• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Umum Rumah Tangga Sampel STK Tahun 2014 di DIY

Dalam dokumen INDEKS TENDENSI KONSUMEN (Halaman 41-47)

7. Penentuan Penimbang Indeks Indikator Kini (IIK) dan Mendatang (IIM)

4.1. Profil Umum Rumah Tangga Sampel STK Tahun 2014 di DIY

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) dihitung untuk memperkirakan gerak perekonomian berdasarkan informasi dini konsumen (rumah tangga) melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). Pelaksanaan STK dilakukan secara terintegrasi dengan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) setiap 3 (tiga) bulan sekali dalam setahun. STK 2014 di wilayah DIY dilakukan di seluruh kabupaten/kota terutama di wilayah yang berstatus perkotaan dan respondennya merupakan sub-sampel dari Sakernas. Pemilihan sampel dilakukan secara panel antartriwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antarwaktu.

Target sampel STK tahun 2014 di DIY sebanyak 400 rumah tangga yang tersebar di 40 blok sensus di lima kabupaten/kota. Tingkat pemasukan dokumen (response rate) survei antar triwulan selama tahun 2014 berfluktuasi pada kisaran 79-90 persen dan sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2013 yang berada pada kisaran 83-91 persen. Secara rata-rata, tingkat pemasukan dokumen selama tahun 2014 hanya mencapai 86 persen. Perkembangan pemasukan dokumen antar triwulan menunjukkan pola yang cenderung menurun, karena metode pencacahan dilakukan secara panel pada rumah tangga yang sama. Response yang rendah umumnya terjadi di kawasan perkotaan terutama pada responden yang status tempat tinggalnya sewa dan indekost. Kebanyakan dari responden ini merupakan rumah tangga tunggal (ART hanya 1 orang) yang berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Mobilitas rumah tangga tunggal ini sangat tinggi dan biasanya mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal dalam jangka pendek. Tingginya mobilitas ini berpengaruh pada rendahnya tingkat pemasukan dokumen survei, karena pada saat pencacahan banyak dari mereka sudah berpindah tempat atau sedang tidak berada di tempat karena liburan.

32 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Sampel STK dikategorikan menjadi dua golongan berdasarkan rata-rata pendapatan yang diterima rumah tangga selama sebulan. Golongan pertama adalah rumah tangga memiliki pendapatan kurang dari 2 juta rupiah per bulan sebagai representasi rumah tangga yang berpendapatan rendah. Sementara, golongan yang kedua merupakan rumah tangga yang memiliki pendapatan per bulan sebesar 2 juta rupiah atau lebih sebagai representasi dari rumah tangga yang berpendapatan menengah ke atas.

Dalam kegiatan pencacahan STK 2014, distribusi rumah tangga sampel pada golongan berpendapatan kurang dari 2 juta rupiah cenderung lebih dominan dibandingkan dengan rumah tangga yang berpendapatan menengah ke atas (Tabel 4.1). Proporsi sampel rumah tangga yang berpendapatan kurang dari 2 juta rupiah sebulan berada pada kisaran 55-58 persen di setiap triwulan. Sementara, proporsi rumah tangga yang berpendapatan 2 juta ke atas berada pada kisaran 42-45 persen. Hampir sama dengan sebaran sampel tahun 2013, proporsi jumlah sampel rumah tangga berpendapatan menengah ke atas terbesar terjadi di triwulan III sebesar 44,31 persen.

Tabel 4.1.

Distribusi Rumah Tangga Sampel STK 2014 DIY menurut Golongan Pendapatan Rumah Tangga Sebulan dan Response Rate Dokumen (Persen)

Golongan Pendapatan Rumah Tangga Sebulan (Rp)

Triwulan

Tahun 2014 I II III IV

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kurang dari 2 Juta 57,10 57,82 55,69 56,33 56,76 2 Juta atau Lebih 42,90 42,18 44,31 43,67 43,24

