PAPARAN DAN ANALISI DATA A.Paparan Data
4. Profil Subjek Penelitian 1.Keluarga Bapak JM 1.Keluarga Bapak JM
Bapak JM adalah warga RT 09 RW 03 Dusun Tegalombo, Blotongan Salatiga. Beliau mempunyai tiga putri, dua diantaranya sudah menikah dan yang satu masih duduk di bangku kelas VIII SMP, bapak JM juga sudah memiliki 2 orang cucu. Kedua anak gadisnya menikah saat usianya masih muda, yakni putri pertama 20 tahun dan putri keduanya yang baru menginjak 19 tahun. Meskipun usianya kini sudah terhitung tidak muda lagi, namun semangatnya untuk tetap mencari nafkah sebagai buruh serabutan masih tetap ada, beliau juga
54
beternak ayam agar dapat memiliki penghasilan tambahan. Salah satu alasan beliau untuk tetap semangat mencari nafkah adalah karena putri bungsunya yakni RP yang masih membutuhkan biaya untuk sekolah, dan bapak JM juga berharap agar masa depan RP jauh lebih baik dari beliau dan kedua kakaknya.
Beliau sempat menuturkan bahwa, meskipun istrinya mengirim uang dari hasil sebagai TKW, namun beliau tidak menggantungkan sepenuhnya kebutuhan keluarga pada istrinya. Beliau tidak mau hanya bersantai menikmati hasil kerja istrinya. Bapak JM juga mengatakan jika sebenarnya sudah sangat lama tidak berkomunikasi dengan istrinya. Istri bapak JM sering menelpon ke rumah, namun beliau menyuruh anaknya yang bicara. Ternyata, saat anaknya menikah, istrinya tidak pulang.
Beliau adalah seorang lelaki paruh baya yang tegar, dalam kondisi rumah tangganya yang sebenarnya tidak begitu baik dikarenakan istri yang tak kunjung pulang, beliau tidak ambil pusing. Saat ini, yang beliau inginkan adalah anak bungsunya yakni RP, bisa menyelesaikan sekolahnya dan memiliki perilaku yang baik. Bagi bapak JM, mendidik putri-putrinya adalah yang utama, beliau tidak mau membuat putrinya bersedih dengan menunjukkan kekecewaan beliau terhadap istrinya. Beliau juga berusaha menjaga kerukunan dan keakraban dengan RP. serta mendidik RP dengan kasih sayang,
55
namun tetap menegur bahkan menghukum RP jika RP berbuat kesalahan dan dirasa kesalahan itu patut untuk diberi hukuman. 2. Keluarga Bapak HT
Bapak HT adalah seorang karyawan swasta yang memiliki 2 orang anak, seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dan seorang anak perempuannya yaitu IAP yang berusia 14 tahun. Bapak HT menjadi orang tua tunggal dalam mendidik anaknya sejak IAP duduk dibangku kelas III SD, kini IAP sudah kelas 1X di salah satu SMP Negeri di Salatiga.
Bapak HT mengaku mengizinkan istrinya menjadi TKW karena faktor ekonomi, meski pada awalnya beliau merasa sangat keberatan karena kasihan dengan anak-anaknya. Beliau mengaku bahwa kebutuhan rumah tangga dan biaya untuk anaknya sekolah menjadi terpenuhi ketika istrinya menjadi TKW di Hongkong, karena pada saat istrinya masih di rumah, semua kebutuhan rumah tangga dan biaya untuk anaknya sekolah dirasanya belum cukup, dapat dikatakan pas-pasan.
Lelaki berusia 41 tahun tersebut menjelaskan bahwa meskipun istrinya menjadi TKW, namun komunikasi antara istri dan anak-anaknya, juga dengan dirinya selalu lancar. Bahkan, sampai sering telepon dari istrinya tersebut tidak terangkat karena beliau sedang sibuk bekerja. Istrinya tetap menjaga komunikasi dengan keluarga di rumah, saat istrinya pulang pun, ia selalu mengajak anak-anaknya
56
untuk berlibur bersama. Bapak HT sangat bersyukur, karena meskipun istrinya pulang 2 tahun sekali, namun keberadaan istrinya di rumah selama kurang lebih sebulan membuat dirinya dan anak-anaknya bahagia. Rasa rindu anak-anaknya terobati, walaupun anak bapak HT yang kecil sering merengek saat ibunya akan kembali bekerja ke Hongkong.
