• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDEKS TENDENSI KONSUMEN"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

INDEKS

TENDENSI

KONSUMEN

Daerah Istimewa Yogyakarta

2014

Katalog BPS : 1101002.34

BADAN PUSAT STATISTIK

PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

(2)
(3)

INDEKS

TENDENSI

KONSUMEN

Daerah Istimewa Yogyakarta

2014

BADAN PUSAT STATISTIK

PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

(4)

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2014

ISBN : No. Publikasi : 34553.15.02 Katalog BPS : 9202001.34 Ukuran Buku : 18,2 cm X 25,7 cm Jumlah halaman : 70 Naskah :

Bidang Neraca Wilayah dan Analisis

Gambar Kulit :

Bidang Neraca Wilayah dan Analisis

Diterbitkan oleh :

Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya

(5)

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

2014

Tim Penyusun

Penanggung Jawab/Pengarah : Y. Bambang Kristianto, MA

Editor : 1. Mainil Asni, SE, ME

2. Mutijo, S.Si, M.Si

Penulis : 1. Waluyo, SST, SE, M.Si.

2. Gita Oktavia, S.Si

Pengolah Data/Tabel : Waluyo, SST, SE, M.Si.

(6)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(7)

KATA PENGANTAR

Informasi dini yang terkait dengan persepsi pelaku konsumsi terhadap situasi perekonomian menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi semua pihak. Informasi dini tersebut sangat diperlukan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat karena mampu memberikan sinyal awal mengenai perkiraan kondisi perekonomian jangka pendek selama beberapa bulan mendatang.

Sejak tahun 2011, Badan Pusat Statistik telah mengembangkan Sistem Pemantauan Indikator Dini sampai dengan level provinsi. Salah satu dari indikator tersebut adalah Indeks Tendensi Konsumen yang dihitung secara triwulanan. Indeks Tendensi Konsumen dihitung berdasarkan hasil Survei Tendensi Konsumen (STK) yang dilakukan secara berkala setiap triwulan. Publikasi Indeks Tendensi Konsumen Tahun 2014 merupakan publikasi keempat yang memuat persepsi konsumen terhadap kondisi perekonomian di DIY secara triwulanan selama tahun 2014.

Ungkapan penghargaan dan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan publikasi ini. Mudah-mudahan penerbitan publikasi ini bisa memberi manfaat. Kritik dan saran sangat diperlukan bagi penyempurnaan publikasi di masa mendatang.

Bantul, Maret 2015 Badan Pusat Statistik

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Kepala,

Y. Bambang Kristianto, MA

http://yogyakarta.bps.go.id

(8)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(9)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 vii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 3 1.2. Tujuan ... 4 1.3. Cakupan Penelitian ... 4 1.4. Sistematika Penulisan ... 5

BAB II KAJIAN LITERATUR ... 7

2.1. Perkembangan Survei Konsumen ... 9

2.2. Indeks Sentimen Konsumen (Consumer Sentiment Index) ... 11

2.3. Indeks Kepercayaan Konsumen (Consumer Confidence Index) .. 12

2.4. Survei Konsumen (Bank Indonesia) ... 13

BAB III METODOLOGI PENGHITUNGAN ... 15

3.1. Mekanisme Penghitungan Indeks ... 19

3.2. Intepretasi Indeks Komposit IIK dan IIM ... 26

BAB IV HASIL PENGHITUNGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN ... 29

4.1. Profil Rumah Tangga Tahun 2012 ... 31

4.2. Perkembangan Nilai ITK sampai Triwulan IV-2014 ... 37

4.3. Nilai ITK Tahun 2014 Berdasarkan Variabel Pembentuknya ... 40

4.4. Perbandingan Pola Perkembangan ITK dengan Pertumbuhan PDRB DIY ... 45

4.5. Perbandingan ITK Provinsi se-Jawa dan Nasional ... 46

BAB V KESIMPULAN ... 49

LAMPIRAN ... 53

(10)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(11)
(12)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(13)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 3

1.1. Latar Belakang

Informasi dini mengenai kondisi perekonomian regional terkini sangat diperlukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun dunia usaha. Pemerintah memerlukan informasi tersebut sebagai bahan perencanaan, sedangkan dunia usaha menggunakannya untuk keperluan investasi atau ekspansi pasar. Ketersediaan data atau informasi dini sangat memungkinkan berbagai pihak untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam mengantisipasi dan mengatasi perubahan keadaan supaya tidak menimbulkan kerugian.

Sejak tahun 1980-an, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengembangkan berbagai macam indikator yang berkaitan dengan sistem peringatan dini. Salah satu di antaranya adalah Indeks Indikator Pendahuluan (Index of Leading Indicator). Di samping Indeks Indikator Pendahuluan, sejak tahun 1995 BPS juga telah mengembangkan dua macam indikator dini (prompt indicator) yang saling melengkapi. Kedua indikator tersebut adalah Indeks Tendensi Bisnis (ITB) yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan bisnis dari sisi produsen dan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) yang menggambarkan persepsi dan kondisi konsumen. ITB dan ITK digunakan untuk mengetahui gambaran mengenai kondisi bisnis dan perekonomian di Indonesia dalam jangka pendek (triwulanan).

Pada level provinsi, penghitungan masih dilakukan secara terbatas untuk menghitung indikator yang berkaitan dengan kondisi konsumen atau ITK. Sementara, penghitungan ITB atau situasi bisnis dari sisi produsen masih dilakukan secara terbatas di tiga provinsi. Penghitungan ITK di level provinsi mulai dilakukan sejak Triwulan I tahun 2011. Sebagai perwakilan BPS Republik Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), BPS Provinsi DIY secara berkala juga telah melakukan penghitungan nilai ITK. Pengumpulan data

(14)

4 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

pokok yang digunakan dalam penghitungan ITK dilakukan melalui Survei Tendensi Konsumen (STK) yang waktu pengumpulan datanya dilakukan secara berkala setiap triwulan (tiga bulan sekali). Sementara, penyajian hasil penghitungan ITK triwulanan telah dipublikasikan ke berbagai kalangan termasuk media massa melalui kegiatan “press release” triwulanan yang bersamaan waktunya dengan publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulanan DIY.

1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan Publikasi ITK adalah:

1. Memberikan informasi dini mengenai perkembangan perekonomian dari sisi konsumen dan gambaran mengenai derajat optimisme konsumen pada triwulan berjalan.

2. Memberikan perkiraan kondisi optimisme konsumen (ekspektasi) pada triwulan mendatang.

1.3. Cakupan Penelitian

Data untuk penghitungan ITK bersumber dari hasil Survei Tendensi Konsumen (STK) yang dilakukan secara triwulanan (tiga bulanan). Pada periode 1995-1998, pengumpulan data dilakukan dalam 3 putaran setiap tahun yakni pada bulan Juli, Oktober, dan Desember. Sejak tahun 1999, pengumpulan data masih dilakukan secara triwulanan sebanyak 4 putaran yang dilaksanakan pada bulan April, Juli, Oktober, dan Januari setiap tahun. Unit pencacahan dalam Survei Tendensi Konsumen adalah rumah tangga yang termasuk dalam kelas pendapatan menengah ke atas di wilayah perkotaan. Jumlah sampel tiap putaran sebanyak 1.000-1.500 rumah tangga. Pelaksanaan Survei Tendensi Konsumen sampai tahun 2011 hanya dilakukan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

(15)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 5

Mulai triwulan I tahun 2011 cakupan pelaksanaan STK diperluas di seluruh wilayah provinsi di Indonesia dan jumlah sampel rumah tangganya juga mengalami peningkatan secara signifikan. Pada tahun 2012, jumlah sampel secara nasional mencapai 14.232 rumah tangga dan 440 rumah tangga diantaranya merupakan sampel rumah tangga STK di wilayah DIY. Sementara, jumlah sampel rumah tangga sasaran STK DIY pada tahun 2014 sebanyak 400 rumah tangga dan tersebar di lima kabupaten/kota di DIY terutama di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Sampel rumah tangga STK tersebut merupakan sub-sampel dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2014 khususnya di daerah perkotaan.

Pemilihan sampel rumah tangga dilakukan secara panel antartriwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antarwaktu. Dengan adanya perluasan sampel, maka nilai ITK juga dapat disajikan sampai level provinsi. Upaya ini diharapkan mampu memenuhi ragam kebutuhan data yang semakin bervariasi hingga tingkat regional (spasial antarprovinsi).