Jumlah 100 100 100 100 100

Response Rate 89,75 89,50 85,75 79,00 86,00

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 33

Sebaran sampel rumah tangga STK2014 berdasarkan jumlah anggota rumah tangga menunjukkan bahwa proporsi terbesar dari rumah tangga merupakan rumah tangga dengan jumlah anggota sebanyak 4 orang yakni sebesar 24,3 persen. Berikutnya adalah rumah tangga dengan anggota sebanyak 3 dan 1 orang dengan proporsi masing-masing sebesar 21,1 persen dan 20,0 persen. Proporsi rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga 6 orang atau lebih berada di bawah 10 persen. Jika dilihat berdasarkan golongan pendapatannya, proporsi rumah tangga yang berpendapatan 2 juta rupiah ke atas semakin meningkat seiring dengan semakin banyak anggota rumah tangga. Rumah tangga yang hanya terdiri dari 1 anggota sebagian besar memiliki pendapatan di bawah 2 juta rupiah sebulan (81,8 persen). Sementara, rumah tangga dengan anggota 8 orang atau lebih memiliki pendapatan rumah tangga di atas 2 juta rupiah sebulan (100 persen).

Gambar 4.1.

Distribusi Responden STK2014 DIY menurut Jumlah Anggota Rumah Tangga dan Golongan Pendapatan Sebulan (Persen)

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

81.8 60.5 54.5 49.4 45.5 33.8 26.3 18.2 39.5 45.5 50.6 54.5 66.2 73.7 100.0 100.0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jumlah Anggota Rumah Tangga < 2 Juta >= 2 Juta

34 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Profil sampel rumah tangga STK2014 juga bisa dikaji dari sisi pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh kepala rumah tangga. Berdasarkan Tabel 4.2, mayoritas sampel rumah tangga STK 2014 dikepalai oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sederajat. Jika tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan dibagi menjadi dua kategori, SLTP ke bawah (berpendidikan rendah) dan SLTA ke atas (berpendidikan tinggi), maka proporsi kepala rumah tangga yang berpendidikan tinggi masih lebih dominan dengan proporsi di atas 57 persen.

Tabel 4.2.

Distribusi Responden STK 2014 DIY menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Kepala Rumah Tangga (Persen)

Pendidikan Kepala Rumah Tangga Triwulan Tahun 2014 I II III IV (1) (2) (3) (4) (5) (6) SD ke Bawah 27,30 30,17 29,45 30,70 29,36 SLTP Sederajat 12,81 13,13 13,12 14,56 13,37 SLTA Sederajat 43,18 41,34 38,48 34,81 39,61 Akademi 4,46 2,79 4,37 5,06 4,14 Sarjana dan Pascasarjana 12,26 12,57 14,58 14,87 13,52

Jumlah 100 100 100 100 100

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

Sebaran sampel rumah tangga STK2014 menurut triwulan juga menunjukkan bahwa rumah tangga yang dikepalai oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan SLTA selalu lebih dominan dengan proporsi antara 34,81-43,18 persen dan diikuti oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan SD ke bawah dengan proporsi 27,30 sampai 30,70 persen. Rumah tangga yang dikepalai oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan akademi ke atas juga cukup banyak dan berada pada kisaran 15-20 persen di setiap triwulan. Hal

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 35

yang perlu menjadi catatan adalah masih besarnya proporsi kepala rumah tangga yang berpendidikan SD ke bawah, karena hal ini bisa berpengaruh terhadap kualitas jawaban yang diberikan ketika yang bersangkutan dijadikan sebagai narasumber.

Tabel 4.3.

Distribusi Responden STK2014 DIY menurut Sumber Utama Pendapatan Rumah Tangga (Persen)

Lapangan Usaha Sumber Pendapatan Utama Rumah Tangga

Triwulan

I II III IV

(1) (2) (3) (4) (5)

Pertanian 7,52 6,70 7,58 8,86 Pertambangan dan Penggalian 0,28 0,56 0,29 0,32 Industri Pengolahan 10,03 9,22 11,66 12,03 Listrik, Gas dan Air 0,84 0,56 0,58 0,63 Konstruksi 6,13 8,38 6,71 6,96 Perdagangan, Hotel dan Restoran 20,33 18,99 18,66 18,99 Transportasi 3,34 3,07 2,33 1,27 Jasa Perusahaan 2,23 2,79 1,75 1,58 Jasa-jasa 24,51 23,18 23,62 23,73 Penerima Pendapatan 24,79 26,54 26,82 25,63