Bapak HT tidak pernah menutupi sesuatu dari istrinya, hal baik atau kurang baik yang dilakukan anak-anaknya selalu beliau sampaikan pada istri. Beliau berpendapat, bahwa istri sekaligus ibu dari anaknya tersebut haruslah tetap ikut andil dalam mendidik anaknya. Karena, bagi beliau meskipun istri bekerja sebagai TKW, namun nurani seorang ibu harus tetap berjalan. Beliau tidak mau sampai anaknya kehilangan kasih sayang seorang ibu sepenuhnya. Bapah HT berharap istrinya akan terus ikut mendidik anaknya, salah satunya adalah ikut menasehati agar IAP selalu mengalah dengan adiknya saat bertengkar dan mengingatkan anak-anaknya untuk belajar dengan rajin.
3. Keluarga Bapak RS
Bapak RS adalah suami dari ibu RB, mereka sudah membina rumah tangga selama 26 tahun, dan dikaruniai empat orang anak, anak terakhir pasangan suami istri ini adalah SAP yang berusia 12 tahun. Ibu RB sudah 8 tahun menjadi TKW di Malaysia, sejak SAP berusia 4 tahun. Alasan bapak RS mengizinkan ibu RB menjadi seorang TKW
57
tentunya karena persoalan keuangan. Gaji yang diterima bapak RS tidaklah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan dan biaya anak-anaknya, apalagi pada saat itu keempat anaknya masih bersekolah. Kini, anak pertama dan kedua bapak RS sudah menikah, hanya tinggal anak ketiga dan si bungsu SAP, yang masih sepenuhnya menjadi tanggung jawab bapak RS.
Bapak RS merupakan warga asal Grobogan yang menetap di Desa Blotongan sejak menikah dengan ibu RB. Pekerjaan bapak RS adalah sopir, beliau sering mendapat tugas untuk mengirim barang ke Yogyakarta, Semarang, dan Pacitan. Saat SAP libur sekolah, beliau sering mengajaknya untuk mengirim barang sekaligus sekedar jalan-jalan. Namun, hal tersebut dilakukan jika jarak yang ditempuh dekat, karena bapak RS merasa kasihan jika nantinya SAP terlalu lelah.
Bapak RS menyadari jika SAP kekurangan kasih sayang dari ibunya, untuk itu beliau selalu menjaga agar hubungan dengan anak-anaknya, terutama dengan SAP tidak renggang. Sebagai seorang ayah, beliau tahu bahwa SAP menginginkan keberadaan ibunya di rumah. Walaupun SAP adalah anak laki-laki, namun bapak RS tidak menutupi bahwa SAP juga sesekali merasa minder dengan teman-temannya karena ditinggal ibunya menjadi TKW di Malaysia. SAP pernah menuturkan bahwa teman-temannya beruntung karena ibu mereka bisa datang ke sekolah untuk menghadiri rapat atau mengambil raport. Bagi bapak RS hal tersebut sangatlah wajar,
58
mengingat saat ibunya menjadi TKW usia SAP saat itu baru 4 tahun. Namun, kini SAP sudah bisa lebih paham dengan kondisi keluarganya. Ia sudah jarang menunjukkan kesedihan di hadapan ayah dan kakaknya, ia juga sudah tidak pernah mengeluh karena ditinggalkan ibunya menjadi TKW. Bapak RS menilai tindakan SAP lantaran istrinya yang selalu memberi nasehat dan penjelasan kepada SAP. Beliau berharap agar istrinya selalu menjaga komunikasi dengan keluarga, ikut menasehati, dan mengingatkan anak-anaknya agar memiliki akhlak yang baik.