1.4. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan buku ini dibagi menjadi lima bab sebagai berikut: 1. Bab I Pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang, Tujuan, Cakupan

Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

2. Bab II Kajian Literatur, menyajikan berbagai penelitian yang pernah dilakukan mengenai Indeks Tendensi Konsumen.

3. Bab III Metodologi Penghitungan Indeks Tendensi Konsumen, menyajikan prosedur penghitungan dan interpretasi hasil penghitungan Indeks Tendensi Konsumen.

4. Bab IV Hasil Penghitungan Indeks Tendensi Konsumen, menyajikan hasil penghitungan dan perkembangannya ITK selama tahun 2014.

(16)

6 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

5. Bab V Kesimpulan, menyajikan ringkasan indikator dini perekonomian secara umum dilihat dari kondisi ekonomi rumah tangga (sisi konsumen) selama tahun 2014.

(17)
(18)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(19)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 9

2.1. Perkembangan Survei Konsumen

Kepercayaan konsumen (consumer confidence) maupun sentimen konsumen (consumer sentiment) menjadi istilah yang cukup populer dan sering dikutip oleh pejabat pemerintah, media masa serta konsumen sendiri untuk menggambarkan kondisi perekonomian nasional secara umum. Pengukuran kepercayaan maupun sentimen konsumen mulai diperkenalkan sejak era 1940-an oleh George Katona dari Universitas Michigan Amerika Serikat sebagai sarana untuk memasukkan harapan/ekspektasi dari konsumen dalam model pengeluaran/konsumsi dan perilaku menabung.

Katona menyatakan bahwa konsumsi atau belanja konsumen tergantung pada dua hal, yakni kemampuan (ability) dan kemauan

(wellingness) untuk membeli. Kemampuan direpresentasikan oleh

pendapatan dan aset yang dimiliki oleh konsumen pada saat ini, sementara kemauan menggambarkan penilaian konsumen mengenai prospek pekerjaan dan pendapatan yang akan diterimanya pada masa yang akan datang (Curtin, 2002). Ketika konsumen merasa optimis maka mereka akan meningkatkan pengeluaran untuk berbelanja dan pada saat pesimis maka mereka akan mengurangi pengeluaran belanja dan meningkatkan tabungan sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi yang tidak diinginkan.

Penelitian mengenai persepsi maupun ekspektasi konsumen terhadap situasi perekonomian terkini dilakukan melalui pendekatan survei konsumen (surveys of consumers). Pusat penelitian survei di Universitas Michigan Amerika Serikat merilis survei konsumen pertama kali pada tahun 1946 yang menekankan pada aspek pengaruh penting pengeluaran konsumen dan pengambilan keputusan dalam konsumsi terhadap arah perekonomian nasional. Ukuran yang dihasilkan dari survei tersebut disebut indeks ekspektasi konsumen. Indeks ini terbukti menjadi indikator yang cukup

(20)

10 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

akurat yang mampu menentukan masa depan perekonomian Amerika Serikat, sehingga dimasukkan dalam kelompok indeks komposit indikator dini (Composite Index of Leading Indicator) yang diterbitkan secara rutin oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat.

Hal yang menjadi pertimbangan utama adalah kemampuan dari indikator tersebut dalam menangkap atau merangkum fenomena maupun meramalkan perubahan yang terjadi dalam perekonomian nasional. Ada enam karakteristik penting agar sebuah indikator dapat dimasukkan ke dalam indeks komposit indikator dini, yakni: signifikansi ekonomi, kecukupan statistik, konsisten dengan waktu dalam siklus bisnis antara puncak dan resesi, kesesuaian dengan ekspansi dan kontraksi, smoothness, dan up to date. Sangat jarang sebuah indikator yang dihasilkan dari survei lainnya yang mampu memenuhi kriteria yang sangat ketat ini.

Secara umum indeks ekspektasi konsumen fokus pada tiga bidang pokok, bagaimana konsumen melihat prospek keuangan mereka sendiri; bagaimana mereka melihat prospek ekonomi secara keseluruhan dalam jangka pendek; dan pandangan konsumen terhadap perekonomian dalam jangka panjang. Survei dilaksanakan secara periodik setiap bulan dan secara statistik dirancang untuk mewakili rumah tangga di seluruh wilayah Amerika Serikat. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara melalui telepon. Kuesioner yang digunakan dalam wawancara mencakup beberapa item pertanyaan terkait dengan sentimen/tendensi konsumen pribadi yakni keuangan pribadi, persepsi tentang situasi/kondisi bisnis secara umum dan kondisi konsumsi/pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa. Beberapa item pertanyaan tersebut dalam perkembangannya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan Indeks Kepercayaan Konsumen (Consumers Confidence Index) dan Indeks Sentimen Konsumen (Consumer Sentiment Index).

(21)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 11

2.2. Indeks Sentimen Konsumen (Consumer Sentiment Index)

Indeks Sentimen Konsumen (Consumer Sentiment Index = CSI) dihitung melalui pendekatan Survei Sentimen Konsumen yang dilakukan setiap bulan. Tujuan utama penyusunan indeks ini adalah untuk kepentingan investasi. Indeks Sentimen Konsumen disusun sebagai pembanding dari Purchasing

Managers Index (PMI) atau Indeks Pembelanjaan Perusahaan yang memantau

kondisi bisnis khususnya dari sisi pasar bursa. Nilai indeks PMI diinterpretasikan sebagai berikut: jika nilai indeks di bawah 50 mengindikasikan kondisi perekonomian mengalami kontraksi, sedangkan nilai indeks di atas 50 menandakan kondisi perekonomian dalam ekspansi.

Variabel-variabel yang digunakan untuk menyusun PMI antara lain: belanja perusahaan terhadap saham, pembelian barang tahan lama dan total penjualan kendaraan mobil. Dua variabel terakhir menunjukkan bahwa semakin tinggi volumenya, semakin tinggi pula permintaan terhadap barang tahan lama dan mobil. Akibatnya, suplai barang dari produsen juga meningkat yang tentunya akan memberikan dampak pada peningkatan kesempatan kerja. Di lain pihak, permintaan terhadap barang tahan lama dan kendaraan juga merupakan gambaran dari konsumsi rumah tangga.

Pada dasarnya PMI merupakan ukuran kuantitatif, sementara CSI merupakan ukuran kualitatif. Secara kualitatif, informasi dari pengusaha mengenai belanja barang dan jasa perusahaan seperti iklan dan jasa konsultan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat sentimen perusahaan terhadap bisnisnya. Hal ini sejalan dengan sikap konsumen terhadap konsumsi rumah tangga. Peningkatan konsumsi rumah tangga akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana diketahui bahwa konsumsi rumah tangga domestik menjadi salah satu faktor pendorong dalam memperkuat fundamental ekonomi, meskipun dalam perekonomian yang

(22)

12 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

lebih luas dan terbuka, konsumsi domestik bukan satu-satunya faktor pendorong karena adanya kegiatan ekspor dan impor.

2.3. Indeks Kepercayaan Konsumen (Consumer Confidence Index)

Consumer Confidence Index (CCI) atau Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) diperkenalkan oleh The Conference Board sejak tahun 1985 melalui Survei Kepercayaan Konsumen. IKK ditentukan berdasarkan tingkat optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian, yang disajikan dalam bentuk indeks yang secara normatif ditentukan dalam nilai 100. Nilai indeks ini merupakan proporsi dari pendapat konsumen mengenai kondisi saat ini dengan bobot sebesar 40 persen dan kondisi mendatang dengan bobot sebesar 60 persen.

Interpretasi dari indeks ini adalah apabila IKK meningkat mengindikasikan konsumsi/belanja konsumen juga meningkat. Akibatnya, dari sisi penawaran perusahaan akan meningkatkan produksinya yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan. Dampak lain adalah meningkatnya konsumsi rumah tangga sehingga tingkat permintaan kredit ke Bank meningkat. Dengan demikian pemerintah dapat mengantisipasi akan adanya kenaikan pajak pendapatan yang diperoleh dari naiknya konsumsi rumah tangga. Sebaliknya bila IKK menurun, maka konsumsi rumah tangga juga menurun yang berarti permintaan terhadap produk juga menurun. Hal ini akan mengakibatkan turunnya suplai dari perusahaan baik dari sektor industri manufaktur, konstruksi, dan lain-lain. Kondisi ini akan mengakibatkan kondisi perekonomian mengalami kontraksi.

