• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Profil Subjek

Berikut ini adalah profil subjek dalam penelitian ini:

Keterangan Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3

Inisial Vs Ds Id

Pekerjaan Wiraswasta Mahasiswi Mahasiswi

Kategori kasta Anak Agung Istri

Agung (Ksatrya)

Desak (Ksatrya) Ida Ayu

(Brahmana)

1. Subjek 1 (Vs)

a. Deskripsi subjek

Subjek pertama dalam penelitian ini adalah seorang perempuan yang

berusian 23 tahun dengan inisial Vs. Perempuan yang lahir di Denpasar

pada tanggal 1 januari 1991 ini memiliki kulit berwarna coklat dengan

tinggi sekitar 155cm dan tubuh yang tidak terlalu gemuk. Vs adalah pribadi

yang ramah namun sedikit malu.Walaupun awalnya terkesan

malu-malu dalam bercerita namun di pertengahan wawancara Vs semakin terbuka

dan tidak malu-malu lagi untuk menceritakan pengalamannya dalam

pernikahan turun kasta ini.

Saat ini Vs sedang mengandung anak pertamanya. Perempuan yang

sedang hamil 5 bulan ini adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Perempuan

yang telah menikah dengan suaminya selama kurang lebih 2 tahun ini baru

menyelesaikan studinya di sebuah universitas swasta di Bali.Walaupun Vs

sudah menikah dan keluar dari keluarganya, namun Vs tetap datang

kerumah orang tuanya untuk melihat keadaan orang tuanya dan

adik-adiknya.

b. Gambaran umum mengenai pernikahan turun kasta yang dilakukan subjek 1

Vs melakukan pernikahan turun kasta dikarenakan orang tua Vs

mengetahui bahwa pada saat KKN, Vs menginap di rumah suaminya yang

pada saat itu adalah pacar Vs. Vs menginap disana karena pada saat itu Vs

ingin bersama suaminya tersebut. Orang tua Vs dapat mengetahuinya karena

pada saat itu orang tua Vs sedang menuju ke lokasi KKN Vs untuk

mengetahui keadaan Vs namun Vs tidak ada di lokasi. Hal tersebut

membuat orang tua Vs marah dan ingin berbicara dengan keluarga suami

Vs. Pada saat itu terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan orang tua

suami Vs datang untuk melamar Vs. Dalam pertemuan keluarga itu terdapat

keluarga besar Vs yaitu orang tua Vs, kakek, nenek dan paman Vs. Saat

orang tua suami Vs dapat dan berdiskusi dengan keluarga Vs, kakek dan

nenek Vs sangat kecewa dan terpukul atas kejadian tersebut. Kakek dan

nenek Vs merasa malu dengan perbuatan Vs maka mereka menyuruh orang

tua Vs untuk menikahkan Vs dengan suaminya.

Saat pertemuan keluarga itu, Vs merasa suasana rumah sangatlah

suram dan menyeramkan. Akan tetapi, Vs senang karena Vs bisa menikah

dengan suaminya. Hal itu dikarenakan Vs tidak ingin dijodohkan dengan

orang yang belum dia kenal dan akan menjadi suaminya. Oleh karena itu,

pada saat kakek dan nenek dari ibu Vs menyuruh Vs untuk menikah, Vs

sangat senang. Walaupun Vs dengan suaminya baru 6 bulan berpacaran,

namun hal itu tidak menyurutkan keinginan Vs untuk menikah dengan

suaminya. Disisi lain, walau subjek sangat senang karena akan menikah

keadaan seperti itu. Vs mengatakan bahwa Vs bingung antara diberikan izin

atau tidak mereka menikah. Hal itu dikarenakan sampai sekarang keluarga

dari ibu Vs belum menyetujui Vs untuk menikah turun kasta, namun

keluarga dari ayah Vs sudah dapat menerima keadaan Vs yang kini

hanyalah seorang jaba wangsa.

Vs sangat dekat dengan keluarga ibu Vs sehingga sampai pada saat ini

subjek masih sedih karena belum bisa direstui oleh keluarga ibunya.

Penolakan yang didapat Vs karena menikah turun kasta sangat membuat Vs

sedih dan takut. Vs menceritakan bahwa penolakan yang dilakukan oleh

kakek dan nenek Vs dari ibunya sampai-sampai tidak mau melihat Vs.