4. Keluarga Bapak SY
Bapak SY lahir pada 6 Juni 1972, beliau warga asli Desa Blotongan, pekerjaan beliau serabutan. Bapak SY dan istrinya masih memiliki tanggung jawab untuk menyekolahkan anak kedua dan ketiga mereka. Anak kedua bapak SY tahun ini akan memasuki jenjang SMA, sedangkan anak bungsunya masih duduk di bangku kelas VI SD.
Salah satu alasan istri bapak SY menjadi TKW selain faktor ekonomi, adalah karena yang mengajak istri beliau merupakan saudaranya sendiri. Sehingga, harapan memperoleh pendapatan yang lebih menunjang dari sebelumnya akan terpenuhi dengan perasaan yang mantap.
Bapak SY tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti dalam mendidik akhlak anaknya. Beliau berpendapat, ketiga anaknya
59
paham bagaimana menjadi orang tua tunggal, sehingga anak-anak beliau terutama anak kedua, yakni DAA tidak pernah berulah. DAA adalah anak yang sedikit pendiam, dia tidak pernah keluar rumah kecuali sekolah ataupun ada hal penting lainnya. Bapak SY tidak pernah menekan anak-anaknya, beliau memberi kebebasan pada mereka, namun kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan dimana anak bebas melakukan hal yang buruk.
Hal tersebut sudah menjadi komitmen beliau dan istrinya, istri bapak SY selalu mengingatkan agar jangan sampai anak-anak kehilangan kasih sayang dan perhatian dari beliau. Meskipun sang istri sekarang hanya bisa memberikan nasehat pada anaknya dari jarak jauh, namun setidaknya hal tersebut bisa dimaklumi oleh anaknya.
Selama menjadi TKW, istri bapak SY setiap hari selalu menyempatkan telepon anaknya di rumah, saat pekerjaannya sudah selesai. Istri bapak SY selalu menjaga komukasi dengan baik, menanyakan tentang kegiatan yang dilakukan anaknya, dan menasehati agar tidak terjerumus pada hal yang buruk.
5. Keluarga Bapak MS
Bapak MS menikah pada tahun 1999, pekerjaan beliau adalah sebagai tukang parkir di salah satu toko busana di Salatiga. Istri bapak MS sudah 12 tahun bekerja sebagai TKW di Arab, setiap 2 tahun sekali istrinya cuti selama 3 bulan di rumah.
60
Alasan istrinya menjadi TKW adalah karena pada waktu itu bapak MS dan istrinya ingin memiliki rumah, dengan modal tekad, istri beliau berinisiatif bekerja di luar negeri. Meskipun, pada awalnya beliau keberatan karena anak mereka yakni DU masih 5 tahun, namun akhirnya beliau tetap mengizinkan istrinya dan mendoakan agar istrinya selalu sehat, serta tidak melupakan keluarganya.
Komunikasi yang terbina antara beliau dan istrinya tetap lancar, bahkan saat teknologi belum canggih seperti sekarang, sekedar untuk bertukar kabar, dahulu beliau dan istrinya selalu berkirim surat. Beliau bersyukur karena memiliki istri yang setia, bahkan di tengah kesulitan ekonomi yang pada waktu dialami rumah tangganya, dengan segala kerendahan hati, istrinya bersedia untuk menjadi TKW demi merubah nasib mereka. Istrinya akan pulang dalam waktu dekat, dan rencananya tidak akan kembali menjadi TKW.
Bapak MS mengaku tidak terlalu kesulitan dalam mendidik anaknya, karena DU yang kini berusia 17 tahun sudah memiliki perilaku yang mandiri dan dapat diandalkan. DU adalah anak yang mudah dinasehati, walaupun ia ditinggalkan ibu dari usia 5 tahun, namun DU tidak lantas terpuruk, ia bisa hidup dan bergaul layaknya anak-anak lain yang didampingi orang tua lengkap.
61 5. Temuan Penelitian
Setelah dilakukan observasi dan wawancara terhadap keluarga TKW di Desa Blotongan Salatiga, ditemukan bagaimana peran ayah sebagai orang tua tunggal dalam mendidik akhlak anak sebagai berikut: a. Upaya ayah sebagai orang tua tunggal dalam mendidik akhlak anak
pada keluarga TKW.