Survei Kepercayaan Konsumen dilakukan setiap bulan dengan jumlah responden sekitar 5.000 rumah tangga. Variabel yang dicakup pada kuesioner survei ini antara lain:

(23)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 13

1. Kondisi bisnis saat ini

2. Kondisi bisnis 6 (enam) bulan mendatang 3. Kondisi lapangan pekerjaan saat ini

4. Kondisi lapangan pekerjaan 6 (enam) bulan mendatang

5. Jumlah pendapatan seluruh anggota keluarga selama 6 bulan mendatang Setiap variabel di atas mempunyai jawaban positif (meningkat) dan negatif (menurun). Jawaban meningkat diberi skor “1” dan menurun diberi skor “0”. Untuk penghitungan nilai indeks masing-masing variabel digunakan rumus Diffussion Index. Besarnya indeks menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi perekonomian pada periode tertentu terhadap periode pembandingnya. Apabila pertumbuhan indeks kurang dari 5 persen, maka kepercayaan konsumen cenderung tetap atau stagnant, tetapi bila pertumbuhan lebih dari 5 persen maka kepercayaan konsumen meningkat dibanding periode pembandingnya.

Indeks Kepercayaan Konsumen yang disusun oleh The Conference Board dibagi menjadi dua macam indeks, yaitu Indeks Kepercayaan Konsumen Kini (Current Consumer Confidence Index) dan Indeks Kepercayaan Konsumen Mendatang (Future Consumer Confidence Index). Indeks Kepercayaan Konsumen Kini merupakan komposit dari dua variabel, yaitu kondisi bisnis saat ini dan kondisi lapangan pekerjaan saat ini. Sedangkan Indeks Kepercayaan Konsumen mendatang merupakan komposit dari tiga variabel: kondisi bisnis 6 bulan mendatang, kondisi lapangan pekerjaan 6 bulan mendatang dan jumlah pendapatan seluruh anggota keluarga selama 6 bulan mendatang.

2.4. Survei Konsumen (Bank Indonesia)

Bank Indonesia juga melakukan survei sejenis yang dinamakan Survei Konsumen. Survei ini dilakukan setiap bulan terhadap 4.600 rumah tangga di

(24)

14 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

18 kota besar, yaitu: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Bandar Lampung, Palembang, Banjarmasin, Padang, Pontianak, Samarinda, Manado, Denpasar, Mataram, Pangkal Pinang, Ambon dan Banten. Survei ini dilakukan sejak tahun 1999 dan menghasilkan suatu ukuran yaitu Indeks Keyakinan Konsumen.

Indeks Keyakinan Konsumen dihitung dengan menggunakan metode Balance Score (SB-net balance + 100), yaitu dengan menjumlahkan hasil dari Metode SB-net balance ditambah 100. Interpretasi dari IKK, adalah jika indeks di atas 100 berarti optimis dan sebaliknya, jika indeks di bawah 100 berarti pesimis.

(25)
(26)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(27)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 17

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, BPS RI dan BPS Provinsi DIY sejak triwulan I-2011 telah melakukan penghitungan ITK yang dihitung berdasarkan informasi yang diperoleh dari STK. Survei tersebut bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai situasi bisnis dan perekonomian secara umum menurut pendapat konsumen sebagai pelaku konsumsi. Informasi yang dikumpulkan meliputi rencana pembelian beberapa komoditi kategori “normal goods” seperti daging, ikan, susu, buah-buahan untuk konsumsi makanan, dan komoditi pakaian, biaya perumahan, biaya pendidikan, transportasi, biaya kesehatan, dan rekreasi untuk komoditi bukan makanan. Di samping itu dikumpulkan pula informasi “luxury goods” seperti rumah/tanah, mobil, TV, komputer untuk konsumsi bukan makanan, serta informasi mengenai kondisi pendapatan dan tabungan.

Sejak triwulan I tahun 2013 dilakukan penyempurnaan terhadap kuesioner yang digunakan dalam pengumpulan data. Penyempurnaan dilakukan untuk mempertajam variabel tingkat konsumsi makanan dan non makanan oleh rumah tangga serta variabel rencana pembelian barang tahan lama oleh rumah tangga. Penyempurnaan kuesioner tersebut tidak menghilangkan informasi penting dalam kuesioner tahun 2012, tetapi memperinci jenis-jenis komoditas yang dikonsumsi sehingga keterbandingan cakupan dengan triwulan sebelumnya masih terjaga.

Konsumsi rumah tangga komoditas makanan dirinci menjadi dua kelompok, yaitu bahan makanan dan makanan jadi di restoran/rumah makan. Sementara, konsumsi rumah tangga terhadap komoditas non makanan dirinci menjadi tujuh kelompok yakni perumahan (listrik, gas dan bahan bakar); pakaian, tas dan sepatu; kesehatan, peralatan kesehatan dan rumah sakit; pendidikan; rekreasi (termasuk penginapan/hotel); transportasi/angkutan; serta komunikasi. Pertanyaan yang terkait dengan rencana pembelian barang

(28)

18 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

tahan lama dikelompokkan menurut jenisnya dan menambahkan variabel rencana pesta/hajatan, rencana membeli tanah dan rencana membeli rumah.

Indeks Tendensi Konsumen terdiri dari dua jenis indeks yaitu Indeks Indikator Kini (Current Indicator Index) dan Indeks Indikator Mendatang (Future Indicator Index). Indeks Indikator Kini (IIK) merupakan indeks komposit dari beberapa variabel yang dapat mengidentifikasi kondisi ekonomi rumah tangga (konsumen) pada saat triwulan berjalan (saat survei) dibandingkan periode triwulan sebelumnya. Sedangkan Indeks Indikator Mendatang (IIM) merupakan indeks komposit dari beberapa variabel yang dapat mengidentifikasi kondisi ekonomi rumah tangga (konsumen) dan rencana untuk membeli barang-barang tahan lama pada periode tiga bulan mendatang.

Variabel-variabel yang digunakan dalam penghitungan Indeks Tendensi Konsumen adalah sebagai berikut:

i. Variabel Indeks Indikator Kini (IIK), terdiri dari:

a. Pendapatan seluruh anggota rumah tangga selama triwulan berjalan (periode tiga bulan terakhir) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

b. Pengaruh kenaikan harga-harga terhadap konsumsi makanan dan bukan makanan sehari-hari (kaitan inflasi dengan konsumsi sehari-hari). c. Volume/tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan non

makanan

 Makanan: bahan makanan dan makanan jadi di restoran/warung

 Bukan makanan: perumahan (listrik, gas dan bahan bakar); pakaian, sepatu, tas; kesehatan, peralatan kesehatan, jasa rumah sakit; pendidikan; rekreasi (termasuk penginapan/hotel); transportasi/angkutan; dan komunikasi.

(29)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 19

ii. Variabel Indeks Indikator Mendatang (IIM),terdiri dari:

a. Perkiraan pendapatan seluruh anggota rumah tangga pada periode tiga bulan yang akan datang dibandingkan dengan triwulan berjalan.

b. Rencana pembelian barang-barang tahan lama:

 Elektronik (televisi, CD/VCD player/compo, DVD, dll)

 Perhiasan logam dan batu mulia (emas, permata, mutiara, dll)

 Perangkat komunikasi (HP, Tabet/Ipad, notebook, dll)

 Perabot mebelair (kursi, lemari, tempat tidur, dll)

 Peralatan rumah tangga (kulkas, mesin cuci, oven listrik, AC, dll)

 Membeli/mengganti sepeda motor

 Membeli/mengganti mobil

 Merencanakan rekreasi (keluar kota/negeri termasuk menginap di hotel dll)

 Merencanakan pesta/hajatan (pernikahan, khitanan, ulang tahun)

 Membeli tanah

 Membeli rumah

3.1. Mekanisme Penghitungan Indeks

Data yang dikumpulkan melalui Survei Tendensi Konsumen merupakan data yang bersifat kategorik (kualitatif). Secara umum, data menggambarkan persepsi konsumen mengenai variabel pembentuk indeks yang jawabannya dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu menurun, sama, dan meningkat. Menurun berarti kondisi sekarang lebih buruk/pesimis dibandingkan dengan tiga bulan yang lalu, sama berarti tidak ada perubahan, dan meningkat berarti kondisi sekarana lebih baik/optimis dibandingkan dengan tiga bulan yang lalu. Secara sederhana dapat diartikan, bahwa semakin banyak responden yang menjawab meningkat maka kondisi ekonomi konsumen semakin membaik dan indikasi tersebut tercermin pada nilai indeks yang juga semakin besar.