Diceritakan bahwa saat itu Vs sedang berada di kampung ayahnya karena

ada upacara adat. Pada saat itu subjek sedang berada di halaman bersama

dengan suami dan saudara-saudara yang lain. Tidak lama kemudian nenek

dari ibu Vs datang dan melihat Vs. Nenek Vs itupun langsung pingsan dan

histeris melihat Vs saat itu. Vs pun ketakutan dan ibu Vs menyuruh Vs

untuk bersembunyi. Saat kejadian itu, Vs tidak berani bertemu dengan

kakek dan nenek dari ibu Vs sampai sekarang.

Saat ini Vs tinggal bersama suami, adik-adik iparnya, ibu dan ayah

mertuanya.Vs merasa cukup nyaman tinggal bersama keluarga suaminya.

Hal tersebut dikarenakan Vs sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang

tua suaminya. Begitu pula di kampung suaminya, Vs sangat di agungkan

dan di sepesialkan oleh nenek suaminya. Orang-orang dalam keluarga

menceritakan bahwa dia bukan satu-satunya orang yang turun kasta di

keluarga suaminya. Kebetulan ibu mertua Vs juga turun kasta saat menikah

dengan ayah mertuanya. Selain itu masih ada kakak dari ayah mertuanya

yang menikah dengan orang berkasta. Jadi memang sudah tidak ada masalah

dengan perkawinan turun kasta dalam keluarga suami Vs. Lingkungan

dirumah Vs pun juga tidak mempermasalahkan pernikahan Vs yang turun

kasta. Hal itu dikarenakan Vs tinggal di lingkungan yang rata-rata

penduduknya adalah muslim. Sehingga tidak terlalu mempermasalahkan

kasta dan kedudukan Vs.

Hal serupa juga dirasakan Vs dalam keluarga ayahnya. Memang

awalnya tidak setuju dengan pernikahan turun kasta yang dilakukan oleh Vs.

namun seiring dengan waktu untuk mempersiapkan pernikahan, keluarga

dari ayah Vs merestui dan ikut membantu dalam proses pernikahan Vs

dengan suaminya. Setelah menikahpun Vs sering pulang kerumah orang

tuanya untuk menengok kabar kedua orang tuanya atau sekedar mampir. Vs

juga sering membantu ibunya untuk beribadah dirumah pada saat ibunya

sedang berhalangan (menstruasi). Akan tetapi, berbeda dengan keluarga dari

ibu Vs yang sampai saat ini masih merasa berat Vs tidak dapat menemukan

pasangan yang sederajat atau sekasta dengannya.

Vs tidak merasakan perbedaan yang drastis antara dulu pada waktu

masih memiliki kasta dan kini hanya sebagai istri dari seorang sudra. Hanya

saja yang berbeda adalah panggilan kepada ibu kandungnya. Dulu pada saat

ibunya dengan sebutan tu ibu.Selain itu juga, dulu pada saat masih di rumah

sendiri Vs lebih bisa bersantai dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah.

Akan tetapi, kini setelah menikah Vs harus bisa membersihkan rumah

sendiri dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sendiri. Dalam

lingkungan bermasyarakat Vs juga merasakan perbedaan yang cukup

berbeda. Dulu pada saat Vs masih memiliki status berkasta, jika ada upacara

adat Vs dibantu oleh para pengayah (orang-orang yang membantu seseorang

yang kastanya lebih tinggi). Akan tetapi, kini Vs harus turun tangan sendiri

dalam mempersiapkan upacara adat tersebut.

2. Subjek 2 (Ds)

a. Deskripsi subjek

Subjek kedua dalam penelitian ini adalah perempuan berinisial Ds. Ds

adalah anak pertama dari dua bersaudara. Perempuan yang lahir di tabanan,

7 oktober 1991 ini memiliki tinggi sekitar 150cm dan bertubuh sedikit

gemuk. Saat ini Ds berumur 23 dan sedang menyelesaikan studinya di salah

satu universitas negeri di Bali. Perempuan yang memiliki warna kulit yang

cukup gelap ini merupakan pribadi yang ramah dan cukup terbuka. Hal itu

ditunjukkannya pada saat diwawancara, Ds tidak terlalu berpikir pada saat

proses wawancara. Ds langsung menjawab apapun yang ditanyakan peneliti

dan Ds sangat antusias dalam menceritakan kisah pernikahannya.

Ds telah menikah dengan suaminya sudah sekitar 3 tahun. Selama3

tahun itu, Ds telah dikaruniai dua orang anak. Sejak menikah dengan

sudah keluar dan turun kasta karena menikah dengan kasta yang di

bawahnya, Ds tetap diperbolehkan pulang dan tidak mengalami kesulitan

apapun.

b. Gambaran umum mengenai pernikahan turun kasta yang dilakukan subjek 2

(Ds)

Ds menikah dengan suaminya dikarenakan telah hamil diluar nikah.