Keberadaan seorang ibu dalam keluarga sangatlah penting, tugas mendidik akan menjadi sangat berat apabila hanya dilakukan oleh seorang ayah saja, namun adanya alasan lain membuat si ibu harus rela berjauhan dengan keluarganya. Peran seorang ayah yang akhirnya menjadi orang tua tunggal dalam mendidik sangatlah dibutuhkan.
Dalam hal ini, terkait dengan adanya beberapa pertimbangan, penulis memaparkan beberapa upaya yang dilakukan ayah sebagai orang tua tunggal dalam mendidik anak pada keluarga TKW sebagai berikut:
1) Mengajarkan sholat.
Sholat adalah tiang agama, layaknya bangunan yang akan runtuh tanpa tiang, hidup manusia juga pasti akan mengalami hal serupa jika tidak melaksanakan sholat. Orang tua perlu mendidik anak agar senantiasa melaksanakan sholat lima waktu, karena pada saat sholat, seorang hamba akan merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Bagi orang tua yang paham akan hal tersebut,
62
ditengah kesibukan para ayah dalam bekerja, mereka akan tetap melaksanakan dan mengingatkan anak-anaknya untuk sholat. Namun, dalam hal ini, orang tua tidak sepenuhnya mengajarkan anak sholat, karena anak pada keluarga TKW tersebut ikut TPQ dan juga guru PAI di sekolah yang ikut berperan untuk mengajarkan anak sholat.
2) Mengajarkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam,
membaca Al-Qur’an dapat membuat gundah gulana dalam hati menjadi sirna, Al-Qur’an juga sebagai penyejuh hati bagi pembacanya. Dalam hal ini, para ayah memasukkan anaknya ke dalam TPQ, dengan harapan anak-anak akan lebih rajin dan fasih dalam membaca Al-Qur’an. Selain itu, ilmu agama anak juga akan bertambah. Hal ini berdasarkan wawancara dengan ayah pada keluarga TKW berikut ini:
Penuturan bapak JM:
“Saya pasrahkan ke TPA mbak, yang penting saya sebagai bapak ya ingatkan biar rajin ngaji mbak, ngajinya di langgar situ.”
Penuturan bapak JM juga diperkuat dengan jawaban RP sebagai berikut:
“Dulu sih sering diajari bapak mengaji, kalau sekarang
nggak pernah. Paling sekarang mengingatkan jangan lupa
TPA. Perhatian mbak dari dulu ngajinya, sholatnya, ngajinya di mushola situ. Soalnya kalau pas bapak pulang kerja kok saya di rumah nggak ngaji, ditakutin paginya
63
Bapak HT, RS, SY, dan MS juga melakukan hal yang sama. Demi bekal di akhirat anak kelak, mereka menyuruh anaknya untuk belajar Al-Qur’an di TPQ dan supaya ilmu agama yang dimiliki semakin baik.
3) Mengajarkan agar anak selalu berbuat baik kepada orang tua. Memiliki anak yang berbakti kepada kedua orang tentunya sudah menjadi harapan mereka. Para ayah yang mendidik seorang diri tentu menginginkan bahwa anak yang mereka didik dan asuh selalu hormat dan berbuat baik kepada orang tua. Peneliti beranggapan, bahwa anak para TKW tetap berbuat baik pada orang tua, terutama kepada ayah yang telah mencurahkan kasih sayang karena anak para TKW tersebut selalu diajarkan untuk ingat bagaimana perjuangan orang tua, apalagi si ibu yang harus rela berjauhan dengan keluarga demi membantu meringankan beban ayahnya. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dengan bapak JM sebagai berikut:
“Ya kalau berbuat baik kepada orang tua sudah jadi kewajiban anak mbak, saya nggak menuntut anak berbuat baik sama orang tua yang bagaimana-bagaimana, yang penting dia kalau dibilangin nggak mbantah, nggak melawan gitu saja saya sudah seneng. Saya kasih pengertian kalau jadi orang tua tunggal seperti saya itu berat, biar dia bisa sedikit-sedikit membayangkan kalau ada anak berbuat jelek ke orang tua itu pasti menyakiti hati orang tuanya. Saya suruh kalau sama ibunya yang menghormati, kalau pas dinasehati ya dengarkan
64
Hal ini diperkuat dengan jawaban dari anak bapak JM, yaitu RP berikut ini:
“Disuruh selalu mengormati dan nggak mbantahan mbak kalau sama ibu dan bapak, sudah jauh-jauh ibu pergi sampai sana. Kata ibu juga suruh menjaga pikiran bapak kan sudah tua, kasian nanti kalau saya berani sama orang tua malah bapak bisa saja sakit hati.”