(30)

20 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Sebaliknya, jika sebagian besar responden menjawab menurun maka kondisi ekonomi konsumen semakin memburuk. Prosedur penghitungan Indeks Tendensi Konsumen (IIK dan IIM) adalah sebagai berikut:

1. Penggolongan Pendapatan Rumah Tangga

Sampel rumah tangga terpilih digolongkan menjadi dua kelompok, golongan pendapatan rendah (rata-rata pendapatan kurang dari 2 juta rupiah per bulan) dan golongan pendapatan tinggi (rata-rata pendapatan per bulan 2 juta rupiah ke atas). Penggolongan pendapatan digunakan sebagai pembeda/ bobot dalam penghitungan indeks.

2. Pemberian Skor Jawaban Variabel Tunggal

Untuk mengakomodir kondisi ekonomi konsumen dalam bentuk indeks maka pada tahapan ini adalah memberikan skor kepada setiap pilihan jawaban responden terhadap setiap variabel tunggal pembentuk IIK dan IIM. Pemberian skor untuk variabel pendapatan rumah tangga triwulan berjalan, pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari dan pendapatan rumah tangga mendatang adalah sebagai berikut:

 Skor 2, jika jawaban responden “meningkat”

 Skor 1, jika jawaban responden “sama”

 Skor 0, jika jawaban responden “menurun”.

Untuk memperoleh Total Skor (TS) setiap variabel terpilih dilakukan dengan menjumlahkan skor jawaban dari seluruh responden terpilih.

3. Pemberian skor jawaban variabel konsumsi beberapa komoditas makanan dan minuman

Varibel konsumsi terhadap beberapa komoditas makanan dan non makanan yang ditanyakan dalam STK terdiri dari 9 kategori. Setiap responden terpilih akan ditanya seputar total pengeluaran konsumsi

(31)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 21

seluruh anggota rumah tangganya selama triwulan berjalan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, apakah meningkat/lebih banyak, sama/ tetap atau menurun/lebih sedikit. Setiap komoditas akan diberi skor sesuai dengan jawaban responden, skor 0 jika konsumsi sekarang lebih sedikit dibandingkan dengan triwulan yang lalu, skor 1 jika konsumsi triwulan berjalan sama dengan konsumsi triwulan yang lalu dan skor 2 jika konsumsi triwulan berjalan kurang dari triwulan yang lalu. Total skor untuk komoditas makanan dan non makanan dihitung dengan rata-rata tertimbang dari Diffusion Index dari setiap komoditas. Penimbang masing-masing komoditas diperoleh dari data Susenas, yaitu proporsi rata nilai pengeluaran setiap kelompok komoditas terhadap rata-rata pengeluaran rumah tangga dalam sebulan. Pemberian penimbang juga dibedakan menurut golongan pendapatan rumah tangga.

4. Pemberian Skor Jawaban pada Variabel Pembelian Barang Tahan Lama

Kegiatan atau aktivitas pembelian barang tahan lama yang direncanakan oleh rumah tangga selama tiga bulan ke depan mencakup 11 jenis. Untuk masing-masing jenis aktivitas/pembelian, setiap responden akan ditanya apakah berencana untuk membeli barang tersebut, dari mana sumber dana yang digunakan untuk membeli (tabungan, pendapatan, pinjaman, pemberian, dan belum tahu), serta alasan jika tidak membeli (tidak ada dana, sudah memiliki atau tidak/belum butuh). Pemberian skor jawaban untuk variabel pembelian barang tahan lama adalah sebagai berikut: x = menyatakan rencana jumlah barang tahan lama yang akan dibeli y = menyatakan jumlah barang tahan lama yang sumber dananya

berasal dari tabungan, pendapatan, pinjaman dan pemberian. z = menyatakan alasan tidak akan membeli barang karena tidak/belum butuh.

(32)

22 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Skor 2 diberikan jika x > 0, artinya responden telah merencanakan untuk membeli barang tahan lama tersebut minimal 1 jenis/item.

Skor 1 diberikan jika x > 0 dan y = 0 atau x = 0 dan z > 0, artinya responden mempunyai rencana untuk membeli batang tahan lama, tetapi sumber dananya tidak tahu, atau responden tidak mempunyai rencana untuk membeli barang tahan lama dengan alasan tidak/belum butuh.

Skor 0 diberikan jika x = 0 dan z = 0, artinya responden tidak memiliki rencana untuk membeli barang tahan lama karena alasan tidak mempunyai dana.

5. Penghitungan Indeks Variabel

Untuk mendapatkan indeks dari setiap variabel, dihitung dengan menggunakan rumus Diffusion Index seperti yang digunakan oleh The Conference Board (1990). Penghitungannya adalah dengan menghitung total skor variabel yang diberi penimbang dan dibagi dengan jumlah responden yang telah diberi penimbang dan dikalikan 100:

( ) ( ) ( ) ( )

Ivi = indeks variabel terpilih ke-i

= total skor variabel ke-i dari seluruh responden pada kelompok

pendapatan < 2 juta rupiah.

= total skor variabel ke-i dari seluruh responden pada kelompok pendapatan ≥ 2 juta rupiah.

= jumlah responden pada kelompok pendapatan < 2juta rupiah = jumlah responden pada kelompok pendapatan ≥ 2 juta rupiah

Nilai indeks variabel berkisar antara 0 – 200.

(33)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 23

6. Penghitungan Indeks Indikator Kini dan Mendatang

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) merupakan indeks komposit yang terdiri dari Indeks Indikator Kini (IIK) dan Indeks Indikator Mendatang (IIM). Kedua indeks tersebut disusun secara terpisah. Masing-masing indeks indikator tersebut merupakan indeks rata-rata tertimbang dari beberapa indeks variabel pembentuknya. Untuk menghitung IIK dan IIM digunakan rumus sebagai berikut:

∑ ∑

IIK = Indeks Indikator Kini

IIM = Indeks Indikator Mendatang wi = Penimbang variabel ke i

Ivi = Indeks variabel terpilih ke-i

7. Penentuan Penimbang Indeks Indikator Kini (IIK) dan Mendatang (IIM)

Penentuan penimbang untuk IIK dan IIM dilakukan menggunakan fungsi double log dari masing-masing variabel pembentuknya.

a. Indeks Indikator Kini (IIK)

IIK merupakan indeks komposit yang menggambarkan kondisi konsumen dari sisi persepsi mengenai kondisi ekonomi konsumen dan perilaku konsumsi konsumen terhadap situasi perekonomian pada triwulan berjalan (saat ini). Indeks komposit ini dibentuk 3 variabel pembentuk indeks, yakni: pendapatan rumah tangga triwulan berjalan, pengaruh kenaikan harga/inflasi terhadap konsumsi rumah tangga sehari-hari dan konsumsi beberapa komoditas makanan dan bukan makanan.

(34)

24 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Dalam penghitungan indeks komposit, setiap variabel pembentuk

indeks mempunyai penimbang masing-masing dengan

mempertimbangkan tingkat elastisitas dari setiap variabel terhadap pembentukan indeks kompositnya. Nilai penimbang masing-masing variabel tersebut dihitung dari series data IIK sebelumnya (Triwulan I 1990 sampai dengan Triwulan I 2013) dengan menggunakan model fungsi Double Log sebagai berikut:

( ) ( ) ( )

Dimana:

IIK = Indeks Indikator Kini

PDK = Pendapatan seluruh anggota rumah tangga pada triwulan berjalan

KH = Pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari KK = Konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan

0, 1, 2, 3 = Estimasi parameter fungsi double log

Dalam penghitungan fungsi double log nilai koefisien/parameter setiap variabel dalam persamaan menunjukkan elastisitas dari masing-masing variabel yang bersangkutan. Nilai koefisien (elastisitas) tersebut dijadikan sebagai penimbang dari masing-masing variabel pembentuk IIK. Secara umum, nilai elastisitas menyatakan besarnya perubahan variabel tak bebas IKK (dalam satuan persen) ketika variabel bebas (PDH, KH, dan KK) berubah sebesar 1 persen.

Sebagai ilustrasi diperoleh nilai parameter ( 1, 2, 3) masing-masing

sebesar 0,5307; 0,2587 dan 0,2106, maka

 Besarannya elastisitas pendapatan seluruh anggota rumah tangga terhadap IIK sebesar 0,530 dan nilai ini menjadi bobot/penimbang

(35)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 25

variabel pendapatan rumah tangga sekarang dalam penghitungan indeks komposit kini (IIK).

 Besarnya nilai elastisitas perubahan kenaikan harga terhadap konsumsi makanan sehari-hari terhadap IIK sebesar 0,2587 dan nilai ini menjadi bobot/penimbang dari variabel pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari dalam penghitungan indeks komposit kini (IIK).