Selama ini Ds dan suaminya telah berpacaran selama 4 tahun dan belum

mendapatkan restu dari orang tua Ds. Walaupun suami Ds dulunya sering

menjempun Ds untuk pergi jalan-jalan namun orang tua Ds tetap biasa dan

tidak mau menganggap suami Ds adalah pacar Ds. Dengan demikian suami

Ds mengatakan kepada Ds dengan bahasa Bali yang artinya “aku kesel sama orang tuamu, jadi apa aku hamilin aja kamu ya?” kemudian mereka

melakukan hal tersebut dan akhirnya Ds hamil.

Pada saat diketahui bahwa Ds hamil, orang tua Ds hanya berpikir

untuk menikahkan Ds dengan suaminya. Akhirnya merekapun menikah dan

tidak ada halangan yang menghambat pernikahan mereka. Hal itu

dikarenakan keluarga besar Ds tidak mempermasalahkan pernikahan turun

kasta yang dilakukan Ds. Menurut mereka hal ini sudah takdir dan harus

dijalani. Selain itu, hal ini juga di permudah oleh keluarga Ds karena

memang sebelumnya dari keluarga Ds sudah banyak yang menikah turun

kasta. Oleh karena itu tidak terlalu masalah saat Ds memutuskan untuk

Ds adalah orang pertama yang menikah turun kasta. Mungkin tidak akan

segampang itu dan sepengertian itu keluarga Ds.

Saat ini Ds tinggal dengan keluarga suaminya yang tidak jauh dari

rumah Ds. Dikarenakan rumah Ds dengan rumah suaminya tidak terlalu

jauh sehingga memudahkan Ds untuk sering pulang kerumah keluarganya.

Ds mengaku bahwa dirinya sangat senang dapat dengan bebas pulang

kerumahnya. Hal itu dikarenakan suami dan keluarga suaminya tidak

mempermasalahkan dan membiarkan Ds untuk kapanpun pulang

kerumahnya. Dspun juga diijinkan untuk menginap di rumah keluarganya

asalkan Ds dapat mengatakan sebelumnya kepada suami dan keluarga

suaminya agar tidak mengkhawatirkan.

Sejak Ds menikah dengan suaminya dan keluar dari lingkungan

kastanya, Ds tidak terlalu merasa ada perbedaan. Hal itu dikarenakan

lingkungan dari keluarga suaminya tetap meghormati Ds dan bersikap sopan

dengan Ds. Hal itu dijelaskan Ds bahwa jika keluarga suami Ds berbicara

dengan orang-orang dari keluarganya dan setara denganya atau sama-sama

jaba wangsa, keluarga suaminya akan menggunakan bahasa kasar atau

bahasa madya (bahasa yang tidak terlalu kasar dan bahasa tidak terlalu

halus). Akan tetapi jika berbicara dengan Ds dan anaknya, keluarga

suaminya dan orang-orang di lingkungan suaminya akan menggunakan

bahasa halus dan lebih sopan kepada Ds dan anaknya. Dalam keseharian Ds

menggunakan bahasa halus jika berbicara dengan keluarganya ataupun

orang-orang di sekitarnya.

Dilingkungan bermasyarakat, Ds belum diijinkan oleh keluarga

suaminya untuk ikut berbaur dalam bermasyarakat. Ds mengatakan bahwa

mertua Ds merasanya masih mampu dan bisa melakukan hal-al yang ada di

masyarakat misalya membantu dalam proses upacara adat. Mertua Ds

mengatakan bahwa Ds di rumah saja mengurus anaknya dan fokus dalam

kuliahnya. Hal itu dirasa wajar oleh Ds karena Ds dapat segera

menyelesaikan studinya dan dapat mengurusi kedua anaknya. Oleh karena

itu, sampai sekarang Ds belum masuk dalam kegiatan-kegiatan

bermasyarakat dan Ds menjadi tidak mengenal orang-orang di

lingkungannya. Ds merasa bahwa sampai saat ini Ds tidak mengenal

orang-orang dilingkungannya. Hal itu dikarenakan Ds jarang bersosialisasi karena

Ds sibuk dengan studinya dan mengurusi anaknya. Ds hanya mengetahui

orang-orang yang pernah datang kerumahnya untuk bertemu mertuanya

saja.