Hal yang sama diungkapkan bapak HT:
“Tentu diajarkan berbuat baik sama orang tua, harus berbakti, rugi sendiri mbak-mbak kalau nggak berbuat baik sama orang tua itu. Kan itu ladang pahalanya anak juga. Ada juga kan anak yang dulunya dibilangin orang tua malah mbantah, bahkan melawan sama orang tuanya, baru sekarang menyesal karena orang tua sudah meninggal. Menurut saya nggak tau diri kalau ada seorang anak kok kalau masih punya orang tua tapi nggak dibaik-baikin. IAP saya didik untuk hormat sama orang tua, terutama sama ibunya, biarpun jauh tapi kalau ibu kasih nesehat jangan
dibantah.”
IAP sebagai putri bapak HT juga menjawab sebagai berikut:
“Diajarkan mbak, nggak boleh mbantah omongan orang tua, harus sayang sama ibu, bapak, adik.”
Mendidik anak agar selalu berbuat baik pada orang tuanya juga diajarkan oleh bapak RS, SY, dan MS pada anak-anak mereka, terbukti dengan wawancara sebagai berikut:
Penuturan bapak RS:
“Saya wanti-wanti mbak, kalau nggak manut brati anak nakal. Saya didik untuk selalu menghargai dan nanya kabar ibunya. Sekarang kan umurnya 12 tahun, sudah nggak cengeng lagi kalau ibunya pergi, masa anak laki-laki kok mau cengeng terus.”
65
Hal ini diperkuat dengan jawaban SAP yang mengatakan bahwa:
“Iya mbak, bapak bilang kalu nggak boleh berani sama orang tua. Disuruh angkat telepon ibu lalu menanyakan ibu sudah makan belum, jaga kesehatan, yang begitu mbak. Disuruh juga kalau mainan sepeda jangan jauh-jauh, tapi saya kadang ngeyel mbak, diajak teman sampai jauh
kadang.”
4) Mengajarkan anak agar berbuat baik kepada siapapun.
Berbuat baik pada orang lain perlu diajarkan pada anak sejak dini. Karena, manusia bukanlah makhluk individu, suatu saat kebaikan yang dilakukan pasti akan mendapat balasan, tentunya bernilai pahala. Hal ini diajarkan para ayah terhadap anak-anaknya, mereka mengajarkan agar anak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana wawancara dengan bapak JM, HT, RS, SY, MS beserta anak mereka berikut ini:
Penuturan bapak JM tentang berbuat baik pada siapapun:
“Iya. Kalau ada yang butuh bantuan tak suruh membantu
mbak, berbuat baik tidak ada ruginya.”
Dibuktikan oleh penuturan RP:
“Iya mbak, bapak mengajarkan. Suruh baik sama tetangga, rukun sama teman, begitu mbak.”
Bapak HT juga mengajarkan agar anaknya berbuat baik pada orang lain, sebagaimana wawancara dengan bapak HT, beliau menuturkan:
“Ya, perlu mbak, perlu itu. Saya ajarkan supaya rukun sama tetangga, sopan sama yang lebih tua. Apalagi tetangga yang rumahnya saja jaraknya sangat dekat-dekat begini.”
66
IAP juga mengatakan bahwa ayahnya menyuruh untuk berbuat baik, dibuktikan dengan wawancara sebagai berikut:
“Saya disuruh baik kalau sama orang lain, kalau ada tetangga yang mau minta bumbu untuk masak saya kasih mbak.”
Hal yang sama juga dilakukan bapak RS pada SAP, dengan penuturan sebagai berikut:
“SAP saya didik untuk peduli sama sesama mbak, apalagi tetangga yang hampir semua masih saudara, namanya juga
orang ndeso mbak, harus guyub.”