 Besarnya nilai elastisitas konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan saat ini terhadap IIK sebesar 0,2106 dan nilai ini menjadi bobot/penimbang dari variabel tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan dalam penghitungan IIK.

b. Indeks Indikator Mendatang (IIM)

IIM merupakan indeks komposit yang menggambarkan persepsi konsumen tentang prediksi kondisi ekonomi konsumen dan perilaku konsumsi konsumen terhadap situasi perekonomian selama tiga bulan yang akan datang. Indeks komposit ini dibentuk oleh 2 variabel, yakni: pendapatan mendatang dan rencana pembelian barang-barang tahan lama.

Dalam penghitungan indeks komposit, setiap variabel pembentuk indeks di atas mempunyai penimbang masing-masing dengan mempertimbangkan tingkat elastisitas dari setiap variabel terhadap pembentukan indeks kompositnya. Nilai penimbang masing-masing variabel tersebut dihitung dari series data IIK sebelumnya (sejak triwulan I 2004) dengan menggunakan model fungsi Double Log sebagai berikut:

(36)

26 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

( ) ( );

dimana:

IIM = Indeks Indikator Mendatang

PDM = Perkiraan pendapatan seluruh anggota rumah tangga selama triwulan mendatang

RTH = Rencana pembelian barang-barang tahan lama

0, 1, 2 = Estimasi parameter fungsi double log

Dalam penghitungan fungsi double log tersebut diperoleh suatu nilai koefisien (parameter) untuk setiap variabel sebagai ukuran elastisitas dari masing-masing variabel. Hasil nilai koefisien dari fungsi double log tersebut menjadi penimbang dari masing-masing variabel pembentuk indeks komposit, dengan ilustrasi sebagai berikut:

 Besaran 1 mengindikasikan elastisitas pendapatan seluruh

anggota rumah tangga pada triwulan mendatang terhadap IIM (misalnya sebesar 0,6746). Nilai elastisitas 0,6746 ini menjadi bobot/penimbang dari variabel pendapatan mendatang dalam penghitungan indeks komposit mendatang (IIM).

 Besaran 2 mengindikasikan elastisitas rencana pembelian

barang-barang tahan lama pada triwulan mendatang terhadap IIM (misalnya sebesar 0,3254). Nilai elastisitas 0,3254 ini menjadi bobot/penimbang dari variabel rencana pembelian barang-barang tahan lama dalam penghitungan indeks komposit mendatang (IIM).

3.2. Interpretasi Indeks Komposit IIK dan IIM

Nilai IIK dan IIM berkisar antara 0 sampai dengan 200. Interpretasi masing-masing indeks adalah sebagai berikut:

(37)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 27

• Jika nilai IIK maupun IIM berkisar antara 100 sampai 200 maka jumlah jawaban ”meningkat” lebih besar dari jawaban ”menurun”. Artinya, kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan meningkat lebih optimis dibanding periode triwulan sebelumnya (untuk IIK), atau perkiraan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan mendatang meningkat lebih optimis dibanding pada triwulan yang berjalan (untuk IIM).

• Jika nilai IIK atau IIM sama dengan 100, maka jumlah jawaban ”meningkat” dan ”menurun” adalah seimbang. Artinya, kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan sama dengan triwulan sebelumnya (untuk IIK), atau perkiraan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan mendatang sama dengan triwulan berjalan ( untuk IIM).

• Jika nilai IIK atau IIM kurang dari 100, maka jumlah jawaban ”menurun” lebih besar dari jawaban ”meningkat”. Artinya, kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan cenderung menurun (lebih pesimis) dibanding keadaan triwulan sebelumnya (untuk IIK), atau perkiraan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan mendatang menurun (lebih pesimis) dibandingkan dengan kondisi pada triwulan berjalan (untuk IIM).

(38)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(39)
(40)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(41)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 31

4.1. Profil Umum Rumah Tangga Sampel STK Tahun 2014 di DIY

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) dihitung untuk memperkirakan gerak perekonomian berdasarkan informasi dini konsumen (rumah tangga) melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). Pelaksanaan STK dilakukan secara terintegrasi dengan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) setiap 3 (tiga) bulan sekali dalam setahun. STK 2014 di wilayah DIY dilakukan di seluruh kabupaten/kota terutama di wilayah yang berstatus perkotaan dan respondennya merupakan sub-sampel dari Sakernas. Pemilihan sampel dilakukan secara panel antartriwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antarwaktu.

Target sampel STK tahun 2014 di DIY sebanyak 400 rumah tangga yang tersebar di 40 blok sensus di lima kabupaten/kota. Tingkat pemasukan dokumen (response rate) survei antar triwulan selama tahun 2014 berfluktuasi pada kisaran 79-90 persen dan sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2013 yang berada pada kisaran 83-91 persen. Secara rata-rata, tingkat pemasukan dokumen selama tahun 2014 hanya mencapai 86 persen. Perkembangan pemasukan dokumen antar triwulan menunjukkan pola yang cenderung menurun, karena metode pencacahan dilakukan secara panel pada rumah tangga yang sama. Response yang rendah umumnya terjadi di kawasan perkotaan terutama pada responden yang status tempat tinggalnya sewa dan indekost. Kebanyakan dari responden ini merupakan rumah tangga tunggal (ART hanya 1 orang) yang berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Mobilitas rumah tangga tunggal ini sangat tinggi dan biasanya mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal dalam jangka pendek. Tingginya mobilitas ini berpengaruh pada rendahnya tingkat pemasukan dokumen survei, karena pada saat pencacahan banyak dari mereka sudah berpindah tempat atau sedang tidak berada di tempat karena liburan.

(42)

32 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Sampel STK dikategorikan menjadi dua golongan berdasarkan rata-rata pendapatan yang diterima rumah tangga selama sebulan. Golongan pertama adalah rumah tangga memiliki pendapatan kurang dari 2 juta rupiah per bulan sebagai representasi rumah tangga yang berpendapatan rendah. Sementara, golongan yang kedua merupakan rumah tangga yang memiliki pendapatan per bulan sebesar 2 juta rupiah atau lebih sebagai representasi dari rumah tangga yang berpendapatan menengah ke atas.

Dalam kegiatan pencacahan STK 2014, distribusi rumah tangga sampel pada golongan berpendapatan kurang dari 2 juta rupiah cenderung lebih dominan dibandingkan dengan rumah tangga yang berpendapatan menengah ke atas (Tabel 4.1). Proporsi sampel rumah tangga yang berpendapatan kurang dari 2 juta rupiah sebulan berada pada kisaran 55-58 persen di setiap triwulan. Sementara, proporsi rumah tangga yang berpendapatan 2 juta ke atas berada pada kisaran 42-45 persen. Hampir sama dengan sebaran sampel tahun 2013, proporsi jumlah sampel rumah tangga berpendapatan menengah ke atas terbesar terjadi di triwulan III sebesar 44,31 persen.

Tabel 4.1.

Distribusi Rumah Tangga Sampel STK 2014 DIY menurut Golongan Pendapatan Rumah Tangga Sebulan dan Response Rate Dokumen (Persen)

Golongan Pendapatan Rumah Tangga Sebulan (Rp)

Triwulan

Tahun 2014

I II III IV

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kurang dari 2 Juta 57,10 57,82 55,69 56,33 56,76

2 Juta atau Lebih 42,90 42,18 44,31 43,67 43,24

Jumlah 100 100 100 100 100

Response Rate 89,75 89,50 85,75 79,00 86,00 Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

(43)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 33

Sebaran sampel rumah tangga STK2014 berdasarkan jumlah anggota rumah tangga menunjukkan bahwa proporsi terbesar dari rumah tangga merupakan rumah tangga dengan jumlah anggota sebanyak 4 orang yakni sebesar 24,3 persen. Berikutnya adalah rumah tangga dengan anggota sebanyak 3 dan 1 orang dengan proporsi masing-masing sebesar 21,1 persen dan 20,0 persen. Proporsi rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga 6 orang atau lebih berada di bawah 10 persen. Jika dilihat berdasarkan golongan pendapatannya, proporsi rumah tangga yang berpendapatan 2 juta rupiah ke atas semakin meningkat seiring dengan semakin banyak anggota rumah tangga. Rumah tangga yang hanya terdiri dari 1 anggota sebagian besar memiliki pendapatan di bawah 2 juta rupiah sebulan (81,8 persen). Sementara, rumah tangga dengan anggota 8 orang atau lebih memiliki pendapatan rumah tangga di atas 2 juta rupiah sebulan (100 persen).