3. Subjek 3

a. Deskripsi subjek

Subjek ketiga dalam penelitian ini adalah perempuan berinisial Id. Id

merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya. Perempuan yang lahir di

Sanur, pada tanggal 22 januari 1989 ini memiliki perawakan yang besar

dengan tinggi sekitar 169 cm dan berat badan sekitar 65 kg. Saat ini Id

yang berkulit coklat ini memiliki seorang anak laki-laki. Id memiliki pribadi

yang ramah dan cukup terbuka. Hal itu dikarenakan pada saat wawancara Id

tidak malu atau merasa enggan untuk mengakui bagaimana sikap dan

kenyataan yang telah dihadapinya berkaitan dengan kehidupannya dalam

lingkungan barunya.

Perempuan yang telah menikah selama 2 tahun ini kini tinggal

bersama suami, anak dan mertuanya. Didalam lingkungannya Id termasuk

anak yang pendiam dan tidak banyak bersosialisasi. Hal itu diakui Id pada

saat diwawancara karena Id merasa malas untuk membangun pembicaraan

dengan orang yang tidak ia kenal.

b. Gambaran umum mengenai pernikahan turun kasta yang dilakukan subjek 3

(Id)

Subjek ke tiga ini menikah dengan suaminya dikarenakan hamil. Hal

itu membuat keluarga besarnya kecewa ditambah Id hamil dengan orang

yang kastanya dibawah mereka. Hal itu membuat Id susah mendapat restu

dari keluarga besarnya. Id sangat sulit mendapatkan restu dari keluarga

besarnya sampai mertuanya pada saat itu harus membawa temannya untuk

membantu mertua Id dalam acara pelamaran. Saat itu suasana sangat tegang

dan Id sampai sekarang tidak mendapatkan restu dari kakeknya. Walau ibu

dan ayah Id telah akhirnya memberikan restu namun saat itu tidak

sepenuhnya restu itu diberikan. Pemberian restu untuk menikah

semata-mata untuk anak Id yang harus lahir dan memiliki orang tua. Akan tetapi,

kakek dan keluarganya yang lain masih belum memberikan Id restu dan

sampai sekarang keluarga besar Id masih melihat Id sebelah mata karena Id

menikah dengan jaba wangsa.

Saat Id pacaran dengan suaminya kini, Id memang sudah tidak direstui

oleh keluarganya. Selain itu, Id juga sudah dijodohkan dengan laki-laki

yang masih ada hubungan keluarga dengan keluarganya walaupun masih

terhitung keluarga jauh. Hal itu mungkin yang membuat Id berbuat nekat

dengan suaminya kini. Id merasa tidak ingin dinikahkan dengan laki-laki

yang tidak ia suka dan cintai. Id pun mengakui bahwa lebih baik dia dengan

suminya kini dibandingkan harus menikah dengan laki-laki pilihan orang

tuanya tersebut. Akhirnya Id menikah dengan suaminya kini walau restu

tidak sepenuhnya didapatkannya.

Id tidak menyesal dengan keputusan yang telah diambilnya. Id

menikmati setiap apapun yang ia lakukan walau Id harus susah beradaptasi

dengan lingkungannya yang baru. Id merasa harus lebih bisa belajar untuk

memahami lingkungan disekitarnya untuk mendapatkan kenyamanan

bersama antara dirinya, lingkungan dan keluarganya. Terkadang Id merasa

sedih karena sikap yang diterimanya dahulu dan sekarang sangatlah

berbeda. Id merasa dulu sangat jarang melakukan pekerjaan rumah namun

kini setelah menikah Id harus bisa melakukan pekerjaan rumahnya sendiri.

Selain itu, Id juga merasa bahwa orang-orang dilingkungannya sekarang

lebih kasar dalam hal berbicara. Hal itulah yang terkadang membuat Id tidak

berada dilingkungan yang orang-orangnya menggunakan bahasa halus

dalam berbicara. Akan tetapi, Id merasa dirinya harus bisa terbiasa dengan

hal tersebut dan berusaha untuk belajar mengerti dan memahami keadaan

yang ada.

Id mengaku bahwa dirinya adalah orang yang sudah dalam memulai

sebuah pembicaraan sehingga pada saat ada kesempatan untuk berbaur dan

bersosialisasi dengan lingkungannya yang baru Id malah menutup diri dan

memilih diam tidak berbicara. Selain itu jika id di ajak ke banjar untuk

nguwopin (bantu-bantu), Id memilih untuk diam di rumah dan tidak

mengikuti mertuanya ke banjar. Id mengakui bahwa ia juga malas dan lebih

banyak pekerjaan rumah yang dilakukan mertuanya uintuk membantu Id.

C. Rangkuman Tema Temuan Penelitian

Dokumen terkait