJK yang memiliki luas lahan pada kisaran 0.25-0.50 ha sebanyak 31.58 persen sedangkan golongan lapisan atas dengan luas lahan >0.5 ha sebanyak 15.79 persen. Dan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 17 berikut.
Tabel 17 Jumlah dan persentase rumahtangga petani adopter BJK menurut luas kepemilikan lahan usahatani Desa Bantarsari, tahun 2013
Kategori Luas Lahan (Ha) Jumlah (orang) Persen (%)
Tidak berlahan (tuna kisma) 2 5.26
<0.25 18 47.37
0.25-0.5 12 31.58
>0.5 6 15.79
Total 38 100.00
Pengalaman Berusahatani Petani BJK
Pengalaman berusahatani petani BJK merupakan lamanya petani bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan Tabel 15, disajikan jumlah dan persentase petani menurut pengalaman berusahatani. Diketahui 13 petani BJK lamanya berusahatani dalam sektor pertanian dua tahun sampai 23 tahun (34.21 persen), sebanyak 17 petani BJK lama berusatani di sektor pertanian 15-29 tahun (44.74), dan hanya delapan petani BJK lama berusatani di sektor pertanian 29-44 tahun (21.05).
Tabel 18 Jumlah dan persentase petani di Desa Bantarsari menurut pengalaman berusahatani
Pengalaman Berusahatani Jumlah (orang) Persen (%)
2-14 tahun 13 34.21
15-29 tahun 17 44.74
30-44 tahun 8 21.05
Hal tersebut di atas juga didukung pada Tabel 18 mengenai pengalaman petani BJK dalam berbudidaya jambu kristal. Diketahui jumlah dan persentase petani BJK yang berbudidaya jambu kristal berdasarkan lama mereka berusahatani didominasi pada selang waktu 28-42 bulan (golongan sedang). Sebanyak 16 petani BJK (42.11 persen) yang memiliki pengalaman berbudidaya jambu kristal 12-27 bulan, dan selebihnya sebanyak 2 orang petani BJK (5.26 persen) yang telah berbudidaya jambu kristal dalam selang waktu antara 42-60 bulan.
Tabel 19 Jumlah dan persentase petani di Desa Bantarsari menurut pengalaman berbudidaya jambu kristal
Pengalaman Berbudidaya Jambu Kristal Jumlah (orang) Persen (%)
12-27 bulan 16 42.11
28-42 bulan 20 52.63
42-60 bulan 2 5.26
Keterangan Umum Rumahtangga Petani BJK
Tabel 20 menyajikan keterangan umum rumahtangga petani BJK di Desa Bantarsari. Baik dari kepemilikan rumah, jenis atap rumah, jenis dinding rumah, jenis lantai rumah, jenis penerangan, jenis bangunan rumah, jenis bahan bakar masak, sumber air minum, sumber air mandi/mencuci, maupun jenis tempat pembuangan air besar.
Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh kategori keterangan umum rumahtangga persentase 100 persen kecuali keterangan pada jenis dinding rumah, jenis lantai rumah jenis bangunan rumah, dan jenis bahan bakar masak. Ada satu petani BJK yang jenis dinding rumah masih menggunakan rumah. Pada jenis bangunan rumah petani BJK di Desa Bantarsari beragam yakni ada yang bangunan tunggal, bangunan bertingkat, dan bangunan bergandeng. Selain itu keterangan rumahtangga petani BJK yaitu pada jenis penggunaan jenis bahan bakar masak. Hampir seluruhnya menggunakan bahan bakar gas dalam membantu kegiatan dapur. Namun, masih ada satu petani BJK yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar dalam memasak. Hal menarik pada penggunaan jenis bahan bakar dalam memasak, beberapa petani BJK menggunakan listrik dalam memasak.
Tabel 20 Jumlah dan persentase keterangan umum rumahtangga petani BJK Desa Bantarsari, tahun 2013
Kategori Keterangan Umum
Rumahtangga Jumlah (orang) Persen (%)
Kepemilikan Rumah (Milik
Sendiri) 38 100.00
Jenis Atap Rumah (Genting) 38 100.00
Jenis Dinding Rumah
Tembok 37 97.37
Kayu 1 2.63
Jenis Lantai Rumah
Keramik 36 94.74
Ubin/semen 2 5.26
Jenis Penerangan (Lampu) 38 100.00
Jenis Bangunan Rumah
Bangunan Tunggal 35 92.11
Bangunan Gandeng 2 1 2.63
Bangunan Bertingkat 2 5.26
Jenis Bahan Bakar Masak
Listrik 5 13.16
Gas 32 84.21
Minyak Tanah 1 2.63
Sumber Air Minum
Minum (Sumur) 38 100.00
Air Mandi/Mencuci (Sumur) 38 100.00
Jenis Tempat Mandi (Kamar
Mandi Sendiri) 38 100.00
Jenis Tempat Pembuangan Air