Gambar 4.1.

Distribusi Responden STK2014 DIY menurut Jumlah Anggota Rumah Tangga dan Golongan Pendapatan Sebulan (Persen)

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY 81.8 60.5 54.5 49.4 45.5 33.8 26.3 18.2 39.5 45.5 50.6 54.5 66.2 73.7 100.0 100.0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jumlah Anggota Rumah Tangga < 2 Juta >= 2 Juta

(44)

34 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Profil sampel rumah tangga STK2014 juga bisa dikaji dari sisi pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh kepala rumah tangga. Berdasarkan Tabel 4.2, mayoritas sampel rumah tangga STK 2014 dikepalai oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sederajat. Jika tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan dibagi menjadi dua kategori, SLTP ke bawah (berpendidikan rendah) dan SLTA ke atas (berpendidikan tinggi), maka proporsi kepala rumah tangga yang berpendidikan tinggi masih lebih dominan dengan proporsi di atas 57 persen.

Tabel 4.2.

Distribusi Responden STK 2014 DIY menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi Kepala Rumah Tangga (Persen)

Pendidikan Kepala Rumah Tangga Triwulan Tahun 2014 I II III IV (1) (2) (3) (4) (5) (6) SD ke Bawah 27,30 30,17 29,45 30,70 29,36 SLTP Sederajat 12,81 13,13 13,12 14,56 13,37 SLTA Sederajat 43,18 41,34 38,48 34,81 39,61 Akademi 4,46 2,79 4,37 5,06 4,14

Sarjana dan Pascasarjana 12,26 12,57 14,58 14,87 13,52

Jumlah 100 100 100 100 100

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

Sebaran sampel rumah tangga STK2014 menurut triwulan juga menunjukkan bahwa rumah tangga yang dikepalai oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan SLTA selalu lebih dominan dengan proporsi antara 34,81-43,18 persen dan diikuti oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan SD ke bawah dengan proporsi 27,30 sampai 30,70 persen. Rumah tangga yang dikepalai oleh kepala rumah tangga yang berpendidikan akademi ke atas juga cukup banyak dan berada pada kisaran 15-20 persen di setiap triwulan. Hal

(45)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 35

yang perlu menjadi catatan adalah masih besarnya proporsi kepala rumah tangga yang berpendidikan SD ke bawah, karena hal ini bisa berpengaruh terhadap kualitas jawaban yang diberikan ketika yang bersangkutan dijadikan sebagai narasumber.

Tabel 4.3.

Distribusi Responden STK2014 DIY menurut Sumber Utama Pendapatan Rumah Tangga (Persen)

Lapangan Usaha Sumber Pendapatan Utama Rumah Tangga

Triwulan

I II III IV

(1) (2) (3) (4) (5)

Pertanian 7,52 6,70 7,58 8,86

Pertambangan dan Penggalian 0,28 0,56 0,29 0,32

Industri Pengolahan 10,03 9,22 11,66 12,03

Listrik, Gas dan Air 0,84 0,56 0,58 0,63

Konstruksi 6,13 8,38 6,71 6,96

Perdagangan, Hotel dan Restoran 20,33 18,99 18,66 18,99

Transportasi 3,34 3,07 2,33 1,27

Jasa Perusahaan 2,23 2,79 1,75 1,58

Jasa-jasa 24,51 23,18 23,62 23,73

Penerima Pendapatan 24,79 26,54 26,82 25,63

Jumlah 100 100 100 100

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

Distribusi persentase responden STK2013 menurut sumber utama penghasilan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 4.3. Berdasarkan tabel tersebut, mayoritas rumah tangga sampel STK 2014 memiliki sumber pendapatan utama dari kegiatan di sektor jasa-jasa dengan proporsi pada setiap triwulan di atas 23 persen dan diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor industri pengolahan dengan proporsi masing-masing di atas 18 persen dan 9 persen pada setiap triwulan. Sumber pendapatan utama rumah tangga yang berasal dari sektor lainnya relatif

(46)

36 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

rendah dan berada di bawah 10 persen. Hal ini terjadi karena kegiatan survei ini memang didesain di daerah perkotaan yang mayoritas penduduknya memiliki aktivitas bekerja pada lapangan usaha di sektor industri pengolahan, perdagangan, jasa-jasa.

Sementara, jumlah rumah tangga sampel yang berstatus sebagai penerima pendapatan masih relatif masih besar. Proporsi setiap triwulannya berada pada kisaran 24-27 persen. Kelompok penerima pendapatan pada umumnya terdiri dari rumah tangga tunggal yang berstatus seagai mahasiswa atau pelajar yang tinggal secara indekost atau sewa, para pensiunan dan rumah tangga tunggal yang anggota rumah tangganya sudah berusia lanjut (tua) dan masih mengandalkan transfer/kiriman pendapatan dari anak/famili lain untuk kelangsungan hidupnya. Masih besarnya proporsi kelompok ini cukup berpengaruh terhadap menurunnya tingkat pemasukan dokumen (response rate), karena pada umumnya mobilitas responden terutama yang statusnya kost/sewa cukup tinggi dan cukup sulit untuk ditemuai pada saat masa liburan. Di samping itu, jawaban-jawaban yang diberikan oleh responden terkait dengan perkembangan pendapatan yang diterima selama triwulan berjalan maupun satu triwulan ke depan, pola konsumsi komoditas makanan dan bukan makanan maupun rencana pembelian barang tahan lama cenderung statis atau tidak mengalami perubahan antartriwulan serta ada indikasi jawaban yang diberikan oleh responden juga cenderung homogen.

Responden STK2014 yang berstatus bekerja dibedakan menjadi dua kategori, yaitu berusaha dan buruh/karyawan/pegawai. Berdasarkan status pekerjaan utamanya, proporsi responden yang berstatus buruh/karyawan/ pegawai selalu lebih dominan dari responden yang berstatus berusaha selama triwulan I sampai triwulan IV 2014. Jumlah responden yang berstatus sebagai buruh berada pada kisaran 53-59 persen. Sebagian besar diantara mereka

(47)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 37

memiliki pendapatan sebulan lebih dari 2 juta rupiah. Sementara, responden yang berstatus berusaha memiliki proporsi yang bervariasi antara 41-47 persen.

Tabel 4.4.

Distribusi Responden STK2014 DIY yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama Kepala Rumah Tangga (Persen)

Status Pekerjaan Utama KRT Menurut Pendapatan Sebulan (Rp) Triwulan I II III IV (1) (2) (3) (4) (5) (6) Berusaha < 2 Juta 26,30 26,42 27,60 27,78 >= 2 Juta 18,52 14,72 16,80 18,80 Jumlah 44,81 41,13 44,40 46,58 Buruh/Karyawan/Pegawai < 2 Juta 25,19 26,79 24,80 27,78 >= 2 Juta 30,00 32,08 30,80 25,64 Jumlah 55,19 58,87 55,60 53,42 Berusaha+Buruh/Karyawan/Pegawai 100 100 100 100 Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2014 DIY

4.2. Perkembangan Nilai ITK Triwulanan DIY Tahun 2011-2014

Perkembangan kondisi ekonomi konsumen atau rumah tangga di DIY selama triwulan I 2011 sampai dengan triwulan IV 2014 selalu berada pada taraf optimis. Hal ini terlihat dari nilai ITK pada triwulan berjalan (ITK kini) yang selalu berada di atas 100, sehingga persepsi konsumen terkait dengan kondisi ekonomi mereka selama triwulan berjalan selalu berada dalam kondisi lebih baik atau optimis dibandingkan dengan kondisi pada triwulan sebelumnya. Meskipun demikian, level optimisme konsumen terlihat cukup bervariasi antartriwulan.

Gambar 4.2 mengilustrasikan perkembangan nilai ITK triwulanan DIY tahun 2011-2014 yang memiliki pola musiman. Nilai ITK mencapai level

(48)

38 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

puncak/tertinggi selama triwulan III (Juli-September) yang bersamaan waktunya dengan momentum liburan dan pergantian tahun ajaran baru sekolah serta perayaan hari raya Idul Fitri. Selama masa ini, tingkat optimisme konsumen terkait dengan kondisi ekonominya maupun kondisi perekonomian secara umum cenderung meningkat lebih tinggi. Tingginya optimisme dari sebagian besar rumah tangga ditandai oleh meningkatnya pendapatan yang diterima oleh konsumen/rumah tangga pada triwulan berjalan baik yang bersumber dari tunjangan hari raya, transfer dari keluarga/famili, maupun sumber lainnya. Di sisi yang lain, tingkat konsumsi rumah tangga terhadap komoditas makanan dan non makanan selama masa tersebut juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan, karena pada umumnya rumah tangga melakukan konsumsi komoditas sandang pada masa hari raya dan konsumsi pendidikan dan rekreasi pada masa pergantian tahun ajaran baru sekolah. Hal yang sedikit berbeda terjadi pada tahun 2014, ITK tertinggi justru terjadi selama triwulan pertama.