Jumlah 100 100 100 100

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

Distribusi persentase responden STK2013 menurut sumber utama penghasilan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 4.3. Berdasarkan tabel tersebut, mayoritas rumah tangga sampel STK 2014 memiliki sumber pendapatan utama dari kegiatan di sektor jasa-jasa dengan proporsi pada setiap triwulan di atas 23 persen dan diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor industri pengolahan dengan proporsi masing-masing di atas 18 persen dan 9 persen pada setiap triwulan. Sumber pendapatan utama rumah tangga yang berasal dari sektor lainnya relatif

36 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

rendah dan berada di bawah 10 persen. Hal ini terjadi karena kegiatan survei ini memang didesain di daerah perkotaan yang mayoritas penduduknya memiliki aktivitas bekerja pada lapangan usaha di sektor industri pengolahan, perdagangan, jasa-jasa.

Sementara, jumlah rumah tangga sampel yang berstatus sebagai penerima pendapatan masih relatif masih besar. Proporsi setiap triwulannya berada pada kisaran 24-27 persen. Kelompok penerima pendapatan pada umumnya terdiri dari rumah tangga tunggal yang berstatus seagai mahasiswa atau pelajar yang tinggal secara indekost atau sewa, para pensiunan dan rumah tangga tunggal yang anggota rumah tangganya sudah berusia lanjut (tua) dan masih mengandalkan transfer/kiriman pendapatan dari anak/famili lain untuk kelangsungan hidupnya. Masih besarnya proporsi kelompok ini cukup berpengaruh terhadap menurunnya tingkat pemasukan dokumen (response rate), karena pada umumnya mobilitas responden terutama yang statusnya kost/sewa cukup tinggi dan cukup sulit untuk ditemuai pada saat masa liburan. Di samping itu, jawaban-jawaban yang diberikan oleh responden terkait dengan perkembangan pendapatan yang diterima selama triwulan berjalan maupun satu triwulan ke depan, pola konsumsi komoditas makanan dan bukan makanan maupun rencana pembelian barang tahan lama cenderung statis atau tidak mengalami perubahan antartriwulan serta ada indikasi jawaban yang diberikan oleh responden juga cenderung homogen.

Responden STK2014 yang berstatus bekerja dibedakan menjadi dua kategori, yaitu berusaha dan buruh/karyawan/pegawai. Berdasarkan status pekerjaan utamanya, proporsi responden yang berstatus buruh/karyawan/ pegawai selalu lebih dominan dari responden yang berstatus berusaha selama triwulan I sampai triwulan IV 2014. Jumlah responden yang berstatus sebagai buruh berada pada kisaran 53-59 persen. Sebagian besar diantara mereka

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 37

memiliki pendapatan sebulan lebih dari 2 juta rupiah. Sementara, responden yang berstatus berusaha memiliki proporsi yang bervariasi antara 41-47 persen.

Tabel 4.4.

Distribusi Responden STK2014 DIY yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama Kepala Rumah Tangga (Persen)

Status Pekerjaan Utama KRT Menurut Pendapatan Sebulan (Rp) Triwulan I II III IV (1) (2) (3) (4) (5) (6) Berusaha < 2 Juta 26,30 26,42 27,60 27,78 >= 2 Juta 18,52 14,72 16,80 18,80 Jumlah 44,81 41,13 44,40 46,58 Buruh/Karyawan/Pegawai < 2 Juta 25,19 26,79 24,80 27,78 >= 2 Juta 30,00 32,08 30,80 25,64 Jumlah 55,19 58,87 55,60 53,42 Berusaha+Buruh/Karyawan/Pegawai 100 100 100 100

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

Dalam dokumen INDEKS TENDENSI KONSUMEN (Halaman 41-47)

Dokumen terkait