Diperkuat dengan jawaban SAP berikut ini:
“Diajarkan kok mbak, disuruh kalau sama tetangga yang sopan, kalau ngomong jangan keras-keras. Kalau sama
teman juga disuruh rukun, jangan berantem sama teman.”
Bapak SY juga mengajarkan agar anaknya peduli dengan orang lain, sebagaimana penuturannya berikut:
“Oh, iya mbak. Saya contohi juga berbuat baik kalau nggak bisa bantu uang ya tenaga, kalau masih nggak bisa ya bantu doa, gitu saja sih. Contoh kecilnya ya berbuat baik sama tetangga lah, saya kalau masak banyak gitu depan rumah itu juga kadang saya kasih daripada mubadzir. Inshaallah sudah saya ajarkan dan contohi
untuk berbuat baik sama orang lain.”
Diperkuat dengan jawaban DAA berikut ini:
“Bapak menasehati biar peduli sama orang lain, kalau sama teman nggak boleh pelit. Kadang kalau pulang sekolah teman saya kesini, disuruh bapak makan sama-sama mbak.”
Tidak terkecuali bapak MS, hal tersebut juga rupanya beliau lakukan, sebagaimana penuturan beliau berikut ini:
“Saya ajari mbak, sama teman yang rukun. Siapapun butuh
67
DU juga mengatakan bahwa ayahnya mengajarkan kebaikan terhadap sesama, berdasarkan wawancara dengan DU berikut:
“Iya mbak, diajarin bapak saya. Suruh rukun sama teman
di sekolah. Kalau sama guru juga yang manut.”
5) Memberi kasih sayang dan hukuman.
Di tengah kondisi keluarga yang seperti ini, kasih sayang seorang ayah sangatlah dibutuhkan, selain membuat anak dekat dengan ayah, ia juga akan merasa diperhatikan dan tidak sepenuhnya kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Namun, kasih sayang yang berlebihan dan terlalu memanjakan anak justru dapat menjadikan anak tidak mandiri dan tidak berkembang, untuk itu pemberian hukuman memang perlu adanya. Tidak bermaksud menyakiti, hukuman haruslah bersifat mendidik dan tetap bermaksud menyadarkan anak dari kesalahannya. Berdasarkan wawancara, peneliti menemukan bahwa para ayah sangatlah menyayangi anaknya, namun agar tidak terlena, pemberian hukuman dianggap perlu jika memang kesalahan tersebut patut diberi hukuman, berikut adalah wawancara tentang pemberian kasih sayang dan hukuman pada anak:
Cara mendidik bapak JM selain melalui kasih sayang, ternyata beliau juga pernah menghukum RP dengan membanting
68
handphone RP karena kesal anaknya tersebut berlebihan dalam
bermain handphone, berikut ini adalah penuturannya:
“Sayang sih sayang mbak, tapi menghukum juga pernah. Waktu itu saya menghukumnya hp sampai saya banting. Lha dia main hp terus. Dinasehati baik-baik nggak gagas kok waktu itu.”
Dibenarkan dengan adanya jawaban dari RP sendiri:
“Kasih sayang bapak buat saya sudah cukup mbak, ibu sudah lama nggak pulang. Dari kecil saya tinggalnya sama mbak, sama bapak. Jadi, saya dimarahi gitu ya sama mbak dan bapak saya. Tapi waktu mbak-mbak saya menikah tinggalnya jadi sama bapak tok. Dulu hp saya pernah dibanting bapak mbak, saya dimarahi mainan hp terus.”
Bapak HT dalam mendidik anaknya juga melalui kasih sayang dan hukuman, terbukti dengan wawancara berikut ini:
“Iya. Sangat sayang, itungannya saya juga memanjakan,
dia minta apa gitu kalau saya ada rezeki pasti saya turuti. Kalau marah gitu saya juga ada sebabnya, kalau pun sampai menghukum paling tak jewer.”
Hal yang sama juga diungkapkan oleh IAP:
“Iya mbak, bapak nggak cuek. Dipeluk-peluk kalau lagi