Gambar 4.2.

Indeks Tendensi Konsumen Triwulanan DIY, 2011-2014

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2011-2014 DIY 102.79 105.64 111.91 110.02 109.71 109.85 112.90 109.21 106.13 110.47 116.23 112.11 118.18 114.56 115.89 108.03 90 95 100 105 110 115 120 Tw I 2011 Tw II 2011 Tw III 2011 Tw IV 2011 Tw I 2012 Tw II 2012 Tw III 2012 Tw IV 2012 Tw I 2013 Tw II 2013 Tw III 2013 Tw IV 2013 Tw I 2014 Tw II 2014 Tw III 2014 Tw IV 2014

http://yogyakarta.bps.go.id

(49)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 39

Nilai ITK mencapai level terendah pada triwulan I (Januari-Maret) di setiap tahun, kecuali tahun 2014. Hal ini berarti tingkat optimisme konsumen selama triwulan I cenderung lebih rendah dibandingkan dengan tingkat optimisme di triwulan lainnya. Fenomena ini terjadi karena setelah perayaan Natal dan liburan akhir tahun rumah tangga cenderung mengurangi tingkat konsumsi terhadap komoditas makanan dan non makanan. Sementara, peningkatan pendapatan selama triwulan berjalan belum mampu mengkompensasi penurunan konsumsi makanan dan non makanan.

Perbandingan antara nilai ITK riil yang dihitung pada triwulan berjalan (IIK) dengan perkiraan nilai ITK yang dihitung di triwulan sebelumnya (IIM) menunjukkan pola yang hampir sama, meskipun gap atau selisihnya sedikit meningkat dalam beberapa triwulan terakhir (Gambar 4.3). Selisih antara IIK dan IIM sampai triwulan IV 2013 selalu berada di bawah 3 poin. Namun, mulai triwulan I 2014 selisihnya cenderung meningkat pada kisaran 3,5 sampai 9 poin. Nilai perkiraan ITK triwulan IV-2014 yang dihitung pada saat triwulan III-2014 sebesar 114,6, sementara hasil penghitungan yang sebenarnya mencapai 108,0 atau lebih rendah 6,6 poin dari nilai perkiraan sebelumnya. Kondisi ITK riil yang lebih rendah dari ITK perkiraan ini menggambarkan level optimisme konsumen terkait dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya sedikit lebih rendah atau lebih buruk dari yang diperkirakan. Secara umum, fenomena ini berkaitan dengan realisasi inflasi harga barang dan jasa kebutuhan rumah tangga yang jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan. Laju inflasi yang lebih tinggi dari yang diperkirakan didorong oleh kebijakan pemerintah mencabut subsidi BBM yang berimpas pada kenaikan harga BBM, listrik dan elpiji maupun barang dan jasa kebutuhan rumah tangga lainnya. Imbasnya, pendapatan riil yang diterima rumah tangga sedikit terkoreksi, meskipun secara nominal nilainya meningkat.

(50)

40 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 Gambar 4.3.

Perbandingan ITK Terkini (IIK) dengan Perkiraan ITK Mendatang (IIM) di DIY Tahun 2011-2014

Sumber: diolah dari data STK Triwulan I-IV 2011-2014 DIY

Perbandingan nilai ITK triwulanan menurut kelompok pendapatan juga menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Secara umum, nilai ITK baik terkini (IIK) maupun mendatang (IIM) pada kelompok rumah tangga yang berpendapatan 2 juta rupiah ke atas selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok rumah tangga yang berpendapatan kurang dari 2 juta rupiah. Hal ini berarti konsumen pada kelompok berpendapatan 2 juta rupiah ke atas memiliki level optimisme yang lebih tinggi (lebih optimis) terkait dengan kondisi perekonomian selama berjalan maupun triwulan mendatang dibandingkan dengan kelompok pendapatan kurang dari 2 juta rupiah.

4.3. Nilai ITK Tahun 2014 Berdasarkan Komponen Pembentuknya 4.3.1. Indeks Tendensi Konsumen Kini (IIK) 2014

Ketiga komponen atau variabel pembentuk ITK terkini memiliki pengaruh yang bervariasi di setiap triwulan (Tabel 4.5). Secara umum, semua komponen memiliki nilai indeks di atas 100, sehingga memberi pengaruh

(51)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 41

positif terhadap tingkat optimisme konsumen yang terbentuk selama triwulan berjalan di tahun 2014. Indeks pendapatan rumah tangga tertinggi di tahun 2014 tercatat di triwulan I sebesar 117,13 dan triwulan III sebesar 117,02. Hal ini menggambarkan persepsi rumah tangga yang cukup optimis terkait dengan peningkatan pendapatan yang mereka terima pada triwulan I dan III. Sebagian besar rumah tangga terutama yang berstatus buruh/karyawan/ pegawai akan menerima kenaikan pendapatan di triwulan I pasca penetapan upah minimum. Sementara, pada triwulan III sebagian besar rumah tangga menerima tambahan penghasilan berkaitan dengan tunjangan dan bonus menjelang perayaan hari raya.

Tabel 4.5.

Nilai ITK Triwulanan 2014 DIY Beserta Variabel Pembentuknya

Variabel Triwulan

I II III IV

(1) (2) (3) (4) (5)

Nilai ITK Kini (IIK) 118,18 114,56 115,89 108,03

Pendapatan Ruta Kini 117,13 113,01 117,02 101,35

Pengaruh Inflasi Terhadap Konsumsi Makanan dan non Makanan

119,08 121,83 117,66 114,50

Konsumsi Makanan & Non Makanan 119,58 109,13 110,95 115,75

Nilai ITK Mendatang (IIM) 120,58 119,34 114,64 107.81

Pendapatan Ruta Mendatang 121,50 124,12 115,87 109.61

Rencana Pembelian Barang Tahan Lama, Rekreasi dan Pesta/Hajatan

118,91 110,79 112,44 104.64

Sumber: diolah dari data STK 2014 DIY

Indeks konsumsi rumah tangga memberi pengaruh terbesar terhadap nilai ITK terkini di triwulan I dan IV 2014 dengan nilai indeks masing-masing sebesar 119,58 dan 117,75. Pengaruh kenaikan harga atau inflasi terhadap konsumsi makanan dan non makanan memberi kontribusi positif terhadap

(52)

42 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

level optimisme rumah tangga, meskipun laju inflasi tahunan selama tahun 2014 tercatat cukup tinggi dengan level 6,79 persen. Secara umum, hal ini menggambarkan peningkatan pendapatan yang diterima rumah tangga masih mampu menutupi peningkatan kebutuhan konsumsi makanan dan non makanan akibat kenaikan harga/inflasi.

Indeks konsumsi rumah tangga triwulanan berdasarkan kelompok komoditas selama tahun 2014 menunjukkan perkembangan positif. Nilai indeks konsumsi makanan maupun konsumsi non makanan selalu berada di atas 100 atau berada pada taraf optimis, meskipun levelnya cukup bervariasi. Indeks konsumsi makanan yang tertinggi terjadi selama triwulan I dan III dengan nilai masing-masing sebesar 120,58 dan 117,89. Tingginya indeks konsumsi makanan dipengaruhi oleh konsumsi komoditas bahan makanan yang meningkat berkaitan dengan perayaan liburan akhir tahun dan akibat laju inflasi yang cukup tinggi selama triwulan I dan IV 2014. Sementara, komoditas makanan jadi juga memiliki nilai indeks yang optimis meskipun levalnya berada di bawah konsumsi bahan makanan.

Hal yang sama juga terlihat pada indeks konsumsi non makanan yang nilainya selalu berada di atas 100. Indeks konsumsi non makanan tertinggi tercatat di triwulan I sebesar 117,92, artinya persepsi rumah tangga dalam mengkonsumsi kebutuhan non makanan yang selama triwulan I cenderung lebih optimis dibandingkan dengan triwulan lainnya. Jenis komoditas non makanan yang memiliki indeks tertinggi selama triwulan I adalah kelompok komunikasi dan transportasi. Sementara, selama trwulan II kelompok komoditas yang memberi andil tertinggi terhadap ITK secara agregat adalah kelompok rekreasi dan transportasi bersamaan dengan liburan pergantian tahun ajaran. Kelompok komoditas yang memiliki indeks konsumsi terbesar selama triwulan III adalah kelompok pakaian yang berkaitan dengan perayaan

(53)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 43

hari raya Idul Fitri dan liburan sekolah. Pada triwulan IV, indeks konsumsi yang tertinggi terjadi pada kelompok komoditas perumahan, transportasi dan komunikasi sebagai dampak dari kenaikan harga BBM pasca diberlakukannya kebijakan pengurangan subsidi energi. Meskipun demikian, ada dua kelompok komoditas yang memiliki nilai indeks konsumsi di bawah 100 yakni kelompok pakaian dan kelompok rekreasi. Penurunan ini terjadi karena pada umumnya rumah tangga telah melakukan konsumsi komoditas pakaian menjelang perayaan hari raya dan melakukan kegiatan rekreasi pada masa liburan sekolah dan liburan hari raya yan terjadi di triwulan II.

Gambar 4.6.

Indeks Konsumsi menurut Kelompok Komoditas di DIY Triwulan I-IV 2014

Kelompok Komoditas Triwulan

I II III IV

(1) (2) (3) (4) (5)

Indeks Konsumsi Makanan 120.58 108.78 111.96 117.89

Bahan makanan 123.36 108.37 113.20 123.92

Makanan jadi 117.31 109.38 110.15 109.49

Indeks Konsumsi non Makanan 117.92 109.80 109.04 112.28

Perumahan 120.85 107.71 104.59 131.89 Pakaian 117.52 107.93 120.14 93.28 Kesehatan 117.27 102.29 108.99 109.31 Pendidikan 111.78 112.20 107.88 104.55 Rekreasi 116.13 119.30 106.20 97.27 Transportasi 122.15 111.63 112.10 119.55 Komunikasi 124.90 114.89 102.86 120.22

Indeks Konsumsi Total 119.58 109.13 110.95 115.75

Sumber: diolah dari data STK 2014 DIY

Secara umum, level indeks konsumsi rumah tangga triwulanan di DIY selama tahun 2014 selalu lebih tinggi dari rata-rata indeks secara nasional, kecuali di triwulan III. Hal ini menggambarkan level optimisme rumah tangga dalam melakukan konsumsi di DIY yang lebih tinggi dari rata-rata nasional.

(54)

44 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

Level indeks konsumsi rumah tangga di DIY yang cukup tinggi didorong oleh indeks kelompok komoditas makanan maupun non makanan.

Gambar 4.4.

Perbandingan Indeks Konsumsi menurut Kelompok Komoditas di DIY dan Nasional Triwulan I-IV 2014

Sumber: diolah dari data STK 2014 DIY

4.3.2. Indeks Tendensi Konsumen Mendatang (IIM) 2014

Nilai ITK mendatang (IIM) DIY tahun 2014 dan semua komponen penyusunnya berdasarkan Tabel 4.5 memiliki nilai di atas 100 atau berada pada taraf yang optimis. Nilai IIM yang tertinggi terjadi pada triwulan II dan triwulan III dengan nilai indeks sebesar 120,58 dan 119,34. Selama tahun 2014, komponen pendapatan rumah tangga mendatang (tiga bulan ke depan) memiliki kontribusi yang lebih besar dalam pembentukan IIM dibandingkan dengan variabel rencana pembelian barang tahan lama, rekreasi dan pesta/hajatan. Hal ini terlihat dari nilai indeks pendapatan rumah tangga mendatang yang selalu lebih tinggi dari indeks rencana konsumsi. Indeks pendapatan rumah tangga mendatang yang tertinggi tercatat di triwulan II.

120.6 108.8 112.0 117.9 117.9 109.8 109.0 112.3 119.6 109.1 111.0 115.7 112.8 107.6 114.5 116.2 112.0 110.1 109.8 106.4 112.5 108.5 113.2 113.0 95 100 105 110 115 120 125

I II III IV I II III IV I II III IV

Indeks Makanan Indeks Non Makanan Indeks Total

DIY NAS

(55)

Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014 45

Artinya, perkiraan kenaikan pendapatan akan diharapkan oleh sebagian besar rumah tangga selama triwulan III yang bersamaan waktunya dengan momentum liburan akhir tahun dan perayaan hari raya. Perkiraan ini tidak jauh berbeda dengan nilai realisasi indeks pendapatan rumah tangga terkini selama triwulan III yang mencapai 117,02.

4.4. Perbandingan Pola ITK dengan Pertumbuhan PDRB DIY

Seperti telah dijelaskan pada Bab III, ITK menjadi salah satu indikator dini yang mampu memprediksi arah dan gerak perekonomian nasional dan regional dalam jangka pendek. Gambar 4.5 menyajikan secara ringkas pola perkembangan ITK dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga serta PDRB konstan di DIY triwulan I 2011 sampai triwulan IV 2014.

Gambar 4.5.

Perbandingan Pola Perkembangan ITK, Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dan Pertumbuhan PDRB DIY Triwulan I 2011 – Triwulan IV 2014

Sumber: diolah dari data STK 2014 DIY

Secara umum, terdapat pola yang searah antara perkembangan ITK dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga triwulanan. Kedua ukuran tersebut secara umum memiliki pola musiman, mencapai level tertinggi di triwulan III (Juli-September) dan mencapai level terendah di triwulan I (Januari-Maret). Berdasarkan perkiraan nilai ITK triwulan mendatang yang

(56)

46 Indeks Tendensi Konsumen Daerah Istimewa Yogyakarta, 2014

optimismenya sedikit melemah diprediksi pula arah pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Triwulan I 2015 yang juga akan mengalami perlambatan. Sementara, perbandingan antara nilai ITK triwulanan dengan pertumbuhan PDRB konstan (pertumbuhan ekonomi) DIY juga memiliki pola yang hampir serupa, meskipun terdapat sedikit perbedaan. Kedua ukuran baik ITK maupun pertumbuhan ekonomi mencapai level puncak (nilai tertinggi) di waktu yang sama, yakni selama triwulan III (Juli-September).

4.5. Perbandingan ITK Provinsi se-Jawa dan Nasional

Perkembangan ITK terkini DIY triwulan I 2011 sampai dengan triwulan I 2014 memiliki pola yang sama dengan ITK pada level nasional. Secara umum, nilai ITK DIY selama periode tersebut cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata ITK nasional. Fenomena ini menggambarkan tingkat optimisme yang dimiliki oleh konsumen/rumah tangga di DIY terhadap kondisi perekonomian yang cenderung lebih baik atau lebih optimis dibandingkan dengan rata-rata optimisme secara nasional.

Gambar 4.6.

Perkembangan Nilai ITK DIY dan Nasional Triwulan I 2011-Triwulan I 2014

Sumber: diolah dari data STK 2011-2013 102.8 105.6 111.9 110.0 109.7 109.9 112.9 109.2 106.1 110.5 116.2 112.1 118.2 114.6 115.9 108.0 102.4 106.4 110.2 108.4 106.5 108.8 111.1 108.6 104.7 108.0 112.1 109.6 110.0 110.8 112.4 107.6 90 95 100 105 110 115 120 Tw I-2011 Tw II-2011 Tw III-2011 Tw IV-2014 Tw I-2012 Tw II-2012 Tw III-2012 Tw IV-2012 Tw I-2013 Tw II-2013 Tw III-2013 Tw IV-2013 Tw I-2014 Tw II-2014 Tw III-2014 Tw IV-2014 DIY Nasional

http://yogyakarta.bps.go.id

Referensi

Dokumen terkait

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan II-2016 sebesar 108,69 artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme lebih

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2015 sebesar 103,29, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat tetapi tingkat optimisme lebih

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2016 sebesar 109,79, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme lebih

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2014 sebesar 114,46, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme lebih

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan I-2015 sebesar 107,63, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme lebih rendah

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan III-2015 sebesar 114,76, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme lebih

Angka ini mengindikasikan konsumen di Pulau Sumatera cenderung optimis terhadap kondisi ekonomi triwulan II-2017, meskipun tingkat optimismenya masih di bawah angka nasional

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Provinsi Maluku Utara pada Triwulan II-2016 sebesar 109,30, artinya kondisi ekonomi konsumen relatif meningkat dengan tingkat optimisme yang